3. Sumberdaya Air dan Irigasi
2.3. Permasalahan Pembangunan
Permasalahan pembangunan daerah merupakan rumusan umum permasalahan pembangunan daerah berdasarkan isu yang berhubungan berhubungan dengan layanan dasar dan tugas fungsi Organisasi Perangkat Daerah.
Permasalahan pada Misi Pertama, masalah pada bidang pendidikan adalah
masih tingginya angka rawan drop out DO siswa SD dan SMP, masih rendahnya kesadaran para orang tua yang memiliki anak luar biasa untuk menyekolahkan di lembaga PLB dan masih kurang sarana dan prasarana penunjang berkebutuhan khusus di sekolah‐sekolah yang menyediakan pendidikan inklusi.
Pada Bidang Kesehatan adalah: Masih rendahnya kesadaran dan tanggungjawab masyarakat untuk memelihara lingkungan sehat serta masih kurangnya pendekatan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, kurang meratanya penyebaran tenaga kesehatan di Jawa Barat yang penempatannya masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan, Belum maksimalnya perencanaan sumber daya manusia bidang tenaga kesehatan, sarana dan prasarana baik secara kuantitatif maupun kualitatif, terbatasnya data yang diperlukan untuk perencanaan pembangunan kesehatan, menyebabkan analisis masalah kesehatan maupun analisis potensi sumber daya dan perencanaan pembangunan kesehatan kurang optimal.
Pada Bidang Kepemudaan dan Olahraga adalah Terbatasnya sarana dan prasarana untuk mewadahi aktivitas dan kreativitas generasi muda serta peningkatan prestasi olah raga. Pada Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah : masih rendahnya akses kesempatan usaha dan pendidikan untuk perempuan, Belum optimalnya lembaga sosial masyarakat terhadap perlindungan perempuan dan anak.
Pada Bidang Sosial, Adanya kecenderungan peningkatan jumlah dan jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial PMKS , Masih rendahnya peran serta masyarakat dalam penanganan masalah sosial. Pada bidang kebudayaan masih rendahnya ketahanan budaya masyarakat akibat imbas perubahan global dan belum banyaknya pengakuan (AK) terhadap budaya Jawa Barat. Potensi budaya dan keindahan alam di Jawa Barat belum digali dan dikembangkan secara optimal sebagai potensi wisata Jawa Barat.
Permasalahan pada misi kedua, pertumbuhan investasi di Jawa Barat
dikategorikan tinggi, tetapi belum mampu meningkatkan keterkaitan dengan usaha ekonomi lokal dan kesempatan kerja. Beberapa kendala dalam upaya peningkatan
investasi di Jawa Barat, antara lain: belum efisien dan efektifnya birokrasi, belum adanya kepastian hukum dan kepastian berusaha serta jaminan keamanan berusaha dalam bidang penanaman modal, dan masih rendahnya infrastruktur pendukung. Belum optimalnya komunikasi antara pemerintah dengan dunia usaha dalam mengidentifikasi berbagai permasalahan dan hambatan yang dihadapi perusahaan PMA/PMDN ditandai dengan munculnya aspirasi buruh dengan menggelar aksi/ demo buruh, Regulasi yang berkaitan dengan proyek‐proyek investasi yang memerlukan Kerjasama Pemerintah dan Swasta KPS belum optimal mengakselerasi pembangunan infrastruktur Jawa Barat, )nfrastruktur dasar yang belum memadai berdasarkan survey Word Economi Forum WEF – salah satu faktor penghambat investasi di )ndonesia adalah infrastruktur darat
jalan, jembatan, pelabuhan, bandara dan energi untuk mengatasi hal tersebut perlunya komitmen pemerintah untuk memprioritaskan penyediaan infrastruktur dasar tersebut.
Pada bidang ketenagakerjaan, permasalahan yang mendasar adalah masih tingginya angka pengangguran yang disebabkan antara lain tidak sebandingnya jumlah pertumbuhan angkatan kerja dengan laju pertumbuhan kesempatan kerja, serta rendahnya kompetensi tenaga kerja dan tingkat pendidikan tenaga kerja . Akibatnya, angkatan kerja yang begitu besar di Jawa Barat belum terserap secara optimal oleh sektor‐sektor formal. Di pihak lain, perkembangan industri kreatif dan wirausahawan muda belum optimal.
Permasalahan Pada Misi Ketiga, Pembangunan infrastruktur strategis
belum berjalan sesuai yang direncanakan, seperti: koridor Bandung–Cirebon, Cianjur– Sukabumi– Bogor, Jakarta–Cirebon, Bandung–Tasikmalaya serta Jabar Selatan. Demikian pula, pembangunan jalan tol Cileunyi‐Sumedang‐Dawuan C)SUMDAWU , Soreang‐Pasirkoja SOROJA , dan Bandung )ntra Urban Toll Road B)UTR , serta perkembangan Bandara )nternasional Jawa Barat B)JB Kertajati. Di pihak lain, infrastruktur jalan yang baru selesai dibangun di Jabar Selatan sudah mulai mengalami kerusakan di berbagai titik.
Permasalahan pada aspek infrastruktur sumber daya air dan irigasi, antara lain: Pembangunan sumber daya strategis belum terlaksana secara optimal; Bencana banjir dan kekeringan juga masih terus terjadi antara lain akibat menurunnya kapasitas infrastruktur sumber daya air dan daya dukung lingkungan serta tersumbatnya muara sungai karena sedimentasi yang tinggi; dan Kondisi jaringan irigasi juga belum memadai mengingat jaringan irigasi dalam kondisi rusak
berat dan ringan masih sebesar , %. Permasalahan pada aspek infrastruktur listrik dan energi adalah penyediaan sumber‐sumber energi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga PLT mikro hidro, surya, dan angin masih sangat terbatas, demikian pula pada pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
Permasalahan lain yaitu masih rendahnya akses masyarakat terhadap prasarana air minum yang memenuhi syarat baik di perkotaan maupun di perdesaan, antara lain disebabkan oleh makin terbatasnya sumber air baku untuk air minum, masih rendahnya komitmen Kabupaten/kota dalam mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kebutuhan air minum, masih rendahnya kinerja kelembagaan pengelola Sistem penyediaan Air Minum, serta kenaikan jumlah penduduk yang relatif tinggi. Sedangkan permasalahan dalam pengelolaan air limbah adalah masih kurangnya kinerja pengelolaan air limbah domestik karena tidak seluruh sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik menunjukkan kinerja baik sehubungan anggaran untuk operasional dan maintenance di masing‐masing Kabupaten/kota sangat kurang.
Permasalahan Pada Misi Keempat, Tingginya alih fungsi lahan produktif.
Capaian kawasan lindung sampai dengan akhir Tahun belum mencapai %, seperti yang ditargetkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat. )mplementasi pengembangan PKN secara fungsi dan peran yang telah ditetapkan dalam RTRW Provinsi Jawa Barat belum optimal terutama yang terkait dengan skala kegiatan ekonomi, pelayanan infrastruktur, serta daya dukung dan daya tampung ruangnya. Secara umum sistem kota hampir seluruhya mengalami masalah dalam penyediaan sistem sarana dan prasarana. Perbedaan ketersediaan sarana dan prasarana antar menyebabkan terjadinya kesenjangan antar wilayah terutama antara wilayah Jawa Barat bagian utara dengan bagian selatan serta antara bagian barat, tengah dan timur.
Sementara itu kondisi PKW secara umum menunjukkan masih diperlukan perbaikan dan dukungan bagi peningkatan kinerjanya di Jawa Barat. Secara umum integrasi antar provinsi baik PKN dan PKW masih rendah. Selain itu masih tingginya tingkat pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana yang dihadapi Jawa Barat memerlukan upaya yang lebih kuat untuk pemulihan lingkungan dan pengurangan resiko bencana.
Permasalahan Pada Misi Kelima, Kualitas pelayanan publik yang masih
relatif rendah disebabkan, antara lain: Kinerja, budaya dan system kepegawaian yang belum mampu mendorong professionalitas dan kompetensi aparatur, Belum
terbentuknya kelembagaan yang ramping struktur, kaya fungsi; dan Sistem dan prosedur kerja belum efisien, efektif dan berperilaku hemat.
Budaya taat hukum sebagian besar masyarakat menurun yang ditunjukkan dengan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan hukum, ketertiban dan keamanan. Selain itu, penegakan hukum masih lemah dan perlindungan hukum dan hak asasi manusia (AM belum diwujudkan di tingkat masyarakat. Pendataan aset belum terselesaikan .karena masih adanya aset‐aset yang belum tersertifikasi karena berada pada penguasaan perorangan atau masyarakat
Gangguan terhadap ketertiban umum dan keamanan masyarakat juga masih cukup tinggi yang ditunjukkan, antara lain: tingkat kriminalitas dan pelanggaran hukum masih tinggi., kewibawaan pemerintah daerah berkurang, dan rendahnya respon masyarakat dalam menangkal berbagai friksi sosial politik yang bernuansa kepentingan kelompok atau golongan tertentu.
Kualitas perencanaan, pengendalian dan akuntabilitas pembangunan belum optimal karena: Kebutuhan dan aspirasi masyarakat belum terakomodasikan dengan baik dalam perencanaan pembangunan; Kapasitas perencanaan belum memadai di semua tingkatan; dan Rendahnya konsistensi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
Pembangunan perdesaan menjadi prioritas di Jawa Barat permasalahannya adalah belum optimalnya kinerja dan kesejahteraan pemerintahan desa, sehingga perlu dilakukan upaya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di Desa. Menjelang Pemilukada tahun diperlukan penguatan peran masyarakat dalam kehidupan politik dengan membangun tanggungjawab bersama terhadap penanganan ketertiban dan keamanan masyarakat.