BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1. Tingkat Pencemaran Tanah 4.2.1.1. Kadar Timbal (Pb)
Berdasarkan hasil analisa pada pemeriksaan laboratorium Kadar Pb di dapat dengan kadar 73,0746 ppm dengan metode pemeriksaan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Menurut Barchia (2009), kisaran kadar unsur Pb dalam tanah yaitu berkisar pada 2 – 200 ppm sehingga kadar Pb di wilayah sekitaran cell penimbunan sampah yang mengalami kebocoran pada TPA Gunung Kupang masih memenuhi standar.
4.2.1.2. Kadar Besi (Fe)
Hasil pemeriksaan laboratorium kadar Fe pada sampel tanah di dapat 13554, 0806 ppm, sampel di uji dengan metode pemeriksaan AAS. (Atomic Absorption Spectroscopy). Menurut Henry (1996), kadar unsur Fe dalam tanah yaitu berkisar pada 50 – 1200 ppm, sehingga kadar Fe di wilayah sekitaran cell penimbunan
21
sampah yang mengalami kebocoran pada TPA Gunung Kupang tidak memenuhi standar.
4.2.1.3. Kadar Tembaga (Cu)
Berdasarkan hasil analisa pada pemeriksaan laboratorium Kadar Cu di dapat dengan kadar 9990,5259 ppm dengan metode pemeriksaan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Menurut Barchia (2009), kisaran kadar unsur Pb dalam tanah yaitu berkisar pada 2 – 200 ppm, sehingga kadar Cu di wilayah sekitaran cell penimbunan sampah yang mengalami kebocoran pada TPA Gunung Kupang tidak memenuhi standar.
4.2.1.4. Kadar Seng (Zn)
Hasil pemeriksaan laboratorium kadar Zn pada sampel tanah di dapat 358,3171 ppm, sampel di uji dengan metode pemeriksaan AAS. (Atomic Absorption Spectroscopy). Menurut Barchia (2009), kisaran kadar unsur Zn dalam tanah yaitu berkisar pada 10 – 300 ppm, sehingga kadar Zn di wilayah sekitaran cell penimbunan sampah yang mengalami kebocoran pada TPA Gunung Kupang tidak memenuhi standar.
4.2.1.5. Kadar pH
Berdasarkan hasil analisa pada pemeriksaan laboratorium Kadar pH di dapat dengan kadar 8,49 dengan metode pemeriksaan pH meter. Menurut Henry (1996) Kisaran kadar pH dalam tanah yaitu berkisar pada 5 – 8, sehingga kadar pH di wilayah sekitaran cell penimbunan sampah yang mengalami kebocoran pada TPA Gunung Kupang tidak memenuhi standar.
4.2.2. Pengolahan Lindi
4.2.2.1.Kondisi Eksisting Pengelolaan Air Lindi Pada Timbunan Sampah di TPA
Unit pengolahan yang diterapkan dalam satu unit terdiri dari 3 kompartement dengan rincian peralatan, yaitu:
1. Kolam koagulasi-flokulasi. Koagulasi atau flokulasi adalah proses pengumpulan partikel-partikel halus yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi menjadi partikel yang lebih besar sehingga dapat diendapkan dengan penambahan koagulan. Partikel-partikel tersebut kemudian dihilangkan
22
melalui proses sedimentasi dan filtrasi. Kegunaan koagulasi atau flokulasi yakni memudahkan partikel-partikel tersuspensi yang tidak dapat mengendap secara gravitasi dan sangat lembut (koloidal) di dalam air menjadi partikel yang dapat mengendap. Hal ini karena partikel tersebut lebih berat dan lebih besar melalui proses fisika-kimia dengan penambahan koagulan, sehingga dapat dihilangkan dengan proses sedimentasi dan filtrasi. Partikel yang termasuk tidak dapat mengendap adalah bakteri.
Proses koagulasi atau flokulasi adalah penambahan koagulan yang akan mengakibatkan pertikel-partikel yang tidak dapat mengendap saling mendekat dan membentuk flok-flok mikro (ukurannya lebih besar dari koloid asalnya). Ikatan partikel-partikel ini sangat lemah dan tidak nampak dengan mata biasa serta tetap tidak dapat mengendap. Pengadukan pelan-pelan akan menyebabkan flok-flok mikro mengumpul dan membentuk flok yang lebih besar dan relatif lebih berat yang akhirnya dapat dengan mudah diendapkan atau disaring. Pembentukan flok mikro pada proses koagulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor,antara lain faktor fisika dan faktor kimia.
Pada pengelolaan di TPA gunung kupang tidak ada pembubuhan koagulan yang dilakukan sebelum masuk proses flokulasi.
2. Filtrasi (saringan sederhana pasir), filtrasi adalah proses pemisahan partikel padat dari campuran fluida (mis: fasa cair dengan driving force perbedaan tekanan sehingga mendorong fasa cair melalui lubang kecil dari suatu screen atau clots. Proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan sejenis untuk memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat mengendap, agar diperoleh air yang jernih. Penyaringan adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari air limbah dengan melewatkan pada media yang porous.
3. Kolam Aerasi, Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hydrogen sulfide dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan
23
teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.
4. Filtrasi (jaringan pasir dan ijuk, yang terpasang di dinding kompartemen) 5. Kolam Reservoir Akhir, Reservoir digunakan pada sistem distribusi untuk
meratakan aliran, untuk mengatur tekanan dan untuk keadaan darurat. 6. Filtrasi (jaringan pasir dan ijuk, yang terpasang di dinding kompartemen)
Unit pengelolaan air lindi terdiri dari beberapa komponen alat, terdiri dari kolam yang terdiri dari 3 kompartemen, alat filtrasi dan pompa aerasi.
a. Kolam yang terbuat dari bahan semen dan memanfaatkan gravitasi dalam pengalirannya.
b. Alat filtrasi, terdiri dari saringan yang dibentuk dari pipa-pipa yang didalamnya terdiri dari media penyaringan pasir dan ijuk.
c. Pompa aerasi, digunakan untuk mensuplai oksigen kedalam air lindi untuk mentreatment BOD dan COD yang berlebihan dalam air lindi tersebut.
4.2.2.2.Permasalahan Pengelolaan Air Lindi Sampah
Dalam pengelolaan air lindi yang dilakukan di TPA Gunung Kupang, permasalahan terdapat pada konstruksi bangunan dari operasional bangunan pengolahan air lindi. Untuk uraian permasalahan akan diuraikan sebagai berikut: 1. Pengumpulan air lindi hasil infiltrasi air hujan yang melalui cell penimbunan
sampah. Masalah ini didapatkan pada saat observasi keadaan sekitar TPA. Untuk parameter kebocoran cell digunakan parameter sungai sekitar dengan hasil didapatkan timbunan (rembesan) air lindi yang mengalir menuju sungai. 2. Drainase pengumpulan air lindi permukaan tanah. permasalahan yang terjadi
pada sistem drainase ini adalah tidak berjalannya aliran air akibat saluran yang tersumbat.
3. Treatment pengolahan air lindi. Masalah yang ada adalah sistem yang diterapkan masih belum memadai untuk menanggulangi permasalahan air lindi dan juga tidak berjalannya sistem pengolahan dilihat dari air lindi yang diolah dan dikeluarkan dari unti IPAL (instalasi pengolahan air lindi) TPA (output, input).
24 4.2.2.3.Pengelolaan Air Lindi Sampah
Pembahasan permasalahan pengelolaan air lindi akan dibahas sesuai masalah-masalah yang timbul hasil observasi lapangan:
1. Pengumpulan air lindi hasil infiltrasi air hujan yang melalui cell penimbunan sampah.
Masalah ini didapatkan pada saat obeservasi keadaan sekitar TPA. Untuk parameter kebocoran cell digunakan parameter tanah dengan hasil didapatkan rembesan air lindi yang menggenang di tanah sekitar timbunan (cell). Dugaan utama pada masalah ini adalah tidak adanya lapisan pelindung kedap air guna menahan infiltrasi air lindi melewati cell timbunan sampah yang dihasilkan. Lapisan pelindung berupa lapisan dasar kedap air berfungsi untuk mencegah terjadinya pencemaran lindi terhadap tanah maupun air tanah. Untuk itu maka konstruksi dasar TPA harus cukup kedap, baik dengan menggunakan lapisan dasar geomembrane/geotextile maupun lapisan tanah lempung dengan kepadatan dan permeabilitas yang memadai (< 10-6 cm/det). Lapisan tanah lempung sebaiknya terdiri dari 2 lapis masing-masing setebal 30cm. Adanya lapisan pelindung ini merupakan solusi yang baik untuk menanggulagi masalah ini.
Lapisan landfill liner merupakan lapisan perlindungan pertama sebelum masuk kedalam cell. Pemasangan landfill liner dilakukan ketika cell
belum diaktifkan (sampah belum masuk) menggunakan beberapa lapis liner
dan juga lindi collection dengan menggunakan kerikil. Sistem pelapis dasar ganda dapat berupa dua buah sistem liner tunggal, dua buah sistem liner
campuran atau sebuah sistem pelapis dasar tunggal dan sebuah sistem pelapis dasar campuran. Lapisan teratas berfungsi untuk mengumpulkan lindi dan lapisan dibawahnya (lapisan kedua) berfungsi untuk mendeteksi kebocoran sistem liner tersebut dan menyokong fungsi lapisan diatasnya. Sistem pelapis dasar ganda digunakan pada landfill untuk kota dan sampah B3.
25
Komponen sistem pelapis dasar yang sering digunakan adalah:
Tanah liat; digunakan untuk melindungi air tanah dari kontaminan yang dihasilkan landfill. Sebagai liner ketebalan tanah liat yang digunakan berkisar 0,5-1,5 m. penggunaan tanah liat yang dipadatkan dengan kelembaban yang tinggi lebih efektif daripada tanah liat yang didapatkan dengan kelembaban yang rendah memiliki resiko yang lebih besar untuk retak dan pecah sehingga memperbesar jumlah lindi yang meresap ke air tanah.
Geomembran; dikenal dengan flexible membrane liner (FML). Jenis liner ini dibuat dari bermacam-macam material plastik termasuk polyvinyl chloride (PVC) dan high density polyethylene (HDPE). Jenis liner ini tahan terhadap sejumlah besar bahan kimia dan kedap air (impermeable). Di Ohio, HDPE geomembran harus memiliki ketebalan minimal 15 mm untuk landfill sampah kota. Geomembran dan geokomposit digunakan sebagai lapisan penghalang untuk mencegah masuknya lindi ke dalam air tanah. Salah satu jenis geomembran yang banyak digunakan adalah Carbofol. Carbofol merupakan jenis geomembran yang terbuat dari HDPE dan diproduksi dengan beragam ketebalan lapisan, yaitu 1,5 mm – 3 mm. Carbofol biasanya digunakan sebagai pelapis dasar untuk melindungi air tanah dari kontaminasi pencemar. Untuk melindungi air tanah biasanya digunakan Carbofol dengan ketebalan 1,5 mm bahkan lebih tipis lagi. Carbofol ini tahan lama dan tahan terhadap zat-zat kimia serta radiasi sinar- UV. Jenis Carbofol dengan permukaan seperti kaca memiliki kelebihan karena dapat memperlihatkan kebocoran yang terjadi sehingga dapat dilakukan perbaikan dengan segea. Selain itu
Carbofol juga mudah, cepat, dan efisien dalam pemasangan.
Geotekstil; digunakan sebagai filter untuk mencegah masuknya material-material tanah ke dalam sistem drainase, dan juga untuk mengatur aliran dalam sistem drainase. Selain itu untuk melindungi geomembran dari kerusakan dan mencegah terjadinya penyumbatan pada sistem pengumpul lindi.
Geosynthetic Clay Liner (GCL); sudah mulai banyak digunakan sebagai sistem pelapis dasar. Liner ini terdiri atas lapisan tanah liat yang tipis (4-6
26
mm) yang berada diantara dua lapisan geotekstil. Liner ini lebih mudah digunakan daripada lapisan tanah liat yang tradisional. Salah satu jenis GCL adalah Bentofix yang merupakan kombinasi antara serat (fiber) dan mineral tanah liat. Memiliki angka permeabilitas yang sangat kecil yaitu 2 x 10-11, memiliki ketebalan 7 mm dengan ukuran bentangan tiap lembarnya 4,85 m x 40 m. Bentofix dapat dibentangkan 8% dari ukuran bentangannya dengan kekuatan regangan maksimal 20kN/m. Bentofix efektif sebagai penahan/penghalang terhadap cairan, uap, dan gas. Bentofix juga dapat digunakan sebagai lapisan pelindung pada tanah dan air tanah dari kontaminasi limbah.
Geonet merupakan liner yang berupa jaring plastik seperti selimut drainase yang digunakan sebagai sarana drainase dan lapisan pengumpul lindi. Geonet membawa cairan lebih cepat daripada tanah dan kerikil. Salah satu jenis geonet adalah Secudrain. Secudrain terbuat dari Polypropylene terdiri atas 2-3 lapisan dan merupakan filter tiga dimensi yang stabil dan merupakan sistem drainase yang tahan terhadap tekanan tinggi. Secudrain terdiri dari monofilament kasar yang bergelombang dan lapisan nonwoven yang saling terkait dengan ikatan yang sangat kuat pada salah satu sisinya. Secudrain
memiliki angka permeabilitas yang tinggi, yaitu 1 x 10-1, dengan ketebalan 2,5 mm dan ukuran bukan pori-porinya 0,12 mm. Ukuran bentangan
Secudrain tiap lembarnya adalah 1,9/3,8m x 35.
Sistem pelapis dasar yang dianjurkan adalah dengan geosintetis atau Flexible Membran Liner (FML), geosintetis yang sering digunakan adalah:
Geotekstil digunakan sebagai filter untuk mencegah masuknya material-material tanah ke dalam sistem drainase, dan juga untuk mengatur aliran dalam sistem drainase.
Geonet digunakan sebagai sarana drainase.
Geomembran dan geokomposit digunakan sebagai lapisan penghalang untuk mencegah masuknya leachate ke dalam air tanah, untuk bahan geomembran dipilih yang memiliki permeabilitas yang rendah.
27
Tanah liner yang dipilih mempunyai kemampuan adsorpsi, biodegradasi,
penukaran ion, pengenceran dan pengendapan. Contoh liner tersebut adalah:
Natrium bentronit dan zeolit; bahan yang dapat mengurangi transport cemaran anorganik.
Abu terbang berkarbon tinggi; bahan yang dapat menahan cemaran organik.
Tanah liat dengan modifikasi kandungan organik; lebih efektif untuk menahan cemaran organik dengan berat molekul lebih tinggi.
Selain lapisan pelindung, untuk mengalirkan air lindi digunakan pipa-pipa yang disusun diatas lapisan pelindung dengan konstruksi memanfaatkan sifat air yang mengalir dari tempat tinggi menuju tempat yang rendah sebelum cell penimbunan sampah diaktifkan. Pipa jaringan pengumpul lindi didasar TPA berfungsi untuk mengalirkan lindi yang terbentuk dari timbunan sampah ke kolam penampungan lindi. Jaringan pengumpul lindi dapat berupa pipa PVC berlubang yang dilindungi oleh gravel. Tipe jaringan disesuaikan dengan kebutuhan seperti luas TPA, tinggi timbunan, debit lindi dan lain-lain.
Selain pemasangan landfill liner dan lindi collection, setelah beroperasi dan kapasitas cell sudah maksimal perlu adanya lapisan pelapis atas atau penutup
cell. Lapisan penutup ini biasanya disebut dengan nama caping system. Caping sytem sendiri merupakan sistem penutup cell yang terdiri dari beberapa lapisan yang bertujuan menahan infiltrasi air kedalam cell sehingga meminimalisir terjadinya atau terbentunya air lindi dalam cell.
2. Drainase pengumpulan air lindi permukaan tanah.
Permasalahan yang terjadi pada sistem drainase ini adalah tidak berjalannya aliran air akibat saluran yang tersumbat.
Solusi yang dapat diterapkan untuk menanggulangi permasalahan ini adalah adanya pembersihan rutin dan berkala yang dilakukan petugas pengelola TPA. Selain itu, untuk meminimalisir tersumbatnya saluran oleh sampah yang masuk dapat digunakan penutup berupa reng besi yang tidak dapat dilewati sampah namun dapat dilewati air, dengan cara ini sampah yang terbawa air akan tertumpuk diatas saluran dan mempermudah dalam pembersihannya.
28 3. Treatment pengolahan air lindi.
Masalah yang ada adalah sistem yang diterapkan masih belum memadai untuk menanggulangi permasalahan air lindi dan juga tidak berjalannya sistem pengolahan dilihat dari air lindi yang diolah dan dikeluarkan dari unti IPAL (instalasi pengolahan air lindi) TPA (output, input).
Permasalahan treatment yang digunakan dapat dilihat pada gambar dibawah ini: (gambar bangunan IPAL)
Unit pengolahan yang diterapkan dalam satu unit terdiri dari 3 kompartement dengan rincian peralatan, yaitu:
1. Kolam flokulasi
2. Filtrasi (jaringan pasir dan ijuk, yang terpasang di dinding kompartemen) 3. Kolam Aerasi
4. Filtrasi (jaringan pasir dan ijuk, yang terpasang di dinding kompartemen) 5. Kolam Reservoir Akhir
6. Filtrasi (jaringan pasir dan ijuk, yang terpasang di dinding kompartemen) Sistem yang digunakan kurang maksimal untuk pengelolaan air lindi. Instalasi atau kolam pengelolaan lindi berfungsi untuk menurunkan kadar pencemar lindi sampai sesuai dengan ketentuan standar efluen yang berlaku. Mengingat karakteristik lindi didominasi oleh komponen organik dengan nilai BOD rata-rata 2000-10.000 ppm, maka pengolahan lindi yang disarankan minimal dengan proses pengolahan biologi (secondary treatment). Proses pengolahan lindi perlu memperhatikan debit lindi, karakteristik lindi dan badan air penerima tempat pembuangan efluen. Hal tersebut berkaitan dengan pemilihan proses pengolahan, penentuan kapasitas dan dimensi kolam serta perhitungan waktu detensi.
Mengingat proses biologi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan aktivitas mikroorganisme, maka pengkondisian dan pengendalian proses memegang peranan penting. Sebagai contoh kegagalan proses yang terjadi selama ini adalah karena tidak adanya upaya seeding dan aklimatisasi proses biologi, sehingga efisiensi proses tidak dapat diprediksi bahkan cendrung sangat rendah.
29
Secara umum proses pengolahan lindi secara sederhana terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:
Pengumpulan lindi, dilakukan di kolam pengumpul
Proses anaerobik, dilakukan di kolam anaerob (kedalaman > 2m). Proses ini diharapkan dapat menurunkan BOD sampai 60%
Proses fakultatif yang merupakan proses peralihan dari anaerobik, dilakukan di kolam fakultatif. Proses ini diharapkan dapat menurunkan BOD sampai 70%
Proses maturasi atau stabilisasi, dilakukan di kolam maturasi dengan efisiensi proses 80%
Land treatment, dilakukan dengan membuat lahan yang berfungsi sebagai saringan biologi yang terdiri dari ijuk, pasir, tanah dan tanaman yang dapat menyerap bahan polutan
Dalam kondisi efluen belum dapat mencapai nilai efluen yang diharapkan, maka dapat dilakukan proses resirkulasi lindi ke lahan timbunan sampah melalui pipa ventilasi gas. Adanya proses serupa trickling filter, diharapkan dapat menurunkan kadar BOD lindi.
Untuk skematik pengolahan terpadu IPAL (instalasi pengolahan air lindi) dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
30 A. Treatment 1 (Kolam Lindi)
1. Kolam Anaerobik
Pada bak penampung lindi ini terjadi pengolahan pre-treatment dimana terjadi pengolahan awal dengan menggunakan bakteri anaerob untuk dapat mereduksi bahan-bahan organik. Bak anaerob merupakan kolam dengan kedalaman tertentu dengan seluruh permukaan tertutup lapisan sludge. Berdasarkan teori bahwa semakin tinggi kedalaman maka semakin tinggi daya reduksi atau perombakan bahan-bahan organik. Kondisi anaerobik masih ditemukan pada kedalaman dua sentimeter dari atas permukaan air dimana masih ditemukan oksigen terlarut lebih kurang dua milligram per liter. Selebihnya konsentrasi oksigen dapat diabaikan. Pada bagian ini bahan-bahan organik dirombak menjadi asetat yang kemudian dilanjutkan dengan perombakan asetat menjadi gas metan dan karbondioksida dan dalam kondisi seimbang karbondioksida dirubah lagi menjadi air. Bagian-bagian yang tidak terdekomposisi masuk kedalam kolam atau bak fakultatif, seluruh air limbah dialirkan secara overflow menuju bak fakultatif.
2. Kolam Fakultatif
Kolam fakultatif berbentuk siku. Kondisi lumpur pada kolam fakultatif sama dengan kondisi lumpur pada kolam anaerob. Hal ini disebabkan terlalu banyak pengenceran yang dilakukan sehingga kondisi kolam cenderung bersifat aerob. Dipermukaan kolam terlihat akumulasi lumpur yang tidak rata dibagian tertentu dan dibagian lainnya terlihat encer.
3. Kolam Maturasi
Tahap terahir dari kolam penampungan lindi adalah kolam maturasi atau disebut juga kolam pemetangan. Berhubung semakin rendahnya kandungan BOD5 maka kondisi aerobik akan terwujud diseluruh bagian kedalam bak. Prinsip pengolahan ini adalah bahan organik dioksidasi oleh bakteri aerobik dan fakultatif denagn menggunakan oksigen yang dihasilkan oleh alga yang tumbuh di sekitar permukaan air. Kolam maturasi terdiri dari satu buah unit berfungsi untuk menampung beban organik yang berasal dari kolam fakultatif. Ciri-ciri fisik kolam ini jika dilihat kondisinya hampir sama dengan kolam anaerob dan
31
fakultatif hanya menampung lindi sehingga dipastikan kondisi kolam aerobik sepenuhnya.
B. Treatment 2 (Koagulasi dan Flokulasi) 1. Koagulasi
Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid,
suspended solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara merata. Dalam suatu supensi, koloid tidak mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan terdispersi, karena mempunyai gaya elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi bagian permukaan serta adsorpsi ion-ion dari larutan sekitar. Pada dasarnya koloid terbagi dua, yakni koloid hidrofilik yang bersifat mudah larut dalam (soluble) dan koloid hidrofolbik yang bersifat sukar larut dalam air (insoluble). Bila koagulan ditambahkan kedalam air, rekasi yang terjadi antara lain adalah:
Pengurangan zeta potensial (potensial elektrostatis) hingga suatu titik dimana gayavan der walls dan agitasi yang diberikan menyebabkan partikel yang tidak stabil bergabung serta membentuk flok;
Agregasi partikel melalui rangkaian inter partikulat antara grup-grup reaktif pada koloid;
Penangkapan partikel koloid negative oleh flok-flok hidroksida yang mengendap.
Untuk suspensi encer laju koagulasi rendah karena konsentrasi koloid yang rendah sehingga kontak antar partikel tidak memadai, bila menggunakan dosis koagulan yang terlalu besar akan mengakibatkan stabilisasi koloid. Untuk mengatasi hal ini, agar konsentrasi koloid berada pada titik dimana flok-flok dapat terbentuk dengan baik, maka dilakukan proses recycle sejumlah settled sludge
sebelum atau sesudah rapid mixing dilakukan. Tindakan ini sudah umum dilakukan pada banyak instalasi untuk meningkatkan efektifitas pengolahan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain:
Kualitas air meliputi gas-gas terlarut, warna, kekeruhan, rasa, bau dan kesadahan;
32
Derajat keasaman air (pH);
Pengadukan cepat dan kecepatan paddle;
Temperature air;
Alkalinitas air, bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur;
Karakteristik ion-ion dalam air.
Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di lapangan adalah
alumunium sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis koagulan lain. Sedangkan kapur untuk pengontrol pH air yang paling lazim dipakai adalah kapur tohor (CaCO3). Agar proses pencampuran koagulasi berlangsung efektif dibutuhkan derajat pengadukan > 500/detik, nilai ini disebut dengan gradien kecepatan (G).
2. Flokulasi
Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam desain bak flokulasi. Jika nilai gradient terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradient kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik. Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap maka bak flokulasi dibagi atas tiga kompartmen, dimana pada kompartemen pertama terjadi proses penggabungan flok, dan pada kompartemen ketiga terjadi pemadatan flok.
Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses koagulasi, perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan dimana pada proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil dibanding gradien kecepatan koagulasi.
33 C. Treatment 3 (Bak Filtrasi)
Proses filtrasi merupakan proses pengolahan dengan cara mengalirkan air limbah melewati suatu media filter yang disusun dari bahan-bahan butiran dengan