BAB III METODE PENELITIAN
B. Hasil Penelitian
2. Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Setelah Relokasi
- Mengidentifikasi hal-hal yang menjadi syarat terjadinya interaksi sosial - Mengidentifikasi
faktor-faktor terjadinya interaksi
6, 9, 13, 14,
7, 8, 10, 20
sosial
- Mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi sosial
4, 5, 11, 12, 19 3 Relokasi
- Mendeskripsikan latar
belakang diadakannya relokasi
- Mengidentifikasi faktor
yang mempengaruhi
keberhasilan relokasi
- Mengidentifikasi faktor
yang mempengaruhi
kegagalan
2
15, 17, 18
16
F. Teknik Pengecekan Keabsahan Data
Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian ini adalah triangulasi, perpanjangan pengamatan dan meningkatkan ketekunan.
1. Triangulasi
Triangulasi diartikan sebagai mencocokan (croos chek) antara hasil wawancara, atau observasi dengan bukti dokumen, atau pendapat yang lain.13Berbagai sumber yang didapat harus dicek terlebih dahulu untuk memastikan apakah datanya benar atau tidak. Yang terdiri dari:
a. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber dilakukan untuk memastikan kebenaran data.Penelitian kualitatif memang tidak boleh percaya begitu saja pada sebuah sumber.14Pengecekan data dalam triangulasi sumber ini dilakukan dengan mengecek kembali data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
b. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.15
13Boy S. Sabarguna, Analisis Data pada Penelitian Kualitatif edisi revisi, (Jakarta: UI PRESS, 2008), h.60.
14Nusa Putra, Penelitian Kualitatif Proses dan Aplikasi, (Jakarta: PT Indeks, 2012), h. 190.
15Sugiyono, op.cit, h. 307.
Untuk mendapatkan sebuah analisis yang tepat dalam penelitian tentu saja memerlukan teknik pengumpulan data yang tepat. Pengumpulan data yang tepat bertujuan untuk menghindari adanya data yang salah walaupun telah dianalisis dengan benar, tetap saja akan memperoleh hasil analisis yang salah.
Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap dari lapangan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, maka tahap selanjutnya adalah tahap analisa.Tahap ini adalah tahap yang penting dan menentukan keberhasilan sebuah penelitian. Di mana pada tahap inilah data dikerjakan dan diolah
16Ibid, h. 308.
17Ibid, h. 302.
18Ibid, h. 305.
sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan oleh peneliti.
Analisis data adalah menata, menyusun dan memberi makna pada kumpulan data.19 Analisis data menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan tertentu di dalam rangka penginterpretasian data, ditabulasi sesuai dengan susunan sajian data yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah.20
Dari rumusan di atas dapat kita ambil garis besarnya bahwa analisis data bermaksud pertama-tama untuk menata data.Semua data yang terkumpul terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel dan sebagainya.
Analisis data diawali dengan penelusuran dan pencarian catatan pengumpulan data, dilanjutkan dengan mengorganisasikan dan menata data tersebut ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun pola, dan memilih yang penting dan esensial sesuai dengan aspek yang dipelajari dan diakhiri dengan kesimpulan dan laporan.21
Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.22
Sedangkan menurut M. Nazir bahwa tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
19Boy S. Sabarguna, op.cit, h. 31.
20 Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), hh. 33-34.
21Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan Edisi Pertama, ( Jakarta : Prenadamedia Gorup, 2014), h. 401.
22 Syamsir Salam, Metodelogi Penelitian Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 50.
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.23
Agar data yang diperoleh memberi makna maka dalam analisis yang dilakukan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Reduksi data, yaitu kegiatan menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan, dan mentransformasikan data yang muncul pada catatan lapangan. Reduksi data dilakukan berupa penulisan ringkasan, penajaman, pengkodean, pemfokusan, pembuangan dan penyusunan data sehingga kesimpulan dapat ditarik, dibuktikan dan dipertanggung jawabkan.
(2) Display data, yaitu katedorisasi dengan menyusun sekumpulan data berdasar pola pikir, pendapat, dan kriteria tertentu untuk menarik kesimpulan.
Display data membantu untuk memahami peristiwa dan apa yang harus dilakukan untuk menganalisa lebih jauh dan lebih dalam, berdasarkan pemahaman terhadap peristiwa tersebut.
(3) Penyimpulan atau pembuktian, yaitu menafsirkan berdasarkan kategori yang ada dan menggabungkan dengan melihat hubungan semua data yang ada, sehingga dapat diketahui tentang perubahan interaksi sosial di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur setelah relokasi.
Dalam pelaksanaannya, data yang diperoleh berasal dari informasi, dari lapangan, dijadikan bentuk uraian, kemudian dikaitkan dengan data yang lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran.
23Ibid, h. 50.
49
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
warga yang terlihat dari luar gedung. Membuat sebagian masyarakat penghuni rusun kurang merasa nyaman untuk tinggal di rusun.
Pengelola rusunawa Jatinegara Barat yang bekerjasama dengan RW dan RT juga membuat program atau pelatihan pemberdayaan masyarakat penghuni rusun. Tujuannya untuk memberikan motivasi dan dukungan moral serta dukungan sosial agar penghuni rusun lebih mandiri dan lebih berdaya lagi.
Rusunawa Jatinegara Barat memiliki luas area 7.460 m². Gedung rusun dibagi menjadi dua tower yaitu tower A dan tower B dengan jumlah keseluruhan unit hunian 518 unit. Tower A memiliki 266 unit hunian dengan 16 lantai dan tower B memiliki 252 unit hunian dengan jumlah 16 lantai. Tipe unit hunian di Rusunawa Jatinegara Barat adalah tipe 30.2 a. Penduduk
Dari data yang diperoleh diketahui bahwa jumlah penduduk rusunawa Jatinegara Barat berjumlah 2.145 jiwa, yang terbagi dalam jumlah KK berdasarkan unit yang dihuni 516 Kepala Keluarga dengan jumlah KK berdasarkan anggota keluarga berjumlah 657 Kepala Keluarga dengan 1 unit lebih dari 2 KK. Jumlah penduduk berusia lanjut berjumlah 170 jiwa.3 Dari jumlah penduduk yang berada di rusunawa Jatinegara Barat terdiri dari 1.082 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 999 jiwa berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan data monograf antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan lebih banyak jenis kelamin laki-laki.
Di bawah ini adalah deskripsi penduduk rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur berdasarkan data yang diperoleh dari kantor UPRS (Unit Pengelola Rusun) Jatinegara Jakarta Timur. Deskrispsi
2Data kondisi eksisting yang bersumber dari UPRS Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur dalam Power Point.
3Data demografi yang bersumber dari UPRS Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur dalam Power Point.
ini merupakan keseluruhan data kependudukan secara umum yang dijelaskan dalam tabel 4.1:
Tabel 4.1
Penduduk Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur
Jenis Data Jumlah Keterangan
Total unit hunian 518 unit 266 unit hunian di tower A dan 252 unit hunian di tower B
Jumlah unit hunian yang
terisi 516 unit
Penghuni yang sudah
ber-SP 504 unit
Penghuni yang belum
ber-SP 11 unit
I unit undian agustus 2015, 4 unit undian 10/06/2016, 18 unit undian 21/06/2016
Penghuni yang sudah
ber-KTP rusun 487 unit Penghuni yang belum
ber-KTP rusun 29 unit
Masih sedang dalam proses. Sudah diberikan surat teguran pada tanggal 24 Juni
Penghuni yang sudah
membuka Rek. DKI 472 unit Penghuni yang
belummembuka Rek.
DKI
43 unit Sudah diberikan surat teguran pada tanggal 24 Juni 2016
Jumlah KK pemilik SP Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur
516 KK
Jumlah KK Gendong 141 KK Jumlah jiwa di
Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur
2081 jiwa
Termasuk di dalamnya jumlah jiwa KK Gendong sebanyak 753 jiwa Jenis kelamin perempuan 999 jiwa
Jenis kelamin laki-laki 1082 jiwa Jumlah lansia di
Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur
170 orang
Sumber: Data Penghuni Rusunawa Jatinegara Barat bulan Agustus 2016
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa secara administrasi penghuni rusun masih banyak yang belum memiliki SP sehingga pihak pengelola rusun mengadakan undian pada tahun 2015 dan 2016 sebanyak 23 unit undian. Permasalahan administrasi kependudukan juga terdapat pada kepemilikan KTP sebanyak 29 penghuni yang belum memiliki KTP rusun.
Unit dengan tipe 30 dirasa masih terbilang cukup sempit terlebih berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa 141 KK gendong dengan 753 jiwa masih belum memiliki unit hunian sendiri, sehingga terdapat 2 sampai 3 KK dalam satu unit hunian. Inilah yang membuat sebagian para penghuni rusun kurang nyaman untuk tinggal di rusun.
Searah dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan bahwa pemerintah mengupayakan setiap warga negara mendapatkan hak pendidikan yang sama dan pemerataan kualitas pendidikan yang baik. Berdasarkan hal ini pula dapat dilihat tingkat pendidikan warga rusun secara umum. Agara lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2:
Tabel 4.2
Jumlah Penghuni Menurut Usia Sekolah
No Jenis Data Jumlah
1 Jumlah penghuni usia sekolah PAUD 65 pelajar 2 Jumlah penghuni usia sekolah SD 142pelajar 3 Jumlah penghuni usia sekolah SMP 84 pelajar 4 Jumlah penghuni usia sekolah SMA 60 pelajar
5 Jumlah 351
Sumber: Data Penghuni Rusunawa Jatinegara Barat bulan Agustus 2016
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa penghuni rusunawa Jatinegara Barat yang bersekolah berjumlah sebagaimana yang terbagi dalam berbagai jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan taraf
pendidikan masyarakat penghuni rusunawa Jatinegara Barat Pemda memberikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) setiap bulan sebasar Rp.
100.000-, untuk membantu para pelajar dalam hal kebutuhan sekolah dan Pemda menyediakan bis gratis untuk antar jemput siswa dari sekolah ke Rusunawa Jatinegara Barat setiap jam pergi dan pulang sekolah. Dengan adanya data penduduk berdasarkan usia sekolah menunjukkan bahwa tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan terbilang cukup tinggi, sehingga banyak penghuni rusun yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi walaupun jumlah angka tidak terlalu besar dan belum terdata secara administrasi oleh pihak UPRS namun dari hasil wawancara beberapa masyarakat penghuni rusun banyak jumlah anak usia sekolah yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Pemerintah Daerah Jakarta juga memberikan bentuk perhatiannya terbukti masyarakat rusun difasilitasi bis sekolah gratis dan pemberian Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk memudahkan pelajar dan sedikit meringankan beban biaya sekolah, walaupun perhatian pemerintah bukan termasuk bentuk perhatian khusus kepada masyarakat rusun karena bus sekolah dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) masih bisa dinikmati oleh masyarakat DKI Jakarta lainnya bukan hanya masyarakat Kampung Pulo yang direlokasi ke rusunawa Jatinegara Barat saja.
b. Sarana Prasarana
Unit Rusunawa Jatinegara Barat bangunan permanen yang memiliki luas 30 m² bisa dilihat pada table 4.3:
Tabel 4.3
Sarana dan Prasarana Rusunawa Jatinegara Barat Sarana dan Prasarana
Rusunawa Jatinegara Barat
Kondisi
Terawat Tidak A. Sarana dan Prasarana unit
1. 2 Kamar Tidur 2. 1 Kamar Mandi 3. Ruang Tamu 4. Dapur
5. Air (AETRA) 6. APAR
7. Exhaust Fan 8. Grease Trape
B. Sarana Air Bersih
1. Ground Water Tank 2. Roof Water Tank
C. Sarana Air Kotor
1. STP/Biotek 2. Saluran Air Kotor
D. Sarana Penerangan
1. Unit Hunian dan Fasos Fasum dari PLN
2. Halaman Rusun dari Dinas Perindustrian dan Energi
3. Genset
4. Penanggulangan Bencana Kebakaran 5. Hydrant
6. Depp Well
E. Sarana dan Prasarana Umum
1. PAUD 2. Puskesmas 3. Poliklinik Gigi 4. Perpustakaan 5. Ruang Posyandu 6. Ruang PKK 7. Taman Masjid
8. Parkir Kendaraan Roda Dua
9. Sarana Tempat berjualan
c. Kegiatan Rusnawa Jatinegara Barat
Rusunawa Jatinegara Barat juga mengadakan kegiatan untuk para penghuni. Hal ini bertujuan agar penghuni rusun memiliki kegiatan yang bermanfaat dan dapat mengolah kemampuan untuk mendapatkan tambahan perekonomian bagi para penghuni, dapat dilihat pada tabel 4.4:
Tabel 4.4
Kegiatan Rusunawa Jatinegara Barat Kegiatan di Rusunawa
Jatinegara Barat Efektif Tidak
1. Kegiatan pemberdayaan (membuat kue, tanaman hidproponik, budidaya lele, taman hari PKK 2. BAKSOS (pemberdayaan
sembako, pelayanan kesehatan gratis)
3. Kegiatan pelayanan (perubahan KK, KTP rusun, pembuatan Rek.
Bank DKI, pembuatan BPJS, imunisasi, digitalisasi arsip)
4. Sosialisasi (penyuluhan kesehatan, penyuluhan narkoba, penanggulangan HIV/AIDS)
5. Kegiatan Pelatihan (damkar, komputer) 6. Kegiatan bimbingan
belajar (bimbel oleh pelajar SMAN 8 Jakarta) 7. Kegiatan warga (kerja
bakti, senam aerobik)
dibagi menjadi dua tower dan setiap masing-masing tower memiliki 16 lantai merupakan banguan yang terlihat mewah dari luar. Namun Rusunawa Jatinegara Barat juga memiliki sejumlah bentuk permasalahan yang dirasakan masyarakat Kampung Pulo yang kini tinggal di rusun.
a. Permasalahan Hunian
Penghuni rusun pasti merasakan sejumlah permasalahan selama tinggal di Rusunawa Jatinegara Barat mereka yang dulunya tinggal di daerah yang berbentuk horizontal kini harus tinggal di bangunan yang berbentuk vertikal dengan unit yang terbilang kecil karena masih ada unit hunian yang dihuni lebih dari delapan jiwa. Padahal unit rusun berukuran cukup kecil dengan tipe 30 yang didalamnya berisi ruang tamu sekaligus dijadikan sebagai ruang keluarga, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang tidak terlalu jauh dengan ruang tamu dan juga adanya ruang kecil di luar untuk tempat jemur pakaian, sedangkan dalam satu unit itu ada yang terdapat dua KK bahkan lebih di dalamnya.
Selain itu parmasalahan hunian yang lain adalah masih ada warga rusun yang belum memiliki KTP Rusunawa yaitu berjumlah 29 jiwa tetapi KTP tersebut masih dalam proses dan juga masih ada masyarakat penghuni rusun yang belum memiliki Rekening Bank DKI berjumlah 44 jiwa.
Setelah warga dipindahkan ke Rusunawa Jatinegara Barat banyak sekali keluhan yang dirasakan warga terutama pada aspek sosial dan ekonomi. Sehingga banyak warga yang menunggak uang sewa unit berjumlah kurang lebih 135 unit serta masih kurang kesadaran dari warga rusun untuk tidak membuang sampah di tangga darurat dan permasalahan yang terakhir adalah masih ada satu warga rusun yang tidak mau membuat SP sejak masuk rusun.
Dalam hal ini pihak pengelola melakukan berbagai langkah untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang ada di rusun yaitu dengan memberikan satu unit tambahan pada pengundian tanggal 10 dan 21 Juni 2016 bagi unit yang berpenghuni lebih dari sembilan jiwa dengan
total 21 unit data yang sudah disepakati oleh pihak pengelola rusunawa Jatinegara Barat, RT, RW, LMK dan Kelurahan Kampung Melayu.
Sedangkan bagi warga yang belum memiliki KTP rusun dan Rekening Bank DKI pengelola berkordinasi dengan pihak RW dan Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil untuk permasalahan pembuatan KTP dan bekerjasama dengan pihak pengelola dan Bank DKI dan sudah diberikan surat teguran bagi yang belum pada tanggal 24 Juni 2016.
Bagi warga rusun yang menunggak uang sewa pengelola akan memberikan teguran satu dan teguran dua sampai dengan penyegelan, jika warga tidak juga membayar. Dan bagi warga yang membuang sampah di tangga darurat maka akan dilakukan pendekatan secara persuasif (Door to Door) untuk mengingatkan warga agar meletakan kantong sampah di depan unit hunian nanti petugas yang akan mengambil sampah ke setiap unit. Sedangkan untuk permasalahan penghuni yang tidak mau membuat SP sejak awal masuk maka pengelola akan melakukan penyegelan atas unit tersebut.
b. Permasalahan Sarana dan Prasarana
Selain permasalahan hunian rusunawa Jatinegara Barat juga mengalami permasalahan pada sarana dan prasarana. Rusunawa Jatinegara Barat belum menyiapkan kios di lantai dua untuk menampung para pedagang di lantai dua dan terkesan kumuh serta tidak tertata dengan rapih dan rawan terjadinya kehilangan. Dengan kondisi tempat berdagang di lantai dua yang kurang tertata rapih sehingga pedagang mengeluh sepi dari pembeli dan mereka memilih berjualan di trotoar depan rusun hal itu mengakibatkan depan rusun kotor dan kumuh.
Seperti pada umumnya rusunawa Jatinegara Barat juga memiliki petugas keamanan yang bertugas selama dua puluh empat jam untuk mengawasi keamanan rusun tetapi masih disayangkan hanya ada satu pos keamanan yaitu di gerbang masuk rusunawa sedangkan untuk di gerbang keluar rusun belum ada pos keamanan. Hunian dengan bentuk
bangunan yang vertikal harus memiliki fasilitas penunjang untuk memudahkan segala aktivitas warga untuk itu rusunawa Jatinegara Barat menyediakan lift sebagai sarana bagi masyarakat untuk memudahkan aktivitas mereka sehari-hari, namun disisi lain lift di rusun sering macet hal ini disebabkan karena pemeliharaan lift tidak bisa berkontrak dengan ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) karena alokasi anggaran 2016 hanya Rp. 32.000.000-, sedangkan ATPM menawarkan untuk 1 unit lift/bulan Rp. 1.100.000 x 10 Unit Lift x 12 bulan = Rp. 132.000.000-,.4 Untuk segi kebersihan minimnya tong sampah besar beroda (sulo) untuk mengangkut sampah dari unit hunian.
Pihak pengelola mengambil tindakan untuk bisa mengatasi permasalahan sarana dan prasarana yang ada di rusunawa Jatinegara Barat yaitu dengan berusaha mengajukan tambahan untuk membuat kios di lantai dua. Pengelola juga memfasilitasi atau menyediakan tempat berjualan di halaman lantai dasar sebelah utara pojok samping Masjid rusunawa Jatinegara Barat namun tempat masih berbentuk tanah dan bila hujan menyebabkan becek dan juga tidak beratap. Untuk persoalan pos keamanan sendiri pengelola mengajukan pembuatan pos jaga di gerbang keluar rusun.
Persoalan lift memang menjadi persoalan utama bagi keselamatan para warga rusun. Sehingga pengelola berupaya melakukan perbaikan sistem panggilan darurat kepada ATPM, mendayagunakan teknisi rusunawa Jatinegara Barat. Untuk kekurangan anggaran pemeliharaan telah diusulkan dalam APBDP sebesar Rp. 219.650.420, berdasarkan surat dengan PT. Jaya Kencana. Telah berkordinasi dengan pihak PT.
Jaya Kencana (ATPM Sigma) untuk bekerjasama dalam hal pemeliharaan lift dan telah dilakukan general chek-up terhadap komponen-komponen lift yang akan diganti. Untuk segi kebersihan sendiri pengelola sudah mengirim surat ke sudin kebersihan untuk
4Data yang bersumber dari UPRS Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur dalam Power Point.
memfasilitasi tempat sampah beroda (sulo) dengan nomor surat 718/1-1.796.35 tentang permohonan tempat sampah besar beroda (sulo) yaitu sejak tanggal 30 Mei 2016, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban terkait tentang permohonan tempat sampah beroda (sulo).
c. Permasalahan Fisik
Penghuni rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur juga mengalami permasalahan fisik selama mereka menjadi penghuni rusunawa Jatinegara Barat yaitu terjadi rembesan air masuk ke dalam unit hunian yang di tembok antara precast dan precast tidak di silent (rembes dari sambungan). Serta masih banyak kavar yang bocor di unit hunian. Tower A: 13 unit dan tower B: 13 unit. Dak yang berada di lantai 17 mengalami rembes saat hujan hal itu mengakibatkan bocor ke unit hunian di lantai 16. Selain itu terjadinya ketidak fungsian Deep Well dikarenakan bocor (dari 4 GWT).Penampungan blower di STP tower B dan bak Screen STP tidak berfungsi dengan baik.
Permasalahan fisik juga terjadi pada Roof Tank (Torrent) yang berada di DAK lantai 16 harus diberikan atap torrent sehingga tidak mudah pecah akibat dari kondisi cuaca.
Pengelola juga melakukan beberapa tindakan untuk mengatasi permasalahan fisik yang terjadi di rusunawa yaitu sudah dilakukan perbaikan oleh WIKA dan HIK pada persoalan rembesan air yang masuk ke unit dan persoalan dak lantai 17 yang rembes saat hujan namun hasilnya belum maksimal, beberapa unit yang diperbaiki oleh teknisi rusunawa Jatinegara Barat dan hal tersebut sudah dilaporkan PPTK Kemenpupera dan sudah TL paska lebaran. Sedangkan untuk persoalan penampungan Deep Well yang tidak berfungsi dengan baik pengelola sudah melakukan perbaikan yang bekerjasama dengan pihak HK tetapi hasilnya belum maksimal dan masih bocor. Sudah dilakukannya perbaikan penampungan blower TB dan penampungan di bak Screen STP untuk menyelesaikannya pihak pengelola melakukan
koordinasi dengan pihak subcon dan juga berkordinasi dengan PTTK Kemenpora pada bulan Agustus 2016.
d. Permasalahan Tarif Sewa
Permasalahan yang paling utama dirasakan oleh para penghuni rusun adalah permasalahan biaya sewa rusun. Berbanding terbalik dengan kehidupan mereka ketika berada di Kampung Pulo mereka hanya memikirkan biaya listrik dan air setiap bulannya tanpa memikirkan biaya sewa rumah, terlebih bagi mereka yang dulunya mempunyai usaha sewa rumah kontrakan. Setiap bulan mereka mendapatkan uang dari usaha sewa rumah kontrakan tersebut.
Pada surat perjanjian sewa Pasal 2 tertulis biaya sewa rusun sebesar Rp. 300.000,- tetapi sampai saat ini peraturan yang menetapkan tarif tersebut belum didapatkan atau belum tercantum baik pada Perda nomor 3 tahun 2012 tentang tarif rusun maupun Perda nomor 1 tahun 2015 tentang perubahan Perda nomor 3 tahun 2012.
Sampai dengan saat ini berita acara serah terima rusun dari Kemenpora ke Pemprov DKI cq. Dinas Perumahan dan Gedung Pemda belum ada. Begitu juga surat izin mengelola rusun dari kementrian.
Sedangkan DPGP Up. UPRS Jatinegara, terkait dengan pengelolaan rusun telah menganggarkan kegiatan untuk mengelola rusun yang tertuang dalam DPA. Hal tersebut menurut ketentuan yang ada tidak diperkenankan, mengingat belum menjadi aset Pemerintah Provinsi.
Pengelola belum bisa mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan tarif sewa tersebut, tetapi hanya bisa memberikan saran untuk bisa memperbaiki peraturan daerah mengenai permasalahan tarif adalah pada Perda nomor 3 tahun 2012 hanya mencantumkan tarif sewa 5 lantai sedangkan untuk rusun yang lebih dari 5 lantai tidak diatur dalam Perda 3 tahun 2012 maupun Perda nomor 1 tahun 2015.
Berkenaan tarif sewa Rp. 300.000,- pihak pengelola memohon dibuatkan aturan tarif sebagai dasar penetapan tarif sewa.
Sedangkan saran untuk permasalahan berita acara serah terima rusun dari Kemenpora ke Pemprov DKI yaitu agar dari dinas Perumahan dan Gedung Pemda cq. Bidang Perencanaan Teknis segera mendorong BAST tersebut untuk dapat terealisasi. Demikian juga untuk surat ijin mengelola dari Kementrian dapat segera didorong (seandainya BAST tersebut masih dalam proses, minimal untuk sementara dapat menggunakan surat ijin mengelola dari Kementrian). Dengan adanya BAST atau surat ijin mengelola dari Kementrian dapat dijadikan sebagai dasar Pemprof cq. Dinas/UPRS Jatinegara Barat dalam mengusulkan anggaran kegiatan dalam rangka pengelolaan rusun.
Suryani 2015 Tangga
Indah 12.01 P 20 Agustus
2015 Islam SLTA Karyawan
Swasta Karimah 13.03 P 20 Agustus
2015 Islam SD Ibu Rumah
Tangga Sumber: Hasil wawancara dengan para informan
Wawancara dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian.Informan yang diwawancarai adalah penghuni rusunawa Jatinegara Barat yang merupakan masyarakat relokasi dari Kampung Pulo.
Kehidupan di rusun dirasa sangat berbeda dengan kehidupan ketika berada di Kampung Pulo terlebih dalam hal berinteraksi dengan masyarakat.Tetapi sebagian peanghuni merasa lebih nyaman tinggal di rusun karena mereka tidak mengalami banjir yang setiap tahunnya mereka alami sedangkan dalam segi interaksi mereka tidak merasa nyaman.
B. Hasil Penelitian
1. Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur
a. Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Sebelum Relokasi Interaksi sosial merupakan hal terpenting dalam kelangsungan kehidupan bermasyarakat. Ketika interaksi dalam masyarakat tidak berjalan dengan baik maka yang timbul adalah permasalahan-permasalahan sosial di antaranya seperti masalah ekonomi, permasalahan-permasalahan hubungan antar suku bahkan negara. Kebanyakan masyarakat Indonesia hidup dalam toleransi yang tinggi dimana toleransi timbul dari sebuah interaksi yang baik. Tetapi bagi sebagian orang yang tinggal di wiliyah perkotaan, terkadang interaksi sosial sudah jarang terjadi di kehidupan sehari-hari dan akan menciptakan masyarakat yang bersifat individual.
Gambaran interaksi masyarakat Kampung Pulo sebelum digusur sangat tinggi tingkat sosialnya, diantaranya: