Skripsi
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapat Gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Disusun Oleh:
UMMI NADZIFAH NIM. 1112015000029
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2017
i
ABSTRAK
Ummi Nadzifah (1112015000029): Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Pasca Relokasi di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur. Skripsi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Program Studi Sosiologi-Antropologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo pasca direlokasi ke rumah susun sewa Jatinegara Barat Jakarta Timur. Hal ini dikarenakan Kampung Pulo merupakan wilayah yang selalu terkena banjir setiap tahun. Oleh karena itu, untuk mengatasi banjir dan mengurangi jumlah permukiman kumuh yang ada di Jakarta pemerintah Jakarta merelokasi masyarakat Kampung Pulo ke rumah susun sewa Jatinegara Barat Jakarta Timur. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan rumah susun sebagai salah satu solusi penyelesaian masalah keterbatasan lahan di kota khususnya di Kampung Pulo. Rumah susun dengan pola hunian vertikal penghuni harus bisa menyesuaikan diri setelah sebelumnya terbiasa tinggal di pola hunian horizontal yang memudahkan mereka melakukan aktivitas sosial di dalamnya termasuk dalam berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan mendasar pada metode deskriptif untuk mengetahui perubahan interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo pasca relokasi ke rumah susun sewa Jatinegara Barat Jakarta Timur. Ada tiga teknik metode penggalian data, diantaranya: kajian pustaka (literature review), wawancara (interview) dan pengamatan (observation). Hasil data yang telah terkumpul kemudian dideskripsikan dan dianalisa. Sedangkan landasan teori yang digunakan adalah teori perubahan sosial, teori interaksi sosial dan teori relokasi. Pada sisi lain peneliti mencoba memahami bagaimana para penghuni rumah susun memahami keadaan lingkungan rumah susun, kebiasan- kebiasaan, norma, hubungan sosial dan jaringan yang dibentuk para penghuni rumah susun.
Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian bahwa dilakukannya relokasi terhadap masyarakat Kampung Pulo ke rumah susun sewa Jatinegara Barat Jakarta Timur, ternyata merubah interaksi masyarakat Kampung Pulo yang memberikan dampak pada kurangnya rasa persaudaraan antar penghuni rumah susun. Bahkan perubahan interaksi pasca relokasi membentuk masyarakat individual karena ditopang dengan beban hidup mereka yang semakin besar selama tinggal di rumah susun sewa. Hal ini disebabkan karena faktor pola bangunan yang berbetuk vertikal sehingga menyulitkan aktivitas sosial para penghuni dan memberikan pengaruh pada perubahan interaksi sosial penguni.
Kata Kunci: Interaksi Sosial, Perubahan Sosial, Relokasi
ii
ABSTRACT
Ummi Nadzifah (1112015000029): The Transformation of Social Interaction in the Community of Kampung Pulo After Relocating to West Jatinegara Flat East Jakarta. A Thesis: Social Education Department, Sociology-Anthropology Concentration. Faculty of Tarbiyah and Education, State Islamic University of Syarif Hidaytulah Jakarta, 2017.
The objective of this study is to find out how social interaction of the community of Kampung Pulo is changing after relocation to West Jatinegara Flat located in East Jakarta. The relocation is conducted by the provincial government of DKI Jakarta because the area of Kampung annually experience floods.
Therefore, to prevent floods and reduce the number of slums, the provincial government of DKI Jakarta built flat named Rusunawa as one solution to solve restrictive land in the city especially in Kampung Pulo. The vertical building of flat requires the community to adapt with new condition after living in horizontal building for long period and facilitate them to do social interaction with their neighbors.
The thesis uses qualitative study based on descriptive method to examine the change of social interaction in the community of Kampung Pulo after displacing to the West Jatinegara flat, East Jakarta. There are three technique methods in collecting data: literature review, interview, and observation. Then, the writer describe and analyze the collected data. The writer choose social change theory, social interaction theory, and relocation theory for theoretical frame work. Additionally, the writer observes how the community of Kampung Pulo are able to cope with the environment, habituality, norms, social relations and the networking happen in the vertical building of flat.
The result illustrates that the relocation happens to change social interaction among the people of Kampung Pulo. The people tend to lack fraternity and become individualistic since they shoulder the burden of difficult life and rising price of rent in a flat. Also, the vertical building type of flat contributes the occupant to have less social interaction so that it becomes harder for them to communicate with their neighbors.
Key words: Social Interaction, Social Change, Relocation
iii
KATA PENGANTAR بِ سْ بِ رَّلا بِ مَ سْ رَّلا بِ اللّهِ بِ سْ بِ
Puji syukur penulis panjatkan atas Karunia Rahmat, Nikmat dan Ridho Allah SWT yang telah memberikan inspirasi dan kecerahan dalam berpikir sehingga penulis dapat menyusun sebuah karya ilmiah, sungguh Maha Besar karunia yang telah Engkau berikan dan dengan izin-Mu lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Pasca Relokasi di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur”
karya ini ku persembahkan untuk mu Ayahanda KHOLISIN dan Ibunda tercinta ENTIN KARTINI yang telah memberikan do‟a restu serta pengorbanannya selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dari awal hingga akhir.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulis skripsi ini.
Namun keberhasilan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari semua pihak yang senantiasa ikhlas telah membantu memberikan bimbingan, dukungan dan dorongan yang tak pernah henti.
Harapan dari penulis agar kiranya skripsi ini menjadi sebuah skripsi yang dapat bermanfaat dan memberikan andil guna pengembangan lebih lanjut. Atas petunjuk-Nya, skripsi ini dapat selesai, oleh karena itu dengan segala hormat penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M. A., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Iwan Purwanto, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan bapak Syaripulloh, M. Si selaku Sekertaris Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
4. Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M. Si., selaku dosen pembimbing skripsi 1 dan Sodikin, M. Si., selaku dosen pembimbing skripsi 2 yang dengan tulus dan
iv
sabar telah banyak meluangkan waktunya guna memberikan bimbingan, petunjuk serta motivasi untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta pengalamannya kepada penulis, sehingga penulis mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan berguna untuk masyarakat khususnya di bidang pendidikan.
6. Seluruh Civitas Akademik dan Staf Administrasi Fakultas Tarbiyah dan Kegurusan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Dra. Vita Nurviatin, M. A.P., selaku Kepala Unit Pengelola Rumah Susun Jatinegara Barat beserta staf yang sekiranya telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian di Rusunawa Jatinegara Barat.
8. Untuk kedua orang tua (Ayahanda Kholisin dan Ibunda Entin Kartini) yang telah memberikan do‟a restu serta pengorbanannya yang tiada henti untuk putra dan putrinya untuk terus melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi.
9. Untuk kedua saudara kandungku (Ikhlasul Amal dan Siti Nur Hasanah) yang selalu menjadi motivasi agar bisa menjadi seorang kaka yang lebih baik dan dapat menjadi teladan bagi keduanya.
10. Terima kasih untuk para Romo Kyai (KH. Fauzi Noor, KH. Abdu Salam, KH.
Alwan, KH. Abdu Rahim, KH. Handik, KH. Ridwan Fadhol, KH. Noor Haq, KH. Hasyim, KH. Ahmad Muad, KH. Basyir, KH. Bahrudin, ibu Nyai Hj.
Elok Hafidzah, Ummi Hj Tuti dan seluruh guru-guru yang pernah mengajari saya tentang ilmu dunia dan akhirat) yang selalu saya nantikan doa dan ridho dari para Kyai dan guru.
11. Terima kasih untuk keluarga besar Pondok Pesantren Daar El-hikam (KH.
Bahrudin S.Ag dan keluarga) dan Pondok Pesantren Al-Ittihad Demak (KH.
Abdurahim dan keluarga) yang selalu memberikan nasihat-nasihatnya dalam mendidik ilmu agama dan juga kepada para Santriwan dan Santriwati Pondok Pesantren Daar El-Hikam dan Pondok Pesantren Al-Ittihad Demak yang memberikan semangatnya dalam menyelesaikan skripsi ini.
v
12. Terima kasih untuk keluarga besar Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN JKT (Hilma Wildayani, Andi Nursamha Fitriah, Dede Delfia, Kurnia Yuha Izvana, Syufia Hidayatu Sholehah, Marsita, Noor Muhammad, Wiwin Handayani dll)
13. Terimakasih kepada sahabat terdekat yang tercinta (Hayatul Millah, Putriana Sallamah, Khairum Millatin, Arsita Dewi Rasni, Siti Nur Adzni Adzkia, Nida Arrafh, Nur Aliyah, sholihati) WADAH 2012 dan anak-anak „the beast ledies” yang menjadi semangat untuk terus berjuang bersama-sama dan kebersamaanya selama ini.
14. Teman-teman Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan terutama pada seluruh keluarga Sosiologi 2012 (Desty Rahmayanti, Nur Aini, Febriyani Ramadhana, Aida, Sheila, Ida Aisyah Winda Agnes, dan kepada Mutia Anggraini, Diah Fajriani dll) yang telah berjuang bersama-sama selama berada di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kesempurnaan. Namun penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, semua itu dikarenakan keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis akan menerima dengan hati terbuka atas segala kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini dan dapat menjadi sebuah skripsi yang baik. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memiliki guna dan manfaat bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan dalam dunia Pendidikan
Jakarta, 14 September 2017 Penulis
Ummi Nadzifah
vi
DAFTAR ISI
COVER
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
UJI REFERENSI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN TEORI A. Perubahan Sosial... 7
1. Definisi Perubahan Sosial ... 7
2. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sosial ... 9
3. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial ... 10
4. Proses Perubahan Sosial ... 12
B. Interaksi Sosial... 13
1.Definisi Interaksi Sosial ... 13
vii
2. Syarat-syarat terjadinya Interaksi Sosial ... 14
a. Adanya Kontak Sosial ... 15
b. Adanya Komunikasi ... 15
3. Faktor Dasar Interaksi Sosial ... 16
4. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ... 18
5. Proses Interaksi Sosial ... 18
a. Proses Asosiatif ... 18
b. Proses disosiatif ... 23
C. Relokasi ... 24
1. Definisi Relokasi ... 24
2. Latar Belakang Relokasi ... 27
3. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan dan Kegagalan Relokasi ... 27
D. Hasil Penelitian Relevan ... 28
E. Kerangka Berpikir ... 36
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu ... 38
B. Metode Penelitian ... 39
C. Subjek dan Sumber Data ... 40
1. Data Primer ... 40
2. Data Sekunder ... 40
D. Teknik Pengumpulan Data ... 41
1. Observasi ... 41
2. Wawancara ... 42
3. Dokumentasi ... 42
E. Instrument Penelitian... 43
1. Pedoman Observasi ... 43
2. Pedoman Dokumentasi ... 44
3. Pedoman Wawancara ... 44
F. Teknik Pengecekan Keabsahan Data... 45
G. Teknik Analisis Data ... 46
viii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data ... 49
1. Gambaran Umum Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur ... 49
2. Permasalahan Rusunawa Jatinegara Barat ... 55
3. Karakteristik Informan ... 61
B. Hasil Penelitian ... 62
1. Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur ... 62
2. Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Setelah Relokasi .... 66
C. Pembahasan ... 72
1. Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo ... 72
2. Interasi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Setelah Direlokasi ... 74
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kesimpulan ... 81
B. Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 37
x
DAFTAR TABEL
Table 2.1 Hasil Penelitian Relevan ... 28
Table 2.2 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Relevan ... 33
Table 3.1 Jadwal Penelitian ... 38
Table 3.2 Pedoman Observasi ... 43
Table 3.3 Pedoman Dokumentasi... 44
Table 3.4 Pedoman Wawancara Jenis Data Jumlah Keterangan ... 44
Table 4.1 Penduduk Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur ... 51
Table 4.2 Jumlah Penghuni Menurut Usia Sekolah ... 52
Table 4.3 Sarana dan Prasarana Rusunawa Jatinegara Barat ... 54
Table 4.4 Kegiatan Rusunawa Jatinegara Barat Timur ... 55
Table 4.5 Data Informan ... 61
Table 4.6 Data Demografi Rusunawa Jatinegara Barat ... 71
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 2 Surat Permohonan Izin Penelitian Lampiran 3 SK Penelitian
Lampiran 4 Pedoman Wawancara Lampiran 6 Hasil Wawancara Lampiran 7 Dokumentasi
Lampiran 8 Lembar Uji Referensi Lampiran 9 Biografi Penulis
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Provinsi DKI Jakarta adalah provinsi yang menempati lahan kecil di sebelah utara Jawa Barat dihimpit oleh wilayah Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat.1 Pada tahun 2015 jumlah penduduk kota Jakarta kurang lebih sekitar 10.177,9 juta jiwa.2 Data tersebut menggambarkan keadaan Jakarta sangat padat dengan kegiatan masyarakatnya yang selalu sibuk selama 24 jam.
Kota Jakarta selain menjadi pusat pemerintahan dan perpolitikan, kehidupan Jakarta yang penuh dengan tempat hiburan, pendidikan yang baik dan banyaknya lapangan pekerjaan menjadi faktor pendorong masyarakat di luar Jakarta untuk melakukan urbanisasi dan mencari pekerjaan di Jakarta dengan tujuan untuk memperbaiki taraf hidup mereka.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, Jakarta dihadapkan pada sejumlah persoalan antara lain kemacetan lalu-lintas, kriminalitas, polusi udara dan bencana banjir. Perluasan permukiman serta pembabatan pohon di wilayah pinggiran akibat polusi penduduk yang semakin padat menyebabkan hampir setiap tahun sebagian wilayah Jakarta mengalami banjir.
Pesatnya pertambahan jumlah penduduk di Jakarta selain akan menyebabkan persoalan banjir juga akan berpengaruh langsung terhadap kebutuhan sarana dan prasarana kota dalam hal ini menyangkut kebutuhan akan perumahan dan permukiman. Semakin besar dan meluasnya kota serta semakin tingginya tingkat kepadatan penduduk menimbulkan permasalahan permukiman kumuh.
Permukiman kumuh yang berada di pinggiran sungai Jakarta menghambat aliran sungai yang ada disekitar pemukiman tersebut terlebih
1Fritz G. kumendong dan G. Bani, Muatan Lokal Ensiklpodei Geografi Indonesia Mengenal 33 Provinsi di Tanah Air, (Jakarta: PT. Lentera Abadi, 2009), h. 69.
2Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta, Tahun 2015.
sampah dari warga di sekitar sungai yang setiap harinya mereka buang dan sampah tersebut mengendap sehingga mengurangi jumlah air yang bisa ditampung oleh sungai. Akhirnya terjadilah banjir tahunan yang dapat merugikan pendapatan masyarakat Jakarta karena ketika banjir kegiatan perekonomian di Jakarta dapat terhambat hal ini menyebabkan pendapatan masyarakat dan daerah menurun. Salah satu daerah yang setiap tahunnya mengalami banjir adalah Kampung Pulo Jakarta Timur.
Permukiman Kampung Pulo yang berada di bantaran sungai Ciliwung Jakarta Timur terendam mencapai 1,5 meter hingga 2 meter setiap musim penghujan tiba.1 Namun setiap banjir warga Kampung Pulo tidak pernah keluar dari kawasan Kampung Pulo untuk mengungsi, mereka hanya memindahkan barang-barangnya dan tetap bertahan di lantai dua rumah mereka.
Hal inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta memperbaiki kawasan tersebut dan merelokasikan warganya ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur. Tujuan dari relokasi tidak lain dilakukan agar pemerintah bisa menormalisasi kali dan sungai. Sebab selama ini permukiman kumuh yang dibangun warga di badan sungai menyebabkan lebar sungai pun berkurang dari 20-50 meter menjadi 5 hingga 10 meter.2
Sehingga pada tanggal 20 Agustus 2015 Pemerintah Daerah Jakarta Timur yang dipimpin oleh Walikota Jakarta Timur, yaitu Bambang Musyawardana dibantu dengan 2.100 personel merelokasi masyarakat Kampung Pulo ke Rusunawa Jatinegara Barat.3
Kebijakan relokasi merupakan salah satu kebijakan yang diambil Pemerintah Provinsi Jakarta untuk memperbaiki tata kota di Jakarta yang hampir seluruh wilayah yang berada di pinggir sungai menjadi permukiman
1Tri Wahyuni dan CNN Indonesia, Berita Ahok di Balik Penggusuran Kampung Pulo, 2015, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150820195034-20-73479/cerita-ahok-di-balik-
penggusuran-kampung-pulo/, diunduh pada 23 Januari 2017 pukul 10.00.
2Poskotanews, Ahok Sudah Relokasi 14.900 Warga ke Rumah Susun, 2016, http://poskotanews.com/2016/05/21/ahok-sudah-relokasi-14-900-warga-ke-rumah-susun/, diunduh pada 23 Januari 2017 pukul 10.20.
3Tempo. Co, Ahok Pastikan Penggusuran Kampung Pulo Jalan Terus, 2015, https://www.tempo.co/read/fokus/2015/08/21/3239/ahok-pastikan-penggusuran-kampung-pulo- jalan-terus, diunduh pada tanggal 23 Januari 2017 pukul 11.00
kumuh. Sampai saat ini Pemerintah Provinsi Jakarta telah merelokasi 14.900 jiwa dari 6.000 Kepala Keluarga (KK) warga yang telah direlokasi ke rumah susun. Jumlah tersebut berasal dari Waduk Pluit, Kali Sekretaris, Kali Mookervart, Kampung Pulo, Pulomas, Kalijodo, Pasar Ikan, Waduk Ria Rio, Sodetan Ciliwung dan akhir-akhir ini adalah Bukit Duri serta lokasi lainnya.4 Relokasi masyarakat Kampung Pulo ke rumah susun sewa Jatinegara Barat secara tidak langsung membawa dampak perubahan interaksi sosial.
Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antar kelompok- kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia.5 Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
Artinya :
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al- Hujurat: 13)
Perubahan adalah hal yang bertujuan untuk merubah sesuatu yang kurang baik menjadi sesuatu hal yang baik. Dalam kasus relokasi tersebut Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta bertujuan untuk merubah pola kehidupan masyarakat Kampung Pulo menjadi lebih baik dan menjadikan daerah Kampung Pulo menjadi ruang terbuka hijau.
4Poskotanews.com, Ahok Sudah Relokasi 14.900 Warga ke Rumah Susun, 2016, http://poskotanews.com/2016/05/21/ahok-sudah-relokasi-14-900-warga-ke-rumah-susun/, diunduh pada tanggal 23 Januari 2017 pukul 10.20
5Soejono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2005), h.
61.
Relokasi atau perpindahan memang memiliki tujuan tertentu, salah satunya adalah agar masyarakat Kampung Pulo tidak hidup di lingkungan yang kumuh dan juga meminimalisir banjir ketika musim hujan.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Perubahan Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Pulo Pasca Relokasi di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur”
B. Identifikasi Masalah
Untuk menghindari dari kekeliruan dan kesalah pahaman dalam pembahasan ini maka identifikasi permasalahnnya adalah sebagai berikut:
1. Permukiman kumuh yang menjadi latar belakang diadakannya relokasi masyarakat Kampung Pulo ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
2. Interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang terjadi sebelum direlokasinya mereka ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
3. Interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang berada di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
4. Kendala yang sering dirasakan masyarakat Kampung Pulo dalam melakukan interaksi sosial pasca relokasi.
5. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempertahankan masyarakat Kampung Pulo untuk tetap bertahan di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
C. Pembatasan Masalah
Dalam pembatasan masalah, agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis akan meneliti mengenai interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang direlokasi ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur, maka penulis memberi batasan masalah sebagai berikut :
1. Interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang terjadi sebelum direlokasi mereka ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
2. Interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang terjadi yang berada di Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
3. Kendala yang sering dirasakan masyarakat Kampung Pulo dalam melakukan interaksi sosial pasca relokasi.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah sebagaimana diuraikan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk perubahan interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo yang tinggal di Rusunawa Jatinegara Barat akibat relokasi ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data, fakta yang valid dan dapat dipercaya mengenai gambaran yang jelas tentang perubahan interaksi sosial masyarakat Kampung Pulo paska direlokasinya mereka ke Rusunawa Jatinegara Barat Jakarta Timur.
F. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini dilakukan, maka manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Yakni sebagai bahan acuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bidang studi Sosiologi yang bertujuan untuk menambah hasanah pengetahuan khususnya pada materi pembelajaran Perubahan Sosial pada kelas XII.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pemerintah DKI Jakarta
Hasil kajian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan bagi Pemerintah Jakarta dalam menentukan program relokasi di kemudian hari sehingga mampu menghasilkan kebijakan yang optimal, efektif, efesien dan dirasa tidak berat sebelah bagi masyarakat kecil sesuai dengan tujuan pemerintah dan aspirasi/keinginan masyarakat yang direlokasi permukimannya, khusunya bagi masyarakat korban penggusuran permukiman kumuh.
Memberikan gambaran terhadap langkah-langkah kebijakan relokasi pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar relokasi bisa berjalan dengan baik dan dapat memberikan dampak yang baik bagi masyarakat korban relokasi.
b. Bagi Institusi
Sebagai penerapan atau implementasi dari referensi-refensi penelitian yang terdapat dalam penelitian ini bagi masyarakat Kampung Pulo khususnya dan masyarakat umum secara luas.
c. Bagi Peneliti
1. Sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan.
2. Sebagai salah satu cara untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
7
BAB II KAJIAN TEORI
A. Peribahan Sosial
1. Definisi Perubahan Sosial
Perubahan atau disebut juga dengan transformasi. Transformasi berasal dari bahasa Inggris transformation yang berarti perubahan bentuk (rupa) atau pengganti rupa.1Kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan kata transformasi. Kata transformasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai perubahan rupa, bentuk (sifat dan sebagainya).2 Dalam ilmu sosial, transformasi sosial sering diartikan dengan istilah perubahan sosial, yaitu “perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat mencakup perubahan pada norma sosial, nilai sosial, interaksi sosial, pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan masyarakat, susunan kekuasaan dan wewenang.“3
Setiap manusia pasti mengalami perubahan dalam kehidupannya. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda dan tak terbatas setiap harinya. “Perubahan-perubahan tersebut akan terlihat ketika adanya perbedaan tatanan sosial yang sebelumnya dengan yang baru.“4Adanya perubahan bisa terlihat dengan membandingkan keadaan masyarakat pada masa tertentu yang dibandingkan dengan keadaan masyarakat masa lampau.
Menurut Auguste Comte dan Herbert Spencer perubahan pasti terjadi pada kehidupan manusia dan masyarakat yang selalu mengalami perkembangan dalam segi kehidupan sesuai dengan tahap-tahap tertentu,
1John M. Echols. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Jakarta, 2010), h. 601.
2Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), edisi keempat, h. 1484
3Beni Ahmad Saebani, Perspektif Perubahan Sosial, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2016), h.15.
4Abdulsyani, Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan,(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), h.162.
mulai dari bentuk sederhana, sampai kebentuk yang lebih kompleks hingga sampai pada tahap yang sempurna.
Teori perubahan sosial berpusat pada ciri-ciri kapitalis atau perkembangan industrial dan ketiadaan perkembangan sosial yang nyata dalam masyarakat yang telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kolonial Eropa. Teori-teori perubahan sosial ini mempunyai perhatian pada perkembangan jangka panjang dan berskala besar atau makro.5
Disisi lain William F. Ogburn dalam Anwar Yesmil dan Adang berpendapat mengenai perubahan sosial. Perubahan sosial diartikan sebagai
“Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material terhadap unsur-unsur immaterial.“6
Menurut Herbert Blumer (1955) dalam Beni Ahmad Saebani melihat perubahan sosial sebagai usaha kolektif untuk menegakkan terciptanya tata kehidupan baru.7 Menurut Robert H. Laure dalam Beni Ahmad Saebani perubahan sosial adalah perubahan penting dari struktur sosial, dan struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial.8 Struktur yang pertama kali berubah adalah struktur penduduk, yang kemudian menyeret terjadinya perubahan yang lainnya.9
Menurut Sosiolog Indonesia Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perikelakuan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.10
5Nicholas dkk, Kamus Sosiologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hh. 510-511.
6Anwar Yesmil dan Adang, Sosiologi untuk Universitas, (Bandung: PT Rafika Aditama, 2013), h.245.
7J.Dwi Narwoko-Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), h. 363.
8Saebani, h.14.
9Ibid, h.70.
10Abdulsyani, Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2012), hh.
163-164.
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai pengertian perubahan sosial, maka dapat disimpulkan perubahan sosial adalah berubahnya kondisi atau keadaan yang terjadi di dalam masyarakat dengan lembaga atau elit yang menjadi agen perubahan tersebut. Dimana keadaan tersebut bisa mempengaruhi sistem sosial yang terjadi di masyarakat tersebut bukan hanya sistem sosialnya tapi juga dapat mempengaruhi pola-pola perilaku dan interaksi sosial. Perubahan tersebut terjadi dalam jangka waktu cepat maupun lambat dan dalam keadaan perubahan yang direncanakan maupun tidak direncanakan.
2. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sosial
Pada dasarnya perubahan-perubahan sosial pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, anggota masyarakat pada waktu tertentu merasa tidak puas lagi terhadap keadaan kehidupannya yang lama dan karena manusia pada dasarnya memiliki sifat bosan.11 Norma-norma dan lembaga-lembaga sosial, atau sarana penghidupan yang lama dianggap tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sebab-sebab tersebut sumbernya mungkin ada yang terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar masyarakat yaitu datangnya sebagai pengaruh dari masyarakat lain atau alam sekitarnya.12 Dalam bagian ini selanjutnya akan dibahas tentang faktor-faktor penyebab perubahan sosial. berikut penjelasannya:
Menurut Abdul Syani terdapat tiga faktor utama penyebab terjadinya perubahan sosial yaitu penimbunan (akumulasi) kebudayaan, pertambahan penduduk dan penemuan-penemuan baru.13 Timbunan kebudayaan dan penemuan baru merupakan faktor penyebab perubahan sosial yang penting karena selalu terjadinya penimbunan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat sehingga kebudayaan semakin lama semakin beragam. Hal ini disebabkan karena adanya penemuan baru dari anggota masyarakat pada
11Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid 2 Edisi keenam, (Jakarta: Erlangga, 1984), h. 207.
12Anwar Yesmil dan Adang, op.cit, h.248.
13Abdulsyani, op.cit, h.164.
umumnya.14 Perubahan jumlah penduduk merupakan faktor penyebab timbulnya perubahan sosial dan budaya, sehingga jika suatu daerah baru telah dipadati penduduk, maka secara otomatis kadar keramah tamahan pun akan semakin menurun dan lambat laun akan membentuk masyarakat yang bersifat individual, kelompok sekunder akan semakin bertambah jumlahnya dan akan berdampak pada rumitnya sistem kelembagaan.15 Penemuan baru merupakan suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.16
3. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
Perubahan sosial menurut Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanti dapat dibedakan atas beberapa bentuk yaitu perubahan evolusi, revolusi, perubahan yang tidak direncanakan dan yang terakhir perubahan yang direncanakan.17 Adapun penjelasannya sebagai berikut: pertama perubahan evolusi: Teori evolusi banyak diilhami oleh pemikiran Darwin. Para ahli menyatakan bahwa evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, utamanya adalah yang berhubungan dengan sistem kerja.
Perubahan evolusi terjadi dalam proses yang lambat, dalam waktu yang cukup lama tanpa ada kemauan tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.18
Kemudian kedua perubahan revolusi: Berbeda dengan teori perubahan evolusi perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya, sedangkan dalam sosiologi perubahan revolusi dapat diartikan sebagai perubahan- perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat.19 Selanjutnya ketiga perubahan yang tidak direncanakan: Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di
14Abdulsyani, op.cit, h. 164
15Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, op.cit, h.218.
16Anwar Yesmil dan Adang, op.cit, h.249.
17 Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, loc.cit, h. 138.
18Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, loc.cit, h. 138.
19Abdulsyani, op.cit, h. 168.
luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat.20 Dan terakhir adalah perubahan yang direncanakan: Perubahan yang direncanakan menurut Lippit dalam Syamsir Salam dan Amir Fadilah merupakan proses perubahan yang dilakukan menurut keputusan-keputusan tertentu yang akan mewarnai perkembangan yang akan dicapai dalam suatu sistem sosial.21 Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Abdulsyani, perubahan yang direncanakan adalah perubahan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu sebelumnya oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. 22
Jadi perubahan sosial yang direncanakan adalah perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat yang telah direncanakan atau dibicarakan terlebih dahulu oleh berbagai pihak yang menghendaki perubahan tersebut.
Proses perubahan berencana mencakup tahapan-tahapan sebagai berikut: membangun kebutuhan untuk berubah, selain itu perubahan juga membutuhan jaringan untuk perubahan, melaksanakan upaya gerakan untuk meraih perubahan terutama melalui identifikasi permasalahan yang dihadapi dan melakukan evaluasi terhadap pilihan yang ada serta merumuskan arah (maksud dan tujuan) yang akan ditentukan, agar perubahan tersebut dapat berdampak positif bagi masyarakat sehingga perubahan harus bersifat generalisasi dan adanya stabilisasi perubahan, dan untuk menyempurnakan keseluruhan proses maka proses yang terakhir adalah mensukseskan hubungan akhir (cita-cita yang akan dicapai bersama).23
Dalam kaitannya dengan perubahan berencana, Tjondronegoro dalam Syamsir Salam dan Amir Fadilah memandang bahwa pembangunan berencana merupakan bentuk program pembangunan yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir melalui institusi birokrasi pemerintahan dari
20Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, op.cit, h. 271.
21Syamsir Salam dan Amir Fadilah, Sosiologi Pembangunan Pengantar Studi Pembangunan Lintas Sektoral, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN JKT, 2009), h. 63.
22Abdulsyani, op.cit,h. 169-170.
23Syamsir Salam dan Amir Fadilah, op.cit, h.63.
tingkat pusat sampai tingkat desa dalam rangka untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.24
Fenomena dari bentuk sentralistik pemerintah melalui pembangunan berencana dapat kita lihat dari berbagai upaya pemerintah untuk membentuk organisasi dan lembaga sosial yang keberadaannya mulai menggusur eksistensi lembaga lokal yang telah ada sebelumnya, karena diseragamkan modelnya oleh pemerintah. Lebih jauh Tjondronegoro menggambarkan bahwa kesadaran yang tertanam dalam pemikiran para elit dan agen perubahan dalam pembangunan ekonomi negara akan tercapai jika ada peningkatan produktivitas sumber daya dan ketrampilan warga desa dan pedusunan dalam mengelola sumber daya alam yang dimiliki warga desa dapat direkayasa jika mereka dimanfaatkan sebagai agen perubahan dalam proses pembangunan.25
4. Proses Perubahan Sosial
Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap berurutan: invensi, yaitu proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan; difusi, ialah proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial dan konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengabdosian atau penolakan inovasi.26
Dalam sumber lain mengatakan proses perubahan sosial meliputi:
Saluran perubahan sosial yang pada umumnya terdapat pada bidang pemerintah, perekonomian, keagamaan, pendidikan, rekreasi/wisata dsb.
Keseluruhan saluran tersebut berjalan efektif tergantung pada lembaga kemasyarakatan apa yang dominan dan dijunjung tinggi masyarakat. Selain itu disorganisasi, apabila ada perubahan maka norma dan nilai-nilai kemasyarakatan mengalami proses pudar, maka timbul problem sosial berupa penyimpangan. Sebaliknya, reorganisasi merupakan proses
24Ibid, h.63.
25Ibid, h. 64-65.
26Anwar Yesmil dan Adang, op.cit, h.250.
pembentukan norma dan nilai-nilai baru dalam bentuk penyesuaian diri dalam lembaga kemasyarakatan yang mengalami perubahan. 27
B. Interaksi Sosial
1. Definisi Interaksi Sosial
Ketika berbicara mengenai ilmu sosial maka tidak terlepas dari interaksi sosial karena interaksi merupakan alat dimana manusia bisa bersosialisasi dengan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pandangan ahli sosiologi seperti Max Weber bahwa pokok pembahasan sosiologi ialah tindakan sosial.28 Interaksi sosial merupakan tindakan sosial yang berpengaruh sangat penting bagi terlaksananya proses sosialiasi dan juga berpengaruh pada perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Interaksi sosial berlangsung rutin dan tindakan sosial yang dilakukan orang-orang.29 Tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan masyarakat.30
Menurut Bonner dalam Yusron Razak berpendapat bahwa interaksi sosial ialah suatu hubungan antara dua orang atau lebih sehingga kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain dan sebaliknya.31
Disisi lain Young dalam Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati juga memberikan pendapatnya mengenai interaksi sosial. Menurut Young, interaksi sosial ialah kontak timbal balik antara dua orang atau lebih.32 Pada dasarnya interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.33
Para ahli sosiologi sepakat bahwa interaksi sosial adalah syarat utama bagi terjadinya aktivitas sosial dan hadirnya kenyataan sosial. Ketika berinteraksi, seseorang atau kelompok sebenarnya tengah berusaha atau
27Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, Dasar-dasar Sosiologi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2009), h.137.
28Kamanto Sunarto, Ibid, h. 35.
29J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta:
Kencana, 2007), h.15.
30Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, op.cit, h.26.
31Yusron Razak, Sosiologi Sebuah Pengantar, (Ciputat: Laboratorium Sosiologi Agama, 2008), h. 57.
32Ibid, h. 57.
33Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, op.cit, h. 54.
belajar bagaimana memahami tindakan sosial orang atau kelompok lain.
Sebuah interaksi sosial akan kacau bilamana antara pihak-pihak yang berinteraksi tidak saling memahami motivasi dan makna tindakan sosial yang mereka lakukan.34
Saling bertemunya individu dengan individu lain secara badaniah saja tidak akan menciptakan suatu pergaulan hidup atau terjadinya kehidupan bersama di dalam kelompok sosial. Pergaulan hidup atau kehidupan bersama akan tercipta jika individu atau kelompok manusia saling berbicara, bekerja sama dan membantu untuk mencapai tujuan bersama, terciptanya konflik, persaingan dan lain sebagainya.
Menurut George Herbert Mead dalam Dwi Narwoko dan Bagong suyanto berpendapat bahwa agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib dan teratur dan agar anggota masyarakat bisa berfungsi secara normal, maka yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menilai secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain.35
Maka dapat dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan suatu dasar proses sosial yang terjadi di dalam kelompok masyarakat, yang menunjuk pada hubungan-hubungan kelompok sosial yang dinamis. Sehingga interaksi sosial sangatlah penting bagi terciptanya suatu kehidupan jika individu hanya bertemu secara badaniah saja tanpa adanya saling berbicara, saling bekerja sama dan saling membantu maka kehidupan di dalam kelompok sosial tidak akan terjadi. Manusia sebagai aktor sosial harus memberikan timbal balik untuk saling mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kehidupan satu sama lain atau kehidupan kelompok.
2. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Suatu interaksi sosial tidak akan terjadi di dalam kehidupan sosial apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu:
34J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, op.cit, h. 20.
35J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, op.cit, h. 20.
a. Adanya kontak sosial
Kata kontak berasal dari bahasa latin, yaitu con atau cum (bersama-sama) dan tango (menyentuh) jadi artinya bersama-sama menyentuh. Kontak sosial mempunyai dua sifat. Yang pertama bersifat primer, artinya terjadi apabila hubungan diadakan secara langsung yang berhadapan muka. Yang kedua bersifat sekunder artinya suatu kontak memerlukan suatu perantara.36 Namun ada pula yang bersifat positif dan negatif. Kontak sosial yang bersifat positif mengarahkan pada suatu kerja sama, sedangkan yang bersifat negatif mengarahkan pada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.37
Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, seperti misalnya, dengan cara berbicara dengan pihak lain tersebut.38
b. Adanya komunikasi
Komunikasi menyangkut segala bentuk penyampaian pesan, baik kepada kucing, rumput yang bergoyang, arwah, Tuhan dan tentunya kepada manusia.39 Komunikasi sesuai dengan objek materinya yang berada dalam rumpun ilmu-ilmu sosial. Artinya, penyampaian pesan kepada makhluk selain manusia berada di luar objek kajian ini.40 Usaha penyampaian pesan kepada manusia.41
Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa
36Yusron Razak, op.cit, h. 58.
37Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, op.cit, h. 59.
38Ibid, h. 58.
39Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Indeks, 2008), h. 28.
40Ibid, h. 28.
41Ibid, h. 29.
yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.42
Komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (nase), terjadi dalam konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.43
Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan- perasaan suatu kelompok manusia atau orang-perseorangan dapat diketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.44
Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pada sesuatu atau perikelakuan orang lain. Dalam komunikasi sering kali muncul berbagai macam penafsiran terhadap makna sesuatu atau tingkah laku orang lain yang mana itu semua ditentukan oleh perbedaan konteks sosialnya.45
Dengan demikian, komunikasi memungkinkan kerja sama antara orang perorangan atau antara kelompok-kelompok manusia dan memang komunikasi merupakan salah satu syarat terjadinya kerja sama. Akan tetapi, tidak selalu komunikasi menghasilkan kerja sama bahkan suatu pertikaian mungkin akan terjadi sebagai akibat salah paham atau karena masing-masing tidak mau mengalah.46
3. Faktor Dasar Interaksi Sosial
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Imitasi merupakan faktor yang paling penting dalam proses interaksi sosial. Imitasi
42Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, op.cit, h.60
43Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia Kuliah Dasar Edisi Kelima, (Jakarta:
Profesional Book, 1997), h. 23.
44Soejono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi, op.cit, h.61.
45J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, op.cit, h. 16.
46Soejono Soekanto dan Budi Sulistyowati, loc.cit, h.61.
dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.47 Namun, disisi lain imitasi juga berdampak negatif ketika yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dan imitasi juga bisa menghambat kreativitas karena pengaruh dari meniru tersebut.
Faktor sugesti terjadi apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses sugesti hampir sama dengan imitasi, tetapi titik tolaknya berbeda. Sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda oleh emosi, yang dapat menghambat daya berpikir secara rasioanal.48
Sugesti dapat terjadi ketika orang yang memberikan pandangan adalah seseorang yang memiliki sifat berwibawa atau mungkin sifat otoriter. Orang yang berwibawa atau terpandang dapat dengan mudah memberikan pandangan bagi anggota dari kelompoknya, secara tidak sadar orang yang menerima pandangan dari orang yang berwibawa atau otoriter mereka akan dengan mudah menerima sugesti tersebut, sehingga apa yang mereka terima secara otomatis akan merubah pola kehidupan atau sikap dari anggota kelompok tersebut.
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari pada imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya (secara tidak sadar), maupun dengan disengaja oleh karena seringkali seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya.49 Berlangsungnya identifikasi mengakibatkan terjadinya pengaruh-pengaruh yang lebih mendalam ketimbang proses imitasi dan sugesti walaupun ada kemungkinan bahwa pada mulanya proses identifikasi diawali oleh imitasi dan sugesti.50
47Ibid, h.63.
48Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, op.cit, h.57.
49Ibid, h.63.
50Ibid, h.64.
Tipe-tipe ideal memang sangat diperlukan dalam membentuk kepribadian seseorang. Pengaruh yang diberikan dalam faktor identifikasi sangatlah besar. Pihak yang melakukan identifikasi haruslah mengenal dengan baik siapa tipe ideal yang akan dijadikan contoh yang ideal bagi mereka. Sehingga sikap, kaidah maupun karakter yang dimiliki oleh tipe ideal tersebut dapat menjiwai bagi mereka yang melakukan identifikasi tersebut.
Simpati merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain, contohnya ketika ada tetangga yang berusaha untuk membantu, simpati lebih banyak terlihat pada hubungan sebaya dan lain- lain.51
4. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), Akomodasi (accomodation), Persaingan (competition), dan pertikaian (conflict). Konflik selalu menuju suatu penyelesaian, namun dalam prosesnya dapat berkondisi sementara, yang disebut akomodasi (accomodation).52 Proses sosial dapat mengarah kepada proses asimilasi.
Hal ini dapat berupa interaksi sosial yang bersifat saling ada pendekatan, interaksi sosial bersifat langsung atau primer, interaksi sosial yang lancar dan tidak ada hambatan atau batas serta interaksi sosial yang sering, intensif dan sehari-hari.53
5. Proses-proses Interaksi Sosial a. Proses Asosiatif
1) Kerja sama
Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok dimana kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (in-group-nya) dan kelompok lainnya (out- group-nya). Kerja sama mungkin akan bertambah kuat apabila ada bahaya luar yang mengancam atau ada tindakan-tindakan yang
51Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, op.cit, h.27.
52Ibid, h.28.
53Ibid, h.28.
menyinggung kesetiaan yang secara tradisional atau institusional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seorang atau segolongan orang. Betapa pentingnya kerja sama, digambarkan oleh Charles H. Cooley dalam Soerjono Soekanto sebagai berikut:
Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang terpenting dalam kerja sama yang berguna.54
Di kalangan masyarakat Indonesia dikenal bentuk kerja sama tradisional dengan nama gotong royong. Di dalam sistem pendidikan Indonesia yang tradisional, umpamanya, sejak kecil tidak ditanamkan ke dalam jiwa seseorang suatu pola perilaku agar dia selalu hidup, terutama dengan keluarga dan lebih luas lagi dengan orang lain di dalam masyarakat. Hal mana disebabkan adanya suatu pandangan hidup bahwa seseorang tidak mungkin sendiri tanpa kerja sama dengan orang lain. Pandangan hidup demikian ditingkatkan dalam taraf kemasyarakatan sehingga gotong royong sering kali diterapkan untuk menyelenggarakan suatu kepentingan.
2) Akomodasi
Akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan. Menurut Gillin dan Gillin dalam Soerjono Soekanto dikatakan bahwa:
Akomodasi adalah suatu pengertian yang dipergunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan- hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk
54 Soejono Soekanto, op.cit, h. 66.
menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya.55
Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Tujuan dari akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:
1). Untuk mengurangi pertentangan antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham.
Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, untuk sementara atau secara temporer 2). Memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompok-kelompok sosial yang sebagai akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, hidupnya terpisah seperti, misalnya yang dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang mengenal sistem berkasta 3). Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya, melalui perkawinan campuran atau asimilasi dalam arti yang luas. Akomodasi sebagai suatu proses, dapat mempunyai beberapa bentuk, yaitu coercion, compromise, arbitration, mediation, conciliation, tolerantion, stalemate, adjudication.
Coercion, adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh suatu paksaan. Coercion merupakan bentuk akomodasi, dimana salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah sekali, dibandingkan dengan pihak lawan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fisik yaitu secara langsung, maupun secara psikologis yaitu secara tidak langsung. Misalnya perbudakan, adalah suatu coercion dimana interaksi sosialnya didasarkan pada penguasaan majikan atas budak-budaknya, dimana yang terakhir dianggap sama sekali tidak mempunyai hak-hak apapun juga.
55Ibid, h. 69.
Compromise, yaitu suatu bentuk akomodasi, dimana pihak- pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Sikap untuk dapat melaksanakan compromise berarti bahwa salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan mengerti pihak lainnya begitupun sebaliknya.
Arbitration, merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan, masing-masing tidak sanggup untuk mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan oleh pihak atau oleh suatu badan yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertentangan itu, seperti contohnya adalah penyelesaian suatu perselisihan perbuatan.
Mediation, hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. Conciliation, adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan bersama.
Tolerantion, yang juga sering dinamakan tolerant- participation, ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formil bentuknya, kadang-kadang tolerantion timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan, hal mana disebabkan karena adanya watak orang perorangan atau kelompok- kelompok manusia.
Stalamete, merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa dipengadilan.
Secara panjang lebar, Gillin dan Gillin menguraikan hasil- hasil dari terjadinya proses akomodasi, dengan banyak mengambil contoh-contoh dari sejarah. Antara lain hasil-hasilnya adalah
akomodasi menyebabkan usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri dari benih-benih yang dapat menyebabkan pertentangan yang baru, untuk kepentingan integrasi masyarakat.
Menekan oposisi, seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu misalnya golongan produsen demi kerugian pihak lain misalnya konsumen. Akomodasi membuka jalan kearah asimilasi. Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih sering mengenal dan dengan demikian juga lebih mudah untuk saling mendekati, oleh karena timbul benih-benih toleransi.
3) Asimilasi
Asimilasi merupakan suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.
Memperjelas maksud di atas adalah: 1) Orang-perorangan sebagai warga kelompok-kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama 2) kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.
Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah antara lain: toleransi, kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang, suatu sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya, sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat, persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, perkawinan campuran (amalgamations), adanya bersama dari luar.
Selain faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi terdapat juga faktor-faktor yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi adalah antara lain: terjadinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat (biasanya golongan minoritas). Suatu contoh misalnya orang-orang Indian di Amerika Serikat yang diharuskan bertempat tinggal di wilayah-wilayah tertentu yang
tertutup (Reservation), Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi itu, Perasaan takut terhadap kekuatan kebudayaan yang dihadapi itu, Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu, lebih superior dari pada kebudayaan golongan atau kelompok biasanya, Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniyah dapat pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi. Suatu in-group feeling yang kuat dapat pula menjadi penghalang terhadap terjadinya asimilasi. In-group feeling artinya bahwa suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada suatu kelompok yang bersangkutan. Suatu hal lain yang dapat mengganggu proses asimilasi adalah apabila golongan minoritas mengalami gangguan- gangguan dari golongan yang berkuasa.
b. Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering juga disebut sebagai oppositional proces, persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Proses-proses disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu:
1) Persaingan
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana orang perorangan atau suatu kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian dari publik (tidak perseorangan maupun kelompok manusia).
Bentuk-bentuk persaingan antara lain: (1) persaingan di bidang ekonomi (2) persaingan dalam bidang kebudayaan (3) persaingan untuk mencapai kedudukan dan peranan yang tertentu dalam masyarakat (4) persaingan karena perbedaan ras.
2) Kontravensi
Kontravensi pada hakekatnya merupakan suatu bentuk proses sosial antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian.
Contravention terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidak pastian mengenai seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka disembunyikan, kebencian atau keraguan-keraguan terhadap kepribadian seseorang. Dalam bentuk murni, contravention adalah suatu sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu.
3) Pertentangan
Pertentangan merupakan suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Sebab dari pertikaian antara lain: Perbedaan antara orang- perorangan. Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin menyebabkan bentrokan antara orang perorangan. Perbedaan kebudayaan. Perbedaan kepribadian dari orang perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut.
Bentrokan antara kepentingan-kepentingan. Bentrokan-bentrokan kepentingan orang perorangan maupun kelompok-kelompok manusia merupakan sumber lain dari pertentangan. Dan yang terakhir adalah Perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat, merubah nilai-nilai dalam masyarakat dan menyebabkan terjadinya golongan yang berbeda pendiriannya mengenai reorganisasi menyebabkan suatu disorganisasi.
C. Relokasi
1. Definisi Relokasi
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relokasi adalah memindahkan tempat. Sedangkan menurut istilah perpindahan atau