Teori ini dirumuskan oleh Howard Giles dan rekan-rekannya, teori akomodasi menjelaskan bagaimana dan mengapa kita menyesuaikan perilaku komunikasi kita terhadap orang lain. 1 Teori ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku komunikatif dan dalam teori ini dikatakan ada alasan mengapa dan bagaimana kita menyesuaikan perilaku kita terhadap orang lain. Seseorang biasanya memiliki skrip kognitif internal yang digunakan ketika berbicara dengan orang lain.2 Teori yang disusun oleh Howard Giles ini merupakan teori perilaku yang paling berpengaruh dalam komunikasi. Teori akomodasi menjelaskan mengapa kita menyesuaikan perilaku komunikatif kita dengan perilaku komunikatif orang lain.3 Teori akomodasi ini mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam ilmu komunikasi, berhubungan dengan bagaimana dan mengapa kita perlu menyesuaikan perilaku kita terhadap orang lain. .
Hakikat teori akomodasi ini tidak lain adalah adaptasi, yaitu bagaimana seseorang menyesuaikan komunikasinya dengan orang lain. Cara kita memandang ucapan dan perilaku orang lain akan menentukan cara kita mengevaluasi suatu percakapan. Ketika kita kemudian mempersepsikan perkataan dan perilaku orang lain, hal itu menyebabkan penilaian kita terhadap orang tersebut.
Akomodasi diartikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau menyesuaikan perilaku seseorang dalam menanggapi orang lain. Adapun perbedaan divergensi dan konvergensi, kalau konvergensi itu sebuah strategi, bagaimana bisa cocok dengan orang lain. Adaptasi mengacu pada pola perilaku non-acak yang terjadi sebagai respons terhadap perilaku interaksional orang lain.
IAT menyarankan bahwa kita dipengaruhi untuk menyesuaikan diri guna membantu memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup dengan menyelaraskan diri dengan orang lain.
Budaya
Menurut E.B Taylor, kebudayaan adalah suatu keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, ilmu pengetahuan, hukum, adat istiadat dan keterampilan serta kebiasaan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Kedua kegiatan tersebut merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks kegiatan dan tindakan yang berpola dari orang-orang dalam masyarakat. Bentuk ini disebut sistem sosial, karena di dalamnya mencakup tindakan-tindakan masyarakat dan tingkah laku yang dicontohkan, bentuk ini dapat diamati, difoto dan didokumentasikan, bentuk ini berupa tingkah laku dan bahasa pada saat mereka berinteraksi sosial dalam masyarakat).
Ketiga artefak tersebut merupakan wujud kebudayaan sebagai benda dan hasil karya manusia (bentuk ini disebut kebudayaan fisik, dimana bentuk ini hampir seluruhnya merupakan hasil fisik atau kegiatan perbuatan dan karya manusia), misalnya kain batik atau tari. Kebudayaan merupakan sesuatu yang luas dan kompleks, abstrak dan mempunyai cakupan yang luas dalam bidang kehidupan manusia, unsur kebudayaan tersebut mencakup sebagian besar kehidupan sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis dan kaku, melainkan selalu berubah sesuai dengan perubahan sosial yang ada. budaya harus diperlakukan sebagai kata kerja, bukan kata benda.
Sedangkan manipulator budaya adalah anggota masyarakat yang melakukan kegiatan kebudayaan atau mengatasnamakan budaya lokal, namun tidak menganut nilai-nilai luhur atau gagasan sebagaimana mestinya. Antropologi dan sosiologi juga menemukan bahwa bentuk-bentuk ekonomi ada dalam setiap budaya masyarakat (berburu-meramu, pertanian, barter; pasar/uang, fotografi, komunikasi). Dalam masyarakat yang secara budaya mendukung akan selalu terdapat variasi kelompok masyarakat (marga, jaringan campuran, desa/daerah, etnis, profesi, politik).
Setiap masyarakat pendukung suatu kebudayaan mempunyai simbol bunyi dan intonasi serta gerak tubuh yang digunakan untuk menyampaikan makna kepada seseorang atau khalayak yang perlu dipahami dan dilaksanakan. Antropologi menemukan bahwa setiap masyarakat budaya mempunyai ekspresi seni berupa simbol-simbol yang mengungkapkan perasaan suka dan duka (suka dan duka). Begitu pula benda fisik atau budaya material tersebut meliputi segala benda yang diciptakan oleh manusia, mulai dari benda yang berukuran relatif kecil hingga benda yang berukuran sangat besar yang merupakan lambang kerajaan Sultan Nata Sintang.
Aturan-aturan yang berlaku merupakan perwujudan dari pandangan hidup atau suatu sistem nilai dalam suatu masyarakat tertentu, dimana pandangan hidup tersebut merupakan wujud kebudayaan yang ketiga. Maka masyarakat harus mempunyai pandangan hidup sesuai kearifan lokal dan mempunyai cara tersendiri dalam memaknai apa yang ada dan apa yang terjadi di lingkungannya.32. Keharmonisan sosial juga terjadi dalam masyarakat yang bercirikan solidaritas, kerjasama dan tidak adanya konflik atau persaingan, dan lain-lain.
Berbagai konflik yang terjadi di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri, baik konflik horizontal maupun vertikal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya konflik antar masyarakat di Indonesia, hal inilah yang terjadi di desa Barugae, karena masyarakatnya mempunyai latar belakang suku yang berbeda dan mempunyai perbedaan budaya, sehingga peneliti ingin mengkaji apakah terdapat konflik antar budaya pada masyarakat yang hidup berdampingan. di suatu daerah.
Kerangka Pikir
Kelas-kelas muncul dalam masyarakat karena adanya sesuatu yang dihargai, misalnya kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan. Semua itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Seseorang yang mempunyai kekayaan dan kekuasaan yang besar menempati posisi teratas, sedangkan seseorang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah.
Apabila perbedaan tersebut tidak dapat dijembatani, maka kondisi tersebut dapat memicu munculnya konflik rasial. Konflik politik terjadi karena masing-masing kelompok dalam masyarakat menjalankan kebijakan yang berbeda ketika dihadapkan pada permasalahan yang sama. Konflik internasional biasanya muncul karena adanya perbedaan kepentingan yang menyangkut kedaulatan negara-negara yang bertikai.
Sesuai dengan judul penelitian ini, Interaksi antarbudaya antara pendatang dan masyarakat lokal di Desa Barugae dalam terbentuknya keharmonisan sosial budaya, jika dilihat dari judulnya tentu saja penelitian ini menggunakan masyarakat sebagai objeknya. Dalam masyarakat pasti akan terjadi interaksi antar sesama warga dan melihat serta mempelajari bagaimana interaksi itu terjadi.