Lingkungan Pertanian
D. PERMASALAHAN SEPUTAR PERUBAHAN IKLIM
Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu panjang (50-100 tahun) dan dapat juga disebabkan oleh kegiatan manusia, terutama yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih guna lahan. Pertanian konvensional menyumbang terjadi perubahan iklim pertanian konvensional yang intensif (baik dari sisi pemakaian mesin pertanian atau luas lahan) akibat penebangan hutan untuk membuka lahan.
Gundulnya hutan berarti hilangnya bahan organik dari tanah. Padahal bahan organik berperan mengikat air dan menahan laju penguapan. Tidak heran, lebih banyak terjadi kekeringan. Jumlah vegetasi berkurang menurunkan kelembaban udara dan meningkatkan suhu udara. Produksi pupuk dan pestisida kimia yang dipakai pertanian konvensional juga menghasilkan gas rumah kaca yang merupakan salah satu pemicu terjadi perubahan iklim.
Sementara aplikasinya pada lahan telah menurunkan kesuburan dan menyebabkan erosi tanah.
Fenomena perubahan iklim dapat diakibatkan oleh pergeseran atau perubahan pola musim. Kini hampir di seluruh wilayah di Indonesia, batas musim hujan dan musim kemarau tidak lagi jelas. Secara perlahan, pergeseran ini mulai mengubah pola tanam, khususnya dirasakan di daerah pertanian tadah hujan. Jika saat semai tidak tepat, bisa jadi benih tidak akan tumbuh karena kekurangan air. Pergeseran musim hujan dan musim kemarau memengaruhi proses pembungaan tanaman. Hal ini bisa mengurangi hasil panen dan ketersediaan benih untuk musim tanam berikutnya. Perubahan iklim dapat terjadi akibat kenaikan suhu. Laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa dalam satu abad terakhir terjadi kenaikan rata-rata suhu dunia sebesar 0,76°C. Diprediksikan, tahun 2050 akan terjadi kenaikan suhu sebesar 2°C.
Kondisi ini menyebabkan banyak sumber air di pegunungan yang mengairi sungai-sungai mengering. Kenaikan suhu juga menjadi ancaman serius bagi petani, terkait dengan pola penyebaran hama dan penyakit. Akibat kondisi lingkungan menghangat, ada beberapa hama dan penyakit yang tadinya bukan ancaman serius bagi pertanian, berubah menjadi sangat merusak. Hal
sebaliknya juga bisa terjadi. Hama penyakit yang dahulu ganas bisa berkurang serangannya karena perubahan suhu. Perubahan iklim juga dapat terjadi akibat kekeringan berkepanjangan. Kian menipisnya ketersediaan air disebabkan oleh peningkatan evaporasi dan evapotranspirasi akibat peningkatan suhu udara dan hilangnya vegetasi penutup tanah. Selain itu, juga disebabkan oleh curah hujan yang makin sedikit. Belakangan banyak terjadi ketidakseimbangan jumlah air di musim kemarau dan musim hujan.
Masyarakat mengalami kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Banjir dan kekeringan juga menyebabkan kegagalan panen.
1. Mengelola Permasalahan Agroekosistem
Konservasi lahan dapat dilakukan dengan cara penerapan tanpa olah tanah (zero tillage) atau pengolahan tanah minimum (minimum tillage) dalam rangka pengawetan tanah dengan tidak mencuci peralatan penyemprot pesti-sida di sungai atau di dekat sumur agar tidak mencemari sungai atau sumur penduduk. Peralatan sebaiknya dicuci di tempat khusus dan limbahnya dibuang secara khusus pula (misalnya dibuatkan lubang yang jauh dari pemukiman). Hindari membuang sisa obat di sembarang tempat. Buanglah sisa obat di tempat khusus yang tidak mencemari sungai atau sumur penduduk. Sebaiknya penggunaan pestisida dikurangi dengan memberantas hama secara mekanik (misal ditangkap, kemudian dimatikan), dan secara biologis (misal menggunakan serangga predator). Pemberantasan secara bio-logis dengan serangga atau hewan predator dimaksudkan agar hewan predator yang dilepaskan di lingkungan memangsa hama tanaman. Serangga predator dipelihara terlebih dahulu, dikembangbiakkan, kemudian dilepaskan di sawah atau perkebunan. Tindakan-tindakan yang disarankan adalah menggunakan pestisida hayati yang aman bagi kesehatan petani, konsumen dan lingkungan pertanian; dan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan empat prinsip, yaitu:
a. Budidaya tanaman sehat.
b. Pelestarian musuh alami.
c. Pengamatan agroekosistem secara rutin.
d. Petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya.
e. Menerapkan sistem pertanian berkelanjutan serta pertanian berwawasan lingkungan yang tidak hanya mementingkan faktor keuntungan dalam melakukan usahatani/budidaya dalam suatu agroekosistem, tetapi justru memperhatikan faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Faktor yang memengaruhi suatu ekosistem pertanian sangatlah beragam, tetapi secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga pengaruh besar, yakni: pengaruh praktik atau perlakuan budidaya, pengaruh kondisi alami, dan pengaruh kegiatan manusia. Pengaruh yang dapat dikendalikan atau ditangani oleh seorang ahli pertanian adalah praktik dan perlakuan budidaya.
Usaha untuk menetralkan kondisi alam juga banyak dilakukan, tetapi tingkat kendalinya amat terbatas. Di lain pihak, pengaruh kegiatan manusia acapkali di luar jangkauan ahli-ahli pertanian, karena selain wewenangnya tidak sampai, di Indonesia kepakaran ahli jarang dipergunakan sebagai landasan penentuan kebijakan dan pengambilan keputusan.
Secara rinci sebenarnya pengaruh tersebut bersifat timbal-balik, sehingga lebih merupakan interaksi saling tindak antara agroekosistem dan lingkungan atau ekosistem lain yang ada di sekelilingnya. Saling tindak ini bersifat dinamik dan progresif. Tetapi apabila agroekosistem tidak lagi mampu menyeimbangkan pengaruh-pengaruh tersebut, maka akan terjadi kondisi regresif. Dalam kondisi ini, agroekosistem mengalami kemunduran, tidak produktif dan dinamikanya menuju ke degradasi ekosistem. Sering kali hal tersebut terjadi karena tidak terkendalinya faktor pengaruh kegiatan manusia, kadang-kadang juga oleh kondisi alam yang ekstrim (bencana alam, kondisi cuaca buruk yang tetap berkepanjangan dan lain-lain). Namun dapat juga hal itu terjadi karena praktik budidaya yang salah, yang tidak sesuai lingkungan, yang tidak melihat ke depan, atau ringkasnya, yang tidak menjamin kelestarian usaha pertanian (nonsustainable).
Sebagai ahli pertanian, pertimbangan praktik budidaya agar agroekosistem menuju ke sistem yang lestari atau sustainable harus diperhitungkan secara optimal. Kelestarian atau keberlanjutan ini menyangkut aspek-aspek ekonomi, budidaya, sosial, lingkungan, dan pada akhirnya juga hukum dan politik. Mungkin seorang ahli pertanian tidak akan bertindak pada semua aspek yang saling tindak menyusun kelestarian agroekosistem tersebut, tetapi mengetahui dan menyadari bahwa dinamika agrosekosistem yang berlanjut tergantung kepada semua aspek di atas, sama pentingnya dengan bertindak.
2. Mengelola Komponen Pembentuk Ekosistem
Ekosistem dibentuk oleh komponen-komponennya. Ekosistem adalah hubungan timbal balik (interaksi) antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem.
Ekosistem terdiri dari faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik, antara lain:
suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi. Sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
Upaya mengelola komponen ekosistem penting dilakukan untuk menghindari terjadi permasalahan dalam agroekosistem.