Pertanian dan Lingkungannya
Dr. Ir. Adiwirman, M.S.
odul ini akan membantu Anda untuk memahami materi tentang Pertanian dan Lingkungannya. Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat menjelaskan dengan baik tentang hal tersebut. Untuk dapat memahami materi modul ini dengan baik dan mencapai kompetensi yang diharapkan, Anda dapat melakukan strategi belajar berikut ini:
1. Bacalah materi modul ini dengan seksama sehingga Anda memahaminya.
2. Jawablah pertanyaan yang ada di latihan, kemudian cek kembali kesesuaian jawaban Anda dengan penjelasan yang ada di dalam Kegiatan Belajarnya.
3. Kerjakan tes formatif seoptimal mungkin dan gunakan rambu-rambu jawaban untuk menilai tingkat penguasaan Anda terhadap materi yang ada di Kegiatan Belajar.
4. Apabila jawaban Anda atas pertanyaan yang ada di latihan dan di tes formatif belum memadai, maka Anda diharapkan mempelajari lagi materi yang ada di Kegiatan Belajarnya. Lalu Anda ulangi lagi prosedur 2 dan 3 hingga jawaban yang Anda buat sudah mencapai tingkat yang diinginkan.
5. Jika jawaban Anda atas pertanyaan yang ada di latihan dan tes formatif sudah memadai, maka Anda dapat meneruskan ke modul berikutnya.
Selamat Belajar
M
PEN DAH ULUA N
Kegiatan Belajar 1
Pertanian dan Sejarah Perkembangannya
ertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian dikenal sebagai kegiatan budidaya tanaman atau bercocok tanam (crop cultivation atau agronomy) atau pembesaran hewan ternak (raising).
Cakupannya dapat berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar eksplorasi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
A. PENGERTIAN PERTANIAN
Pertanian dalam pengertian yang lebih luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian dapat diartikan sebagai kegiatan budidaya jenis tanaman tertentu, terutama tanaman yang bersifat semusim.
Disamping pengertian di atas, beberapa ahli turut mendefinisikan pertanian/agriculture seperti berikut ini:
1. Menurut Mosher (1966), pertanian diartikan sebagai suatu bentuk produksi yang khas, yang didasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Petani mengelola dan merangsang pertumbuhan tanaman dan hewan dalam suatu usaha tani. Dalam hal ini kegiatan produksi merupakan bisnis, sehinggga pengeluaran dan pendapatan sangat penting artinya.
2. Menurut Aarsten (1953), agriculture diartikan sebagai kegiatan manusia untuk memeroleh hasil yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan yang dicapai dengan jalan sengaja menyempurnakan segala kemungkinan yang telah diberikan oleh alam guna mengembangbiakkan tumbuhan atau hewan tersebut.
P
3. Menurut Winangun (1990), pertanian diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, penyedia bahan mentah untuk industri, penyedia lapangan kerja, dan penyumbang devisa negara.
4. Menurut Spedding (1975), pertanian dalam pandangan modern merupakan kegiatan manusia untuk manusia yang dilaksanakan untuk memeroleh hasil yang menguntungkan, meliputi kegiatan ekonomi dan pengelolaan di samping biologi.
5. Menurut World Bank(2003), pertanian merupakan pemakai air terbanyak yang mempunyai andil pada terjadinya kelangkaan air. Pertanian dianggap sebagai salah satu pelaku utama dalam pengurasan air tanah, polusi agrokimia, keletihan tanah, dan perubahan iklim global, serta penyumbang hingga 30% dari emisi gas rumah kaca.
6. Menurut Salikin (2003), pertanian diartikan sebagai bagian dari agroekosistem yang tidak terpisahkan dengan subsistem kesehatan, lingkungan alam, manusia dan budaya. Keempat hal ini saling terkait dalam suatu proses produksi untuk kelangsungan hidup bersama.
7. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pertanian diartikan sebagai perihal bertani (mengusahakan tanah dengan tanam-menanam) dan segala yang berkaitan dengan tanam-menanam (pengusahaan tanah dan sebagainya).
Berdasarkan definisi tersebut, jelas bahwa untuk dapat disebut sebagai pertanian, perlu dipenuhi beberapa persyaratan:
1. Ada alam beserta isinya. Ada tanah sebagai tempat kegiatan. Tumbuhan dan hewan sebagai objek kegiatan.
2. Ada kegiatan manusia dalam menyempurnakan segala sesuatu yang telah diberikan oleh alam atau Yang Maha Kuasa untuk kepentingan/
kelangsungan hidup manusia melalui dua golongan yaitu tumbuhan/tanaman dan hewan/ternak ikan.
3. Ada usaha manusia untuk mendapatkan produk/hasil ekonomis yang lebih besar daripada sebelum ada kegiatan manusia.
4. Pertanian dikaji dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu. Ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, Meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) merupakan bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan
dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani. Sebagai contoh "petani tembakau" atau
"petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.
Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu.
Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar (hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua non vertebrata air).
Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek secara bersama- sama dengan alasan untuk efisiensi dan peningkatan keuntungan.
Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian penting dalam usaha pertanian.
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan tentang pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal, maka ia melakukan pertanian intensif (intensive farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Oleh karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, sehingga keduanya sering kali disamakan.
Pertanian industrial yang memperhatikan lingkungan adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan memiliki beberapa variasi seperti pertanian organik atau permakultur. Pertanian ini memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan dan lingkungan serta pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya.
Pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah dibanding pertanian industrial.
Pertanian modern masa kini menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub "ideologi" pertanian yang disebutkan di atas. Selain kedua jenis pertanian tersebut diatas, dikenal pula bentuk pertanian lain, yakni pertanian
ekstensif (pertanian dengan masukan rendah). Dalam bentuk yang paling ekstrem dan tradisional, akan berbentuk pertanian subsisten. Pertanian ini dilakukan tanpa motif bisnis, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya.
Sebagai suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting, yakni: selalu melibatkan barang dalam volume besar dan proses produksi yang memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponik) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini. Tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih seperti itu.
Sejarah pertanian merupakan bagian dari sejarah kebudayaan manusia.
Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan hal ini mendorong munculnya peradaban.
Selanjutnya terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan kesenian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris. Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, pertanian telah membawa revolusi yang besar dalam kehidupan manusia sebelum revolusi industri.
Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi kebudayaan pertama yang dialami manusia.
B. SEJARAH AWAL PERTANIAN
Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa pertanian dimulai dari sebelum 8000 SM yakni saat nenek moyang kita hanya mengumpulkan bahan makanan dan berburu hewan jinak di hutan. Pada zaman dahulu, hal seperti ini ada dan dikenal dengan istilah nomaden artinya pengembara atau orang yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk mendapatkan bahan pangan.
Selanjutnya mulai mengalami perubahan menuju semi-nomaden atau setengah pengembara. Kebutuhan makan dipenuhi dengan bercocok tanam dan juga berternak, hanya kadang-kadang melakukan pengembaraan untuk kelangsungan pasokan pangannya. Pada zaman dahulu, masyarakat seperti ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan seorang yang dituakan atau
seorang kepala suku yang memimpin kelompok ini dan mengatur segala sesuatunya. Masa semi nomaden ini berlangsung hingga 5000 SM. Keadaan ini terus berlangsung dari generasi ke generasi dengan kegiatan pertanian yang terus berkembang sejalan dengan kemampuan masyarakat dalam ber-adaptasi dengan lingkungan alam sekitar dan memanfaatkan semua sumber daya yang ada di sekelilingnya. Tentu saja, kondisi ini berbeda versi sejarahnya di tiap belahan dunia karena dipengaruhi oleh kondisi geografis, topografis, dan iklim setempat serta kemampuan beradaptasi dari masyarakat atau suku setempat terhadap alam sekitarnya.
Pertanian mengalami perkembangan alami atas dasar kebutuhan.
Sebelum pertanian, masyarakat melakukan kegiatan berburu untuk memenuhi kebutuhan makanan. Masyarakat Asia Tenggara telah melakukan berbagai kegiatan domestikasi baik berupa hewan maupun tanaman seperti memelihara anjing dan babi pada beribu-ribu tahun yang lalu. Makanan berkaitan dengan status sosial. Orang yang memiliki makanan berlebih dianggap sebagai orang kaya. Orang-orang kaya seperti ini biasanya bekerja bertahun-tahun mengumpulkan makanan atau kekayaan yang dibutuhkan untuk mengadakan pesta. Kebaikan orang-orang kaya itu akan diingat oleh masyarakat menjadi semacam tabungan budi untuk masa yang akan datang.
Kebiasaan ini tersebar di seluruh wilayah Asia Tenggara, bahkan sampai ke Papua. Masyarakat dengan ciri seperti ini dikenal sebagai masyarakat agraris.
Seiring waktu, jumlah penduduk makin meningkat hingga mencapai titik yang membutuhkan intensifikasi pertanian. Lalu masyarakat mulai melakukan teknik bercocok tanam, seperti menanam ubi jalar di Papua atau menanam padi di wilayah Indonesia lainnya. Menurut para ahli prasejarah, teknik bercocok tanam padi sawah didapatkan masyarakat Asia Tenggara dari Tiongkok, khususnya lembah Sungai Yangtse dan Yunnan.
Kegiatan menanam ubi di Papua, dimulai dengan menempatkan umbi di lahan yang telah dipersiapkan, menyiangi gulmanya, menunggunya hingga berkembang, dan kemudian memanen hasilnya. Urutan kegiatan ini ternyata juga masih dilakukan oleh kaum wanita di berbagai masyarakat tradisional di Asia Tenggara; sedangkan kaum pria mengerjakan tugas-tugas yang lebih berat seperti mempersiapkan lahan atau memagarinya untuk menghidari kerusakan karena hama babi.
C. SEJARAH SINGKAT PERTANIAN DUNIA
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia.
Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap. Hal ini mendorong kemunculan peradaban. Bersamaan dengan hal ini, juga terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan kesenian akibat pengadopsian teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris.
Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, pertanian telah membawa re- volusi yang besar dalam kehidupan manusia sebelum revolusi industri.
Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi kebudayaan pertama yang dialami manusia.
Agak sulit membuat suatu garis sejarah pertanian dunia, karena setiap bagian dunia memiliki perkembangan penguasaan teknologi pertanian yang berbeda-beda. Di beberapa bagian Afrika atau Amerika masih dijumpai masyarakat yang semi-nomaden (setengah pengembara) yang telah mampu melakukan kegiatan peternakan atau bercocok tanam, namun mereka masih tetap berpindah-pindah demi menjaga pasokan pangan. Sementara itu, di Amerika Utara dan Eropa, traktor-traktor besar yang ditangani oleh satu orang telah mampu mendukung penyediaan pangan ratusan orang.
Zaman Mesopotamia yang merupakan awal perkembangan kebudayaan, merupakan zaman yang turut menentukan sistem pertanian kuno.
Perekonomian kota yang pertama berkembang saat itu berlandaskan pada teknologi pertanian yang berkiblat pada kuil-kuil, imam, lumbung, dan juru tulis.
Penciptaan surplus sosial menyebabkan terbentuk lembaga ekonomi berdasar peperangan dan perbudakan. Pengadministrasian pada surplus yang harus disimpan menimbulkan kebutuhan sistem akuntansi. Pemecahan masalah ini datang 6.000 tahun yang lalu dengan penciptaan tulisan-tulisan yang merupakan awal kebudayaan. Kebudayaan Mesopotamia bertahan selama beribu tahun di bawah banyak pemerintahan yang berbeda.
Pengaruhnya hingga ke Siria dan Mesir, mungkin juga ke India dan Cina.
Tulang punggung pertanian terdiri dari tanaman-tanaman yang sekarang masih penting untuk persediaan pangan dunia seperti gandum dan barlai, kurma dan ara, zaitum dan anggur. Kebudayaan kuni dari Mesopotamia –
Sumeria, Babilonia, Asiria, Cahldea – mengembangkan pertanian yang bertambah komplek dan terintegrasi. Hal ini ditunjukkan oleh adanya reruntuhan berupa sisa teras-teras, taman-taman dan kebun-kebun yang beririgasi. Empat ribu tahun yang lalu, saluran irigasi dari bata dengan sambungan beraspal membantu areal seluas 10.000 mil persegi tetap ditanami untuk memberi pangan 15 juta jiwa. Pada tahun 700 SM sudah dikenal 900 tanaman.
Pengetahuan tentang pertanian kuno di berbagai belahan dunia, tidak lebih banyak dibanding di Mesir, walaupun lembah Nil telah mendukung manusia sekurang-kurangnya selama 20.000 tahun. Hal ini diduga akibat perkembangan pertaniannya yang mendorong perubahan-perubahan yang terjadi di wilayah Mediteran.
Kebudayaan Mesir mengalami kejayaan dan hal ini ternyata berpengaruh pada kebudayaan-kebudayaan Barat sekarang. Kejayaaan kebudayaan Mesir menyebabkan Mesir makmur dalam keberlimpahan hasil pertanian. Hal ini terjadi akibat Mesir kebanjiran Sungai Nil yang dapat menyuburkan tanahnya. Orang Mesir ahli dalam mengembangkan teknik drainase dan irigasi. Drainase yang merupakan pembuangan kelebihan air, menjadi tuntutan di daerah seperti lembah Nil. Hal ini menuntut dikembangkannya lereng-lereng lahan dan pembuatan sistem pengangkutan serta saluran air yang efisien. Irigasi yang merupakan pemberian air pada tanaman secara buatan, menyangkut penadahan, pengantaran dan pemberian air. Masalah drainase dan irigasi saling menjalin yang dilakukan orang Mesir dengan membangun serentetan parit untuk menyimpan air dan saluran yang melayani kedua tujuan tersebut. Orang Mesir mengembangkan teknik menaikkan air, yang masih dipakai sampai sekarang. Penemuan utamanya adalah shaduf yang memungkinkan para pria mampu menaikkan 2.250 liter air setinggi 1,8 m tiap hari.
Teknologi pengolahan tanah dapat dilacak lewat perbaikan cangkul.
Cangkul asalnya dari suatu tongkat bercabang yang lancip yang digunakan dengan gerakan memotong. Bajak kuno juga hanya merupakan cangkul yang ditarik manusia (belakangan oleh hewan) untuk menggaruk permukaan tanah.
Bajak masih banyak digunakan hingga kini di banyak bagian dunia.
Kemudian bajak diperbaiki dengan penempelan besi di bagian yang bersinggungan dengan tanah dengan konstruksi yang lebih kuat dan efisien.
Orang-orang Mesir menggunakan berbagai alat potong pada waktu panen, salah satunya adalah arit yang merupakan alat yang paling baik ketika itu.
Orang Mesir mengembangkan berbagai teknologi yang berhubungan dengan seni memasak, industri keramik, pemanggangan, pembuatan anggur dan penyimpanan pangan. Cara-cara penyimpanan pangan dilakukan melalui fermentasi, pembuatan acar, pengeringan, pengasapan dan pemberian garam.
Banyak tanaman dibudidayakan untuk serat, minyak dan tujuan-tujuan industri lain. Papirus diolah menjadi kertas, jarak menjadi minyak, dan pinus menjadi malam (lilin). Mereka menciptakan jamu-jamuan, koleksi tanaman obat, dan industri rempah-rempah, wangi-wangian dan kosmetik.
Sepanjang Sungai Nil diciptakan kebun-kebun, penuh dengan tanaman- tanaman hias eksotik dan kolam-kolam berisi ikan dan teratai. Di kebun ditanam buah (orchard), kurma, anggur, ara, lemon dan delima. Kebun sayur ditanam ketimun, articoke, bawang putih, perai, bawang bombay, selada, menta, endewi, cikori, lobak, dan berbagai labu.
Kebudayaan Mesir bertahan selama 35 abad, dan kemudian pelaut-pelaut Phoenicia meneruskan warisan teknologi Mesopotamia dan Mesir ke Kepulauan Yunani. Walaupun orang-orang Yunani hanya sedikit menambah kemahiran praktik, sikap analitik dan keingintahuannya terhadap alam benda memberi pengaruh besar pada kemajuan teknologi di masa datang. Ilmu Botani berasal dari pikiran Yunani zaman itu. Dua buah tulisan terkenal, History of plants dan Causes of Plants dari Theopratus murid Aristoteles mempengaruhi Ilmu Botani hingga abad 17. Dia dipandang sebagai Bapak Ilmu Botani. Tulisan tersebut mencakup judul-judul yang beraneka ragam seperti morfologi, klasifikasi, pembiakan dengan biji dan secara vegetatif, geografi tumbuhan, kehutanan, horikultura, farmakologi, hama dan bau serta rasa tanaman. Saat itu, ada sekitar 500 tanaman liar dan tanaman pertanian.
Dia membedakan Angiospermae dan Gymnospermae, Monokotil dan Dikotil, membahas pembentukan lingkaran tahun dan cara-cara mengumpulkan damar (resins) dan ter. Bahkan membahas penyerbukan pohon kurma betina dengan bunga-bunga dari pohon jantan yang tidak berbuah. Hal ini merupakan pengetahuan kelamin pada tanaman, sesuatu yang lama menghilang dan baru diketahui lagi 2.000 tahun berikutnya.
Cendekiawan Yunani ternyata tidak mampu bertahan secara politik.
Persaingan dan peperangan antar kota membawa ke kejatuhan oleh tentara Macedonia. Ada yang melacak kejatuhan Yunani sebagai akibat peningkatan populasi dan kemerosotan sumberdaya alam baik oleh peperangan maupun oleh kebusukan dari dalam. Hal ini memperlihatkan bahwa dasar pertanian Yunani tidak cukup untuk menyokong kebudayaan yang selalu tumbuh.
Kebudayaan Yunani diserap oleh bangsa baru ke barat. Kebudayaan kekaisaran Romawi, dibangun berdasarkan sumberdaya alam yang kokoh.
Kebalikan dari bangsa Yunani, bangsa Romawi sangat tertarik pada aspek praktis dari pertanian. Pertanian merupakan bagian penting dari ekonomi dan urusan yang sungguh-sungguh. Sumber penghasilan utama dari Romawi adalah pajak tanah. Perundang-undangan yang paling penting berurusan dengan rencana agraria dan kekayaan besar diinvestasikan pada lahan pertanian. Romawi tumbuh ke kejayaan pada landasan teknologi pertanian yang sehat dan berfungsi. Sewaktu mereka menaklukkan bangsa lain, mereka membangun suatu kebudayaan yang asalnya Yunani, tetapi pelaksanaannya secara Romawi.
Walaupun orang Romawi hanya memiliki sedikit ide asli, akan tetapi mereka betul-betul memperbaiki yang mereka temukan. Tanda perdagangan yang bertahan lama adalah jalan-jalan dan jalan air. Orang-orang Romawi berpikiran modern, beradab dan berpusat kekota, tetapi bisnis dan kecenderunganannya terikat pada tanah.
Praktik pertanian Romawi dibukukan secara baik. Tulisan mengenai pertanian yang pertama adalah De agricultura karangan Marcus Porceus Cato (234 – 149 SM) yang menulis aspek-aspek praktis dari pengelolaan tanaman dan ternak, terutama mengenai keuntungan. Asal-usul filosofi desa ditemui dalam kesimpulannya bahwa petani bukan hanya penduduk yang terbaik, tetapi juga tentara terbaik. Seratus tahun berikutnya tulisan Marcus Terentius Varro (116 – 28 SM) yaitu De re rustica libri III, menekankan ketergantungan negeri sekemakmuran pada pertanian yang sehat. Tulisan- tulisan lain adalah Georgica karangan Vergilius (70 – 19 SM) dan banyak lagi yang lainnya. Historia naturalis karangan Plinius (23 – 79 M) memuat kumpulan ilmu maupun hal-hal yang tidak diketahui. Berdasarkan tulisan- tulisan ini, pertanian Romawi dapat dipelajari.
Dalam tulisan-tulisan pertanian, dicatat ada penyambungan tanaman (grafting dan budding), penggunaan berjenis-jenis varietas buah dan sayuran, rotasi pupuk hijau, penggunaan pupuk kandang, pengembalian kesuburan tanah, bahkan penyimpanan dingin untuk buah-buahan. Dikenal pula suatu
“specularium”, rumah kaca dari mika, untuk menanam sayuran pada musim dingin. Di Romawi, kebun tanaman hias mulai dikembangkan sampai tingkat tinggi.
Pada masa awal sejarah Romawi, lembaga pertanian yang pokok adalah masyarakat desa. Milik perorangan hanya berkisar dari satu hingga empat
acre dan dikelola secara intensif. Setelah Romawi berkembang wilayahnya dan memiliki tenaga kerja perbudakan dari menang perang, muncul unit produksi yang lebih tinggi yang didapat dari tanah-tanah negara yang dibagi-bagikan. Hasil sistem perkebunan merangsang pertumbuhan kekayaan yang hebat dari perseorangan yang mendorong penjarahan dan korupsi yang menjalar secara dahsyat. Kenaikan tenaga kerja murah dari budak-budak dan pe- ningkatan ukuran milik perseorangan mengakibatkan ketidakseimbangan sosial. Tentara-petani-penduduk kehilangan tempatnya yang berpengaruh pada kekuatan stabilisasi dalam kehidupan Romawi.
Setelah kejayaan dialami, banyak sistem pertanian tidak sehat muncul.
Perbudakan membawa kerusakan tanah yang menurunkan produktivitas. Di samping itu, upeti-upeti dari negara-negara luar mengendurkan semangat berproduksi tinggi. Keberuntungan politik kekaisaran Romawi sejajar dengan trend dalam pertanian. Beban untuk mendukung dan mempertahankan negara yang overexpanded meremehkan dasar-dasar pertanian menyebabkan pertanian menjadi kelelahan dan tidak stabil yang dapat mengurangi daya pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
Abad pertengahan merupakan masa keruntuhan Romawi dan Negara Barat. Kemajuan teknologi beralih ke Timur Tengah. Setelah tahun 700 M, kebudayaan Islam menyumbang hasil-hasil kebudayaannya kepada dunia.
Kebudayaan Islam muncul menyumbangkan hasil-hasil teknologi dan ilmu pengetahuannya, jauh lebih rasional dan ilmiah dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.
Di daerah lain yang berjauhan lokasinya, dikembangkan jenis tanaman lain sesuai keadaan topografi dan iklim. Di Tiongkok, padi (Oryza sativa) dan jewawut (dalam pengertian umum sebagai padanan millet) mulai didomestikasi sejak 7500 SM dan diikuti dengan kedelai, kacang hijau, dan kacang azuki. Padi (Oryza glaberrima) dan sorgum dikembangkan di daerah Sahel, Afrika pada 5000 SM. Tanaman lokal yang berbeda, mungkin telah dibudidayakan secara tersendiri di Afrika Barat, Ethiopia, dan Papua. Tiga daerah yang terpisah di Amerika (yaitu Amerika Tengah, daerah Peru, Bolivia, dan hulu Amazon) secara terpisah mulai membudidayakan jagung, labu, kentang, dan bunga matahari.
Kondisi tropika di Afrika dan Asia Tropik, termasuk Nusantara, cende- rung menyebabkan masyarakat tetap mempertahankan perburuan karena relatif mudah memeroleh bahan pangan. Migrasi masyarakat Austronesia yang telah mengenal pertanian dari wilayah Nusantara membawa serta
teknologi budidaya padi sawah dan perladangan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pertanian bermula sebagai dampak perubahan iklim dunia dan adaptasi oleh tanaman terhadap perubahan ini.
D. SEJARAH PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA
Sejarah pembangunan pertanian di Indonesia berawal pada masa Orde Baru, yakni pada saat pemerintahan menerima beban berat dari buruknya perekonomian Orde Lama. Tahun 1966-1968 merupakan tahun untuk rehabilitasi ekonomi. Pemerintah Orde Baru berusaha keras untuk menurunkan inflasi dan menstabilkan harga. Pengendalian inflasi menyebabkan stabilitas politik tercapai yang berpengaruh terhadap bantuan luar negeri yang mulai terjamin melalui IGGI. Sejak tahun 1969, Indonesia mulai membentuk rancangan pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Berikut penjelasan singkat tentang beberapa Repelita tersebut.
1. Repelita I (1969-1974)
Repelita I mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1969 hingga 31 Maret 1974. Repelita I ini merupakan landasan awal pembangunan pertanian di masa Orde Baru. Tujuan yang ingin dicapai adalah pertumbuhan ekonomi 5% per tahun dengan sasaran utama adalah cukup pangan, cukup sandang, dan perbaikan prasarana terutama untuk menunjang pertanian. Tentunya hal ini akan diikuti oleh adanya perluasan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Titik berat Repelita I ini adalah pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian. Pada saat ini, mayoritas penduduk Indonesia masih dapat hidup dari hasil pertanian. Pada Repelita I muncul peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) yang terjadi pada tanggal 15-16 Januari 1974 bertepatan dengan kedatangan PM Jepang Tanaka ke Indonesia. Peristiwa ini merupakan kelanjutan demonstrasi para mahasiswa yang menuntut Jepang agar tidak melakukan dominasi ekonomi di Indonesia, sebab produk barang Jepang terlalu banyak beredar di Indonesia. Peristiwa ini menyebabkan terjadi pengrusakan dan pembakaran barang-barang buatan Jepang.
2. Repelita II (1974-1979)
Repelita II mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1974 hingga 31 Maret 1979 dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5% per tahun.
Prioritas utamanya sektor pertanian yang merupakan dasar untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan dasar pertumbuhan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. Selain itu, sasaran Repelita II ini adalah perluasan lapangan kerja. Repelita II berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata penduduk sebesar 7% per tahun. Pada masa ini, terjadi perbaikan dalam hal irigasi, juga banyak jalan dan jembatan yang di rehabilitasi dan dibangun. Hal ini menyebabkan di bidang industri terjadi kenaikan produksi.
3. Repelita III (1979-1984)
Repelita III mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1979 hingga 31 Maret 1984. Repelita III lebih menekankan pada Trilogi Pembangunan yang bertujuan menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Arah dan kebijakan ekonominya adalah pembangunan pada segala bidang. Pedoman pembangunan nasionalnya adalah Trilogi Pembangunan dan Delapan Jalur Pemerataan.
4. Repelita IV (1984-1989)
Repelita IV mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1984 hingga 31 Maret 1989. Repelita IV adalah peningkatan dari Repelita III. Peningkatan usaha-usaha untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, mendorong pembagian pendapatan yang lebih adil dan merata, dan memperluas kesempatan kerja.
Prioritasnya adalah untuk melanjutkan usaha memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. Hasil yang dicapai pada Repelita IV antara lain swasembada pangan. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton. Kesuksesan ini menyebabkan Indonesia mendapatkan penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985. Hal ini merupakan prestasi besar bagi Indonesia. Selain swasembada pangan, pada Pelita IV juga dilakukan Program Keluarga Berencana dan Rumah untuk Keluarga.
5. Repelita V (1989-1994)
Repelita V mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1989 hingga 31 Maret 1994. Repelita V ini lebih menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri untuk memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan produksi pertanian lainnya serta menghasilkan barang ekspor. Pelita V adalah akhir dari pola pembangunan jangka panjang tahap pertama. Lalu dilanjutkan dengan pembangunan jangka panjang tahap kedua dengan mengadakan Repelita VI yang diharapkan akan mulai memasuki proses tinggal landas Indonesia untuk memacu pembangunan dengan kekuatan sendiri demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
6. Repelita VI (1994-1999)
Repelita VI mulai dilaksanakan sejak tanggal 1 April 1994 hingga 31 Maret 1999. Repelita VI titik beratnya masih pada pembangunan di sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
Sektor ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Akibat krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.
Memasuki era globalisasi yang dicirikan oleh persaingan perdagangan internasional yang sangat ketat dan bebas, pembangunan pertanian semakin dideregulasi melalui pengurangan subsidi, dukungan harga dan berbagai proteksi lainnya. Kemampuan bersaing melalui proses produksi yang efisien merupakan pijakan utama bagi kelangsungan hidup usahatani. Sehubungan dengan hal tersebut, maka partisipasi dan kemampuan wirausaha petani merupakan faktor kunci keberhasilan pembangunan pertanian.
Pemerintahan pada Kabinet Indonesia Bersatu telah menetapkan program pembangunan dengan menggunakan strategi tiga jalur (triple track strategy) sebagai manifestasi dari strategi pembangunan yang lebih progrowth, proemployment dan propoor. Operasionalisasi konsep strategi tiga jalur tersebut dirancang melalui hal-hal berikut:
a. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen per tahun melalui percepatan investasi dan ekspor.
b. Pembenahan sektor riil untuk mampu menyerap tambahan angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja baru.
c. Revitalisasi pertanian dan perdesaan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan.
Revitalisasi pertanian diartikan sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual, melalui 26 peningkatan kinerja sektor pertanian dalam pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain. Revitalisasi pertanian dimaksudkan untuk menggalang komitmen dan kerjasama seluruh stakeholder dan mengubah paradigma pola pikir masyarakat dalam melihat pertanian, tidak hanya sekedar penghasil komoditas untuk dikonsumsi.
Pertanian harus dilihat sebagai sektor yang multi-fungsi dan sumber kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.
Kegiatan pembangunan pertanian tahun 2005-2009 dilaksanakan melalui tiga program, yaitu:
a. Program peningkatan ketahanan pangan
Operasionalisasi program peningkatan ketahanan pangan dilakukan melalui peningkatan produksi pangan, menjaga ketersediaan pangan yang cukup aman dan halal di setiap daerah setiap saat, dan antisipasi agar tidak terjadi kerawanan pangan.
b. Program pengembangan agribisnis
Operasionalisasi program pengembangan agribisnis dilakukan melalui pengembangan sentra/kawasan agribisnis komoditas unggulan.
c. Program peningkatan kesejahteraan petani
Operasionalisasi program peningkatan kesejahteraan petani dilakukan melalui pemberdayaan penyuluhan, pendampingan, penjaminan usaha, perlindungan harga gabah, kebijakan proteksi dan promosi lainnya.
Selama periode 2005-2009, pembangunan pertanian terus mengalami berbagai keberhasilan. Salah satu yang patut disyukuri dan membanggakan adalah Indonesia berhasil mencapai swasembada beras sejak tahun 2007. Pada tahun 2008, tercapai swasembada jagung dan gula untuk konsumsi rumah tangga.
Pada era pembangunan pertanian periode 2010-2014, Kementerian Pertanian mencanangkan empat target utama, yaitu:
a. Pencapaian Swasembada Pangan dan Swasembada Berkelanjutan Dalam rangka peningkatan produksi pertanian, pada periode lima tahun (2010-2014), Kementerian Pertanian lebih memfokuskan pada peningkatan 39 komoditas unggulan nasional. Komoditas unggulan nasional tersebut terdiri dari 7 komoditas tanaman pangan, 10 komoditas hortikultura, 15 komoditas perkebunan, dan 7 komoditas peternakan.
b. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Diversifikasi pangan atau keragaman konsumsi pangan merupakan salah satu strategi untuk mencapai ketahanan pangan. Sasaran percepatan keragaman konsumsi pangan adalah pencapaian pola konsumsi pangan yang aman, bermutu, dan bergizi seimbang yang dicerminkan oleh tercapainya skor Pola Pangan Harapan (PPH) sekurang-kurangnya 93,3 pada tahun 2014. Konsumsi umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, pangan hewani ditingkatkan dengan mengutamakan produksi lokal, sehingga konsumsi beras diharapkan turun sekitar 3% per tahun.
c. Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, dan Ekspor
Peningkatan nilai tambah difokuskan pada dua hal yakni peningkatan kualitas dan jumlah olahan produk pertanian untuk mendukung peningkatan daya saing dan ekspor. Peningkatan kualitas produk pertanian (segar dan olahan) diukur dari peningkatan jumlah produk pertanian yang mendapatkan sertifikasi jaminan mutu (SNI, Organik, Good Agricultural Practices, Good Handling Practices, Good Manucfacturing Practices). Peningkatan daya saing akan difokuskan pada pengembangan produk berbasis sumberdaya lokal yang bisa meningkatkan pemenuhan permintaan untuk konsumsi dalam negeri dan bisa mengurangi ketergantungan impor (substitusi impor). Peningkatan ekspor difokuskan pada pengembangan produk yang punya daya saing di pasar internasional, baik segar maupun olahan, dengan kebutuhan di pasar dalam negeri sudah tercukupi. Indikatornya adalah pertumbuhan volume ekspor.
d. Peningkatan Kesejahteraan Petani
Unsur penting yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan petani adalah tingkat pendapatan petani. Upaya peningkatan pendapatan petani tidak selalu secara otomatis diikuti dengan peningkatan kesejahteraan
petani. Hal ini karena kesejahteraan petani juga tergantung pada nilai pengeluaran yang harus dibelanjakan keluarga petani serta faktor-faktor non-finansial seperti faktor sosial budaya.
Sisi pendapatan petani merupakan sisi yang terkait secara langsung dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, dalam kerangka peningkatan kesejahteraan petani, prioritas utama Kementerian Pertanian adalah meningkatkan pendapatan petani.
1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan pertanian dalam arti luas.
2) Jelaskan apa yang dimaksud dengan pertanian dalam arti sempit.
3) Apa komponen-komponen yang termasuk dalam kedua pengertian pertanian tersebut?
Petunjuk Jawaban Latihan
Jawablah pertanyaan yang ada di latihan tersebut, kemudian cek kembali kesesuaian jawaban Anda dengan penjelasan yang ada di dalam Kegiatan Belajar. Apabila jawaban Anda dirasa belum memadai, maka Anda diharapkan mempelajari lagi materi yang ada di Kegiatan Belajar ini hingga Anda dapat menjawab pertanyaan latihan ini dengan baik.
Pertanian memiliki pengertian yang luas dan sempit. Pertanian dalam arti luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian diartikan sebagai kegiatan budidaya jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Pertanian harus memenuhi beberapa persyaratan, yakni: a) ada alam beserta isinya antara lain tanah sebagai tempat kegiatan, dan tumbuhan serta hewan sebagai objek kegiatan, b) ada kegiatan manusia dalam
LA TIH AN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
RANG KU MAN
menyempurnakan segala sesuatu yang telah diberikan oleh alam dan atau Yang Maha Kuasa untuk kepentingan/kelangsungan hidup manusia melalui dua golongan yaitu tumbuhan/tanaman dan hewan/ternak/ikan, dan c) ada usaha manusia untuk mendapatkan produk/hasil ekonomis yang lebih besar daripada sebelum ada kegiatan manusia.
Usaha pertanian memiliki dua ciri penting, yaitu: 1) selalu melibatkan barang dalam volume besar, dan 2) proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahap dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern telah dapat mengurangi ciri-ciri ini, tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.
Terkait dengan pertanian, dikenal istilah-istilah:
1. Usahatani (farming) yang merupakan sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya (tumbuhan maupun hewan).
2. Petani yang merupakan sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh “petani tembakau”
atau “petani ikan”.
3. Khusus untuk pembudidaya hewan ternak (livestock) disebut sebagai peternak.
Ilmuwan serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam perbaikan metode pertanian dan aplikasinya juga dianggap terlibat dalam pertanian.
Cakupan objek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan. Penggolongan ini dilakukan berdasarkan objek budidaya, misalnya: budidaya tanaman, dengan objek tumbuhan dan diusahakan pada lahan yang diolah secara intensif. Contoh lainnya adalah:
1. Kehutanan, dengan objek tumbuhan yang diusahakan pada lahan setengah liar.
2. Peternakan, dengan objek hewan darat kering.
3. Perikanan, dengan objek hewan perairan.
Upaya meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan dengan cara:
1. Ekstensifikasi 2. Intensifikasi
1) Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup....
A. tanaman B. hewan C. mikrobia
D. tanaman, hewan dan mikrobia
2) Pertanian dalam pengertian yang sempit mencakup....
A. tanaman B. hewan C. mikrobia
D. tanaman, hewan dan mikrobia
3) Salah satu unsur alam yang perlu dipenuhi dalam pertanian adalah....
A. usaha manusia B. tanah
C. kegiatan manusia D. mikrobia
4) Sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya adalah....
A. budidaya tanaman B. usahatani
C. livestock D. petani
5) Sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usahatani adalah....
A. petani B. livestock C. farming D. peternak
6) Objek tumbuhan yang diusahakan pada lahan setengah liar adalah....
A. pertanian B. kehutanan C. peternakan D. usahatani
TES F OR MA T IF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
7) Aktivitas usahatani dengan objek hewan darat kering adalah....
A. peternakan B. perikanan
C. budidaya pertanian D. usahatani hewan
8) Upaya meningkatkan hasil pertanian yang dilakukan dengan cara perluasan usahatani disebut....
A. intensifikasi
B. budidaya lahan kering C. ekstensifikasi
D. kehutanan
9) Upaya meningkatkan hasil pertanian yang dilakukan dengan cara mengefisienkan penggunaan sumberdaya disebut....
A. intensifikasi B. budidaya C. ekstensifikasi D. peternakan
10) Usaha pertanian memiliki dua ciri penting, yaitu....
A. benih dan pupuk B. lahan dan hewan C. barang dan proses D. tanaman dan lahan
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup
< 70% = kurang Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar
Jumlah Soal 100%
Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Namun, jika penguasaan Anda masih di bawah 80%, maka Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama pada bagian yang belum Anda kuasai.
Kegiatan Belajar 2
Lingkungan Pertanian
ingkungan pertanian berkaitan dengan Ilmu Ekologi. Ilmu Lingkungan atau Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata Yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah Ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam Ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan Ekologi Pertanian tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik.
Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi.
Sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, baru muncul pada tahun 70-an. Ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang Biologi. Ekologi mempelajari cara makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan benda tidak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, Biologi dan ilmu kehidupan lainnya Zoologi dan Botani saling melengkapi. Ekologi mempelajari aliran energi pada rantai makanan manusia dan tingkat tropik.
Lingkungan pertanian adalah segala sesuatu yang berada di sekitar usaha pertanian baik abiotik (tidak hidup) maupun biotik (hidup). Lingkungan pertanian dapat diistilahkan sebagai ekosistem pertanian.
A. EKOSISTEM
Ekosistem adalah suatu sistem Ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem dapat dikatakan sebagai suatu tatanan kesatuan
L
secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme dan matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama- sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.
Ekosistem dapat terbentuk dari komponen abiotik (tidak hidup) dan biotik (hidup) dalam satu wilayah tertentu. Ekosistem pertanian memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan suatu tindakan pertanian. Dalam ekosistem pertanian, interaksi antara komponen abiotik dan biotik disetting sedemikian rupa melalui mekanisme kontrol agar mendukung keberlangsungan budidaya pertanian yang diusahakan.
B. KOMPONEN PEMBENTUK EKOSISTEM
Ekosistem pertanian dibentuk oleh komponen abiotik dan biotik. Unsur dari masing-masing komponen tersebut sebagai berikut:
1. Abiotik
Abiotik atau komponen tidak hidup dapat berupa komponen fisik maupun kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsung kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktu. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
a. Suhu
Proses biologi yang terjadi di lingkungan pertanian dipengaruhi oleh suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
b. Air
Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
c. Garam
Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme yang hidup di daerah terestrial beradaptasi dengan lingkungan yang mengandung garam tinggi.
d. Cahaya matahari
Intensitas dan kualitas cahaya matahari memengaruhi proses fotosintesis.
Air dapat menyerap cahaya matahari sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya matahari yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
e. Tanah dan batu
Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanan di tanah.
f. Iklim
Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area.
Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
2. Biotik
Biotik adalah istilah untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme).
Komponen biotik adalah suatu komponen hidup yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa).
Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi:
a. Heterotrof /Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan- bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya.
Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Organisme yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
b. Pengurai /dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar.
Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Organisme yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Proses penguraian dapat juga diistilahkan sebagai proses dekomposisi.
Tipe dekomposisi ada dua, yaitu: dekomposisi secara aerobik (dalam hal ini oksigen sebagai penerima elektron/oksidan) dan fermentasi atau anaerobik (dalam hal ini bahan organik yang teroksidasi berperan sebagai penerima elektron). Komponen-komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
3. Ketergantungan Rantai Makanan
Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen abiotik dan biotik. Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofik atau taraf trofik. Organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan. Tingkat trofik pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofik kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer (herbivora). Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofik ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofik ke tingkat trofik lainnya akan menyebabkan sebagian energi hilang.
Jaring-jaring makanan adalah rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jaring-jaring.
Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya. Ketergantungan antara
komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti:
siklus karbon, siklus air, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Siklus ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi menumpuk pada suatu tempat. Ulah manusia telah membuat suatu sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik. Manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.
4. Ekosistem Buatan
Sawah merupakan salah satu contoh ekosistem buatan. Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar. Tanaman atau hewan peliharaan didominasi oleh pengaruh manusia dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah: 1) bendungan, 2) hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus, 3) agroekosistem berupa sawah tadah hujan, sawah irigasi, dan perkebunan sawit, dan ekosistem pemukiman, contohnya kota dan desa. Selain itu, ada juga ekosistem ruang angkasa.
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas. Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem yang tertutup, tetapi tetap tergantung pada input dari luar dalam memenuhi kebutuhannya. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada bumi.
C. AGROEKOSISTEM
Agroekosistem adalah sistem interaksi antara manusia dengan lingkungan biofisik, sumber daya pedesaan dan pertanian guna meningkatkan kelangsungan hidup penduduknya. Agroekosistem dapat diartikan sebagai suatu unit yang tersusun oleh semua organisme di dalam areal pertanaman bersama-sama dengan keseluruhan kondisi lingkungan yang telah dimodifikasi manusia, yaitu pertanian, industri, tempat rekreasi, dan aktifitas sosial manusia lainnya.
Pada agroekosistem, manusia sengaja merubah ekosistem alami.
Ekosistem ini khusus dibuat untuk kepentingan pertanian. Berikut adalah komponen-komponen dari agroekosistem dan masalah-masalah yang dihadapinya.
1. Komponen Agroekosistem
Komponen Agroekosistem terdiri dari komponen abiotik dan biotik.
a. Komponen Biotik
Komponen biotik dari agroekosistem terdiri dari:
1) Produsen berupa jasad-jasad hidup yang mampu menangkap energi matahari dan membentuk bahan-bahan yang mengandung energi. Contohnya adalah tumbuh-tumbuhan berklorofil hijau.
2) Konsumen berupa jasad-jasad hidup yang memakan tumbuh- tumbuhan dan atau hewan; mampu membentuk bahan-bahan organik yang lebih tinggi mutunya dari bahan yang dimakannya.
Konsumen terbagi menjadi herbivora, karnivora, dan omnivora.
3) Dekomposer berupa jasad-jasad hidup (mikrobia) yang dapat menguraikan sisa-sisa dari jasad hidup yang mati melalui proses mineralisasi.
4) Tanaman atau vegetasi tanaman dalam agroekosistem berfungsi sebagai produsen atau komponen yang diusahakan oleh manusia untuk budidaya.
5) Hewan sebagai penyeimbang atau pendukung komponen- komponen dalam agroekosistem. Contoh: cacing yang membantu menyuburkan tanah.
b. Komponen Abiotik
Komponen abiotik dari agroekosistem terdiri dari:
1) Air
Lebih dari 50% penyusun tubuh organisme terdiri dari air. Oleh sebab itu, air merupakan salah satu komponen abiotik yang sangat menentukan kelangsungan hidup organisme. Kalau kita perhatikan di berbagai daerah di sekitar kita, maka ada daerah yang kaya akan air, tapi ada pula daerah kering. Perbedaan keadaan tersebut menyebabkan cara adaptasi organisme berbeda-beda. Organisme yang hidup pada daerah kurang air/kering memiliki cara untuk mendapatkan air serta menghemat air.
2) Udara
Gas-gas yang ada di atmosfer,di samping sebagai selimut bumi, juga sebagai sumber berbagai unsur tertentu, seperti: oksigen, karbondioksida, nitrogen, dan hidrogen. Udara juga merupakan komponen utama tanah. Tanah yang cukup pori atau cukup rongga
akan baik pertukaran udara atau aerasinya. Tanah yang baik, aerasinya akan baik, dan baik pula proses mineralisasinya.
3) Suhu
Setiap makhluk hidup memerlukan suhu lingkungan tertentu. Suhu diperlukan makhluk hidup untuk proses kimia dalam tubuhnya.
Semua makhluk hidup selalu menghindari suhu lingkungan yang terlalu tinggi, dan terlalu rendah. Makhluk hidup selalu berusaha untuk mendapatkan suhu lingkungan yang optimum.
4) Tanah
Tanah merupakan komponen sumberdaya alam yang mencakup semua bagian padat di atas permukaan bumi, termasuk semua yang ada di atas dan di dalamnya yang terbentuk dari bahan induk dan dipengaruhi oleh kinerja iklim, jasad hidup, dan relief setempat dalam waktu tertentu. Dalam satu toposekuen akan dijumpai berbagai jenis tanah, sebagai akibat ada perbedaan bahan induk, iklim, topografi dan penggunaan lahan.
5) Cahaya
Cahaya matahari merupakan komponen abiotik yang berfungsi sebagai sumber energi primer bagi ekosistem. Keberadaannya mampu mempengaruhi dan mengontrol organisme yang ada pada suatu ekosistem.
6) Salinitas
Salinitas berhubungan erat dengan pH tanah. Jika pH tanah semakin tinggi, maka akan menghambat proses pertumbuhan tanaman. Hal ini karena ada beberapa tanaman yang tidak cocok dengan pH yang tinggi.
2. Masalah-Masalah yang Dihadapi Suatu Agroekosistem Saat Ini Ada beberapa masalah yang biasanya dihadapi oleh suatu agroekosistem yang terjadi saat ini, yakni:
a. Degradasi lahan
Degradasi lahan kering selama ini lebih diakibatkan oleh terjadinya kekeliruan dalam pembukaan dan pengelolaan lahan oleh perladangan berpindah. Sistem pembukaan lahan dengan cara tebas-bakar (slash and burn) yang dilakukan pada lahan yang miring akan mengawali terjadinya erosi. Kebi-asaan membakar kayu dan ranting sisa pembukaan lahan biasanya
diteruskan oleh petani dengan membakar sisa tanaman. Bila pembakaran dilakukan ha-nya sekali saja pada waktu pembukaan lahan, tidak akan banyak merusak tanah. Tetapi pembakaran yang dilakukan berulang-ulang setiap musim akan cepat menurunkan kadar bahan organik tanah yang akhirnya menurunkan produktivitas tanah. Pembakaran sisa-sisa tanaman tiap tahun akan mempercepat proses pencucian dan pemiskinan tanah.
Merosotnya kadar bahan organik tanah akan memperburuk sifat fisik dan kimia tanah. Struktur tanah menjadi tidak stabil. Bila terjadi hujan, maka pukulan butir hujan akan cepat menghancurkan agregat tanah dan partikel- partikel tanah yang halus akan mengisi ruang pori. Ruang pori yang sudah terisi oleh partikel tanah menyebabkan kapasitas infiltrasi tanah menurun dan meningkatkan aliran permukaan dan mempercepat laju erosi tanah. Lapisan atas tanahakan hilang karena erosi menyebabkan produktivitas lahan menurun. Apalagi jika terjadinya erosi hingga menyebabkan munculnya horizon B, maka tanah akan terdegradasi.
b. Kerusakan tubuh tanah
Tanah sebagai suatu sistem dinamis, selalu mengalami perubahan- perubahan, baik perubahan dari segi fisik, kimia maupun biologinya.
Perubahan-perubahan ini terutama karena pengaruh berbagai unsur iklim.
Tetapi tidak sedikit pula yang dipercepat oleh tindakan atau perlakuan manusia. Kerusakan tubuh tanah yang diakibatkan terjadi perubahan- perubahan yang berlebihan, misalnya kerusakan yang menyebabkan lapisan olah tanah lenyap atau dikenal dengan istilah erosi. Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Peningkatan erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah atau akibat kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Erosi dapat mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Erosi merupakan penyebab utama kerusakan lahan dan lingkungan. Permasalahan degradasi lahan akibat erosi disebabkan oleh: 1) curah hujan yang mempunyai nilai erosivitas tinggi, 2) tanah peka erosi, 3) kemiringan lereng melebihi batas kemampuan lahan untuk tanaman pangan, 4) cara pengelolaan tanah dan tanaman yang salah termasuk kebiasaan membakar dan cara pembukaan lahan yang salah, dan 5) tindakan konservasi lahan yang belum memadai. Faktor lain yang mempercepat kerusakan lahan yaitu kadar bahan organik yang makin berkurang karena
pembakaran sisa tanaman dan pencucian hara. Erosi berlangsung secara alamiah, kemudian dapat dipercepat oleh beberapa tindakan atau perlakuan manusia terhadap tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya. Sebaliknya, erosi alamiah tidak menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia karena pada erosi alamiah masih terjadi keseimbangan lingkungan, karena dalam peristiwa ini banyak tanah yang terangkut masih seimbang dengan pembentukan tanah. Sedangkan pada erosi yang dipercepat (accelerated erotion) sudah dapat dipastikan banyak menimbulkan kerugian bagi manusia, seperti: bencana banjir, kekeringan, produktivitas tanah yang makin menurun, longsor, dan lainnya. Pada peristiwa erosi yang dipercepat, volume penghanyutan tanah lebih besar dibandingkan dengan pembentukan tanah, sehingga penipisan lapisan tanah akan berlangsung terus yang pada akhirnya dapat melenyapkan lapisan tanah tersebut.
c. Dampak pemupukan yang berlebihan
Pemupukan dilakukan untuk memberikan zat makanan yang optimal kepada tanaman, agar tanaman dapat memberikan hasil yang cukup. Pemu- pukan dan pupuk buatan dapat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menurun). Jika tanah menjadi asam, produktivitas tanaman pertanian akan merosot. Selain itu, unsur nitrogen yang terkandung di dalam pupuk dapat menyebabkan terbentuk larutan nitrit di dalam tanah. Larutan nitrit dapat meresap ke dalam sumur penduduk yang berdekatan. Pemupukan yang berlebihan dan larut ke dalam air juga dapat menyebabkan meningkatkan kesuburan sungai (eutrofikasi). Ganggang dan tumbuhan sungai, misalnya eceng gondok, tumbuh dengan subur. Akibatnya hewan-hewan air akan kekurangan oksigen sehingga mengalami kematian. Selain itu, tumbuhan air yang makin subur dapat menyebabkan terjadi pendangkalan pada waduk dan bendungan.
d. Lahan pertanian terbatas/semakin sempit
Dalam suatu agroekosistem, khususnya yang diolah sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan penduduk (pertanian), pasti membutuhkan lahan untuk mengelola sumber daya yang ada. Namun, akibat dari pertambahan penduduk yang makin meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan penggunaan lahan untuk pemukiman dan industri semakin besar sehingga lahan yang dulunya sebagai lahan pertanian menjadi semakin sempit. Selain itu, lahan pertanian di Indonesia banyak pula yang belum benar-benar
dimanfaatkan untuk pertanian karena lahan tersebut berupa lahan kritis dan gambut yang memerlukan perlakuan dan penanganan lebih apabila dijadikan lahan untuk pertanian. Lahan-lahan kritis, gambut, serta tanah kosong yang tidak dimanfaatkan akhirnya dialihfungsikan menjadi daerah pemukiman maupun industri.
e. Ketergantungan petani terhadap pestisida, pupuk anorganik dan varietas unggul
Akibat petani mengintensifkan penggunaan pestisida untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit pada tanaman yang dibudidayakannya, maka petani tersebut memiliki ketergantungan terhadap pestisida. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan petani untuk menerapkan Program Pengendalian Hama Terpadu dengan menggunakan pestisida nabati yang aman serta memanfaatkan musuh alami sesuai program PHT. Petani pada masa Revolusi Hijau lebih mempercayakan pestisida untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang tanamannya karena pestisida tersebut bekerja efektif dan langsung ke sasarannya. Begitupula dengan ketersediaan pupuk anorganik untuk meningkatkan produksi pertanian, petani selalu melakukan pemupukan intensif menggunakan pupuk anorganik, bahkan terkesan berlebihan sehingga dalam usahataninya, petani sangat bergantung kepada ketersediaan pupuk anorganik. Varietas unggul pun diperlukan sebagai modal untuk menghasilkan produksi yang tinggi pada masa Revolusi Hijau sehingga tanpa varietas yang unggul, petani merasa produksinya akan menurun dan tidak dapat menutupi biaya produksi, akibatnya petani menga-lami kerugian.
f. Muncul ketahanan (resistensi) hama terhadap pestisida
Ketahanan hama terhadap pemberian pestisida akan muncul apabila pestisida diberikan secaraterus menerus. Hal ini menjadi fenomena dan konsekuensi ekologis yang umum dan logis. Resistensi muncul akibat reaksi evolusi menghadapi suatu tekanan (strees). Oleh karena hama terus menerus mendapat tekanan oleh pestisida, maka melalui proses seleksi alami, spesies hama mampu membentuk strain baru yang lebih tahan terhadap pestisida tertentu yang digunakan petani. Pada tahun 1947, dua tahun setelah penggunaan pestisida DDT, muncul strain serangga yang resisten terhadap DDT. Saat ini, telah ada lebih dari 500 spesies serangga hama telah resisten terhadap berbagai jenis insektisida.
g. Resurgensi hama
Peristiwa resurgensi hama terjadi apabila setelah diperlakukan aplikasi pestisida, populasi hama menurun dengan cepat dan secara tiba-tiba justru meningkat lebih tinggi dari jumlah polulasi sebelumnya. Resurgensi sangat mengurangi efektivitas dan efesiensi pengendalian dengan pestisida.
Resurgensi hama terjadi karena pestisida, sebagai racun yang berspektrum luas, juga membunuh musuh alami. Musuh alami yang terhindar dan tahan terhadap penyemprotan pestisida, sering kali mati kelaparan karena populasi mangsa untuk sementara waktu terlalu sedikit, sehingga tidak tersedia makanan dalam jumlah cukup. Kondisi demikian terkadang menyebabkan musuh alami beremigrasi untuk mempertahankan hidup. Di sisi lain, serangga hama akan berada pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Sumber makanan tersedia dalam jumlah cukup dan pengendali alami sebagai pemba-tas pertumbuhan populasi menjadi tidak berfungsi. Akibatnya, populasi hama meningkat tajam segera setelah penyemprotan.
h. Ledakan populasi hama sekunder
Dalam ekosistem pertanian, diketahui terdapat beberapa hama utama dan banyak hama-hama kedua atau hama sekunder. Umumnya tujuan penggunaan pestisida adalah untuk mengendalikan hama utama yang paling merusak. Peristiwa ledakan hama sekunder terjadi apabila setelah pemberian pestisida menghasilkan penurunan populasi hama utama, tetapi kemudian terjadi peningkatan populasi pada spesies yang sebelumnya bukan hama utama, sampai tingkat yang merusak. Ledakan ini seringkali disebabkan oleh terbunuhnya musuh alami, akibat penggunaan pestisida yang berspektrum luas. Pestisida tersebut tidak hanya membunuh hama utama yang menjadi sasaran, tetapi juga membunuh serangga berguna yang dalam keadaan normal secara alamiah efektif mengendalikan populasi hama sekunder.
Peristiwa ledakan populasi hama sekunder di Indonesia pernah terjadi, yakni ledakan hama ganjur di hamparan persawahan Jalur Pantura Jawa Ba- rat, setelah daerah tersebut disemprot intensif pestisida Dimecron dari udara untuk memberantas hama utama penggerek padi kuning Scirpophaga incertulas. Penelitian dirumah kaca membuktikan, dengan menyemprotkan Dimecron pada tanaman padi muda, hama ganjur dapat berkembang dengan baik, karena parasitoidnya terbunuh. Munculhama wereng coklat Nilaparvata iugens setelah tahun 1973 menggantikan kedudukan hama penggerek batang padi sebagai hama utama di Indonesia. Hal ini diduga disebabkan oleh
penggunaan pestisida golongan khlor secara intensif untuk mengendalikan hama sundep dan weluk.
D. PERMASALAHAN SEPUTAR PERUBAHAN IKLIM
Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu panjang (50-100 tahun) dan dapat juga disebabkan oleh kegiatan manusia, terutama yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih guna lahan. Pertanian konvensional menyumbang terjadi perubahan iklim pertanian konvensional yang intensif (baik dari sisi pemakaian mesin pertanian atau luas lahan) akibat penebangan hutan untuk membuka lahan.
Gundulnya hutan berarti hilangnya bahan organik dari tanah. Padahal bahan organik berperan mengikat air dan menahan laju penguapan. Tidak heran, lebih banyak terjadi kekeringan. Jumlah vegetasi berkurang menurunkan kelembaban udara dan meningkatkan suhu udara. Produksi pupuk dan pestisida kimia yang dipakai pertanian konvensional juga menghasilkan gas rumah kaca yang merupakan salah satu pemicu terjadi perubahan iklim.
Sementara aplikasinya pada lahan telah menurunkan kesuburan dan menyebabkan erosi tanah.
Fenomena perubahan iklim dapat diakibatkan oleh pergeseran atau perubahan pola musim. Kini hampir di seluruh wilayah di Indonesia, batas musim hujan dan musim kemarau tidak lagi jelas. Secara perlahan, pergeseran ini mulai mengubah pola tanam, khususnya dirasakan di daerah pertanian tadah hujan. Jika saat semai tidak tepat, bisa jadi benih tidak akan tumbuh karena kekurangan air. Pergeseran musim hujan dan musim kemarau memengaruhi proses pembungaan tanaman. Hal ini bisa mengurangi hasil panen dan ketersediaan benih untuk musim tanam berikutnya. Perubahan iklim dapat terjadi akibat kenaikan suhu. Laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa dalam satu abad terakhir terjadi kenaikan rata-rata suhu dunia sebesar 0,76°C. Diprediksikan, tahun 2050 akan terjadi kenaikan suhu sebesar 2°C.
Kondisi ini menyebabkan banyak sumber air di pegunungan yang mengairi sungai-sungai mengering. Kenaikan suhu juga menjadi ancaman serius bagi petani, terkait dengan pola penyebaran hama dan penyakit. Akibat kondisi lingkungan menghangat, ada beberapa hama dan penyakit yang tadinya bukan ancaman serius bagi pertanian, berubah menjadi sangat merusak. Hal