• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.4.1. Isu Strategis Kabupaten Kudus dalam Pencapaian Target Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2015

Secara umum permasalahan utama sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Kabupaten Kudus masuk dalam dua kategori besar, yakni sub sektor air minum dan sub sektor penyehatan lingkungan. Hal itu terlihat dalam Tabel 1.21.

Tabel 1.21. Isu Utama Sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Di Kabupaten Kudus

ISU AIR MINUM ISU PENYEHATAN LINGKUNGAN

1. Masih banyak penduduk yang belum terlayani air minum yang layak

2. Sumber – sumber air di daerah hulu belum dikelola secara baik.

3. Sumber air baku masih mengandalkan potensi air bawah tanah dan belum mengoptimalkan sumber air baku yang lain antara lain sungai dan air hujan.

4. Pemahaman masyarakat akan kebutuhan air minum layak terhadap

1. Masih banyak masyarakat yang belum terakses terhadap sanitasi dasar seperti: jamban, sarana pengolahan air limbah.

2. Pemahaman masyarakat akan pentingnya sanitasi terhadap kesehatan masih kurang.

3. Kesadaran masyarakat terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat masih rendah.

Bab II Arah Kebijakan dan Strategi Percepatan Pencapaian Target 7c MDGs II-37

kesehatan masih kurang

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun RAD AMPL, 2012

Dari permasalahan pokok tersebut, permasalahan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Kabupaten Kudus diklasifikasikan ke dalam aspek-aspek permasalahan, baik di sektor Air Minum maupun Penyehatan Lingkungan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.22 dan 1.23.

Tabel 1.22. Permasalahan dan Solusi Tindakan Isu Air Minum Di Kabupaten Kudus

No Aspek

Keberlanjutan

Permasalahan dan Tantangan Solusi Tindakan

1. Pendanaan  Masih terbatasnya bantuan dana untuk sarana air minum dari Pemerintah Daerah.

Tarif air minum belum Full Cost

Recovery (FCR)

 Di musim kemarau sebagian masyarakat terpaksa membeli air minum.

 Perlunya peningkatan sarana air minum.

2. Teknologi  Belum ada teknologi yang menilai kualitas air yang dikonsumsi masyarakat walau masyarakat menyadari air yang dikonsumsi sudah tercemar

 Tidak ada pilihan teknologi untuk mencegah rembesan WC masyarakat ke sumur

 Pemerintah Kabupaten Kudus perlu memonitor kualitas air yang dikonsumsi masyarakat berupa pemantauan kualitas air.

3. Kelembagaan  Pelayanan air minum oleh PDAM belum menjangkau ke seluruh masyarakat.

 Masyarakat belum mempunyai kelembagaan yang solid yang mengurusi air

 PDAM telah memperluas jaringan dan pelayanan penyediaan air.

 Tim Pokja AMPL sering melakukan melakukan penyuluhan tentang air minum

 Kinerja Tim Pokja AMPL telah tercantum dalam Surat Keputusan Bupati Kudus sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Kudus dalam pembangunan sektor air minum.

 Telah terbentuk BPSPAMS/LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) di desa-desa lokasi PAMSIMAS untuk

Bab II Arah Kebijakan dan Strategi Percepatan Pencapaian Target 7c MDGs II-38

No Aspek

Keberlanjutan

Permasalahan dan Tantangan Solusi Tindakan

mengelola air minum layak.

 Mengajak masyarakat di desa-desa lokasi penyediaan air minum perdesaan non PAMSIMAS untuk bergabung dalam Asosiasi BPSPAMS

4. Lingkungan  Banyak sumur berdekatan dengan

Septictank

 Lingkungan masih tercemar

 Penyuluhan yang sering dilakukan oleh Tim Pokja tentang bahaya membangun sumur yang terlalu dekat dengan

septictank mengubah mindset

masyarakat menjadi lebih baik.

 Dinas Kesehatan selaku anggota tim Pokja AMPL secara optimal melakukan penyuluhan intensif tentang keterkaitan kualitas air dengan lingkungan 5. Sosial  Masih terdapatnya sarana air minum

yang belum memenuhi syarat air minum layak

 Banyak sarana sumur bor untuk masyarakat umum di Kabupaten Kudus baik melalui bantuan Pemerintah maupun swadaya masyarakat.

 Di musim kemarau warga tidak harus mengambil air jauh dari tempat tinggalnya karena telah ada bantuan sarana air minum.

 Masyarakat mulai sadar untuk menjaga kelestarian sumber air.

 Masyarakat telah mempunyai kesadaran tinggi tentang air sebagai benda ekonomi, sehingga lebih bisa berhemat dalam menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun RAD AMPL, 2012

Tabel 1.23. Permasalahan dan Solusi Tindakan Isu Penyehatan Lingkungan di Kabupaten Kudus

No Aspek

Keberlanjutan

Permasalahan dan Tantangan Solusi Tindakan

1. Pendanaan  Anggaran Pemerintah Kabupaten Kudus untuk sanitasi relatif kecil

 Alokasi anggaran Pemerintah Kabupaten Kudus untuk sanitasi sudah mulai meningkat tiap tahunnya

 Mencari dukungan pendanaan dengan sumber dana selain APBD antara lain APBN, Corporate Social Responbility (CSR), dan sumber dana lain. 2. Teknologi  Teknologi bidang sanitasi hanya

terbatas pada pembangunan septik tank.

 Truck sampah jumlahnya mulai ditambah.

 Pilihan teknologi sanitasi sudah dimulai diperkenalkan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus terutama melalui Dinas Kesehatan.

Bab II Arah Kebijakan dan Strategi Percepatan Pencapaian Target 7c MDGs II-39

No Aspek

Keberlanjutan

Permasalahan dan Tantangan Solusi Tindakan

sampah melalui open dumping. 3. Kelembagaan  Belum ada peraturan tentang sanitasi  Tim Pokja AMPL sering melakukan

melakukan penyuluhan tentang sanitasi.

 Kinerja Tim Pokja telah tercantum dalam Surat Keputusan Bupati Kudus sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten dalam pembangunan sektor sanitasi dan penyehatan lingkungan.

 Telah terbentuk LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) di desa-desa yang mengurusi tentang sanitasi. 4. Lingkungan  Lingkungan masih tercemar karena

limbah mentah langsung dibuang ke sungai dan selokan tanpa diolah terlebih dahulu.

 Sarana sanitasi dasar yang layak jumlahnya masih terbatas jumlahnya sehingga masyarakat sering buang hajat di kebun, sawah maupun sungai.

 Telah terbangun IPAL

 Dinas Kesehatan secara optimal melakukan penyuluhan intensif tentang keterkaitan PHBS masyarakat.

 Program bantuan sarana sanitasi telah ditambah bagi masyarakat.

5. Sosial  PHBS masyarakat masihsangat rendah.  Penyuluhan secara intensif yang sering dilakukan oleh Tim Pokja AMPL sedikit demi sedikit mulai dapat merubah perilaku hidup yang tidak sehat.

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun RAD AMPL, 2012

Di samping solusi tindakan terhadap permasalahan dan tantangan sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Tim Penyusun RAD AMPL juga menyusun tabel kondisi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang diharapkan, sebagaimana dijelaskan pada Tabel 1.24.

Tabel 1.24. Kondisi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Yang Diharapkan Di Kabupaten Kudus

No Aspek Keberlanjutan Kondisi AMPL yang diharapkan

1 Pendanaan  Tersedianya dana untuk pembangunan TPA di setiap Kecamatan

 Tersedianya dana untuk pembangunan sumur Bor di setiap desa

 Tersedianya subsidi air minum bagi warga desa yang rawan air

 Tersedianya dana pinjaman untuk pembangunan sarana sanitasi masyarakat

2 Teknologi  Adanya standarisasi teknologi MCK

 Masyarakat diperkenalkan teknologi pengadaan air minum yang murah

 Tersedianya pilihan teknologi pengolahan sampah

 Tersedianya teknologi perpipaan air minum sederhana

 Tersedianya pilihan AMPL bagi masyarakat

3 Kelembagaan  Adanya Perda yang mengatur Pembangunan dan pengelolaan AMPL berbasis masyarakat

 Adanya lembaga masyarakat yang mengelola AMPL

 Berfungsinya PDAM

 Adanya dinas yang memonitor kualitas air

 Terbentuknya kelembagaan masyarakat yang mengurusi AMPL di setiap kelurahan/desa

Bab II Arah Kebijakan dan Strategi Percepatan Pencapaian Target 7c MDGs II-40

No Aspek Keberlanjutan Kondisi AMPL yang diharapkan

4 Lingkungan Tidak ada lagi industri (home industry) yang mencemari sumber air dan lingkungan

5 Sosial  Adanya penghargaan bagi pengelola AMPL yang baik

 Pemasyarakatan AMPL dari tingkat Kecamatan sampai dengan tingkat rukun tetangga (RT)

 Setiap rumah, sekolah dan sarana publik memiliki sarana AMPL

 PHBS sejak usia dini

 Adanya pelatihan rutin bagi masyarakat tentang AMPL

 Penyuluhan yang berkelanjutan tentang AMPL

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun RAD AMPL, 2012

Dari permasalahan yang telah diuraikan di atas, langkah selanjutnya adalah menentukan isu strategis sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Isu strategis merupakan hasil analisis terhadap permasalahan dan tantangan yang ada. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode SWOT. Faktor-faktor yang dianalisis adalah kondisi internal dan eksternal, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.25.

Tabel 1.25. Matrik Hasil Analisis SWOT Sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Di Kabupaten Kudus

Kekuatan

 Keberadaan Pokja AMPL

 Pimpinan daerah yang akomodatif

Motivasi untuk maju

Kelemahan

 Pelayanan masyarakat di bidang air minum dan sanitasi kurang optimal

 Anggaran AMPL masih rendah

Koordinasi antar stakeholders AMPL belum optimal Kesempatan  Demokratisasi dan desentralisasi  Tersedianya potensi pembangunan AMPL daerah  Daya dukung lembaga kemasyarakatan tinggi  Kebijakan yang berorientasi pengentasan kemiskinan  Tingginya tingkat toleransi antar umat beragama

 Inovasi kebijakan pembangunan AMPL daerah

 Sinkronisasi regulasi kebijakan pembangunan AMPL daerah

 Optimalisasi pelayanan dan akses pembangunan sarana dan prasarana AMPL daerah

 Efektifitas dan keberlanjutan pembangunan sarana dan prasarana AMPL daerah

 Meningkatkan sinergi partisipasi elemen pelaku dalam pembangunan AMPL yang efektif dan berkelanjutan

 Meningkatkan koordinasi antar stakteholders AMPL

 Peningkatan fasilitas dalam mengembangkan konsep swakelola masyarakat dalam pembangunan AMPL daerah

Ancaman

 Tercemarnya sumber air baku

 Rendahnya kesadaran tentang PHBS

 Penolakan

 Meningkatkan sinergi partisipasi elemen pelaku dalam melestarikan sumber air baku

 Meningkatkan kampanye dan pendidikan PHBS

 Mengelola segala kuantitas potensi menjadi berkualitas

 Membuka ruang partisipasi multi pihak seluas-luasnya untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia

Internal

Bab II Arah Kebijakan dan Strategi Percepatan Pencapaian Target 7c MDGs II-41

Kekuatan

 Keberadaan Pokja AMPL

 Pimpinan daerah yang akomodatif

Motivasi untuk maju

Kelemahan

 Pelayanan masyarakat di bidang air minum dan sanitasi kurang optimal

 Anggaran AMPL masih rendah

Koordinasi antar stakeholders AMPL belum optimal

terhadap kebijakan AMPL daerah

 Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi program pembangunan AMPL daerah

 Pembentukan Pokja AMPL daerah

 Belajar dari pengalaman sukses AMPL daerah lain

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun RAD AMPL, 2012

Hasil formulasi isu strategi dirumuskan dari analisa kondisi eksternal dan internal dengan mempertimbangkan hasil kajian pendalaman kebijakan nasional dan strategi pelaksanaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Kabupaten Kudus melalui hasil pelatihan/lokakarya yang telah dilaksanakan serta perumusan permasalahan dan prioritas permasalahan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ada.

Formulasi rumusan isu strategi mempunyai hubungan erat atau berpengaruh langsung terhadap pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya. Ada tiga isu strategis yang berhasil diformulasikan untuk menjadi dasar penyusunan strategi pencapaian RAD AMPL yaitu :

Dokumen terkait