• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.5 Analisis Data

4.5.2 Permintaan LPG Pedagang Martabak Kaki Lima

Analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang makanan di Kota Bogor menggunakan model regresi linear berganda.

Metode estimasi untuk menduga parameter model adalah metode jumlah kuadrat terkecil (Ordinary Least Squares). Menurut Sitepu dan Sinaga (2006), dalam sebuah model regresi linear berganda yang diestimasi dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) terdapat beberapa asumsi yang mendasarinya, antara lain adalah :

1. Ui adalah sebuah variabel riil dan memiliki distribusi normal.

2. Nilai rata-rata dari Ui setiap periode tertentu sama dengan nol, dapat dituliskan dengan E(Ui) = 0.

3. Error term, Ui dan variabel yang menjelaskan, X, tidak berkorelasi, dapat dituliskan dengan cov (Ui, Xi) = 0.

4. Varian dari Ui adalah konstan setiap periode (homoscedasticity), dapat dituliskan dengan var (Ui2

) = σ2 2 = konstan).

5. Error term, U dari pengamatan yang berbeda-beda (Ui, Uj) tidak saling tergantung (independent), atau dapat dituliskan dengan cov (Ui, Uj) = 0. Hal ini dikenal dengan asumsi tidak ada autokorelasi.

6. Tidak ada korelasi sempurna antara variabel bebas dengan kata lain tidak ada multicollinearity.

Untuk mempermudah pengolahan data, alat analisis dalam penelitian ini dioperasikan melalui perangkat lunak Minitab 15 English.

52

4.5.2.1 Permintaan LPG Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor diduga dipengaruhi oleh sembilan faktor (variabel bebas). Variabel-variabel bebas tersebut adalah harga LPG (PLPG), harga kompor gas (PKGS), harga tepung terigu (PTRG), harga mentega (PMTG), harga gula (PGLA), harga telur ayam (PTAY), harga rata-rata output (PRMS), dan jumlah tenaga kerja (JTK), dan dummy jenis martabak (D1).

Harga LPG diduga berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG pedagang martabak kaki lima, yang berarti dengan meningkatnya harga LPG akan menurunkan permintaan LPG. Harga kompor gas, harga terigu, harga mentega, harga gula, dan harga telur ayam sebagai barang komplementer dan barang input produksi dalam produksi martabak diduga berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG, yang berarti meningkatnya harga barang-barang tersebut akan menurunkan permintaan LPG. Harga rata-rata martabak diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG. Meningkatnya harga rata-rata martabak mengakibatkan pedagang martabak kaki lima sebagai produsen meningkatkan jumlah martabak yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah martabak yang dihasilkan, akan meningkatkan permintaan akan LPG sebagai bahan bakar.

Jumlah tenaga kerja diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG. Jumlah tenaga kerja menunjukkan skala usaha, semakin banyak jumlah tenaga kerja menunjukkan semakin besar skala usaha, dan akan mengakibatkan peningkatan permintaan akan LPG sebagai bahan bakar. Dummy jenis martabak diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG, yang berarti pedagang martabak kaki lima yang hanya menghasilkan martabak telur diduga mempengaruhi

permintaan LPG pedagang martabak kaki lima tersebut. Fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah sebagai berikut :

DLPGMT = a0 + a1 PLPG + a2 PKGS + a3 PTRG + a4 PMTG + a5 PGLA + a6 PTAY + a7 PRMS + a8 JTK + a9 D1 + et ………...… (9) dimana :

DLPGMT = Permintaan LPG Pedagang Martabak Kaki Lima (Kg/bulan) PLPG = Harga LPG (Rp/kg)

PKGS = Harga Kompor Gas (Rp/unit) PTRG = Harga Terigu (Rp/kg)

PMTG = Harga Mentega (Rp/kg) PGLA = Harga Gula (Rp/kg)

PTAY = Harga Telor Ayam (Rp/kg)

PRMS = Harga Rata-rata Martabak (Rp/porsi) JTK = Jumlah Tenaga Kerja (orang)

D1 = Dummy Jenis Martabak , 1 untuk pedagang yang menghasilkan martabak telur saja ; 0 untuk pedagang yang menghasilkan martabak manis, dan atau kedua-duanya.

a0 = konstanta

a1...9 = parameter dugaan et = error

Nilai dugaan parameter yang diharapkan (hipotesis) : a1, a2, a3, a4, a5, a6, < 0 ; a7, a8, a9 > 0

54

4.5.2.2 Permintaan LPG Pedagang Warung Tanda Pecel Lele di Kota Bogor Permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele diduga dipengaruhi oleh sembilan faktor (variabel bebas). Variabel-variabel bebas tersebut adalah harga LPG (PLPG), harga kompor gas (PKGS), harga beras (PBRS), harga lele (PLLE), harga ayam (PAYM), harga minyak goreng (PMGR), harga rata-rata masakan (PRMS), jumlah tenaga kerja (JTK), dan dummy masakan bebek (DBBK).

Harga LPG diduga berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele, yang berarti dengan meningkatnya harga LPG akan menurunkan permintaan LPG. Harga kompor gas, harga beras, harga lele, harga ayam, dan harga minyak goreng sebagai barang komplementer dan barang input produksi dalam produksi warung tenda pecel lele diduga berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG, yang berarti meningkatnya harga barang-barang tersebut akan menurunkan permintaan LPG. Harga rata-rata masakan diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG. Meningkatnya harga rata-rata masakan mengakibatkan pedagang warung tenda pecel lele sebagai produsen meningkatkan jumlah porsi masakan yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah porsi masakan yang dihasilkan, akan meningkatkan permintaan akan LPG sebagai bahan bakar. Jumlah tenaga kerja diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG. Jumlah tenaga kerja menunjukkan skala usaha, semakin banyak jumlah tenaga kerja menunjukkan semakin besar skala usaha, dan akan mengakibatkan peningkatan permintaan akan LPG sebagai bahan bakar. Dummy masakan bebek diduga berpengaruh positif terhadap permintaan LPG, yang berarti pedagang warung tenda yang menghasilkan masakan dari olahan diduga meningkatkan

permintaan LPG warung tenda pecel lele tersebut Fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah sebagai berikut :

DLPGPL = b0 + b1 PLPG + b2 PKGS + b3 PBRS + b4 PLLE + b5 PAYM + b6 PMGR + b7 PRMS + b8 JTK + b9 DBBK + et …………...… (10) dimana :

DLPGPL = Permintaan LPG Pedagang Warung Tenda (Kg/bln) PLPG = Harga LPG (Rp/kg)

PKGS = Harga Kompor Gas (Rp/unit) PBRS = Harga Beras (Rp/kg)

PLLE = Harga Lele (Rp/kg) PAYM = Harga Ayam (Rp/kg)

PMGR = Harga Minyak Goreng (Rp/kg) PRMS = Harga Rata-rata Masakan (Rp/porsi) JTK = Jumlah Tenaga Kerja (orang)

DBBK = Dummy Masakan Bebek, 1 untuk pedagang yang menghasilkan masakan dari olahan bebek ; 0 untuk pedagang yang tidak menghasilkan masakan dari olahan bebek.

b0 = konstanta

b1...9 = parameter dugaan et = error

Nilai dugaan parameter yang diharapkan (hipotesis) : b1, b2, b3, b4, b5, b6 < 0 ; b7, b8, b9 > 0

56

4.5.2.3 Evaluasi Model Estimasi

Evaluasi model persamaan penduga digunakan untuk mengetahui apakah model yang diduga telah terpenuhi secara teori dan statistik. Untuk itu kriteria pemilihan model terbaik dalam analisis regresi linier berganda harus sesuai dengan kriteria sebagai berikut :

4.5.2.3.1 Kriteria Ekonomi

Kriteria ekonomi menyangkut tanda dan besaran parameter estimasi.

Teori ekonomi yang digunakan untuk menerangkan analisis ini adalah teori permintaan dan elastisitas.

4.5.2.3.2 Kriteria Statistik

Kriteria statistik meliputi nilai R2, nilai F-hitung, dan nilai t-hitung masing-masing parameter estimasi. Menurut Koutsoyiannis (1977), koefisien determinasi (R2) menunjukkan proporsi keragaman variabel tidak bebas yang diterangkan variabel-variabel bebasnya. Selang nilai R2 adalah 0 < R2 < 1. Jika nilai R2 semakin tinggi (semakin mendekati 1), maka semakin baik model karena semakin besar keragaman variabel tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas.

Uji F-hitung digunakan untuk melihat apakah semua variabel bebas secara bersama-sama dapat menjelaskan variabel tidak bebasnya. Pengujian yang dilakukan menggunakan distribusi F dengan membandingkan antara nilai kritis F (F-tabel) dengan nilai F-hitung yang terdapat pada hasil analisis. Hipotesisnya adalah sebagai berikut:

H0 : a1 = a2 = a3 = a4 = a5 = a6 = a7 = a8 = a9 = 0, parameter regresi atau variabel bebas secara serentak tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG.

H1 : tidak semua parameter regresi (ai) yang bernilai nol, parameter regresi atau variabel bebas secara serentak berpengaruh nyata terhadap LPG.

Perhitungan nilai F-hitung dirumuskan sebagai berikut:

…………...… (11) dimana :

dbr = derajat bebas regresi (k-1) dbe = derajat bebas error (n-k)

k = jumlah parameter regresi (a1, ..., ai) n = jumlah pengamatan (n = 1, 2, 3, ..., n) Keputusan pengujiannya adalah:

a. F-hitung < F-tabel maka terima H0, berarti semua variabel bebas tidak mampu secara bersama-sama menjelaskan variasi dari permintaan LPG.

b. F-hitung > F-tabel maka tolak H0, berarti semua variabel bebas mampu secara bersama-sama menjelaskan variasi dari permintaan LPG.

Uji t-hitung digunakan untuk menguji secara statistik pengaruh nyata atau tidaknya masing-masing variabel bebas yang dipakai secara terpisah terhadap variabel tidak bebas. Hipotesisnya adalah sebagai berikut :

H0 : ai = 0, parameter regresi atau variabel bebas (Xi) tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG.

H1: ai < 0 atau ai > 0, parameter regresi atau variabel bebas (Xi) berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG.

Jumlah Kuadrat Regresi/ dbr F-hitung =

Jumlah Kuadrat Error/ dbe

58

Nilai t-hitung masing-masing parameter regresi dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer. Uji-t dapat dirumuskan sebagai berikut:

………...…...… (12) dimana :

âi = estimasi nilai koefisien regresi atau parameter âi S(âi) = estimasi standar kesalahan dugaan parameter Keputusan pengujian adalah:

a. t-hitung < t-tabel, maka terima H0, artinya parameter regresi atau variabel bebas tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG

b. t-hitung > t-tabel, maka tolak H0, artinya parameter regresi atau variabel bebas tersebut berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG

Dalam penelitian ini uji-t dilakukan dengan melihat nilai p-value dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Probability t-statistic < taraf nyata (α), maka akan tolak H0

b. Probability t-statistic > taraf nyata (α), maka akan terima H0

Jika H0 ditolak, maka variabel bebas berpengaruh nyata pada taraf nyata (α) terhadap variabel tidak bebasnya. Sebaliknya jika H0 diterima, maka variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebasnya.

4.5.2.3.3 Kriteria ekonometrika

Pengujian ekonometrika pada penelitian ini terdiri dari tiga jenis pengujian. Hal-hal yang dapat dilihat dalam kriteria ekonometrika adalah heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan autokorelasi.

t hitung = âi / S(âi)

1. Heteroskedastisitas

Salah satu asumsi dalam estimasi model regresi linear berganda adalah homoskedastisitas, yaitu ragam sisaan (error) konstan dalam setiap pengamatan.

Pelanggaran atas asumsi homoskedastisitas adalah heteroskedastisitas. Akibat dari masalah heteroskedastisitas salah satunya adalah penduga OLS tidak efisien lagi.

Untuk mendeteksi adanya masalah heteroskedastisitas maka dilakukan uji grafik scatter plot apabila menunjukkan titik-titik menyebar secara acak, tidak

membentuk pola tertentu yang jelas, dan tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y, berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model tersebut (Santoso, 2000).

2. Multikolinearitas

Kolinearitas ganda (multicolinearity) merupakan hubungan linear yang sama kuat antara variabel-variabel bebas dalam persamaan regresi berganda. Adanya multikolinearitas ini menyebabkan pendugaan koefisien menjadi tidak stabil.

Pendeteksian terjadinya multikolinearitas dapat diketahui dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada masing-masing variabel bebas. Jika nilai

VIF relatif kecil, artinya persamaan regresi tidak mengalami multikolinearitas.

Sebaliknya, jika nilai VIF relatif besar (lebih dari 10) artinya persamaan regresi mengalami multikolinearitas (Juanda, 2009). Formula VIF dapat dituliskan sebagai berikut :

……...… (13) 1

VIFj = , j = 1, 2, 3, ..., n 1-Rj2

60

3. Autokolerasi

Gujarati (1978) mendefenisikan autokorelasi sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang.model regresi seharusnya bebas autokorelasi, sehingga kesalahan prediksi bersifat bebas untuk tiap nilai X. Untuk menguji autokorelasi dilakukan dengan pengujian Durbin Watson (DW). Nilai hitung statistik Durbin Watson (DW) diperoleh dari hasil

perhitungan komputer kemudian dibandingkan dengan nilai d-tabel, yaitu dengan batas bawah (dL) dan batas atas (dL). Penentuan nilai dL dan dU berdasarkan pada jumlah variabel bebas dan jumlah pengamatan yang terdapat dalam model.

Hasil perbandingan akan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : a. Jika DW < dL, berarti ada autokorelasi positif ,

b. Jika DW > dL, berarti ada autokorelasi negatif ,

c. Jika dL < DW < 4-dU, berarti tidak terjadi autokorelasi positif ataupun negatif ,

d. Jika dL ≤ DW ≤ dU atau 4-dU ≤ DW ≤ 4-dL, berarti tidak dapat disimpulkan.

4.5.2.4 Analisis Respon (Elastisitas)

Untuk menguji tingkat kepekaan jumlah permintaan terhadap perubahan yang terjadi pada variabel-variabel yang diteliti digunakan analisis respon elastisitas. Jika harga suatu barang berubah, maka permintaan akan barang tersebut akan berubah (Nicholson, 2001). Untuk mengukur respon perubahan harga (P) terhadap jumlah permintaan (Q) digunakan konsep elastisitas permintaan harga (price elasticity of demand). Elastisitas permintaan harga (EQ,P) dirumuskan menjadi:

……...… (14) Nilai elastisitas permintaan harga sering dibedakan atas tiga kelompok yaitu lebih besar, sama dengan, atau lebih kecil dari satu. Selain elastisitas permintaan harga terdapat juga elastisitas harga silang. Konsep elastisitas harga silang mengukur reaksi perubahan dalam jumlah barang yang dibeli (Q) sebagai akibat terjadinya perubahan dalam harga barang lain (P'). Elastisitas harga silang dirumuskan menjadi:

……...… (15)

Elastisitas harga silang menunjukkan nilai positif apabila barang Q dan barang lain merupakan gross substitute. Sebaliknya nilai elastisitas harga silang menunjukkan nilai negatif apabila barang Q dan barang lain merupakan gross complements (Nicholson, 2001).

4.5.3 Pendapatan Usaha Pedagang Martabak Kaki Lima dan Warung Tenda Pecel Lele di Kota Bogor

Pendapatan usaha pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele dianalisis dengan analisis deskriptif dengan menggunakan analisis pendapatan usaha, dengan bantuan program Microsoft Excell 2007. Pendapatan usaha martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele adalah hasil pengurangan total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

Dirumuskan menjadi :

π

= TR– TC ……...… (16) TR = Py . Y ……...… (17) Prosentase perubahan dalam Q ∂Q P'

EQ,P ' = = · Prosentase perubahan dalam P' ∂P' Q Prosentase perubahan dalam Q ∂Q P EQ,P = = · Prosentase perubahan dalam P ∂P Q

62

TC = TFC + (Pxi . Xi) ……...… (18) dimana :

π

= pendapatan usaha pedagang makanan di Kota Bogor (Rp/bln) TR = total penerimaan pedagang makanan (Rp/bln)

TC = total biaya yang dikeluarkan pedagang makanan (Rp/bln) Py = harga makanan yang dihasilkan (Rp/porsi)

Y = jumlah produk yang dihasilkan (Porsi/bln) TFC = total biaya tetap (Rp/bln)

Pxi = harga input xi (Rp/satuan)

Xi = banyaknya input Xi yang digunakan.

Total biaya yang dikeluarkan dalam penelitian ini dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya non tunai. Biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan dan dibayarkan secara tunai oleh pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Biaya non tunai adalah biaya yang dikeluarkan, dihitung, tetapi tidak dibayarkan secara tunai oleh pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele di Kota Bogor.

4.6 Definisi Operasional

1. LPG yang dimaksud adalah LPG 3 kg bersubsidi.

2. Pedagang Martabak Kaki Lima adalah pedagang martabak yang berjualan di pinggir jalan atau kaki lima dengan menggunakan gerobak. Martabak yang diproduksi adalah martabak manis dan martabak telur.

3. Warung Tenda Pecel Lele adalah salah satu usaha perdagangan di bidang makanan dengan menggunakan tenda yang terdapat di sepanjang jalan dan

lokasi Warung-warung tersebut menyajikan menu pecel lele, pecel ayam, bebek goreng, dan makanan laut (Seafood).

4. Permintaan LPG pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele adalah jumlah total LPG yang digunakan dalam satu bulan. Dinyatakan dalam satuan kg/bulan.

5. Harga LPG, harga kompor gas, harga tepung terigu, harga mentega, harga gula, harga telur ayam, harga telur bebek, harga beras, harga lele, harga ayam, harga bebek, harga minyak goreng, harga bumbu yang digunakan adalah harga yang berlaku pada waktu penelitian dilaksanakan.

6. Jumlah permintaan LPG yang dihitung adalah permintaan LPG pada waktu penelitian dilakukan (kg/bulan).

7. Harga LPG (PLPG) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele untuk memperoleh LPG per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

8. Harga Kompor Gas adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele untuk memperoleh kompor gas per unit, dinyatakan dalam Rp/unit.

9. Harga Tepung Terigu (PTRG) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki lima untuk memperoleh tepung terigu per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

10. Harga Mentega (PMTG) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki lima untuk memperoleh mentega per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

64

11. Harga Gula (PGLA) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki lima untuk memperoleh gula per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

12. Harga Telur Ayam (PTAY) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki untuk memperoleh telur ayam per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

13. Harga Telur Bebek (PTBK) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang martabak kaki untuk memperoleh telur bebek per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

14. Harga Beras (PBRS) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang warung tenda pecel lele untuk memperoleh beras per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

15. Harga Lele (PLLE) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang warung tenda pecel lele untuk memperoleh lele per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

16. Harga Ayam (PAYM) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang warung tenda pecel lele untuk memperoleh ayam per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

17. Harga Bebek (PBBK) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang warung tenda pecel lele untuk memperoleh bebek per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

18. Harga Minyak Goreng (PMGR) adalah rata-rata jumlah rupiah yang dibayar pedagang warung tenda pecel lele untuk memperoleh minyak goreng per kg, dinyatakan dalam Rp/kg.

19. Harga rata-rata masakan (PRMS) adalah harga rata-rata martabak pada pedagang martabak kaki lima,dinyatakan dalam Rp/buah, dan harga rata-rata masakan pada pedagang warung tenda pecel lele, dinyatakan dalam Rp/porsi.

20. Tenaga kerja adalah seseorang yang bekerja pada usaha martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele dan mendapatkan upah, dihitung dalam orang.

21. Frekuensi pembelian LPG adalah berapa kali dalam sebulan pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele membeli LPG untuk kebutuhan usahanya.

22. Tempat pembelian LPG adalah lokasi dimana pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele melakukan pembelian LPG untuk kebutuhan usahanya.

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Keadaan Geografis

Kota Bogor merupakan salah satu kota yang berada di bawah wilayah administratif Propinsi Jawa Barat dan memiliki lokasi yang strategis karena letaknya hanya 60 km dari wilayah DKI Jakarta, ibukota Negara Republik Indonesia dan sekitar 120 km dari ibukota Propinsi Jawa Barat. Selain itu keberadaan Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor serta jalur tujuan wisata Puncak/

Cianjur merupakan potensi yang strategis untuk pertumbuhan dan perkembangan kegiatan ekonomi di Kota Bogor (BPS, 2008).

Kota Bogor terletak di antara 106˚43’30”BT - 106˚51’00”BT dan 30’ 30”

LS - 6˚41’00”LS. Luas wilayah Kota Bogor adalah 11 850 km2. Kota Bogor memiliki iklim yang khas, lokasinya yang terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m dari permukaan laut, maka udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26°C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70 persen. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21.8°C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson.

Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat.

Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0–15 persen dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15–30 persen. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga

uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Meskipun dijuluki “Kota Hujan”, Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir karena di wilayah Kota Bogor mengalir beberapa sungai yaitu : Sungai Ciliwung, Cisadane, Cipakancilan, Cidepit, Ciparigi, dan Cibalok (BPS 2008).

Secara administratif, Kota Bogor terbagi menjadi enam kecamatan, yaitu Kecamatan Bogor Selatan, Bogor Utara, Bogor Timur, Bogor Tengah, Bogor Barat, dan Tanah Sareal. Terdapat 31 kelurahan, 37 desa, 210 dusun, 623 RW, dan 2 712 RT. Adapun batas-batas wilayah Kota Bogor adalah sebagai berikut : a. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan

Caringin, Kabupaten Bogor

b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor

c. Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Bojong Gede, dan Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor d. Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Kemang dan Kecamatan

Dramaga Kabupaten Bogor 5.2 Keadaan Demografi

Hasil Registrasi Penduduk akhir tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Bogor sebanyak 946 204 jiwa, terdiri dari 481 559 jiwa laki-laki dan 464 645 jiwa perempuan, terdapat kenaikan sebesar 0.42 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut diduga karena faktor penarik Kota Bogor sendiri mengingat semakin banyaknya fasilitas sosial yang mudah diperoleh selain itu juga Kota Bogor merupakan kota penyangga ibukota negara, sehingga menarik para pendatang untuk tinggal dan menanamkan usahanya di kota Bogor (BPS

68

Kota Bogor, 2010). Jumlah rumah tangga, penduduk, luas wilayah dan kepadatan penduduk per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Jumlah Rumah Tangga, Penduduk, Luas Wilayah, dan Kepadatan Penduduk Kota Bogor Tahun 2009

No Kecamatan Rumah Tangga Jumlah Penduduk

Luas Wilayah Kepadatan Penduduk

1 Bogor Selatan 44 603 180 270 30.81 5 851

2 Bogor Timur 24 888 94 722 10.15 9 332

3 Bogor Utara 40 706 166 943 17.72 9 421

4 Bogor Tengah 29 063 112 425 8.13 13 828

5 Bogor Barat 53 328 205 997 32.85 6 271

6 Tanah Sareal 46 314 185 847 18.84 9 864

Kota Bogor 238 902 946 204 118.50 7 985 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bogor (2010)

Sex Ratio penduduk Kota Bogor adalah 104 yang artinya setiap 104 penduduk laki-laki berbanding dengan 100 penduduk perempuan. Dengan luas daerah tingkat II Kota Bogor adalah 118.50 km2, ini berarti kepadatan penduduk per km2 sebesar 7 985 jiwa.

Kecamatan Bogor Barat merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu 205 997 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Bogor Timur yang hanya 94 722 jiwa. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk paling tinggi, yaitu 13 828 jiwa/km2, hal ini disebabkan karena pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi banyak berada di kecamatan ini.

5.3 Keadaan Ekonomi

Berdasarkan data BPS tahun 2010, laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor terpacu mencapai 6.02 persen. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2009 mencapai 11.9 triliun rupiah. PDRB berdasarkan harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kota Bogor tahun 2005-2009

memiliki kecenderungan yang terus meningkat. Laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2005-2009 lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan, hal ini menunjukkan adanya kenaikan harga yang cukup tinggi terhadap barang dan jasa yang dihasilkan di Kota Bogor pada periode waktu tersebut. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor Tahun 2005-2009 terdapat pada Tabel 13.

Tabel 13. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor Tahun 2005-2009

Tahun PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

(Rupiah)

Pertumbuhan (%)

PDRB Atas Dasar Harga Konstan

(Rupiah)

Pertumbuhan (%)

2005 6 191 918.90 - 3 567 238.91 -

2006 7 257 742.09 17.21 3 782 273.71 6.02 2007 8 558 035.70 17.91 4 012 743.17 6.09 2008 10 089 943.96 17.90 4 252 821.78 5.98 2009 11 904 599.66 17.98 4 508 705.07 6.02 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bogor Tahun (2010)

2006 7 257 742.09 17.21 3 782 273.71 6.02 2007 8 558 035.70 17.91 4 012 743.17 6.09 2008 10 089 943.96 17.90 4 252 821.78 5.98 2009 11 904 599.66 17.98 4 508 705.07 6.02 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bogor Tahun (2010)