BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Permintaan
Dari segi ilmu ekonomi pengertian permintaan sedikit berbeda dengan
pengertian yang digunakan sehari-hari. Menurut pengertian sehari-hari, permintaan
diartikan secara absolut yaitu menunjukkan jumlah barang yang dibutuhkan,
sedangkan dari sudut ilmu ekonomi permintaan mempunyai arti apabila didukung
oleh daya beli konsumen yang disebut dengan permintaan efektif. Jika permintaan
hanya didasarkan atas kebutuhan saja dikatakan sebagai permintaan absolut
(Nicholson, 1995).
Kemampuan membeli seseorang tergantung atas dua unsur pokok yaitu,
pendapatan yang dibelanjakan dan harga barang yang dikehendaki. Apabila jumlah
pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh seseorang berubah, maka jumlah barang
yang diminta juga akan berubah. Demikian juga halnya apabila harga barang yang
dikehendaki berubah maka jumlah barang yang dibeli juga akan berubah (Sudarsono,
1990).
Terdapat dua model dasar permintaan yang berkaitan dengan harga, pertama
adalah kenaikan harga menyebabkan para pembeli mencari barang lain yang dapat
digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan harga
(substitusi atau komplementer). Bila kenaikan harga suatu barang menyebabkan
permintaan barang lain meningkat (hubungan positif), disebut barang substitusi
barang lain dengan menambah pembelian terhadap barang yang mengalami
penurunan harga. Penurunan harga suatu barang menyebabkan penurunan
permintaaan barang-barang substitusinya, dimana barang substitusi adalah barang
yang dapat berfungsi sebagai pengganti barang lain (Nicholson, 1995). Dan bila dua
jenis barang saling melengkapi, penurunan harga salah satunya mengakibatkan
kenaikan permintaan akan yang lainnya dan sebaliknya jika terjadi kenaikan harga
salah satunya akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap barang yang
lainnya. Bila kenaikan harga suatu barang menyebabkan permintaan barang lain
menurun (hubungan negatif), maka disebut barang komplementer (Nicholson, 1995).
Kedua adalah kenaikan harga menyebabkan pendapatan real para pembeli berkurang
(Sukirno, 2002).
Dalam analisis ekonomi diasumsikan bahwa permintaan suatu barang sangat
dipengaruhi oleh harga dari barang itu sendiri (ceteris paribus). Permintaan seseorang
atau masyarakat terhadap suatu barang ditentukan oleh banyak faktor, antara lain;
harga barang itu sendiri, harga barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan
barang tersebut, pendapatan masyarakat, cita rasa masyarakat dan jumlah penduduk
maka dapat dikatakan bahwa permintaan terhadap suatu barang dipengaruhi oleh
banyak variabel (Nicholson, 1991).
Teori permintaan diturunkan dari prilaku konsumen dalam mencapai
kepuasan maksimum dengan memaksimumkan kegunaan yang dibatasi oleh anggaran
yang dimiliki. Hal ini tentu dapat dijelaskan dengan kurva permintaan, yaitu kurva
konsumen dengan harga alternatif pada waktu tertentu (ceteris paribus), dan pada
harga tertentu orang selalu membeli jumlah yang lebih kecil bila mana hanya jumlah
yang lebih kecil itu yang dapat diperolehnya.
Permintaan terhadap suatu komoditi yang dihasilkan oleh produsen terjadi
karena konsumen bersedia membelinya. Komoditi yang dikonsumsi mempunyai sifat
yang khas sebagaimana yang terdapat dalam faktor produksi. Dan semakin banyak
komoditi tersebut dikonsumsi maka kegunaan komoditi tersebut akan semakin
berkurang dengan demikian pembeli akan lebih banyak membeli komoditi tersebut
jika harga satuanya menjadi lebih rendah (Sugiarto, 2000).
Sudarsono (1990), mengelompokkan kerangka pemikiran Marshall bersifat
parsial karena berdasarkan konsep ceteris paribus dimana permintaan dianggap
sebagai kurva. Sementara itu Leon Walras lebih bersifat general karena memasukkan
semua variabel yang mempengaruhi jumlah barang yang diminta, dan secara
matematis dapat digambarkan dalam bentuk umum sebagai berikut :
Qd = f (Pd, Ps, Pk, ……., Y, e), …...(1)
dimana :
Qd : jumlah barang yang diminta Pd : harga barang yang diminta. Ps : harga barang substitusi. Pk : harga barang komplementer.
Y : pendapatan konsumen yang tersedia untuk dibelanjakan. e : faktor lain yang tidak dibahas.
Sejalan dengan pemikiran Walras, beberapa ahli mengemukakan pendapatnya.
Lipsey, Steiner dan Purvis (1993) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat permintaan (determinant of demand) adalah :
1. Harga komoditi itu sendiri.
2. Rata-rata penghasilan rumah tangga.
3. Harga komoditi yang berkaitan.
4. Selera (teste).
5. Distribusi pendapatan diantara rumah tangga.
6. Besarnya populasi.
Sudarsono (1980), mengatakan bahwa tujuan dari teori permintaan adalah
mempelajari dan menentukan berbagai faktor yang mempengaruhi permintaan.
Faktor-faktor yang dimaksud adalah harga barang itu sendiri, harga barang lainnya
(bersifat substitusi atau komplementer), pendapatan dan selera konsumen. Disamping
variabel-variabel yang disebutkan diatas, maka distribusi pendapatan, jumlah
penduduk, tingkat preferensi konsumen, kebijaksanaan pemerintah, tingkat
permintaan dan pendapatan sebelumnya turut juga mempengaruhi permintaan
terhadap suatu barang.
Sukirno (2002), menyampaikan bahwa permintaan suatu barang fluktuasinya
akan sangat tergantung kepada beberapa faktor antara lain :
1. Perkembangan dan perubahan tingkat kehidupan penduduk. Ketika terjadi
perkembangan tingkat kehidupan yang lebih baik, maka permintaan akan suatu
2. Perkembangan dan peningkatan pendapatan perkapita penduduk. Ketika
pendapatan seseorang naik, akan meningkatkan jumlah konsumsi yang berarti
juga akan meningkatkan permintaan terhadap suatu jenis barang.
3. Pergeseran dan kebiasaan, selera dan kesukaan penduduk. Pergeseran selera
masyarakat terjadi karena adanya perubahan dalam faktor-faktor yang mendasari
permintaan tersebut, seperti kenaikan pendapatan.
4. Kegagalan produksi yang menyebabkan langkanya suatu produk di pasaran. Hal
ini akan menyebabkan meningkatnya permintaan akan barang tersebut hingga
waktu tertentu. Dan apabila sampai dengan waktu yang ditentukan produk juga
belum ada, maka konsumen akan mencari produk penggantinya.
5. Bencana alam dan peperangan. Terjadinya bencana alam dan peperangan dapat
mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap satu jenis produk, karena
terhambatnya saluran distribusi atau aktivitas usaha, misalnya disebabkan oleh
tidak adanya kepastian keamanan ataupun kondisi geografis yang tidak
mendukung.
6. Faktor peningkatan penduduk. Adanya peningkatan jumlah penduduk akan
menyebabkan peningkatan permintaan akan kebutuhan-kebutuhan masyarakat,
yang meliputi sandang, pangan dan papan.
Maka secara sederhana hukum permintaan dapat dirumuskan sebagai berikut;
bahwa jumlah barang yang akan dibeli per unit waktu akan menjadi semakin besar,
jika harga semakin rendah dimana faktor lain tetap (ceteris paribus). Apabila harga
komoditi itu (Q). Demikian juga jika harga (P) turun (ceteris paribus) maka kuantitas
yang diminta akan meningkat. Namun demikian terdapat pengecualian untuk
beberapa jenis barang tertentu yaitu :
a. Barang inferior (inferior goods), adalah barang-barang yang permintaannya
menurun jika pendapatan naik.
b. Barang prestise (prestig goods), yakni jika harga barang-barang mengalami
kenaikan maka permintaannya bertambah.
c. Pengaruh harapan yang dinamis (dynamic expectational effects), adalah barang-
barang yang jika harganya turun maka jumlah permintaannya turun, apabila orang
mengharapkan bahwa harga akan terus menerus mengalami penurunan.
Kaidah permintaan dapat dinyatakan dalam cara yang paling sederhana
sebagai berikut; 1) Pada harga tinggi, lebih sedikit barang yang akan diminta jika
dibandingkan dengan harga rendah (ceteris paribus), 2) Pada saat harga komoditi
rendah, maka lebih banyak yang akan diminta jika dibandingkan dengan saat harga
tinggi (ceteris paribus). Jadi kaidah permintaan mengatakan bahwa kuantitas yang
diminta untuk suatu barang berhubungan terbalik dengan harga barang tersebut
(ceteris paribus) pada setiap tingkat harga (Miler dan Meiners, 2000). Dan apabila
pendapatan bertambah, maka bagian yang akan dibelanjakan oleh konsumen juga
akan bertambah, sehingga jumlah barang yang bisa dibeli oleh konsumen akan
meningkat.
Selanjutnya Reksoprayitno (2000), memilah perkembangan teori permintaan
Teori permintaan statis dinamakan juga sebagai teori permintaan tradisional, yang
memusatkan perhatiannya pada prilaku konsumen serta beberapa faktor lain yang
mempengaruhi permintaannya. Faktor-faktor ini antara lain adalah; harga barang
yang diminta, harga barang lainnya, tingkat pendapatan dan selera. Teori permintaan
statis ini didasarkan pada beberapa asumsi yaitu; permintaan pasar merupakan total
permintaan perseorangan (individu), konsumen berperilaku rasional, sementara harga
dan pendapatan dianggap tetap dan yang termasuk dalam teori permintaan statis ini
adalah teori utilitas ordinal (ordinal utility theory) dan teori kardinal utilitas (cardinal
utility theory).