C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
2. Permodalan Bank Syariah
Modal bank yang ada di Bank Syariah salah satunya di dapat dari dana masyarakat, menurut Adiwarman A. Karim dalam bukunya Bank Islam Analisis Fikih dan Keuangan (2009:107) penghimpunan dana di Bank Syariah dapat berbentuk giro, tabungan, dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi’ah dan Mudharabah.
Prinsip Wadi’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Wadi’ah dhamanah berbeda dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah amanah, pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi. Sementara itu, dalam hal
21 keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.
Sedangkan Mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai
shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai mudharib (pengelola). Prinsip mudharabah ini diaplikasikan pada produk tabungan berjangka dan deposito berjangka. (Adiwarman Karim, 2009:108-109).
Mudharabah adalah sistem kerja sama usaha antara dua pihak atau lebih di mana pihak pertama (shahib al-mâl) menyediakan seluruh (100%) kebutuhan modal (sebagai penyuntik sejumlah dana sesuai kebutuhan pembiayaan suatu proyek), sedangkan nasabah sebagai pengelola
(mudharib) mengajukan permohonan pembiayaan dan untuk ini nasabah sebagai pengelola (mudharib) menyediakan keahliannya (Veithzal Rivai, 2007:471).
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan (Rodoni dan Hamid, 2008:27-28).
Istilah mudharabah merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh bank-bank Islam. Prinsip ini juga dikenal sebagai “qiradh” atau “muqaradah”.
Mudharabah adalah perjanjian atau suatu jenis perkongsian, dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan dana dan pihak kedua (mudharib) bertanggung jawab atas pengelolaan usaha. Keuntungan hasil
22 usaha dibagikan sesuai dengan nisbah porsi bagi hasil yang telah disepakati bersama sejak awal maka kalau rugi shahibul maal akan kehilangan sebagian imbalan dari hasil kerja keras dan managerial skill selama proyek berlangsung (Wiroso, 2005:33).
Landasan syariah mudharabah ini lebih mencerminkan agar setiap umat dianjurkan untuk melakukan usaha, seperti tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis berikut (Veithzal Rivai dkk, 2007:471).
Surat Al-Muzzammil [73]:20), yang artinya:”…dan dari orang- orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT…..”
Surat Al-Jumu’ah [2]:10, yang artinya:”Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaran engkau di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT…”
HR Thabrani, yang artinya: ”Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW. Dan Rasulullah pun membolehkannya”.
HR Ibnu Majah No. 2280, kitab at-Tijarah, yang artinya: “dari
Shalih bin Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang
23
(mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual”.
a. Rukun Mudharabah
Adapun rukun mudharabah adalah sebagai berikut (Adiwarman Karim, 2009):
1) Pelaku
Akad mudharabah harus ada minimal dua pelaku. Pihak pertama bertindak sebagai pemilik modal (shahibul maal) sedangkan pihak kedua bertindak sebagai pelaksana usaha.
2) Objek mudharabah
Pemilik modal menyerahkan modalnya sebagai objek mudharabah, sedangkan pelaksana usaha menyerahkan kerjanya sebagai objek
mudharabah. Modal yang diserahkan bisa berbentukuang atau barang yang dirinci berapa nilai uangnya. Sedangkan kerja yang diserahkan bisa berbentuk keahlian, keterampilan, selling skill, management skill, dll.
3) Persetujuan kedua belah pihak
Disini kedua belah pihak harus secara rela bersepakat untuk mengikatkan diri dalam akad mudharabah.
4) Nisbah keuntungan
Nisbah ini merupakan rukun yang khas dalam akad mudharabah, yang tidak ada dalam akad jual beli. Nisbah ini mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua belah pihak yang ber-mudharabah.
24
Mudharib mendapatkan imbalan atas kerjanya, sedangkan shahibul maal mendapat imbalan atas penyertaan modalnya. Nisbah
keuntungan inilah yang akan mencegah terjadinya perselisihan antara kedua belah pihak mengenai cara pembagian keuntungan. Nisbah
keuntungan ini harus dinyatakan dalam bentuk persentase bukan dalam bentuk nominal Rupiah tertentu. Nisbah keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan porsi setoran modal.
Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang telah dituangkan dalam kontrak. Apabila mengalami kerugian akan ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan dikarenakan kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian tersebut disebabkan oleh kecurangan atau kelalaian si pengelola maka si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut (Antonio, 2009:95).
Sebenarnya pihak mudharib pun menanggung kerugian. Kerugian tersebut antara lain hilangnya pekerjaan, usaha dan waktu yang telah ia curahkan untuk menjalankan bisnis tersebut (Adiwarman Karim, 2009:208). Namun ketentuan tersebut di atas hanya berlaku apabila kerugian yang terjadi murni diakibatkan oleh risiko bisnis, bukan karena kelalaian ataupun kecurangan dari pihak mudharib. Jika terjadi kerugian, cara menyelesaikannya adalah (Adiwarman Karim, 2009:210) :
a) Diambil dulu dari keuntungan, karena keuntungan merupakan pelindung modal.
25 b) Bila kerugian melebihi keuntungan, baru diambil dari pokok modal. Besarnya nisbah ditentukan berdasarkan kesepakatan masing-masing pihak yang berkontrak. Jadi, angka besarnya nisbah muncul dari hasil tawar-menawar antara shahibul maal dan mudharib (Adiwarman, 2009:209).
b. Bentuk-bentuk Mudharabah
Mudharib mulai mengelola kontrak mudharabah semenjak menerima modal untuk aktivitas usahanya. Mudharib memiliki kebebasan dalam mengelola usahanya dan semua keputusan yang berkaitan dengan kontrak tersebut. Mazhab Hanafi, yang mungkin merupakan salah satu mazhab yang memberikan kebebasan yang luas kepada mudharib dalam mengelola kontrak tersebut, membagi kontrak
mudharabah ke dalam dua bentuk, yaitu: kontrak mudharabah yang tidak dilarang dan kontrak mudharabah yang terlarang.
Kontrak mudharabah yang tidak terlarang adalah kontrak dimana pihak mudharib diberi kebebasan yang luas dalam mengelola usahanya serta menentukan keputusan yang menurutnya dianggap paling tepat. Adapun mengenai kontrak mudharabah yang terlarang adalah bahwa
mudharib bebas menjalankan usahanya sebatas sesuai dengan praktek yang umumnya berlaku dalam perdagangan (Abdullah Saeed, 2008:94- 95).
Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana, mudharabah terbagi dua yaitu (Adiwarman Karim, 2009:109-111):
26 1. Mudharabah mutlaqah (URIA), tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun. Nasabah tidak memberikan persyaratan apapun kepada bank, ke bisnis apa dana yang disimpannya itu hendak disalurkan, atau menetapkan penggunaan akad-akad tertentu, ataupun mensyaratkan dananya diperuntukkan bagi nasabah tertentu. Jadi bank memiliki kebebasan penuh untuk menyalurkan dana ini ke bisnis manapun yang diperkirakan menguntungkan.
2. Mudharabah muqayyadah (RIA) ada dua jenis, yaitu: Mudharabah
muqayyadah on balance sheet dan Mudharabah muqayyadah of balance sheet.
Mudharabah muqayyadah on balance sheet merupakan simpanan khusus dimana pihak pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank. Misalnya disyaratkan digunakan untuk bisnis tertentu, atau disyaratkan digunakan dengan akad tertentu, atau disyaratkan digunakan untuk nasabah tertentu.
Mudharabah muqayyadah of balance sheet merupakan penyaluran dana mudharabah langsung kepada pelaksana usahanya, di mana bank bertindak sebagai perantara yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha. Pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank dalam mencari bisnis (pelaksana usaha).
27 c. Penerapan Mudharabah dalam Perbankan Syariah
Sejauh ini, skema mudharabah yang telah dibahas adalah skema yang berlaku antara dua pihak secara langsung. Skema ini adalah skema standar yang dipraktekkan oleh nabi dan para sahabat serta umat muslim sesudahnya. Modus mudharabah seperti itu tidak efisien lagi dan kecil kemungkinan untuk dapat diterapkan oleh bank, karena beberapa hal (Adiwarman Karim, 2009:210) :
1) Sistem kerja pada bank adalah investasi berkelompok, di mana mereka tidak saling mengenal. Jadi kecil sekali kemungkinannya terjadi hubungan yang langsung dan personal.
2) Banyak investasi sekarang ini membutuhkan dana dalam jumlah besar, sehingga diperlukan puluhan bahkan ratus ribuan shahibul maal untuk sama-sama menjadi penyandang dana suatu proyek tertentu.
3) Lemahnya disiplin terhadap ajaran islam menyebabkan sulitnya bank memperoleh jaminan keamanan atas modal yang disalurkannya.
Penerapan mudharabah dalam perbankan antara lain (Antonio, 2009:97) :
1) Tabungan berjangka yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus seperti tabungan haji, tabungan qurban dsb.
28 3) Deposito spesial (special investment) dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah saja atau
ijarah saja.
Sedangkan pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk:
a) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa. b) Investasi khusus disebut juga mudharabah muqayyadah di mana
sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat- syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.
d. Manfaat Mudharabah
Mudharabah memiliki manfaat sebagai berikut (Antonio, 2009:97-98):
1) Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
2) Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan pernah mengalami
negatif spread. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow atau arus kas usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah.
3) Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan yang kongkrit dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.
29 4) Prinsip bagi hasil dalam mudharabah atau musyarakah ini berbeda
dengan prinsip bunga tetap di mana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap berapa pun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan tidak terjadi krisis ekonomi.
e. Risiko Mudharabah
Adapun risiko yang terdapat dalam mudharabah, terutama pada penerapan dalam pembiayaan relatif tinggi. Di antaranya (Antonio, 2009:98):
1) Side streaming yaitu nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak
2) Lalai dan kesalahan yang disengaja
3) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur
Perbankan syariah memiliki kelembagaan yang agak berbeda dengan perbankan konvensional. Dalam perbankan syariah, bank terbagi menjadi: (Veithzal Rivai dkk, 2007:753-757).
a. Bank Syariah
Secara kelembagaan, bank syariah di Indonesia dapat dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).
30 b. Dewan Syariah Nasional
Dewan Syariah Nasional dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk memastikan kesesuaian antara produk, jasa, dan kegiatan usaha lembaga keuangan syariah (bank, asuransi, reksadana, modal ventura, dan sebagainya) dengan prinsip syariah.
c. Dewan Pengawas Syariah
Dewan Pengawas Syariah setingkat dewan komisaris yang bersifat independen, yang dibentuk oleh Dewan Syariah Nasional dan ditempatkan pada lembaga keuangan syariah yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, dengan tugas yang diatur oleh Dewan Syariah Nasional.
d. Badan Arbitrase Syariah Nasional
Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) adalah lembaga yang menengani perselisihan antara bank dan nasabahnya sesuai dengan tata cara dan hukum syariah.
e. Bank Indonesia
Peran Bank Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perbankan syariah nasional saat ini. Bank Indonesia telah melakukan langkah-langkah kebijakan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, kompetitif, efisien, dan hati-hati bagi industri perbankan syariah.
31 f. Kontrak Berlakunya Mudharabah
Kontrak mudharabah tidak memuat aturan khusus mengenai
batas berlakunya kontrak. Pengikut mazhab Maliki dan Syafi’I
berpendapat, adanya batasan masa berlakunya kontrak akan membuat kontrak batal. Namun pengikut mazhab Hanafi dan Hanbali tetap memperkenankan klausa tersebut. Para ulama yang berpegang pada pendapat yang pertama beranggapan bahwa batasan waktu yang terdapat pada kontrak mudharabah kemungkinan akan menyebabkan lepasnya kesempatan emas bagi pihak mudharib untuk dapat mengembangkan usahanya atau merusak rencana-rencananya, sebagai akibatnya mudharib
tidak dapat merealisasikan tujuan utama dari kontrak tersebut, yaitu mendapatkan keuntungan (profit) dari usaha yang dijalankannya.
Kontrak mudharabah dapat diakhiri oleh salah satu pihak dengan jalan memberitahu pihak lain atas keputusan tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena mayoritas ulama menyatakan bahwa mudharabah
bukanlah bentuk kontrak yang mengikat. Disini tidak terdapat perbedaan mengenai kapan berlangsungnya mengakhiri kontrak mudharabah, sekalipun mudharib belum mulai menjalankan aktivitas usaha yang
berdasarkan pada kontrak tersebut. Imam Syafi’I dan Abu Hanifah
berpendapat bahwa kontrak mudharabah dapat diakhiri kapan saja, sekalipun mudharib sudah mulai menjalankan usahanya. Meskipun demikian, Imam Malik tidak memperkenankan mengakhiri kontrak sebagaimana kasus di atas. Menurutnya, kalau itu dilakukan, maka
32
mudharabah tidak sah. Apapun alasannya itu, menjadikan pihak
mudharib akan mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya sendiri, tidak dari yang lain. Jika demikian, maka namanya tidak kontrak
mudharabah tetapi kontrak kerja (ijarah). Apabila berdasarkan kontak kerja, maka semua keuntungan yang diperoleh akan menjadi miliknya sebagai kompensasi hasil dari pekerjaannya (Abdullah Saeed, 2008:96- 97).