• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Permodelan Lokasi Kegiatan

Proses pelaksanaan penelitian ini pada prinsipnya terbagi dalam tiga bagian yaitu pendahuluan/persiapan ,pengumpulan, pengolahan serta analisis data. Adapun penelitian ini dimulai dari tahapan pendahuluan/persiapan yang meliputi:

1) Administrasi

Administrasi disini maksudnya adalah melakukan pengurusan administratif seperti surat-menyurat permohonan pendampingan kepada dosen pembimbing, kelengkapan syarat pengajuan penelitian, surat perijinan melakukan penelitian pada lokasi sasaran, surat permohonan permintaan data kepada instansi tertentu dan sebagainya yang berhubungan dengan kepentingan penelitian.

B T

S U

Pasir

Lempung

Lanau

Lempung

Lanau

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold

Formatted: Space Before: 12 pt

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Heading 3, Left, None, Line spacing: single, No bullets or numbering, Tab stops: Not at 11,69 cm Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: First line: 0 cm Formatted: No bullets or numbering Formatted: Indent: Left: 0 cm, First line: 0 cm

2) Peninjauan Lapangan dan Survei Pendahuluan

Peninjauan lapangan dan survei pendahuluan merupakan kegiatan survei awal di lapangan untuk mengetahui orientasi lapangan serta mengumpulkan data-data lapangan eksisting secara visual dan nyata di lokasi penelitian. Sehingga kita dapat gambaran untuk melakukan penyusunan rencana detail survei apabila memang diperlukan.

1) Teknis Pendahuluan/Persiapan

Dalam penelitian ini persiapan teknis yang dipersiapkan setelah melakukan peninjauan lapangan meliputi beberapa item seperti berikut:

a) Mobilisasi peneliti dan surveior

Sebelumnya peneliti harus melakukan inspeksi lapangan terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana kondisi lapangan dan memastikan apakah peneliti dan surveior dapat melakukan mobilisasi ke lokasi penelitian dengan akses transportasi atau tidak demi kelancaran penelitian untuk kedepannya, maka akses transportasi dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian.

b) Mobilisasi alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian

4.4 Data Penelitian

Data yang diperlukan dalam penelitian studi efektifitas sekat kanal ini antara lain sebagai berikut:

4.2.1 Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dengan cara pengamatan dan peninjauan langsung di lapangan oleh peneliti. Data primer ini berupa data-data survei lapangan sebagai berikut:

1. Inventarisasi Permasalahan

Peneliti hendaknya menelusuri permasalahan atau kejadian yang pernah terjadi di lokasi penelitian misalnya seringnya terjadi kebakaran, terjadinya kekeringan lahan, banjir, over drain serta kendala di sekitar lokasi penelitian yang dialami oleh penduduk/petani sekitar. Inventarisasi permasalahan dapat dilakukan dengan melakukan wawancara.

2. Data Topografi dan Peta

Peta yang menyajikan unsur ketinggian yang mewakili dari bentuk lahan. Pada penelitian ini pengukuran topografi dilakukan dengan menggunakan alat theodolite roll meter, dan untuk positioning menggunakan GPS.

Formatted: No bullets or numbering Formatted: Indent: Left: 0 cm, First line: 0 cm

Formatted: No bullets or numbering Formatted: Indent: Left: 0 cm, First line: 0 cm

Formatted: No bullets or numbering Formatted: Indent: Left: 0 cm

Formatted: No bullets or numbering Formatted: Indent: Left: 0 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Font color: Auto Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Bold, Font color:

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Tujuan dari pengukuran topografi yaitu untuk mendapatkan peta situasi dan peta topografi serta mendapatkan gambaran elevasi penampang memanjang dan melintang area penelitian.

3. Data Hidrometri

Data hidrometri pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fluktuasi muka air dan kecepatan aliran. Data fluktuasi muka air digunakan untuk kepentingan profil muka air tanah, sedangkan data kecepatan aliran sendiri digunakan untuk salah satu parameter perhitungan stabilitas sekat kanal.

4. Data Infiltrasi

Data infiltrasi atau uji permeabilitas dilakukan dengan menggunakan alat double ring turf-tec infiltrometer. Tujuannya adalah untuk mengetahui laju masuknya air ke permukaan tanah, laju masuknya air ke dalam tanah (rembesan) dan mengetahui nilai parameter infiltrasi (fo, fc dan K).

5. Pemasangan dan Pemantauan Instrumentasi Muka Air

Untuk pemantauan uji pengukuran ketinggian air tanah pada sumur uji, pemantauan menggunakan alat Water Level Indicator. Sedangkan untuk pemantauan ketinggian muka air permukaan pada saluran menggunakan rambu ukur kayu yang dipasang secara vertikal pada kanal.

Selain itu, perlu diperhatikan beberapa data primer lain untuk mendukung proses penelitian, yaitu:

1. Foto lokasi (kondisi lapangan) 2. Peta Basemap lokasi sumur uji 3. Elevasi lahan

4. Lokasi sekat kanal.

5. Data parameter tanah gambut

4.2.2 Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau melalui media perantara seperti dari instansi–instansi maupun institusi–institusi yang berkaitan dengan lokasi penelitian. Adapun data sekunder yang diperlukan, sebagai berikut:

a) Data Peta Administrasi

Peta Administrasi adalah peta yang menginformasikan mengenai batas-batas administatif terkecil suatu wilayah sampai terbesar misalnya, Dusun, Desa,

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Negara. Peta bisa didapatkan melalui kelurahan, kecamatan, maupun internet.

b) Data Peta Citra Satelit

Peta citra satelit merupakan peta yang dihasilkan dari masukan data atau hasil observasi dalam proses penginderaan jauh atau hasil dari pemotretan/perekaman alat sensor yang dipasang pada wahana satelit ruang angkasa dengan ketinggian lebih dari 400 km dari permukaan bumi. Digunakan untuk pemantauan lapangan secara umum kondisi eksisting lapangan untuk memudahkan penentuan titik penempatan sumur uji. Peta bisa didapatkan melalui Google Earth (internet) dan pemantauan langsung dengan drone.

c) Data Curah Hujan Harian dan Data Klimatologi Harian

Data curah hujan harian dan data klimatologi harian di kawasan sekitar Landasan Ulin Utara. Data ini didapatkan dari Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Jln. Angkasa Landasan Ulin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Data curah hujan juga diperoleh dari situs resmi BMKG secara online.

d) Data Parameter Sifat Fisik Tanah Gambut

Data parameter sifat fisik tanah gambut diperoleh dengan menguji sampel tanah yang diambil dari lapangan

Untuk membuat penelitian lebih mudah dan terarah, maka dibuatlah matrik data penelitian. Matrik data penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut:

Tabel 4.1 Matrik Data Primer dan Sekunder N

o Data Sumber Keterangan Keperluan

1 beda elevasi di seluas area penelitian untuk pembuatan peta situasi detail dan untuk membantu

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

2 curah hujan yang meresap) kedalam tanah dan

mempengaruhi tinggi muka air tanah karena debit inflow dan outflow.

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

6 tinggi muka air tanah untuk membuat kontur profil muka air tanah. muka air tanah dan perhitungan

Sifat fisik tanah gambut tanah gambut di lokasi penelitian.

Permodelan pada penelitian ini mengikuti hasil dari

4.3 Teknik

Pengumpulan Data Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Indent: Left: 0,85 cm

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm

4.3.1 Pengukuran Topografi

Pengukuran pada topografi area penelitian untuk mengetahui elevasi lahan menggunakan bantuan alat theodolite/waterpass dan roll meter untuk

pengukuran penampang melintang dan memanjang lahan serta GPS untuk melakukan positioning di sekeliling pinggiran guludan dan tabukan lahan serta letak sumur uji.

4.3.2 Monitoring Muka Air Tanah

Untuk pemantauan uji pengukuran ketinggian air tanah pada sumur uji pemantauan menggunakan alat Water Level Indicator, pengukuran dilakukan berkala setiap satu minggu sekali namun karena cuaca tidak dapat ditebak maka pengukuran juga dilakukan secara tentatif sehingga dapat

mengumpulkan data sebanyak mungkin. Sedangkan untuk pemantauan ketinggian muka air permukaan pada saluran menggunakan rambu ukur kayu yang dipasang secara vertikal pada kanal.

Berikut pemaparan monitoring muka air tanah dilakukan dengan menggunakan sumur uji dan juga pembacaan pada rambu ukur kayu yang dipasang pada kanal.

4.3.2.1 Sumur Uji

Berikut ini langkah-langkah pembuatan dan cara pembacaan muka air tanah pada sumur uji:

(1) Membuat lubang dengan alat handboring untuk sumur uji.

(2) Dilanjutkan dengan memasukkan pipa paralon berukuran 2 inchi yang sudah dilubangi terlebih dahulu pada bagian badan pipa, agar air tanah dapat masuk ke pipa dan mudah diukur ketinggiannya.

(3) Selanjutnya, pastikan pipa berdiri tegak dan kokoh agar tidak mudah goyang posisinya dan pastikan lubang bekas pemboran tertutup rapat kembali terhadap keliling permukaan pipa agar tidak terkontaminasi air hujan.

(4) Lubang pipa yang berada diatas permukaan tanah ditutup dengan penutup pipa pada bagian atasnya agar tidak terkontaminasi air hujan.

Formatted: Heading 3, Left, Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm, Line spacing: single

Formatted: Font: 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Gambar 4.1 Ilustrasi Pembacaan Muka Air Tanah pada Sumur Uji

Cara perhitungan pembacaan sumur uji lapangan dengan menggunakan rumus, sebagai berikut:

Z” = Z – Z’

Keterangan:

Z = Tinggi elevasi dari dasar sampai pada permukaan tanah sumur uji (m)

Z’ =Tinggi dari permukaan tanah pada pipa sumur uji bagian luar sampai

dengan permukaan air di dalam sumur uji (m)

Z” = Tinggi dari ujung pipa yang terlihat diatas permukaan tanah sampai dengan permukaan air tanah di dalam sumur uji (m)

4.3.2.2 Rambu Ukur Kayu

Berikut ini langkah-langkah pembuatan rambu ukur kayu yang dipasang pada kanal, sebagai berikut:

(2) Pengamplasan dan pengecetan warna dasar putih pada kayu ulin yang digunakan sebagai rambu ukur.

(3) Penggambaran dan pengecatan badan dasar kayu ulin yang sudah dicat warna dasar dengan menggunakan cat warna merah sebagai penomoran ukuran.

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Gambar 4.2 Ilustrasi Pembacaan Muka Air pada Kanal

Cara perhitungan pembacaan sumur uji lapangan dengan menggunakan rumus, sebagai berikut:

Z air = Z” - Z’

Z” = Z + Z air

Keterangan:

Z = Tinggi elevasi dari dasar kanal sampai ke bawah (m)

Z’ =Tinggi pembacaan rambu ukur yang tidak terendam air kanal (m) Z” = Tinggi muka air tanah sampai muka kanal (m)

Zair = Tinggi dari permukaan tanah sampai dengan permukaan air (m)

4.3.3 Pengukuran Kecepatan Aliran

Pengukuran kecepatan dilakukan hanya dengan menggunakan pelampung. Pengukuran kecepatan aliran menggunakan pelampung dilakukan untuk mengetahui kecepatan permukaan aliran. Pelampung yang digunakan dihanyutkan pada permukaan bebas aliran sungai sejauh 40 m dengan mencatat waktu tempuh pelampung tersebut hingga pelampung mencapai titik 40 m. Hasil dari pengukuran kecepatan aliran permukaan ini akan digunakan untuk perhitungan stabilitas sekat kanal.

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

4.3.4 Pengujian Infiltrasi

Pengujian infiltrasi adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui besar koefisien atau nilai infiltrasi yang terjadi pada suatu tanah. Alat yang digunakan pada pengujian ini adalah Turf-Tec Double Ring Infiltrometer.

Tujuan dari pengujian ini yaitu:

a) Menentukan nilai parameter infiltrasi : fo, fc dan K.

b) Menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva infiltrasi model horton.

c) Menghitung volume

infiltrasi total selama waktu (t) tertentu.

4.3.5 Perhitungan Evapotranspirasi (ETo)

Setelah mendapatkan data curah hujan harian dan data klimatologi harian di kawasan sekitar Landasan Ulin Utara dari Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Jln. Angkasa Landasan Ulin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan dari situs resmi BMKG secara online. Adapun data curah hujan yang digunakan dalam perhitungan yaitu curah hujan real time atau curah hujan sesuai dengan hari dan tanggal bersangkutan ketika penelitian berlangsung. Selanjutnya melakukan perhitungan nilai evapotranspirasi dengan menggunakan rumus Model Penman Monteith.

4.3.6 Perhitungan Neraca Air

Analisis neraca air yang dilakukan pada penelitian ini merupakan konsep

“penyederhanaan” dari konsep neraca air pada lahan gambut sesungguhnya. Konsep neraca air pada lahan gambut ombrogen dan topogen berbeda karena adanya perbedaan pasokan air. Secara ringkas model neraca air pada lahan gambut dapat dilihat pada gambar berikut:

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Gambar 4.3 Sumber dan Aliran Keluar Air Pada Gambut Topogen (Atas) dan Ombrogen (Bawah). Dimodifikasi dari Rydin dan Jeglum (2006).

4.4 Analisis Data

analisis dan pengolahan data adalah proses identifikasi data, yang dilakukan berdasarkan data primer dan sekunder yang sudah terkumpul. Proses analisis dan pengolahan data ini dimaksudkan agar diperoleh hasil analisa pemecahan masalah yang efektif dan terarah.

Untuk memproses data yang didapat dari survei lapangan akan dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa komputer dengan program Microsoft Excel dan Word

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Indent: Left: 0,85 cm, First line: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Indent: First line: 0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Indent: First line: 0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style

2016, Google Earth, ArcMap 10.3, ArcScene 10.3, Civil 3D 2018 dan SketchUp Pro 2017 sehingga akan diperoleh hasil analisis pengukuran tofografi, permodelan profil tinggi muka air tanah, besarnya nilai infiltrasi dengan Model Horton, besarnya nilai kecepatan aliran dan permodelan layout 3D area penelitian berupa video visual. Untuk infiltrasi akan di abaikan karena meru[akan daerah gambut yang merupakan daerah jenuh dan dianggap tidak terjadi infiltrasi atau infiltrasi = 0. Berikut ini adalah hasil dari permodelan canal blocking:

1) Keadaan Sebelum Canal Blocking

Berikut ini adalah keadaan lokasi kegiatan sebelum adanya canal blocking seperti pada Gambar 4.9 dan Gambar 4.10 berikut ini:

Gambar 4.9 Kondisi Lokasi Penelitian Sebelum Adanya Canal Blocking

1

2

3

Gambar 4.10 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sebelum Adanya Canal Blocking

Dari gambar di atas dapat diketahui arah aliran air dan kondisi existing yang kemudian akan dibandingkan dengan keadaan setelah ada canal blocking.

2) Keadaan Sesudah Canal Blocking

Berikut ini adalah keadaan lokasi kegiatan setelah ada canal blocking seperti pada Gambar 4.11 sampai Gambar 4.14 adalah sebagai berikut:

1

2

3

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, English (United States)

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, English (United States)

Gambar 4. 11 Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking

Gambar 4.12 Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking

A B

C

D E F

Pusat Litbang Sumber Daya Air 50 4.5 Bagan Alur Penelitian

Untuk bagan alir penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

MULAI

Persiapan dan Studi Literatur

1. Survei Lapangan dan Pengumpulan Data 2. Review Studi Terkait Penelitian PERSIAPAN

1. Administrasi 2. Peninjauan Lapangan 3. Teknis

-mobilisasi peneliti dan surveyor

-mobilisasi alat dan bahan

-penyusunan RAB penelitian 4. Mengumpulkan

A

B

C

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Gambar 4.13 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking Bagian-1

INVENTARISASI PERMASALAHAN Melakukan wawancara kepada petani.

Penelusuran terhadap kejadian yang pernah terjadi pada lokasi penelitian.

1. Hasil Monitoring Pengukuran Profil Muka Air Tanah dan Permukaan Sebelum dan Sesudah Sekat Kanal Dibangun dan atau saat musim penghujan dan kemarau.

2. Kontur Profil Muka Air Tanah pada lokasi penelitian selama Monitoring dilaksanakan.

3. Analisis Neraca Air kawasan pada area penelitian.

UJI INFILTRASI

1. Laju masuknya air ke dalam tanah (Rembesan)

2. Nilai Parameter Infiltrasi TOPOGRAFI

HIDROMETRI 1. Fluktuasi Muka Air 2. Kecepatan Aliran

INSTRUMENTASI PEMANTAUAN MUKA AIR

1. Sumur Uji 2. Rambu Ukur

- Tinggi Muka Air Tanah Sebelum dan Sesudah Dibangun Sekat Kanal.

- Tinggi Muka Air Permukaan Sebelum dan Sesudah Dibangun Sekat Kanal

- Pembuatan Kontur berdasarkan hasil pengukuran/monitoring lapangan dengan ArcGIS - ArcMap 10.3

- Mengetahui parameter (f0, fc, dan K).

- Menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva infiltrasi model horton.

- Mengetahui volume infiltrasi total selama waktu (t) tertentu dengan menggunakan Persamaan Model Horton.

-Fluktuasi didapat dari hasil perhitungan kalkulasi monitoring lapangan.

-Dari data kecepatan air yang didapat melalui pengujian lapangan dengan pelampung, selanjutnya dilakukan perhitungan gaya hidrostatis dan hidrodinamis untuk digunakan dalam perhitungan stabilitas sekat kanal.

Elevasi pada Potongan Penampang Memanjang dan Melintang Lahan; Kontur Profil Muka Air Tanah selama Monitoring dilaksanakan

Analisa Hidrologi:

- Analisa Curah Hujan dan Klimatologi dengan Metode Pennman Mointeth untuk perhitungan Evapotranspirasi.

-Analisa Korelasi Dua Variabel - Perhitungan Neraca Air

PEMBAHASANN

KESIMPULAN

SELESAI A

B Data Curah Hujan Harian dan Data Klimatologi Harian

- Jika musim kemarau tiba terjadi kekeringan pada lahan.

- Kejadian yang pernah merugikan petani saat musim kemarau berlangsung pada umumnya karena kebakaran lahan yang disebabkan karena lahan yang tidak digarap namun api merambat ke lahan petani yang digarap bahkan siap panen.

Gambar 3.10 Flowchart Penelitian Bagian

D

E

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt

Gambar 4.14 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking Bagian-2

Berdasarkan hasil dari kedua permodelan di atas maka diperoleh hasil berupa perbandingan seperti pada Gambar 4.15 berikut ini:

F

Gambar 4.15 Perbandingan Kondisi Aliran di Lokasi Kegiatan

Dari gambar diatas diperoleh kesimpulan bahwa semua canal blocking terdapat air dengan muka air tanah <0,4m sekitar 1/3 dari luas daerah penelitian (garis putus-putus hitam).

Sedangkan untuk permodelan muka airnya dapat dilihat pada Gambar 4.16.

Sebelum

Sesudah

Gambar 4. 16 Perbandingan Muka Air di Lokasi Kegiatan dan Penampang Melintangnya Dari permodelan di atas diketahui dengan adanya canal blocking dapat mengurangi daerah yang mengalami kekeringan sebesar ±300 ha, mengubah aliran tanah menjadi lebih lambat (steady), merubah pola aliran dengan merubag air yang berada di dalam canal blocking menjadi pengisi air tanah, pola aliran dan waktu genangan dapat dikontrol.

Sebelum Sesudah

BAB V PENUTUP

5.2 Saran

Adapun saran pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Saat musim kemarau debit disaluran tidak dapat diukur

2) Saat musim penghujan beberapa lokasi banjir sehingga perlu peralatan khusus.

3) Untuk pemantauan sumur pantau dan pembacaan peiscal masih menggunakan metode manual yang dilakukan per minggu sehingga perlu ditingkatkan lagi

4) Pemberian penjelasan dan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar khususnya daerah lahan gambut.

canal blocking dapat menaikan muka air di saluran sekitarnya menjadi 0,7-0,9m serta dapat menambah storage 345.723,30 m3. Dari naiknya tinggi muka air di saluran dapat menaikan tinggi muka air tanah dan aliran dalam tanah menjadi lebih lambat. Dan dari permodelan maka dengan adanya canal blocking dapat membasahi lahan dengan muka air tanah <0,4m berkisar 300 ha. Hal ini dapat mengurangi dampak yang terjadi apabila terjadi kebakaran di lahan gambut di lokasi penelitian.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dengan adanya struktural

DAFTAR PUSTAKA

Gough, R., Holliman, P. J., Fenner, N., Peacock, Mike, Freeman, Christopher, 2016.

Influence of WaterTable Depth on Pore Water Chemistry and Trihalomethane Formation Potential in Peatlands, Water Environment Research, Vol. 88 (2) : 107-117.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2017. Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut.

Najiyati, Sri, Lili Muslihat, dan I N.N. Suryadiputra, 2005. Panduan Pengelolaan Lahan Gambut Untuk Pertanian Berkelanjutan. Proyek CCFPI- Wetlands International Indonesia Programme dan WHC. Bogor.

Noor, Y.R. dan J. Heyde. 2007. Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis Masyarakat di Indonesia. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia.

Wetlands International – Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada.

Bogor.

Pusat Litbang Sumber Daya Air, 2018. Panduan Pembuatan Embung. Jakarta.

Rais, D.S. dan Kurnianto, 2015. Hidrologi Lahan Gambut Indonesia (presentasi powerpoint). IPN toolbox Tema CSubtema C2. www.cifor.org/Ipn-toolbox.

Widjaja-Adhi, I P.G. 1995. Pengelolaan tanah dan air dalam pengembangan sumberdaya lahan rawa untuk usahatani berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Makalah disampaikan pada Pelatihan Calon Pelatih untuk Pengembangan Pertanian di daerah Pasang Surut, 26-30 Juni 1995, Karang Agung Ulu, Sumatera Selatan.

Formatted: Default Paragraph Font, Font: (Default) Calibri, 11 pt, Indonesian

Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut

LAMPIRAN A

Tabel A.1 Tinggi Muka Air Tanah

14/08/2018 22/09/2018 29/09/2018 02/10/2018 06/10/2018 13/10/2018 20/10/2018 14/12/2018 15/12/2018 16/12/2018

SP 01 0,841 0,841 0,775 0,704 0,651 0,651 0,635 1,559 1,579 1,621

SP 02 1,158 1,369 1,272 1,251 1,206 1,351 1,351 1,998 1,998 1,991

SP 03 2,089 2,129 2,109 2,079 2,082 2,198 2,499 3,439 3,439 3,439

SP 04 1,898 1,876 1,863 1,830 1,846 1,848 1,846 3,043 3,053 3,053

SP 05 2,516 2,349 2,309 2,259 2,204 2,503 2,469 3,339 3,559 3,579

SP 06 2,652 2,396 2,330 2,313 2,357 2,909 2,878 3,542 3,621 3,507

SP 07 2,226 2,077 1,997 1,989 2,203 2,204 2,958 2,980 2,976

SP 08 2,169 2,029 1,903 1,883 1,793 2,213 2,183 2,873 2,903 2,923

SP 09 1,831 1,669 1,593 1,548 1,490 1,772 1,774 2,771 2,791 2,789

SP 10 1,838 2,671 2,374 2,518 2,473 2,713 2,733 3,698 3,708 3,708

SP 11 3,607 2,430 2,397 2,394 2,389 2,281 2,395 3,777 3,777 3,757

SP 12 1,455 2,065 1,975 1,925 1,879 2,111 2,045 3,245 3,245 3,245

SP 13 3,437 2,034 2,137 2,127 2,187 2,110 2,107 3,637 3,637 3,507

SP 14 3,603 3,035 2,963 2,913 2,213 2,410 2,383 3,863 3,863 3,863

SP 15 1,308 1,654 1,578 1,508 1,478 1,828 1,478 2,728 2,728 2,718

SP 16 2,086 1,697 0,000 1,426 0,000 1,946 1,944 3,116 3,146 3,116

SP 17 4,121 2,621 2,621 2,621 2,861 2,947 2,884 4,146 4,163 4,148

SP 18 1,933 2,318 2,192 2,154 2,056 2,518 2,506 3,258 3,298 3,301

SP 19 1,375 1,897 1,851 1,826 1,703 1,827 1,934 2,740 2,770 2,795

SP 20 0,547 1,683 1,591 1,577 1,522 1,767 1,706 2,525 2,542 2,535

SP 21 3,934 2,636 2,634 2,674 2,644 2,644 2,664 4,034 4,054 4,034

SP 22 3,421 2,092 2,044 2,621 3,521 3,551 3,541

SP 23 2,156 2,615 2,559 2,586 2,556 2,656 2,636 3,206 3,236 3,256

TSP 01 2,592 2,482 2,420 2,404 2,369 2,666 2,630 3,280 3,310 3,327

TSP 02 2,510 2,516 2,477 2,474 1,260 2,712 2,671 3,280 3,312 3,325

TSP 03 2,747 2,486 0,947 0,947 0,947 2,662 2,614 3,245 3,305 3,282

TSP 04 2,423 2,396 2,349 2,349 2,313 2,614 2,594 3,251 3,303 3,321

TSP 05 1,861 2,202 2,061 2,061 2,021 2,511 2,241 3,251 3,341 3,281

TSP 06 2,000 2,170 2,060 2,060 2,020 2,510 2,360 3,240 3,300 3,300

TSP 07 2,174 2,204 2,124 2,054 2,024 2,574 2,524 3,224 3,224 3,324

TSP 08 2,146 2,247 2,076 2,126 2,076 2,576 2,736 3,206 3,236 3,276

TSP 09 2,082 2,458 2,282 2,312 2,282 2,732 2,662 3,252 3,252 3,252

TSP 10 2,274 2,550 2,484 2,424 2,344 2,764 2,764 3,324 3,344 3,394

TSP 11 2,773 2,751 2,700 2,681 2,639 2,871 2,843 3,581 3,605 3,580

TSP 12 3,070 2,807 2,776 2,767 2,716 2,953 2,961 3,607 3,640 3,615

TSP 13 2,785 2,807 2,718 2,713 2,656 2,990 2,944 3,685 3,708 3,727

TSP 14 2,506 2,551 2,486 2,466 2,436 2,796 2,796 3,446 3,396 3,416

T 01 2,295 2,175 2,115 2,085 2,039 2,315 2,245 3,375 3,385 3,405

T 02 2,681 2,441 2,454 2,394 2,362 2,446 2,421 3,441 3,451 3,471

T 03 2,387 2,377 2,307 2,247 2,245 2,439 2,447 3,457 3,447 3,467

T 04 1,605 2,205 2,115 2,055 2,054 2,329 1,995 3,335 3,325 3,325

T 05 2,241 2,201 2,121 2,021 2,031 2,383 2,101 3,351 3,351 3,341

T 06 2,361 2,341 2,251 2,181 2,171 2,467 2,391 3,401 3,431 3,421

Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut

Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut

Dokumen terkait