• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR RISET PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PADA LAHAN RAWA GAMBUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR RISET PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PADA LAHAN RAWA GAMBUT"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

R IS E T P EN G E LO LAAN S U MB ER D AY A AIR P AD A L AH AN R AW A G AM B U T

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

Telah diberikan persetujuan terhadap Laporan Akhir dengan judul: Riset Pengelolaan Sumber Daya Air Pada Lahan Rawa Gambut

Penanggungjawab Kegiatan,

Parlinggoman Simanungkalit, ST., MPSDA.

NIP. 19701224 200312 1 003

(3)

KATA PENGANTAR

Restorasi Gambut telah ditargetkan sebesar 2,4 juta ha mulai tahun 2016 sampai tahun 2020 pada areal yang tersebar di tujuh provinsi (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua) dan 4 kabupaten prioritas (Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Kepulauan Meranti dan Pulang Pisau). Dari target restorasi tersebut, terdapat 1,4 juta ha kawasan hutan yang dibebani hak, sehingga kegiatan restorasi menjadi kewajiban pemegang izin, sedangkan 600 ribu ha merupakan hutan lindung dan kawasan konservasi.

Kegitana pilot project restorasi gambut terintegrasi di Kawasan hutan lindung Liang Anggang antara Universitas Lambung Mangkurat dan BRG

Dengan adanya hasil dari kegiatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan pelaksanaannya.

Banjarmasin, Desember 2018 Penanggung Jawab Kegiatan

Kepala Balai Litbang Rawa

Parlinggoman Simanungkalit, ST. MPSDA.

NIP. 19701224 200312 1 003

(4)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I UMUM ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Lingkup Kegiatan ... 3

1.3 Tujuan ... 4

1.4 Sasaran Keluaran (Output) ... 4

1.5 Kerangka Pemikiran ... 4

1.6 Formulasi Kegiatan dan Hipotesis ... 5

1.6.1Formulasi Kegiatan ... 5

1.6.2Hipotesis ... 5

1.7 Penerima Manfaat ... 5

1.8 Lokasi Kegiatan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Lahan Rawa Gambut ... 8

2.2 Isu Kerusakan Ekosistem Lahan Gambut ... 8

2.3 Pemulihan Ekosistem Lahan Gambut ... 10

2.4 Pembuatan Embung Sederhana ... 11

2.5 Landasan Hukum ... 11

BAB III TAHAPAN DAN METODE PELAKSANAAN KEGIATAN ... 14

3.1 Tahap Kegiatan dan Bagan Alir Pelaksanaan Kegiatan ... 14

3.1.1Tahapan Kegiatan ... 14

3.1.2Data Penelitian ... 15

3.1.3Bagan Alir Pelaksanaan Kegiatan ... 19

3.2 Metode Penelitian ... 21

3.3 Jadwal Pelaksanaan ... 25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

(5)

4.1 Hasil Kegiatan ... 27

4.2 Permodelan Lokasi Kegiatan ... 36

BAB V PENUTUP ... 56

5.1 Kesimpulan ... 56

5.2 Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Kegiatan ... 5

Gambar 1.2 Peta Sebaran Rawa di Indonesia beserta Lokasi Studi ... 7

Gambar 2. 1 Kesetimbangan Alami Tata Air Dan Siklus Bahan Organik Pada Lahan Gambut Alami (Atas) Dan Perubahannya Setelah Pembukaan Hutan Dan Pembuatan Drianase (Bawah) (Sumber: Rais Dan Kurnianto, 2015). ... 9

Gambar 3.1 Flowchart Penelitian Bagian-1 ... 19

Gambar 3.2 Flowchart Penelitian Bagian-2 ... 20

Gambar 3.3 Ilustrasi Pembacaan Muka Air Tanah pada Sumur Uji ... 22

Gambar 3.4 Ilustrasi Pembacaan Muka Air pada Kanal ... 23

Gambar 3.5 Sumber dan Aliran Keluar Air Pada Gambut Topogen (Atas) dan Ombrogen (Bawah), Dimodifikasi dari Rydin dan Jeglum (2006) .... 24

Gambar 4.1 Peta Lokasi Kegiatan Penelitian ... 27

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Curah Hujan dan Evapotranspirasi ... 28

Gambar 4.3 Grafik Muka Air Tanah dan Elevasi Tanah Bagian-1 ... 31

Gambar 4.4 Grafik Muka Air Tanah dan Elevasi Tanah Bagian-2 ... 32

Gambar 4.5 Survei Profil Bawah Permukaan Lahan Gambut dengan Geolistrik . 34 Gambar 4.6 Hasil Pengolahan Survei Geolistrik 3D ... 35

Gambar 4. 7 Hasil Pengolahan Survei Geolistrik Tampak Atas Lahan Gambut ... 35

Gambar 4. 8 Hasil Pengolahan Survei Geolistrik Potongan Profil Melintang ... 36

Gambar 4.9 Kondisi Lokasi Penelitian Sebelum Adanya Canal Blocking ... 47

Gambar 4.10 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sebelum Adanya Canal Blocking ... 48

Gambar 4. 11 Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking ... 49

Gambar 4.12 Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking ... 49

Gambar 4.13 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking Bagian-1 ... 52

Gambar 4.14 Penampang Melintang Kondisi Lokasi Penelitian Sesudah Adanya Canal Blocking Bagian-2 ... 53

Gambar 4.15 Perbandingan Kondisi Aliran di Lokasi Kegiatan ... 54

(7)

Gambar 4. 16 Perbandingan Muka Air di Lokasi Kegiatan dan Penampang Melintangnya ... 55

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Matrik Data Primer dan Sekunder ... 17

Tabel 3.2 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan ... 26

Tabel 4.1 Data Pengamatan Sumur Pantau ... 30

Tabel 4.2 Data Pengamatan Sumur Pantau ... 33

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Data Muka Air Tanah, Elevasi Tanah dan Ketebalan Gambut Lampiran B. Data Iklim Wilayah Studi (Stasiun Syamsudin Noor) Lampiran C. Data Hasil Pengukuran Sumur Pantau

Lampiran D. Grafik Hasil Pengukuran Sumur Pantau

(10)

BAB I UMUM

1.1 Latar Belakang

Restorasi Gambut telah ditargetkan sebesar 2,4 juta Ha mulai tahun 2016 sampai tahun 2020 pada areal yang tersebar di tujuh provinsi (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua) dan 4 kabupaten prioritas (Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Kepulauan Meranti dan Pulang Pisau). Dari target restorasi tersebut, terdapat 1,4 juta ha kawasan hutan yang dibebani hak, sehingga kegiatan restorasi menjadi kewajiban pemegang izin, sedangkan 600 ribu ha merupakan hutan lindung dan kawasan konservasi. Dengan demikian hanya 400 ribu ha areal target restorasi di arahan penggunaan lain (APL) dan dapat melibatkan masyarakat.

Saat ini Badan Restorasi Gambut (BRG) menerapkan pendekatan 3R yaitu Rewetting (Pembasahan kembali gambut), Revegetation (Revegetasi) dan Revitalization of local livelihoods (Revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat) di dalam implementasi restorasi gambut. Pembasahan kembali gambut dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pembasahan gambut antara lain: sekat kanal (canal blocking), penimbunan kanal (canal backfilling), dan sumur bor (deep wells); sedangkan revegetasi gambut dilaksanakan melalui intervensi aktif seperti: pembuatan persemaian, pembibitan dan penanaman; maupun intervensi non-aktif seperti mempromosi regenerasi alami (natural regeneration) dan promosi agen penyebar benih (seeds dispersal mechanism). Sementara itu, kegiatan revitalisasi sumber mata pencaharian dilaksanakan dengan cara mengembangkan kegiatan-kegiatan sumber mata pencaharian alternatif dan berkelanjutan yang ramah gambut baik berbasis lahan (land-based), berbasis air (water-based), dan berbasis jasa lingkungan (environmental services-based).

Pada tahun 2017, telah dilakukan pelaksanaan kegiatan pilot project restorasi gambut terintegrasi di Kawasan hutan lindung Liang Anggang antara Universitas Lambung Mangkurat dan BRG. Sasaran pelaksanaan pilot project adalah masyarakat setempat di sekitar Kawasan hutan lindung Liang Anggang yang telah berinteraksi dengan Kawasan hutan lindung Liang Anggang. Pada lokasi kegiatan terintegrasi, untuk program rewetting dilakukan pembangunan sekat kanal (2 unit) dan embung, untuk program revegetasi dilakukan pola pengkayaan dan pola agroforestry seluas 15ha yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman berkayu (Belangeran, Jelutung, Petai, Jengkol, Kemiri, Jeruk, Rambutan) sebanyak 9.510 batang; jenis pangan dan horti terdiri dari Padi, Jagung, Bawang Prei, Sawi dan Nenas. Pada program revitalisasi, dilakukan budidaya lebah madu

Formatted: Font: 11 pt, Font color: Auto Formatted: Space Before: 6 pt

(11)

(37 unit), penggemukan sapi dan pemanfaatan kotorannya serta gulma (eceng gondok dan kiapu) untuk dijadikan kompos.

Kebakaran lahan yang terjadi pada tahun 2015 mendorong perlunya dibangun kantong-kantong air yang menjadi sumber pemadaman. Hal ini diperlukan karena upaya penahanan air yang ada dianggap belum maksimal. Masih diperlukan sumber air atau bentuk teknologi lain yang dapat dimanfaatkan sepanjang musim, khususnya pada musim kering. Terdapat teknologi revegetasi sebagai upaya penahan air dalam bentuk penanaman kembali areal yang terbuka dan teknologi konservasi air yang salah satunya adalah membuat embung. Embung berfungsi untuk mengatur dan menampung suplai aliran air dan juga untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (danau, sungai, saluran). Selain itu, keberadaan embung dapat menjadi implementasi dari penanganan degradasi gambut, dimana embung menjadi sumber pengairan bagi pertanian khususnya saat musim kering sehingga dapat menjamin tercapainya produktivitas pertanian sesuai harapan petani. Penelitian ini bermaksud mengintegrasikan teknologi rewetting, revegetasi dan revitalisasi dalam suatu pengelolaan terpadu sumber daya air. Adapun Identifikasi masalah pada kegiatan riset pengelolaan sumber daya air ini antara lain adalah:

1) Tidak adanya hasil analisis titik pemantauan

2) Tidak adanya informasi efektifitas titik pemantauan berdasarkan kemampuan alat dan variasi topografi

3) Tidak adanya rekomendasi cara pemantauan dan penempatan instrumen pemantauan 4) Kurangnya tampungan dalam embung untuk menanggulangi kebakaran lahan.

5) Belum terintegrasinya teknologi untuk mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya air di lahan rawa gambut yang outcomenya mencakup rewetting, revegetasi serta revitalisasi sebagai mata pencaharian bagi masyarakat.

Dari identifikasi masalah di atas maka batasan masalah adalah belum tersedia teknologi yang terintegrasi untuk mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya air di lahan rawa Balai Litbang Rawa, di tahun 2017 pun telah melakukan pembangunan canal blocking di lokasi yang sama diatas, Canal Blocking untuk merewetting Hutan Lindung Liang Anggang di Banjarbaru ini terdiri dari 3 (tiga) komponen yaitu 2 (dua) unit Canal Blocking utama, tanggul keliling, dan 5 (lima) unit stoplog dengan jenis yang berbeda-beda.

Meskipun telah menuai hasil positif dengan indikasi naiknya muka air tanah di lahan rawa gambut, namun implementasi ketiga teknik tersebut sejauh ini masih dilaksanakan secara parsial dan belum menjadi suatu model penanganan yang komprehensif yang mana efektivitasnya masih perlu dikaji lagi pada penerapan secara luas dengan skala spasio- temporal.

(12)

gambut yang outcomenya mencakup rewetting, revegetasi, serta revitalisasi mata pencaharian bagi masyarakat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari kegitan ini adalah untuk menghasilkan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut sebagai berikut:

1) Mengetahui keadaan profil muka air tanah gambut dan perubahan elevasi tanah gambut sebelum dan sesudah dibangunnya Sekat Kanal, sehingga bisa ketahui kinerja dari penerapan Sekat Kanal tersebut.

2) Mengetahui neraca air kawasan hidrologi gambut selama penelitian berlangsung.

3) Mengetahui bagaimana efektifitas pengendalian aspek hidrologi rawa gambut dengan sekat kanal melalui pemantauan profil muka air tanah.

1.31.2 Lingkup Kegiatan

Kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air meliputi hal-hal sebagai berikut:

1) Tim Peneliti wajib melaporkan kepada TRGD (Tim Restorasi Gambut Daerah) yang ada di tiap propinsi dengan melakukan rapat koordinasi.

2) Bila kegiatan sudah berjalan, diperlukan koordinasi dengan Dinas terkait di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program.

3) Tidak disarankan untuk membuat plot di kawasan hutan baik hutan produksi, lindung, Taman Nasional dan Kawasan Konservasi. Ketentuan ini dapat dikecualikan apabila sudah mendapatkan izin dari pemangku kawasan.

4) Pada kegiatan lapangan dengan durasi yang lama, Tim Peneliti diwajibkan untuk menempatkan mahasiswa atau peneliti di lokasi penelitian, untuk alasan akurasi data dan efisiensi.

5) Penelitian yang dikerjasamakan merupakan riset aksi (action research).

6) Pelaksana penelitian harus menyusun logframe dengan Objective yang jelas dan milestone tiap tahun yang konkrit. Target Output dan kegiatan harus diuraikan jelas.

Verifier tiap output harus dirancang.

7) Menguraikan dengan jelas dan terukur tentang Perlakuan dan volume perlakukan yang dicobakan.

8) Lokus harus jelas, posisi/letak dan luasnya serta ada dalam cakupan 7 propinsi prioritas dan 4 kabupaten target prioritas. Untuk kegiatan yang baru mulai th 2018, lokasi kegiatan berada pada 3 KHG (Kawasan Hidrologi Gambut) prioritas, yaitu:

a) KHG Sungai Sugihan - Sungai Lumpur, Kab. OKI, Sumsel;

b) KHG Sungai Kampar - Sungai Gaung, Kab. Inhil/Pelalawan, Riau;

Formatted: Normal, Indent: Left: 0 cm, First line: 0 cm

Formatted: Left, Indent: First line: 0 cm, Space After: 10 pt, Line spacing: Multiple 1,15 li

Formatted: Normal, No bullets or numbering, Tab stops:

Not at 2,5 cm

(13)

c) KHG Sungai Ambawang - Sungai Kubu, Kab. Kubu Raya, Kalbar.

9) Perlu menyampaikan Tim Pelaksana dan ekspertisi/keahlian masing-masing anggota, serta anggota/mahasiswa yang akan ditempatkan di lapangan.

10) Melibatkan masyarakat dan pihak terkait, mulai dari perencanaan dan sepanjang pelaksanaan kegiatan.

11) Menyampaikan laporan dua kali dalam satu tahun pelaksanaan, laporan interim dan laporan final.

12) Menyampaikan Laporan Hasil Penelitian yang secara jelas menyajikan hasil penelitian dalam setahun pelaksanaan (milestone).

1.41.3 Tujuan

Tujuan dari kegitan ini adalah untuk menghasilkan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut sebagai berikut:

4)1) Mengetahui keadaan profil muka air tanah gambut dan perubahan elevasi tanah gambut sebelum dan sesudah dibangunnya Sekat Kanal, sehingga bisa ketahui kinerja dari penerapan Sekat Kanal tersebut.

5)2) Mengetahui neraca air kawasan hidrologi gambut selama penelitian berlangsung.

6) Mengetahui bagaimana efektifitas pengendalian aspek hidrologi rawa gambut dengan sekat kanal melalui pemantauan profil muka air tanah.

12)3)

1.51.4 Sasaran Keluaran (Output)

Sasaran output kegiatan penelitian ini adalah Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut, yang memuat:

1) Hasil analisis titik pemantauan.

2) Informasi efektifitas titik pemantauan berdasarkan kemampuan alat dan variasi topografi.

3) Rekomendasi cara pemantauan dan penempatan instrumen pemantauan.

4) Analisis tampungan dalam embung untuk menanggulangi kebakaran lahan.

5) Program teknologi terintegrasi untuk mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya air di lahan rawa gambut yang outcomenya mencakup rewetting, revegetasi serta revitalisasi sebagai mata pencaharian bagi masyarakat.

1.61.5 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran kegiatan riset pengelolaan sumber daya air dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,27 cm + Indent at:

1,9 cm, Tab stops: 2,5 cm, Left

(14)

Gambar 1.1 Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Kegiatan

2.11.6 Formulasi Kegiatan dan Hipotesis 1.6.1 Formulasi Kegiatan

Kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Rawa dan direncanakan menghasilkan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut.

1.6.2 Hipotesis

Jika dilakukan Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut secara terintegrasi, maka akan tersedia teknologi terpadu rewetting, revegetasi dan revitalisasi yang efektif dan efisien.

1.7 Penerima Manfaat

Penerima manfaat kegiatan ini adalah:

1) Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI),

2) Dirjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 3) Universitas-universitas khususnya Universitas Lambung Mangkurat,

4) Pihak swasta, peneliti, konsultan, pakar, dosen, mahasiswa, profesional di bidang Rawa dan masyarakat di lahan gambut.

Revegetasi Masalah Degradasi

Gambut

Rewetting

Revitalisasi Target Penanganan :

Integrasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada

Lahan Rawa Gambut

Sekat kanal

Penimbunan kanal

Sumur bor

Embung

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold, English (United States)

Formatted: Normal, Centered Formatted: Font: 11 pt, Font color: Auto

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Space Before: 6 pt, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at: 1,27 cm

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Justified, Space After: 0 pt

(15)

1.8 Lokasi Kegiatan

Lokasi yang akan dijadikan kegiatan Penelitian ini yaitu di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (lihat pada Gambar 1.21).

(16)

Sumber:

Gambar 1.2 Peta Sebaran Rawa di Indonesia beserta Lokasi Studi Liang Anggang, Kalsel

(17)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.22.1 Lahan Rawa Gambut

Pada saat ini banyak terjadi konversi lahan gambut yang bertujuan untuk pembangunan pertanian (tanaman terutama industri: Acacia, kelapa sawit) yang semuanya memerlukan drainase. Dari banyak penelitian menyimpulkan bahwa perkembangan ini akan menyebabkan hilangnya ireversibel gambut, emisi karbon meningkat, dan pada akhirnya juga banjir akibat penurunan dan kehilangan gambut. Dari yang diperkirakan setidaknya 65% dari lahan gambut berada di bawah muka air laut rerata. Indonesia telah menetapkan target yang ambisius untuk pengurangan emisi (26% pada tahun 2020 melalui tindakan domestik dan 41% jika bantuan internasional disediakan), namun target ini tidak akan tercapai bila lahan gambut diperlakukan dengan cara ‘business as usual’ , untuk itu skenario alternatif yang realistis harus dipertimbangkan (BAPPENAS & Ditjen Sumber Daya Air, 2013).

Agar dapat berfungsi secara baik, lahan rawa (termasuk gambut) perlu dimanfaatkan sesuai fungsinya dengan memperhatikan keseimbangan antara kawasan budidaya, kawasan non budidaya, dan kawasan preservasi (Widjaya-Adhi, 1996). Pemerintah sudah menetapkan kawasan-kawasan tersebut.

Adapun, bertani hanya boleh dilakukan pada kawasan budidaya. Bertani pada kawasan non budidaya dan kawasan preservasi disamping melanggar aturan, karena akan merusak lingkungan juga membutuhkan biaya mahal karena umumnya lahan tidak subur dan bermasalah. Jikapun dipaksakan, petani akan merugi. Kawasan budidaya adalah kawasan yang dinilai layak untuk usaha di bidang pertanian dan berada di luar kawasan non budidaya dan preservasi. (Najiyati, S., dkk, 2005).

2.32.2 Isu Kerusakan Ekosistem Lahan Gambut

Beberapa isu kerusakan ekosistem lahan gambut dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Perubahan lingkungan karena drainase

Pengembangan lahan gambut untuk peranian atau perkebunan tidak lepas dari upaya melakukan drainase. Lahan rawa gambut yang secara alami jenuh air perlu didrainase untuk mengurangi kelebihan air dan memberikan aerasi pada zona perakaran tanaman. Pembuatan drainase akan mengubah kesetimbangan pada lahan gambut seperti ilustrasi pada Gambar 1.3.

Formatted: Font: 11 pt, Font color: Auto

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Space Before: 6 pt, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,63 cm + Indent at: 2,27 cm

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,63 cm + Indent at:

2,27 cm

(18)

Gambar 2. 1 Kesetimbangan Alami Tata Air Dan Siklus Bahan Organik Pada Lahan Gambut Alami (Atas) Dan Perubahannya Setelah Pembukaan Hutan Dan Pembuatan

Drianase (Bawah) (Sumber: Rais Dan Kurnianto, 2015).

Dari kedua gambar di atas jelas bahwa hilangnya tutupan vegetasi dan pembukaan drainase mengubah kesetimbangan di lahan gambut. Pembuatan drainase menyebabkan keluaran air meningkat sementara presipitasi tetap. Hilangnya tutupan hutan dan pembuatan drainase juga menurunkan input bahan organik dan meningkatkan hilangnya bahan organik karena meningkatnya dekomposisi.

Pembuatan drainase juga memicu terjadinya subsiden.

Bahaya yang muncul dari drainase berlebihan pada pembukaan lahan gambut adalah perubahan sifat fisika gambut antara lainkering tak balik atau hidrofobisitas gambut.

Ketika gambut mengalami kering tak balik maka akan terbentuk pasir semu (pseudo sand). Disebut pasir semu karena secara fisik tetap berupa tanah gambut tetapi tidak mampu lagi menahan air seperti halnya pasir.(Hardjowigeno, 2003). Hasil penelitian Masganti et al. (2002) menunjukkan bahwa munculnya sifat hidrofobisitas gambut saprik pada tingkat lengas 54,89 % dengan lama pengeringan 7 jam 30 menit.

Kerusakan lahan gambut seringkali tidak hanya berdampak pada lingkungan setempat tetapi dapat mempengaruhi kesetimbangan ekologi areal sekitarnya. Sebagai gambaran pada Proyek Pengembangan Lahan Gambut Satu Juta Hektar (PLG), telah dibuat pembuatan saluran drainase yang menghubungkan Sungai Kahayan, Kapuas dan Barito serta anak-anak sungai lainnya (total panjang saluran 2.114 km).

Pembuatan saluran drainase yang merupakan Saluran Primer Induk (SPI) telah memotong kubah gambut sehingga merubah pola tata air dan kualitasnya.

Terpotongnya kubah gambut ini telah mengakibatkan subsiden dan oksidasi pirit yang bersifat racun dan masam. Senyawa-senyawa racun ini masuk ke dalam saluran dan perairan sungai dan menyebabkan kematian ikan secara massal (Hartoto, 1997).

(19)

2) Kebakaran Lahan gambut

Drainase berlebihan akanmeningkatkan resiko kebakaran gambut karena terjadinya penurunan kelembaban gambut. Kebakaran gambut masih bisa terjadi pada kadar air 119% yang merupakan kadar air kritis kebakaran gambut (Syaufina et al. 2004). Selain itu praktek penyiapan lahan dengan cara membakar juga menjadi penyebab terjadinya kebakaran gambut. Kebakaran telah merusak lahan gambut di Indonesia dalam skala yang luas. Pada tahun 1997/1998 tercatat sekitar 2,124,000 ha hutan gambut di Indonesia terbakar (Tacconi, 2003 dalam Najiyati et al., 2005).

Selain mengakibatkan kerusakan lahan gambut secara langsung, kebakaran gambut juga mengakibatkan emisi sejumlah besar gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer.

Kebakaran hutan dan lahan gambut tidak hanya merugikan karena rusaknya ekosistem gambut. Kebakaran hutan dan lahan gambut akan membawa dampak penurunan kualitas lingkungan terutama udara dalam skala yang jauh lebih luas. Gangguan kabut asap akan meningkatkan jumlah penderita penyakit gangguan pernafasan. Kabut asap juga merugikan secara ekonomi karena terganggunya aktivitas penerbangan dan aktivitas komersial dan sosial lainnya seperti sekolah dan layanan publik.

2.42.3 Pemulihan Ekosistem Lahan Gambut

Pemulihan ekosistem lahan gambut (restorasi) dilakukan melalui penataan kembali fungsi hidrologi dimana kubah gambut sebagai penyimpan air jangka panjang (long storage of water), sehingga gambut tetap basah dan sulit terbakar. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Pedoman Teknis Pemulihan Ekosistem Gambut, Prinsip – prinsip restorasi ekosistem gambut meliputi beberapa hal sebagai berikut:

1) Kubah gambut dan fungsi lindung gambut (kedalaman > 3 meter), idealnya merupakan daerah / zona yang terbebaskan dari pemanfaatan dan dari keberadaan kanal-kanal.

Daerah-daerah ini berfungsi sebagai pengatur keseimbangan hidrologi dalam satu kesatuan hidrologis gambut (KHG).

2) Untuk mengembalikan fungsi hidrologis pada kubah dan fungsi lindung gambut, seluruh kanal-kanal yang terdapat di dalamnya mesti ditutup (urug). Karena daerah- daerah ini berperan sebagai penyimpan cadangan air dan pengatur keseimbangan/pengendali air dalam satu Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) 3) Pada ekosistem gambut dengan fungsi lindung (ketebalan gambut > 3 meter) yang

sudah terlanjur dibudidayakan dan di dalamnya terdapat kanal-kanal, restorasi tata air dapat dilakukan dengan membangun sekat-sekat (tabat) dalam jumlah yang memadai

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,63 cm + Indent at:

2,27 cm

(20)

di dalam setiap kanal, sehingga kedalaman air tanah gambut di sekitarnya dapat dinaikkan dan gambut menjadi basah serta sulit terbakar.

4) Agar upaya untuk membasahi lahan gambut (rewetting) dapat memberikan hasil yang optimal, maka seluruh lahan gambut yang diatasnya sudah terlanjur dibangun kanal- kanal mesti di sekat-sekat.

2.52.4 Pembuatan Embung Sederhana

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada awal Tahun 2018 telah menerbitkan Panduan Pembuatan Embung untuk mendukung program penyediaan air baku bagi penduduk pedesaan dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi dan memperkirakan biaya secara sederhana. Embung adalah bangunan yang berfungsi menyimpan air hujan dalam suatu kolam dan kemudian dioperasikan selama musim kering untuk berbagai kebutuhan air, misalnya rumah tangga, hewan ternak, kebun dan lain-lain. Embung juga merupakan tampungan air atau cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai air hujan serta meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait.

Dalam buku tersebut, dijelaskan prosedur untuk membangun suatu embung, dimulai dari perencanaan embung yang terdiri dari penentuan lokasi dan tempat embung, pemetaan, penyelidikan geoteknik, analisis hidrologi, pelimpah dan sistem distribusi.

Dibahas pula mengenai bagaimana dalam melakukan pekerjaan konstruksi yang terdiri dari penjelasan ketentuan umum, jenis alat yang diperlukan, bahan bangunan, pembangunan tubuh dan kolam embung, pemasangan gebalan rumput, pemasangan pelimpah dan sistem distribusi. Pada bagian pemeliharaan, dijelaskan mengenai hal-hal yang dapat membahayakan embung. Kemudian buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai AHSP (Analisa Harga Satuan Pekerjaan).

2.62.5 Landasan Hukum

Landasan hukum yang digunakan dalam kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air ini terdiri dari:

1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan;

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan;

3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi;

4) Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2016 Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut;

5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Rawa

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,63 cm + Indent at:

2,27 cm

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,63 cm + Indent at:

2,27 cm

(21)

6) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca;

7) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut;

8) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam dan Lahan Gambut;

9) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor: 32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi;

10) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor: 05/PRT/M/2010 tentang Pedoman O & P Jaringan Reklamasi Rawa Pasang Surut;

11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor: 08/PRT/M/2013 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Rawa Lebak;

12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 08/PRT/M/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Jaringan Irigasi;

13) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 11/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Reklamasi Rawa Pasang Surut;

14) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 14/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Status Daerah Irigasi;

15) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 16/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Reklamasi Rawa Lebak;

16) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 29/PRT/M/2015 tentang Rawa;

17) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 30/PRT/M/2015 tentang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi;

18) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri;

19) Peraturan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.16/Menlhk/Setjen/Kum.1/2/2017 tentang Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut;

20) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.129/Menlhk/Setjen/Pkl.0/2/2017 tentang Penetapan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut Nasional.

21) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11 Tahun 2015 tentang ISPO

(22)

22) Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor: 02/SE/M/2011 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Jaringan Reklamasi Rawa.

23) Perjanjian Kerjasama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan Kedeputian Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut, No: 01/SPK/La/2017, No: PKS.1/KaBRG-D4/1/2017 tentang Pilot Project Restorasi Lahan Gambut Untuk Konservasi Sumber Daya Air.

2.7 Formulasi Kegiatan dan Hipotesis

1.6.3 Formulasi Kegiatan

Kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Rawa dan direncanakan menghasilkan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut.

1.6.4 Hipotesis

Jika dilakukan Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut secara terintegrasi, maka akan tersedia teknologi terpadu rewetting, revegetasi dan revitalisasi yang efektif dan efisien.

Formatted: Normal, No bullets or numbering

Formatted: Normal, Left, None, No bullets or numbering

Formatted: Left, Indent: First line: 0 cm, Line spacing:

Multiple 1,15 li

Formatted: Normal, Left, None, No bullets or numbering

Formatted: Left, Space After: 10 pt, Line spacing: Multiple 1,15 li

(23)

BAB III

TAHAPAN DAN METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Tahap Kegiatan dan Bagan Alir Pelaksanaan Kegiatan 3.1.1 Tahapan Kegiatan

Tahapan kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air, terdiri dari:

1) Persiapan

a. Penyusunan rencana kerja dan tim kegiatan;

b. Pengumpulan data sekunder (Data Klimatologi, Peta-peta Tematik) c. Review data

2) Pelaksanaan Survei Pendahuluan

a. Pemasangan Sumur Pantau dan Peiscal b. Pemantauan Sumur Pantau dan Peiscal c. Survei Geolistrik dan Bor Tangan d. Pengujian Laboratorium Tanah

e. Survei Topografi (Pengikatan sumur pantau & Peiscal, cross section saluran) f. Elaborasi Data (Neraca Air, Debit Banjir, Parameter konduktifitas hidraulik,

geometri saluran, dll)

g. Pemodelan Ground Water Flow dan Surface Water Flow h. Analisa Pemodelan

i. Rekomendasi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) di Lahan Gambut 3) Pelaporan

a. Laporan Interim;

b. Laporan Akhir

Proses pelaksanaan penelitian ini pada prinsipnya terbagi dalam tiga bagian yaitu pendahuluan/persiapan ,pengumpulan, pengolahan serta analisis data. Adapun penelitian ini dimulai dari tahapan pendahuluan/persiapan yang meliputi:

1) Administrasi

Administrasi disini maksudnya adalah melakukan pengurusan administratif seperti surat-menyurat permohonan pendampingan kepada dosen pembimbing, kelengkapan syarat pengajuan penelitian, surat perijinan melakukan penelitian pada lokasi sasaran, surat permohonan permintaan data kepada instansi tertentu dan sebagainya yang berhubungan dengan kepentingan penelitian.

2) Peninjauan Lapangan dan Survei Pendahuluan

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, Hanging: 0,75 cm

(24)

Peninjauan lapangan dan survei pendahuluan merupakan kegiatan survei awal di lapangan untuk mengetahui orientasi lapangan serta mengumpulkan data-data lapangan eksisting secara visual dan nyata di lokasi penelitian. Sehingga kita dapat gambaran untuk melakukan penyusunan rencana detail survei apabila memang diperlukan.

3) Teknis Pendahuluan/Persiapan

Dalam penelitian ini persiapan teknis yang dipersiapkan setelah melakukan peninjauan lapangan meliputi beberapa item seperti berikut:

a) Mobilisasi peneliti dan surveior

Sebelumnya peneliti harus melakukan inspeksi lapangan terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana kondisi lapangan dan memastikan apakah peneliti dan surveior dapat melakukan mobilisasi ke lokasi penelitian dengan akses transportasi atau tidak demi kelancaran penelitian untuk kedepannya, maka akses transportasi dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian.

b) Mobilisasi alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian

3.1.2 Data Penelitian

Data yang diperlukan dalam penelitian studi efektifitas sekat kanal ini antara lain sebagai berikut:

1) Data primer adalah data yang diperoleh dengan cara pengamatan dan peninjauan langsung di lapangan oleh peneliti. Data primer ini berupa data-data survei lapangan sebagai berikut:

a) Inventarisasi Permasalahan

Peneliti hendaknya menelusuri permasalahan atau kejadian yang pernah terjadi di lokasi penelitian misalnya seringnya terjadi kebakaran, terjadinya kekeringan lahan, banjir, over drain serta kendala di sekitar lokasi penelitian yang dialami oleh penduduk/petani sekitar. Inventarisasi permasalahan dapat dilakukan dengan melakukan wawancara.

b) Data Topografi dan Peta

Peta yang menyajikan unsur ketinggian yang mewakili dari bentuk lahan. Pada penelitian ini pengukuran topografi dilakukan dengan menggunakan alat theodolite roll meter, dan untuk positioning menggunakan GPS. Tujuan dari pengukuran topografi yaitu untuk mendapatkan peta situasi dan peta topografi serta mendapatkan gambaran elevasi penampang memanjang dan melintang area penelitian.

Formatted: Indent: First line: 0,95 cm, Tab stops: 1,27 cm, Left + Not at 11,69 cm

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: List Paragraph;-;Hiding 4.1;Colorful List - Accent 11;heading 3;Heading 31, Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at:

1,27 cm, Tab stops: Not at 11,69 cm Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: List Paragraph;-;Hiding 4.1;Colorful List - Accent 11;heading 3;Heading 31, Indent: Left: 0,75 cm, Hanging:

0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 2,54 cm + Indent at:

3,17 cm

Formatted: Font: (Default) Arial

(25)

c) Data Hidrometri

Data hidrometri pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fluktuasi muka air dan kecepatan aliran.

Data fluktuasi muka air digunakan untuk kepentingan profil muka air tanah, sedangkan data kecepatan aliran sendiri digunakan untuk salah satu parameter perhitungan stabilitas sekat kanal.

d) Data Infiltrasi

Data infiltrasi atau uji permeabilitas dilakukan dengan menggunakan alat double ring turf-tec infiltrometer. Tujuannya adalah untuk mengetahui laju masuknya air ke permukaan tanah, laju masuknya air ke dalam tanah (rembesan) dan mengetahui nilai parameter infiltrasi (fo, fc dan K).

e) Pemasangan dan Pemantauan Instrumentasi Muka Air

Untuk pemantauan uji pengukuran ketinggian air tanah pada sumur uji, pemantauan menggunakan alat Water Level Indicator. Sedangkan untuk pemantauan ketinggian muka air permukaan pada saluran menggunakan rambu ukur kayu yang dipasang secara vertikal pada kanal.

Selain itu, perlu diperhatikan beberapa data primer lain untuk mendukung proses penelitian, yaitu:

a) Foto lokasi (kondisi lapangan) b) Peta Basemap lokasi sumur uji c) Elevasi lahan

d) Lokasi sekat kanal.

e) Data parameter tanah gambut 2) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau melalui media perantara seperti dari instansi–instansi maupun institusi–institusi yang berkaitan dengan lokasi penelitian. Adapun data sekunder yang diperlukan, sebagai berikut:

a) Data Peta Administrasi

Peta Administrasi adalah peta yang menginformasikan mengenai batas-batas administatif terkecil suatu wilayah sampai terbesar misalnya, Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Negara. Peta bisa didapatkan melalui kelurahan, kecamatan, maupun internet.

b) Data Peta Citra Satelit

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: List Paragraph;-;Hiding 4.1;Colorful List - Accent 11;heading 3;Heading 31, Indent: Left: 0,75 cm, Hanging:

0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 2,54 cm + Indent at:

3,17 cm

Formatted: Indent: Left: 1,5 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: List Paragraph;-;Hiding 4.1;Colorful List - Accent 11;heading 3;Heading 31, Indent: Left: 0,75 cm, Hanging:

0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 2,54 cm + Indent at:

3,17 cm

Formatted: Indent: Left: 1,5 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: List Paragraph;-;Hiding 4.1;Colorful List - Accent 11;heading 3;Heading 31, Indent: Left: 0,75 cm, Hanging:

0,75 cm, Add space between paragraphs of the same style, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 2,54 cm + Indent at:

3,17 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Character scale:

101%

Formatted: Indent: Left: 1,5 cm Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Indent: Left: 0,75 cm Formatted: Font: (Default) Arial, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 2 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,9 cm + Indent at:

2,54 cm

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, English (United States)

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, First line: 0 cm

(26)

Peta citra satelit merupakan peta yang dihasilkan dari masukan data atau hasil observasi dalam proses penginderaan jauh atau hasil dari pemotretan/perekaman alat sensor yang dipasang pada wahana satelit ruang angkasa dengan ketinggian lebih dari 400 km dari permukaan bumi. Digunakan untuk pemantauan lapangan secara umum kondisi eksisting lapangan untuk memudahkan penentuan titik penempatan sumur uji. Peta bisa didapatkan melalui Google Earth (internet) dan pemantauan langsung dengan drone.

c) Data Curah Hujan Harian dan Data Klimatologi Harian

Data curah hujan harian dan data klimatologi harian di kawasan sekitar Landasan Ulin Utara. Data ini didapatkan dari Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Jln. Angkasa Landasan Ulin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Data curah hujan juga diperoleh dari situs resmi BMKG secara online.

d) Data Parameter Sifat Fisik Tanah Gambut

Data parameter sifat fisik tanah gambut diperoleh dengan menguji sampel tanah yang diambil dari lapangan

Untuk membuat penelitian lebih mudah dan terarah, maka dibuatlah matrik data penelitian.

Matrik data penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Matrik Data Primer dan Sekunder

No Data Sumber Keterangan Keperluan

1 Data Topografi Lokasi Penelitian

Survei lapangan

Peta yang menyajikan unsur ketinggian yang mewakili dari bentuk lahan.

Mendapatkan beda elevasi di seluas area penelitian untuk pembuatan peta situasi detail dan untuk membantu pembuatan kontur profil muka air berdasarkan musim selama penelitian..

2 Data Peta Administrasi

Kelurahan, Kecamatan, maupun internet.

Menginformasikan mengenai batas- batas administatif terkecil suatu wilayah sampai terbesar misalnya, Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Negara

Mengetahui kawasan lokasi penelitian secara lebih detail.

3 Data Peta Citra Satelit

Google Earth (internet) dan pemantauan langsung

hasil observasi dalam proses penginderaan jauh

Pemantauan lapangan secara umum kondisi eksisting lapangan untuk memudahkan penentuan titik penempatan sumur uji.

Formatted: Caption, Centered, Line spacing: single Formatted Table

(27)

dengan drone.

4 Infiltrasi Survei lapangan

Pengukuran dengan menggunakan Infiltrometer Double Ring Turf-Tec.

Untuk mengetahui besarnya laju dan volume infiltrasi (nilai curah hujan yang meresap) kedalam tanah dan

mempengaruhi tinggi muka air tanah karena infiltrasi untuk digunakan dalam perhitungan Neraca Air.

5 Hidrometri Survei lapangan

Pengukuran dengan menggunakan currentmrter / pelampung.

Mendapatkan kecepatan arus untuk analisa debit inflow dan outflow.

6 Pemantauan Muka Air Tanah

Survei lapangan

Pengukuran dengan menggunakan Water Level Indicator

Mendapatkan tinggi muka air tanah untuk membuat kontur profil muka air tanah.

7 Data curah hujan dan Klimatologi

Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor dan BMKG Online

Analisa Curah Hujan Andalan dan Evapotranspirasi

Untuk mengetahui pengaruh hujan terhadap tinggi muka air tanah dan perhitungan evapotranspirasi.

8 Parameter Sifat Fisik Tanah Gambut

Data parameter sifat fisik tanah gambut diperoleh dengan menguji sampel tanah yang diambil dari lapangan

Pengambilan sampel tanah gambut, pengamatan terhadap borlog.

Sifat fisik tanah gambut berdasarkan pengujian di

Laboratorium.Mekanika Tanah untuk

kepentingan mengetahui karakteristik tanah gambut di lokasi penelitian.

Sumber: Formatted: Font: (Default) Arial, 10 pt, Indonesian

(28)

3.1.3 Bagan Alir Pelaksanaan Kegiatan

Untuk bagan alir penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 3.1 Flowchart Penelitian Bagian-1 MULAI

Persiapan dan Studi Literatur

1. Survei Lapangan dan Pengumpulan Data 2. Review Studi Terkait Penelitian PERSIAPAN

1. Administrasi

1.2. Peninjauan Lapangan 1.3. Teknis

-mobilisasi peneliti dan surveyor a)

-mobilisasi alat dan bahan

b)

c) -penyusunan RAB penelitian

4. Mengumpulkan informasi atau literatur dari berbagai

DATA PRIMER 1. Inventarisasi

Permasalahan 1.2.Pengukuran

Topografi 1.3.Hidrometri 1.4.Uji Infiltrasi 1.5.Pembacaan dan

Monitoring Instrumentasi Muka Air

DATA SEKUNDER 1. Peta Administrasi 1.2.Peta Citra Satelit 1.3.Data Curah Hujan

Harian dan Data Klimatologi Harian 1.4.Parameter Sifat

Fisik Tanah Gambut

A B

Formatted: Font: (Default) Arial, Indonesian

Formatted: Font: (Default) Times New Roman

Formatted: Normal, Indent: First line: 1,27 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Times New Roman, English (United States)

Formatted: Indent: Left: 0,93 cm, No bullets or numbering

Formatted: Normal, No bullets or numbering

Formatted: Space After: 10 pt

Formatted: Caption, Centered Formatted: Justified Formatted: Font: Italic

Formatted: Indent: Left: 0 cm, Hanging: 0,5 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at:

1,27 cm, Tab stops: Not at 0,48 cm

Formatted: Indent: Hanging: 1,27 cm, Numbered + Level:

1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment:

Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at: 1,27 cm Formatted: Indent: Left: 0 cm, First line: 0 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at: 1,27 cm Formatted: Font: Times New Roman, 10,5 pt

Formatted: Font: Times New Roman, 10,5 pt

Formatted: Left, Indent: Left: -0,13 cm, Numbered + Level:

1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment:

Left + Aligned at: 1,27 cm + Indent at: 1,9 cm

Formatted: Indent: Left: -0,13 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: 1, 2, 3, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at: 1,27 cm

(29)

Gambar 3.2 Flowchart Penelitian Bagian-2

Formatted: Font: (Default) Times New Roman

(30)

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian kegiatan Riset Pengelolaan Sumber Daya Air pada Lahan Rawa Gambut dilaksanakan dengan metode survei kuantitatif yang mengakusisi data secara terestris maupun dengan media. Pada tahap pengolahan dan data analisis topografi, neraca air, serta hidraulika digunakan untuk menyusun basic design. Pada tahap konstruksi dilaksanakan secara design and build.

Di dalam penelitian kesetimbangan neraca air lahan rawa gambut dan stabilitas sekat kanal ini diperlukan urutan kegiatan agar tercapai penjadwalan yang sesuai. Oleh karena itu dibutuhkan metodologi dalam perencanaan yang akan mengarahkan urutan kegiatan dalam proses penelitian. Adapun urutan kegiatan tersebut, sebagai berikut:

1) Pengukuran Topografi

1) Pengukuran pada topografi area penelitian untuk mengetahui elevasi lahan menggunakan bantuan alat theodolite/waterpass dan roll meter untuk pengukuran penampang melintang dan memanjang lahan serta GPS untuk melakukan positioning di sekeliling pinggiran guludan dan tabukan lahan serta letak sumur uji.

2) Monitoring Muka Air Tanah

Untuk pemantauan uji pengukuran ketinggian air tanah pada sumur uji pemantauan menggunakan alat Water Level Indicator, pengukuran dilakukan berkala setiap satu minggu sekali namun karena cuaca tidak dapat ditebak maka pengukuran juga dilakukan secara tentatif sehingga dapat mengumpulkan data sebanyak mungkin.

Sedangkan untuk pemantauan ketinggian muka air permukaan pada saluran menggunakan rambu ukur kayu yang dipasang secara vertikal pada kanal.

Berikut pemaparan monitoring muka air tanah dilakukan dengan menggunakan sumur uji dan juga pembacaan pada rambu ukur kayu yang dipasang pada kanal adalah sebagai berikut:

a) Sumur Uji

Berikut ini langkah-langkah pembuatan dan cara pembacaan muka air tanah pada sumur uji:

(1) Membuat lubang dengan alat handboring untuk sumur uji.

(2) Dilanjutkan dengan memasukkan pipa paralon berukuran 2 inchi yang sudah dilubangi terlebih dahulu pada bagian badan pipa, agar air tanah dapat masuk ke pipa dan mudah diukur ketinggiannya.

(3) Selanjutnya, pastikan pipa berdiri tegak dan kokoh agar tidak mudah goyang posisinya dan pastikan lubang bekas pemboran tertutup rapat kembali terhadap keliling permukaan pipa agar tidak terkontaminasi air hujan.

Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: 11 pt Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: 11 pt

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,39 cm + Indent at:

2,02 cm

Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Justified, Line spacing: 1,5 lines Formatted: Line spacing: 1,5 lines Formatted: Justified, Line spacing: 1,5 lines

(31)

(4) Lubang pipa yang berada diatas permukaan tanah ditutup dengan penutup pipa pada bagian atasnya agar tidak terkontaminasi air hujan.

Gambar 3.3 Ilustrasi Pembacaan Muka Air Tanah pada Sumur Uji

Cara perhitungan pembacaan sumur uji lapangan dengan menggunakan rumus, sebagai berikut:

Z” = Z – Z’ Persamaan 1

Keterangan:

Z = Tinggi elevasi dari dasar sampai pada permukaan tanah sumur uji (m)

Z’ = Tinggi dari permukaan tanah pada pipa sumur uji bagian luar sampai dengan permukaan air di dalam sumur uji (m) Z” = Tinggi dari ujung pipa yang terlihat diatas permukaan tanah

sampai dengan permukaan air tanah di dalam sumur uji (m) b) Rambu Ukur Kayu

Berikut ini langkah-langkah pembuatan rambu ukur kayu yang dipasang pada kanal, sebagai berikut:

(1) Pengamplasan dan pengecetan warna dasar putih pada kayu ulin yang digunakan sebagai rambu ukur.

(1)(2) Penggambaran dan pengecatan badan dasar kayu ulin yang sudah dicat warna dasar dengan menggunakan cat warna merah sebagai penomoran ukuran.

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Centered, Space After: 0 pt, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Caption, Centered, Indent: Left: 1,25 cm, First line: 0 cm

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Left: 2,25 cm, Hanging: 1 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Indent: Left: 3,25 cm, Space After: 10 pt, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, Hanging: 0,75 cm, Numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 1,39 cm + Indent at:

2,02 cm

Formatted: Font: 11 pt, Indonesian Formatted: Line spacing: 1,5 lines

(32)

Gambar 3.4 Ilustrasi Pembacaan Muka Air pada Kanal

Cara perhitungan pembacaan sumur uji lapangan dengan menggunakan rumus, sebagai berikut:

Z air = Z” - Z’ Persamaan 2

Z” = Z + Z air Persamaan 3

Keterangan:

Z = Tinggi elevasi dari dasar kanal sampai ke bawah (m) Z’ = Tinggi pembacaan rambu ukur yang tidak terendam air kanal

(m)

Z” = Tinggi muka air tanah sampai muka kanal (m)

Zair = Tinggi dari permukaan tanah sampai dengan permukaan air (m)

2)

3) Pengukuran Kecepatan Aliran

3) Pengukuran kecepatan dilakukan hanya dengan menggunakan pelampung.

Pengukuran kecepatan aliran menggunakan pelampung dilakukan untuk mengetahui kecepatan permukaan aliran. Pelampung yang digunakan dihanyutkan pada permukaan bebas aliran sungai sejauh 40 m dengan mencatat waktu tempuh pelampung tersebut hingga pelampung mencapai titik 40 m. Hasil dari pengukuran kecepatan aliran permukaan ini akan digunakan untuk perhitungan stabilitas sekat kanal.

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, Not Bold Formatted: Space After: 0 pt, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Left: 3,52 cm, First line: 0,29 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Left: 2,25 cm, No bullets or numbering

Formatted: Normal, Indent: Left: 2,54 cm, First line: 1,27 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: 11 pt

(33)

4) Pengujian Infiltrasi

Pengujian infiltrasi adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui besar koefisien atau nilai infiltrasi yang terjadi pada suatu tanah. Alat yang digunakan pada pengujian ini adalah Turf-Tec Double Ring Infiltrometer. Tujuan dari pengujian ini yaitu:

a) Menentukan nilai parameter infiltrasi : fo, fc dan K.

b) Menetapkan persamaan penduga dan membuat kurva infiltrasi model horton.

4)c) Menghitung volume infiltrasi total selama waktu (t) tertentu.

5) Pengujian Evapotranspirasi (ET0)

5) Setelah mendapatkan data curah hujan harian dan data klimatologi harian di kawasan sekitar Landasan Ulin Utara dari Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Jln. Angkasa Landasan Ulin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan dari situs resmi BMKG secara online. Adapun data curah hujan yang digunakan dalam perhitungan yaitu curah hujan real time atau curah hujan sesuai dengan hari dan tanggal bersangkutan ketika penelitian berlangsung. Selanjutnya melakukan perhitungan nilai evapotranspirasi dengan menggunakan rumus Model Penman Monteith.

6) Perhitungan Neraca Air

Analisis neraca air yang dilakukan pada penelitian ini merupakan konsep

“penyederhanaan” dari konsep neraca air pada lahan gambut sesungguhnya. Konsep neraca air pada lahan gambut ombrogen dan topogen berbeda karena adanya perbedaan pasokan air. Secara ringkas model neraca air pada lahan gambut dapat dilihat pada Ggambar 3.5.

berikut:

Gambar 3.5 Gambar 4.3 Sumber dan Aliran Keluar Air Pada Gambut Topogen (Atas) dan Ombrogen (Bawah), . Dimodifikasi dari Rydin dan Jeglum (2006)

Formatted: Font: 11 pt, Indonesian Formatted: Justified, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Hanging: 0,52 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Hanging: 0,52 cm, Outline numbered + Level: 1 + Numbering Style: a, b, c, … + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0,63 cm + Indent at: 1,27 cm Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial Formatted: Font: 11 pt, Indonesian

Formatted: Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Font: 11 pt Formatted: Space After: 0 pt Formatted: Font: 11 pt, Indonesian Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Normal, Indent: Left: 0,75 cm, Space Before: 0 pt, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Font: (Default) Arial

Formatted: Normal, Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Caption, Centered, Line spacing: single, No bullets or numbering

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold, Italic Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold, Italic Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt, Not Bold

(34)

Untuk menghitung neraca air pada lahan gambut, persamaannya adalah sebagai berikut:

∆ = + . + ... − Persamaan 4

Keterangan:

∆ : Perubahan simpanan dalam akuifer : Curah hujan

. : Masukan dari aliran permukaan

. : Masukan dari aliran bawah permukaan

. : Keluaran dalam bentuk aliran permukaan

. : Keluaran dalam bentuk aliran bawah permukaan : Evapotranspirasi

Dalam neraca air lahan gambut ombrogen tidak terdapat masukan dari lahan sekitarnya (baik dalam bentuk aliran permukaan maupun aliran air tanah), atau jika ada kuantitasnya tidak signifikan. Dengan demikian jika mengabaikan komponen- komponen yang tidak signifikan tersebut, neraca air pada lahan gambut ombrogen dapat dituliskan sebagai berikut:

∆ = − .. − Persamaan 5

Prinsip penting penggunaan neraca air dalam tata-air lahan gambut adalah dengan memberikan perhatian pada segala perlakuan yang dapat atau berpotensi meyebabkan defisit air (∆S bernilai negatif) dalam jangka panjang. Karena curah hujan di lahan gambut Indonesia terkonsentrasi di musim kemarau untuk mempertahankan simpanan pada akuifer gambut. Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi gradien hidrolik antara muka air tanah dengan akuifer dengan muka air bebas pada saluran dengan menutup pintu-pintu struktur pengendalian air.

6)

3.3 Jadwal Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan kegiatan ini adalah 6 (enam) bulan, terhitung dari 1 Juli sampai 31 Desember 2018 sebagaimana pada Tabel 3.2.

Formatted: Normal, Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Normal, Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

Formatted: Normal, Indent: Left: 0,75 cm, No bullets or numbering

(35)

Tabel 3. 2 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Persiapan

a. Penyusunan rencana kerja b. Pengumpulan data sekunder

c. Review data

2. Pelaksanaan

a. Survei Pendahuluan

b. Survei topografi dan hidrometri

c. Penentuan lokasi penepan kanal dan kriteria design d. Survei investigasi desain

e. Pelaksanaan konstruksi dan pengawasan f. Evaluasi dan penyunan kriteria OP g. Foto Udara

h. Survei Inventarisasi umum keairan

i. Analisa Survei Inventarisasi umum keairan j. Pembuatan sumur uji

k. Survei pemantauan muka air permukaan

l. Analisa Survei pemantauan muka air permukaan m. Survei pengujian infiltrasi

n. Analisa infiltrasi

3. Pelaporan a. Laporan interim b. Laporan akhir

TAHAPAN No

BULAN

Juli Ags Sep Okt Nov Des

Formatted: Font: 11 pt

(36)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Kegiatan

Hasil dari penelitian ini meliputi pengukuran topografi, kontur, data curah hujan dan evapotranspirasi, pengukuran tinggi muka air tanah, serta survei geolistrik yang diperoleh dari pelaksanaan sebagai berikut:

1) Data Topografi

Pengukuran topografi merupakan komponen yang sangat penting pada penelitian ini karena meliputi pengukuran penampang, pengukuran kontur, dan tata guna lahan untuk mengetahui sumur pantau yang telah tersedia, bangunan air yang telah ada, kondisi di lokasi penelitian existing agar dapat menetukan posisi sumur pantau tambahan ataupun canal blocking yang akan di buat guna menaikkan tinggi muka air tanah di lahan gambut agar lahan gambut tetap basah dan terendam air yang berfungsi untuk menanggulangi kebakaran di lahan gambut dan dampak lainnya terhadap lingkungan.

Sumber: hasil

Gambar 4.1 Peta Lokasi Kegiatan Penelitian

Formatted: Font: (Default) Arial, 11 pt Formatted: Font: 11 pt, Not Bold, Indonesian

Formatted: Font: (Default) Arial

(37)

2) Data Evapotranspirasi dan Curah Hujan

Kedua data ini diolah untuk mengetahui keadaan ataupun kondisi lingkungan di lokasi kegiatan yang dapat dilihat pada Grafik perbandingan curah hujan dan evapotranspirasi seperti pada Gambar 4.2 Berikut ini:

Sumber: hasil

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Curah Hujan dan Evapotranspirasi

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa saat musim kemarau terjadi maka nilai evapotranpirasi lebih besar daru curah hujan yang terjadi sehingga besar kemungkinana tinggi muka air tanah akan turun atau mengalami kekeringan. Sehingga

0,0000 10,0000 20,0000 30,0000 40,0000 50,0000 60,0000

EVAPOTRANSPIRASI 14 AGUSTUS - 31 OKTOBER 2018 (SATUAN mm)

ETO CH

(38)

diperlukan sumur pantau untuk memantau tinggi muka air tanah dan canal blocking untuk menjaga keadaan tinggi muka air tanah di lahan gambut.

3) Data Pengamatan Muka Air Tanah

Data pengamatan muka air tanah ini diperoleh dari pengukuran pada sumr pantau dan canal blocking yang telah tersedia yang datanya disajikan pada Tabel 4.3.

Gambar

Gambar 1.1 Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Kegiatan
Gambar 1.2 Peta Sebaran Rawa di Indonesia beserta Lokasi Studi Liang Anggang, Kalsel
Gambar 2. 1 Kesetimbangan Alami Tata Air Dan Siklus Bahan Organik Pada Lahan  Gambut Alami (Atas) Dan Perubahannya Setelah Pembukaan Hutan Dan Pembuatan
Gambar 3.1 Flowchart Penelitian Bagian-1MULAI
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari gambaran di atas terlihat bahwa lahan rawa lebak memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai lahan usahatani dengan potensi daya saing yang

1) Pengelola sumber daya air (Balai Wilayah Sungai) wajib mengikuti norma, standar, pedoman, dan manual pengelolaan sistem informasi. 2) Pemerintah, Pemerintah Daerah dan

Hasil survei dan penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan macam pemanfaatan dan pengembangan budidaya pertaniannya, keanekaragaman hayati pertanian yang terdapat di lahan rawa

Upaya mendapatkan sumber daya ge- netik kelapa di lahan rawa pasang surut dan lebak dapat dilakukan dengan me- nerapkan seleksi BPT dari populasi perta- naman kelapa yang ada

Sedangkan masalah yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut antara lain, adalah kondisi tata air dana lahan yang memerlukan

Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui produksi kedelai dengan menerapkan teknologi budidaya kedelai melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) di lahan rawa

Sumberdaya alam berupa lahan rawa yang luas dengan beragam vegetasi hijauan yang tersedia merupakan kekuatan yang dimiliki Kalimantan Selatan dalam rangka mendukung

Berdasarkan penelitian mendalam, strategi dalam mengatasi tantangan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pemberdayaan Masyarakat oleh industri dapat dikelompokkan menjadi 4 pilar