Mahkamah Agung Republik Indonesia
X. PERMOHONAN MEMBAYAR BIAYA PERKARA TIDAK SAH
Majelis Hakim Yang Terhormat,
48. Bahwa, terbukti Gugatan yang diajukan oleh Penggugat tidak sah, maka tuntutan biaya perkara agar dibebankan kepada Para Tergugat sebagaimana dinyatakan dalam Gugatan Bagian Petitum Angka 18 tidak sah dan karenanya harus ditolak, sehingga secara hukum Penggugatlah yang berkewajiban menanggung seluruh biaya perkara aquo.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka sangatlah beralasan menurut hukum Tergugat II mohon agar Majelis Hakim Yang Terhormat yang memeriksa perkara aquo berkenan untuk mengadili dan menjatuhkan putusan sebagai berikut:
DALAM EKSEPSI
• Mengabulkan Eksepsi Tergugat VI untuk seluruhnya; - Menyatakan Gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
DALAM POKOK PERKARA
• Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya; • Menghukum Penggugat untuk membayar biaya
perkara aquo.
atau apabila Majelis Hakim Yang Terhormat pemeriksa perkara aquo berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aquo et bono).
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.idMenimbang , bahwa tergugat VII melalui Kuasanya telah mengajukan jawaban pada pokoknya sebagai berikut :
I. DALAM EKSEPSI
1. Mengenai Kewenangan Absolut
Gugatan Penggugat tertanggal 28 September 2011 bukanlah merupakan kewenangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk memeriksa dan mengadili perkara ini (Kompetensi Absolut), mengingat sebagai berikut:
a. Bahwa berdasarkan Perjanjian Penerbitan dan Penunjukkan Agen Pemantau dan Agen Jaminan serta agen pembayaran Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama Tahun 205 tanggal 14 Juli 2005 nomor 34 Notaris Imas Fatimah S.H., akta perubahan (amandemen) kedua terhadap perjanjian penerbitan dan penunjukan agen pemantau dan agen jaminan serta agen pembayaran promissory notes I PT. Garuda Tradatama tahun 2005 nomor 03, tanggal 04 Agustus 2006 notaris Bambang Wiweko, S.H., M.H. Pasal 20.
b. Bahwa berdasarkan perjanjian penerbitan dan penunjukan agen pemantau dan agen jaminan serta agen pembayaran promissory notes II PT. Garuda Tradatama tahun 2006 nomor 12, tanggal 21 Pebruari 2006 notaris Bambang Wiweko, S.H., M.H. Pasal 19.
c. Apabila terjadi perselisihan antara Kedua Belah Pihak maka harus diselesaikan dengan cara musyawarah untuk mufakat, dan hasil yang dicapai dari musyawarah tersebut secara hukum bersifat mengikat dan merupakan putusan akhir.
d. Apabila dalam jangka waktu 14 (empat betas) hari kalender sejak dimutainya musyawarah tersebut tidak tercapai kesepakatan, maka semua perselisihan yang timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan dalam tingkat pertama dan terakhir menurut peraturaniprosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) oleh arbiter-arbiter yang ditunjuk menurut peraturan tersebut. Keputusan dari BANI bersifat
mengikat Kedua Belah Pihak secara muttak untuk tingkat pertama dan terakhir, serta tidak dapat dilakukan banding atau kasasi.
e. Perjanjian ini tunduk dan harus ditafsirkan sesuai dengan hukum Negara Republik Indonesia.
f. Setiap sengketa atau beda pendapat antar Pihak yang berhubungan dengan Perjanjian ini akan diselesaikan secara musyawarah.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.idg. Bila penyelesaian secara musyawarah tidak berhasil dicapai, maka setiap sengketa atau beda pendapat antar para pihak yang berhubungan dengan Perjanjian ini akan diselesaikan dengan cara arbitrase sesuai dengan Undang-Undang Republik Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
h. Para pihak sepakat bahwa penyelesaian sengketa atau beda pandapat akan diselesaikan secara arbitrasi melalui Badan Arbitrasi Nasional Indonesia (BANI). Sidang-sidang tersebut dilaksanakan di Jakarta dalam bahasa Indonesia.
i. Kesepakatan Para Pihak untuk menyelesaikan sengketa dan beda pendapat dengan cara arbitrase meniadakan Para Pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat ke Pengadilan Umum.
j. Sambil menanti pengumuman putusan arbitrase Para Pihak akan terus melaksanakan kewajibannya masing-masing berdasarkan Perjanjian ini kecuali Perjanjian ini telah berakhir satu dan lain hal tanpa mengurangi kekuatan berlakunya penyelesaian berdasarkan putusan arbitrase.
k. Setiap pihak dan arbiter yang ditunjuk tidak diperbolehkan mengungkapkan isi atau hasil arbitrase sehubungan dengan Perjanjian ini tanpa ijin tertulis terlebih dahulu dari pihak lainnya,
l. Bahwa mengacu pada ketentuan Pasal 134 HIR, yang isinya sebagai berikut:
“Apabila persengketaan itu adalah suatu perkara yang tidak termasuk wewenang Pengadilan Negeri untuk mengadilinya, maka pada setiap saat dalam pemeriksaan perkara itu tergugat dapat mengajukan tangkisannya supaya Pengadilan Negeri menyatakan tidak berwenang mengadili perkara itu dan Pengadilan Negeri karena jabatannya harus pula menyatakan bahwa tidak berwenang mengadili perkara itu.”
m. Bahwa mengacu pada Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang isinya sebagai berikut:
Pasal 3:
“Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase”.
Pasal 11 ayat (2):
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id“Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan dalam Undang-undang ini.”
n. Bahwa Putusan Pengadilan Jakarta Pusat yang sangat dikenal di masyarakat atas putusan sela mengenai kompetensi absolut Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang mengadili penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase yaitu putusan nomor : 291/ Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst diputuskan pada hariSenin, tanggal 08 Nopember 2010, oleh kami Hj. Nirwana, SH MH., sebagai Hakim Ketua Majelis H. Yulman, SH. MH., dan MARTIN PONTO BIDARA, SH., masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan tersebut diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Rabu tanggal 10 Nopember 2010, oleh Hakim Ketua dengan didampingi Hakim Anggota dengan dibantu oleh LISNUR FAUZIAH, SH. MH., sebagai Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Berdasarkan dali-dalil sebagaimana tersebut di atas, sangat jelas dan tegas bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat TIDAK BERWENANG SECARA ABSOLUT (ABSOLUT INCOMPETENT) untuk memeriksa dan mengadili perkara ini. Oleh karena itu sudah jelas dan terang dapat disimpulkan bahwa GUGATAN PENGGUGAT HARUS DITOLAK ATAU TIDAK DAPAT DITERIMA (NIET ONTVANKELIJK VERKLAARD).
2. Gugatan Kabur (obscuur libel)
1. Bahwa materi/subtansi gugatan perkara aquo yang didalilkan oleh Penggugat adalah membingungkan dan tidak jelas. Karena Penggugat tidak menjelaskan dengan lengkap mengenai unsur – unsur serta memberikan bukti-bukti nyata yang jelas.
2. Bahwa Penggugat tidak menguraikan secara jelas peristiwa atau kejadian materil. Penggugat tidak menguraikan peristiwa-peristiwa apa saja yang melatarbelakangi gugatan ini.
3. Bahwa gugatan Pengggugat adalah gugatan yang tidak jelas dan kabur serta tidak dapat dijawab dengan mudah oleh pihak Tergugat sehingga gugatan Penggugat harus ditolak dan/atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id4. Bahwa gugatan Penggugat kabur dan tidak jelas dikarenakan hubungan hukum antara Tergugat VII dan Penggugat didasari atas suatu perjanjian, oleh sebab itu gugatan yang diajukan adalah gugatan wanprestasi bukanlah gugatan perbuatan melawan hukum, oleh sebab itu gugatan Penggugat harus tidak diterima.
5. Mahkamah Agung R.I dalam Yurisprudensi berdasarkan Putusan MARI No. 1075 K/Sip/1982 tanggal 8 Desember 1982 yang menyatakan :
“Suatu gugatan perdata yang diajukan ke Pengadilan menurut Hukum Acara Perdata, antara Petitum dengan Posita (fundamentum petendi) yang diuraikan baik faktanya maupun segi hukumnya yang diuraikan dengan jelas dalam gugatannya. Bilamana syarat ini tidak dipenuhi, maka gugatan tersebut oleh Pengadilan atau Mahkamah Agung akan diberikan putusan yang amarnya : "Gugatan tidak dapat diterima" ;
II. DALAM POKOK PERKARA
Bahwa pertama-tama Tergugat VII menjelaskan, segala sesuatu yang dikemukakan dalam bagian Eksepsi, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah dengan bantahan pokok perkara (verweer ten principals) yang diajukan dalam jawaban ini;
Pada dasarnya Tergugat VII dengan jelas menyatakan menolak seluruh dalil gugatan Penggugat, sesuai dengan alasan yang dikemukakan dibawah ini : 1. Bahwa Tergugat VII membantah semua dalil Penggugat pada halaman 2, 3,
4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, dan 15.
2. Bahwa Penggugat melakukan perjanjian pembelian Promissory Notes I tahun 2005 PT. Garuda Tradatama dan Rencana Penerbitan PN II Tahun 2006. Penggugat telah mempelajari dengan baik dan dilandasi oleh pendapat hukum dari Kuasa Hukum Penggugat yaitu Kantor Hukum ANULLAH & PARTNERS LAW FIRM yang berjudul “PENDAPAT HUKUM ATAS RENCANA DAN PENSIUN PEKEBUNAN MEMBELI SURAT SANGGUP PT GARUDA TRADATAMA I TAHUN 2005” .
3. Bahwa berdasarkan pendapat hukum tersebut, Penggugat melakukan transaksi hal ini menunjukkan, perjanjian pembelian sudah dikaji oleh Penggugat.
4. Bahwa perbuatan melawan hukum yang mana yang dimaksud oleh Penggugat pada halaman 20 point 84, 85? Oleh sebab itu dalil Penggugat sangat tidak beralasan dan mengada-ngada.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id5. Perbuatan melawan hukum Tergugat VII untuk mendukung Tergugat V dan IX, oleh Penggugat tidak dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan bersekongkol, karena itu harus ditolak.
III. DALAM PETITUM
Dalam Petitum Penggugat halaman 22 point 4, 5, 6, 7, bahwa Tergugat VII harus membayar secara tanggung renteng dengan Tergugat lain, adalah petitum yang tidak jelas dan Penggugat tidak punya kemampuan untuk menguraikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan menghukum Para Penggugat secara tanggung renteng
Berdasarkan hal-hal/fakta-fakta umum yang telah Tergugat VII uraikan tersebut di atas, tidak berlebihan dan cukup beralasan, serta berdasar hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara a quo berkenan memberikan putusan sebagai berikut
DALAM EKSEPSI :
• Mengabulkan seluruh Eksepsi Tergugat VII;
• Menyatakan Gugatan Penggugat ditolak atau tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard).
DALAM POKOK PERKARA :
• Menolak seluruh Gugatan Penggugat atau setidaknya menyatakan Gugatan tidak dapat diterima;
• Menghukum Penggugat membayar segala biaya yang timbul datar perkara ini.
Apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yan memeriksa dan mengadili perkara a quo berpendapat lain, mohon putusan yan seadil - adilnya (Ex Aequo Et Bono)
Menimbang , bahwa Tergugat VIII melalui Kuasa Hukumnya telah mengajukan jawaban pada pokoknya sebagai berikut :
I. DALAM EKSEPSI
1. Mengenai Kewenangan Absolut
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.idGugatan Penggugat tertanggal 28 September 2011 bukanlah merupakan kewenangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk memeriksa dan mengadili perkara ini (Kompetensi Absolut), mengingat sebagai berikut:
a. Bahwa berdasarkan Perjanjian Penerbitan dan Penunjukkan Agen Pemantau dan Agen Jaminan serta agen pembayaran Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama Tahun 205 tanggal 14 Juli 2005 nomor 34 Notaris Imas Fatimah S.H., akta perubahan (amandemen) kedua terhadap perjanjian penerbitan dan penunjukan agen pemantau dan agen jaminan serta agen pembayaran promissory notes I PT. Garuda Tradatama tahun 2005 nomor 03, tanggal 04 Agustus 2006 notaris Bambang Wiweko, S.H., M.H. Pasal 20.
b. Bahwa berdasarkan perjanjian penerbitan dan penunjukan agen pemantau dan agen jaminan serta agen pembayaran promissory notes II PT. Garuda Tradatama tahun 2006 nomor 12, tanggal 21 Pebruari 2006 notaris Bambang Wiweko, S.H., M.H. Pasal 19.
c. Apabila terjadi perselisihan antara Kedua Belah Pihak maka harus diselesaikan dengan cara musyawarah untuk mufakat, dan hasil yang dicapai dari musyawarah tersebut secara hukum bersifat mengikat dan merupakan putusan akhir.
d. Apabila dalam jangka waktu 14 (empat betas) hari kalender sejak dimutainya musyawarah tersebut tidak tercapai kesepakatan, maka semua perselisihan yang timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan dalam tingkat pertama dan terakhir menurut peraturaniprosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) oleh arbiter-arbiter yang ditunjuk menurut peraturan tersebut. Keputusan dari BANI bersifat mengikat
Kedua Belah Pihak secara muttak untuk tingkat pertama dan terakhir, serta tidak dapat dilakukan banding atau kasasi.
e. Perjanjian ini tunduk dan harus ditafsirkan sesuai dengan hukum Negara Republik Indonesia.
f. Setiap sengketa atau beda pendapat antar Pihak yang berhubungan dengan Perjanjian ini akan diselesaikan secara musyawarah.
g. Bila penyelesaian secara musyawarah tidak berhasil dicapai, maka setiap sengketa atau beda pendapat antar para pihak yang berhubungan dengan Perjanjian ini akan diselesaikan dengan cara arbitrase sesuai dengan Undang-Undang Republik Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.idh. Para pihak sepakat bahwa penyelesaian sengketa atau beda pandapat akan diselesaikan secara arbitrasi melalui Badan Arbitrasi Nasional Indonesia (BANI). Sidang-sidang tersebut dilaksanakan di Jakarta dalam bahasa Indonesia.
i. Kesepakatan Para Pihak untuk menyelesaikan sengketa dan beda pendapat dengan cara arbitrase meniadakan Para Pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa atau beda pendapat ke Pengadilan Umum.
j. Sambil menanti pengumuman putusan arbitrase Para Pihak akan terus melaksanakan kewajibannya masing-masing berdasarkan Perjanjian ini kecuali Perjanjian ini telah berakhir satu dan lain hal tanpa mengurangi kekuatan berlakunya penyelesaian berdasarkan putusan arbitrase.
k. Setiap pihak dan arbiter yang ditunjuk tidak diperbolehkan mengungkapkan isi atau hasil arbitrase sehubungan dengan Perjanjian ini tanpa ijin tertulis terlebih dahulu dari pihak lainnya,
l. Bahwa mengacu pada ketentuan Pasal 134 HIR, yang isinya sebagai berikut:
“Apabila persengketaan itu adalah suatu perkara yang tidak termasuk wewenang Pengadilan Negeri untuk mengadilinya, maka pada setiap saat dalam pemeriksaan perkara itu tergugat dapat mengajukan tangkisannya supaya Pengadilan Negeri menyatakan tidak berwenang mengadili perkara itu dan Pengadilan Negeri karena jabatannya harus pula menyatakan bahwa tidak berwenang mengadili perkara itu.”
m. Bahwa mengacu pada Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang isinya sebagai berikut:
Pasal 3:
“Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase”.
Pasal 11 ayat (2):
“Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan dalam Undang-undang ini.”
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.idn. Bahwa Putusan Pengadilan Jakarta Pusat yang sangat dikenal di masyarakat atas putusan sela mengenai kompetensi absolut Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang mengadili penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase yaitu putusan nomor : 291/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst diputuskan pada hariSenin, tanggal 08 Nopember 2010, oleh kami Hj. Nirwana, SH MH., sebagai Hakim Ketua Majelis H. Yulman, SH. MH., dan MARTIN PONTO BIDARA, SH., masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan tersebut diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Rabu tanggal 10 Nopember 2010, oleh Hakim Ketua dengan didampingi Hakim Anggota dengan dibantu oleh LISNUR FAUZIAH, SH. MH., sebagai Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Berdasarkan dali-dalil sebagaimana tersebut di atas, sangat jelas dan tegas bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat TIDAK BERWENANG SECARA ABSOLUT (ABSOLUT INCOMPETENT) untuk memeriksa dan mengadili perkara ini. Oleh karena itu sudah jelas dan terang dapat disimpulkan bahwa GUGATAN PENGGUGAT HARUS DITOLAK ATAU TIDAK DAPAT