• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idP U T U S A N

Nomor : 393/PDT.G/2011/PN.JKT.PST

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sela sebagai berikut dalam perkara antara :

DANA PENSIUN PERKEBUNAN, berdomisili di Gedung Dapenbun Jl.Hayam

Wuruk No.4AX-BX, Jakarta Pusat , dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukumnya IRFAN MELAYU, SH, LLM, ANDI ASMOROPUTRO, SH Advokat dari Kantor Hukum Irfan Melayu, berdomisili di Jl.Faletehan Raya No.2, Kebayoran Baru

Jakarta Selatan berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 26 September 2011 selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT ;

MELAWAN

1. PT. GARUDA TRADATAMA, berdomisili di Wisma SMR 4 th Floor Suite

403, Jl.Yos Sudarso Kav. 89, Jakarta Utara 14350, Indonesia, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT I;

2. FERRY SANGEROKI, berdomisili di Jl.Tanah Abang III No.6 Rt 002 /003

Kel.Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT II;

3. YAN SUPIT, berdomisili di Jl.Danau Indah VI A 8/21 Rt 002/012 Kelurahan

Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT III;

4. PT. BANK PERMATA Tbk, berdomisili di Permata Bank Tower I Jl.Jend

Sudirman Kav 27, Jakarta Selatan, untuk selanjutnya disebut sebagai

TERGUGAT IV;

5. PT. BANK CIMB NIAGA Tbk, berdomisili di Graha Niaga Lt. 6 Jl.Jend

Sudirman Kab 58 Jakarta Selatan, untuk selanjutnya disebut sebagai

TERGUGAT V;

6. PT. TIGA PILAR SEKURITAS ,berdomisili di Mayapada Tower Lt. 6 Jl.Jend

Sudirman Kav 58 Jakarta, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT VI;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id7. PT. THEDA MAKMUR, berdomisili di Gedung NAM Centre Lt. 3 Jl. Angkasa

Blok B 10 No.6 Jakarta Pusat sebagai TERGUGAT VII;

8. STEVANUS WITONO, berdomisili di PT. Theda Makmur Gedung NAM

Centre Lantai 3 Jl. Angkasa Blok B 10 No. 6, Jakarta Pusat, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT VIII;

9. PT. HUTAMA PENILAI (Kantor Jasa Penilai Publik Aksa, Nelson dan Rekan), berdomisili di Asfa Graha, Komplek Cipulir Center, Blok A-7

Jl. Ciledug Raya No.77, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT IX;

10. KANTOR PERTANAHANAN KOTAMADYA JAKARTA PUSAT, berdomisili

di Jl.Tanah Abang I No.1 Jakarta Pusat, untuk selanjutnya disebut sebagai

TURUT TERGUGAT I;

11. PUSAT PENGELOLAAN KOMPLEK KEMAYORAN, berdomisili di Jl.

Angkasa (ex Gedung ADPEL ), Kemayoran, Jakarta Pusat, untuk selanjutnya disebut sebagai TURUT TERGUGAT II;

12. IMAS FATIMAH, SH, berdomisili di Cyber 2 Tower, Lt. 22 Jl. HR. Rasuna

Said, Blok X-5, No.13 Jakarta Selatan 12950, untuk selanjutnya disebut sebagai TURUT TERGUGAT III;

13. BAMBANG WIWEKO, SH, MH, berdomisili di Jl. Kebon Jeruk Raya No.7 Rt

006/001, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 11530 untuk selanjutnya disebut sebagai TURUT TERGUGAT IV;

14. HAMBIT MASEH, SH, berdomisili di Jl.Rawamangun No. 35 Salemba

Tengah, untuk selanjutnya disebut sebagai Jakarta Pusat sebagai TURUT TERGUGAT V;

15. Drs. ABDULRAHMAN HASAN SALIPU, Ak, Berdomisili di Gedung Graha

Indhika Lt 1, Jl.Usaha No. 22 A Dewi Sartika Cawang, Jakarta Timur, untuk selanjutnya disebut sebagai TURUT TERGUGAT VI;

Pengadilan Negeri tersebut; Telah memeriksa berkas perkara ; Telah memperhatikan surat surat bukti ;

TENTANG DUDUKNYA PERKARA

Menimbang , bahwa setelah membaca surat gugatan Penggugat tertanggal 28 September 2011 yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idNegeri Jakarta Pusat pada tanggal 28 September 2011 yang terdaftar dalam daftar

Register Nomor : 393/PDT.G/2011/PN.JKT.PST telah mengemukakan hal hal sebagai berikut

:---I. DUDUK PERKARA

Penerbitan Promissory Notes I Tahun 2005 PT. Garuda Tradatama

1. Pada tanggal 15 Juli 2005, Tergugat I menerbitkan Surat Sanggup (Promissory Notes) I PT. Garuda Tradatama Tahun 2005 (untuk selanjutnya disebut “PN I

Garuda”) dengan total nilai nominal sebesar Rp 155.100.000.000,- (seratus lima

puluh lima milyar seratus juta rupiah), dengan arranger adalah Tergugat VI (PT. Tiga Pilar Sekuritas); sedangkan agen pemantau, agen jaminan serta agen pembayaran dijabat Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk).

2. Pada saat penerbitan PN I Garuda termaksud, susunan pemegang saham, direksi dan komisaris Tergugat I adalah sebagai berikut:

Para pemegang saham:

1) Ferry Sangeroki (Tergugat II) sebanyak 98,6% atau 4.980 (empat ribu sembilan ratus delapan puluh) lembar saham.

2) Yan Supit (Tergugat III) sebanyak 0,4% atau 20 (dua puluh) lembar saham.

Direksi dan komisaris:

3) Ferry Sangeroki (Tergugat II), sebagai Direktur (tunggal). 4) Yan Supit (Tergugat III), sebagai Komisaris (tunggal).

3. Dalam rangka penerbitan PN I Garuda termaksud, pada tanggal 14 Juli 2005 ditandatangani penunjukan lembaga keuangan dan akta terkait lainnya, yaitu:

1) Perjanjian Penerbitan dan Penunjukan Agen Pemantau dan Agen Jaminan Serta Agen Pembayaran Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama Tahun 2005 (“Perjanjian Penerbitan PN I Garuda”) antara

Tergugat I selaku penerbit, PT. Tiga Pilar Sekuritas (Tergugat VI) selaku arranger serta PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) selaku agen pemantau, agen jaminan dan agen pembayaran, yang dituangkan dalam Akta No. 34 Notaris Imas Fatimah SH (Turut Tergugat III), di Jakarta. 2) Akta No. 35 tentang Pengakuan Hutang PT. Garuda Tradatama (Tergugat

I), yang dibuat di hadapan Imas Fatimah SH (Turut Tergugat III), Notaris di Jakarta. Dalam akta ini Tergugat I mengaku secara sah berhutang kepada pemegang PN I Garuda sebesar Rp 155.100.000.000,- (seratus lima puluh lima milyar seratus juta rupiah) yang wajib dibayar lunas 370 hari sejak tanggal penerbitan yaitu tanggal 15 Juli 2005.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id3) Akta No. 36 tentang Gadai Saham oleh Ferry Sangeroki (Tergugat II),

yang dibuat di hadapan Notaris Imas Fatimah SH (Turut Tergugat III), di Jakarta. Dalam akta ini dinyatakan Ferry Sangeroki (Tergugat II) menggadaikan saham miliknya di PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) sejumlah 2.500 lembar saham guna menjamin pelunasan hutang Tergugat I atas penerbitan PN I Garuda.

4) Akta No. 37 tentang Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan, yang dibuat di hadapan Notaris Imas Fatimah, SH (Turut Tergugat III), di Jakarta. Dalam akta ini PT. Theda Makmur (Tergugat VII) memberikan kuasa kepada PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) guna melakukan pembebanan hak tanggungan atas tanah dan bangunan sesuai Sertipikat HGB No. 1487, 1488, dan 1489/Gunung Sahari Selatan, yang terletak di Jl. Angkasa Persil B.3, Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat atas nama PT. Theda Makmur. Tanah dan bangunan tersebut dikenal sebagai “Kemayoran Park Plaza”, yaitu suatu hotel yang

terhenti pembangunannya sejak tahun 2000.

Dalam akta ini PT. Theda Makmur (Tergugat VII) diwakili oleh Ferry Sangeroki (Tergugat II) selaku direktur dan Stevanus Witono (Tergugat VIII) selaku komisaris.

Penjaminan termaksud telah mendapat persetujuan dari Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (Turut Tergugat II — dahulu bernama Direksi Pelaksana Pengendalian Pembangunan Komplek Kemayoran) selaku pemegang Hak Pengelolaan atas tanah yang dijadikan jaminan. 4. Perlu ditegaskan bahwa Ferry Sangeroki merupakan pemegang saham

mayoritas mutlak, direktur (tunggal), sekaligus sebagai pengendali PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) dan PT. Theda Makmur (Tergugat VII). Dalam penerbitan PN I Garuda ini PT. Garuda Tradatama bertindak sebagai penerbit, sedangkan PT. Theda Makmur memberikan aktiva tetapnya berupa tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza, sebagai jaminan penerbitan PN I Garuda.

5. Penggugat bukanlah pihak dalam Perjanjian Penerbitan PN I Garuda dan tidak terlibat sama sekali dengan penandatanganan akta-akta yang berkaitan dengan penerbitan PN I Garuda tersebut. Secara hukum Penggugat barulah memiliki hubungan hukum dengan pihak-pihak yang terkait dengan penerbitan PN I Garuda apabila Penggugat sudah menjadi pemegang PN I Garuda (dengan cara membeli) dan masih memegang PN I Garuda tersebut.

6. Satu-satunya organ yang dapat digunakan Penggugat menegakkan kepentingannya adalah melalui Rapat Umum Pemegang Promissory Notes I

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idGaruda (“RUPPN I Garuda”). Secara yuridis pelaksanaan kepentingan

Penggugat tersebut dijalankan, diwakili dan dilindungi oleh PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) yang ditunjuk sebagai agen pemantau, agen jaminan, dan agen pembayaran, walaupun honorarium Tergugat IV dibayar oleh penerbit (Tergugat I).

7. Adapun syarat dan ketentuan serta informasi penting lainnya tentang penerbitan PN I Garuda tertuang dalam Informasi Memorandum PT. Garuda Tradatama tanggal 15 Juli 2005. Informasi Memorandum tersebut ditandatangani dan dijamin kebenarannya oleh PT. Garuda Tradatama (Tergugat I), Ferry Sangeroki (Tergugat II), PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) serta PT. Tiga Pilar Sekuritas (Tergugat VI), yang pada pokoknya menyatakan:

1. PN I Garuda dijamin dengan dua jaminan, yaitu:

4).1. Saham PT. Garuda Tradatama, sejumlah 2.500 lembar saham atas nama Ferry Sangeroki (Tergugat II) yang akan dijaminkan dengan gadai saham.

4).2. Tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza, sebagaimana dimuat dalam sertipikat HGB No 1487, 1488, dan 1489/Gunung Sahari Selatan, yang terletak di Jl. Angkasa Persil B.3, Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat atas nama PT. Theda Makmur.

2. Dana hasil penerbitan PN I Garuda akan digunakan untuk pengembangan usaha di bidang perkebunan teh dan pengolahannya dengan menghasilkan 2 (dua) produk utama yaitu teh hitam dan teh hijau.

3. Dalam laporan keuangan per 31 Mei 2005 dan 31 Desember 2004 dinyatakan Tergugat I memiliki aktiva tetap sebesar Rp 328.143.542.300,- (tiga ratus dua puluh delapan milyar seratus empat puluh tiga juta lima ratus empat puluh dua ribu tiga ratus rupiah) dengan jumlah ekuitas sebesar 318.193.522.549,- (tiga ratus delapan belas milyar seratus sembilan puluh tiga juta lima ratus dua puluh dua ribu lima ratus empat puluh sembilan rupiah).

7. Informasi Memorandum merupakan informasi tertulis berisikan keterangan-keterangan berkaitan dengan promissory notes yang diterbitkan dan penerbitnya. Informasi tersebut ditandatangani dan dijamin kebenarannya oleh penerbit (Tergugat I - PT. Garuda Tradatama), agen pemantau, agen pembayar, dan agen jaminan (PT. Bank Permata Tbk), dan arranger (PT. Tiga Pilar Sekuritas - Tergugat VI). Berdasarkan informasi dan jaminan tersebutlah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idinvestor, dalam hal ini Penggugat, memutuskan untuk membeli promissory notes

yang diterbitkan.

Penggugat Melakukan Pembelian PN I Garuda

8. Setelah membaca Informasi Memorandum PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) tersebut serta data-data pendukung lainnya, di antaranya laporan keuangan Tergugat I per 31 Mei 2005 dan 31 Desember 2004, Penggugat sebagai investor tentu saja sangat tertarik untuk membeli PN I Garuda tersebut mengingat hal-hal berikut:

8.1. PN I Garuda dijamin dengan dua jaminan, yaitu:

8.1.1. Saham PT. Garuda Tradatama, sebanyak 2.500 lembar dengan nilai nominal Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) atas nama Ferry Sangeroki (Tergugat II) yang akan dijaminkan melalui gadai saham. Saham PT. Garuda Tradatama sebanyak 2.500 lembar termaksud setara dengan 50% modal PT. Garuda Tradatama yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

8.1.2. Tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza, sesuai dengan Sertipikat HGB No 1487, 1488, dan 1489/Gunung Sahari Selatan atas nama PT. Theda Makmur.

8.2. Tergugat I memiliki kekayaan yang cukup, yaitu:

Dalam laporan keuangan per 31 Mei 2005 dan 31 Desember 2004 dinyatakan Tergugat I memiliki aktiva tetap sebesar Rp 328.143.542.300,- dengan jumlah ekuitas per 31 Mei 2005 sebesar Rp 318.193.522.549,-. Dari laporan keuangan tersebut tergambar bahwa Tergugat I mempunyai kekayaan dan kemampuan di atas jumlah PN I Garuda yang hendak diterbitkan yang hanya berjumlah 155,1 milyar rupiah.

8.3. Penerbitan PN I Garuda didukung dan dipantau oleh lembaga keuangan yang ternama, dalam hal ini PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) yang bertindak sebagai agen pemantau, agen jaminan dan agen pembayar. Dengan demikian Penggugat yakin investasinya terjaga dan terlindungi. 9. Setelah membaca Informasi Memorandum PT. Garuda Tradatama (Tergugat I)

tersebut berikut data-data yang disampaikan, Penggugat menjadi berbunga-bunga hatinya dan tertarik berinvestasi. Penggugat akhirnya membeli seluruh PN I Garuda dengan total nilai sebesar Rp 155.100.000.000,- (seratus lima puluh lima milyar seratus juta rupiah), dengan perincian 31 (tiga puluh satu) lembar sertipikat (dari No. Seri GT-A-001 sampai dengan GT-A-031) per sertipikat senilai Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dan 1 lembar sertipikat No. Seri GT-D-001 dengan nilai nominal Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id10. Perlu dijelaskan pada awalnya Penggugat tidak kenal baik dengan PT. Garuda

Tradatama (Tergugat I) maupun para pemegang sahamnya (Tergugat II dan Tergugat III). Dengan demikian posisi Penggugat sangatlah rentan dan karenanya menggantungkan sepenuhnya pada hal-hal berikut, yaitu:

10.1. Keberadaan dan kebenaran nilai kedua jaminan berupa tanah serta bangunan Kemayoran Park Plaza dan 2.500 (dua ribu lima ratus) lembar saham PT. Garuda Tradatama milik Tergugat II.

10.2. Kebenaran informasi yang disampaikan oleh Para Tergugat.

10.3. Profesionalisme dan kinerja Para Tergugat, khususnya PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) sebagai wakil kepentingan Penggugat.

Pemasangan Hak Tanggungan Atas Kemayoran Park Plaza untuk Menjamin Pelunasan PN I Garuda

11. Dalam rangka menjamin pelunasan hutang sebesar Rp 155.100.000.000,-sesuai Perjanjian Penerbitan PN I Garuda, pada tanggal 17 Oktober 2005 PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) melakukan pembebanan hak tanggungan terhadap Kemayoran Park Plaza. Pembebanan ini dilakukan atas penerbitan PN I Garuda dan terdaftar dalam register Hak Tanggungan No. 2786 tahun 2005.

Rencana Penerbitan PN II Garuda Tahun 2006

12. Empat bulan setelah penerbitan PN I Garuda, pada tanggal 16 Nopember 2005 PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) dan PT. Tiga Pilar Sekuritas (Tergugat VI) menyampaikan kepada Penggugat bahwa pelunasan PN I Garuda terancam mengalami kegagalan pembayaran pada saat jatuh tempo akibat penyelesaian pembangunan barang jaminan yaitu proyek Kemayoran Park Plaza belum juga dapat dimulai karena tidak ada dana.

13. Untuk mendapatkan dana guna melanjutkan pembangunan proyek Kemayoran Park Plaza tersebut PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) dan Ferry Sangeroki (Tergugat II) berencana untuk menerbitkan surat sanggup lagi, yaitu Promissory Notes II PT. Garuda Tradatama (selanjutnya disebut “PN II Garuda”).

14. Terhadap penerbitan PN II Garuda tersebut PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) dan Ferry Sangeroki (Tergugat II) melalui suratnya bertanggal 29 November 2005 meminta Penggugat untuk mengijinkan digunakannya jaminan PN I Garuda berupa tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza untuk dapat juga digunakan sebagai jaminan penerbitan PN II Garuda secara paripasu.

15. Tergugat I dan Tergugat II meyakinkan Penggugat apabila kegiatan pembangunan dilanjutkan lagi dengan menggunakan dana yang berasal dari PN II Garuda maka pembangunan tersebut akan menarik investor untuk menginvestasikan dananya. Tergugat II menjanjikan dana investor tersebut akan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.iddigunakan melanjutkan pembangunan Kemayoran Park Plaza dan melunasi PN

I Garuda; atau apabila Kemayoran Park Plaza selesai dibangun maka hotel tersebut dapat dijual dan hasilnya digunakan melunasi PN I Garuda pada saat jatuh tempo.

16. Menurut Tergugat I dan Tergugat II apabila pembangunan Kemayoran Park Plaza dilanjutkan maka selambat-lambatnya dalam jangka waktu 4 (empat) bulan pembangunan akan selesai. Untuk itu Tergugat II berjanji bahwa apabila PN II Garuda telah diterbitkan, maka dana yang diterima akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan Kemayoran Park Plaza yang akan selesai dibangun bertepatan dengan tanggal jatuh tempo PN I Garuda di bulan Juli 2006.

17. Penggugat tentu saja keberatan pembayaran pelunasan PN I Garuda disandarkan pada pembangunan Kemayoran Park Plaza, karena Informasi Memorandum menyatakan hasil penerbitan PN I Garuda akan digunakan untuk pengembangan perkebunan teh dan pengolahannya. Dengan demikian tentu saja pelunasan PN I Garuda semestinya berasal dari kegiatan usaha Tergugat I di bidang perkebunan dan pengolahan teh tersebut.

18. Pernyataan Tergugat I yang mengkaitkan pembayaran PN I Garuda dengan pembangunan Kemayoran Park Plaza dan terancam tidak dibayarnya PN I Garuda karena Tergugat I tidak punya dana padahal Informasi Memorandum yang disampaikan menyatakan bahwa Tergugat I memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, menunjukkan bahwa Tergugat I sebenarnya adalah perusahaan yang tidak jelas kegiatannya atau fiktif. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan Penggugat tentang itikad dan kesungguhan Tergugat I untuk membayar kewajibannya.

19. Atas kecurigaan tersebut Penggugat dalam surat balasannya No. D.00/ GT/2214/29.XI/2005 bertanggal 29 November 2005 mengajukan syarat-syarat apabila tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza hendak dijadikan jaminan secara paripasu dengan PN II Garuda, yaitu:

19.1. Permohonan paripasu tersebut disertai dengan hak preferen (mendahului) bagi pemegang PN I Garuda.

19.2. Maksimal nilai PN II Garuda sebesar Rp 65 milyar netto.

20. Sebagai tindak lanjut rencana penerbitan PN II Garuda dan permohonan PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) untuk membagi jaminan berupa tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza dengan pemegang PN II Garuda, maka PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang PN I Garuda (“RUPPN I Garuda”) pada tanggal 5 Desember 2005.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id21. Dalam RUPPN I Garuda tersebut Tergugat I meminta agar hak preferen tidak

diberikan kepada pemegang PN I Garuda, melainkan jaminan Kemayoran Park Plaza tersebut dibagi secara proporsional antara pemegang PN I Garuda dan PN II Garuda, sedangkan maksimal nilai PN II Garuda dimohonkan sebesar Rp 80 milyar. Atas permohonan Tergugat I tersebut, Penggugat memiliki pertimbangan berikut ini:

21.1. Dihilangkannya hak preferen pemegang PN I Garuda atas kedua jaminan (2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama dan tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza) menimbulkan risiko bahwa Penggugat harus berbagi hasil eksekusi kedua jaminan dengan pemegang PN II Garuda apabila Tergugat I tidak memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo. Dengan demikian Penggugat berkepentingan agar nilai jaminan-jaminan yang ada lebih besar daripada total nilai PN I Garuda dan PN II Garuda. Untuk itu harus diadakan penilaian (appraisal) lebih dahulu terhadap kedua jaminan yang ada, dan bila nilai kedua jaminan tersebut tidak mencukupi (kurang) maka penerbit (Tergugat I) harus menambahnya.

21.2. Pernyataan Tergugat I tentang alasan diterbitkannya PN II Garuda dan terancam tidak dibayarnya PN I Garuda menunjukkan bahwa Tergugat I merupakan perusahaan yang tidak benar dan tidak layak, baik kekayaannya maupun kegiatan usahanya, padahal 50% saham penerbit (Tergugat I – PT. Garuda Tradatama) juga turut dijadikan jaminan. Dengan demikian Penggugat berkepentingan diadakannya penilaian atas saham Tergugat I mengingat nilai saham Tergugat I tersebut merupakan cermin kegiatan dan kekayaan usahanya.

21.3. Sekalipun dalam surat permohonannya Tergugat I hanya memohon agar Kemayoran Park Plaza saja yang dijadikan jaminan secara paripasu dengan pemegang PN II Garuda, akan tetapi di dalam RUPPN I Garuda termaksud 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama juga dimasukkan sebagai jaminan yang akan dibagi secara proporsional dengan pemegang PN II Garuda. Dengan demikian Penggugat juga berkepentingan atas nilai sesungguhnya 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama tersebut.

21.4. Akibat terbengkalainya pembangunan Kemayoran Park Plaza sejak tahun 2000 maka nilai tanah dan bangunan mengalami penyusutan dan masih harus ditambah lagi denda yang dikenakan Pusat Pengelolaan Kawasan Kemayoran (Turut Tergugat II). Penggugat khawatir apabila

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idnilai denda dan penyusutan tersebut lebih besar daripada nilai tanah dan

bangunan Kemayoran Park Plaza maka jaminan tersebut tidak ada lagi harganya, sehingga untuk itu diperlukan penilaian (appraisal) menyeluruh.

22. Syarat yang diminta Penggugat agar diadakan penilaian (appraisal) sebelum PN II Garuda diterbitkan dan bila nilai kedua jaminan kurang maka Penerbit (PT. Garuda Tradatama — Tergugat I) harus menambahnya sebenarnya merupakan perintah Pasal 11 ayat (2) huruf t Perjanjian Penerbitan PN I Garuda, yang berbunyi:

Kewajiban Penerbit: “mempertahankan nilai jaminan tidak kurang dari 100% (seratus persen) dari Promissory Notes yang diterbitkan, dan dengan ketentuan dalam hal nilai jaminan karena sebab apapun turun atau kurang dari 100% (seratus persen) dari Promissory Notes yang diterbitkan, maka Penerbit wajib menambah dengan menyerahkan jaminan lainnya yang disetujui oleh Agen Pemantau Dan Agen Jaminan untuk memenuhi nilai Jaminan tersebut”.

23. Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, dalam Rapat Umum Pemegang Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama (“RUPPN I Garuda”) tanggal 5 Desember 2005 yang diselenggarakan PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV), Penggugat menyetujui diterbitkannya PN II Garuda dan dibaginya kedua jaminan penerbitan PN I Garuda dengan pemegang PN II Garuda dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut tertuang dalam Akta No. 03 perihal Berita Acara Rapat Umum Pemegang Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama tahun 2005, yang dibuat di hadapan Notaris Bambang Wiweko, SH (Turut Tergugat IV), yaitu:

23.1. Penggugat selaku pemegang PN I Garuda memberikan persetujuan penerbitan PN II Garuda maksimal sebesar Rp. 80.000.000.000,-, (delapan puluh milyar rupiah). Dengan demikian apabila PN II Garuda jadi diterbitkan maka nilai total PN I Garuda ditambah PN II Garuda menjadi sebesar-besarnya Rp 235.100.000.000,- (dua ratus tiga puluh lima milyar seratus juta rupiah).

23.2. Penggugat selaku pemegang PN I Garuda menyetujui penggunaan kedua jaminan berupa 2.500 (dua ribu lima ratus) lembar saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki dan Kemayoran Park Plaza secara proporsional antara PN I Garuda dengan PN II Garuda dengan syarat dilakukan penilaian terlebih dahulu terhadap kedua jaminan PN I Garuda tersebut. Apabila hasil penilaian menyatakan bahwa nilai kedua jaminan kurang dari total nilai nominal PN I Garuda ditambah nilai penerbitan PN II Garuda maka PT. Garuda Tradatama

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id(Tergugat I) harus terlebih dahulu melakukan penambahan jaminan

sebelum menerbitkan PN II Garuda dan membagi kedua jaminan secara paripasu dan prorata untuk kedua surat sanggup tersebut (PN I Garuda dan PN II Garuda).

23.3. Tergugat I memberikan kuasa kepada Tergugat IV untuk melakukan eksekusi langsung apabila Tergugat I gagal bayar (default) tanpa melalui RUPPN. Ini berarti Penggugat tidak berniat memperpanjang jatuh tempo PN I Garuda apabila gagal bayar.

24. Pada tanggal 21 Februari 2006 PT. Garuda Tradatama (Tergugat I), PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) dan PT. Tiga Pilar Sekuritas (Tergugat VI) melakukan perubahan (amandemen) pertama terhadap Perjanjian Penerbitan dan Penunjukan Agen Pemantau dan Agen Jaminan serta Agen Pembayaran Promissory Notes I PT. Garuda Tradatama tahun 2005 (“Perjanjian Penerbitan PN I Garuda”). Amandemen tersebut dituangkan dalam Akta No. 11 yang dibuat di hadapan Bambang Wiweko, SH (Turut Tergugat IV), Notaris di Jakarta.

25. Ketentuan yang diamandemen adalah Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda yang sebelumnya menyebutkan bahwa tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza dipasang dengan Hak Tanggungan sebagai jaminan penerbitan PN I Garuda saja diubah menjadi sebagai jaminan bagi PN I Garuda dan PN II Garuda secara paripasu. Pada saat Pasal 14 ini diamandemen, Penggugat tidak mengetahui bahwa syarat adanya penilaian (appraisal) terhadap kedua jaminan sebelum PN II Garuda diterbitkan tidak dijalankan oleh PT. Garuda Pradatama (Tergugat I), Ferry Sangeroki (Tergugat II), PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV), dan PT. Tiga Pilar Sekuritas (Tergugat VI).

26. Agar syarat adanya penilaian (appraisal) tersebut seolah-olah sudah dipenuhi, Tergugat I, Tergugat II, Tergugat IV, dan Tergugat VI melakukan rekayasa dengan mencantumkan di dalam akta tersebut bahwa pada saat ditandatanganinya amandemen perjanjian itu nilai tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza berdasarkan hasil penilaian dari PT. Hutama Penilai (Tergugat IX) tanggal 05 September 2005, sebagaimana laporan penilaian nomor: 247/HPS/IX/2005, tanggal 5 September 2005, adalah senilai Rp 275.192.100.000,- (dua ratus tujuh puluh lima milyar seratus sembilan puluh dua juta seratus ribu rupiah), atau lebih besar daripada total nilai penerbitan PN I Garuda dan PN II Garuda.

27. Pada hari yang sama tanggal 21 Februari 2006, Tergugat I (PT. Garuda Tradatama), Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk), dan Tergugat V (PT. Bank

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idCIMB Niaga Tbk) menandatangani Perjanjian Pembagian Hasil Jaminan, yang

dibuat di hadapan Bambang Wiweko, SH (Turut Tergugat IV), Notaris di Jakarta. 28. Pasal 2 Perjanjian Pembagian Hasil Jaminan menyebutkan PT. Garuda

Tradatama (Tergugat I), PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV), dan PT. Bank CIMB Niaga Tbk (Tergugat V) sebagai agen pemantau PN II Garuda sepakat untuk membagi hasil eksekusi kedua jaminan (Kemayoran Park Plaza dan 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki) secara prorata di antara Pemegang PN I dan PN II Garuda dan tidak ada pihak yang mempunyai hak preferen (mendahului) terhadap pihak yang lain terhadap kedua jaminan.

29. Pada tanggal 17 April 2006 PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) mengajukan permohonan penghapusan (roya) atas Hak Tanggungan No. 2786/2005 dan atas permohonan tersebut telah dilakukan penghapusan hak tanggungan sebagai jaminan PN I Garuda.

30. Kemudian PT. Bank Permata Tbk (Tergugat IV) pada tanggal 21 April 2006 melakukan pembebanan dengan hak tanggungan atas Kemayoran Park Plaza untuk menjamin hutang atas penerbitan PN I Garuda tahun 2005 dan PN II Garuda tahun 2006 sebagaimana tertuang dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 47/2006 yang dibuat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Hambit Maseh, SH (Turut Tergugat V). Atas pembebanan hak tanggungan tersebut pada tanggal 12 Mei 2006 diterbitkan Sertipikat Hak Tanggungan No. 828/2006 oleh Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Pusat (Turut Tergugat I). 31. Itikad buruk Para Tergugat makin terlihat pada saat PN I Garuda akan jatuh

tempo. Pada saat itu PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) mengajukan permohonan perpanjangan jangka waktu pelunasan PN I Garuda yang akan jatuh tempo tanggal 20 Juli 2006 menjadi bulan September 2007, sesuai dengan cash flow Tergugat I.

32. Surat serupa oleh Tergugat I (PT. Garuda Tradatama) juga dikirimkan kepada Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk). Dalam suratnya tersebut Tergugat I menyatakan bahwa alasan permohonan perpanjangan PN I Garuda karena proyek hotel, apartemen dan perkantoran sampai saat itu belum bisa menghasilkan pendapatan. Hal itu terjadi karena rencana untuk mendapatkan dana hasil penjualan PN II Garuda sampai saat itu belum terealisasi. Diharapkan hasil penjualan PN II Garuda akan digunakan untuk meneruskan proyek Kemayoran Park Plaza dan melakukan Pre-Project Selling untuk proyek apartemen dan gedung perkantoran.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id33. Untuk menindaklanjuti permohonan perpanjangan jangka waktu PN I Garuda,

pada tanggal 17 Juli 2006 Tergugat IV (Bank Permata Tbk) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Promissory Notes I (RUPPN I Garuda). Dalam RUPPN I Garuda tanggal 17 Juli 2006 tersebut Penggugat tidak punya pilihan selain menyetujui jangka waktu PN I Garuda diperpanjang sampai dengan tanggal 3 April 2007 dengan bunga 16,25% per tahun, karena kondisi Tergugat I yang bertentangan dengan pengakuannya sebelumnya, alias bermodal dengkul, dan membutuhkan waktu tambahan untuk mencari investor lain.

34. Sekalipun dalam RUPPN I Garuda tersebut Penggugat akhirnya terpaksa mengijinkan diperpanjangnya pembayaran PN I Garuda, akan tetapi sikap Tergugat IV yang diam saja atas dikaitkannya pembayaran PN I Garuda dengan hasil dari proyek hotel dan apartemen Kemayoran Park Plaza menunjukkan bahwa Tergugat IV mengakui kesalahannya yang menjamin keterangan yang termuat dalam Informasi Memorandum bahwa uang hasil penjualan PN I Garuda digunakan Tergugat I untuk bisnis teh.

35. Karena setelah jatuh tempo terlewati Tergugat I (PT. Garuda Tradatama) tidak juga melakukan penyetoran pelunasan PN I Garuda, maka pada tanggal 19 April 2007 PT. Bank Permata Tbk menyatakan PT. Garuda Tradatama telah lalai memenuhi kewajibannya. Pernyataan kelalaian tersebut diumumkan melalui media massa pada tanggal 23 April 2007.

36. Sampai saat gugatan ini diajukan, Tergugat I belum juga melunasi PN I Garuda dan hal ini terjadi karena ternyata kondisi keuangan Tergugat I jauh berbeda dengan apa yang disampaikan dalam Informasi Memorandum ataupun laporan keuangannya. Dalam rapat-rapat dengan Penggugat, Tergugat II bahkan menyatakan bahwa ia dan Tergugat I tidak memiliki dana apapun untuk melunasi PN I Garuda. Padahal dahulu Informasi Memorandum yang diterbitkan Tergugat I menyebutkan keuangan Tergugat I jauh di atas nilai PN I Garuda.

37. Karena kondisi pelunasan PN I Garuda yang tidak ada kepastian dan ditambah pengamatan Penggugat bahwa kondisi barang jaminan Hotel Kemayoran Park Plaza yang tidak sama dengan keadaan sebelumnya, misalnya lift, peralatan kamar mandi setiap kamar hotel, kaca-kaca, dan sebagainya yang sudah tidak ada lagi di tempatnya, Penggugat akhirnya meneliti kembali seluruh proses penerbitan PN I Garuda dan PN II Garuda.

38. Atas permintaan Penggugat, perusahaan penilai PT. Provalindo Nusa menilai kembali Kemayoran Park Plaza. Dalam suratnya bertanggal 24 Mei 2007 yang ditujukan kepada Tergugat IV, barulah diketahui bahwa ternyata nilai wajar Kemayoran Park Plaza hanyalah sebesar Rp 150.212.000.000,-, sedangkan nilai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idlikuidasinya (apabila harus dijual cepat) hanyalah sebesar Rp 95.515.000.000,-

saja. Nilai itu pun tanpa memperhitungkan denda yang harus dibayarkan kepada Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (Turut Tergugat II) akibat tidak diselesaikannya pembangunan Kemayoran Park Plaza sejak tahun 2000.

39. Mengingat Tergugat II selalu mengatakan bahwa PN II Garuda belum efektif dan belum terjual, tentu saja Penggugat berharap apabila kedua jaminan dilikuidasi maka kerugian Penggugat akan berkurang. Akan tetapi Penggugat menjadi terkejut karena di lain kesempatan Tergugat II mengatakan bahwa PN II Garuda telah ada pembelinya, sementara di saat lain Tergugat II mengatakan bahwa ada tidaknya pemegang PN II Garuda tergantung keputusan penasehat hukumnya. 40. Padahal Tergugat I dan Tergugat II berjanji bahwa apabila PN II Garuda telah

ada pembelinya, maka dananya akan digunakan melanjutkan pembangunan Kemayoran Park Plaza. Yang terjadi bukannya pembangunan dilanjutkan malahan nilai Kemayoran Park Plaza makin turun karena perlengkapannya digerogoti oleh Tergugat I dan Tergugat II hingga yang tersisa hanyalah bangunan beton kosong belaka karena sudah tidak bisa digerogoti lagi.

41. Keadaan ini memaksa Penggugat untuk mencari sebab-sebab kerugian Penggugat. Setelah meminta dokumen-dokumen yang terkait dengan penerbitan PN II Garuda dari Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk), Penggugat akhirnya mengetahui bahwa penerbitan PN I Garuda merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat, sedangkan penerbitan PN II Garuda merupakan persekongkolan secara sistematis yang membuat Penggugat lebih dirugikan dan lebih lemah kedudukannya.

42. Penggugat menemukan antara lain bahwa Tergugat I (PT. Garuda Tradatama) dan Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk) telah melanggar syarat-syarat adanya penilaian (appraisal) atas kedua jaminan sebelum Tergugat I dapat menerbitkan PN II Garuda dan melakukan pembagian kedua barang jaminan secara prorata (antara PN I Garuda dan PN II Garuda).

43. Tanpa persetujuan Penggugat, Tergugat I (PT. Garuda Tradatama), Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk) dan Tergugat VI (PT. Tiga Pilar Sekuritas) melanggar hasil RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 dengan mengamandemen ketentuan pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda dan memasang Hak Tanggungan Kemayoran Park Plaza sebagai jaminan bagi PN I dan PN II Garuda secara paripasu, tanpa diadakan penilaian (appraisal) sebelumnya atas kedua jaminan tersebut sebelum amandemen dan pemasangan hak tanggungan secara paripasu itu dilakukan.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id44. Padahal RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 secara tegas menyebutkan

bahwa pembagian kedua jaminan secara paripasu antara PN I Garuda dan PN II Garuda hanya dibolehkan apabila telah dilakukan penilaian (appraisal) terhadap kedua jaminan (saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki dan proyek Kemayoran Park Plaza) dan apabila nilai kedua jaminan tersebut kurang dari nilai total penerbitan PN I dan PN II Garuda maka jaminan harus ditambah. 45. Sedangkan dimuatnya hasil penilaian Kemayoran Park Plaza dari PT. Hutama

Penilai (Tergugat IX) tanggal 05 September 2005 dalam amandemen Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda merupakan rekayasa seolah-olah nilai satu jaminan saja yaitu Kemayoran Park Plaza masih cukup atau bahkan melebihi nilai total PN I Garuda dan PN II Garuda.

46. Amandemen Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda dan dimasukkannya hasil penilaian PT. Hutama Penilai sebagai dasar seolah-olah terpenuhinya syarat yang diminta Penggugat sebelum kedua jaminan dapat juga dijadikan jaminan bagi PN II Garuda merupakan rekayasa yang konyol dan persekongkolan jahat antara Tergugat I, Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat VI yang dapat dibuktikan secara mudah berikut ini:

46.1. Dalam akta RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005, Penggugat mengajukan syarat diadakannya penilaian (appraisal) terlebih dahulu sebelum mengijinkan kedua jaminan PN I Garuda juga dijadikan jaminan bersama bagi PN II Garuda yang akan diterbitkan. Akan tetapi Tergugat I, Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat VI memasukkan hasil penilaian PT. Hutama Penilai tanggal 5 September 2005 sebagai dasar telah terpenuhinya syarat yang diminta Penggugat untuk berbagi jaminan. Padahal hasil penilaian PT. Hutama Penilai tersebut dibuat 3 (tiga) bulan sebelum RUPPN I Garuda diselenggarakan.

46.2. Apabila Tergugat I, Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat VI bermaksud menggunakan hasil penilaian tanggal 5 September 2005 tersebut dan Penggugat pun menerimanya (quod non), semestinya hasil penilaian 5 September 2005 tersebut disampaikan dalam RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005. Akan tetapi di dalam akta RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 secara jelas Penggugat masih mengajukan syarat agar diadakan penilaian (appraisal) terlebih dahulu, sehingga maksud Penggugat jelaslah bukan hasil penilaian tanggal 5 September 2005 tersebut yang dijadikan acuan. Apalagi Penggugat pun tidak mengetahui hasil penilaian 5 September 2005 pada saat RUPPN I Garuda diselenggarakan.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id46.3. Kalaupun Tergugat I, Tergugat II, Tergugat IV dan Tergugat VI

bermaksud mengggunakan hasil penilaian tanggal 5 September 2005 sebagai acuan dan Penggugat menerimanya (quod non), syarat diadakannya penilaian (appraisal) tentulah tidak akan dimintakan lagi oleh Penggugat dan syarat tersebut tentu tidak perlu dituangkan lagi dalam akta RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005.

46.4. Apabila merujuk pada paragraf terakhir Pasal 11 ayat 2 huruf s Perjanjian Penerbitan PN I Garuda, disebutkan bahwa “Untuk tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza penilaian ulang akan diserahkan oleh Penerbit kepada Agen Pemantau Dan Agen Jaminan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sejak Tanggal Penerbitan”.

Dengan demikian maka hasil penilaian PT. Hutama Penilai tanggal 5 September 2005 merupakan pelaksanaan penilaian ulang Kemayoran Park Plaza sesuai dengan Perjanjian Penerbitan PN I Garuda dan TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN PENERBITAN PN II GARUDA. 47. Penyelundupan hukum dan rekayasa yang dilakukan Para Tergugat makin

terbukti dengan mengacu pada fakta bahwa sampai saat ini pun tidak pernah dilakukan penelitian dan penilaian (appraisal) terhadap jaminan berupa 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki sesuai hasil RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 dan Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk) tidak pernah menunjuk perusahaan penilai manapun untuk melakukan penilaian sesuai hasil RUPPN I Garuda tersebut.

48. Padahal menurut ketentuan Pasal 11 ayat 2 huruf s Perjanjian Penerbitan PN I Garuda tersebut maka semestinya setelah RUPPN 5 Desember 2005 diselenggarakan Tergugat IV harus menunjuk perusahaan penilai untuk melakukan penilaian atas kedua jaminan PN I Garuda dengan biaya ditanggung Penerbit (Tergugat I – PT. Garuda Tradatama). Penunjukan perusahaan penilai tersebut adalah keharusan sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat 2 huruf s Perjanjian Penerbitan PN I Garuda, yang berbunyi:

Kewajiban Penerbit: “Melakukan penilaian atas Jaminan yang dijaminkan untuk Pemegang Promissory Notes oleh perusahaan penilai yang ditunjuk oleh Agen Pemantau Dan Agen Jaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Perjanjian”.

49. Tanpa harus diperintahkan oleh Pasal 11 ayat (2) huruf t Perjanjian Penerbitan PN I Garuda termaksud seharusnya Tergugat I senantiasa berkewajiban menjaga agar nilai seluruh jaminan mencukupi jumlah seluruh promissory notes yang diterbitkan sebagaimana diperintahkan ketentuan Pasal 11 ayat (2) huruf t

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idPerjanjian Penerbitan PN I Garuda. Adapun ketentuan tersebut mewajibkan pula

Tergugat IV untuk memantau dan mengawasi agar dijaganya nilai jaminan tersebut dilaksanakan oleh Tergugat I (PT. Garuda Tradatama).

50. Bukti-bukti di atas menunjukkan Tergugat I, Tergugat IV, dan Tergugat VI telah melakukan rekayasa dan kebohongan seolah-olah amandemen Pasal 14 tersebut telah sesuai dengan hasil RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 yang mengharuskan adanya penilaian (appraisal) terlebih dahulu sebelum kedua jaminan dapat dibagi secara proporsional dan paripasu antara pemegang PN I dan PN II Garuda; dan bila nilai kedua jaminan kurang dari nilai total seluruh surat sanggup yang diterbitkan maka Tergugat I harus menambah jaminannya. 51. Persekongkolan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum yang tentu saja

menimbulkan kerugian bagi Penggugat. Apabila hasil RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 tersebut sejak awal dijalankan maka kerugian Penggugat tentunya dapat dihindari.

52. Penggugat harus pula menegaskan di dalam persidangan ini bahwa Penggugat tidak terikat dengan amandemen Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda mengingat Penggugat bukanlah salah satu pihak dalam perjanjian dan amandemen tersebut bertentangan dengan RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005.

53. Dengan demikian amandemen Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda beserta turunan-turunannya, termasuk namun tidak terbatas pada pemasangan hak tanggungan atas Kemayoran Park Plaza dan gadai saham 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki untuk dibagi secara prorata antara pemegang PN I Garuda dan PN II Garuda, adalah cacat hukum dan karenanya batal demi hukum.

54. Dengan tidak terpenuhinya syarat-syarat penerbitan PN II Garuda sebagaimana tertuang dalam RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 dan cacat hukumnya amandemen Pasal 14 Perjanjian Penerbitan PN I Garuda serta pemasangan hak tanggungan atas Kemayoran Park Plaza untuk dibagi secara prorata antara pemegang PN I Garuda dan PN II Garuda, maka cacat hukum pulalah penerbitan PN II Garuda dan karenanya penerbitan PN II Garuda harus dinyatakan batal demi hukum.

55. Selain itu penelitian yang dilakukan Penggugat juga menemukan bahwa informasi yang diberikan dan dijamin Para Tergugat dalam Informasi Memorandum adalah tidak benar dan menyesatkan. Informasi Memorandum dan Laporan Keuangan Tergugat I per 31 Mei 2005 menyatakan mempunyai aktiva tetap Rp 328.143.542.300,- di antaranya berupa tanah dan tanaman perkebunan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.idteh dengan nilai kurang lebih Rp 80 milyar serta didukung oleh tenaga-tenaga

handal dan berpengalaman dalam bidang teh. Kondisi Tergugat I tersebut memberikan jaminan kemampuan Tergugat I untuk melunasi PN I Garuda yang akan diterbitkannya tersebut.

56. Namun ternyata Informasi Memorandum yang dijamin kebenarannya oleh Tergugat I (PT. Garuda Tradatama), Tergugat II (Ferry Sangeroki), Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk) dan Tergugat VI (PT. Tiga Pilar Sekuritas) tersebut bohong besar. Dalam Laporan Auditor Independen Drs. Abdulrahman Hasan Salipu, Ak, (Turut Tergugat VI) atas Laporan Keuangan Tergugat I (PT. Garuda Tradatama) per 31 Desember 2005 dinyatakan bahwa tidak terjadi penambahan aktiva tetap dalam bentuk apapun. Aktiva tetap Tergugat I pada tahun 2005 tersebut hanyalah sebesar Rp 5.561.821.300,-, berselisih lebih dari Rp 300 milyar daripada pernyataan Tergugat I dalam Informasi Memorandumnya.

57. Dengan demikian semua informasi yang diberikan oleh Tergugat I dan menjadi dasar keputusan Penggugat untuk berinvestasi adalah kebohongan belaka. Sayangnya informasi tersebut justru didukung dan dijamin oleh Tergugat IV (PT. Bank Permata Tbk) dan Tergugat VI (PT. Tiga Pilar Sekuritas) sebagai lembaga perbankan dan keuangan yang semestinya bersikap hati-hati demi melindungi kepentingan investor dan menjaga kepercayaan publik.

Perbuatan Melawan Hukum Para Tergugat

58. Mengacu pada fakta-fakta yang disampaikan pada duduk perkara di atas, maka pada dasarnya Para Tergugat telah terbukti melakukan Perbuatan Melawan Hukum yang telah menimbulkan kerugian kepada Penggugat berikut ini:

Perbuatan Melawan Hukum yang Dilakukan oleh Tergugat I

59. Tergugat I (PT. Garuda Tradatama) secara terang-terangan melanggar hasil RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 tentang syarat-syarat penerbitan PN II Garuda dan pembagian hasil jaminan secara prorata antara PN I Garuda dan PN II Garuda, yaitu keharusan diadakannya penilaian (appraisal) yang menyatakan bahwa kedua jaminan tersebut (2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama dan tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza) mencukupi untuk dibagi secara prorata untuk PN I Garuda dan PN II Garuda.

60. Tergugat I melakukan rekayasa dengan cara memuat hasil penilaian PT. Hutama Penilai tertanggal 5 September 2005 di dalam amandemen Perjanjian Penerbitan PN I Garuda seolah-olah penilaian (appraisal) tersebut berikut hasil penilaiannya sudah memenuhi syarat-syarat untuk membagi hasil kedua jaminan secara prorata untuk PN I Garuda dan PN II Garuda. Padahal hasil penilaian PT. Hutama Penilai tersebut dibuat sebelum RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id2005 diselenggarakan dan tidak memenuhi syarat yang diminta Penggugat.

Penyelundupan hukum tersebut dilakukan secara sistematis oleh Tergugat I bersama-sama dengan Tergugat II, Tergugat IV, Tergugat VI dan Tergugat IX (PT. Hutama Penilai), sehingga dapat disimpulkan bahwa rekayasa tersebut merupakan persekongkolan jahat yang merugikan Penggugat.

61. Tergugat I dengan sengaja tidak menjalankan kewajibannya untuk melakukan penilaian (appraisal) atas 2.500 lembar saham PT. Garuda Tradatama atas nama Ferry Sangeroki, padahal RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 mewajibkannya untuk melakukan perbuatan tersebut.

62. Tergugat I telah menyampaikan informasi yang tidak benar dan menyesatkan pada saat menerbitkan PN I Garuda tahun 2005, baik tentang nilai dan status jaminan ataupun kondisi keuangannya. Pernyataan Tergugat II bahwa dirinya dan Tergugat I tidak memiliki dana sebesar apapun untuk melunasi PN I Garuda justru makin membuktikan bahwa laporan keuangan yang disampaikan Tergugat I adalah tidak benar. Padahal laporan keuangan yang termuat dalam Informasi Memorandum pada saat itu menyatakan Tergugat I memiliki kekayaan yang luar biasa.

63. Tergugat I menyatakan dana hasil penerbitan PN I akan digunakan untuk pengembangan usaha di bidang perkebunan teh dan pengolahannya. Namun dalam kenyataannya hasil dari penerbitan PN I tersebut tidak digunakan untuk pengembangan usaha di bidang perkebunan teh dan pengolahannya. Bahkan apa dan bagaimana sesungguhnya kegiatan usaha dan keuangan Tergugat I tidak pernah dilaporkan pada Penggugat, walaupun kewajiban tersebut tertuang dalam Perjanjian Penerbitan PN I Garuda.

64. Tergugat I juga telah mengelabui Penggugat dengan tidak pernah memberitahukan besaran denda yang harus dibayar kepada Turut Tergugat II sebagai pemegang hak pengelolaan kawasan Kemayoran karena tanah dan bangunan Kemayoran Park Plaza tersebut terbengkalai sejak tahun 2000. Akibatnya Penggugat tidak mengetahui nilai sesungguhnya Kemayoran Park Plaza setelah harus dikurangi dengan kewajiban-kewajibannya.

65. Tergugat I dengan sengaja melakukan perbuatan yang membuat turunnya nilai jaminan berupa Kemayoran Park Plaza. Tergugat I tidak melakukan pemeliharaan terhadap Kemayoran Park Plaza, bahkan secara sistematis mempreteli perlengkapan Kemayoran Park Plaza mulai dari lift, perlengkapan kamar, dan perlengkapan gedung lainnya.

Perbuatan Melawan Hukum yang Dilakukan oleh Tergugat II

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id66. Kedudukan Tergugat I sebagai badan hukum pada dasarnya tidak terlepas dari

perbuatan natuurlijk persoon direksi sebagaimana diatur dalam Pasal 82 jo Pasal 85 ayat (1) dan (2) Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Adalah sangat tidak adil apabila Tergugat I sebagai badan hukum yang abstrak menjadi limpahan tanggung-jawab perbuatan orang-orang yang menjadi pengurusnya.

67. Tindakan Tergugat II baik sebagai direktur PT. Garuda Tradatama (Tergugat I) maupun sebagai direktur PT. Theda Makmur (Tergugat VII) sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara di atas merupakan perbuatan melawan hukum yang karena kesalahannya, baik karena kelalaian maupun kesengajaan, menyebabkan kerugian bagi Penggugat. Dengan demikian menurut ketentuan Pasal 85 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 Tergugat II bertanggung jawab penuh secara pribadi (personally liable) karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat I maupun Tergugat VIII secara faktual dilakukan oleh Tergugat II.

68. Adapun karena kelalaiannya tersebut setiap direksi diwajibkan untuk bertanggungjawab penuh secara pribadi atas kerugian yang diakibatkan kelalaiannya tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 85 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 Undang-Undang-Undang-Undang Perseroan Terbatas.

69. Di dalam praktiknya pun PT. Garuda Tradatama dikuasai dan dijalankan sepenuhnya oleh Tergugat II. Tergugat II pulalah yang secara fisik mengatur rekayasa dan kebohongan yang merugikan Penggugat. Tergugat II juga secara aktif mempreteli perlengkapan Kemayoran Park Plaza mulai dari lift, perlengkapan kamar, dan perlengkapan gedung lainnya sehingga yang tersisa hanyalah bangunan beton saja.

70. Tergugat II secara aktif melakukan rekayasa dengan cara memuat hasil penilaian PT. Hutama Penilai tertanggal 5 September 2005 di dalam amandemen Perjanjian Penerbitan PN I Garuda seolah-olah penilaian (appraisal) tersebut berikut hasil penilaiannya sudah memenuhi syarat-syarat untuk membagi hasil kedua jaminan secara prorata untuk PN I Garuda dan PN II Garuda. Padahal hasil penilaian PT. Hutama Penilai tersebut dibuat sebelum RUPPN I Garuda tanggal 5 Desember 2005 diselenggarakan dan tidak memenuhi syarat yang diminta Penggugat. Penyelundupan hukum tersebut dilakukan secara sistematis oleh Tergugat II bersama-sama dengan Tergugat I, Tergugat IV, Tergugat VI dan Tergugat IX (PT. Hutama Penilai), sehingga dapat disimpulkan bahwa rekayasa tersebut merupakan persekongkolan jahat yang merugikan Penggugat.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah