• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P U T U S A N Nomor 1082 K/Pdt/2013

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

ONGKO DERMAWAN, bertempat tinggal di Jalan Pedati Nomor 21 A, Kelurahan Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, dalam hal ini memberi kuasa kepada John Sidi Sidabutar, SH., MH., Advokat, beralamat di Bumi Daya Plaza, Lantai 24, Jalan Imam Bonjol Nomor 61, Jakarta Pusat 10310, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 8 Agustus 2011,

Pemohon Kasasi dahulu Penggugat/Pembanding;

m e l a w a n:

1 PT. SINGA BARONG KENCANA, berkedudukan di Gedung Graha Irama Lt. 7, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan,

2 PT. PANN MULTI FINANCE, berkedudukan di Jalan Cikini IV Nomor 11, Jakarta Pusat, diwakili oleh Bimo Wicaksana dan Salman selaku Direktur, dalam hal ini memberi kuasa kepada Nizammudin, SH., MH., dan kawan-kawan, para Advokat, beralamat di Menara Batavia, 3

rd

Floor, Jalan KH. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 23 November 2011,

3 Notaris SOEKAMI, SH., beralamat di Jalan Raden Saleh Nomor 9 B, Jakarta Pusat,

4 PPAT JUSTISIA SOETANDIO, SH., beralamat di Jalan Rajawali 70 A, Surabaya,

5 Ny. LILIEK SIOESANTY, selaku ahliwaris almarhum Bapak Jasin Santoso, bertempat tinggal di Jalan Sumatera Nomor 48, Surabaya, Jawa Timur,

6 IMAM SANTOSO, bertempat tinggal di Jalan Sumatera Nomor 48, Surabaya, Jawa Timur,

para Termohon Kasasi dahulu Tergugat I, II, III, IV, V, VI/para Terbanding;

Hal.

1

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

d a n:

KANTOR PERTANAHAN KOTAMADYA SURABAYA,

beralamat di Jalan Taman Puspa Raya Blok D Nomor 10, Kompleks Citra Raya Sambikerep, Surabaya,

Turut Termohon Kasasi dahulu Turut Tergugat/Terbanding VII;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat telah menggugat sekarang para Termohon Kasasi dan Turut Termohon Kasasi dahulu sebagai Tergugat I, II, III, IV, V, VI, dan Turut Tergugat di muka persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada pokoknya atas dalil-dalil:

1. Bahwa sebelumnya Penggugat telah mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Tergugat I melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah register perkara No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL., perkara mana telah diputus dan dibacakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 16 Mei 2007;

2. Bahwa adapun amar putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. tanggal 16 Mei 2007 tersebut adalah sebagai berikut:

MENGADILI:

1 Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk sebagian;

2 Menyatakan Tergugat (in casu Tergugat I) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Penggugat;

3 Menyatakan sah dan berharga Sita Jaminan yang telah diletakkan terhadap/atas tanah dan bangunan yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya, Jawa Timur, sebagaimana disebut dalam Berita Acara Sita Jaminan tanggal 4 Mei 2007 No. 4/Pen.Pdt/Del/2007/PN.Sby. jo. No. 299/

Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel., yang dilaksanakan oleh Widya Gumilar, SH., Jurusita Pengadilan Negeri Surabaya;

4. Menghukum Tergugat (in casu Tergugat I) untuk membayar Ganti Kerugian kepada Penggugat sebesar USD 48.105.843; berikut bunga 1,8% sebulan terhitung sejak didaftarkannya perkara ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hingga dibayar lunas;

2

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5. Menyatakan batal penyerahan jaminan tambahan berupa sebidang tanah seluas 55.500 m

2

yang terletak di Kel. Kejawan Putih Tambak, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur sesuai dengan Sertipikat Hak Milik No. 140 yang fiktif tersebut, yang telah dilakukan oleh Tergugat kepada Penggugat;

6. Menghukum Tergugat (in casu Tergugat I) atau siapapun yang menerima hak dari padanya untuk menyerahkan jaminan kepada Penggugat berupa tanah dan bangunan yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya dalam keadaan baik dan kosong jika Tergugat tidak mau membayar ganti rugi tersebut di atas;

7. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;

8. Menghukum Tergugat (in casu Tergugat I) untuk membayar ongkos perkara yang hingga kini dianggarkan sebesar Rp149.000,- (seratus empat puluh sembilan ribu rupiah);

3. Bahwa putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggal 16 Mei 2007 tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde) sehingga sah dan mengikat bagi Penggugat dan Tergugat I atau siapapun yang menerima hak dari padanya atas tanah dan bangunan vang terletak di Jl. Pemuda No.

19-21, Surabaya, Jawa Timur atau siapapun yang telah menerima hak dari padanya atas tanah dan bangunan yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya, Jawa Timur;

4. Bahwa berdasarkan putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggal 16 Mei 2007 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut, maka Penggugat telah mengingatkan Tergugat I agar bersedia melaksanakan isi putusan perkara No. 299/

Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggal 16 Mei 2007 secara sukarela dengan menyampaikan 2 (dua) buah Surat Somasi sebagai berikut:

a. Surat Somasi Pertama No. 112/JJ-X/2007 tanggal 29 Oktober 2007;

b. Surat Somasi Terakhir No. 128/JJ-XI/2007 tanggai 12 November 2007;

5. Bahwa oleh karena Tergugat I tidak bersedia melaksanakan isi putusan perkara No.

299/Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggal 16 Mei 2007 secara sukarela, maka pada tanggal 14 Desember 2007 Penggugat mengajukan Permohonan Eksekusi atas putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/ PN.Jak.Sel. tanggal 16 Mei 2007 tersebut terhadap Tergugat I melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan;

6. Bahwa Permohonan Eksekusi yang diajukan oleh Penggugat tersebut dikabulkan oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan dikeluarkannya Penetapan Aanmaning No. 299/Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggai 14 Januari 2008 jo. Relaas Hal.

3

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Panggilan Tegoran (Aanmaning)

No. 299/Pdt.G/2007/PN.Jak.Sel. tanggal 30 Januari 2008 yang berisi pemanggilan kepada Tergugat I agar pada hari Rabu tanggal 6 Februari datang menghadap Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk diberi teguran (Aanmaning) agar Tergugat I dalam tenggang waktu 8 (delapan) hari mau secara sukarela melaksanakan sendiri isi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 16 Mei 2007;

7. Bahwa pada tanggal 6 Februari 2008, Tergugat I telah datang menghadap Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan telah diberi teguran (Aanmaning) oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan agar Tergugat I dalam tenggang waktu 8 (delapan) hari mau secara sukarela melaksanakan sendiri isi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggai 16 Mei 2007 tersebut;

8. Bahwa ternyata terdapat pula permohonan bantuan delegasi yang diajukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sehingga Pengadilan Negeri Surabaya telah mengeluarkan Surat Panggilan No. 08/Pen.Pdt/Del/2007/ PN.SBY. jo. No.

098/2007/Eks. jo. 374/Pd.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 12 Desember 2007 yang berisi pemanggilan kepada Tergugat I agar pada hari Rabu tanggal 18 Desember 2007 datang menghadap Ketua Pengadilan Negeri Surabaya untuk diberi teguran (Aanmaning) agar Tergugat I dalam tenggang waktu 8 (delapan) hari mau secara sukarela melaksanakan sendiri isi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 28 April 2004 No. 374/ Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. jo. Putusan Pengadilan Tinggi DKI

Jakarta tanggal

3 September 2004 No. 343/PDT/2004/PT.DKI, jo. Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 10 Agustus 2006 No. 1473 K/PDT/2005, dalam perkara antara:

a. Tergugat II, sebagai ……… Pemohon Eksekusi;

Melawan:

b. Tergugat I, sebagai ………. Termohon Eksekusi I;

c. Tergugat V, sebagai ……… Termohon Eksekusi II;

d. Tergugat VI, sebagai …….. Termohon Eksekusi III;

9. Bahwa setelah Penggugat mempelajari dengan seksama Penegoran (Aanmaning) yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Surabaya, ternyata baik Penetapan Aanmaning No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. tanggal 14 Januari 2008 jo. Relaas Panggilan Tegoran (Aanmaning) No. 299/Pdt.G/ 2007/PN.JAK.SEL. tanggal 30 Januari 2008 yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan maupun Surat Panggilan No. 08/Pen. Pdt/Del/2007PN.SBY. jo. No. 098/2007/Eks. jo. 374/

4

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 12 Desember 2007 yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Surabaya ternyata keduanya sama-sama berisi:

“Pemanggilan penegoran (Aanmaning) kepada Tergugat I agar menyerahkan tanah dan bangunan Garden Hotel yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya”;

10. Bahwa fakta hukum tersebut di atas sangat mengejutkan bagi Penggugat, karena ternyata terdapat 2 (dua) buah Penetapan Eksekusi (Aanmaning) dimana keduanya berdasarkan 2 (dua) buah Putusan Hukum yang sama- sama telah berkekuatan hukum tetap yaitu:

a. Penetapan Aanmaning No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. tanggal 14 Januari 2008 jo. Relaas Panggilan Tegoran (Aanmaning) No. 299/Pdt.G/ 2007/

PN.JAK.SEL. tanggal 30 Januari 2008, dan;

b. Surat Panggilan Aanmaning No. 08/Pen.Pdt/Del/2007PN.SBY. jo.

No. 098/2007/Eks. jo. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 12 Desember 2007;

dimana keduanya memiliki kesamaan sebagai berikut:

a Termohon Eksekusi-nya, sama-sama Tergugat I;

b Obyek Eksekusi-nya, sama-sama Garden Hotel yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya;

11. Bahwa terhadap kedua perkara eksekusi tersebut, baik Penggugat maupun Tergugat II telah saling mengajukan upaya hukum perlawanan yaitu melalui perkara perlawanan No. 123/Pdt.Plw/2008/PN.SBY. dan perkara perlawanan No. 101/

Pdt.Plw/2008/PN.SBY.;

12. Bahwa dalam pemeriksaan kedua perkara perlawanan pada Pengadilan Negeri Surabaya tersebut, terungkap fakta-fakta hukum bahwa Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya kepada Tergugat II telah melanggar ketentuan hukum, sehingga tidak sah dan batal demi hukum, karena:

A. Penggugat terlebih dahulu mengikat Perjanjian dengan Tergugat I dari pada Perjanjian antara Tergugat II dengan Tergugat I;

13. Bahwa berdasarkan putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. tanggal 16 Mei 2007 yang telah berkekuatan hukum tetap, pada tanggal 30 Desember 1992 Penggugat dan Tergugat l telah membuat, menandatangani dan mengikatkan diri pada Akta Pengakuan Hutang dan Pemberian Jaminan No. 221 tanggal 30 Desember 1992, sedangkan perjanjian antara Tergugat II dengan Tergugat I baru dibuat dan ditandatangani pada tanggal 24 Desember 1993 yaitu sesuai dengan Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III;

Hal.

5

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

14. Bahwa dengan demikian tidak dapat disangkal lagi bahwa “Perjanjian antara Penggugat dengan Tergugat I yaitu Akta Pengakuan Hutang dan Pemberian Jaminan No. 221 tanggai 30 Desember 1992 lebih dahulu dibuat dan ¡ebih dahulu mengikat Tergugat I dari pada Perjanjian antara Tergugat II dengan Tergugat I yaitu Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993”;

15. Bahwa hal tersebut sesuai dengan:

a. Ketentuan Pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata:

“Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya”;

c Yurisprudensi Tetap MARI No. 1506 K/Pdt/2002 tanggal 23 September 2004:

“Purchase Order yang ditandatangani oleh kedua belah pihak yang mengikatkan diri merupakan kesepakatan sehingga berlaku sebagai undang-undang yang mengikat kedua belah pihak”;

B. Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan Hotel Garden kepada Tergugat II dilakukan berdasarkan kuasa yang telah berakhir;

16.Bahwa berdasarkan Pasal 5 dan Pasal 6 Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III, Pihak Pertama (Jasin Santoso) selaku pemilik awal tanah dan bangunan Hotel Garden memberi kuasa penuh kepada pihak kedua (Tergugat II), dimana:

- pihak kedua (Tergugat II) berhak melaksanakan sendiri penjualan dan pembelian tanah dan bangunan Hotel Garden;

- pihak kedua (Tergugat II) berhak mengerjakan segala sesuatu terhadap tanah dan bangunan Hotel Garden tanpa ada yang dikecualikan;

- pihak kedua (Tergugat II) menguasai dalam arti luas sehingga menjadi berhak dan berkuasa penuh atas tanah dan bangunan Hotel Garden seperti halnya seorang pemilik;

- kuasa dari pihak pertama (Jasin Santoso) kepada pihak kedua (Tergugat II) tersebut tidak akan batal atau dapat dibatalkan karena apapun juga (tidak dapat dicabut kembali);

17. Bahwa, ternyata berdasarkan Akta Kematian atas nama almarhum Jasin Santoso tertanggal 14 Desember 1995, pada tanggal 2 Desember 1995 Jasin Santoso meninggal dunia. Dengan meninggal dunianya Jasin Santoso, sesuai dengan ketentuan Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III yang memuat kuasa dari Jasin Santoso kepada Tergugat II (berikut seluruh kuasa lainnya

6

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) secara hukum tidak berlaku lagi atau berakhir;

Pasal 1813 KHUPerdata: “Pemberian kuasa berakhir: dengan ditariknya kembali kuasanya si kuasa; dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh si kuasa;

dengan meninggalnya, pengampuannya atau pailitnya si pemberi kuasa maupun si kuasa; dengan perkawinannya si perempuan yang memberikan atau menerima kuasa”;

18. Bahwa dengan tidak berlakunya lagi Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III yang memuat kuasa dari Alm. Jasin Santoso kepada Tergugat II (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) maka menurut hukum:

- pihak kedua (Tergugat II) tidak berhak lagi melaksanakan sendiri penjualan dan pembelian tanah dan bangunan Hotel Garden;

- pihak kedua (Tergugat II) tidak berhak lagi mengerjakan segala sesuatu terhadap tanah dan bangunan Hotel Garden;

- pihak kedua (Tergugat II) tidak berhak lagi menguasai dalam arti luas sehingga menjadi tidak berhak dan tidak berkuasa penuh atas tanah dan bangunan Hotel Garden seperti halnya seorang pemilik;

- Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III yang memuat kuasa dari pihak pertama (Jasin Santoso) kepada pihak kedua (Tergugat II) (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) tersebut telah berakhir dan tidak berlaku lagi;

19. Bahwa walaupun pada tanggal 2 Desember 1995 Jasin Santoso telah meninggal dunia sehingga Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III yang memuat kuasa dari Alm. Jasin Santoso kepada Tergugat II (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) secara hukum telah berakhir dan tidak berlaku lagi, namun ternyata pada tanggal 29 Desember 1997:

- Tergugat II tetap mempergunakan Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang secara hukum telah berakhir dan tidak berlaku lagi tersebut sebagai dasar untuk menghadap Tergugat IV, sehingga Akta Jual Beli No.

124.416/JS/Embong Kaliasin/XII/1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/Embong Kaliasin/Xll/1997 dibuat oleh Tergugat IV;

Hal.

7

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

- Oleh karena ketiga Akta Jual Beli tersebut dibuat oleh Tergugat IV berdasarkan kuasa yang telah berakhir, maka ketiga Akta Jual Beli yang dibuat oleh Tergugat IV tersebut adalah tidak sah dan batal demi hukum;

- Kemudian berdasarkan Akta Jual Beli No. 124.416/JS/Embong Kaliasin/

XII/1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/

Embong Kaliasin/XII/1997 tanggal 29 Desember 1997 yang tidak sah dan batal demi hukum tersebut, Tergugat II mengajukan permohonan balik nama sertifikat tanah Hotel Garden menjadi atas nama Tergugat II kepada Turut Tergugat;

- Oleh karena balik nama sertifikat tanah Hotel Garden menjadi atas nama Tergugat II dilakukan oleh Turut Tergugat berdasarkan ketiga Akta Jual Beli yang tidak sah dan batal demi hukum, maka balik nama sertifikat tanah Hotel Garden menjadi atas nama Tergugat II yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat tersebut adalah tidak sah dan batal demi hukum pula;

C. Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan Hotel Garden kepada Tergugat II dilakukan berdasarkan kuasa mutlak;

20. Bahwa disamping itu, Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut mengatur hal-hal sebagai berikut:

- Pasal 5:

Pihak Pertama (Jasin Santoso) dengan ini memberi kuasa kepada Pihak Kedua (Tergugat II) untuk dan atas nama Pihak Pertama (Jasin Santoso):

-- dimana perlu turut membantu pihak pertama melakukan pengurusan dan penyelesaian penghapusan (roya) atas Hipotik Pertama yang dibebankan atas Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 118/K tersebut kepada instansi yang berwenang;

-- apabila Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 118/K tersebut telah dihapuskan (roya), melaksanakan sendiri penjualan dan pembelian tanah- tanah tersebut berikut dengan bangunan hotel “Garden Hotel” yang didirikan di atas tanah-tanah tersebut dari pihak pertama (Jasin Santoso) kepada pihak kedua (Tergugat II) sendiri;

Untuk keperluan tersebut menghadap pada instansi yang berwenang, Pejabat Pembuat Akta Tanah, membuat atau suruh membuat serta menandatangani akta- akta Jual Belinya dan selanjutnya mengerjakan segala sesuatu yang dianggap baik dan berguna untuk menyelesaikan hal-hal tersebut tanpa ada yang dikecualikan …..dst;

• Pasal 6:

8

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Kekuasaan-kekuasaan yang tersebut dalam akta ini merupakan bagian- bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisah dari akta ini dan tanpa adanya kekuasaan-kekuasaan mana akta ini tidak dibuat dan karenanya kekuasaan- kekuasaan tersebut tidak akan batal atau dapat dibatalkan karena apapun juga;

21. Bahwa Kuasa yang dimuat dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Akta Pengikatan Jual Beli No.

159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut mengandung materi bahwa pihak pertama (Jasin Santoso) selaku pemilik tanah dan bangunan Hotel Garden memberi kuasa penuh kepada pihak kedua (Tergugat II), dimana:

- pihak kedua (Tergugat II) berhak melaksanakan sendiri penjualan dan pembelian tanah dan bangunan Hotel Garden;

- pihak kedua (Tergugat II) berhak mengerjakan segala sesuatu terhadap tanah dan bangunan Hotel Garden tanpa ada yang dikecualikan;

- pihak kedua (Tergugat II) menguasai dalam arti luas sehingga menjadi berhak dan berkuasa penuh atas tanah dan bangunan Hotel Garden seperti halnya seorang pemilik;

- kuasa dari pihak pertama (Jasin Santoso) kepada pihak kedua (Tergugat II) tersebut tidak akan batal atau dapat dibatalkan karena apapun juga (tidak dapat dicabut kembali);

sehingga kuasa dari pihak pertama (Jasin Santoso) pihak kedua (Tergugat II) yang termuat dalam Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut merupakan kuasa mutlak;

22. Bahwa Pemerintah RI telah menerbitkan Peraturan yang berisi larangan pembuatan/

pengesahan “Akta Kuasa Mutlak” yang dituangkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982 dan Surat Dirjen Agraria atas nama Menteri Dalam Negeri RI No. 594/ 493/AGR tanggal 31 Maret 1982 yang intinya melarang pembuatan/ pengesahan Akta Kuasa Mutlak vang menyangkut tanah;

23. Bahwa dengan demikian:

a. Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut adalah tidak sah dan batal demi hukum karena telah dibuat secara melanggar hukum yaitu Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982;

b. Akta Jual Beli No. 124.416/JS/Embong Kaliasin/Xll/1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/Embong Kaliasin/XII/ 1997 tanggal 29 Desember 1997 yang dibuat oleh Tergugat IV adalah tidak sah dan batal demi

Hal.

9

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

hukum pula, karena telah dibuat berdasarkan Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang telah dibuat secara melanggar hukum;

c. Balik nama sertifikat tanah Hotel Garden menjadi atas nama Tergugat II yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat tersebut adalah tidak sah dan batal demi hukum pula, karena telah dibuat berdasarkan ketiga Akta Jual Beli yang tidak sah dan batal demi hukum;

24. Bahwa mengenai tidak sahnya dan batal demi hukumnya Akta Kuasa Mutlak (seperti Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III) tersebut, tidak sahnya dan batal demi hukumnya jual beli tanah melalui Kuasa Mutlak (seperti Akta Jual Beli No. 124.416/ JS/Embong Kaliasin/

XII/1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/Embong Kaliasin/Xll/1997 tanggal 29 Desember 1997 yang dibuat oleh Tergugat IV) tersebut serta tidak sahnya dan batal demi hukumnya balik nama hak kepemilikan atas tanah berdasarkan Kuasa Mutlak (seperti balik nama sertifikat tanah Hotel Garden yang

terletak di

Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi atas nama Tergugat II yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat) juga telah menjadi yurisprudensi tetap MARI, antara lain dalam:

- Yurisprudensi MARI No. 3176 K/Pdt/1988 tanggal 19 April 1990:

-- Pembuatan “Akta Kuasa Mutlak” seperti yang terjadi dalam kasus ini mengandung materi, bahwa pemilik tanah selaku pemberi kuasa memberi kuasa penuh kepada penerima kuasa untuk menguasai dalam arti luas, yaitu mengasingkan (vervreemden) dan/atau melakukan perbuatan hukum macam apapun juga terhadap tanah yang bersangkutan, seperti halnya seorang yang berstatus sebagai “pemilik tanah”. Kuasa mutlak ini tidak dapat dicabut kembali sehingga merupakan penyimpangan ex. Pasal 1813 KUH Perdata;

-- Pemerintah dengan alasan untuk menghindari akibat negatif, telah menerbitkan Peraturan yang berisi larangan pembuatan/pengesahan “Akta Kuasa Mutlak” yang dituangkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri No.

14 Tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982 dan Surat Dirjen Agraria atas nama Menteri Dalam Negeri RI No. 594/493/AGR tanggal 31 Maret 1982, yang intinya melarang pengesahan “Akta Kuasa Mutlak” yang menyangkut tanah;

- Yurisprudensi MARI No. 2660 K/Pdt/1987 tanggal 27 Februari 1989:

10

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Meskipun Kreditur memegang “Surat Kuasa Mutlak” yang diberikan oleh Debitur maka penjualan tanah jaminan ini harus dilakukan melalui cara pelelangan umum setelah memperoleh izin dari Pengadilan. Penjualan tanah jaminan yang tidak demikian itu adalah tidak sah dan batal menurut hukum;

• Yurisprudensi MARI No. 1991 K/Pdt/1994 tanggal 30 Mei 1996:

Jual beli tanah dengan menggunakan “Surat Kuasa Mutlak” tersebut di atas adalah perbuatan yang bertentangan dengan:

-- Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1982;

-- Pasal 1320 ke-4 KUH Perdata;

Sehingga perbuatan jual beli tanah tersebut “batal demi hukum”;

• Yurisprudensi MARI No. 3332 K/Pdt/1994 tanggal 18 Desember 1997:

“Akta Kuasa Mutlak” yang dibuat oleh seorang Notaris sebagai sarana untuk melaksanakan jual beli tanah, tidak dapat diajukan sebagai bukti di persidangan Pengadilan, tentang adanya peralihan hak atas tanah dari penjual kepada pembeli. Hal ini disebabkan karena “Kuasa Mutlak” adalah bertentangan dan dilarang oleh Instruksi MENDAGRI No. 14/1982 yang telah diperkuat oleh Yurisprudensi Mahkamah Agung, dengan dasar alasan bahwa “Kuasa Mutlak”

mengandung perkosaan hak penjual yang lemah ekonominya dan tidak adanya kebebasan berkontrak. Perbuatan hukum jual beli tanah harus bersandar pada PP No. 10/tahun 1961, bukan melalui “Akta Kuasa Mutlak”;

• Yurisprudensi MARI No. 119 K/TUN/2000 tanggal 17 Oktober 2002:

-- Istilah hukum: “Akta Pemindahan Kuasa” isinya, penerima kuasa memiliki Kuasa atas tanah-tanah yang disebutkan dalam kuasa tersebut;

-- “Akta Kuasa” atau “Akta Pemindahan Kuasa” yang isinya demikian ini adalah sama dengan “Akta Kuasa Mutlak” tentang perolehan hak atas tanah dari “Pemilik Tanah” kepada pihak lain. Menurut Instruksi MENDAGRI No.

14/1982 jo. No. 12/tahun 1984, hal tersebut di atas adalah dilarang, karena dinilai sebagai suatu penyelundupan hukum dalam perolehan hak atas tanah”

Disamping itu juga merupakan pelanggaran/penyimpangan Pasal 1813 BW;

-- Yurisprudensi yang sama yang lebih dulu yaitu Putusan Mahkamah Agung RI No. 3176 K/Pdt/1988;

- Yurisprudensi MARI No. 316 PK/Pdt/2000 tanggal 29 Juni 2004:

Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli Tanah yang dibuat oleh Notaris yang didasarkan pada “Akta Kuasa Mutlak” adalah dilarang baik oleh Inst. Menteri

Hal.

11

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Dalam Negeri No. 14/Tahun 1982 serta adanya “Yurisprudensi tetap”

Mahkamah Agung. Akta Notaris yang berisi demikian itu adalah tidak sah menurut hukum;

D. Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan Hotel Garden kepada Tergugat II melanggar ketentuan hukum tentang Pertanahan;

25. Bahwa disamping itu, Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 dan Perjanjian-perjanjian Leasing antara Tergugat I dan Tergugat II mengatur bahwa:

a. Objek leasing adalah tanah dan bangunan Garden Hotel;

b. Teknik leasing yang digunakan oleh Pelawan adalah “sales and lease back”;

c. Fasilitas leasing yang diberikan oleh Pelawan adalah termasuk pada golongan

“finance lease” (sewa-guna-usaha dengan hak opsi membeli kembali);

26. Bahwa jual beli tanah dengan hak opsi membeli kembali secara tegas dilarang dalam ketentuan Hukum Pertanahan yang berlaku di Indonesia yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA dan peraturan- peraturan pelaksanaannya;

a. Pasal 5 UUPA secara tegas menyatakan: “Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat ….”;

b. Prinsip jual beli tanah menurut hukum adat adalah: “Terang dan Tunai’ sehingga tidak mengenal jual beli tanah dengan hak opsi untuk membeli kembali;

27. Bahwa mengenai pelarangan jual beli tanah dengan hak opsi (membeli kembali) tersebut juga telah menjadi yurisprudensi tetap MARI, antara lain dalam Yurisprudensi MARI No. 78 PK/Pdt/1984 tanggai 7 April 1987:

“Jual beli tanah dikuasai oleh hukum adat (Pasal 5 Undang-Undang Pokok Agraria), dengan demikian jual beli dengan hak membeli kembali tidak dapat diterapkan terhadap tanah”;

28. Bahwa dengan demikian:

a. Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) telah berakhir dan tidak berlaku lagi sejak meninggalnya Alm. Jasin Santoso pada tanggal 2 Desember 1995 sesuai dengan ketentuan Pasal 1813 KHUPerdata;

b. Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut telah dibuat secara melanggar hukum, tidak sah dan batal demi hukum karena merupakan kuasa mutlak sesuai dengan Instruksi Menteri

12

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Dalam Negeri No. 14 Tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982 dan Yurisprudensi- Yurisprudensi Tetap MARI;

c. Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 dan Perjanjian- perjanjian Leasing antara Tergugat I dan Tergugat II telah dibuat secara melanggar hukum, tidak sah dan batal demi hukum, karena bertentangan dengan ketentuan hukum pertanahan yang melarang jual beli tanah dengan hak membeli kembali;

d. Semua perbuatan hukum lainnya yang bersumber pada Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggai 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II) serta Perjanjian-perjanjian Leasing antara Tergugat I dan Tergugat II tersebut di atas menjadi batal demi hukum pula, termasuk namun tidak terbatas pada:

- Peralihan hak kepemilikan tanah dan bangunan Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi milik Tergugat II sesuai dengan Akta Jual Beli No. 124.416/JS/Embong Kaliasin/XII/ 1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/ Embong Kaliasin/

XII/1997 yang dibuat oleh Tergugat IV menjadi tidak sah dan batal demi hukum pula;

- Balik nama sertifikat tanah Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No.

19-21 Surabaya menjadi atas nama Tergugat II yang dilakukan oleh Tergugat IV menjadi tidak sah dan batal demi hukum pula;

29. Bahwa walaupun Penggugat bukanlah pihak dalam Akta Pengikatan Jual Beli No.

159 tanggal 24 Desember 1993 berikut perjanjian-perjanjian dan kuasa-kuasa yang telah dibuat oleh para Tergugat tersebut, namun Penggugat memiliki kepentingan atas tanah dan bangunan Garden Hotel yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya, karena hal-hal sebagai berikut:

a. Penggugat terlebih dahulu mengikat Perjanjian dengan Tergugat I dari pada Perjanjian antara Tergugat II dengan Tergugat I;

b. Perkara Eksekusi No. 299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. yang diajukan oleh Penggugat adalah berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.

299/Pdt.G/2007/PN.JAK.SEL. tanggal 16 Mei 2007 yang telah berkekuatan hukum tetap, yang salah satu diktumnya secara tegas menyatakan:

Menghukum Tergugat (in casu Tergugat I) atau siapapun yang menerima hak dari padanya untuk menyerahkan jaminan kepada Penggugat berupa tanah dan Hal.

13

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

bangunan yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21, Surabaya dalam keadaan baik dan kosong;

c. Di satu sisi telah terungkap fakta hukum yang meyakinkan dan tidak terbantahkan lagi bahwa pengambilalihan serta balik nama tanah dan bangunan Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi atas nama Tergugat II adalah melanggar hukum, tidak sah dan batal demi hukum;

E. Secara hukum Tergugat II telah mengakui bahwa Garden Hotel bukan milik Tergugat II;

30. Bahwa dalam perkara No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst., Pelawan selaku Penggugat Rekonvensi telah mengajukan Permohonan Sita Jaminan atas tanah dan bangunan di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya (Garden Hotel) sesuai dengan Penetapan Sita Jaminan No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 19 Februari 2004 jo. Penetapan No.

09/Pen.Pdt/Del/2004/PN.Sby. jo. No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 25 Februari 2004 jo. Berita Acara Sita Jaminan No. 09/Pen.Pdt/Del/2004/PN.Sby. jo.

No. 374/Pdt.G/2003/ PN.Jkt.Pst. tanggal 26 Februari 2004;

31. Bahwa mengenai Sita Jaminan (CB) diatur dalam Pasal 227 (1) HIR, yang intisarinya adalah sebagai berikut:

a. Harus ada sangka yang beralasan, bahwa Tergugat sebelum putusan dijatuhkan atau dilaksanakan mencari akal akan menggelapkan atau melarikan barang- barangnya;

b. Barang yang disita itu merupakan barang kepunyaan orang yang terkena sita, artinya milik Tergugat bukan milik Penggugat;

32. Bahwa Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan mengatur bahwa dalam Sita Jaminan (CB) yang disita adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak milik Tergugat;

33. Bahwa disamping itu mengenai Sita Jaminan (CB) beberapa ahli hukum berpendapat sebagai berikut:

a. Ny. Retnowulan Sutanto, SH. dan Iskandar Oeripkartawinata, SH. dalam buku

“Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek” menyatakan:

“Sita Jaminan mengandung arti bahwa untuk menjamin pelaksanaan suatu putusan di kemudian hari, atas barang-barang milik Tergugat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak selama proses perkara berlangsung disita”;

b. M. Yahya Harahap, SH., dalam buku “Hukum Acara Perdata” menyatakan:

14

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

“Pengertian Sita Jaminan adalah menempatkan atau menahan harta kekayaan Tergugat yang berkedudukan sebagai Debitur di bawah penjagaan Pengadilan”;

34. Bahwa berdasarkan pengertian Sita Jaminan sebagaimana tersebut di atas, maka Sita Jaminan hanya dapat diletakan terhadap barang milik Tergugat;

35. Bahwa dengan demikian, dengan diajukannya permohonan Sita Jaminan atas tanah dan bangunan di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya (Garden Hotel) oleh Tergugat II (Penggugat Rekonvensi dalam perkara No. 374/Pdt.G/2003/ PN.Jkt.Pst. jo. No. 343/

PDT/2004/PT.DKI, jo. No. 1473 K/PDT/2005) berarti menurut hukum Tergugat II

telah mengakui bahwa tanah dan bangunan di

Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya (Garden Hotel) adalah milik Tergugat I (Tergugat Rekonvensi dalam perkara No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. jo.

No. 343/PDT/2004/PT.DKI, jo. No. 1473 K/PDT/2005);

F. Sita Jaminan terhadap Garden Hotel dalam Perkara No. 374/Pdt.G/2003/

PN.Jkt.Pst. tidak sah dan tidak berharga;

36. Bahwa pada saat Sita Jaminan terhadap tanah dan bangunan Garden Hotel dilaksanakan berdasarkan Penetapan Sita Jaminan No. 374/Pdt.G/2003/ PN.Jkt.Pst.

tanggal 19 Februari 2004 jo. Penetapan No. 09/Pen.Pdt/Del/ 2004/PN.Sby. jo. No.

374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 25 Februari 2004 jo. Berita Acara Sita Jaminan No. 09/Pen.Pdt/Del/2004/PN.Sby. jo. No. 374/ Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 26 Februari 2004, sertifikat tanah dan bangunan Garden Hotel yaitu SHGB No. 118/K Embong Kaliasin dan SHGB No. 417/Embong Kaliasin tercatat atas nama Tergugat II (Penggugat Rekonvensi dalam perkara No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. jo. No.

343/PDT/ 2004/PT.DKI, jo. No. 1473 K/PDT/2005);

37. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 227 (1) HIR, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan serta pendapat para ahli hukum sebagaimana tersebut pada butir 31, 32, dan 33 di atas, maka Sita Jaminan hanya dapat diletakan terhadap barang milik Tergugat;

38. Bahwa dengan demikian Sita Jaminan terhadap tanah dan bangunan Garden Hotel berdasarkan permohonan Penggugat Rekonvensi dalam perkara No. 374/Pdt.G/2003/

PN.Jkt. (Tergugat II dalam perkara ini) yang telah dilaksanakan berdasarkan Penetapan Sita Jaminan No. 374/Pdt.G/ 2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 19 Februari 2004 jo. Penetapan No. 09/Pen.Pdt/ Del/2004/PN.Sby. jo. No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst.

tanggal 25 Februari 2004 jo. Berita Acara Sita Jaminan No. 09/Pen.Pdt/Del/2004/

PN.Sby. jo.

No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 26 Februari 2004 adalah tidak sah dan tidak Hal.

15

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

berharga serta batal demi hukum karena bertentangan dengan ketentuan Pasal 227 (1) HIR, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan serta pendapat para ahli hukum;

39. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, tidak terbantahkan lagi bahwa serangkaian tindakan para Terugat yang telah melakukan peralihan hak dan balik nama tanah dan bangunan Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi milik Tergugat II merupakan perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi Penggugat, dimana perbuatan melawan hukum oleh para Tergugat tersebut menyebabkan Penggugat tidak dapat menjalankan haknya untuk mengeksekusi Tanah dan Bangunan Garden Hotel berdasarkan putusan perkara No. 299/Pdt.G/2007/ PN.JAK.SEL. tanggal 16 Mei 2007 yang telah berkekuatan hukum tetap, maka Penggugat mengalami kerugian materiil senilai tanah dan bangunan Garden Hotel tersebut. Oleh karenanya sudah sepatutnyalah apabila para Tergugat dihukum secara tanggung renteng untuk membayar ganti kerugian materiil kepada Penggugat senilai tanah dan bangunan Garden Hotel yang diperkirakan tidak kurang dari Rp30.000.000.000,- (tiga puluh milyar rupiah);

40. Bahwa karena gugatan Penggugat telah didasarkan kepada bukti-bukti yang authentik yaitu Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 299/Pdt.G/ 2007/

PN.JAK.SEL. tanggal 16 Mei 2007 yang telah berkekuatan hukum tetap dan memenuhi ketentuan Pasal 180 HIR, maka Penggugat mohon agar putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun ada upaya banding, perlawanan dan upaya hukum lainnya (uitvoerbaar bij voorraad);

Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Penggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan agar memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Penggugat terlebih dahulu mengikat Perjanjian dengan Tergugat I dari pada Perjanjian antara Tergugat II dengan Tergugat I;

3. Menyatakan para Tergugat telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum kepada Penggugat;

4. Menyatakan telah berakhir dan tidak berlaku lagi seluruh kuasa yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II termasuk namun tidak terbatas pada Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III terhitung sejak meninggalnya Alm Jasin Santoso pada tanggal 2 Desember 1995;

5. Menyatakan melanggar hukum, tidak sah dan batal demi hukum Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III karena

16

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

bertentangan dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982;

6. Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum semua perbuatan hukum lainnya yang bersumber pada Akta Pengikatan Jual Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993 yang dibuat oleh Tergugat III tersebut (berikut seluruh kuasa lainnya yang telah diberikan oleh Jasin Santoso kepada Tergugat II), termasuk namun tidak terbatas pada:

a. Perjanjian-perjanjian Leasing antara Tergugat I dan Tergugat II;

b. Peralihan hak atas tanah dan bangunan Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi milik Tergugat II sesuai dengan Akta Jual Beli No. 124.416/JS/Embong Kaliasin/XII/1997 tanggal 29 Desember 1997 dan Akta Jual Beli No. 123.416/JS/Embong Kaliasin/XII/ 1997 yang dibuat oleh Tergugat IV;

c. Balik nama sertifikat tanah Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya menjadi atas nama Tergugat II yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat;

7. Menyatakan tidak sah dan tidak berharga Sita Jaminan terhadap Garden Hotel yang telah dilaksanakan berdasarkan Penetapan Sita Jaminan No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 19 Februari 2004 jo. Penetapan No. 09/Pen.Pdt/Del/2004/PN.Sby. jo. No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 25 Februari 2004 jo. Berita Acara Sita Jaminan No. 09/Pen.Pdt/Del/ 2004/PN.Sby. jo.

No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 26 Februari 2004;

8. Menghukum para Tergugat untuk membayar kerugian materiil kepada Penggugat sebesar Rp30.000.000.000,- (tiga puluh milyar rupiah);

9. Menghukum para Tergugat untuk menyerahkan kepada Penggugat sertifikat tanah Hotel Garden yang terletak di Jl. Pemuda No. 19-21 Surabaya (SHGB Nomor 118/

K Kelurahan Embong Kaliasin dan SHGB Nomor 417/Kelurahan Embong Kaliasin) serta tanah dan bangunan Garden Hotel yang terletak di Jl. Pemuda No. 19 - 21, Surabaya dalam keadaan baik, kosong dan bebas dari segala beban apapun;

10. Menghukum Turut Tergugat untuk mematuhi putusan perkara ini;

11. Menyatakan isi putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun ada upaya banding, perlawanan atau upaya hukum lainnya (uitvoerbaar bij voorraad);

12. Menghukum para Tergugat untuk membayar ongkos perkara;

Atau:

Apabila Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aequo Et Bono);

Hal.

17

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat II mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

Eksepsi Tergugat II:

Dalam gugatan Penggugat, dapat ditemui beberapa kecacatan baik materiil maupun formil yang mengakibatkan Gugatan a quo demi hukum harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard), yaitu:

1. Exceptio Res Judicata/Gewijsde Zaak: baik dalil maupun substansi gugat a quo, sama persis dengan Perkara Peninjauan Kembali No. 21 PK/PDT/ 2008 yang telah diputus Pengadilan;

Bahwa ketentuan Pasal 1917 KUHPerdata, pada intinya mengatur tentang hal-hal sebagai berikut:

• Suatu putusan hakim/pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde zaak), daya kekuatan mengikatnya adalah mengenai substansi putusan itu;

• Apabila dalam gugat yang diajukan, dalil, obyek dan alasannya adalah sama, serta dalam hubungan yang sama pula dengan putusan hakim/ pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka dalam gugatan tersebut melekat unsur ne bis in idem atau res judicata;

• Oleh karena itu, gugatan yang diajukan harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard), sebagaimana juga ditegaskan dalam Yurisprudensi Tetap MARI No. 588 K/Sip/1973 tanggal 03 Oktober 1973 dan No. 619 K/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1985;

Dikaitkan dengan perkara a quo, bilamana memperhatikan keseluruhan dalil Penggugat dalam Gugatannya sangat perlu dicermati hal-hal berikut:

a Dalil-dalil Penggugat merupakan dalil yang sama persis dengan dalil Tergugat I dalam Perkara Peninjauan Kembali No. 21 PK/Pdt/2008;

b Bahwa kesamaan alasan dan dalil tersebut dapat dilihat sangat jelas dari isi, substansi maupun susunan kata-kata dan kalimat-kalimatnya;

c Sedangkan dalil Penggugat yang persis sama tersebut, telah diperiksa dan diputus oleh Majelis Judex Facti maupun Judex Juris;

d Bahwa putusan Judex Facti dan Judex Juris yang dimaksud adalah:

- Putusan PK No. 21 PK/Pdt/2008 tanggal 25 Juni 2008 (Majelis Hakim:

Djoko Sarwoko, SH., MH.; Artidjo Alkostar, SH., LL.M.; H. Mansur Kartayasa, SH., MH.) yang menolak PK dan menguatkan Putusan Kasasi; jo.

18

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

- Putusan Kasasi No. 1473 K/Pdt/2005 tanggal 10 Agustus 2006 yang menguatkan Putusan PT; jo.

- Putusan PT DKI No. 343/Pdt/2004/PT.DKI tanggal 03 September 2004 yang menguatkan Putusan PN; jo.

- Putusan PN Jakarta Pusat No. 374/Pdt.G/2003/PN.Jkt.Pst. tanggal 28 April 2004;

- Bahwa putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap dan pasti (inkracht van gewijsde zaak);

e. Dengan demikian, dalil gugat Penggugat a quo, secara konkret dan nyata melekat cacat ne bis in idem/res judicata dan tidak dapat lagi dipergunakan sebagai landasan/dasar untuk menguji kembali alasan yang sama persis tersebut, karena telah diperiksa, diuji dan diputus pengadilan melalui putusan berkekuatan hukum tetap;

Oleh karena itu, alasan-alasan Penggugat a quo secara formil tidak dapat dibenarkan untuk diperiksa kembali dan harus ditolak atau setidaknya dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard);

2. Onduidelijk Exceptie: Gugat a quo melekat cacat formil Obscuur Libel, karena Perjanjian Hutang-Piutang Penggugat sama sekali tidak memiliki Kaitan Hukum (Onrechtsbetrekking) dengan Perjanjian Jual-Beli Tergugat II;

Bahwa dalam Gugatannya (vide huruf A angka 13-15), Penggugat mengajukan dalil posita yang pada intinya adalah sebagai berikut:

• Antara Penggugat dengan Tergugat I telah ditandatangani Akta Pengakuan Hutang dan Pemberian Jaminan No. 221 tanggal 30 Desember 1992;

• Antara Tergugat II dengan Tergugat I telah ditandatangani Akta Pengikatan Jual- Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993;

• Jadi, Perjanjian Penggugat dengan Tergugat I adalah lebih dahulu daripada Perjanjian Tergugat Il dengan Tergugat I;

2.1.Dalil gugat a quo bersifat irrelevan dan ironis dengan Pasal 1338 (1) KUHPerdata yang digunakan sebagai dasar dalil;

Bahwa Penggugat mendasarkan dalilnya tersebut di atas pada ketentuan Pasal 1338 (1) KUHPerdata yang mengatur bahwa perjanjian berlaku sebagai undang- undang bagi para pihak yang membuatnya. Namun demikian:

a. Sama halnya dengan Tergugat I pada perkara No. 21 PK/Pdt/2008, dalam perkara ini Penggugat juga berusaha untuk membatalkan perjanjian Tergugat

Hal.

19

dari 36 hal. Put. No. 1082 K/Pdt/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

II dengan Tergugat I, dengan alasan yang sangat obscuur dan irrelevan, yaitu perjanjian hutang-piutang Penggugat dengan Tergugat I lebih dahulu dibuat daripada perjanjian jual-beli Tergugat II;

b. Bahwa alasan Penggugat itu sangat membingungkan dan tidak jelas arah/

juntrungannya, karena perjanjian Penggugat dengan Tergugat I merupakan perjanjian yang berbeda, terpisah dan tidak memiliki kaitan hukum apapun (onrechtsbetrekking) dengan perjanjian Tergugat II dengan Tergugat I;

c. Ironisnya lagi, dasar hukum Pasal 1338 (1) KUHPerdata yang digunakan Penggugat, telah mengatur dengan tegas bahwa perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya, in cassu:

- Akta Pengakuan Hutang dan Pemberian Jaminan No. 221 tanggal 30 Desember 1992 berlaku sebagai undang-undang bagi Penggugat dan Tergugat I;

- Demikian juga halnya dengan Akta Pengikatan Jual-Beli No. 159 tanggal 24 Desember 1993, berlaku sebagai undang-undang bagi Tergugat II dan Tergugat I;

2.2.Pasal 1340 KUHPerdata telah mengatur dengan tegas Prinsip Partai Kontrak;

Disamping hal di atas, Perjanjian Penggugat yang berbeda dan terpisah dengan Perjanjian Tergugat II, kekuatannya (legal binding) telah diatur dan dinyatakan dengan tegas dalam ketentuan Pasal 1340 KUHPerdata: “Suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya”, sehingga berdasarkan ketentuan ini:

a. Penggugat tidak dapat secara semena-mena meminta pembatalan jual-beli Tergugat II, apalagi dalam kasus ini Penggugat bukanlah pihak dalam perjanjian;

b. Sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 (1) maupun Pasal 1340 KUHPerdata, berlaku prinsip/asas hukum partai kontrak (contract party), dimana Perjanjian Penggugat dan Perjanjian Tergugat II merupakan perjanjian yang sama sekali berbeda, terpisah dan memiliki eksistensi yuridis masing-masing;

c. Dengan demikian permintaan pembatalan perjanjian Tergugat II yang diminta oleh Penggugat dalam perkara a quo, adalah irrelevan, obscuur dan bertentangan dengan hukum (Pasal 1338 (1) jo. Pasal 1340 KUHPerdata);

Bahwa ketiadaan hubungan atau irrelevansi dalil Gugat tersebut, jelas telah menyebabkan melekatnya cacat Obscuur libel pada Gugatan a quo sehingga harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard);

20

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah