TOTAL DPT DARI TPS
B. Permohonan Pemohon Tidak Jelas/Kabur (Obscuur Libel)
11. Bahwa menurut Pihak Terkait, Permohonan Pemohon tidak jelas (obscuur libel) sehingga layak untuk dinyatakan Permohonan tidak dapat diterima.
Permohonan Pemohon tidak sesuai dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi.
12. Bahwa berdasarkan ketentuan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2016 (PMK Nomor 1 Tahun 2016) yang
sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b poin 4 mengenai pokok permohonan Pemohon harus memuat penjelasan mengenai kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan Termohon dan hasil perhitungan suara yang benar menurut Pemohon.
13. Bahwa ketentuan selanjutnya, yang sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b poin 5 menjelaskan, Petitum harus memuat permintaan untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon dan menetapkan hasil penghitungan yang benar menurut Pemohon.
14. Bahwa penghitungan suara sebagaimana maksud Pasal 8 ayat (1) huruf b poin 4 dan 5 yang termuat dalam Peraturan Mahkamah konstitusi tersebut adalah adanya bilangan-bilangan angka penghitungan pada masing-masing tingkatan penyelenggara mulai dari tingkat TPS, PPK dan KPU Kabupaten, sehingga harus dihitung selisih atau kesalahan penghitungan suara yang salah dari Termohon dan yang benar menurut Pemohon.
15. Bahwa dengan mendasarkan pada dalil Pemohon sebagaimana dinyatakan dalam Posita Permohonan Pemohon bertanggal 11 September 2017, maka secara tegas dan terbukti bahwa Pemohon tidak dapat menguraikan dengan jelas kesalahan penghitungan suara sebagaimana telah ditetapkan oleh Termohon.
16. Bahwa pada kenyataannya dalam fundamentum petendi (posita) Permohonan Pemohon secara akumulatif tidak menjelaskan secara detail tentang kesalahan yang memungkinkan adanya perbedaan penghitungan suara mulai dari tingkat TPS, PPD dan KPU Kabupaten berdasarkan penetapan yang dilakukan oleh Termohon. Justru yang kemudian dipaparkan pada bagian fundamentum petendi (posita) permohonan adalah adanya dugaan-dugaan pelanggaran terkait dengan proses tahapan yang dilakukan oleh Termohon dan dugaan adanya pelanggaran oleh Pihak Terkait yang belum tentu benar adanya dan menjadi kewenangan lembaga lain untuk menyelesaikannya.
17. Bahwa dalam permohonannya mengenai kedudukan hukum Pemohon point 8 sampai dengan point 18 halaman 6 dan 7, Pemohon mendalilkan bahwa ambang batas sebagaimana dimaksud Pasal 158 UU 10/2016 tidak dapat diterapkan antara lain karena terdapat 87 TPS yang tidak dilakukan PSU, adanya dugaan pemindahan lokasi TPS dan pemindahan KPPS di beberapa TPS, dan adanya dugaan TPS yang dibuka hingga pukul 17.00 WIT. Namun dalam dalilnya, Pemohon tidak merinci kesalahan penghitungan ataupun pengaruh siginifikan antara dugaan-dugaan pelanggaran proses tersebut dengan perolehan suara.
Terhadap dalil tentang 87 TPS yang tidak dilakukan PSU-pun, Pemohon tidak menguraikan alasan hukum kenapa harus dilakukan PSU maupun menunjukkan adanya kesalahan penghitungan suara di 87 TPS karena Pemohon meragukan dokumen hasil perolehan suara yang tersimpan sejak lama. Semestinya Pemohon menghadirkan C-1 di 87 TPS tersebut untuk membuktikan dalilnya.
18. Bahwa dengan tidak terdapat satu-pun objek permohonan keberatan Pemohon yang memenuhi ketentuan UU 10/2016 dan PMK 1/2016 tentang kesalahan penghitungan suara yang dilakukan Termohon, maupun yang mempengaruhi terpilihnya Pasangan Calon, bahkan Pemohon tidak dapat menguraikan dengan jelas dan rinci tentang kesalahan dari penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon. Pemohon juga tidak mampu menjelaskan secara rinci di tingkatan mana saja telah terjadi kesalahan penghitungan suara sebagaimana dalil yang telah disampaikan oleh Pemohon. Dengan demikian, beralasan hukum bagi Pihak Terkait memohon agar Mahkamah menolak atau setidak-tidaknya tidak menerima permohonan Pemohon a quo (niet ontvantkelijk verklaard).
Bahwa kewenangan Mahkamah Konsitusi dalam perkara Pilkada secara limitatif telah ditegaskan terbatas hanya untuk perselisihan penetapan perolehan suara. Sumber dan dasar kewenangan Mahkamah dalam memeriksa dan mengadili perkara perselisihan penetapan perolehan suara, sebagaimana diatur dalam Pasal 157
ayat (3) UU 10/2016 yang tegas menyatakan bahwa “perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus”.
19. Pembentuk Undang-Undang telah mendesain sedemikian rupa pranata penyelesaian sengketa atau perselisihan yang terjadi di luar perselisihan penetapan perolehan suara hasil penghitungan suara. Bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang sebagaimana telah dirubah, yang terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, secara tegas telah mengatur:
Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilihan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggaran Pemilu (DKPP) sebagaimana diatur dalam Pasal 136 sampai dengan Pasal 137.
Dalam hal terjadi pelanggaran administratif diselesaikan oleh Komisi Pemilihan Umum pada tingkatan masing-masing sebagaimana diatur dalam Pasal 138 sampai dengan Pasal 141. Dalam hal terjadi sengketa antar peserta pemilihan diselesaikan
melalui Panitia Pengawas Pemilihan di setiap tingkatan sebagaimana diatur dalam Pasal 142 sampai dengan Pasal 144. Dalam hal terjadi sengketa penetapan calon pasangan,
mekanisme penyelesaiannya melalui Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pasal 153 sampai dengan Pasal 155;
Dalam hal terdapat tindak pidana dalam pemilihan diselesaikan oleh lembaga penegak hukum melalui sentra Gakkumdu, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan; Pasal 145 sampai dengan Pasal 152;
Untuk perselisihan penetapan perolehan suara hasil penghitungan suara diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi, sebagaimana diatur dalam Pasal 157.
20. Berdasarkan hal tersebut menurut Pihak Terkait cukup alasan bagi Mahkamah untuk menyatakan Permohonan Pemohon kabur, tidak jelas dan bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, karenanya harus dinyatakan ditolak atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvantkelijk verklaard);
II. Dalam Pokok Permohonan
Bahwa terhadap dalil-dalil Pokok Permohonan Pemohon, Pihak Terkait menyampaikan tanggapan-tanggapan dan bantahan-bantahan, sebagai berikut:
21. Bahwa segala sesuatu yang telah diuraikan dalam Eksepsi dianggap telah termasuk dan telah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keterangan dalam Pokok Permohonan ini.
22. Bahwa Pihak Terkait dengan tegas menolak seluruh dalil Pemohon kecuali hal-hal yang diakui kebenarannya secara tegas oleh Pihak Terkait.
23. Bahwa benar Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua (selanjutnya disebut “KPU Provinsi Papua”) selaku Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayapura (Termohon) telah mengeluarkan penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura Tahun 2017 pada tanggal 7 September 2017 berdasarkan Keputusan KPU Kabupaten Jayapura
Nomor 71/Kpts/KPU-Kab.Jpr/030.434090/2017 Tanggal 7 September 2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Ulang Dan Hasil Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura Tahun 2017 beserta Lampirannya berupa Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Di Tingkat Kabupaten Dalam Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Jayapura Tahun 2017 (Model DB KWK) (bukti PT-3).
24. Bahwa benar perolehan suara Pasangan Calon sebagaimana telah ditetapkan oleh Termohon dalam Keputusan a quo , adalah sebagai berikut:
Tabel 1
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1 Yanni, SH dan Zadrak Afasedanya, SP. 9. 255 Suara 2 Mathius Awowitauw SE., M.Si dan Giri
Wijayantoro (Pihak Terkait) 34. 630 Suara 3 Godlif Ohee dan Drs. Frans Gina 2.078 Suara 4 Siska Yoku, SH dan Marselino Waromi 686 Suara 5 Jansen Monim, ST, MM dan H. Abdul
Rahman Sulaiman 11.582 Suara
Total 58.231 Suara
A. BANTAHAN PIHAK TERKAIT ATAS DALIL PEMOHON TENTANG