• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.4 Nusa Tenggara Timur

2.4.4 Permukiman di Pulau Timor

Pada masa lalu, desa-desa di Timor dibangun di atas puncak-puncak bukit karang dan dikelilingi dinding batu karang karena ketakutan bahaya serangan mendadak suku-suku lain (Suparlan dalam Koentjaraningrat, 1971: 205). Selain itu, permukiman mereka biasanya dikelilingi dinding batu karang atau semak berduri agar aman dari berbagai serangan musuh maupun binatang buas.

Desa-desa biasanya didiami oleh sekelompok kerabat berjumlah sekitar 50-60 orang, meskipun ada juga yang besar (sekitar 250-300 orang di Belu Selatan) karena keterbatasan alam tidak memungkinkan membangun desa kecil-kecil yang aman (Suparlan dalam Koentjaraningrat, 1971: 205). Apabila kelompok kerabat menjadi terlalu besar jumlahnya, maka mereka kemudian membangun desa baru yang berdekatan, sehingga terjadi proses pemencaran kelompok kerabat pada hamparan tanah yang luas. Pola pengembangan ini terkait langsung dengan budaya pertanian mereka, yakni berladang tanaman jagung.

Pada zaman Belanda, kondisi semacam ini dinilai tidak menguntungkan, maka dilakukan upaya pengumpulan penduduk ke dalam desa-desa yang besar, sehingga mudah diawasi dari jalan raya militer. Usahanya antara lain dengan cara membakar desa-desa terpencil, sehingga penduduknya terpaksa berkumpul di

desa-desa yang ditentukan. Akibatnya, kini di desa yang lebih besar terkumpul orang dari berbagai desa kecil yang sebelumnya terpencil dan eksklusif.

Pemerintah Belanda menganjurkan desa-desa membangun rumah dengan bentuk baru, yakni persegi panjang untuk menjaga kesehatan penduduknya, sebab rumah-rumah lama yang berbentuk sarang lebah dianggap tidak sehat. Namun hanya sebagian kecil penduduk Timor yang mengikuti anjuran tersebut. Pola perkampungan asli orang Timor terdiri atas rumah-rumah, kandang ternak, pagar keliling dan di bagian luarnya adalah ladang pertanian mereka, sedangkan pola rumah yang baru dibangun di tepi jalan seperti anjuran Pemerintah Belanda. Rumah asli orang Timor berbentuk sarang lebah dengan atap dari rumbia yang mencapai tanah. Rumah Timor biasanya terbuat dari balok kayu untuk tiang dan bilah bambu tipis untuk dindingnya dengan atap daun rumbiya.

Sebuah rumah didiami oleh satu keluarga batih, di dalamnya mereka tidur, makan, bekerja dan menerima tamu. Rumah juga merupakan tempat bekerja para wanita, antara lain memasak, menenun dan menyimpan hasil kebun. Rumah juga merupakan tempat untuk menjalankan upacara agama asli sehubungan dengan suku mereka. Sebuah rumah terdiri atas dua bagian, yaitu bagian luar (sulak) dan bagian dalam (natan). Bagian luar digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu, dan tempat para anak lelaki yang sudah dewasa. Bagian dalam asalah tempat bagi keluarga, tempat menginap anak perempuan yang sudah kawin kalau berkunjung ke rumah orang tuanya. Keluarga tidur di bagian dalam rumah, di atas beberapa balai yang tersedia dan sesuai dengan kedudukan dalam keluarga.

Menurut Foni (2002: 107) orang Dawan umumnya tinggal dalam satu persekutuan komunitas yang disebut kuan atau kampung. Setiap kuan dibentuk oleh beberapa suku atau marga yang memiliki peran sebagai suku-laki-laki (lian mone) dan suku-suku kelompok perempuan (lian feto). Setiap keluarga Dawan tinggal dalam sebuah rumah yang disebut ume atau keluarga batih. Setiap orang Dawan pada umumnya memiliki lima (5) buah rumah yaitu ume bubu, lopo,ume kbat/ume kase, ume mnasi dan ume fam/kanaf (Foni, 2002: 109)

Ume kbat adalah rumah berbentuk empat persegi panjang yang dianggap sebagai bangunan modern yang diadopsi ke dalam komunitas Atoni yang berfungsi sebagai tempat untuk tidur dan menerima tamu. Ume bubu adalah rumah bulat yang berfungsi ganda baik sebagai dapur, tempat penyimpanan makanan, dan sebagai bilik tidur (Foni, 2002: 109). Ume bubu, ume kbat dan lopo umumnya dibangun membentuk segi tiga; menghadap ke jalan raya, sedangkan ume mnasi dan ume fam adalah rumah yang dibangun oleh semua anggota suku atau sub suku dengan ritus tertentu dan pada tempat khusus. Ume mnasi adalah rumah tempat berhimpun beberapa anggota kepala keluarga dalam satu marga. Ume mnasi berada setingkat di bawah ume fam sebagai tempat berhimpun dari cabang-cabang dalam satu suku (sub ume fam/kanaf. Ume fam/ume kanaf melambangkan simbol pokok kehidupan suku-suku Atoni. Ume fam/kanaf selalu dihubungkan dengan apa yang disebut fatu kana-oe kana (batu keramat dan air keramat) masing- masing suku (Foni, 2002: 109).

Kebun atau disebut lele, bagi orang Timor merupakan kampung kedua setelah kuan, oleh karena lele memberikan sarana kehidupan. Lele begitu penting

sebab merupakan gantungan hidupnya, sebagai sumber persediaan makanan. Hasil panen juga disimpan di dalam ume bubu dan lopo. Di dalam lele ditanam berbagai jenis tanaman umur pendek dan umur panjang. Lele atau kebun pada umumnya dibagi atas tiga jenis yaitu lele feu, lele bane dan lele. Lele feu adalah lahan tunggu yang baru diolah dalam periode musim tanam tertentu setelah ditinggalkan lama tiga sampai lima tahun.

Lele bane adalah lahan yang diolah setiap tahun atau lahan yang tidak tinggalkan setelah diolah pada periode musim tanam tertentu. Lele feu dan lele ve biasanya didominasi dengan berbagai jenis tanaman pangan. Pada bagian tentu dimana terdapat aliran air biasanya diempang untuk ditanami dengan pisang, tebu, pepaya, talas dan lain-lainnya yang dianggap sebagai tanaman penghibur. Empangan erosi tersebut yang biasanya cukup subur dan disebut kuni. Selain kuni, orang Dawan sejak dulu membuat empangan-empangan batu mengelilingi badan lele yang disebut bata, atau dalam pertanian modern yang dikenal dengan terasering (Foni, 2002: 99).

Dari penjelasan tentang Nusa tenggara Timur dengan berbagai adat, kepercayaan dan pola hidup di atas sangatlah membantu penulis untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indinesia untk siswakelas X SMA Seminari lalian NTT.

Dokumen terkait