BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Pernikahan Dalam Perspektif Islam
Pernikahan adalah sunnah Nabi.yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi umat islam. hal tersebut merupakan sebuah kejadian yang suci dan sarana yang paling tinggi dalam memelihari ketetapan keturunan dan memperkuat hubungan ukhuwah islamiyah antar sesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih saying. kasus meninggalkan nikah yang dilakukan oleh sahabat pernah dilarang oleh Nabi Saw dengan alasan sohabat untuk memperbanyak ibadah kepada tuhan, karena hidup membujang tidak dianjurkan dalam agama terlebih dianjurkan untuk menikah. Pelajaran yang bisa diambil adalah dapat menjauhkan zian dan menjaga kehormatan diri dari jatuh
35 Abdul Mustaqim, “Ilmu Ma‟anil Hadits”, 2016. 64-65
36 Ibid,,, 65.
35
pada kerusakan seksual. Maka dari itu islam memberikan perhatian agar membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah dalam pernikahan.37
Istilah nikah berasal dari bahasa Arab, yaitu (
حاكنلا
), adapulayang mengatakan perkawinan menurut istilah fiqh dipakai perkataan nikah dan perkataan zawaj. Sedangkan menurut istilah Indonesia adalah perkawinan. Dewasa ini kerap kalidibedakan antara pernikahan dan perkawinan, akan tetapi pada prinsipnya perkawinan dan pernikahan hanya berbeda dalam menarik akar katanya saja.38
Dalam terminologi hukum Islam, terdapat banyak definisi, di antaranya pandangan Wahbah al-Zuhaili, menurutnya perkawinan adalah sebuah akad yang ditetapkan oleh syara‟ untuk membolehkan senang antara laki-laki dengan perempuan dan menghalalkan bersenang- bersenang-senangnya perempuan dengan laki-laki.39 Sedangkan menurut Abu Yahya Zakariya al-Anshary menikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah atau dengan kata-kata yang semakna dengannya. 40 Pandangan ini semakna yang diberikan oleh Zakiah Daradjat yang mendefinisikan menikah sebagai
37 Firman Arifandi, Anjuran Menikah Dan Mencari Pasangan, (Lentera Islam), 5-6.
38 Wahyu Wibisana. Pernikahan Dalam Islam, Jurnal Pendidikan Islam –Ta‟lim Vol. 14 No.2, 2016.
39 Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam Wa Adillatun, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, 29.
40 Abu Yahya Zakariya al-Anshary, Fath al-Wahhab, Singapura: Sulaiman Mar‟iy, 30.
sebuah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah atau tazwij atau semakna dengan keduanya.41
Pengertian di atas memberi pemahaman bahwa seakan perkawinan hanya sebagai ritual untuk dibolehkannya hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang semula dilarang menjadi dibolehkan. Padahal setiap perbuatan hukum itu mempuyai tujuan dan akibat hukum ataupun pengaruhnya. Hal inilah yang menjadi perhatian manusia pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari seperti terjadi perceraian, kurang keseimbangan antara suami istri. sehingga memerlukan sebuah ketegasan tentang arti perkawinan. Ketegasan tersebut tidak hanya berupa kebolehan bersetubuh semata tetapi ada sebuah tujuan dan akibat hukum dari prosesi akad nikah tersebut.42
Dalam kaitan ini, Muhammad Abu Ishrah memberikan pengertian perkawinan yang lebih luas. menurutnya perkawinan adalah akad yang memberikan faidah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga antara laki-laki dan perempuan dan mengadakan tolong-menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban bagi masing-masing.43
2. Anjuran Islam Untuk Menikah
Pernikahan merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi umat islam. Hal tersebut adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan
41 Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995, 37.
42 Abd Rahman al-Ghazaly, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 1996, 9.
43 Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh, Yogyakarta: Dana Bhakti Waqaf, 1995,40.
37
memperkuat antar hubungan antar sesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih saying. Bahkan Nabi pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama oleh karena itu, manusia disyariatkan untuk menikah.
Dibalik anjuran Nabi kepada umatnya untuk menikah, pastilah ada hikmah yang bisa diambil. Diantaranya yaitu agar bisa menghalangi mata dari melihat hal-hal yang tidak di ijinkan syara‟ dan menjaga kehormatan diri dari jatuh pada kerusakan seksual. Islam sangat memberikan perhatian terhadap pembentukan keluarga hingga tercapai sakinah, mawaddah, dan warahmah dalam pernikahan.44
Terdapat beberapa dasar mengenai anjuran menikah dalam Hadis.
Seperti yang di riwayatkan oleh At-Timidzi dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu, ia menutukan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
حاكنلاو ،كوسلاو ،رطعتلاو ،ءايحلا :نيلسرملا ننس نم عبرا
Artinya: “ Ada empat perkara yang termasuk sunnah para Rasul: rasa malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. At-Tirmidzi) Melalui sejumlah redaksional dalil dapat kita temukan motivasi menikah yang mana merupakan bagian dari kehidupan para nabi atau yang di maksud dengan sunnah nabi. Pernikahan adalah jalan untuk mewujudkan salah satu tujuan asasi dari syariat Islam yaitu menjaga nasab,
44 Firman Arifandi, Serial Hadist 1: Anjuran Menikah Dan Mencari Pasangan, Jakatrta Cet Pertama: Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Stiabudi,2018. 5
karena dengannya terbentuklah sarana penting guna memelihara manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan Allah, seperti perilaku zina, homoseksual, dan sebagainya.45
3. Hukum Pernikahan Dalam Islam
Dalam pembahasan sebelumnya telah dibahas kajian tentang anjuran menikah. Dalam pembahasan kali ini akan mebahas tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama menjelaskan mengenai hukum menikah bahwa menikah bisa menjadi sunnah, bisa menjadi wajib dan bahkan bisa menjadi mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh dan ada bisa juga menjadi haram untuk dilakukan. Semua tergantung pada kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya46
a. Wajib
Hukum menikah bisa wajib, bagi mereka yang sudah siap dan mampu baik lahir maupun batin, sehingga kalau tidak menikah, ia akan terjerumus kepada perbuatan zina. Tidak ada cara lain untuk menjaganya kecuali dengan jalan menikah. Dalam kaidah Ushuliyyah dikatakan: “Sesuatu yang tidak menyebabkan terpenuhinya sesuatu yang wajib kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya”.47
45 Firman Arifandi, Serial Hadist 1: Anjuran Menikah Dan Mencari Pasangan, Jakatrta Cet Pertama: Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Stiabudi,2018. 6
46 Ahmad Sarwat, Ensiklopedia Fikih Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019, 17
47 Ridwan Hasbi, Elastisitas Hukum Nikah dalam Perspektif Hadis, Jurnal: Ushuluddin Vol. XVII, No, 1, 2011, 35
39
b. Sunnah
Hukum menikah juga bisa menjadi sunnah. Hukum ini berlaku bagi seorang muslim yang sudah mampu menikah tapi tidak dapat menafkahi istri secara finansial. Dalam kondisi demikian, seorang tersebut dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT dengan berdoa, berikhtiar, berpuasa, dan beribadah. Dalam doa yang dipanjat, akan meminta kepada Allah SWT agar diberi kemampuan untuk menafkahi secara finansial. 48
Meski demikian, Islam selalu menganjurkan umatnya untuk menikah, jika memang mampu. Pasalnya, tindakah ini merupakan salah ibadah yang diskukai Allah SWT.
c. Makruh
Makruh. Hukum ini berlaku bagi mereka yang merasa bahwa dirinya akan berbuat zalim pada istrinya jika menikah, namun tidak sampai pada tingkatan yakin, misalnya karena ia tidak memiliki nafsu yang kuat, khawatir tidak mampu menafkahi, tidak begitu menyukai isterinya, dan lain-lain. Dalam pandangan Shāfi‟iyah, hukum makruh berlaku jika yang bersangkutan punya cacat seperti pikun, sakit menahun, dan lain-lain. Hukum makruh menurut Shāfi‟iyah juga berlaku bagi mereka yang menikahi wanita yang sudah menerima
48 Macam- Macam Hukum Nikah Dalam Islam.Wajib Tidak,
pinangan orang lain, pernikahan muhallil yang tidak dikemukanan dalam akad.49
d. Mubah
Mubah bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkan segera menikah atau alasan-alasan yang mengharamkan untuk menikah.50
Nikah merupakan urusn duniawi untuk memenuhi kebutuhan jasad dan keinginannya, sama seperti makan, minum dan lainnya. Oleh sebab itu menikah adalah pemenuhan instink manusia dan ia tidak sampai pada tataran ibadah.51
e. Haram
Keharaman pernikahan apabila suami tidak mempu untuk memberikan nafkah, baik nafkah lahir maupun nafkah batin, sementara sang istri membutuhkannya, maka suami itu diharamkan untuk menikah. Sebab bila dia nekad untuk menikah, maka akan dipastikan dia tidak akan mampu memberikannafkah kepada istrinya, padahal memberikan nafkah kepada istri hukumnya wajib. Dan Salah satu penyebab haramnya seorang laki-laki menikah dengan wanita yitu jika sang laki-laki mempunyai penyakit yang membahayakan dan dapat
49 Dr Hj. Iffah Muzammil, Fiqih Munakahat ( Hukum Pernikahan Dalam Islam),Tira Smart, Tangerang: Jl. Bahagia Raya, Blok c2, No. 10, 2019, 8
50 Wahyu Wibisana, Pernakahan Dalam Islam, Jurnal: Pendidikan Agama Islam Ta‟lim, Vol. 14 No.2, 2016, 189
51 Ridwan Hasbi, Elastisitas Hukum Nikah dalam Perspektif Hadis, Jurnal: Ushuluddin Vol. XVII, No, 1, 2011, 33.
41
menula kepada istrinya, sehingga dia menjadi sumber penyebar penyakit yang membahayakan.
Pernikahan juga menjadi haram apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu melakukan aktifitas seks, memberi nafkah, atupun kewajiban lainnya. Kondisi pernikahan seperti ini menjadi haram, karena pernikahanyya mengandung unsur membahayajan bagi wanita yang akan dijadikan istri. Para ahli fikih berpendapat bahwa istri seyogyanya meminta cerai jika suami memiliki salah satu kekurangan, yaitu suami mimiliki alat vital yang terputus, kedua buah zakarna dihilangkan, suami tidak mampu melakukan hubungan seksual.52
Imam al-Qurthubi mengatakan, “jika suami mengetahui bahwa dirinya tidak mampu menafkahi istri atau memberi mahar, dan memenuhi hak-hak istri yang wajib atasnya, maka dia tidak boleh menikahi wanita itu sampai dia menjelaskan hal tersebut kepada sang calon istri. Begitu juga jika sang calon suami mempunyai suatu penyakit yang menhalanginya untuk melakukan hubungan seksual dengan si calon istri maka harus menjelaskan kepada wanita itu, agar dia dapat mempertimbangkannya, begitu sebaliknya.53
52 Ahmad Sarwat, Ensiklopedia Fikih Indonesia, Jakarta: Gramedia PustakaUtama, 2019, 23-24
53 Adil Abdul Mu‟im Abu Abbas, Ketika Menikah Jadi Pilihan, Jakarta: Niaga Swadaya, 2009, 25.
4. Mencari Pasangan Hidup Menerut Islam
Mencari pasangan hidup untuk membina rumah tangga bersama tidak boleh di lakukan sembarangan. Jika kamu salah memilih pasangan, bisa jadi malapetaka dunia dan akhirat. Karena pasangan yang kamu pilih nanti orang yang akan menemani dalam suka maupun duka disepanjang menjalani kehidupan besama-sama. Jadi jika seorang wanita, maka pilihlah suami yang bisa menjadi Imam yang baik, membingbing kita ke jalan Allah SWT. Jika kita seorang laki-laki, maka pilihlah wanita yang baik dan patuh. 54
Dalam kitab fikih atau hadis disebutkan beberapa kriteria yang hendaknya dijadikan parameter untuk memlilih jodoh yang baik.
Umumnya masyarakat memperhatikan kriteria memilih pasangan untu dijadikan pendamping hidup diantaraya ialah kriteria harta, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Akan tetapi, pemilihan berdasarkan pemahaman yang benar terhadap Agama menjadi skala prioritas karena kelak sang ibu atau ayah akan menjadi pendidik bagi keturunannya.
Pemilihan berdasarkan parameter Agama bukan berarti tidak memberian peluang sedikitpun pada kriteria yang ain untuk menjadi pertimbangan, melainkan memberikan penekanan dan prioitas yang lebih terhadap pemahaman Agama. Sehingga dengan kata lain boleh dan
54 4 Kreteria Memilih Pasangan Hidup Ala Rasulullah, https://kumparan.com/hijab-lifestyle/4-kriteria-memilih-pasangan-hidup-ala-rasulullah-saw-1vFMQlJoAH8, diakses pada tanggal 19 Oktober 2021
43
sah saja keempat kriteria tesebut berkumpul pada salah satu wanita yang kaya, berrnasab baik,cantik dan paham dengan syariat Islam.55
Untuk sejarah pernikahan, pernikahan sudah ada dan dimulai sejak Zaman dahulu, sebagai sarana untuk membangun kelompok, serta mengatur kelompok yang berbeda. Pernikahan bisa diartikan sebagai kebutuhan kelompok yang lebih besar, mengubah orang asing menjadi keluarga. Hingga akhirnya pernikahan menjadi transaksi ekonomi dan politik, yang berarti, menemukan pasangan pria yang baik adalah bentuk investasi penting bagi kaum wanita. Barulah pada abad ke 18, pernikahan didasarkan pada pasangan yang saling mencintai.
Wanita dianggap sebagai kepemilikan sudah bukan hal baru lagi jika selama berabad-abad lamanya, wanita diperlakukan seperti properti atau barang, dipindahkan dari keluarga satu ke keluarga lainnya saat prosesi lamaran hingga pernikahan berlangsung. Pada zaman dahulu, wanita menikah untuk menyelesaikan atau membayar hutang. Wanita terlalu emosional untuk memilih pasangan karena cenderung dikendalikan oleh hati dibanding logika, wanita dianggap terlalu emosional untuk dipercaya memilih suami yang baik. Inilah mengapa kaum pria dianggap sebagai pengambil keputusan yang lebih rasional dan berkepala dingin, serta pihak yang paling mungkin untuk melamar terlebih dahulu.
Secara alami, seorang laki-laki memang seharusnya mengambil langkah terlebih dahulu untuk bertindak, termasuk melamar wanita.
55 Muhammad Najib Asyrof,Lc., M.Ag., Fikih Mencari Jodoh, https://fis.uii.ac.id/blog/2021/03/15/fikih-mencari-jodoh/ , diakses pada tanggal 19 Oktober 2021
Seperti adat Jawa, wanita memang dianjurkan untuk tidak keburu (ngebet) untuk menikah karena itu dianggap tidak sopan dan menyalahi aturan dan norma adat sebagai wanita Jawa.
Apalagi pada umumnya, derajat seorang laki-laki lebih tinggi dan akan menjadi pemimpin rumah tangga, dibutuhkan seorang laki-laki yang memiliki keberanian dan keteguhan hati untuk memulai komitmen. Itulah mengapa pria lebih sering melamar wanita dibanding sebaliknya.
45 BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pemahaman Hadis Memilih Pasangan Hidup Dengan Pendekatan Sosio Historis
1. Penjelasan Hadis Memilih Pasangan Hidup Perspektif Hadis
حكنت لاق ملسو ويلع للها ىلص يبنلا نع ونع للها يضر ةريرى يبا نع عبرلا ةءرملا
اهلامل )يراخبلا هاور( كادي تبرت نيدلا تاذب رفظاف اهنيدلو اهلامجو اهبسحلو
Arinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam, beliau bersabda: "perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.56
Penjelasan hadis diatas musonnif mengatakan bahwa wanita itu dinikahi karena 4 perkara:
Yang pertama karena hartanya, yang kedua karena nasabnya.
Dengan fathahnya huruf ha' dan tṡin yang tanpa titik.kemudian ba' yang dititik satu yakni kemuliaan sang perempuan.Dan lafadz „hasab‟ itu menurut asalnya, memiliki arti kemuliaan dengan beberapa bapaknya dan dan beberapa kerabatnya, yang diambil dari kata hisab, karena mereka ketika bersenang-senang mereka menghitung beberapa etika-etika mereka dan beberapa bapaknya mereka dan kaumnya mereka dan menghitungnya, maka di hukumi bagi orang yang bertambah dari selainnya orang tersebut dan dikatakan yang dimaksud dengan hasad di dalam bab ini adalah
56 Muhammad bin Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Beirut: Dar Al-Fikr, 2009), juz 3
beberapa Budi pekerti yang baik dan ada yang mengatakan juga yang dimaksud adalah harta. Dan perkataan harta ini, ditolak di karenakan lafadz harta tersebut sudah disebutkan di sebelumnya.
Dan musonnif terhadap lafadz harta tersebut yang disandarkan terhadap hadis dan peristiwa tersebut telah tertera di dalam hadits Mursal nya Yahya bin Ja'dah menurut Said Ibnu Mansur yg berupa lafadz
ىلع اهبسنو اهبسح ىلعو اهل امو اهنيد
Dan menyebutkan nasab atas hadits inimenjadi penguat dan diambil dari penguat tersebut bahwa sesungguhnya orang yang mempunyai nasab mulia disunnahkan baginya menikah:orang yang memiliki hasab mulia kecuali orang Yang memiliki hasab mulia tersebut berlawanan dengan orang yang tidak ahli agama begitu juga sebaliknya maka didahulukan wanita yang ahli agama dan begitu juga seterusnya di setiap beberapa sifat dan sedangkan pendapatnya sebagian ulama' Syafi'i disunnahkan seorang wanita tersebut tidak berkerabat yang dekat maka jika pernyataan tersebut bertendensi kepada hadits maka tidak memiliki dalil asal atau kepada peristiwa yang sudah terjadi karena pada umumnya anak diantara dua kerabat yang dekat itu sangatlah bodoh, dan peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Dan sedangkan hadits yang di riwayatkan oleh imam Ahmad dan imam nasa'i yang di tashih oleh imam Ibnu hibban dan imam hakim dari hadist nya huroidah yang merupakan hadits marfu' sesungguhnya kadar ahli dunia itu adalah orang yang memiliki harta, maka bisa jadi yang
47
dimaksud dari harta tersebut ialah kadar bagi seseorang yang tidak memiliki hasab/kemuliaan. Maka orang memiliki hasab yang yang mulia itu setara dengan orang yang mempunyai harta bagi orang yang tidak memiliki nasab. Dan begitu juga hadits buraidah, itu hadits nya sahabat samuroh.yang merupakan hadits marfu' berupa hasab adalah harta dan Karom adalah taqwa. Diriwayatkan oleh imam Ahmad57
لامجو
اه
(dan kecantian). Dari sini diambil keterangan tentangdisukainya menikahi perempuan cantik, kecuali jika dihadapkan pada pilihan antara perempuan cantik namun komitmen terhadap agama, maka kondisi seperti ini diutamakan perempuan yang baik agamanya. Termasuk dalam katagori perempuan cantik adalah yang memiiki sifat-sifat terpuji.
Di antara sifat-sifat tersebut adalah ringan tangan membantu sesama.
نيدلا تاذب رفظاف
(carilah yang memiliki agama). Dalam hadis Jabir,نيدلا تاذب كيلعف
(hendaklah engkau yang memiliki agama).Maknanya;yang patut bagi laki-laki yang komitmen terhadap agama dan hormat, hendaknya agama menjadi acuan dalam segala sesuatu, terutama yang akan menjadi pendamping hdiupnya, maka Nabi Saw memrintahkan mencari wanita yang komitmen terhadap agama, dan hal ini menjadai tujuan utama.58 Dalam hadis Abdullah bin Amr yang dikutip Ibnu Majah dari Nabi SAW disebutkan,
نهيدري نا نهنسح ىسعف نهنسحل ءاسنلا اوجوزتلا نىوجوزتلاو نهيغطت نا نهلاوما ىسعف نهلاومءلا
نكلو ىلع نىوجوزت
لضفا نيد تاذ ءادوس ةمءلاو نيدلا
57 Syekh Abdul Aziz Abdullah bin Baz, Terjemahan Kitab Fathul Baari Ibnu hajar Al-Asqolani, (2000).
58 Ibid,.. Hlm. 14
(janganlah kamu menikahi peempuan karena kecantikannya, barangkalikecantikan mereka akan membinasakan mereka, dan jangan menkahi mereka karena harta benda, barangkali harta benda akan membuat mereka melampaui batas tetapi nikahilah mereka karena agama.
Sesungguhnya budak perempuan yang hitam yang komitmen terhadap agama adalah lebih utama).
كادي تبرت
(engkau beruntung). Makna lain „taribat yadāka‟ adalahkedua tanganmu berdebu. Ini adalah iasan kefakiran. Ini adalah kalimat berita yang berindikasi doa, tetapi tidak dimaksudkan makan sebernya.
Inilah pendapat yang ditegaskan oleh penulis kitab Al Umdah. Ulama selainnya menabahkan bahwa doa semacam itu dari Nabi terhadap seorang muslim tidak akan dikabulkan,karena Nabi telah mempersyaratkan demikan kepada tuhan. Dalam kutipan Ibnu Al Arabi disebutkan bahwa maknanya adalah „menjadi kaya‟. Namun, kutipan ini dibantah, karena menjadi kaya adalah „atraba‟, sedangkan „ tariba‟ artinya miskin. Hanya saja dia memberi penjelasan bahwa kekayaan harta itu adalah tanah , sebab semua yang ada dibumi ini tidak lain adalah tanah, tetapi penjelasan ini sangat jauh dari yang seharusnya.
Pendapat lain mengatakan bahwa arti kalimat tersebut adalah,
"akalmu menjadi lemah." Dikatakan juga, "engkau menjadi fakir (butuh) kepada ilmu." Ada pula yang berkata, "Di dalamnya terdapat penyisipan syarat, yakni hal itu akan terjadi padamu bila engkau tidak melakukannya." Pandangan ini diunggulkan Ibnu Al Arabi. Sebagian
49
berkata, "Maknanya adalah kecewa/merugi." Lalu sebagian mereka mengubahnya menjadi „tṡariba‟. Kemudian mereka menjelaskan bahwa makna 'taribat‟ adalah terpencar. Ia sama dengan hadits
, ةلاصلا نع ىهن اذا براثءلااك سمشلا تراص
(beliau melarang shalat apabila mataharisudah sama seperti atsaarib). Atṡrāb bentuk jamak dari kata tṡarūb dan 'atṡrab', sama seperti kata 'falūs' dan 'aflas, dan maknanya adalah lemak tipis yang terpencar dan menutupi daging. Hal ini akan dijelaskan pada pembahasan tentang adab.59
Al Qurthubi berkata, "Makna hadits, keempat perkara ini merupakan faktor yang menjadikan motivasi seseorang menikahi perempuan. Ia merupakan berita tentang keadaan yang terjadi, hanya saja terdapat perintah dalam hal itu. Bahkan secara zhahir diperbolehkan menikah dengan tujuan mendapatkan hal-hal itu, tetapi menikah karena faktor agama adalah lebih utama." Dia berkata pula, "Jangan timbul dugaan bahwa hanya keempat perkara itu yang dijadikan standar kesetaraan, karena sepengetahuan saya, tidak ada seorang pun berkata demikian, meski mereka berbeda pendapat tentang hakikat kesetaraan."
Al Muhallab berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil yang membolehkan suami menikmati harta istri. Jika istri meridhainya, maka halal baginya. Jika istri tidak merestui, maka suami boleh mengambil
59 Syekh Abdul Aziz Abdullah bin Baz, Terjemahan Kitab Fathul Baari Ibnu hajar Al-Asqolani, (2000). Hlm. 15
sebesar mahar yang pernah diberikannya." Namun, hal ini ditanggapi bahwa perincian seperti ini tidak tercantum dalam hadits. Tujuan menikahi perempuan karena faktor harta tidak terbatas keinginan bersenang-senang dengan hartanya. Bahkan mungkin seseorang menikahi perempuan kaya dengan tujuan mendapatkan anak darinya, lalu harta itu kembali kepadanya melalui warisan, jika hal ini terjadi. Atau tujuannya agar istri merasa cukup dengan hartanya sehingga tidak perlu banyak menuntut.
Atau mungkin di sana ada tujuan-tujuan lain.60
Yang lebih mengherankan adalah, sikap seorang ulama madzhab Maliki yang menjadikannya dalil seorang suami boleh membekukan harta istrinya. Dia berkata, "Karena laki-laki itu menikahinya untuk mendapatkan harta. Oleh karena itu, tidak ada hak bagi istri melenyapkan hartanya dari suaminya." Bantahan bagi pernyataan ini saya kira sudah cukup jelas.
Memiliki pasangan hidup itu adalah naluri setiap manusia, tanpa tiada naluri ini mungkin bumi tidak akan berpenghuni. Sudah menjadi sunnaitulllah bahwa antara laki-laki dan wanita tersebut terdapat unsur tarik menarik dan kebutuhan ini untuk saling melengkapi. memenuhi kebutuhann saling melengkapi, maka diperlukan pasangan sah dan halal jalannya adalah melalui pernikahann.61
60 Syekh Abdul Aziz Abdullah bin Baz, Terjemahan Kitab Fathul Baari Ibnu hajar Al-Asqolani, (2000). Hlm. 16
61 Rossa Roudatul Jannah, Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Hadis Riawayat Imam Al-Bukhari dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Pranikah, Jurnal: Riset Pendidika Agama dan Islam, Vol. 1, No. 1, 2021