BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Pernikahan yang langgeng
Issacs (dalam Bastman, 1995) menjelaskan bahwa pasangan suami
isteri yang berhasil mempertahankan perkawinan mereka secara baik dan
bahagia menyatakan bahwa perkawinan mereka juga mengalami suka dan duka
seperti pernikahan pada umumnya. Hanya saja dalam menjalani hidup
perkawinan tersebut, mereka mengembangkan hal-hal berikut :
1. Komitmen
Komitmen disini merupakan niat dan itikad untuk mempertahankan
rumah tangga mereka walau apapun kuatnya masalah yang sedang dihadapi.
Istilah “pisah” atau “bercerai” merupakan perkataan mahal yang ditabukan untuk diucapkan dalam senda-gurau sekalipun.
Sternberg, 1986 (dalam Papalia dkk, 2008) menyatakan bahwa
komitmen termasuk dalam elemen cinta yang merupakan elemen kognitif.
Menurut Sternberg, komitmen merupakan keputusan untuk mencintai dan
untuk terus dicintai. Sternbeg (1986) juga menjelaskan bahwa komitmen
merupakan keputusan untuk mencintai dan bertahan dengan sang kekasih
(Papalia dkk, 2009). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Online, komitmen merupakan perjanjian (keterikatan)untuk melakukan
sesuatu; kontrak(http://kbbi.web.id/komitmen).
Dari hasil-hasil penelitian terlihat bahwa komitmen merupakan salah
satu aspek keluarga yang kuat. Komitmen tersebut mencakup kejujuran,
percaya, kebergantungan, faithfulness/ kesetiaan, dan berbagi (Setiono,
18
Austin & Vancouver (1996) dan Brickman (1987) menjelaskan bahwa
komitmen mengacu pada ketetapan hati atau tekad yang bulat, tanggung
jawab, serta kesediaan untuk tekun menghadapi rintangan dari waktu ke
waktu yang mungkin dapat mengancam tujuan yang hendak dicapai (dalam
Baumgardner & Chrothers, 2009). Selain itu, komitmen juga merupakan
pembuatan keputusan dan kemudian menindaklanjuti keputusan yang telah
diambil tersebut (Fehr,1988 dalam Baumgardner & Chrothers, 2009).
Fehr (1998) menyatakan bahwa komitmen merupakan keinginan untuk
melanjutkan hubungan ke masa depan. Penelitian menunjukkan bahwa
orang mengaitkan komitmen dengan loyalitas, kesetiaan, menghidupi
perkataan pribadi, kerja keras, dan memberikan usaha yang terbaik (dalam
Baumgardner dan Chrothers, 2009). Komitmen mungkin tidak hanya
menandakan keinginan untuk meningkatkan suatu hubungan. Pasangan
yang menikah dalam pernikahan yang tidak bahagia dapat membuat
komitmen untuk tetap bersama karena mereka percaya bahwa hal tersebut
yang terbaik bagi anak-anak mereka (dalam Baumgardner dan Chrothers,
2009).
Relasi yang dekat memerlukan adanya pengorbanan pribadi dan
kompromi dengan kepentingan pribadi untuk kebaikan suatu relasi.
Komitmen bersama membantu memastikan bahwa pasangan akan membuat
pengorbanan-pengorbanan dan kompromi-kompromi yang diperlukan untuk
mempertahankan keintiman hubungan (dalam Baumgardner & Chrothers,
19
Sari (2008) mengatakan bahwa seseorang akan tergoda untuk
meninggalkan masalah daripada menyelesaikannya disaat individu tersebut
tidak merasa terikat oleh perkawinannya. Komitmen dapat memberikan rasa
aman karena komitmen dapat membuat seseorang untuk menyelesaikan
masalahnya.
Nock, 1995 (dalam Papalia dkk, 2008) menjelaskan bahwa
ketergantungan salah satu pasangan kepada yang lain memainkan bagian
dalam komitmen terhadap perkawinan, akan tetapi faktor terkuat ialah
perasaan adanya kewajiban terhadap pasangannya.
Komitmen yang kuat tidak hanya membuat orang untuk tetap bersama
pasangannya, tetapi juga mendukung berbagai perilaku pemeliharaan
hubungan seperti kesediaan berkorban untuk kebaikan hubungan,
kecenderungan untuk melakukan akomodasi daripada membalas ketika
pasangan berperilaku buruk, memanajemen kecemburuan secara efektif, dll
( Rusbult dan Buunk, 1993).
2. Harapan-harapan realistis
Pada awal pernikahan biasanya masing-masing pihak mengharapkan
secara berlebihan mengenai tampilnya sikap dan tindakan yang ideal dari
pasangannya. Namun dalam kenyataanya, hal tersebut hampir tidak pernah
terjadi, karena biasanya masing-masing pihak pada suatu saat akan
menunjukkan beberapa sikap, tindakan, dan ucapan yang tidak disenangi
20
biasanya menerima kenyataan ini secara realistis yang didasari kesadaran,
kesediaan, dan pengalaman orang lain.
3. Keluwesan
Keluwesan disini berbicara tentang kesediaan suami dan isteri untuk
menyesuaikan diri dan meningkatkan toleransi terhadap
perbedaan-perbedaan pada pasangannya. Perbedaan-perbedaan-perbedaan tersebut yaitu dalam hal
sikap, minat, sifat, kebiasaan, serta pandangan masing-masing. Fleksibilitas
pasangan merefleksikan kemampuan pasangan untuk berubah dan
beradaptasi saat diperlukan (Lestari, 2012). Hal tersebut berkaitan dengan
tugas dan peran yang mucul dalam relasi suami istri (Lestari, 2012). Lestari
(2012) menjelaskan bahwa dalam relasi suami istri perlu adanya kejelasan
dalam pembagian peran yang menjadi tanggung jawab suami dan menjadi
tanggung jawab istri. Namun, pembagian peran tersebut sebaiknya tidak
bersifat kaku dan dapat disesuaikan melalui kesepakatan yang dibuat
bersama berdasarkan situasi yang dihadapi oleh pasangan suami istri
(Lestari, 2012).
4. Komunikasi
Komunikasi merupakan kesediaan dan keberhasilan untuk memberi dan
menerima pendapat, tanggapan, ungkapan, keinginan, saran, umpan balik
dari satu pihak kepada pihak lain secara baik tanpa menyakitkan hati salah
satu pihak.
Lestari (2012) menyatakan bahwa komunikasi merupakan aspek yang
21
hubungan pasangan. Ia menjelaskan bahwa hasil dari semua diskusi dan
pengambilan keputusan di keluarga yang mencakup keuangan, anak, karir,
agama bahkan dalam setiap pengungkapan perasaan, hasrat dan kebutuhan
akan tergantung pada gaya, pola, dan ketrampilan berkomunikasi.
Keterampilan berkomunikasi dapat berupa kecermatan memilih kata
yang digunakan dalam menyampaikan gagasan pada pasangan (Lestari,
2012). Pemilihan kata yang kurang tepat dapat menimbulkan kesalahan
persepsi pada pasanganyang diajak berbicara. Lestari (2012) menyatakan
bahwa penekanan atau intonasi yang berbeda pada kata dapat menimbulkan
respon perasaan yang berbeda pada pasangan. Ia menjelaskan bahwa hal
tersebut berkaitan dengan kesediaan dan kemampuan mengungkapkan diri
(self-disclosure). Pengungkapan diri adalah menyampaikan informasi
pribadi (dapat berupa gagasan dan pemikiran, impian dan harapan, maupun
perasaan positif dan negatif) yang mendalam, atau segala hal yang
kemungkinan orang lain tidak mengerti bila tidak diberitahu (Lestari, 2012).
5. Silang sengketa dan kompromi
Sengketa adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam hidup
perkawinan. Maka, masing-masing pihak perlu mempelajari “seni bersengketa” secara baik. Misalnya, menghindari kata-kata yang menyinggung keluarga, keyakinan, kebiasaan, profesi, latar belakang sosial,
harga diri pihak lain, serta saling menyalahkan dan menyudutkan
pasangannya. “seni bersengketa” juga tentang menemukan cara-cara efektif untuk mencapai kesepakatan dan meredakan kemarahan.
22 6. Menyisihkan waktu untuk berduaan
Menyisihkan waktu untuk berdua bukanlah hal yang mudah dengan
adanya kehadiran anak-anak. Pada pasangan dengan pernikahan yang awet,
ternyata mereka dengan sengaja mengatur dan menyisihkan waktu untuk
berdua tanpa hadirnya anak-anak. Sebaliknya, biasanya anak-anak pun tahu
diri untuk tidak mengganggu pada saat orang tua mereka berduaan.
Pemanfaatan waktu luang menjadi sarana untuk melakukan aktivitas
jeda (time out) dari rutinitas, baik rutinitas kerja maupun rutinitas pekerjaan
rumah tangga (Lestari, 2012). Rutinitas, terutama dengan tingkat stress yang
tinggi, biasanya akan menimbulkan kejenuhan yang dapat menyebabkan
berkembangnya emosi negatif (Lestari, 2012). Pemanfaatan waktu luang ini
berguna untuk memberikan energi dan semangat yang baru (Lestari,2012).
7. Hubungan seks
Pada pasangan dengan pernikahan yang awet, ternyata hubungan seks
tetap dilakukan dan dipertahankan dengan kesadaran bahwa hal itu
merupakan salah satu bentuk komunikasi dan kebersamaan yang paling
intim. Beberapa pasangan menyatakan bahwa mandirinya anak-anak dan
telah keluarnya mereka dari rumah orang tua, maka hasrat alamiah ini justru
meningkat.
8. Kemampuan untuk menghadapi berbagai kesulitan
Saat terjadi kesulitan dan masalah-masalah yang melanda rumah
23
saling berbagi duka. Menurut mereka, hal ini menyebabkan hubungan
mereka semakin erat.
Menurut Issacs, hal-hal di atas merupakan pedoman bagi pasangan
suami dalam mempertahankan dan membina perkawinan mereka. Upaya
sadar untuk merealisasikannya adalah hal yang paling penting (Bastman,
1995).
Prevention and Relationship Enhanchement Program menjelaskan
bahwa terdapat empat hal dalam great marriage atau pernikahan yang
berlangsung lama dan mendalam. Empat hal tesebut yaitu :
1. Berbagi pertemanan (friendship) dan cinta, dengan pelbagai cara.
Kegairahan bercinta memang merupakan hal yang bagus. Namun
pertemanan akan sama manfaatnya bahkan lebih, dalam
mempertahankan pernikahan. Pertemanan akan membuat cinta lebih
kokoh.
2. Memperlakukan pasangan dengan baik dan hormat.
Banyak orang disaat sedang marah, kecewa, atau frustasi
melampiaskan amarahnya kepada orang terdekatnya. Penelitian
menunjukkan bahwa pasangan yang membenci satu sama lain akan
menghadapi problem serius. Dengan demikian, saat terjadi konflik
tidak harus bereaksi marah atau tidak menghargai pasangan. Apabila
24
3. Kedua pasangan melakukan bagiannya masing-masing.
Pasangan perlu mengetahui dan melaksanakan bagiannya
masing-masing. Pasangan perlu berupaya untuk memiliki pikiran yang
konstruktif agar tidak menghalangi kerjasama.jika salah satu pihak
mengidentifikasi tingkah laku buruk pada pasangannya, maka orang
tersebut juga perlu mengidentifikasi perilaku buruk yang ada pada
dirinya sendiri. Salah satu yang perlu diingat yaitu bahwa satu bagian
dari mencintai dengan baik adalah menerima pasangan sebagaimana
adanya.
4. Pasangan mempunyai komitmen untuk tetap bersama.
Pasangan yang mempunyai komitmen untuk jangka panjang akan
berpikir dan bertindak dalam rangka cinta yang panjang. Mereka
mempunyai komitmen, memiliki rasa permanen, dan bersasma-sama
memecahkan masalah yang dihadapi.
(Setiono, 2011)
Selain itu, Lestari (2012) menyatakan bahwa kunci bagi
kelanggengan perkawinan adalah keberhasilan melakukan penyesuaian
diantara pasangan. Ia menjelaskan bahwa penyesuaian ini bersifat dinamis
dan memerlukan sikap dan cara berpikir yang luwes. Penyesuaian adalah
interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
25
Glenn, 2003 (dalam Lestari, 2012) menyatakan bahwa terdapat tiga
indikator bagi proses penyesuaian, yaitu :
1. Konflik
Glenn (2003) menjelaskan bahwa keberhasilan penyesuaian dalam
perkawinan tidak ditandai dengan tiadanya konflik yang terjadi.
Penyesuaian yang berhasil ditandai oleh sikap dan cara yang
konstruktif dalam melakukan resolusi konflik.
Wehr menjelaskan bahwa konflik merupakan suatu konsekuensi
dari komunikasi yang buruk, salah pengertian, salah perhitungan, dan
proses-proses lain yang tidak disadari. Konflik memang mengganggu,
namun gangguan tersebut dapat membawa keuntungan yang besar
yaitu dapat menjelaskan hal yang sebelumnya tersamar dan
terselubung (Chandra, 1992).
Pada umumnya, upaya untuk menyelesaikan konflik selalu
berakhir dengan 3 asumsi berikut :
a. Kalah-Kalah : setiap orang yang terlibat dalam konflik akan
kehilangan tuntutannya jika konflik terus berlanjut.
b. Kalah-Menang : salah satu pihak pasti kalah karena dia kehilangan
tuntutannya, dan pihak lain pasti menang. Indikasi selanjutnya adalah
jika pihak yang kalah kurang menerima keputusan dengan sepenuh hati,
maka di kemudian hari akan timbul konflik baru.
c. Menang-Menang : dua pihak menang. Ini terjadi jika dua pihak
26
pihak. Jika dua pihak menerima keputusan dengan lapang dada, maka
akan mencegah timbulnya konflik yang bersumber dari masalah yang
sama. (Liliweri, 2005)
Selain itu, terdapat beberapa metode penyelesaian konflik,
diantaranya adalah :
a. Persaingan (I win, you lose)
Persaingan merupakan keinginan memuaskan diri sendiri dan
membiarkan orang lain bersaing mendapatkan subjek konflik.
b. Kolaborasi (I win, you win)
Kolaborasi yaitu dua pihak memutuskan saling mengutamakan, tanpa
merugikan masing-masing.
c. Penolakan (both lose all)
Penolakan adalah dua pihak menarik diri atau menghindari subjek
konflik.
d. Akomodasi (I lose, you win)
Akomodasi yaitu satu pihak mengalah dan membiarkan pihak lain
mendapat apa yang diinginkan.
e. Kompromi (both win some, lose some)
Kompromi merupaka situasi dimana setiap pihak bersedia memberikan
sesuatu untuk menghindari konflik. (Liliweri, 2005)
Lestari (2012) menyatakan bahwa resolusi konflik yang konstruktif
dapat dilakukan dengan : (a) menentukan pokok permasalahan; (b)
27
muncul; (c) mendiskusikan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah;
dan (d) menentukan dan menghargai peran masing-masing terhadap
penyelesaian masalah.
Sillars dan Weisberg (1987) menunjukkan bahwa konflik dapat
merupakan proses yang sangat kompleks dan beberapa konflik tidak dapat
diselesaikan bahkan dengan teknik komunikasi sebaik apapun. Sillars dan
Weisberg, 1987 (dalam Budyatna & Ganiem, 2011) menganjurkan hal-hal
berikut untuk dilakukan, yaitu :
a. Memahami konflik yang tak terselesaikan
Memahami konflik bisa dilakukan dengan menganalisis perilaku
diri sendiri. Seperti: “Apa yang salah? Apakah satu atau lebih dari kita menjadi bersaing? Apakah saya telah menggunakan cara yang tidak
tepat untuk situasi tersebut? Apakah kepentingan pribadi saya terlalu
besar?” Dengan menganalisis perilaku diri, individu menjadi lebih sadar bagaimana dapat melanjutkan untuk meningkatkan kemampuan diri
dalam mengelola konflik dan lebih sadar bagaimana menangani
wilayah-wilayah yang tidak cocok dalam suatu hubungan.
b. Memaafkan
Merupakan hal yang penting memaafkan pihak dengan siapa
seseorang terlibat konflik, terutama jika yang bersangkutan adalah
seseorang yang sebagian besar adalah bagian hidup kita. Perbuatan
memaafkan terdiri dari menghilangkan perasaan dendam dan keinginan
28
bagi rekonsiliasi, melalui mana seseorang dapat membangun kembali
kepercayaan dalam hubungan dan usaha menuju pemulihan.
Lulofs & Cahn (2000) menjelaskan bahwa perbuatan memaafkan
merupakan proses dimana seseorang meninggalkan perasaan dendam
dan keinginan untuk melakukan pembalasan terhadap orang lain.
Dengan beberapa kekecualian, perbuatan memaafkan tidak sama
dengan melupakan apa yang telah terjadi. Begitu pula perbuatan
memaafkan tidak sama dengan pemulihan dengan segera mengenai
kepercayaan. Perbuatan memaafkan secara umum dipahami sebagai
sebuah proses melalui mana manusia meneruskan dengan kehidupan
mereka setelah mengalami perasaan yang menyakitkan (Verderber et
al., 2007 dalam Budyatna & Ganiem, 2011).
2. Komunikasi
Komunikasi berperan penting dalam segala spek kehidupan
perkawinan. Peran terpenting komunikasi adalah untuk membangun
kedekatan dan keintiman dengan pasangan. Bila kedekatan dan
keintiman pasangan dapat senantiasa terjaga, maka hal tersebut
menandakan bahwa proses penyesuaian keduanya telah berlangsung
dengan baik. (Lestari, 2012)
3. Berbagi tugas rumah tangga
Dalam konsep perkawinan yang tradisional terdapat pembagian
tugas dan peran suami istri. Istri bertugas dalam hal urusan rumah
29
ini banyak pasangan yang keduanya sama-sama bekerja. Hal ini
semakin mengaburkan pembagian tugas tradisional tersebut.
Kenyataan terus meningkatnya kecenderungan pasangan yang
sama-sama bekerja membutuhkan keluwesan dalam pembagian tugas rumah
tangga. Selain itu, kesadaran tentang pentingnya peran ayah dan ibu
dalam perkembangan anak juga mendorong keterlibatan pasangan
untuk bersama-sama dalam pengasuhan anak. Keberhasilan
membangun kebersamaan dalam pelaksanaan kewajiban keluarga
menjadi salah satu indikasi bagi keberhasilan penyesuaian.
Menurut Bramlett & Mosher, 2002 (dalam Papalia, 2008),
orang-orang yang taat beragama berkecenderungan lebih rendah mengalami
kegagalan pernikahan. Religiusitas mengandung arti ikatan yang harus
dipegang, dipatuhi dan diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan
manusia. Aktivitas beragama bukan hanya saat menjalankan perilaku ritual
(beribadah), tetapi juga saat melakukan aktivitas lain yang didorong oleh
kekuatan supranatural. Selain itu juga bukan hanya mengenai akitivitas
yang tampak oleh mata melainkan juga aktivitas yang tidak tampak dan
terjadi di dalam hati seseorang (Ancok dan Suroso, 2008 dalam Istiqomah,
2015).
Hawari, 1997 (dalam Istiqomah, 2015) menyatakan bahwa
perkawinan yang didasarkan pada ibadah dapat menjaga keselamatan
30
serta keluarga yang tidak mempunyai komitmen agama memiliki resiko
terjadinya perpisahan maupun perceraian.
Menurut Olson & Olson (2000), keyakinan spiritual dapat
mendasari nilai-nilai dan perilaku individu dan pasangan. Keyakinan
spiritual mengacu pada relasi yang terjalin setiap orang dengan Tuhan,
sesama, dan diri sendiri. Olson & Olson (2000) menyatakan bahwa meski
spiritualitas merupakan urusan pribadi, namun berbagi iman keagamaan
dengan pasangan dapat memperkuat pernikahan.
Mahoney et al, 1999 (dalam Olson & Olson, 2000) menemukan
bahwa pasangan yang mengintegrasikan agama dalam pernikahan mereka
memiliki konflik pernikahan yang lebih sedikit dan merasakan manfaat
yang lebih banyak dari pernikahan. Olson & Olson (2000) menyatakan
bahwa keyakinan yang dimiliki dapat membimbing tindakan sehari-hari
yang berkaitan dengan moralitas, integritas, relasi, cinta, keuangan dan
sebagainya. Selain itu, berbagi hubungan spiritual dapat menjadi dasar
untuk bertumbuhnya relasi dalam pernikahan, bahkan meski mereka
memiliki pandangan agama yang berbeda merka masih dapat memiliki
komitmen. Olson & Olson (2000) juga menyatakan bahwa iman dan doa
dapat menjadi senjata yang ampuh saat seseorang mengalami krisis
emosional.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat
beberapa sikap dan perilaku yang dikembangkan untuk membuat
31 1. Adanya alasan pernikahan
2. Tujuan pernikahan
3. Adanya komitmen
4. Harapan-harapan realistis
5. Keluwesan
6. Komunikasi
7. Silang sengketa dan kompromi
8. Menyisihkan waktu untuk berduaan
9. Hubungan seks
10.Kemampuan menghadapi berbagai kesulitan.
11.Berbagi pertemanan dan cinta dengan pelbagai cara
12.Memperlakukan pasangan dengan baik dan hormat
13.Kedua pasangan saling melakukan bagiannya masing-masing
14.Penyesuaian diantara pasangan
15.Religiusitas