BAB I PENDAHULUAN
G. Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan skripsi ini peneliti akan menyusun pembahasan menjadi beberapa bagian untuk memudahkan dalam memahami isi skripsi ini, dari sistematika penulisan terbagi menjadi lima bab sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan. Pada bab ini peneliti berusaha memaparkan permasalahan yang melatarbelakangi penulisan dengan pembagian pembahasan seperti rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, sistematika penulisan yang memiliki tujuan mengenai penelitian Strategi Marketing Politik Anggota Legislatif Pada Pemilu Legislatif 2014: Studi Atas Hendrik Tangke Allo, S.Sos Caleg PDI Perjuangan Dalam Pemilihan Anggota DPRD Periode 2014-2019 Di Kota Depok melalui pendekatan teori komunikasi politik dan marketing politik sebagai pendekatan yang menjelaskan pokok permasalahan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.
Bab II Kajian Teoretis. Pada bab ini berisi mengenai teori-teori sebagai pendekatan yang menjelaskan pokok permasalahan penelitian ini dengan menggunakan teori komunikasi politik dan marketing politik. Teori ini akan menjawab penelitian yang berjudul Strategi Marketing Politik Anggota Legislatif Pada Pemilu Legislatif 2014: Studi Atas Hendrik Tangke Allo, S.Sos Caleg PDI
17 Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2007), h. 104-106.
18
Perjuangan Dalam Pemilihan Anggota DPRD Periode 2014-2019 Di Kota Depok yang sudah dipaparkan dalam Bab I pendahuluan.
Bab III gambaran umum. Pada bab ini peneliti akan membahas tentang biografi dan profil tokoh Hendrik Tangke Allo dengan menjelaskan visi misi dan program saat pemilihan anggota DPRD periode 2014-2019 di Kota Depok
Bab IV temuan dan analisis. Pada bab ini membahas tentang isi penelitian secara umum dengan data-data yang telah dikumpukan oleh peneliti dan menganalisis data yang sudah diperoleh mengenai strategi marketing politik Hendrik Tangke Allo dalam pemilihan anggota DPRD periode 2014-2019 di Kota Depok menggunakan teori yang telah dijabarkan pada bab dua.
Bab V penutup. Bab sebagai penutup dan peneliti akan memaparkan kesimpulan, saran, dan rekomendasi untuk penelitian yang akan datang, sekaligus menjadi penutup pada permasalahan Strategi Marketing Politik Hendrik Tangke Allo dalam pemilihan anggota DPRD periode 2014-2019 di Kota Depok.
19 BAB II
KERANGKA TEORETIS DAN KONSEPTUAL
Peneliti mencoba memaparkan beberapa teori yang dianggap tepat untuk menjelaskan konseptualisasi strategi dan marketing politik yang berkaitan dengan penelitian Strategi Marketing Politik Hendrik Tangke Allo dalam Pemilihan Anggota DPRD Periode 2014-2019 di Kota Depok agar menjadi sebuah analisa yang tepat sesuai data yang ditemukan. Peneliti akan menggunakan teori 9 model elemen marketing politik yang dikemukakan oleh Adman Nursal, yaitu: Pass Marketing, Push Marketing, Pull Marketing, Positioning, Person, Policy, Party, Polling, Presentation untuk mengetahui strategi marketing politik Hendrik Tangke Allo dalam memenangkan pemilu legislatif 2014 di Kota Depok.
A. Konseptualisasi Strategi
Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia yang diartikan sebagai sebuah seni sebuah pemimpin atau panglima yang digunakan dalam peperangan, atau biasa disebut “the art of the general. Dalam pengertian umum, strategi merupakan cara untuk mendapatkan sebuah pencapaian tujuan dan kemenangan18. Pada masa awal industrialisasi, makna strategi hanya sebatas militer atau peperangan, hingga akhirnya strategi diperlukan dalam bidang ekonomi. Sejak saat itu makna strategi meluas diberbagai aspek kehidupan, terutama pada bidang politik19.
18 S. Sumarsono, Pendidikan Kewarganegaraan (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2006), h. 139.
19 Peter Schroder, Strategi Politik (Jerman: Nomos, Baden-Baden, 2000), h. 5.
20
Menurut Peter Schroder, strategi politik adalah strategi yang digunakan untuk merealisasikan keinginan atau cita-cita politik dengan tujuan yaitu untuk mencapai sebuah kemenangan. Kemenangan dapat berupa memperoleh suara terbanyak dalam pemilu atau memperoleh suara terbanyak dalam pemberlakuan suatu kebijakan20.
Strategi kampanye untuk memperoleh kekuasaan seringkali dipandang sebagai hal yang buruk, bahkan oleh partai politik sendiri. Tetapi jelas bahwa tanpa adanya kekuasaan yang dimiliki oleh politisi atau partai sendiri, maka konsep politik pihak lainlah yang akan diterapkan. Lazim apabila politisi atau partai politik akan menganggap bahwa konsep yang dibuat oleh pihak lain itu tidak lebih baik daripada konsep yang mereka buat sendiri21.
Dalam konteks politik, strategi sangat diperlukan dalam komunkasi politik untuk memenangkan pemilu. Para kontestan politik akan menarik perhatian masyarakat dengan cara menyesuaikan karakteristik masyarakat tersebut. Dengan kata lain, kontestan politik akan berusaha memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat dengan melakukan pendekatan ideologi agar dapat menarik pemilih untuk memilih kontestan politik tersebut saat di bilik suara22.
B. Konseptualisasi Marketing Politik
Istilah marketing biasa diterapkan dalam disiplin ilmu yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Dalam hal ini produsen akan memperkenalkan produk kepada konsumen dan berusaha membuat barang atau jasa yang dijual akan terlihat menarik dan berkualitas dibandingkan dengan pesaing yang lain dan meyakinkan
20 Philippe J. Maarek, Campign Communication and Political Marketing ( London: Wiley Blackwell, 2003) h. 29
21 Philippe J. Maarek, Campign Communication and Political Marketing, h 30
22 Firmanzah, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012), h.109
21
masyarakat23. Menurut Adman Nursal, marketing merupakan cara perusahaan atau organisasi dalam melakukan sebuah bisnis dengan tujuan untuk mencapai kepuasan konsumen. Dalam dunia bisnis, produsen memiliki kesempatan yang sama dalam memasarkan sebuah produk dan konsumen bebas untuk menentukan pilihannya24. Sedangkan politik adalah sebuah usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik dengan berbagai macam cara25.
Dalam konteks politik, marketing politik adalah penyebarluasan informasi mengenai program kerja, kandidat atau partai politik oleh komunikator politik melalui saluran komunikasi tertentu, tujuannnya adalah untuk merubah dan meyakinkan masyarakat atau calon pemilih sesuai dengan kemauan pemberi informasi26. Dalam konteks ekonomi, marketing politik berhubungan dengan keuntungan pribadi dan kepuasan konsumen karena bahwasannya marketing dalam ekonomi lebih kepada cara pemasaran produk.
Konsep marketing politik diperkenalkan dari penyebaran paham sosial pada bidang pembangunan dengan menggunakan cara pemasaran komersil27. Seiring berkembangnya zaman, politik dituntut melakukan sebuah strategi marketing politik terutama di negara yang menerapkan demokrasi. Marketing politik dapat membatu institusi politik untuk membawa sebuah produk kepada masyarakat dalam
23 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h. 128
24Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, Sebuah Pendekatanj Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPRD, Presiden (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 4
25 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), h.
14
26 Hafied Changara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h. 277
27 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h. 158.
22
bentuk memberikan produk politik dan meyakinkan masyarakat jika produk politik tersebut lebih baik dibandingkan dengan pesaing yang lain.
Menurut Philippe J. Maarek marketing politik merupakan pembuatan prinsip pemasaran dalam kampanye politik yang terdiri dari prosedur-prosedur, individu, organisasi, yang menyertakan analisa, pengembangan, serta strategi manajemen kampanye oleh aktor-aktor yang ingin mengarahkan opini publik terhadap ideologi mereka. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Philip J. Maarek, marketing politik merupakan sebuah cara komunikasi politik yang umum digunakan sebagai sarana dalam memperoleh tujuan komunikasi politik28.
Sementara menurut O’Cass berpendapat bahwa marketing politik merupakan sebuah teknik marketing dalam sebuah partai politik yang bertujuan untuk mempengaruhi pemilih untuk menghasilkan keputusan politik dengan menggunakan analisis pasar, implementasi, perencanaan, dan kontrol terhadap proses kampanye politik. Selain itu menurut menurut O’Cass teknik-teknik marketing politik dapat meningkatkan kemampuan kontestan politik untuk mempengaruhi para pemilih29. Dari beberapa pengertian, dapat disimpulkan bahwa marketing politik pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menggunakan teknik pemasaran komersial dalam bentuk politik. Dalam kegiatan tersebut kontestan politik akan berusaha mendapatkan suara dari para pemilih untuk memenangkan sebuah kontestasi politik dan memperoleh kekuasaan.
28 Philippe J. Maarek, Campign Communication and Political Marketing ( London: Wiley Blackwell, 2003) h. 2
29 Jennifer Less-Marshment, Marketing Politics: Prinsiples and Application (London: Routledge Publication, 2009), h. 693.
23
Marketing politik bertujuan untuk membantu kontestan politik untuk mengenali target masyarakat yang akan ditujukan untuk menyebarkan program kerja dan isu politik sesuai dengan aspirasi masyarakat agar menciptakan keefektifitasan dalam berkomunikasi30. Adanya marketing politik dapat membuat seorang politikus lebih dekat dengan masyarakat serta membangun citra yang baik agar dapat menarik hati pemilih.
Ilmu marketing politik merupakan sebuah bidang ilmu yang baru berkembang pada tahun 1990an yang bermula dari Amerika Serikat dan meluas di Inggris. Ilmu marketing politik muncul dari beberapa ilmuan yang berkontribusi dalam melahirkan kajian ini, salah satu ilmuan yang mepopulerkan kajian ini yaitu Nicholas J.O’Shaughnessy. Sejak tahun 2007 O’Shughnessy menjabat sebagai profesor di bidang Ilmu Marketing di Queen Mary, University of London31.
Perkembangan markating politik sebagai bidang kajian akademik maupun praktek sangat terkait dengan kecenderungan menguatnya persaingan parpol dan kandidat dalam arena pemilihan umum yang berbasis sistem pemilu langsung.
Dalam arena pemilu yang seperti ini, para kandidat dan parpol, masing-masing berusaha mendapatkan dukungan sumber daya politik dan legitimasi politiknya.
Marketing politik sebagai bidang ilmu berkembang seiring perkembangan aena pasar politik (political market place) ketika pemilu berlangsung. Lima arena pasar politik tersebut yaitu media, pemilih, donatur politik, organisasi partai dan kelompok penekan, aktivis politik dan konstituen32.
Pemilihan presiden tahun 1952 menandai dimulainya pemasaran politik modern di Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya, kedua partai utama yaitu Partai Demokrat dan Partai Republik menyediakan anggaran khusus untuk komunikasi
30 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h. 158.
31 Nyarwi Ahmad, Manajemen Komunikasi dan Marketing Politik (Yogyakarta: Pustaka Zaman, 2012), h. 333-334.
32 Nyarwi Ahmad, Manajemen Komunikasi dan Marketing Politik, h.336
24
politik. Partai Republik selangkah lebih maju dalam mendukung pencalonan Eisenhower dengan meminta jasa perusahaan hubungan masyarakat BBDO (Batten, Barton, Durstin, dan Osborne) 33. Konsep marketing politik berkembang kembali ketika Bill Clinton menghadapi persaingan menjadi Presiden Amerika.
Saat itu, televisi memegang peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan komersil kepada pasar pada tahun 1980-an. Di Indonesia, perkembangan marketing politik dibangun oleh beberapa faktor seperti, sistem multipartai yang membuat siapapun bebas mendirikan partai politik yang mengakibatkan persaingan merebutkan suara semakin tajam, pemilih bebas menentukan pilihannya, kebebasan partai dalam menentukan ideologi, para elit politik akan berusaha mengambil bagian dengan orang yang berkepentingan34.
Kontestan politik harus dapat melakukan kampanye guna untuk menarik perhatian para pemilih agar kontestan politik tersebut dapat meraih suara terbanyak saat pemilihan umum. Konsep yang digunakan untuk meraih suara para pemilih yaitu menggunakan konsep 9P yang dikemukakan oleh Adman Nursal di antaranya, positioning, polling, policy, person, party, presentation, pass marketing, push marketing, dan pull marketing.
B.1 Push Marketing
Push marketing adalah sebuah usaha marketing agar kampanye dan program kerja yang ditawarkan oleh kontestan politik dapat menyentuh para pemilih secara
33 Philippe J. Maarek, Campign Communication and Political Marketing ( London: Wiley Blackwell, 2003) h. 11
34 Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 9
25
langsung. Strategi sentuhan langsung tersebut memungkinkan para pemilih ikut terlibat langsung dalam produk politik tersebut35. Kontestan politik akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada masyarakat agar memilih dan datang ke bilik suara untuk mencoblos kontestan tersebut. Pendekatan tersebut dapat digunakan oleh kontestan politik dengan memberikan alasan yang rasional kepada para pemilih agar bersedia mendukung kontestan politik tersebut36. Strategi sentuhan langsung dengan para pemilih tersebut memungkinkan para pemilih ikut terlibat langsung dalam kampanye politik tersebut. Para pemilih akan merasa diakui oleh kontestan politik tersebut dan secara tidak sadar akan melakukan sebuah promosi atau kampanye kepada orang-orang sekitarnya37. Hal tersebut secara langsung akan membangun citra politik kontestan politik tersebut.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya push marketing merupakan sebuah strategi kampanye dengan melakukan pertemuan langsung atau tatap muka dengan para pemilih yang tujuannya agar calon pemilih tersebut berkenan mendukung kontestan politik yang bersangkutan. Strategi tersebut dapat dikatakan sebagai blusukan dengan tujuan agar kedekatan kontestan politik dengan para pemilih semakin dekat.
B.2 Pass marketing
Pass marketing merupakan sebuah strategi marketing politik yang melibatkan seorang atau kelompok yang berpengaruh (influencer) bagi para pemilih. Influencer
35 Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemil, h.259.
36 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h. 217
37 Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 260
26
tersebut dapat berupa tokoh-tokoh, organisasi sosial dan massa yang sangat bepengaruh bagi para pemilih. Para influencer tersebut akan mempengaruhi opini dan meyakinkan para pemilih untuk memilih serta mendukung kontestan politik yang bersangkutan38.
Strategi pass marketing dilakukan kontestan politik untuk menjalin hubungan dengan para influencer. Strategi ini akan sukses dilakukan jika dilakukan dengan seorang atau sekelompok yang paling tepat dalam mengumpulkan massa yang dapat dipengaruhi opininya oleh influencer tersebut. Penggunaan influencer merupakan strategi yang memiliki manfaat yang besar karena tersebut dapat melanjutkan pesan yang disampaikan oleh kontestan politik kepada khalayak.
B.3 Pull marketing
Strategi pull marketing menggunakan media sebagai pembentukan popularitas kontestan politik. Kontestan politik harus membangun image yang baik agar para pemilih dapat menentukan pilihannya sesuai dengan yang diharapkan. Media diharuskan menjaga kampanye dan program kerja kontestan dengan melakukan pesan yang berkesan kedalam benak masyarakat. Strategi tersebut harus berisikan segala penanganan permasalahan yang dihadapi oleh khalayak39.
Strategi kampanye menggunakan pull marketing merupakan suatu hal yang menarik dalam kontestasi pemilihan umum. Kontestan harus memperhatikan image dirinya untuk meyakinkan kepada para pemilih bahwa produk politiknya lebih sejalan dengan keinginan para pemilih. Kampanye perlu dikemas secara terstruktur
38 Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h.263
39 Adman Nursal, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h.242
27
disertai waktu yang tepat serta pesan yang terus menerus diulang. Pengulangan pesan tersebut dapat membuat khalayak tidak mudah melupakan pesan politik yang disampaikan. Media yang dapat digunakan dalam strategi pull marketing yaitu;
internet, pamflet, baliho, dan spanduk.
B.4 Positioning
Positioning merupakan langkah penting bagi kandidat politik dalam melakukan marketing politik. Positioning merupakan pembentukan sebuah image agar kandidat terlihat unggul dibandingkan dengan para pesaingnya dan para pemilih dapat membedakan suatu kandidat dengan kandidat politik lainnya40. Positioning merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam melakukan pemasaran. Cara kerja positioning yaitu dengan memasuki pikiran para pemilih agar sebuah kandidat memiliki karakteristik tertentu beserta keunggulannya. Dalam pembentukan positioning, kandidat akan berusaha mendapatkan simpati dari para pemilih dengan cara melakukan penawaran politik kepada para pemilih yang menjadi sasaran sebuah kontestan pemilu41.
B.5 Person (Figur)
Di dalam sebuah pemilu, pembentukan person sangat menentukan sebuah keputusan pilihan. Person atau figur akan dilihat oleh masyarakat berupa kemampuan pemecahan masalah, menyusun rencana, pengorganisasian, ahli dalam bidang tertentu, dan pesona fisik seorang kandidat42. Pada penilaian masyarakat
40 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h 215
41 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 142
42 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 209
28
tersebut, seorang kandidat akan menunjukan person yang dimilikinya sebaik mungkin dibandingkan dengan pesaingnya.
B.6 Party (Partai)
Dalam sebuah marketing politik, partai merupakan sebuah produk politik. Partai dapat membentuk makna politik melalui atribut partai, seperti latar belakang partai dan ideologi partai. Tanpa adanya partai, sangat sulit seorang kandidat politik dapat memenangkan pemilu. Banyak masyarakat yang memilih hanya karena berdasarkan faktor partai, tanpa memikirkan kebijakan yang dibuat serta kandidat yang akan dicalonkan43. Selain itu masyarakat akan memilih berdasarkan partai atau kandidat mana yang akan mewakili suaranya. Seorang kandidat, partai poitik beserta ideologinya merupakan identitas sebuah institusi politik yang akan berpengaruh pada loyalitas pemilih44.
B.7 Presentation (Presentasi)
Presentation adalah memberikan informasi produk politik yang dilakukan oleh kandidat dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan politik dengan menggunakan media dan simbol tertentu. Penggunaan sebuah simbol dalam melakukan presentasi bertujuan untuk menarik perhatian para pemilih dalam menyampaikan substansi sebuah produk45. Dalam melakukan sebuah presentasi di depan khalayak, para kandidat politik hendaknya melakukan pidato atau retrorika yang mengedepankan
43 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 216
44 Firmanzah, Marketing Politik : Antara Pemahaman dan Realitas, h 201
45 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 219
29
substansi dan efektivitas pidato berupa nada, perkataan, pengucapan, dan bahasa tubuh yang menarik perhatian para pemilih.
B.8 Policy (Kebijakan)
Policy dalam marketing politik merupakan sebuah kebijakan yang belum terrealisasikan dan ditawarkan oleh kandidat politik yang tujuannya yaitu membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Policy yang ditawarkan kandidat dapat berupa aspek ekonomi, hukum, politik, pendidikan, budaya sosial, dan sebagainya46. Policy menjadi sebuah keunggulan dalam melakukan kampanye politik walaupun keunggulan policy tidak selalu menjadi faktor utama dalam perolehan suara terbanyak.
Kepercayaan pemilih merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh para kandidat politik dalam menawarkan policy dikarenakan banyak kebijakan yang ditawarkan oleh pemilih sehingga mengurangi rasa kepercayaan dalam kebijakan yang ditawarkan.
B.9 Polling (Survey)
Pada marketing politik, polling dapat berupa riset atau survey yang memiliki tujuan untuk mengetahui keinginan masyarakat, sejauh mana penyebaran kampanye, apa yang harus diubah ataupun diteruskan. Proses marketing politik akan berjalan sesuai sasaran jika menggunakan polling dan aktivitas riset lainnya.
Tanpa adanya polling, kandidat politik sulit mengetahui arah yang akan dituju47.
46 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 194
47 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 298
30
Konsep strategi marketing dalam dunia bisnis dengan politik memiliki persamaan dan perbedaan dalam penerapannya. Strategi marketing yang dalam arti umum memiliki persamaan untuk mendapatkan sebuah keuntungan, akan tetapi memiliki sebuah perbedaan dalam penerapannya. Marketing pada konteks ekonomi merupakan cara memasarkan produk berupa barang, sedangkan dalam konteks politik marketing menggunakan objek kontestan politik untuk mendapatkan suara dari para pemilih.
Pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis Strategi Marketing Politik Hendrik Tangke Allo Dalam Memenangkan Pemilihan Anggota Legislatif 2014-2019 Di Kota Depok dengan menggunakan Pass Marketing, Push Marketing, Pull Marketing, Positioning, Person, Policy, Party, Polling, Presentation. Tujuan menggunakan teori dan konsep tersebut adalah untuk mengetahui strategi kemenangan, dukungan, dan hambatan Hendrik Tangke Allo pada pemilu legislatif 2014 dengan menyertakan data yang ditemukan dilapangan sebagai penunjang penelitian yang dilakukan peneliti.
31 BAB III
GAMBARAN UMUM
Dalam bab ini peneliti akan memaparkan tentang profil Hendrik Tangke Allo yang merupakan subjek penelitian ini. Hendrik Tangke Allo yang merupakan legislatif pendatang baru ini berhasil memenangkan kontestasi pemilu legislatif Kota Depok 2014. Pada bab ini akan menjelaskan mengenai gambaran umum Kota Depok dan gambaran umum pemilu Kota Depok 2014.
A. Profil Hendrik Tangke Allo
Hendrik Tangke Allo atau biasa dipanggil bung Hendrik atau Hendrik Tangke Allo merupakan seorang politikus kelahiran Makale, Tana Toraja 4 Maret 1975.
Pada tahun 2014 Hendrik Tangke Allo merupakan calon legislatif pendatang baru yang menempati kursi ketua DPRD Kota Depok periode 2014-2019. Jika melihat rekam jejak Hendrik Tangke Allo, pria mantan pengusaha ini tergolong aktif dalam perpolitikan. Selain menjadi politikus saat ini Hendrik Tangke Allo juga aktif dalam kegiatan sosial dan dipercaya duduk sebagai Ketua DPC Gerakan Anti Narkotika (Granat) Kota Depok48. Hendrik Tangke Allo merupakan salah satu politisi yang lahir dari proses pengkaderan panjang di partainya. Keterlibatannya dalam dunia politik dimulai sejak 2010. Sebelum menjabat sebagai ketua DPRD Kota Depok, suami dari Chico Jinny Tholenso ini kerab menduduki posisi-posisi strategis
48 Program Data KPU Kota Depok, “Daftar Riwayat Hidup Calon Anggota DPRD Kota”, Data ini diakses pada 8 November 2018 di https://programdatakpukotadepok.files.com/
32
terutama sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Depok periode 2010-2015 dan periode 2015-202049.
Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan, Hendrik Tangke Allo sangat menekankan pancasila. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil riset dari Lingkaran Survey Indonesia (LSI), dalam masa kampanyenya ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok tersebut menegaskan bahwa partainya paling konsisten dalam memperjuangkan pancasila. Hendrik Tangke Allo juga menyerukan kepada seluruh relawan dan Kader PDI Perjuangan untuk selalu melakukan poitik damai agar terciptanya pesta demokrasi yang kondusif di Depok50.
Hendrik Tangke Allo merupakan sosok yang bersahaja, hal itu ditunjukannya dengan keramahannya dan keakrabannya terhadap masyarakat sekitar dengan melakukan turun langsung ke masyarakat atau blusukan serta menyerap aspirasi masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan infrakstruktur. Salah satu aspirasi yang sering disampaikan oleh masyarakat adalah berkaitan dengan masalah kesehatan, masih banyak warga pengguna BPJS dan masyarakat yang tidak mampu yang ditolak oleh sejumlah rumah sakit di Kota Depok51. Hal tersebut membuat Hendrik Tangke Allo memfokuskan strategi marketing politiknya pada masyarakat kurang mampu yang membutuhkan banyak perubahan.
49 Tempo, “Hendrik Tangke Allo Jadi Ketua DPRD Depok”, artikel ini diakses pada 8 November 2018 di https://metro.tempo.co/
50 Radar Depok, “PDI Perjuangan Kota Depok Konsisten Perjuangkan Pancasila”, artikel ini diakses pada 13 Juli 2019 di https://radardepok.com/
51 Siti Rahma, “RS Alergi BPJS, Ketua DPRD: Segel!”, artikel ini diakses pada 13 Juli 2019 di https://www.depok.go.id/
33
Selain terhadap masyarakat kurang mampu, sosok politikus muda tersebut seringkali mengajak seluruh elemen pemuda atau generasi milenial untuk
Selain terhadap masyarakat kurang mampu, sosok politikus muda tersebut seringkali mengajak seluruh elemen pemuda atau generasi milenial untuk