• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MARKETING POLITIK HENDRIK TANGKE ALLO PADA PEMILU

A. Strategi Marketing Politik Hendrik Tangke Allo

A.8 Polling

Pada marketing politik, polling dapat berupa riset atau survey yang memiliki tujuan untuk mengetahui keinginan masyarakat, sejauh mana penyebaran kampanye, apa yang harus diubah ataupun diteruskan. Proses marketing politik

97 BBC News Indonesia, “ KPU Sahkan Hasil Pemilu, PDIP nomor satu”, data ini diakses pada 3 Oktober 2019 di https://www.bbc.com/

98 Restu Diana Putri, “Takhta PKS yang Langgeng di Depok”, artikel ini diakses pada 22 Oktober 2018 di https://tirto.id/

78

akan berjalan sesuai sasaran jika menggunakan polling dan aktivitas riset lainnya.

Tanpa adanya polling, kandidat politik sulit mengetahui arah yang akan dituju99.

Pada pemilu legislatif, Hendrik Tangke Allo menjelaskan bahwa saat melakukan strategi marketing politik tidak menggunakan lembaga survey tertentu.

Survey yang dilakukan berasal dari tim inti Hendrik Tangke Allo yang menggunakan form dengan mendatangi rumah warga dan mendata warga yang bersedia memilih Hendrik Tangke Allo.

“Kita melakukan survey berupa form. Form nya saat itu isinya di data nama, alamat, sama nomer KTP, sama nomer telefon, jadi maksudnya ada respondennya gitu dan ada yang memantau seperti operator, nah nanti berkasnya di fotocopy, kita catat, kita lampirkan dan kita kumpulkan nanti ada yang telfon dari yang tim sukses yang mengkoordinir. Ditelfon, disampaikan apa bener responden tersebut memilih pak Hendrik menjadi anggota dewan. Form ini kita lakukan door to door ke masyarakat, kalau di form itu isinya cuma sebagai bukti dukungan terhadap pak Hendrik dan sebagai gambaran untuk pak Hendrik beserta timnya apa yang diinginkan masyarakat saat itu100.”

Penggunaan survey berupa form bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh mana strategi marketing politik yang Hendrik Tangke Allo beserta tim lakukan untuk menarik hati masyarakat. Selain itu penyebaran form tersebut bertujuan untuk mengetahui keinginan masyarakat yang belum terselesaikan, hal tersebut dijadikan sebagai peta politik Hendrik Tangke Allo untuk menyusun strategi marketing politiknya.

99 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 298

100 Wawancara dengan Iwan, Pengurus Anak Ranting PDI Perjuangan dan Tim Inti Pemenangan Hendrik Tangke Allo pada 30 Agustus 2019 di Kampung Pitara, Pancoran Mas Kota Depok

79 A.9 Presentation

Presentation adalah memberikan informasi produk politik yang dilakukan oleh kandidat dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan politik dengan menggunakan media dan simbol tertentu. Penggunaan sebuah simbol dalam melakukan presentasi bertujuan untuk menarik perhatian para pemilih dalam menyampaikan substansi sebuah produk101. Presentation yang dilakukan Hendrik Tangke Allo beserta tim intinya berupa program unggulan yang dilakukan Hendrik Tangke Allo seperti pembenahan di bidang kesehatan, infrakstruktur, dan perbaikan masjid. Dalam melaksanakan program tersebut, Hendrik Tangke Allo melakukan pendekatan persuasif terhadap masyarakat. Berikut petikan wawancara dengan Bapak Iwan:

“Sudah pasti yang diutamakan adalah pendekatan kekeluargaan kepada masyarakat dengan tawaran program-program unggulan pak Hendrik, selain itu kalau simbol ya kalau sedang blusukan pak Hendrik dan tim nya selalu menggunakan atribut kaos yang bertuliskan “Teman HTA” atau “Hendrik Tangke Allo Lovers”, ya itu sebagai cara untuk pak Hendrik beserta tim lebih dekat lagi dengan masyarakat.102

Selain itu dalam melaksanakan program-program unggulannya, seperti yang diungkapkan oleh bapak Iwan bahwa Hendrik Tangke Allo beserta tim inti selalu menggunakan simbol dan media pendukung yang berupa sebutan “Teman HTA” atau “Hendrik Tangke Allo Lovers” di media kaos. Penggunaan sebutan itu di berikan untuk semua kalangan masyarakat yang ikut andil dalam menyukseskan Hendrik Tangke Allo agar masyarakat merasa dekat dengan Hendrik Tangke Allo.

101 Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, h. 219

102 Wawancara dengan Iwan, Pengurus Anak Ranting PDI Perjuangan dan Tim Inti Pemenangan Hendrik Tangke Allo pada 30 Agustus 2019 di Kampung Pitara, Pancoran Mas Kota Depok

80

Dengan cara tersebut secara tidak langsung presentasion yang dilakukan Hendrik Tangke Allo tertanam dipikiran masyarakat agar masyarakat selalu teringat figur Hendrik Tangke Allo selain program yang ditawarkan oleh Hendrik Tangke Allo.

Menurut bapak Ikra dalam melakukan presentasion dalam penyampaian produk politik kepada masyarakat, Hendrik Tangke Allo menggunakan simbol jari telunjuk yang menunjukan angka satu menggambarkan nomer urut Hendrik Tangke Allo.

Penggunaan simbol digunakan pula pada media pamflet, baliho, atau spanduk saat masa kampanye. Penggunaan simbol tersebut sudah menjadi kewajiban bagi setiap caleg yang diusung oleh masing-masing partai politik nya.

Seperti Hendrik Tangke Allo yang memasang sosok tokoh Soekarno dan Megawati dalam setiap spanduk kampanyenya. Tujuannya adalah untuk menunjukan identitas PDI Perjuangan yang mengusung Hendrik Tangke Allo.

B. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Marketing Politik Hendrik Tangke Allo Pada Pemilu 2014 di Kota Depok

Pemilihan umum legislatif pada 9 April 2014 mengantarkan Hendrik Tangke Allo terpilih sebagai anggota legislatif periode 2014-2019. Hendrik Tangke Allo menjadi satu-satunya caleg pendatang baru yang berasal dari PDI Perjuangan yang terpilih di dapil 6 Kota Depok serta dapat menduduki jabatan ketua DPRD Kota Depok ‘menggeser’ PKS yang sudah mendominasi selama dua periode dan menjadi satu-satunya caleg PDI Perjuangan yang yang menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari dapil 6 Kota Depok.

81 B.1 Faktor Pendukung

Pertama, Keberhasilan Hendrik Tangke Allo dan tim inti dalam menerapkan strategi marketing politik dengan menerapkan pendekatan persuasif serta didukung oleh jaringan infuencer dan anggota tim inti yang luas. Selain itu Hendrik Tangke Allo beserta tim inti melakukan blusukan sehingga komunikasi dengan influencer dan masyarakat setempat dapat diterima oleh konstituennya.

“Faktor pendukungnya, saya punya tim karena gak mungkin kan saya melakukan sendiri, saya punya tim yang membantu saya untuk kalau saya gak sempat utus mereka untuk bertemu dengan warga mewakili saya apa yang menjadi kebutuhan mereka, tapi saya sebisa mungkin bertatap muka langsung dengan mereka. Tim saya pada saat itu ada dari unsur partai politik dari PDI Perjuangan ya dari pengurus-pengurus tingkat kelurahan, kemudian tingkat RT, RW kan PDI Perjuangan kan punya, kemudian ya saya juga melibatkan temen, ya disetiap wilayah yang ada, ya walaupun hanya bicara “tolong bantu saya” ya itu saya anggap tim saya. Kemudian tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama yang ada di wilayah, ya apa ya saya bersosialisasi dengan mereka, saya datang kunjungan ke rumahnya, saya dekati secara persuasif. Begitu juga dengan pendekatan dengan masyarakat”

103.

Hendrik Tangke Allo yang dapat menempatkan dirinya pada masyarakat dengan sering berdiskusi untuk mengetahui keinginan masyarakat menjadi faktor pendukung kemenangan Hendrik Tangke Allo. Melakukan suatu kebijakan yang belum terealisasikan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat seperti mengenai kesehatan dan infrakstruktur, tidak dengan janji semata namun dengan memberikan bukti konkrit, sehingga masyarakat merasa yakin untuk memilih calon legislatif yang sangat memperhatikan rakyat.

103 Wawancara dengan Hendrik Tangke Allo, Ketua DPRD Kota Depok pada 25 Agustus 2019 di Gedung DPRD Kota Depok.

82

Kedua, Hendrik Tangke Allo memiliki pesona fisik yang tampan dengan didukung oleh kemampuan dalam leadership, pemecahan masalah, bersifat tegas, sosok figur yang cerdas, dan sosok yang sangat menekankan kerukunan dalam antar umat beragama sehingga Hendrik Tangke Allo dapat menarik hati konstituennya.

“Saya kenal dari deket dari pengurus PAC, dia punya sisi leadership makanya di DPC sudah periode ke 3 ini, ya leadership nya bagus, tegas, cepat belajar, karena kami ini politisi belajarnya gak pernah usai, dia tipe orang yang bagus dan mudah beradaptasi dan kemampuan pemecahan masalah pak Hendrik itu bagus, lho. Jadi banyak oranglah yang bisa respect masa dia. Ditambah juga faktor pendukung dia dipilih masyarakat dari pesona fisiknya, maka dari itu pak Hendrik lebih mudah mendekati ibu-ibu.

Pak Hendrik juga seorang sosok caleg non muslim yang sangat menekankan toleransi beragama dan dapat menempatkan dirinya pada setiap perbedaan”104.

Ketiga, Keberhasilan PDI Perjuangan di Kota Depok dipengaruhi oleh tingkat nasional dikarenakan PDI Perjuangan berusaha menjaga konsistensi garis oposisi selama 10 tahun, hal tersebut menjadi faktor keberhasilan PDI Perjuangan dan dinyatakan sebagai partai populer tahun 2013 berdasarkan hasil survey Soegeng Sarjadi School of Goverment105. Faktor pendukung lainya adalah kepopuleran PDI Perjuangan didukung oleh kemenangan kepala daerah dan caleg yang berkualitas yang berasal dari PDI Perjuangan.

“Kepopuleran PDI Perjuangan itu didukung oleh banyaknya kader yang menjadi kepala daerah dan caleg-caleg yang memiliki kualitas. Banyaklah contohnya. Kita ambil contoh pak Hendrik, seorang caleg yang punya kualitas di PDI Perjuangan. Karena dia ketua DPC PDI Perjuangan. Di atas kertas, dia kader terbaik PDI Perjuangan pada saat itu, karena dia pimpinan kami di Kota Depok. Secara normatif ya, di partai dia seorang pimpinan dan ya memang dia punya kualitas, karena punya kualitas makanya dia

104 Wawancara dengan Ikra Vani Hilman, Sekertaris DPC PDI Perjuangan dan Ketua Tim Inti Pemenangan Hendrik Tangke Allo pada 29 Agustus 2019 di Gedung DPC PDI Perjuangan Kota Depok

105 Mustholih, “Oposisi 10 Tahun, Kunci PDIP jadi Terpopuler” data ini diakses pada 3 Oktiiber 2019 di https://news.okezone.com/

83

dimajuin. Gak mungkin ketua DPC dimajuin kalau dia nya gak mau, kecuali dari PDI Perjuangannya yang gak mau”106.

B.2 Faktor Penghambat

Pertama, kesulitan dalam meyakinkan para influencer dan masyarakat dalam melakukan pendekatan dan memberikan tawaran produk politik karena faktor Hendrik Tangke Allo merupakan calon legislatif non incumbent yang belum terlihat track racord nya.

“Kendalanya saat itu karena memang saya baru masyarakat belum kenal saya, maka hal yang cukup berat bagi saya adalah bagaimana memperkenalkan diri pada masyarakat sehingga mereka tertarik kepada saya dan akhirnya memutuskan untuk memilih saya, itu kendalanya karena sayakan orang baru pada saat itu 2014. Saya belum bisa melakukan bukti apa-apa sedangkan mungkin para kompotitor yang lain adalah incumbent yang punya pengalaman sebelumnya, yang sudah dikenal. Artinya apa, ketika saya datang sebagai pendatang baru ke orang yang belum kenal saya janji ini, janji itu belim ada bukti. Mungkin masyarakat bisa saja tidak percaya, itu kendalanya, jadi bagaimana saya meyakinkan mereka bahwa pilih saya karena saya bisa berbuat nantinya”107.

Selain masyarakat masih ragu karena Hendrik Tangke Allo merupakan caleg yang belum terlihat track record nya, Hendrik Tangke Allo yang merupakan calon legislatif non muslim saat itu membuat masyarakat masih melihat perbedaan agama sebagai salah satu faktor untuk memilih pemimpin atau wakil rakyat.

Dikarenakan penduduk masyarakat Kota Depok dimayoritasi oleh pemeluk agama islam, masyarakat hanya ingin memilih calon wakil rakyat atau pemimpin yang seiman.

106 Wawancara dengan Ikra Vani Hilman, Sekertaris DPC PDI Perjuangan dan Ketua Tim Inti Pemenangan Hendrik Tangke Allo pada 29 Agustus 2019 di Gedung DPC PDI Perjuangan Kota Depok

107 Wawancara dengan Hendrik Tangke Allo, Ketua DPRD Kota Depok pada 25 Agustus 2019 di Gedung DPRD Kota Depok.

84

“Kendala itu pasti ada, contohnya saat saya sedang melakukan survey siapa saja masyarakat yang memilih pak Hendrik, masih ada masyarakat yang mengkritik untuk buat apa sih pilih caleg yang bukan beragama islam. Ya masyarakat masih berpikiran lebih baik memilih wakil rakyat yang beragama islam”108.

Kedua, Kesulitan melakukan strategi pull marketing menggunakan sarana media online pada masyarakat kalangan menengah bawah dikarenakan kurangnya akses pada media sosial dan faktor kesibukan masyarakat yang fokus pada pencarian nafkah. Selain itu masyarakat sudah merasa apatis saat banyaknya calon legislatif yang pemasangan media baliho, spanduk, dan pamflet yang bertebaran di pinggir jalan karena hanya menggangu estetika lingkungan, yang dibuthkan masyarakat hanya perhatian khusus bukan sekedar janji yang disebarkan melalui media. Penggunaan media koran seperti media Radar Depok termasuk faktor penghambat dalam melakukan strategi pull marketing karena sudang jarang masyarat yang membaca koran109.

Kalau kemaren ada beberapa ya media lokal lah, cuma memang kalau untuk kalangan menengah bawah ini saya pikir media tidak terlalu efektif. Karena masyarakat kita dibawah boro-boro baca media ya mereka udah sibuk dengan kesibukan mencari nafkah ya jadi belum terlalu, jadi tetep ada tapi tidak banyak media lokal ya apalah kemaren, Radar Depok, koran-koran lokal lah, tapi itu bukan tidak terlalu banyak yang paling penting adalah saya turun ke warga, ketemu110.

Ketiga, Sebagian masyarakat masih memandang sebelah mata partai PDI Perjuangan yang merupakan partai pengusung Hendrik Tangke Allo karena dikenal

108 Wawancara dengan Iwan, Pengurus Anak Ranting PDI Perjuangan dan Tim Inti Pemenangan Hendrik Tangke Allo pada 30 Agustus 2019 di Kampung Pitara, Pancoran Mas Kota Depok

109 Wawancara dengan Nur Mufridah, Warga Dapil 6 Pancoran Mas pada 25 Agustus 2019 di Kota Depok

110 Wawancara dengan Hendrik Tangke Allo, Ketua DPRD Kota Depok pada 25 Agustus 2019 di Gedung DPRD Kota Depok.

85

memiliki kader yang keras atau ’preman’. Faktor penghambat lainnya yaitu adanya propaganda yang menyebutkan bahwa PDI Perjuangan dituduh sebagai PKI dan anti islam saat menjelang pemilu 2014. Kurangnya SDM yang membantu dalam menyukseskan Hendrik Tangke Allo seperti banyaknya tim inti dari kalangan PDI Perjuangan dan masyarakat biasa yang kurang mengerti menggunakan media sosial dan kurangnya pendidikan politik.

“Kendala PDI Perjuangan yang juga berimbas pada caleg-calegnya ya ada saja propaganda yang menyebutkan PDI Perjuangan isinya orang-orang yang keras semua bahkan disebut preman. Yang paling happening adalah propaganda PDI Perjuangan dituduh sebagai antek-antek PKI dan anti islam. Itu dari propaganda, nah kalau dari internal penghambatnya adalah kurang SDM. Banyak yang ingin membantu menyukseskan pak Hendrik, tapi ada saja yang masih tidak paham media sosial bahkan kurang ngerti politik, kan media sosial itu perlu untuk melakukan marketing politiknyalah.

Ada yang mau bayarannya aja tapi gak kerja”111.

Keempat,Maraknya money politic yang sudah menjadi kebiasaan buruk yang terus terulang saat menjelang pemilu menjadi penghambat Hendrik Tangke Allo beserta tim dalam melakukan kerja nyata dan upaya jujur. Hal ini diperparah dengan masih adanya masyarakat yang mengharapkan calon wakil rakyatnya memberikan money politic kepada masyarakat agar masyarakat mau memberikan suaranya.

“Banyak juga yang akhirnya gak milih saya karena ngapain dipilih? Orang gak ngasih duit, saya mah gapapa, saya tidak mau mempertaruhkan masa depan anak-anak kita, masa depan kalian, hanya karena saya kasih seratus ribu, dua ratus ribu. Ya saya kasih klian 100 ribu 200 ribu untuk milih saya itu sama saja merusak masa depan anak-anak muda seperti kalian ini. Tapi

111 Wawancara dengan Ikra Vani Hilman, Sekertaris DPC PDI Perjuangan pada 29 Agustus 2019 di Gedung DPC PDI Perjuangan Kota Depok

86

kalau kalian milih saya karena emang saya dianggap mampu untuk memimpin.”112

112 Wawancara dengan Hendrik Tangke Allo, Ketua DPRD Kota Depok pada 25 Agustus 2019 di Gedung DPRD Kota Depok.

87 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemilu legislatif Kota Depok tahun 2014 menjadi bukti bahwa marketing politik memegang peranan penting Hendrik Tangke Allo dalam memperoleh suara terbanyak di Pancoran Mas Kota Depok dan menghantarkan dirinya pada kursi Ketua DPRD Kota Depok periode 2014-2019. Hendrik Tangke Allo menjadkan strategi marketing politik sebagai cara untuk komunikasi dua arah dengan melibatkan ide dan gagasan terhadap konstituen. Model strategi kampanye pada proses marketing politik pada penelitian ini sudah cukup baik. Pada 9 elemen model marketing politik yaitu Pass Marketing, Push Marketing, Pull Marketing, Positioning, Person, Policy, Party sudah berjalan secara beriringan. Namun, ada lima faktor yang paling dominan dalam kemenangan Hendrik Tangke Allo di antaranya: push marketing, positioning, policy, person, dan party. Kelima elemen tersebut merupakan cara paling intens yang dilakukan oleh Hendrik Tangke Allo dan menjadi faktor keberhasilan Hendrik Tangke Allo dalam melakukan marketing politik dilihat dari:

Pertama, Keberhasilan Hendrik Tangke Allo dalam memenangkan pemilu legislatif 2014 di Kota Depok karena berhasil memanfaatkan strategi marketing politik push marketing atau melakukan blusukan dengan masyarakat dengan pendekatan persuasif. Kedua, strategi marketing politik positioning Hendrik Tangke Allo dan tim dengan menunjukan nilai lebih di mata masyarakat yaitu berupa kepedulian keadaan serta kekurangan masyarakat kalangan bawah dan

88

menekankan toleransi beragama. Ketiga, strategi marketing politik dalam bentuk policy yang Hendrik Tangke Allo difokuskan pada pembangunan infrakstruktur dan bidang kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat itu. Keempat, faktor person seperti pesona fisik, keahlian dalam pemecahan masalah, kemampuan dalam leadership, dan cerdas. Kelima, faktor party atau partai yang mengusung Hendrik Tangke Allo yaitu PDI Perjuangan yang dapat menempatkan segmentasi pasar yang tepat.

Sedangkan faktor penghambat Hendrik Tangke Allo adalah, pertama, media kurang mendukung sebagai sarana alat pendukung marketing politik Hendrik Tangke Allo. Kedua, masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata calon legislatif yang bukan berasal dari muslim. Ketiga, kesulitan dalam meyakinkan tokoh masyarakat saat melakukan strategi marketing politik. Keempat, partai PDI Perjuangan yang masih dipandang dengan stigma negatif oleh sebagian masyarakat.

B. Saran

B.1 Saran Akademik

Peneliti berharap penelitian selanjutnya dapat meningkatkan pengetahuan bagi pembacanya mengenai marketing politik yang dilakukan oleh para calon wakil rakyat. Peneliti berharap penelitian membahas fenomena marketing politik dengan sudut pandang yang berbeda dengan diperkuat oleh data awal beserta narasumber untuk mendapakan data wawancara sesuai judul penelitian. Penelitian ini hanya sebatas faktor pendukung dan penghambat serta proses dari kagiatan marketing politik yang dilakukan oleh calon legislatif tingkat kota. Hasil analisis yang peneliti

89

lampirkan jauh dari kata sempurna, semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang baik bagi penelitian selanjutnya di ilmu politik khususnya kajian marketing politik dengan diperkaya dengan teori-teori yang lebih terbaru.

B.2 Saran Praktis

Peneliti menyarankan pada pemilu mendatang bagi partai politik untuk menyiapkan kandidat politik terbaik yang meliputi pembentukan image serta track record yang baik, tujuannya agar masyarakat tidak hanya termakan janji-janji yang hanya diutarakan oleh kandidat. Perlu diperhatikan pula calon kandidat politik untuk melibatkan pemilih pemula sebagai sasaran strategi marketing politik, karena pengaruh pemilih pemula sangat berpotensi untuk meningkatkan suara. Peneliti menyarakan bagi tim sukses yang berasal dari partai maupun non partai untuk melibatkan para pemuda karena pemuda sangat berpotensi dalam SDM terutama dalam penggunaan media sosial. Tujuannya agar memudahkan melakukan strategi marketing politik dengan menjangkau seluruh kalangan.

Perhatian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan saat melakukan strategi marketing politik hanya karena ingin mendapatkan suara sebanyak banyaknya, akan tetapi perhatian yang dilakukan para calon legislatif saat melakukan strategi marketing politik berlanjut hingga sudah menjabat sebagai wakil rakyat. Karena bagaimanapun seharusnya wakil rakyat mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan kepentingan pribadi atau golongan dengan menjalankan amanah yang dititipkan oleh masyarakat.

90

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Ahmad, Nyarwi. Manajemen Komunikasi dan Marketing Politik. Yogyakarta:

Pustaka Zaman. 2012.

Anggito, Albi dan Johan Setiawan. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Sukabumi:

CV Jejak. 2018.

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

2013.

Changara, Hafied. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2009.

Daymon, Christine dan Immy Holloway. Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communications. Yogyakarta: Bentang Pustaka. 2008.

Fathurahman, Pupuh. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

2011.

Firmanzah. Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. 2012.

Harison, Lisa. Metodologi Penelitian Politik. Jakarta: Kencana. 2016.

Huda, Ni’matul dan M. Imam Nasef. Penataan Demokrasi dan Pemilu di Indonesia Pasca-Reformasi. Jakarta: Kencana. 2017.

J. Maarek, Philippe. Campign Communication and Political Marketing. London:

Wiley Blackwell. 2003.

Less-Marshment, Jennifer. Marketing Politics: Prinsiples and Application.

London: Routledge Publication. 2009.

Nursal, Adman. Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, Sebuah Pendekatanj Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPRD, Presiden. Jakarta:

Gramedia. 2004.

Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta. 2007.

Schroder, Peter. Strategi Politik. Jerman: Nomos Baden-Baden. 2000.

S. Sumarsono. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka. 2006.

Website

BBC News Indonesia. “KPU Sahkan Hasil Pemilu, PDIP Nomor Satu”.

https://www.bbc.com/.3 Oktober 2019.

Buku Putih Depok. “Gambaran Umum Kota Depok”, dokumen ini diunduh pada 10 Juli 2019 di http://ppsp.nawasis.info/

Duga, Sotar. “Ketua DPRD Kota Depok: Jangan Melihat Perbedaan sebagai Dinding Penyekat Antar Umat Beragama”. https://sotarduganews.com/.

13 Juli 2019.

Iqbal, Bima Muhammad. “Wali Kota Resmikan Gedung Puskesmas Mampang”.

https://www.depok.go.id/.25 Agustus 2019.

Harlis. “Ketua DPRD Kota Depok Dukung Pembelajaran Digital Di Sekolah Dasar”. http://swarapendidikan.co.id/. 13 Juli 2019

Harlis. “Ketua DPRD Kota Depok Dukung Pembelajaran Digital Di Sekolah Dasar”. http://swarapendidikan.co.id/. 13 Juli 2019

Dokumen terkait