• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM MITRA PERSADA

D. Perolehan dan Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Perolehan Aktiva Tetap berkaitan dengan bagaimana caranya perusahaan mendapatkan Aktiva Tetap tersebut untuk digunakan dalam operasional perusahaan. Biaya sehubungan dengan perolehan Aktiva Tetap ini disebut dengan Harga Perolehan. Harga Perolehan (Cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan Aktiva Tetap sampai dengan Aktiva Tetap tersebut siap untuk digunakan.

Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa harga perolehan tidak terbatas pada harga beli saja, tetapi mencakup semua biaya yang dikeluarkan sampai dengan Aktiva Tetap tersebut dapat diambil manfaatnya. Yang termasuk biaya ini adalah biaya angkut, biaya pemeliharaan, biaya asuransi, biaya bongkar muat, biaya balik nama dan sebagainya.

Terdapat beberapa cara perolehan Aktiva Tetap, antara lain : 1. Pembelian Tunai

2. Pembelian Kredit

3. Pembelian dengan surat-surat berharga 4. Pertukaran dengan aktiva lain

5. Membangun sendiri 6. Hadiah / Donasi

1. Pembelian Tunai

Harga perolehan Aktiva Tetap yang didapat melalui pembelian tunai diukur dengan jumlah uang kas yang dibayarkan dalam transaksi ditambah dengan pengeluaran-pengeluaran lain yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk mendapatkan dan menempatkan Aktiva Tetap tersebut. Ada suatu kerugian yang harus diakui bila ada potongan tunai yang ditawarkan tetapi tidak dimanfaatkan.

Jurnal : Aktiva Tetap xx

Kas xx

2. Pembelian Kredit

Apabila dilakukan pembelian secara kredit, Aktiva Tetap dicatat sebesar nilai tunainya. Sedangkan selisih antara nilai tunai dengan harga pembelian kredit dianggap sebagai beban bunga sehingga harus dicatat dalam perkiraan beban bunga. Pembebanan bunga atas kredit terdiri atas 2, yaitu:

1. Bunga dihitung secara Flat, yaitu beban bunga dicatat sama besarnya tiap kali pembayaran kredit.

2. Bunga dihitung berdasarkahn sisa hutang, yaitu bunga dihitung dari sisa hutang terakhir.

Jurnal : Aktiva Tetap xx

3. Pembelian dengan surat-surat berharga

Apabila perusahaan membeli Aktiva Tetap dengan menerbitkan surat berharga, Maka harga perolehan Aktiva Tetap yang didapat harus diukur berdasarkan harga pasar dari surat-surat berharga yang diserahkan dalam transaksi yang digunakan sebagai penukar. Apabila harga pasar surat-surat berharga itu tidak diketahui, Maka harga perolehan Aktiva Tetap tersebut harusditentukan sebesar harga pasar Aktiva Tetap tersebut.

4. Pertukaran dengan Aktiva Lain

Perolehan Aktiva Tetap ini dilakukan dengan cara menukar aktiva lama untuk memperoleh aktiva yang baru dimana perusahaan harus membayar tunai atas kekurangan nilai aktiva lama. Apabila harga pasar aktiva lama ataupun aktiva baru tidak dapat ditentukan, maka nilai buku aktiva lama akan digunakan sebagai dasar pencatatan atas pertukaran tersebut. Selain itu, pertukaran dengan metode ini menimbulkan adanya keuntungan/kerugian yang harus diakui perusahaan.

Pertukaran jenis ini terbagi atas 2, yaitu: a. Pertukaran Aktiva Tetap Sejenis

b. Pertukaran Aktiva Tetap Tidak Sejenis

Keuntungan atas pertukaran

Keuntungan atas Aktiva Tetap diakui bukan untuk tujuan pelaporan keuangan namun hanya untuk pencatatan karena ada uang kas yang diterima. Jika nilai tukar tambah melebihi nilai buku aktiva lama yang

ditukarkan dan tidak ada keuntungan yang diakui, maka Harga Perolehan (HP) aktiva baru ditentukan dengan cara :

a. HP Aktiva Baru = Harga Aktiva Baru – Keuntungan yang diakui

b. HP Aktiva Baru = Kas yg dibayarkan/Utang + Nilai Buku Aktiva Lama

Jurnal untuk mencatat keuntungan pertukaran :

Aktiva Lama xx

Ak Penyusutan xx

Aktiva Baru xx

Keuntungan pertukaran xx

Kerugian atas Pertukaran

Berbeda dengan keuntungan atas pertukaran yang diakui bukan untuk tujuan pelaporan keuangan, kerugian atas pertukaran Aktiva Tetap diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Kerugian atas pertukaran Aktiva Tetap diakui jika nilai tukar tambah lebih rendah dari nilai buku aktiva lama. Jika terjadi kerugian, maka biaya yang dicatat untuk aktiva baru adalah harga pasar aktiva tersebut.

Jurnal untuk mencatat kerugian atas pertukaran :

Aktiva Lama xx

Ak Penyusutan xx

Kerugian atas pertukaran xx

Aktiva Baru xx

5. Membangun sendiri

Ada beberapa Aktiva Tetap yang tidak dapat diperoleh dari pihak lain. Maka, perusahaan harus membuat atau membangun sendiri Aktiva Tetapnya. Alasan perusahaan membangun sendiri Aktiva Tetap yang diperlukannya antara lain :

a. Memanfaatkan fasilitas yang menganggur. b. Menghemat biaya konstruksi.

c. Mencapai standar konstruksi yang lebih tinggi. d. Agar dapat segera digunakan (menghemat waktu).

6. Donasi/Sumbangan

Aktiva Tetap yang diperoleh dari sumbangan dicatat sebesar harga pasar yang wajar atau berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh pihak perusahaan penilai yang independent dan benar-benar ahli di bidang itu. Dengan kredit Modal Donasi. Aktiva Tetap jenis ini dicatat sebagai aktiva apabila hak atas Aktiva Tetap tersebut sudah diterima.

Rumah Sakit Umum Mitra Persada Medan memperoleh Aktiva Tetapnya melalui 2 cara, yaitu ;

a. Pembelian Kredit

Sebagai perusahaan yang dapat dikatakan masih baru, Rumah Sakit Umum Mitra Persada Medan memulai usaha dengan modal yang relative kecil. Namun, dengan usaha yang sungguh-sungguh selama ini Rumah Sakit Umum Mitra Persada Medan telah berkembang menjadi Rumah Sakit Umum yang tidak dapat dipandang sebelah mata. salah

satu usaha untuk mencapai semua ini adalah dengan membeli secara kredit Aktiva Tetap yang dibutuhkannya. Keputusan untuk memiliki Hutang telah membuktikan keberadaan Rumah Sakit Umum Mitra Persada Medan. Walaupun terkadang perusahaan berada di masa-masa yang sulit.

b. Membangun sendiri

Alasan Rumah Sakit Umum Mitra Persada Medan membangun sendiri Aktiva Tetapnya adalah untuk menghemat biaya. Apabila membangun sendiri, maka biaya yang diperlukan dapat disesuaikan dengan modal yang tersedia di perusahaan.

2. Metode Penyusutan Aktiva Tetap

Pemakaian Aktiva Tetap dalam operasi perusahaan dalam jangka waktu yang panjang, mengakibatkan adanya alokasi nilai Aktiva Tetap yang disebut dengan penyusutan. Secara umum, penyusutan (Depreciation) didefinisikan sebagai penurunan kemampuan Aktiva Tetap untuk memberikan manfaat secara periodic.

Pengertian penyusutan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007:16.2)

“Penyusutan merupakan alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu asset selama umur manfaatnya.”

Faktor-faktor yang menyebabkan penyusutan ini antara lain : a. Penyusutan Fisik, mencakup keusangan karena pemakaian dan keausan

b. Penyusutan Fungsional, antara lain :

Ketidakmampuan aktiva untuk memenuhi kebutuhan produksi Perubahan permintaan terhadap terhadap barang/jasa yang dihasilkan

Kemajuan teknologi yang menyebabkan suatu aktiva tidak ekonomis lagi untuk digunakan.

Selanjutnya dalam menentukan jumlah beban penyusutan, terdapat istilah-istilah yang harus dipahami yaitu :

a. Biaya awal Aktiva Tetap (Cost), Yaitu biaya dari suatu aktiva termasuk semua pengeluaran yang berhubungan dengan perolehannya dan biaya persiapan untuk penggunaan sampai dengan Aktiva Tetap tersebut siap untuk digunakan.

b. Nilai sisa (residual Value), Yaitu nilai buku akhir Aktiva Tetap ketika Aktiva Tetap tersebut ditarik dari pamakaian (dinonaktifkan).

c. Masa Manfaat (Use Full Life), Yaitu berapa lama Aktiva Tetap tersebut dapat diambil manfaatnya dalam kegiatan operasional perusahaan.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah beban penyusutan, antara lain :

1. Metode Saldo Menurun (Straight Line Method)

Metode saldo menurun menghasilkan jumlah penyusutan yang sama untuk setiap tahunnya. Karena penyusutan dihitung(dibebankan) secara merata selama taksiran masa manfaat Aktiva Tetap tersebut. Dalam metode ini,

perhitungan yang dilakukan sangat sederhana sehingga metode ini banyak dipakai.

Perhitungan besarnya penyusutan dapat dihitung dengan rumus :

n Ns Hp

D=

Dimana : D = Besarnya Penyusutan tahunan Hp = Harga Perolehan (Cost) Ns = Nilai Sisa (Residual Value) n = Taksiran umur manfaat

2. Metode Saldo Menurun (Declining-Balance Method)

Metode saldo menurun menghasilkan penyusutan periodic yang terus menurun sepanjang taksiran umur manfaat suatu aktiva. Untuk menggunakan metode ini, tarif penyusutan garis lurus tahunan harus terlabih dahulu digandakan. Misalnya tarif penyusutan tahunan untuk metode garis lurus adalah 10%, maka tarif penyusutan tahunan untuk metode saldo menurun adalah 20%. Yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam metode saldo menurun, taksiran nilai sisa tidak diperhitungkan dalam menghitung tariff penyusutan tahunan. Selain itu, nilai sisa juga diabaikan dalam penghitungan periode penyusutan. Akan tetapi Aktiva Tetap tersebut tidak boleh disusutkan melampaui taksiran nilai sisanya.

3. Metode Penyusutan Jumlah angka Tahun (Some Of The Year Digit)

Metode jumlah angka tahun adalah metode yang paling jarang digunakan karena metode ini lebih sulit dalam hal perhitungannya. Untuk menggunakan metode ini, harus ditentukan dahulu jumlah angka tahun

berdasarkan umur manfaat suatu aktiva tetap. Kemudian jumlah angka tahun itu digunakan untuk menentukan besarnya penyusutan tahunan. Rumus untuk menentukan jumlah angka tahun adalah :

2 ) 1 ( + = n n JAT

Dimana : JAT = Jumlah Angka Tahun n = Taksiran Umur Manfaat 4. Metode Unit Produksi (Unit Of Produktion Method)

Metode unit produksi menghasilkan jumlah penyusutan yang sama bagi setiap unit produksi atau setiap unit kapasitas yang digunakan oleh aktiva. Metode ini digunakan untuk aktiva tetap yang umur manfaatnya berkaitan erat dengan tingkat pemakaian suatu aktiva dan baik jika digunakan untuk aktiva yang tingkat pemanfaatannya bervariasi dari tahun ke tahun.

Rumus untuk menghitung penyusutan tahunan :

O Ns Hp

D=

Dimana : Hp = Harga Perolehan Ns = Nilai Sisa

O = Taksiran Produksi

Contoh : Pada awal januari 1997 dibeli sebuah Mesin dengan harga Rp.125.000.000,- dan dengan estimasi nilai sisa adalah Rp.15.000.000. Estimasi masa manfaat adalah 10 tahun, estimasi produksi dalam unit adalah 500.000.000 unit. Pada lima tahun pertama umur manfaatnya mesin itu menghasilkan produksi tahunan berturut-turut 77.000.000

unit, 50.000.000 unit, 60.000.000 unit, 65.000.000 unit, dan 55.000.000 unit. Hitunglah beban penyusutan dengan menggunakan metode:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

2.

Metode Saldo Menurun (Declaining-balance Method)

3.

Metode Jumlah Angka Tahun (Some Of The Year Method) dengan asumsi umur manfaatnya hanya 5 tahun.

4.

Metode Unit Produksi (Unit Of Production Method) pada lima tahun pertama pemakaiannya.

Jawab : Dik : Hp = Rp.125.000.000,- n = 10 tahun Ns = Rp.15.000.000,- O = 500.000.000 unit Maka :

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Tarif penyusutan = 100% : 10 = 10%

Beban penyusutan = 10% x (Rp.125.000.000- Rp.15.000.000)

Tabel I

Penyusutan dengan Metode Garis Lurus

Thn Harga Perolehan Penyusutan tahunan Ak Penyusutan Nilai Buku Akhir Tahun 1997 Rp.125.000.000 Rp.11.000.000 Rp.11.000.000 Rp.114.000.000 1998 125.000.000 11.000.000 22.000.000 103.000.000 1999 125.000.000 11.000.000 33.000.000 92.000.000 2000 125.000.000 11.000.000 44.000.000 81.000.000 2001 125.000.000 11.000.000 55.000.000 70.000.000 2002 125.000.000 11.000.000 66.000.000 59.000.000 2003 125.000.000 11.000.000 77.000.000 48.000.000 2004 125.000.000 11.000.000 88.000.000 37.000.000 2005 125.000.000 11.000.000 99.000.000 26.000.000 2006 125.000.000 11.000.000 110.000.000 15.000.000 Sumber : Hasil Pengolahan

2.

Metode Saldo Menurun (Declaining-balance Method)

Tariff penyusutan = 2 x tarif garis lurus = 2 x 10 %

= 20%

Penyusutan tahun pertama = 20% x Rp.125.000.000 = Rp. Rp.25.000.000,- Penyusutan tahun kedua = 20% x Rp.100.000.000

= Rp.20.000.000,-

Penyusutan tahun ketiga = 20% x Rp.80.000.000

Tabel II

Penyusutan dengan Metode Saldo Menurun

Thn Harga Perolehan Penyusutan tahunan Ak Penyusutan Nilai Buku Akhir Tahun 1997 Rp.125.000.000 Rp.25.000.000 Rp.25.000.000 Rp.100.000.000 1998 125.000.000 20.000.000 45.000.000 80.000.000 1999 125.000.000 16.000.000 61.000.000 64.000.000 2000 125.000.000 12.800.000 73.800.000 51.200.000 2001 125.000.000 10.240.000 84.040.000 40.960.000 2002 125.000.000 8.192.000 92.232.000 32.760.000 2003 125.000.000 6.552.000 98.784.000 26.208.000 2004 125.000.000 5.241.000 104.025.000 20.966.000 2005 125.000.000 4.193.280 108.218.280 16.773.120 2006 125.000.000 3.354.624 111.572.904 13.418.496

Sumber : Hasil Pengolahan

3.

Metode Jumlah Angka Tahun (Some Of The Year Method) dengan

asumsi umur manfaatnya hanya 5 tahun.

JAT = 5(6) : 2 = 15

Penyusutan tahun pertama = 5 :15 x (Rp.125.000.000 –Rp.15.000.000) = Rp.36.666.667,-

Penyusutan tahun kedua = 4 : 15 x Rp.110.000.000

= Rp.29.333.333,-

Tabel III

Penyusutan dengan Metode Jumlah Angka Tahun

Thn Harga Perolehan Penyusutan

tahunan Ak Penyusutan Nilai Buku Akhir Tahun 1997 Rp.125.000.000 Rp.36.666.667 Rp.36.666.667 Rp88.333.333 1998 125.000.000 29.333.333 66.000.000 59.000.000 1999 125.000.000 22.000.000 88.000.000 37.000.000 2000 125.000.000 14.666.667 102.666.667 22.333.333 2001 125.000.000 7.333.333 110.000.000 15.000.000

4.

Metode Unit Produksi (Unit Of Production Method) pada lima tahun pertama pemakaiannya.

Tarif Produksi = (Rp.125.000.000 – Rp.15.000.000) : 500.000.000 unit = Rp.110.000.000 : 500.000.000= Rp 0,22 per unit Penyusutan tahun pertama = 77.000.000 x Rp.0,22 = Rp.16.940.000,- Penyusutan tahun kedua = 50.000.000 x Rp.0,22 = Rp.11.000.000,- Penyusutan tahun ketiga = 60.000.000 x Rp.0,22 =Rp.13.200.000,- Penyusutan tahun keempat = 65.000.000 x Rp 0,22 = Rp.14.300.000,- Penyusutan tahun kelima = 55.000.000 x Rp.0,22 = Rp.12.100.000,-

Tabel IV

Penyusutan dengan Metode Unit Produksi

Thn Harga Perolehan Penyusutan tahunan Ak Penyusutan Nilai Buku Akhir Tahun 1997 Rp.125.000.000 Rp.16.940.000 Rp.16.940.000 Rp.108.060.000 1998 125.000.000 11.000.000 27.940.000 97.060.000 1999 125.000.000 13.200.000 41.140.000 83.860.000 2000 125.000.000 14.300.000 55.440.000 69.560.000 2001 125.000.000 12.100.000 67.540.000 57.460.000

Sumber : Hasil Pengolahan

Pengeluaran Modal dan Pengeluaran Pendapatan

Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) adalah biaya atas penambahan atau perbaikan aktiva tetap sendiri yang dapat memperpanjang umur manfaatnya. Kriteria dari pengeluaran ini antara lain :

1. Jumlahnya relative besar

2. Menambah manfaat (umur) aktiva 3. Transaksinya jarang terjadi

Jurnal untuk mencatat pengeluaran ini adalah :

Aktiva Tetap xx

Biaya Pemeliharaan xx

Pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure) adalah biaya-biaya yang hanya memberikan manfaat pada periode berjalan yang muncul sebagai bagian dari reparasi dan pemeliharaan normal aktiva tetap.

Kriteria dari pengeluaran ini antara lain: 1. Jumlahnya relative kecil

2. Tidak menambah manfaat(umur) aktiva 3. Transaksinya lebih sering terjadi.

Jurnal untuk mencatat pengeluaran ini adalah :

Biaya perbaikan dan pemeliharaan xx

Kas xx

Dokumen terkait