• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di tengah perpecahan yang meliputi dunia Islam kala itu, yaitu dengan munculnya dinasti-dinasti yang terpisah sudah barang tentu memberi nuansa

perpecahan dan kelemahan. Hal ini memberi angin segar kepada

bangsa-bangsa Eropa di Barat untuk menggalang kekuatan memerangi dinasti-dinasti

Islam. Pasukan Salib mulai menginvasi wilayah Islam dengan sasaran daerah

Suriah (Sya>m) pada tahun 491 H dan menaklukkan kota Yerusalem (Quds)

pada tahun 492 H atau pada Juni 1099 M.

21

3. Kondisi Intelektual pada masa al-Zamakhsyari>

Kejayaan Dinasti Saljuk seperti disebutkan di atas, bukan hanya di bidang politik dan militer, tetapi juga di bidang ilmu pengetahuan. Di masa dinasti ini, bidang keilmuan mengalami kemajuan pesat. Perdana Menteri Dinasti ini, Niz}a>m al-Mulk mendirikan beberapa lembaga pendidikan di Baghdad. Di anataranya yang paling terkenal adalah Universitas Niz}a>miyyah di Baghdad yang merupakan perguruan tinggi pertama dalam sejarah Islam. Lembaga pendidikan yang didirikannya tersebar di kota-kota seperti di Naisabur, T{u>s, Asfahan, dan beberapa kota lain.22 Ia memiliki sebuah

21

Lihat Ibra>him Ah}mad al-ŘAdawi>, Ta>ri>kh al-„A<lam al-Isla>mi>, juz I (Kairo:

Muqarrar Ja>miřah al-Azhar al-Syari>f, 1983), h. 305 dst.

22

karya yang sangat mengagumkan di bidang seni pemerintahan, yaitu

Siya>sah-na>mah.23Sementara untuk memajukan ilmu pengetahuan, Niz}a>m al-Mulk mendirikan

beberapa perpustakaan dan menarik para ilmuwan serta cendekiawan terkemuka untuk bergabung di lembaga yang ia dirikan. Maliksya>h juga mendirikan sekolah Hanafiah di Baghdad, yang ia ambil dari nama pendiri salah satu mazhab, Abu>> H{ani>fah. Minatnya yang tinggi terhadap astrologi dan ilmu pengetahuan modern membuatnya mendirikan sebuah observatorium pada tahun 467 H. Diawali oleh penyelenggaraan konferensi para astronom dan membuahkan pembaruan kalender persia, yang disebut dengan kalender Jala>li>, yang diambil dari nama Jala>l al-Di>n Maliksya>h.24 Perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan ini melahirkan para ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu, di antaranya al-Gaza>li> dalam bidang ilmu filsafat, al-Juwaini> seorang ahli di bidang ilmu fikih, al-Qusyairi> dalam bidang tasawuf, al-Baihaqi> seorang ahli hadis dan fikih, al-Sařdi>, penyair terkenal Persia,al-S|aŘlabi> dalam bidang bahasa,

serta al-Jurja>ni> (w.471 H) seorang pakar di bidang bahasa dan sastra dengan karya populernya Dala>‟il al-I„ja>z dan Asra>r al-Bala>gah. Menurut Syauqi> D{aif, dua kitab

terakhir adalah kitab yang mempengaruhi metode sastra al-Zamakhsyari> dalam menafsirkan al-Qur'an.25 Di samping itu, universitas ini telah melahirkan tokoh-tokoh

politik seperti ŘIma>d al-Di>n al-As}faha>ni> dan Baha> al-Di>n bin Syadda>d. Keduanya adalah tokoh penting Dinasti Ayyu>biyyah yang

23

Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, History of the Arabs(Cet. I; Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 607.

24

Philip K. Hitti, History of the Arabs, h. 607.

25

Lihat Syauqi> D}aif, al-Bala>gah; Tat}awwur wa Ta>ri>kh (Cet. XI; Kairo: Da>r al-Mařa>rif, 2000),

membantu S{ala>h} al-Di>n al-Ayyu>bi>. Begitu pula dengan Abdulla>h ibn

Taumart, pendiri Dinasti Muwah}hi}di>n di Afrika, termasuk alumni universitas ini.26

Wilayah Khawa>rizm dan seluruh wilayah Transoxiana adalah wilayah persia. Meski demikian, bahasa Arab menjadi bahasa yang banyak dipergunakan setelah wilayah-wilayahini masuk ke dalam wilayah Islam. Kondisi geografisnya yang subur dan penduduk yang berbudi pekerti baik dan menerima agama Islam, membuat wilayah ini didatangi oleh banyak orang dari berbagai macam suku bangsa. Perkembangan dunia keilmuan dan peradaban di wilayah ini sejalan dengan perkembangan keilmuan pada periode Dinasti Abbasiah pertama. Pembelajaran bahasa Arab digalakkan mengingat

al-Qurřan dan Hadis Nabi hanya dapat dipahami dengan baik dengan mengetahui bahasa

Arab. Semangat dan fanatisme pada ajaran agama membawa mereka kepada kesungguhan untuk mempelajari bahasa Arab.

Menurut al-Maqdi>si>, penduduk Khawa>rizm memiliki semangat dan kemampuan yang tinggi serta kecerdasan dan intuisi yang baik. Sehingga menurutnya, amat jarang ditemui halaqah-halaqah ilmiah di bidang fikih, al-Qurřan dan

Kesusasteraan, tidak mempunyai murid yang berasal dari daerah Khawa>rizm.27

Pada masa ketika kekhilafahan Dinasti Abbasiah hanyalah simbol, dan otoritasnya hanyalah bayangan, dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari kontrol Baghdad, tetap mengikuti kebiasaan istana di Baghdad dalam hal ilmu pengetahuan. Istana mereka buka lebar untuk para ilmuwan seperti ahli nahwu, ahli fikih, ahli astronomi dan para penyair sebagaimana pada zaman keemasan Dinasti Abbasiah.

26Ibra>him Ah}mad al-ŘAdawi>,Ta>ri>kh al-„A<lam al-Isla>mi>, juz I, h. 285. 27

Di Khawa>rizm, dorongan besar diberikan penguasa Dinasti Khawa>rezmia kepada para ulama dan udaba> (sebutan untuk para ahli sastera dan penyair). Seorang ahli sejarah yang bekerja untuk dinasti ini bernama al-Nasawi>, menyebutkan bahwa para penguasa Khawa>rezmia meramaikan istana mereka dengan mendatangkan para ilmuwan. Mereka berasal dari suku bangsa Arab dan Persia. Mereka diberi fasilitas yang banyak. Para penguasa ini juga banyak membuka sekolah dan mendorong para penceramah untuk beraktifitas. Dorongan kepada kegiatan ilmiah ini dalam bahasa Arab dilakukan meskipun salah seorang penguasa dinasti ini berasal dari bangsa Turki yang tidak memahami bahasa Arab, yaitu Sultan Muh}ammad bin Tukusy.28

Dinasti ini memiliki Di>wa>n (lembaga khusus) yang membidangi

masalah ilmu pengetahuan dan karya ilmiah. Hasil karya para ulama

disatukan dan didokumentasikan di lembaga ini.

Secara umum, pada masa al-Zamakhsyari> bidang ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Selain madrasah-madrasah dan lembaga pendidikan formal, di masjid-masjid juga diselenggarakan majelis ilmu atau halaqah-halaqah.29 Indikasi yang paling jelas mengenai perhatian kepada ilmu pengetahuan pada masa ini adalah lahirnya ilmuwan-ilmuwan yang terkenal dari berbagai bidang, di antaranya:

a. Bidang Tafsir : ŘAbd al-H{aqq bin Ga>lib bin ŘAbd al-Rah}man atau lebih

dikenal dengan Ibnu ŘAt}iyyah al-Andalu>si> (w. 542 H)

b. Bidang H{adi>s\ : Yah}ya> bin ŘAbd al-Wahha>b atau Ibnu Mandah (511 H), al-H{usain

bin Masřu>d al-Farra>' atau al-Bagawi> (510 H), A<bu> al-T{ahir al-Silafi> (576 H)

28Ah}mad Muh}ammad al-H{u>fi>,al-Zamakhsyari>, h. 16.

c. Bidang Perbandingan agama : Muh}ammad bin ŘAbd al-Kari>m

al-Syihrista>ni> (548 H)

d. Bidang Sejarah : ŘAbd al-Kari>m bin Muh}ammad al-Samřa>ni> (562 H)

dan ŘA<li> bin al-H{asan Ibnu ŘAsa>kir (571 H)

e. Bidang Qira>'a>t al-Qur'an : Ah}mad bin Muh}ammad atau Ibnu al-ŘAri>f

dan ŘAbdulla>h bin Ah}mad al-Khasysya>b (567 H)

f. Bidang Bahasa : ŘAbd al-Qa>hir al-Jurja>ni> (471 H), al-Ra>gib al-As}faha>ni>

(502 H), Mawhu>b bin Ah}mad al-Jawa>liqi> (540 H), Hibbatulla>h bin ŘAli>

atau Ibnu al-Syajari> (542 H) dan Kama>l al-Di>n al-Anba>ri> (577 H).

g. Bidang Geografi : Abu> Bakar Zuhri> Grana>t}i> (532 H) dan

al-Syari>f al-Idri>si> (548 H)

h. Bidang Ensiklopedi : ŘAbd al-Rah}man bin ŘAli> atau Ibnu al-Jawzi> (597 H)

i. Bidang Filsafat : Muh}ammad bin Muh}ammad al-Gaza>li> (505 H),

Muh}ammad bin Yah}ya> Ibnu Ma>jah (533 H), dan Muh}ammad bin

ŘAbd al-Malik atau Ibnu al-T{ufail (581 H).

j. Bidang Syair dan Kesusastraan : al-Qa>sim bin ŘAli> al-H{ari>ri> (516 H), Ibnu al-Khayya>t} al-Dimasyqi> (517 H), Ibra>him bin Abi> al-Fath} atau Ibnu Khafa>jah (533 H) dan Muh}ammad bin Muh}ammad Rasyi>d al-Di>n al-Wat}wa>t} (573 H).30

Lingkungan ilmiah yang begitu kondusif di zamannya membuat al-Zamakhsyari> dapat tumbuh dan lahir sebagai seorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi pada ilmu agama dan bahasa Arab. Al-Zamakhsyari> dapat kemudian

30

Lihat H{asan Ibra>him H{asan, Ta>ri>kh Isla>m Siya>si> wa Di>ni> wa

mewujudkan aspek keilmuannya dalam bentuk karya-karya yang