kapas dan bulu binatang ternak serta produk-produk kerajinan yang lain ke
berbagai tempat.
12Penduduk wilayah ini dikenal cerdas. Lingkungannya
menumbuhkan kemampuan intelektual dan daya intuitifmelebihi wilayah lain.
Karena itu, lahir dari wilayah ini tokoh-tokoh besar dalam berbagai bidang yang
memberi sumbangan besar bagi khazanah keilmuan Islam.
132. Kondisi Politik dan Sosial pada masa al-Zamakhsyari>
Masyarakat Islam di era kehidupan al-Zamakhsyari> sangat heterogen dengan tiga suku bangsa yang mendominasi yaitu bangsa Arab, Persia dan Turki. Di samping itu, terdapat bangsa-bangsa lain yang menghuni kota-kota dan desa-desa di seluruh wilayah Islam pada masa itu. Tingkatan atau strata kehidupan di antara mereka dibedakan oleh tingkat penghasilan. Agama Islam menempati posisi sentral dalam menjaga stabilitas sosial. Umat Islam adalah mayoritas di antara kelompok minoritas
10
Seperti yang dikutip dari Qis}s}ah al-H{ad}a>rah karya Will Durant. Lihat Syauqi>Abu> Khali>l, al-H{ad}a>rah al-„Arabiyyah, h. 377.
11
Zakariya> Muhammad al-Qazwi>ni>, A<s\a>r al-Bila>d wa Akhba>r al-„Iba>d (Beirut: Da>r Ṣa>dir,
1983), h. 520.
12
Ibrahim Muh}ammad al-Karkhi> al-As}t}akhari>, al-Masa>lik wa al-Mama>lik (Mesir: Da>r al-Qalam, 1961), h. 170.
13
Yahudi dan Nasrani. Meskipun demikian, kelompok minoritas tersebut tetap
diberikan keleluasaan untuk melaksanakan ritual keagamaannya. Mereka
juga diberikan peluang menduduki jabatan di pemerintahan dan melakukan
aktifitas perekonomian dan menjalani kehidupan dengan bebas.
14Bahasa Arab menjadi bahasa pergaulan. Namun dengan pembauran yang terjadi di antara bangsa-bangsa yang berbeda tersebut, terjadi beberapa fenomena sosial yang berbeda dalam satu kelompok masyarakat, terutama ritual-ritual di masa lalu. Contohnya adalah perayaan Nairuz dan Mahrajan. Muncul pula aliran-aliran keagamaan yang membawa pengaruh negatif terhadap ajaran Islam. Kondisi seperti ini membawa pengaruh terhadap kehidupan beragama terutama pada praktek ritual atau lebih khusus berpengaruh pada aspek teologi. Dalam sejarah tercatat maraknya fitnah yang terjadi sebagai dampak dari pembauran ini. Sebutlah misalnya, apa yang terjadi antara penganut paham Ahlussunnah dan Syiah pada tahun 482 H. Fitnah yang terjadi di antara dua kelompok menyebabkan bentrokan fisik yang menimbulkan banyak korban.15Bahkan di internal Ahlussunnah juga terjadi bentrokan antara penganut mazhab Hambali dengan mazhab Asyřari, yaitu pada tahun 447 H, yang implikasinya secara ritual yaitu para penganut mazhab Asyřari tidak melaksanakan shalat berjamaah
karena menghindari penganut mazhab Hambali.16
Di tengah kelompok masyarakat Khawa>rizm muncul pula kelompok Ba>ti}niyyah, yaitu kelompok yang selalu melakukan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Mereka menimbulkan instabilitas, melakukan perampokan dan
14
Ahmad Amin, Z{uhr al-Isla>m, juz III (Cet. II; Kairo: Lajnah al-Tařli>f wa al-Tarjamah,
1365H.), h. 3 dst.
15
Abu> al-Faraj ŘAbd al-Rah}man ibn ŘAli> ibn al-Jauzi>, Muntaz}am fi> Ta>ri>kh
al-Mulu>k wa al-Umam, juz XVI (Cet. I; Bairut: Da>r al-Kutub al-ŘIlmiyyah, 1992), h. 256
pembunuhan. Kekacauan yang ditimbulkannya berakhir setelah ditangani
secara keras oleh Sultan Muh}ammad ibn Maliksya>h.
17Pertentangan yang terjadi pada masa tersebut yang bernuansa pertentangan ideologi menunjukkan adanya dialektika pemikiran, baik yang terjadi antara penganut mazhab Ahlussunnah dengan mazhab Syiah, maupun yang terjadi di internal mazhab Ahlussunnah.Di samping itu, hal ini juga memberi indikasi bahwa penduduk Khawa>rizm sangat teguh di dalam pelaksanaan ajaran agama. Indikasi lain keteguhan mereka berpegang kepada agama menurut Ya>qu>t, bahwa mereka memiliki tradisi ritual yang spesifik yaitu muadzdzin mulai melantunkan adzan sejak pertengahan malam hingga terbit fajar. Di samping semangat agama yang tinggi,
penduduk Khawa>rizm Ŕmenurut Ya>qu>t yang berkunjung ke wilayah ini pada
tahun 616 HŔ, juga memiliki ketinggian akhlak, hingga menurutnya belum pernah
menemukan kota semegah dan sekaya Khawa>rizm, serta penduduk yang lebih baik dan lebih ramah dari penduduk Khawa>rizm, dengan ketekunan mereka di
dalam melaksanakan syariat agama.18
Lain lagi menurut Ibnu Bat}t}u>t}ah, sejarahwan muslim yang melakukan perjalanan dari belahan bumi bagian Barat menuju ke Timur, yang ia mulai pada tahun 725 H dan berlangsung selama 27 tahun. Ia menganggap penduduk Khawa>rizm adalah penduduk yang paling baik akhlaknya di antara beberapa daerah yang ia kunjungi. Mereka sangat menghargai para pendatang. Ia menemukan kebiasaan unik pada pelaksanaan shalat mereka. Para muadzdzin di mesjid-mesjid berkeliling ke rumah-rumah penduduk di sekitar mesjid mengingatkan masuknya waktu shalat. Warga yang
17Lihat Ibn al-Jauzi>,al-Muntaz}am fi> Ta>ri>kh al-Mulu>k wa al-Umam, juz XVII, h. 62-65 18
tidak datang mengikuti shalat jamaah akan diberi sanksi oleh imam. Mereka juga diwajibkan membayar denda lima dinar yang diinfakkan untuk kepentingan mesjid atau memberi makan kepada fakir miskin. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama.19 Masa
kehidupan al-Zamakhsyari> pada paruh kedua abad ke-5 Hijriah dikenal dalam sejarah sebagai masa kekhilafahan simbolik dan semu. Kekuasaan Khalifah Dinasti Abbasiah yang berkedudukan di Baghdad tersisa hanya nama saja. Tapi yang sesungguhnya berkuasa adalah para penguasa dinasti-dinasti di wilayah masing-masing di luar Baghdad, termasuk di wilayah kelahiran Zamakhsyari>. Masa kehidupan
al-Zamakhsyari> (467-538 H) bertepatan dengan masa lima pemerintahan
khalifah Dinasti Abbasiah yaitu:
1). ŘAbdulla>h al-Muqtadi> billa>h bin Muh}ammad bin al-Qa>im (467-487 H)
2). Ah}mad al-Mustaz}hir billa>h bin al-Muqtadi> (487-512 H)
3). Al-Fad}l al-Mustarsyid billa>h bin al-Mustaz}hir (512-529 H)
4). Al-Mans}u>r al-Ra>syid billa>h bin al-Mustarsyid (529-529 H)
5). Muh}ammad al-Muqtafi> billa>h bin al-Mustaz}hir (529-555 H)
Kekuasaan yang melemah secara politik menjadikan percaturan kekuasaan secara bergantian dimiliki oleh penguasa dinasti-dinasti yang ada dalam wilayah teritorial kekuasaan Dinasti Abbasiah. Setelah Bani Buwaih, kekuasaan berada di
bawah Bani Saljuk yang berkebangsaan Turki (Atra>k al-Sala>jikah).
Penguasa-penguasa Bani Saljuk yang semasa dengan al-Zamakhsyari> adalah:
1). Jala>l al-Di>n Abu> al-Fath} Maliksya>h (465-485 H)
2). Na>s}ir al-Di>n Mah}mu>d (485-487 H)
19
Ah}mad Muh}ammad al-H{u>fi>, al-Zamakhsyari> (Kairo: al-Hayřah al-Mis}riyyah al-ŘA<mmah li al-Kita>b, t.th.), h. 8-9.