BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Pemilihan Pertolongan Persalinan
2.2.3. Persalinan dan Permasalahannya
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir atau tanpa usaha dari luar.
b. Persalinan buatan
Persalinan yang dibantu dengan tenaga dari luar, misalnya ekstraksi dengan forceps atau malakukan operasi sectio caesarea.
c. Persalinan anjuran
Persalinan setelah pemecahan ketuban, pemberian oksitosin atau prostaglandin.
Penyebab utama kematian ibu terdiri atas beberapa faktor seperti trias klasik yaitu perdarahan, infeksi jalan lahir dan eklamsia, faktor-faktor lainnya seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, kondisi sosio ekonomi serta ketrampilan petugas kesehatan terutama bidan desa (Santi Martini, 1999)
Penyulit dalam persalinan yang menyebabkan kematian ibu melahirkan adalah:
a. Perdarahan
Perdarahan yang sering terjadi tidak dapat diramalkan sebelumnya. Kematian ibu di Indonesia 28% diakibatkan oleh perdarahan. Perdarahan pasca persalinan adalah perlukaan jalan lahir akibat persalinan sulit, tindakan (vakum forsep) dan bayi besar. Perdarahan pasca persalinan dapat juga disebabkan karena retensio plasenta yaitu tertinggalnya plasenta (sebagian/seluruhnya) setelah bayi lahir, dengan gejalanya rahim berkontraksi baik namun terjadi peradarahan pervaginam, tak lengkapnya plasenta (mungkin teraba jaringan plasenta sisa/selaput ketuban).
b. Eklampsia
Eklampsia adalah kejang pada kehamilan/persalinan/nifas disebabkan oleh perubahan sistem vaskuler (peredaran darah) akibat dari proses kehamilan.
Ditandai dengan peningkatan tekanan darah, edema, proteinuria. Gejala eklampsia adalah hipertensi dimana tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg, sistolik naik lebih dari 30 mmHg, diastolik naik lebih dari 15 mmHg dan edema (bengkak). Eklampsia merupakan 13% penyebab kematian ibu di Indonesia, sedangkan angka rata-rata dunia adalah 12%.
c. Komplikasi aborsi
Abortus/aborsi adalah perdarahan pervaginam akibat pengeluaran hasil konsepsi sebelum usia normal kehamilan (< 20 minggu). Gejalanya hamil muda dan perdarahan banyak. Angka kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman ada 11%.
d. Sepsis
Sepsis suatu keadaan infeksi lanjut sehingga dapat mengganggu sistem sirkulasi, mengganggu fungsi organ tubuh, persalinan yang sulit dan lama, ketuban pecah dini lanjut, penanganan persalinan yang tidak aseptik. Gejalanya adalah suhu badan sangat tinggi, bisa disertai penurunan kesadaran, tensi menurun, nadi cepat, leukositosis. Sepsis sering terjadi karena kebersihan (higiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit infeksi menular seksual. Sepsis terjadi sebanyak 10%.
e. Proses persalinan yang lama
Disproposi cephalopelvic, kelainan letak dan gangguan kontraksi uterus berkontribusi bagi 9% kematian ibu (rata-rata dunia 8%). Pola penyebab kematian di atas menunjukkan bahwa pelayanan obstetrik dan neonatal darurat serta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih menjadi sangat penting dalam upaya penurunan kematian ibu. Walaupun sebagian besar perempuan bersalin di rumah, tenaga terlatih dapat membantu mengenali kegawatan medis dan membantu keluarga untuk mencari perawatan darurat (SDKI, 2003).
Dari data yang ada pada latar belakang menunjukkan bahwa, ada fenomena menarik dimasyarakat, mereka mengetahui dan mampu mengakses pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan namun pada saat persalinan mereka pindah ke layanan dukun. Melihat fenomena ini, tampaknya faktor ekonomi menjadi hambatan utama.
Apalagi fenomena ini hanya terjadi pada bidan yang banyak digunakan oleh masyarakat di pedesaan atau masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah. Para ibu hamil tampaknya harus menyiasati keterbatasan ekonomi yang ada dengan memeriksakan kehamilan pada tenaga kesehatan tetapi melahirkan pada dukun adalah pilihan yang diambil. Selain itu tidak boleh mengabaikan bahwa ternyata dukun masih dipercaya oleh masyarakat dalam membantu persalinan.
Keterbatasan ekonomi juga terlihat dari pilihan tempat persalinan, hampir 60% ibu melahirkan di rumah. Artinya tidak cukup banyak ibu hamil yang ditolong petugas kesehatan yang melahirkan disarana kesehatan, tetapi memilih melahirkan di
rumah. Selain keterbatasan ekonomi, hal-hal lain seperti Puskesmas ataupun klinik bersalin yang jauh, kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk dibawa ketempat pelayanan kesehatan atau alasan lain yang perlu dipertimbangkan untuk melihat permasalahan yang ada di masyarakat.
Persalinan juga mempunyai resiko komplikasi. Berdasarkan hasil survei SDKI, 2003 sekitar 30% ibu melahirkan mengalami komplikasi persalinan yang lama. Di sisi lain 1/3 ibu yang bayinya meninggal dalam masa 1 bulan setelah kelahiran mengalami komplikasi pesalinan yang lama (Buku Referensi Siap antar Jaga, 2006).
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi menaruh minat pada “dunia kehidupan (life word)” pribadi individu dan kelompok, serta bagaimana life word tersebut mempengaruhi motif, tindakan, serta komunikasi mereka (daymon, 2001:218).
Pendekatan fenomenologi akan membantu untuk memasuki sudut pandang orang lain, dan berupaya memahami bagaimana mereka menjalani hidupnya dengan cara tertentu, pemahaman bahwa realitas masing-masing individu itu berbeda.
Dalam penelitian ini, fenomena yang digali adalah pengambilan keputusan keluarga terhadap pemilihan bidan desa sebagai penolong persalinan dikecamatan Samudera Aceh Utara
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah :
a. Berdasarkan dari hasil survei awal bahwa di daerah ini angka cakupan persalinan bidan desa lebih rendah dibandingkan angka cakupan persalinan bidan puskesmas dan bidan swasta.
b. Dukungan dari pihak Dinas Kesehatan dan lintas sektoral untuk peningkatan motivasi kerja bidan desa sebagai upaya peningkatan persalinan dan kesehatan ibu-anak.
c. Keinginan peneliti yang pernah bekerja di Kecamatan Samudera dari Tahun 2002 sampai 2009 untuk menyumbang karya nyata dalam upaya peningkatan motivasi kerja bidan desa sebagai upaya peningkatan persalinan
d. Penelitian pengambilan keputusan keluarga terhadap pemilihan bidan desa sebagai penolong persalinan belum pernah dilaksanakan sebelumnya di Kabupaten Aceh Utara maupun di Propinsi NAD.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai dengan melakukan survei awal, penelusuran pustaka, konsultasi judul dengan ketua program, konsultasi dengan dosen pembimbing, mempersiapkan proposal penelitian, pelaksanaan seminar proposal, pengumpulan data dan penyusunan laporan akhir. Penelitian berlangsung 4 (empat) bulan dilakukan pada awal November 2009.
3.3. Pemilihan Informan Penelitian
Kecamatan Samudera jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan desa ada 22 orang, ibu yang pindah ada 2 orang, 9 ibu setelah melahirkan kembali kerumahnya di kecamatan lain, 13 ibu yang ada di kecamatan Samudera.
Karena penelitian kualitatif menuntut suatu pemberian informasi yang mendalam berkaitan dengan objek atau permasalahan penelitian, oleh sebab itu tidak memungkinkan untuk mengambil subjek penelitian dengan jumlah banyak.
Dalam pemilihan informan ada beberapa jenis informan yang digunakan diantaranya: informan kunci (key informan), adalah informan yang pertama kali dijumpai untuk memperoleh data atau informasi tentang keluarga yang member pengaruh pengaruh pengambilan keputusan pada ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan dan proses pengambilan keputusan keluarga pada ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan. Adapun yang menjadi informan kunci antara lain; kepala Puskesmas, bidan koordinator, bidan desa dan kader posyandu. Informan pokok adalah informan yang mengetahui pemberi pengaruh pada pengambilan keputusan keluarga pada bidan desa sebagai penolong persalinan, adapun yang menjadi informan pokok adalah ibu yang bersalin dengan bidan desa dan anggota keluarganya (suami, orangtua, mertua, kakak dan sepupu).
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap informan dengan mendatangi informan ke tempat tinggalnya. Kunci keabsahan dilakukan dengan teknik triagulasi data. Peneliti akan memastikan bahwa catatan harian wawancara dengan informan dan catatan harian observasi telah terhimpun.
Kemudian dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian untuk
memastikan tidak ada informasi yang bertentangan dengan catatan harian wawancara.
Proses triagulasi dilakukan terus menerus sepanjang proses pengumpulan data dan analisis data,sampai suatu saat peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasikan kepada informan (Bugin, 2007:252).
Alat bantu yang digunakan dalam proses pengumpulan data yaitu alat tulis,
`notebook’ dan tape recorder. Data hasil wawancara umumnya ditulis langsung di tempat penelitian dalam bentuk tulisan-tulisan singkat. Tulisan-tulisan singkat ini kemudian dikembangkan ke dalam bentuk `field note’.
Data primer pertama yang ingin diketahui adalah tentang pemberi pengaruh pengambilan keputusan keluarga pada ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan (walaupun tetap tidak mengesampingkan data-data yang lain).
3.5. Metode Analisis Data
Hal yang ingin dicapai dalam melakukan analisa data kualitatif adalah menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena dan memperoleh gambaran tuntas terhadap proses tersebut, serta menganalisis makna yang ada dibalik informasi, data, dan proses suatu fenomena.
Penganalisaan data dilakukan dengan tehnik “on going analysis” yaitu analisis yang terjadi dilapangan berdasarkan data-data yang diperoleh, dan secara countiguous causation-nya (Vayda, 1996 dalam Zuska, 2008:55). Kemudian data-data ini dikelompokan sesuai dengan tahapan yang dilalui ibu dari alasan/penyebab, proses mengapa keputusan keluarga memilih bidan desa sebagai penolong persalinan.
Pengelompokan data ini untuk memudahkan dalam menuangkan data-data tersebut kedalam bentuk tulisan dan juga akan mempermudah penulis untuk mengetahui data-data mana yang masih kurang dan informan mana yang harus diwawancarai kembali sehingga penulis segera kembali ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan wawancara kepada informan yang dimaksud.
Proses trianggulasi data berlangsung dengan sendirinya, ketika data yang diberikan salah satu informan dirasakan masih kurang jelas untuk menggambarkan situasi yang terjadi, maka informasi yang diperoleh dari informan lain ”secara tidak sengaja” akan memberikan penjelasan kepada penulis sehingga data yang diperoleh sebelumnya layak disertakan dalam kajian penulisan ini. Jadi, proses triangulasi data selalu berlangsung dan keputusan tetap berada pada penulis.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum
4.1.1. Sejarah Kabupaten Aceh Utara
Sejarah Aceh Utara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.
Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959.
Pada tahun 1999 Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari 26 Kecamatan dimekarkan lagi menjadi 30 kecamatan dengan menambah empat kecamatan baru berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999. Seiring dengan pemekaran kecamatan baru tersebut, Aceh Utara harus merelakan hampir sepertiga wilayahnya untuk menjadi kabupaten baru, yaitu Kabupaten Bireuen berdasarkan
Undang Undang Nomor 48 Tahun 1999. Wilayahnya mencakup bekas wilayah Pembantu Bupati di Bireuen.
Kemudian pada Oktober 2001, tiga kecamatan dalam wilayah Aceh Utara, yaitu Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat dijadikan Kota Lhokseumawe. Saat ini Kabupaten Aceh Utara dengan luas wilayah sebesar 3.296,86 Km2 dan berpenduduk sebanyak 477.745 jiwa membawahi 27 kecamatan, 2 kelurahan, dan 850 gampong/desa.
4.1.2. Kondisi Geografis Kabupaten Aceh Utara
Kabupaten Aceh Utara sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang terletak di bagian pantai pesisir utara pada 96.52.00o - 97.31.00o Bujur Timur dan 04.46.00o - 05.00.40o
Kabupaten Aceh Utara memiliki wilayah seluas 3.296,86 Km Lintang Utara.
2
1. Sebelah Utara dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka;
dengan batas-batas sebagai berikut :
2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bener Meriah;
3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Timur;
4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Bireuen.
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Aceh Utara
Luas wilayah tersebut terbagi ke dalam 27 wilayah kecamatan dengan luas masing-masing kecamatan sebagaimana disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.1 Luas Wilayah Kabupaten Aceh Utara Menurut Kecamatan No. Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Persentase
1. Sawang 384,65 11,67
2. Nisam 193,47 5,87
3. Nisam Antara 30,00 0,91
4. Banda Baro 18,00 0,55
5. Kuta Makmur 151,32 4,59
6. Simpang Keramat 79,78 2,42
7. Syamtalira BA 75,36 2,29
Tabel 4.1. (Lanjutan)
Sumber : BPS, Aceh Utara Dalam Angka, 2007
Kabupaten Aceh Utara memiliki curah hujan rata-rata 86,9 mm per tahun dengan hari hujan rata-rata sebanyak 14 hari per bulan. Curah hujan tertinggi rata-rata terjadi setiap tahunnya pada bulan Mei. Kecepatan angin rata-rata 5 knots, dan maksimum 14,66 knots dengan arah angin terbanyak dari Timur Laut dengan temperatur maksimum 34,0oC dan minimum 19,6o
4.1.3. Kondisi Sosial Budaya Kabupaten Aceh Utara C.
Kondisi sosial budaya daerah yang meliputi penduduk dan tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, dan keluarga berencana, merupakan faktor penunjang bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Utara.
Pada tahun 2007, penduduk Kabupaten Aceh Utara berjumlah 515.974 jiwa.
Mereka terdiri atas 252.889 jiwa laki-laki dan 263.085 jiwa perempuan, serta tersebar di 27 kecamatan. Jumlah ini meningkat 1,75 % dibanding tahun 2005 (masih berjumlah 493.670 jiwa). Penduduk terbanyak dijumpai di Kecamatan Lhoksukon, Dewantara, Tanah Jambo Aye, Nisam, Sawang, dan Baktiya, sedangkan kecamatan yang berpenduduk relatif kecil adalah Kecamatan Simpang Keramat dan Nibong.
Jumlah penduduk miskin menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara mencapai angka 49,28 %, dengan mayoritas bermata pencaharian pada bidang pertanian. Penanggulangan kemiskinan masih belum menunjukkan perubahan yang tercermin dengan (1). Belum optimalnya pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau; (2). Masih adanya anak miskin yang putus sekolah; (3). Belum terciptanya kesempatan berusaha dan bekerja yang merata; (4). Belum tertanggulanginya rumah layak huni bagi kaum dhuafa; (5). Jangkauan penyediaan air bersih belum merata; (6). Masih rendahnya partisipasi masyarakat miskin dalam proses pembangunan.
Data yang ada memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak masih relatif tinggi, yaitu sebanyak 154.726 jiwa atau sebesar 42,21 % dari jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2006. Sedangkan penduduk yang bekerja pada 1.130 lapangan usaha dan tertampung pada 9 sektor usaha hanya 23.112 jiwa. Di antaranya sebanyak 8.626 jiwa bekerja di sektor bangunan, 5.371 jiwa di sektor industri pengolahan, 3.218 jiwa di sektor
sektor pertanian, 1.187 jiwa di sektor keuangan dan sewa bangunan, 958 jiwa di sektor listrik, gas dan air minum, 722 jiwa di sektor jasa kemasyarakatan dan 495 jiwa bekerja di sektor pengangkutan dan komunikasi. Selebihnya merupakan para penganggur dan bekerja sebagai buruh dan lain dengan upah yang pas-pasan.
Secara resmi, jumlah pengangguran di Kabupaten Aceh Utara saat ini mencapai 78.893 orang yang tersebar di Kecamatan Matangkuli sebanyak 17.306 jiwa, Kecamatan Kuta Makmur sebanyak 11.490 jiwa, Tanah Luas 11.362 jiwa, Samudera 10.967 jiwa, Dewantara 10.422 jiwa, Muara Batu 8.954 jiwa, dan Kecamatan Sawang sebanyak 8.392 jiwa.
Kondisi pendidikan di Kabupaten Aceh Utara relatif memadai untuk semua jenjang pendidikan. Jumlah prasarana dan sarana pendidikan yang tersedia telah mengalami penambahan yang signifikan. Pendidikan TK telah tersedia dihampir semua kecamatan, kecuali Kecamatan Simpang Keuramat, Paya Bakong, Nibong, dan Kecamatan Tanah Pasir (belum memiliki sekolah Taman Kanak-kanak). Pendidikan dasar dan menengah, baik pendidikan umum maupun agama, juga telah relatif memadai. Meskipun demikian, penambahan prasarana/sarana pendidikan dan upaya peningkatan kualitas pendidikan harus dijadikan prioritas oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada masa depan.
Capaian bidang pendidikan hingga semester pertama tahun 2008 diperoleh dengan rumusan yang meningkat secara bertahap hingga akhir tahun adalah sebagai berikut : (1). Peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) murid dengan tingkat pencapaian masing-masing : SD dari 110 % menjadi tetap 110 %; SLTP dari 87,22 %
menjadi 90 %; dan SLTA dari 57,9 % menjadi 60 %; (2). Peningkatan Angka Partisipasi M (APM) murid dengan tingkat pencapaian masing-masing : SD dari 89,84 % menjadi 95 % SLTP dari 64,96 % menjadi 70 % dan SLTA dari 38,96 % menjadi 45 %.
Derajat kesehatan masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan yang ingin diwujudkan. Untuk itu pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah menyediakan berbagai prasarana dan sarana kesehatan. Prasarana kesehatan yang tersedia saat ini adalah 1 unit Rumah Sakit Umum Cut Meutia, 25 unit puskesmas, 900 unit posyandu, 431 polindes, 87 unit puskesmas pembantu, dan 23 unit puskesmas keliling. Untuk menghindari terjadinya jangkitan penyakit pada masa mendatang, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah mengambil langkah dan kebijakan seperti mempersiapkan sarana kesehatan dan tenaga medis yang memadai.
Pencapaian hingga semester pertama dengan rumusan hingga akhir tahun 2008 sedang dilaksanakan peningkatan bertahap sebagai berikut : (1). Pelayanan kesehatan ibu dan bayi 83,3 %; (2). Pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia sekolah 43,3 %; (3). Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 83,1 %;
(4). Pelayanan hygiene sanitasi di tempat umum 49 %; (5). Pelayanan kesehatan lingkungan 90 %.
4.1.4. Kondisi Ekonomi Kabupaten Aceh Utara
Perekonomian Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 2,79 %, relatif lebih baik kecil jika dibandingkan dengan tahun
sekarang ini menunjukkan bahwa perekonomian dari tahun ke tahun relatif stabil sehingga kemampuan daya beli masyarakat juga stabil walaupun barang dan jasa mudah didapat di pasaran serta lapangan kerja tetap terbuka.
Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi regional Kabupaten Aceh Utara dapat diketahui pada nilai yang tercermin dari besaran PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dari tahun ke tahun baik menurut harga berlaku maupun harga konstan. Pada tahun 2007 besaran PDRB dengan minyak dan gas atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kabupaten Aceh Utara secara agregat adalah sebesar Rp.
6.033.733.820.000,- yang menunjukkan adanya penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai Rp. 7.445.313.400.000,- sehingga terjadi pertumbuhan negatif sebesar 18,96 %. Adapun untuk tahun 2007 besaran PDRB tanpa minyak dan gas atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kabupaten Aceh Utara adalah sebesar Rp.
2.281.837.800.000,- yang relatif menurun jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai Rp. 2.219.976.070.000,- sehingga pertumbuhannya sebesar 2,79 %.
Karakterisktik Kabupaten Aceh Utara sebagai daerah agraris membawa konsekuensi terhadap perkembangan struktur perekonomian yang mengarah kepada semakin siginifikannya peranan sektor primer (sektor pertanian) terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2007 memberikan konstribusi sebesar 47,75 %, diikuti oleh sektor jasa 13,75 %, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 13,29 %, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 8,61 %, sektor industri pengolahan sebesar sebesar 8,43 %, dan sektor bangunan/konstruksi sebesar 5,86 %
serta sektor lainnya yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik dan air minum, dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di bawah 5 %.
Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Aceh Utara secara menyeluruh tidak terlepas dari dukungan pertumbuhan sektoral. Pada tahun 2007 seluruh sektor mengalami pertumbuhan yang bervariasi, yaitu sektor pertanian tumbuh sebesar 2,47%, sektor pertambangan dan penggalian 4,12%, sektor industri pengolahan 3,11%, sektor listrik dan air minum 2,48%, sektor bangunan konstruksi 7,32%, sektor perdagangan, hotel dan restoran 6,73%, sektor pengangkutan dan komunikasi - 3,02%, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan -55,06%, dan sektor jasa-jasa tumbuh sebesar 2,97%.
Jumlah kecamatan yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 27 kecamatan dengan jumlah desa 852. Jumlah penduduk berdasarkan data terakhir sebanyak 447.694 jiwa terdiri dari 219.034 laki-laki dan 228.666 perempuan.
Sarana pelayanan kesehatan yang tersedia di wilayah Kabupaten Aceh Utara terdiri dari sarana pelayanan kesehatan dasar yang ditujukan sebagai tempat pemberian pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Jumlah sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupateten Aceh Utara terdiri dari 25 unit puskesmas, 900 unit posyandu, 431 polindes, 87 unit puskesmas pembantu, dan 23 unit puskesmas keliling. Komposisi tenaga kesehatan berdasarkan tingkat pendidikan di puskesmas dalam Kabupaten Aceh Utara yang paling banyak adalah tenaga bidan yaitu sebanyak 785 orang, dari jumlah tersebut sebanyak 542
Tabel 4.2 Sarana Kesehatan di Kabupaten Aceh Utara
Jenis Tenaga Jumlah Persen
Dokter Umum 30 2,5
Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, 2006
4.2. Kecamatan Samudera
4.2.1. Kondisi Geografis Kecamatan Samudera
Penelitian tentang pengambilan keputusan keluarga terhadap pemilihan bidan desa sebagai penolong persalinan di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara di lakukan di Kecamatan Samudera yang memiliki 40 desa dengan luas wilayah 4.328 Ha, dan mempunyai 3 kemukiman, yaitu :
- Kemukiman Blang Mee - Kemukiman Langgahan - Kemukiman Madan
Kecamatan Samudera mempunyai batas wilayah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara dengan Kecamatan Meurah Mulia
2. Sebelah Selatan dengan Kecamatan Tanah Luas 3. Sebelah Timur dengan Kecamatan Aron
4. Sebelah Barat dengan Kecamatan Syamtaliva Bayu
Gambar 4.2. Peta Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara
4.2.2. Gambaran Penduduk Kecamatan Samudera
Sedangkan jumlah penduduk dan luas wilayah dalam Kecamatan Samudera dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah di Kecamatan Samudera Tahun 2009
No Gampong / Keluarahan
Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas Wilayah
Tabel 4.3. (Lanjutan) Sumber : Profil Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara tahun 2009.
Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa Kecamatan Samudera memiliki wilayah bukan sawah lebih luas dari wilayah sawah dan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki.
Penduduk di Kecamatan Samudera memiliki jenis mata pencaharian beragam, tetapi yang paling besar adalah petani, seperti terlihatan pada Tabel 4.4 berikut :
Tabel 4.4. Rekapitulasi Kependudukan di Kecamatan Samudera
No
Gampong / Kelurahan
Jumlah
Awal Pendidikan Mata Pencaharian
L P TK SD SL
9 Gampong
Sumber: Profil Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara tahun 2009.
Tabel 4.4 (Lanjutan)
4.2.3. Kebudayaan
Menurut E.B. Taylor, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut R. Linton kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil dari tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
Masyarakat Aceh pada umumnya sangatlah percaya dan patuh terhadap budaya, salah satunya adalah budaya madeueng dan budaya peuciciap. Budaya madeueng, jika seseorang perempuan akan bersalin mulailah diadakan persiapan seperlunya untuk menanti kedatangan bayi.
Mula-mula suaminya menyediakan tunggul-tunggul kayu yang baik yang akan
Mula-mula suaminya menyediakan tunggul-tunggul kayu yang baik yang akan