• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. PEMBAHASAN

5.3. Proses Pengambilan Keputusan Keluarga pada Ibu yang

Biasanya sudah sejak lama direncanakan bagaimana proses persalinan yang akan dijalankan oleh ibu tersebut. Proses yang dilakukan dimulai dari keinginan sendiri ibu tersebut menentukan ingin melakukan proses persalinan di bidan desa, lalu merundingkannya dengan suami atau orang tua. Setelah suami dan atau orang tua setuju biasanya proses persalinanpun dilakukan di bidan desa sesuai dengan keinginan ibu, dengan berbagai pertimbangan yang ada di dalam keluarga. Biasanya mengikuti saja keinginan ibu tersebut untuk melahirkan di bidan desa.

Keluarga yang mempunyai kedekatan yang tinggi dengan suaminya, maka sebelum memilih penolong persalinan merundingkannya terlebih dahulu dengan

suaminya. Sedangkan pada keluarga dengan hubungan sistem terlepas, sebelum memilih penolong persalinan merundingkan terlebih dahulu antara ibu dan orang tua.

Saran dari keluarga yang member pengaruh pada ibu menjadi pertimbangan oleh Ibu dan Suaminya atau oleh ibu dan orang tuanya.

Hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan antara ibu dan suami atau ibu dan orang tua adalah :

1. Saran anggota keluarga yang memberi pengaruh pengambilan keputusan pada ibu yang memilih bidan desa.

Keadaan ini dapat dilihat dari narasi berikut ini:

”Buk N kan bidan desa kami, dia tinggal ditempat. Kalo aku bersalin sama buk Nur bisa dipanggil kerumah jadi keluargaku tidak berapa repot. Kalo melahirkan dirumah sakit jadi jauh dari rumah kasian mertuaku. Mertua menyuruh melahirkan sama buk Nur karena dekat rumah. Aku bilang sama suamiku, dia setuju aku melahirkan sama buk Nur. Aku, suami dan mertua sepakat melahirkan sama buk Nur ”, tutur Iriati.

“Suami sudah meninggalkan saya sekitar 3 tahun ini, hampir tidak pernah pulang kadang-kadang dia pulang juga untuk ganti baju. Sama mamak saja saya berunding untuk melahirkan sama buk A, karena bisa melahirkan dirumah. Jadi mamak sama kakak ngak payah ngurus anak-anak. Suami masih mau bayar biaya buk A. Saya sama mamak sepakat melahirkan sama buk A saja” ujar Ra.

“Kami mau sama buk Nur karena mau melahirkan dirumah, kalo sudah sakit suami tinggal panggil, jadi suami ngak payah lagi karena ngawani saya melahirkan dirumah. Anak-anak kurang bertingkah kalo lihat saya ada dirumah biarpun sakit, suami ngak capek kali jaga anak-anak. Biaya melahirkan sama buk N murah suamicukup uangnya untuk bayar. Saya dan suami sepakat melahirkan di buk Nur”, kata J

2. Akses pelayanan bidan desa yaitu:

a. Jarak

Jarak rumah bidan desa dari tempat tinggal ibu yang dekat.

Keadaan ini dapat dilihat dari narasi berikut ini:

”Buk N kan bidan desa kami, dia tinggal ditempat. Kalo aku bersalin sama buk N bisa dipanggil kerumah jadi keluargaku tidak berapa repot. Kalo melahirkan dirumah sakit jadi jauh dari rumah kasian mertuaku, tambah repot menjaga anak-anak karena anak-anak ngak nampak aku” tutur I.N.

Kondisi yang sama juga terjadi keluarga S.M., keluarganya dengan mudah mengakses pelayanan bidan N. Hal ini dapat digambarkan dengan narasi berikut ini:

”Buk N bidan desa saya, dia tinggal didesa. Enak melahirkan dengan buk N.

Kalo melahirkan di rumoh sakit, sayang mamak saya jadi payah ngurus anak-anak. Dengan buk N melahirkan bisa dirumah” tutur S.M.

Hal yang sama juga terjadi pada keluarga M, akses geografis yang terjangkau jadi bahan pertimbangan dalam memiilih bidan desa. Narasi ini dapat menggambarkannya:

”Buk A dekat rumah, enak melahirkan dirumah ngak payah kalo sakit tinggal panggil buk A. Kalo melahirkan dirumoh sakit payah naek motor lagi” tutur M .

b. Biaya persalinan murah

Keadaan ini dapat dilihat dari narasi berikut ini:

”Penghasilan suami saya cuma tigaratus ribu, untuk biaya persalinan tidak cukup kalo menharap suami saja. Orang tua saya ikut membantu biayanya.

Kalo ditempat buk A bisa murah uang kami cukup. Jadi saya bersalin ditempat buk A aja, ngak seperti anak saya yang kesatu sampe tiga sama dukun”, kata S.

Demikian juga yang tergambarkan pada narasi berikut ini yang terjadi pada keluarga I.N. adalah:

“Uang bulananku cuma lima ratus ribu. Kami hidup pas-pasan. Buk N lebih murah uang kami cukup. Jadi aku bersaliken ditempat buk aja, sejak pindah dari Medan kedua anakku yang lahir di Aceh sama buk N semua”, kata I.N.

Dari hasil penelitian didapati bahwa biaya persalinan murah apabila menggunakan jasa bidan desa sebagai penolong persalinan. Narasi dibawah ini adalah pengungkapan oleh ibu-ibu yang menganggap bersalin dengan bidan desa dengan biaya murah :

”Saya dan keluarga memilih bersalin dengan buk Nu karena lebih murah, kalo yang laen mahal. Bersalin dengan buk Nu cuma Rp 300.000, jadi untuk biaya melahirkan dibantu orang tua. Kalo melahirkan sama yang lain paling sikit Rp 500.000 suami ngak mampu, orangtuapun ngak sanggup,” kata S.M.

Hal hampir sama terjadi pada keluarga M. Hal ini tergambar dari narasi sebagai berikut:

”Saya dan ibu memilih buk A untuk melahirkan karena biaya persalinan tidak tinggi. Sekarang suami tinggal dirumah mertua. Uang untuk keluarga dan anak tidak dikirim. Karena ongkos melahirkan Rp 300.000 mamak masih sanggup”, kata M.

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi pada keluarga S.M. Hal ini dapat digambarkan dengan narasi sebagai berikut:

”Kalau berobat dengan buk Nu tidak ada uang juga mau diobati. Kalo bersalin dengan buk Nu ngutang dulu juga bisa dan lebih murah. Biaya melahirkan sama buk Nu Rp 300.000”, kata Ma. Saya melahirkan anak yang ke tujuh pada tanggal 22 desember 2008. Pendapatan keluarganya Rp 500.000 sehingga biaya persalinan ditanggung suami bersama orang tuanya. Biaya melahirkan sama buk Nu Rp 300.000. Jadi waktu melahirkan mamak bayar seratus ribu sisanya ngutang dulu, tunggu ada uang baru suami bayar sisanya.” Kata S.M.

c. Budaya

Bidan desa sudah mengikuti budaya keluarga.

Keadaan ini dapat digambarkan dengan narasi sebagai berikut:

”Buk Nu orangnya baik dan ramah. Buk Nu sering ikut pengajian di Meunasah. Sebelum ditolong sama buk Nu keluarga kami sudah kenal duluan, kakak saya juga melahirkan dengan buk Nur. Enak kalo melahirkan dengan buk Nu. Kalo saya mau melahirkan mamak selalu kasih air rumput Patimah punya nenek dulu. Buk N juga punya, waktu sakit melahirkan buk N juga kasi saya air rumput Patimah ”, ujar S M.

Hal yang hampir sama terjadi pada keluarga S. Hal ini dapat digambarkan pada narasi berikut ini:

“Buk A selalu sopan dan ramah sama kami. Banyak keluarga kami yang bersalin sama buk A. Kalo bersalin dengan buk A kita nyaman dan suka dikasih makanan waktu melahirkan sama buk A. Waktu periksa hamil buk A suruh saya minum minyak makan 1 sendok tiap hari. Biar gampang lahir bayinya katanya. Jadi mama buat minyak kelapa untuk saya,” kata S.

d. Kepercayaan

Bidan desa sudah dipercaya keluarga.

Narasi berikut ini adalah keadaan yang menggambarkannya adalah :

“Buk N dekat rumah kami, selain melahirkan anakku, mertuapun berobat sama buk N karena sudah serasi. Kbpun buk N bisa. Karena kami sudah percaya jadi melahirkan ditolong buk N. KBpun buk N bisa”, kata I.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada keluarga Ma. Narasi yang menggambarkan keadaan ini adalah:

”Melahirkan dengan buk N enak, kakak saya juga sama buk Nu. Kami sudah percaya dengan buk Nu. Buk Nu bisa mengobati penyakit anak-anak dan semua umur, “kata Ma.

e. Norma

Bidan desa sudah sesuai norma yang berlaku dimasyarakat dalam melakukan persalinan.

Narasi yang dapat menggambarkan keadaan ini adalah:

“Buk N dekat rumah kami, selain melahirkan anakku, mertuapun berobat sama buk N karena sudah serasi. Kbpun buk N bisa. Melahirkan sama buk N memuaskan. Karena sudah percaya jadi melahirkan ditolong buk N. KBpun buk N bisa”, kata I.N.

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi pada keluarga Ma Narasi yang menggambarkannya adalah:

“Melahirkan dengan buk Nu enak, kakak saya juga sama buk Nu. Kami sudah percaya dengan buk Nu. Buk Nu bisa mengobati penyakit anak-anak dan semua umur. Nyaman kita kalo melahirkan dengan buk Nu”, kata Ma.

Hal yang hampir sama terjadi pada keluarga S. Hal ini tergambar pada narasi berikut ini:

“Buk A selalu sopan dan ramah sama kami. Banyak keluarga kami yang bersalin sama buk A. Kalo bersalin dengan buk A kita nyaman dan suka dikasih makanan. Mau melahirkan dengan buk A kalo ngak ada uang bisa utang dulu”, kata S.

f. Pengetahuan Bidan Desa

Pengetahuan bidan yang cukup baik dan pelayanan kesehatan yang diberikan penolong sudah sesuai dengan harapan ibu dan keluarga.

Keadaan ini digambarkan dengan narasi sebagai berikut :

“Buk N dekat rumah kami, selain melahirkan anakku, mertuapun berobat sama buk N karena sudah serasi. Kbpun buk N bisa. Karena sudah percaya jadi melahirkan ditolong buk N. KBpun buk N bisa”, kata I.N.

Keadaan yang hampir sama terjadi pada keluarga Ma. Hal ini dapat digambarkan dengan narasi sebagai berikut :

”Melahirkan dengan bu Nu enak, kakak saya juga sama buk Nu. Kami sudah percaya dengan buk Nu Buk Nu bisa mengobati penyakit anak-anak dan semua umur, “kata Ma.

Hal yang hampir sama terjadi pada keluarga J. Hal ini dapat digambarkan oleh narasi berikut ini:

”Melahirkan dengan buk Nu enak, kakak saya juga sama buk Nu. Kami sudah percaya dengan buk Nu. Buk Nu bisa mengobati semua penyakit, KB bisa juga sama buk Nu,“ kata J.

Hal yang hampir sama dijumpai pada keluarga R. Narasi yang menggambarkannya adalah:

“Saya lebih memilih bidan desa dalam melakukan persalinan. Selama ini saya melakukan pengecekan kehamilan kepada bidan desa. Menurut saya lebih mengetahui tentang kesehatan, kehamilan dan persalinan, lebih baik dari dukun kampung,” ujar R.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada keluarga Ra. Narasi yang dapat menggambarkannya adalah:

“Lebih baik bersalin pada bidan desa, orang gampong sini juga lebih sering berobat kebidan desa untuk periksa hamil dan melahirkan, lebih aman saja jika ditolong bidan desa. Mereka makan sekolahan jadi lebih tau tentang kesehatan. Kalo datang nolong melahirkan buk A bAwa tas yang isinya alat-alat utk melahirkan dan obat,” kata S.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut ibu dan suami atau ibu dan orang tua berunding untuk memutuskan melahirkan dengan pertolongan bidan desa.

Salusu, J. (1996) mendefenisikan keputusan sebagai sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain dikesampingkan.

Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi (Salusu, J., 1996).

Parson mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang kreatif, aktif dan evaluatif, dalam memilih alternatif tindakan dalam mencapai tujuan (Ritzer, 2004:71). Begitu juga dalam menentukan tempat persalianan antara tenaga medis atau dukun beranak yang ada didaerah mereka masing-masing dalam kondisi terdesak atau gawat dengan pengambilan keputusan secara rasional melalui pertimbangan-pertimbangan. Karena mereka juga mempertimbangkan jarak tempuhnya, biayanya, kenyamanannya, serta obatnya.

Begitu juga dalam teori aksi yang dikenal sebagai teori bertindak pada mulanya dikembangkan oleh Max Weber berpendapat bahwa tindakan didasarkan atas pengalaman, persepsi, pemahaman dan penafsirannya, atas suatu objek stimulus atau situasi tertentu. Tindakan individu ini merupakan tindakan sosial yang rasional, yaitu mencapai tujuan atau sasaran dengan sarana-sarana yang paling tepat (Sarwono, 1997:30). Begitu juga dengan pemilihan tempat untuk bersalin, para pasien bebas untuk menentukannya dengan pertimbangan yang rasional.

Weber mengatakan bahwa tindakan sosial berkaitan dengan interaksi sosial, sesuatu tidak akan dikatakan tindakan sosial jika individu tersebut tidak mempunyai

dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Tindakan rasional menurut Weber pertimbangan sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Weber membagi rasionalitas tindakan kedalam empat macam, yaitu rasionalitas instrumental, rasionalitas yang berorientasi nilai, tindakan rasional, dan tindakan afektif. Rasionalitas intrumental sangat menekankan tujuan tindakan dan alat yang dipergunakan dengan adanya pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam melakukan tindakan sosial. Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau nilai akhir baginya (www.geocities.com/jurnalindonesia/sosiologi-profeyik.htl

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan peneliti, maka faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan keluarga terhadap pemilihan bidan desa sebagai penolong persalinan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pengaruh keluarga dalam pengambilan keputusan ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan adalah:

a. Kedekatan antara anggota keluarga yang erat

b. Peran individu dalam pengambilan keputusan keluarga adalah sebagai pemberi pengaruh yaitu suami, orang tua dan mertua, kakak dan sepupu.

Dan sebagai pengambil keputusan yaitu ibu dan suami atau ibu dan orang tua.

2. Akses terhadap pelayanan bidan desa yang mempengaruhi pengambilan keputusan keluarga terhadap pemilihan bidan desa sebagai penolong persalinan, yaitu :

a. Akses geografis yang terjangkau b. Akses ekonomi yang terjangkau

c. Akses sosial budaya yang dapat diterima oleh masyarakat.

3. Pasangan hidup berperan dalam pengambilan keputusan keluarga pada ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan.

Struktur peran pasangan hidup dalam pengambilan keputusan adalah bersama-sama oleh suami atau istri

4. Proses pengambilan keputusan keluarga pada ibu yang memilih bidan desa sebagai penolong persalinan. Proses yang dilakukan dimulai dari keinginan ibu untuk melakukan proses persalinan di bidan desa, lalu merundingkannya dengan:

a. Suami b. Orang tua

c. Suami dan orang tua d. Suami dan mertua

Setelah suami dan mertua setuju biasanya proses persalinanpun dilakukan di bidan desa sesuai dengan keinginan ibu sendiri.

6.2. Saran

Saran yang dapat diberikan peneliti antara lain:

1. Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara

a. Dapat dijadikan sebagai masukkan dalam mengambil kebijakan dalam menempatkan dan membina bidan desa sehingga bidan desa mudah diakses oleh masyarakat dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi.

b. Dalam pengangkatan bidan PTT sebaiknya memperhatikan pendidikan bidan desa yang akan diterima, yaitu pendidikan Akademi Kebidanan.

2. Kepada Puskesmas Samudera

a. Agar dapat lebih memperhatikan keberadaan bidan desa yang ada di setiap desa untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

b. Agar memperhatikan kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan yang dibutuhkan para bidan desa..

c. Agar memperhatikan hak/ kesejahteraan para bidan desa dalam wilayah kerja Puskesmas Samudera.

3. Kepada Bidan Desa

a. Lebih meningkatkan kebersihan tempat dan alat persalinan untuk melahirkan di rumah pasien.

b. Tetap melaksanakan tugas secara profesional dan tetap memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik untuk masyarakat desa.

c. Tinggal di desa tempat tugas agar masyarakat mudah dalam mengakses pelayanan bidan desa saat dibutuhkan..

4. Kepada Masyarakat

Agar memanfaatkan keberadaan bidan desa yang ada untuk membantu dalam proses kehamilan, persalinan dan masa nifas.

DAFTAR PUSTAKA

Adhani, 2002. Program Keluraga Berencana pada Wanita. Pusat Studi Wanita Universitas Widya Mandala Madiun.

Aditya, 2002. Upaya Menekan Angka Kematian Ibu. Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta.

Admin 5c, 2008, Peran Suami Dalam Persiapan Persalinan Aman, Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta : 2-3.

Anwar, M, 2003. Klinik Reproduksi untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu.

Jakarta.

Aplikasi Metode Kualitatif dalam Penelitian Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia bekerjasama denagan CIMU Healht The British Council, Depok, Tahun 2000.

Arikunto, Suharsimi, 1990, Manajemen Penelitian Edisi Baru, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Aryanti, 2002. Keberadaan Dukun Bayi sebagai Penolong Persalinan. Bandung.

Azwar A., 1999. Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan (Aplikasi Prinsip Lingkungan Pemecahan Masalah). Yayasan Penerbit IDI, Jakarta.

Beth, Yeni, 2008, Konsep Keluarga : 1.

Buku Referensi Siap Antar Jaga,Tahun 2006 : 20-21,24,31.

Bungin, Burhan, M., H., 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bungin, Burhan, M., H., 2008, Penelitian Kualitatif, Kencana Media Group.

Cholil, A., 2004. Keterbatasan Mangakses Pelayanan Kesehatan, Jakarta.

Cordata, J.W., 1996. Total Quality Management. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

Danim, Sudarwan, 2000, Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Cetakan kedua, PT Bumi Aksara.

Darwizar, A., 2002. Manajemen Terpadu Bayi Muda dan Manajemen Terpadu Bahta Sakti, Suara Pembaharuan, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1990, Panduan Bidan Tingkat Desa, Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

____, 1990. Buku Saku Bidan Desa. Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

____, 1990. Wewenang Bidan. Peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/

Per/IX/1990, Jakarta.

____, 1993. Pedoman Pelatihan Dukun Bayi. Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Kesehatan Keluraga, Jakarta.

____, 1999. Visi dan Misi ”Indonesia Sehat 2010”, Jakarta.

____, 1999, Indonesia Sehat 2010

____, 2012. ARRIME, Pedoman Manajemen Puskesmas, Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi, Jakarta.

____, 2005, Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta : Depkes RI.

Dinkes, Kab. Aceh Utara, 2007, Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, Lhokseumawe : Dinkes Kab. Aceh Utara.

____, 2008-2013, Renstra Kesehatan Aceh Utara, Lhokseumawe : Dinkes Kab Aceh Utara.

Dinkes, Prov. NAD, 2008, Profil Kesehatan Provinsi Aceh Nanggroe Darussalam : 27,5 : Dinkes Prov. NAD.

Djoko, Wijono, 199. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Airlangga University Press, Surabaya.

Earl Babbie, 2006, Menerapkan Metode Penelitian Survai untuk Ilmu-Ilmu Sosial, Palmall, Jogjakarta.

Engel, F., James, Blackwell, D., Roger, Winiard, W., Paul, 1994, Perilaku Konsumen, Binarupa Aksara.

Fishbein dan Azjen, 1975. Belief, Attitude, Intention and Behavior. An Introduction to Theory and Research, Addison-Wesley Publising Company.

James, F. Engel, dkk., Perilaku Konsumen, Binarupa Aksara, 1994.

Kalangie, dkk, 1994, Kebudayaan & Kesehatan, Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer Melalui Pendekatan Sosio budaya, Kesaint Blanc, Jakarta.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131 / Menkes / Sk/ II / 2004 Tgl 10 Februari 2004 Tentang Sistem Kesehatan Nasional, 2004.

____, Nomor 900 / Menkes / Sk / VII / 2002 Tentang Registrasi Dan Praktik Bidan, 2002 : 20-24.

Koesno, 2003. Profesi Bidan di Indonesia Dibutuhkan, Tapi Diacuhkan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Jakarta.

Kompas, 2003. Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, Jakarta.

Kurniawati, Nita, 2005. Apa Dan Mengapa Buku Kia.

Manuaba IBG, 2002, Konsep Obstetri Dan Ginekologi Sosial Indonesia, EGC,Jakarta.

____, 1998, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Kelnarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC,Jakarta.

Mar'at. R, 2000, Manusia dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta

Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Peberbit EGC, Jakarta.

Moleong, J., Lexy, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatf, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Mudjijono, Wibowo, Josep, Herman, Muryantoro Hisbaron, Budi, Sulistyo, Murtolo, Ali, Sudarmo, 1997, Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Notoadmodjo. S, 1993, Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Prilaku Kesehatan, Andi Offset, Yogyakarta.

____, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

____, 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta.

Panduan Penulisan Proposal Penelitian dan Tesis, Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, Tahun 2007.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengangkatan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Tahun 2002.

Rakhmat,. J, 1992. Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi), PT Remaja Rosda Karya, Bandung.

S.,S.,H., .Khairuddin. S., 1997, Sosiologi Keluarga, Liberty, Yogyakarta, : 3,18,19, Makalah/Jurnal.

Salusu, J., 2008, Pengambilan Keputusan Stratejik : 51,53-55, Jakarta : Grasindo, Jakarta.

Sarwono, S., 1997. Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya.

UGM, Yogyakarta.

Sarwono,P, 2001. Buku Acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan maternal dan Neonatal, Penerbit JNPKKR-POGI bekeijasama dengan Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

SDKI, 1997. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan, Jakarta.

_____, 2003. Survei Deaiografi dan Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan, Jakarta.

Sentika, 2003, Bidan dan Dukun Bayi Bermitra, Kompas, Jakarta.

Sugiarto, Siagian Dergibson, Sunaryanto, Tri, Lasmono, Oetomo, S. Deny, 2001, Teknik Sampling, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sugiono, 2002, Metode Penelitian Administrasi, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Sumarnyoto, 2003. Pelayanan Bayi-bayi Keluarga Miskin yang Harus Dirawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU) RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Suprihatini, 2003. Wewenang Bidan dalam Penanganan Bayi. Eksklusif, Jakarta.

Sutanto, Tantun, 2008, Konsep Keluarga :16,17,18,20,21.

Zuska, 2008:55, Vayda.

Wilko, Kandra, 2008, Persepsi Sosial Dan Budaya Kesehatan Ibu Dan Anak, 3.

Winardi, J., 2001. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen PT. Raja Gravindo Persada, Jakarta.

Yosefina, dkk., 2003. Persepsi dan Perlakuan Orang Dani di Lembah Baliem terhadap Kehamilan, Kayawijay Watch Project dan Eiudp/Jurusan Antropologi Universitas Cendrawasih Jayapura.

Zuhdy, 2008, Hubungan Antara Peran Keluarga Terhadap Tingkat Kecemasan Injecting Drug User : 1.