845 1,205 778 1,119 721 959 514612 273 520 956 533 584 878 774 692 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400
PERSALINAN DITOLONG NAKES
Gambar diatas menunjukkan jika Puskesmas Gribig adalah puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tertinggi jika dibandingkan dengan puskesmas lainnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 23 lampiran.
d. Penanganan Risiko Tinggi Dan Komplikasi
Dalam memberikan pelayanan kesehatan, khususnya oleh tenaga bidan di kelurahan dan puskesmas, beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi dan memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih baik tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan. Maka kasus tersebut perlu mendapatkan upaya
rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang lebih memadai.
Risiko tinggi/ komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/ komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8g %, tekanan darah tinggi (sistole > 140mmHg, diastole > 90mmHg), oedeme nyata, eklampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/ sepsis, persalinan prematur.
Jumlah sasaran ibu hamil komplikasi kebidanan pada tahun 2019 di Kota Malang adalah sebesar 2.623 ibu hamil. Dari jumlah tersebut yang ditangani mencapai 2.536 ibu hamil atau mencapai 96,7%. Hal ini sebagaimana dapat dilihat pada tabel 30 lampiran.
Sedangkan jumlah perkiraan neonatal komplikasi pada tahun 2019 mencapai 1.788 neonatus. Dari jumlah tersebut yang ditangani sebesar 93,8% atau sebanyak 1.677 neonatus. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam tabel 30 lampiran. Cakupan neonatal risti yang ditangani pada tahun 2019 menurun jika dibandingkan dengan cakupan tahun 2018 yang mencapai 1.781 neonatus. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, salah satunya yaitu faktor pengetahuan dan kesadaran ibu hamil dalam menjaga kehamilannya, sehingga dapat berdampak pada ibu hamil dan janinnya.
e. Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 2 kali, satu kali pada umur 0-2 hari (KN1), satu kali pada umur 3-7 hari (KN2), dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari (KN3). Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan
tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, manajemen terpadu bayi muda (MTBM), dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Cakupan KN1 pada tahun 2019 mencapai 100,4% dari 11.922 bayi sasaran yang ada di Kota Malang, atau sebesar 11.971 bayi. Sedangkan cakupan KN lengkap (kunjungan neonatus 3 kali) lebih tinggi dari KN1, yaitu sebesar 99,3%. Jumlah KN lengkap jika dibandingkan dengan KN1 terdapat selisih sedikit lebih banyak KN1 capaian ini dapat mengindikasikan bahwa pengetahuan dan kesadaran ibu hamil yang lebih baik untuk memeriksakan bayinya ketika masih belum genap usianya satu bulan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kondisi bayi, mengingat bayi sangat rentan terhadap sakit dan penyakit. Sehingga pemeriksaan yang sering terhadap kesehatan bayi dapat membantu mengetahui sakit dan penyakit yang akan diderita untuk kemudian dilakukan pencegahan dan pengobatan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam tabel 34 lampiran.
Berikut ini ditunjukkan cakupan kunjungan neonatus setiap puskesmas di Kota Malang selama tahun 2019.
Gambar 6. Cakupan Kunjungan Neonatus Kota Malang Tahun 2019
Gambar diatas menunjukkan jika cakupan kunjungan neonatus untuk KN1 dan KN3 (lengkap) terbanyak adalah Puskesmas Gribig. Sedangkan cakupan KN1 dan KN Lengkap terendah adalah Puskesmas Dinoyo. Lebih rinci cakupan kunjungan neonatus dapat dilihat pada tabel 34 lampiran.
0.0 50.0 100.0 150.0 200.0 250.0 K ed un gk and ang Gr ibi g Ar jo w ina ngun Jant i C ip tom ul yo M ul yor ejo Ar ju no B ar en g R am pa l C el ak et C is ade a K en da lk er ep Pol ow ijen P andan w ang i D in oy o M ojo la ng u K e n d al sar i KUNJUNGAN NEONATAL 3 KALI (KN LENGKAP) KUNJUNGAN NEONATAL 1 KALI (KN1) 35
f. Pelayanan Keluarga Berencana
Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita untuk melahirkan kembali cukup tinggi. Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun. Oleh karena itu, untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran, wanita dan pasangannya lebih diprioritaskan untuk menggunakan metode/ alat kontrasepsi.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui kelompok sasaran program yang sedang/ pernah menggunakan alat kontrasepsi menurut daerah tempat tinggal, tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan oleh akseptor.
Jumlah peserta KB aktif pada tahun 2019 adalah 82.953 orang dari 148.016 orang perkiraan pasangan usia subur (PUS), atau sekitar 56%. Sedangkan jumlah peserta KB pasca persalinan adalah 3.863 orang atau sebesar 30,9% dari jumlah ibu bersalin. Hal ini sebagaimana dapat dilihat pada tabel 29 lampiran.
Jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB aktif adalah jenis suntik yang mencapai 61,8% atau sebanyak 51,280 peserta. Sebagaimana ditunjukkan pada tabel 28 lampiran. Gambaran jenis kontrasepsi yang digunakan oleh peserta KB aktif di Kota Malang selama tahun 2019 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 7. Distribusi Jenis Kontrasepsi Peserta KB Aktif Kota Malang Tahun 2019
Gambar diatas menunjukkan bahwa kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB aktif adalah jenis suntik sebesar 61,8%. Diikuti kemudian kontrasepsi jenis pil sebanyak 16,3% dan
AKDR sebanyak 12,9%. Demikian juga halnya dengan peserta KB pasca persalinan yang banyak menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik mencapai 60,6% atau sebanyak 2.342 peserta, sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel 28 dan 29 lampiran. 2.3 61.8 16.3 12.9 0 2.7 4
KONDOM SUNTIK PIL AKDR MOP MOW IMPLAN