IMUNISASI DASAR LENGKAP
5.1. Sarana Kesehatan
Pada bagian ini akan diuraikan tentang sarana kesehatan yang ada di Kota Malang, diantaranya puskesmas, rumah sakit, sarana upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM), dan sarana kesehatan lainnya.
a. Puskesmas
Puskesmas dalam perkembangannya diupayakan terus meningkat dari sisi kualitas dan kuantitas. Jumlah puskesmas di Kota Malang hingga tahun 2019 tetap berjumlah 16 puskesmas yang tersebar di 5 kecamatan. Setiap kecamatan terdapat 3 puskesmas kecuali dikecamatan Blimbing terdapat 4 puskesmas dengan 2 puskesmas perawatan. Dari jumlah tersebut 6 puskesmas berstatus sebagai puskesmas perawatan dan 10 puskesmas sebagai puskesmas non perawatan. Puskesmas perawatan di Kota Malang adalah Puskesmas Kedungkandang, Kendalsari, Dinoyo, Kendalkerep, Mulyorejo dan Polowijen. Sedangkan jumlah puskesmas pembantu
adalah 33 pustu. Hal ini sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4 lampiran.
Rasio puskesmas terhadap jumlah penduduk di Kota Malang pada tahun 2019 adalah 1,847 per 100.000 penduduk. Ini berarti bahwa setiap 100.000 penduduk di Kota Malang dilayani oleh 1 atau 2 puskesmas. Rasio ini hampir sama jika dibandingkan dengan tahun 2018.
Sementara itu, jumlah puskesmas keliling 20 yang terdistribusi di setiap puskesmas dan demikian juga dengan mobil ambulance yang terdistribusi di seluruh puskesmas, baik puskesmas perawatan maupun puskesmas non perawatan. Semua puskesmas juga didukung keberadaan kendaraan operasional roda dua untuk kegiatan pelayanan.
Semua puskesmas yang ada di Kota Malang hingga tahun 2019 memiliki laboratorium kesehatan. Namun hanya enam puskesmas yang dapat memberikan pelayanan gawat darurat karena seluruhnya adalah puskesmas perawatan, yaitu Puskesmas Kedungkandang, Puskesmas Kendalsari, Puskesmas Dinoyo, Puskesmas Kendalkerep, Puskesmas Mulyorejo dan Puskesmas Polowijen.
b. Rumah Sakit
Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk. Namun rasio rumah sakit terhadap jumlah penduduk Kota Malang tidak dapat ditunjukkan karena rumah sakit yang ada di Kota Malang juga menjadi rujukan penduduk dari luar Kota Malang.
Rumah sakit umum di Kota Malang berjumlah 13 RS yang terdiri dari 1 RS Pemerintah Propinsi Jawa Timur, 1 RS TNI/POLRI, 1 RS BUMN, 1 RS Pemerintah Kab/Kota dan 9 RS swasta. Sedangkan Rumah Sakit Khusus berjumlah 13 RS. Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4 lampiran. Rumah sakit umum yang ada di Kota Malang 12 Rumah Sakit memiliki kemampuan memberikan pelayanan gawat darurat level 1, dan semua rumah sakit khusus memiliki kemampuan memberikan pelayanan gawat darurat level 1. Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada tabel 6 lampiran. Demikian juga halnya dengan keberadaan labkes, semua rumah sakit umum memiliki laboratorium kesehatan.
Jumlah tempat tidur rumah sakit di Kota Malang pada tahun 2019 adalah 2.943 tempat tidur. BOR seluruh rumah sakit di Kota Malang adalah 42,3, TOI seluruh rumah sakit adalah 5, LOS seluruh rumah sakit adalah 5, dan GDR mencapai 34,2. Hal ini sebagaimana dapat dilihat pada tabel 7 dan 8 lampiran.
c. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat. Untuk itu, pemerintah mencanangkan desa dan kelurahan siaga. Desa dan kelurahan siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui pos kesehatan desa (POSKESDES) atau sarana kesehatan yang ada di wilayah tersebut, seperti pustu, puskesmas dan sarana kesehatan lainnya.
54
Poskesdes atau poskeskel untuk wilayah Kota Malang memiliki peran yang sangat besar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Diantara kegiatan poskeskel adalah (1) pengamatan sederhana terhadap penyakit terutama yang berpotensi menimbulkan wabah, status gizi serta ibu hamil yang berisiko, (2) penanggulangan penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi wabah, serta faktor-faktor risikonya, termasuk kurang gizi, (3) kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, dan (4) pelayanan kesehatan dasar (promotif & preventif) sesuai dengan kompetensinya. Seluruh kelurahan di Kota Malang pada tahun 2019 yang berjumlah 57 kelurahan telah memiliki poskeskel
Sedangkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat lainnya secara langsung juga diadakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Diantara Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) tersebut adalah posyandu (pos pelayanan terpadu), Posbindu (Pos Binaan Terpadu), polindes (pondok bersalin desa), toga (tanaman obat keluarga), POD (pos obat desa), dan sebagainya.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, posyandu dikelompokan ke dalam 4 strata, yaitu posyandu pratama, posyandu madya, posyandu purnama dan posyandu mandiri.
Posyandu pratama adalah posyandu dengan kegiatan pelayanan yang belum rutin dan jumlah kader masih terbatas. Posyandu madya adalah posyandu dengan kegiatan lebih teratur dibandingkan posyandu pratama dengan jumlah kader 5 orang. Posyandu purnama adalah posyandu dengan frekuensi kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader 5 orang atau lebih dengan cakupan program 50% terlaksana serta sudah ada program tambahan. Dan posyandu mandiri adalah posyandu dengan kegiatan sudah teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan dana sehat telah
menjangkau 50% KK.
Presentase posyandu menurut strata di Kota Malang pada tahun 2019 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 12. Presentase Posyandu Menurut Strata Kota Malang Tahun 2019
Dari 652 posyandu yang ada di Kota Malang pada tahun 2018, 82,5% atau 538 adalah posyandu purnama, 7,8% adalah posyandu madya atau 51 posyandu, 9,7% adalah posyandu mandiri atau 63 posyandu, sedangkan posyandu pratama tidak ada. Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada tabel 10 lampiran. Sedangkan posyandu aktif mencapai 92,2% atau mencapai 601posyandu. Hal ini dapat dilihat pada tabel 10 lampiran.
Selain keberadaan posyandu, Kementerian Kesehatan RI juga mencanangkan
keberadaan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) yang
dibentuk untuk
meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pencegahan dan
penemuan dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Posbindu adalah kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko PTM terintegrasi (penyakit janting dan pembuluh darah, diabetes, penyakit paru obstruktif akut dan kanker) serta gangguan akibat kecelakaan dan tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dikelola oleh masyarakat melalui pembinaan terpadu. 0%8% 82% 10%