BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF,
GAMBARAN PELAYANAN SKPD
3. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
sebesar 90 persen dari target 95 persen, jika dibandingkan tahun 2014 sebesar 89,4 persen mengalami peningkatan sebesar 0.6 persen namun masih dibawah target yang ditetapkan.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 20
Gambar 2.3 :
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Lombok Tengah Tahun 2011-2015
4. Pelayanan Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu ; 1) Kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari ; 2) Kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan dalam waktu hari 4 sampai dengan hari ke 28 setelah persalinan dan 3) Kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan dalam waktu hari ke 29 sampai dengan hari ke 42 setelah persalinan.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 21
Gambar 2.4 :
Cakupan Pelayanan Nifas di Lombok Tengah Tahun 2011-2015
Cakupan pelayanan ibu nifas pada tahun 2015 sebesar 91,91 persen dari target sebesar 95 persen, meningkat 0,07 persen bila dibandingkan tahun 2014 tetapi menurun 7,59 persen bila dibandingkan tahun 2011.
5. Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani
Neonatal risti/komplikasi meliputi asfiksia, tetanuis neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR ( berat badan lahir < 2500 gram), sindroma, gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/komplikasi yang ditangani adalah neonates risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 22
Gambar 2.5 :
Cakupan Neonatal dengan komplikasi ditangani tahun 2011 - 2015
Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani pada tahun 2015 sebesar 79.79 persen dari target sebesar 85 persen, meningkat 10,15 persen bila dibandingkan tahun 2014 tetapi masih dibawah taeget sebesar 85 persen.
6. Kunjungan bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4 kali dalam setahun yaitu 1 kali saat berumur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3 – 6 bulan, 1 kali pada umur 6 – 9 bulan, dan 1 kali pada umur 9 – 11 bulan.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 23
Gambar 2.6 :
Kunjungan bayi di Lombok Tengah tahun 2011-2015
Cakupan kunjungan bayi yang mendapat pelayanan kesehatan tahun 2015 sebesar 95.03 persen dari target 95 persen menurun bila dibandingkan tahun 2014 sebesar 0.63 persen.
7. Desa/Kelurahan UCI
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan). Desa
UCI merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80 persen jumlah bayi yang ada
di desa tersebut sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.
Cakupan desa UCI (universal child immunization) di tahun 2015 mencapai 100 persen dari target sebesar 100 persen, capaian UCI lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 24
Gambar 2.7 :
Cakupan UCI di Lombok Tengah tahun 2011-2015
8. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan pada anak balita umur 12 – 59 bulan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8x setahun, pemantauan perkembangan minimal 2x setahun dan pemberian Vitamin A 2x setahun (bulan pebruari dan agustus).
Pada tahun 2015 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 – 4 tahun) sebesar 81,25 persen dari target sebesar 80 persen. Pelayanan kesehatan pada anak balita pada tahun 2015 sudah mencapai target. Gambaran capaian 5 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 25
Gambar 2.8 :
Pelayanan kesehatan anak balita di Lombok Tengah tahun 2011-2015
9. Pemberian Makanan Pendamping ASI MPASI
Pemberian MP-ASI dilakukan dalam upaya mempertahankan dan perbaikan status gizi balita 6 – 24 bulan di Kabupaten Lombok Tengah. Pemberian MP-ASI secara khusus kepada balita gizi kurang keluarga miskin berupa makanan pabrikan kepada anak usia 12 – 23 bulan bulan.
Cakupan pemberian MP-ASI sampai dengan tahun 2015 sebesar 12.2 persen, dari target sebesar 100 persen. Perincian lengkap dapat dilihat pada gambar berikut :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 26
Gambar 2.9 :
Pemberian MP-ASI di Lombok Tengah tahun 2011-2015
10.Balita Gizi Buruk mendapat perawatan
Kegiatan pelacakan kasus dilakukan oleh petugas puskesmas, bidan desa dibantu oleh kader dan masyarakat. Indikator yang dipergunakan adalah BB/TB atau adanya gejala klinis gizi buruk. Tahun 2015 Kasus gizi buruk sebanyak 45 kasus dengan penanganan sebesar 100%
11.Penjaringan kesehatan siswa SD sederajat
Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD/ sederajat pada tahun 2015 sebesar 94.61 persen dari target 100 persen, Gambaran pencapaian 5 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 27
Gambar 2.10 :
Penjaringan kesehatan siswa SD sederajat di Lombok Tengah tahun 2011-2015
12.Cakupan peserta KB aktif
Salah satu strategi MPS (Making Pregnancy Safer) adalah setiap WUS mempunyai
akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran. Ini artinya Pelayanan Program Keluarga Berencana (KB)
merupakan salah satu pilar dari 4 pilar Safe Motherhood. Pelayanan Keluarga
Berencana (KB) diharapkan dapat memutuskan rantai sebab tidak langsung kematian ibu dan bayi, dimana mengurangi faktor risiko (4 terlalu) : Terlalu sering hamil, terlalu banyak anak, terlalu muda dan terlalu tua untuk kehamilan.
Cakupan KB aktif tahun 2015 sebesar 77.91 persen dari target sebesar 80 persen, cakupan KB aktif periode lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 28
Gambar 2.11 :
Cakupan KB aktif di Lombok Tengah tahun 2011-2015
13.Penemuan dan penanganan penderita AFP
Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah semua anak yg berusia kurang dari 15 tahun dengan kelumpuhan yg sifatnya flaccid (layuh), terjadi secara akut (mendadak) dan bukan disebabkan oleh ruda paksa. Untuk anak <15 tahun, dapat dilaporkan sebagai kasus AFP jika terdapat gejala klinis yang pasti misalnya penyakit polio. Penyakit polio harus dibuktikan atau sudah tidak ada dengan penemuan kasus AFP.
Pada tahun 2015 di Lombok Tengah ditemukan 0.32 per 100.00 penduduk kurang dari 15 tahun kasus AFP non Polio dari target < 2 per 100.000 penduduk < 15 tahun, dibandingkan tahun 2014 ditemukan kasus sebesar 2.21 per 100.000 penduduk < 15 tahun.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 29
14.Penemuan dan penanganan penderita penyakit pneumonia pada balita
Penemuan dan penanganan penyakit pneumonia pada balita tahun 2014 sebesar 30.7 persen meningkat di tahun 2015 dengan capaian sebesar 34.6 persen dari target 100 persen
Gambar 2.12 :
Penemuan dan penanganan pnemopnia pada balita di Lombok Tengah
tahun 2011-2015
15.Penemuan dan penanganan penderita penyakit TB BTA positif
Cakupan penemuan dan penanganan TB BTA positif tahun 2014 sebesar 36.71 meningkat di tahun 2015 dengan capaian 38.25 persen dari target sebesar 70 persen. Gambar dibawah menujukkan penemuan dan penanganan TB BTA positif lima tahun terakhir :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 30
Gambar 2.13 :
Penemuan dan penanganan penderita penyakit TB BTA positif di Lombok Tengah
tahun 2011-2015
16.Penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD
Dari grafik dibawah ini dapat dijelaskan bahwa kasus DBD merupakan penyakit menular bersumber binatang yang akan muncul setiap lima tahun, pada grafik tersebut pada tahun 2015 bulan Januari mulai naik , terus puncak kasus pada bulan Mei dan berkurang pada bulan Agustus sehingga kasus menjadi dibawah 5 kasus tiap bulan, tetapi mengalami kenaikan lagi sejak bulan September, Oktober, Nopember dan Desember. Ketidak pedulian petugas tentang data yang ada di laporan bulanan DBD serta kurang optimalnya melakukan promosi kesehatan berupa PSN, ABJ setiap triwulanan, sehingga kasus ini terus berkembang.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 31
Gambar 2.14 :
Kasus DBD positif di Lombok Tengah tahun 2009 - 2015
17.Penemuan dan penanganan penderita Diare
Gambar dibawa ini memberikan informasi bahwa kasus Diare yang berhasil ditemukan oleh Tenaga Kesehatan dan Kader sebesar 60,56 %, ini masih jauh dari SPM Kabupaten Lombok Tegah sebesar 100 %, untuk mencapai target yang besar diperlukan upaya dari beberapa kordinasi lintas program dan lintas sektoral.Tetapi semua kasus diare yang ditemukan di sarana Kesehatan sudah dilayani dan ditatalaksana dengan baik, untuk tahun 2015 sudah menggunakan tablet Zinc selama 10 hari
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 32
Gambar 2.15 :
Penemuan dan penanganan penderita Diare di Lombok Tengah tahun 2011-2015
18.Pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diselenggarakan berdasarkan konsep asuransi sosial. Penyelenggaraan Program Jamkesmas dibedakan dalam dua kelompok berdasarkan tingkat pelayanannya yaitu: 1)Jamkesmas untuk pelayanan dasar di puskesmas termasuk jaringannya; 2) Jamkesmas untuk pelayanan kesehatan lanjutan di rumah sakit dan balai kesehatan. Capaian pelayanan dasar masyarakat miskin tahun 2013 sebesar 35.87 dengan target sebesar 85 persen sedangkan pelayanan kesehatan rujukan sebesar 0.83 persen dari target sebesar 75 persen. Sedangkan tahun 2015 dan 2014 perkembangan jamkesmas tidak dapat diukur Sejak diberlakukan Undang- Undang No.40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyeleng gara Jaminan Sosial (BPJS).
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 33
19.Pelayanan gawat darurat level 1
Rumah Sakit dengan kemampuan pelayanan gawat darurat level 1 diharapkan memiliki dokter on site (berada ditempat) 24 jam dengan kualifikasi general emergency life (GELS) dan atau advance trauma life support (ATLS) + advance cardiac life support (ACLS), di Kabupaten Lombok Tengah dari 2 Rumah Sakit yang ada yaitu RSUD Praya dan RSI Yatofa
Realisasi pelayanan gawat darurat level 1 tahun 2015 sebesar 100 persen dari target 100 persen
20.Desa/kelurahan mengalami KLB yang harus dilakukan penyelidikan Epidemiologi
Desa/kelurahan mengalami kejadian luar biasa (KLB) yang ditangani kurang 24 jam oleh petugas tahun 2015 ditargetkan 100 persen (realisasinya 100%) sama dengan realisasi di tahun 2014 yaitu target 100 persen dengan realisasi 100 persen.
21.Desa siaga Aktif
Cakupan desa siaga aktif tahun 2015 mencapai 89.21 persen dari target 80 persen sedangkan tahun 2014 89.21 mencapai dari target 80 ersen. Kegiatan yang dilakukan dalam mendudkung keberhasilan pencapaian program ini adalah advokasi desa siaga kepada pemegang kebijakan, mengaktifkan forum desa siaga, pembangunan poskesdes, peningkatan kemitraan dengan Da’i.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 34
Gambar 2.16 :
Cakupan desa Siaga Aktif di Lombok Tengah tahun 2011-2015
22.Rasio puskesmas per penduduk
Pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dapat digambarkan secara umum oleh indikator rasio puskesmas terhadap penduduk.
Untuk rasio puskesmas per penduduk di Lombok Tengah tahun 2015 sebesar 1 : 36.005 dari target sebesar 1 : 30.000 penduduk
23.Prosentase kesehatan yang sudah D3 keatas
SDM Kesehatan khususnya tenaga kesehatan minimal pendidikanya Diploma 3 ke atas karena hanya tenaga kesehatan yang pendidikan Diploma III mempunyai kewenagan untuk melakukan upaya kesehatan. Untuk asisten tenaga kesehatan yang berpendidikan dibawah D III jika bekerja harus didamping oleh tenaga kesehatan sehingga ada korelasi positif antara jumalah tenaga kesehatan yang pendidikan Diploma III dengan upaya kesehatan yang dilakukannnya.
Prosentase tenaga kesehatan yang sudah D3 keatas pada tahun 2015 mencapai 71.99 persen dari target sebesar 100 persen
Faktor-faktor yang mempengaruhi SDM Kesehatan belum seluruhnya berpendidikan D3 ke atas adalah beberapa SDM yang berpendidikan SPK, SMA, SPPH, SPRG masih
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 35
menempuh pendidikan ketingkat lebih tinggi dengan status ijin belajar, beberapa SDM Kesehatan yang telah lulus pendidikan ijazahnya belum disesuaikan dan SDM kesehatan enggan melanjutkan pendidikan karena usia tugasnya kurang dari 5 tahun.
24.Persentase tenaga kesehatan yang telah memiliki kompetensi
Uji Kompetensi dilakukan pada tenaga kesehatan yang menempuh pendidikan vokasi atau profesi pada akhir masa pendidikan. Sehingga semua tenaga kesehatan yang pendidikan diploma tiga atau profesi ketika bekerja telah lulus uji kompetensi kompetensi yang diadakan oleh lembaga pendidikan dan bekerjasama dengan lembaga profesi. Sebagai bukti lulus kompetensi diterbitkanlah sertifikat kompetensi oleh perguruan tinggi.
Prosentase tenaga kesehatan yang telah memiliki kompetensi pada tahun 2015 sebesar 77.5 persen dari target sebesar 95 persen
Gambar 2.16 :
Persentase tenaga kesehatan yang telah memiliki kompetensi di Lombok Tengah
tahun 2011-2015
Dalam mempertahankan dan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan kabupaten Lombok Tengan bekerjasama dengan organisasi profesi melakukan uji kompetensi untuk masing-masing tenaga kesehatan dan melalui pelatihan. Sedangkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dilakukan
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 36
melalui pengiriman pegawai negeri untuk mengikuti ijin atau tugas belajar baik dalam daerah maupaun di luar daerah
25.Rasio kapasitas rawat inap per penduduk
Meskipun pelayanan kesehatan masyarakat merupakan inti dari puskesmas, pelayanan kesehatan perseorangan juga menjadi perhatian dari pemerintah. Bagi daerah yang termasuk Daerah Tertinggal, Perbatasan, Kepulauan (DTPK), Dana Alokasi Khusus (DAK) digelontorkan dengan tujuan salah satunya adalah peningkatan puskesmas non rawat inap menjadi puskesmas rawat inap.
Rasio Rawat inap terhadap penduduk di Lombok Tengah tahun 2015 sebesar 1 : 2.876 dari target sebesar 1 : 2.000 penduduk.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 37
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 38
APBD adalah Rencana Pendapatan dan Belanja suatu Daerah (APBD) untuk satu tahun berjalan (1 periode) yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda). Anggaran mempunyai beberapa fungsi yang dikelompokan menjadi dua yaitu sebagai fungsi kebijakan fiskal dan sebagai fungsi manajemen.
Sebagai fungsi kebijakan fiskal, Pertama, anggaran dapat digunakan untuk
menagtur alokasi belanja untuk pengadaan barang-barang dan jasa-jasa publik (public good
and services). Kedua, sebagai alat distribusi yang bertujuan untuk menciptakan pemerataan atau mengurangi kesenjangan antar wilayah, kelas sosial maupun sektoral. Ketiga, sebagai fungsi stabilisasi, misalnya jika terjadi ketidakseimbangan yang sangat ekstrem maka pemerintah dapat melakukan intervensi melalui anggaran untuk mengembalikan pada keadaan normal.
Sebagai fungsi manajemen, Pertama, memberi pedoman bagi pemerintah untuk melakukan tugas-tugasnya pada periode mendatang. Kedua, anggaran sebagai alat kontrol masyarakat terhadap kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Ketiga, untuk menilai seberapa jauh pencapaian pemerintah dalam melaksanakan kebijakan dan program- program yang direncanakan.
Sebagai gambaran, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Lombok Tengah 5 tahun terakhir sebagai berikut :
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 39
Dari gambar diatas Realisasi keuangan pada tahun 2015 mencapai 100 persen, sedangkan tahun 2014 realisasi 73.2 persen.
2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD
Keberhasilan rencana strategis Dinas kesehatan Lombok Tengah tidak terlepas dari lingkungan strategis yang melingkupinya, baik dalam skala nasional maupun kedaerahan.
1. Analisis Renstra K/L dan SKPD Provinsi NTB