kebu-tuhan atau jawaban satu-satunya bagi hidup manusia. Agama bahkan dapat dimanfaatkan untuk suatu kepentingan yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Nilai luhur dalam agama-agama sudah semakin luntur karena ulah manusia yang tidak menghargai sifat kekekalan dan benih agama yang telah ditanam Allah dalam dirinya. Kita menyak-sikan bagaimana atas nama agama dapat terjadi perang saudara, dan kerusuhan yang diwujudkan dengan perilaku manusia yang jauh dari sifat manusiawi. Sungguh kenyataan yang amat menyedihkan. Manu-sia telah semakin jauh dari jalan yang sesungguhnya harus ditempuh untuk mengenal, memuja dan mengasihi Tuhan Penciptanya.
Bagaimanakah kita sendiri menghayati dan memaknai agama yang kita yakini sekarang ini? Yang harus dipertanyakan adalah apak-ah dengan kita beragama telapak-ah menjadikan diri kita semakin baik dan menjadi berkat bagi sesama di sekitar kita?
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN DALAM
AGAMA-AGAMA
Harus diakui bahwa di dalam agama-agama ada beberapa persa-maan yang besar. Yakni semua agama pada umumnya percaya bahwa manusia adalah mahluk yang berdosa. Semua agama juga memper-cayai bahwa harus ada jalan keluar dari ikatan dosa manusia. Selain itu, agama-agama secara umum dapat mempercayai adanya sistem nilai dibalik perbuatan moral. Itulah sebabnya semua agama menga-jarkan umatnya untuk berbuat baik. Agama-agama pada umumnya juga mempercayai adanya satu kuasa supra natural yang menguasai alam semesta dan hidup manusia. Persamaan yang lain adalah kon-sep kekekalan dalam diri manusia. Agama-agama mempercayai
bah-8 Filsafat Agama wa setelah kehidupan manusia di dunia ini masih ada kelanjutannya dalam kekekalan. Namun meski ada beberapa persamaan, tidak dapat disimpulkan bahwa semua agama sama. Karena justru dalam hal yang paling mendasar yakni dalam sistem dan ajaran agama, terdapat per-bedaan yang sangat mendasar.
Adapun beberapa persamaan dalam agama-agama secara umum adalah dalam hal tujuan dan harapan yakni:
1. Untuk berkomunikasi dengan Tuhan Allah Pencipta
2. Untuk mendapatkan kepastian masuk ke Surga, memiliki hidup yang sempurna setelah kematian.
3. Untuk memenuhi kebutuhan rohani dan kepuasan batin dalam hal kedamaian, sukacita, kasih, ketentraman dan bahagia.
4. Untuk mendapatkan kepastian pengampunan dosa dan terhindar dari hukuman Allah akibat dosa-dosanya.
5. Untuk mendapatkan jalan keluar terlepas dari kuasa dosa dan iblis.
6. Untuk mewujudkan kehidupan yang baik sebagai kewajiban etis moral
7. Untuk mendapatkan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi realitas dan tantangan hidup di dunia.
Sedangkan perbedaan hakiki yang terkandung dalam agama-agama pada umunya adalah dalam hal pemaknaan yaitu:
Pertama dalam hal deskripsi dan definisi, ke dua dalam hal stan-dar, ke tiga dalam hal intepretasi, ke empat dalam hal esensi dan tera-khir dalam hal relasi. Area perbedaan dalam agama-agama terutama dalam hal:
1. Konsep/pemahaman tentang Pribadi Allah/ Penguasa tertinggi 2. Konsep/pemahaman tentang keberadaan manusia
3. Konsep/pemahaman tentang dosa
4. Konsep/pemahaman tentang kekekalan dan akhir hidup manusia 5. Konsep tentang permulaan hidup dan terjadinya alam semesta
Manusia dan Agama 9 6. Konsep/pemahaman tentang keselamatan dan penyelesaian
ma-salah dosa-dosa manusia.
7. Konsep/pemahaman tentang etika, norma dan fokus kebenaran Jelaslah bahwa perbedaan dalam agama-agama ini sangat esen-sial dan prinsipial, karena dibalik setiap konsep terdapat unsur iman/ kepercayaan yang meyakini bahwa konsep tersebut benar. Realitas perbedaan ini telah muncul dalam bentuk berbagai macam budaya, worldview, gaya hidup, standar nilai/moralitas dalam kehidupan ma-nusia di sepanjang zaman dan di seluruh dunia. Meskipun perbedaan
ini begitu nyata, tidak seharusnya menjadi alasan terjadinya keben-cian, konflik/pertentangan apalagi permusuhan antara umat beragama. Sebab keyakinan iman seseorang terhadap suatu konsep kepercayaan/ agama tertentu, merupakan pergumulan pribadi setiap insan di bumi untuk memaknai hidupnya. Pergumulan ini merupakan hak yang bersifat sangat pribadi dan harus dihargai sebagai hak asasi sebagai manusia. Karena itu suatu pemaksaan agama tertentu kepada siapapun atau penghinaan/pelecehan/tindak kekerasan terhadap umat karena perbedaan agama tidak sepatutnya terjadi, terlebih di Negara Indone-sia yang berdasarkan Pancasila.
Apakah yang sesunguhnya menyebabkan dapat terjadi ber-macam-macam agama dengan perbedaan yang hakiki dan esensi? Asumsinya adalah karena secara umum, agama lahir sebagai sebuah refleksi manusia terhadap dirinya sendiri, alam semesta serta terhadap kuasa yang bersifat supra natural. Munculnya berbagai macam agama sangat ditentukan berdasarkan pengalaman religius manusia (baca: pemimpin agama) yang dipercayai oleh para pengikutnya. Sehingga ketika pengalaman religius ini berkembang dan diterima sebagai pen-galaman sebagian masyarakat sehingga menjadi bersifat universal, diakui masyarakat dunia sebagai suatu agama.
Asumsi tersebut diatas dijelaskan sebagai berikut: Pengalaman religius Abraham, telah melahirkan agama Yahudi, sedangkan pen-galaman religius Sidharta Gotama, telah melahirkan agama Budha.
0 Filsafat Agama Demikian juga dengan pengalaman religius Mohammad telah mela-hirkan agama Islam. Para pengikut Confusius menerima pengalaman religius Confisius sebagai agama Kong Hu Tju. Asumsi yang sama di-tujukan kepada para murid Yesus Kristus, yang kemudian dianggap melahirkan agama Kristen.
Masih berdasarkan asumsi ini, bila pengalaman religius para pe-mimpin agama besar yang telah melahirkan berbagai macam agama, bagaimana kita dapat mengetahui agama yang mana memiliki peng-alaman religius yang paling benar? Bukankah itu pertanyaan yang seringkali dipertanyakan? Bukankah kecenderungan yang akhirnya muncul adalah meyakini pengalaman religious masing-masing. Sub-jektifitas keagamaan inilah yang secara umum menjadi penyebab/me-micu sering munculnya konflik di antara umat beragama, yaitu karena masing-masing umat berupaya mengklaim kebenaran agamanya. Pada-hal pemahaman yang seharusnya dimiliki oleh setiap penganut agama adalah bahwa keyakinan terhadap kepercayaan/agama tidak boleh direfleksikan dalam bentuk permusuhan terhadap penganut agama yang lain karena masalah perbedaan. Sikap sedemikian sebenarnya justru menunjukkan adanya keraguan/kecemasan terhadap ajaran agama yang diyakininya. Sebab kebenaran sejati bersumber dari Allah dan tidak mungkin memancarkan kebencian atau permusuhan, seba-liknya merefleksikan kasih, kebenaran dan kemuliaan.
Ajaran dalam agama yang berdasarkan pengalaman religius to-koh/pemimpin agama, pada umumnya terkait dengan tradisi budaya masyarakat di sekeliling tokoh/pemimpin agama tersebut. Misalnya, lahirnya agama Budha, tidak akan terlepas dari tradisi masyarakat India pada saat itu, yang secara kuat mempengaruhi pengalaman re-ligius Sidharta Gotama. Demikian juga lahirnya agama Islam, dipen-garuhi oleh realita sosial, budaya dan tradisi kepercayaan yang saat itu berkembang di tanah Arab, tempat Mohammad mengalami dan mengembangkan pengalaman religiusnya. Demikian juga lahirnya agama Yahudi, di tengah masyarakat Timur Tengah, serta lahirnya
Manusia dan Agama 1 agama Kristen dalam konteks masyarakat Yahudi di tanah Israel. Ada-nya perbedaan esensl di antara agama-agama adalah hal yang wajar, karena realita pengalaman religius yang berbeda, ditambah konteks sosial-budaya masyarakat yang berbeda.
Tentang pengalaman religius yang oleh masyarakat di sekeliling tokoh/pemimpin agama tersebut dipercaya sebagai sebuah pengalam-an ypengalam-ang bersifat supra natural dpengalam-an berkaitpengalam-an dengpengalam-an Allah, kebpengalam-anyakpengalam-an kelompok intelektual tidak dapat mempercayainya. Karena bagi me-reka, hal yang tidak dapat dinalar kalau manusia yang terbatas dapat menerima pengalaman religius secara langsung dari Allah.23 Sebagai pertanyaan kritis terhadap kenyataan ini, adalah bagaimana masyarakat mempunyai justifikasi untuk mengetahui dengan pasti bahwa peng alaman religius pemimpin agama merupakan karya langsung dari Allah? Artinya, bagaimana masyarakat dapat mempercayai sebagai hal yang benar bahwa pemimpin agama tersebut benar-benar mengalami pengalaman religius sebagai wahyu Allah melalui hidupnya.24
Terutama harus dapat ditegaskan apakah pengalaman religious tersebut merupakan pengalaman supranatural dari Allah atau ternyata hanya merupakan refleksi pribadi sang pemimpin agama.