• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM DAN NASIONAL

C. Persamaan Dan Perbedaan Perkawinan Di Bawah Tangan Menurut Hukum Islam Dan Hukum Nasional

Istilah nikah di bawah tangan adalah nikah tanpa adanya suatu pencatatan pada instansi yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Nikah di bawah tangan ada setelah berlakunya UU perkawinan secara efektif tahun 1975. Hukumnya sah menurut hukum Islam sepanjang tidak ada motif sirri, tentunya juga

telah memenuhi ketentuan syari’ah yang benar. Sedangkan Nikah sah adalah nikah yang dilaksanakan menurut agama dan kepercayaan masing- masing ( lihat pasal 2 ayat (1) UU perkawinan. Namun sebagian akademisi dan praktisi hukum berpendapat sah dan tidaknya suatu perkawinan menurut hukum nasional indonesia juga disyaratkan dengan diselenggarakan atau tidaknya pencatatan pada KUA.17

Dalam hal ini perkawinan yang tidak dicatatkan tetap sah.karena syarat sahnya pernikahan tidak disangkut pautkan dengan pencatatan, tetapi disyaratkan dengan pelaksanaan yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing sebagaimana yang diatur dalam UU perkawinan pasal 2 ayat (1).18 Menurut MUI, nikah di bawah tangan yang dimaksud dalam fatwa ini adalah pernikahan yang terpenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan dalam fiqh (hukum Islam). Namun, nikah ini

17Abdul Rahman, Perlindungan Hukum dan Pemenuhan Hak-Hak Konstitusional Anak Perspektif Hukum Internasional, Hukum Positif dan Hukum Islam (Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 86.

tanpa pencatatan resmi di instansi berwenang sebagaimana diatur dalam perundang-undangan. Sedangkan pengertian nikah sendiri (secara syar’i dalam konteks fiqh)

adalah pernikahan yang dilakukan dua mempelai yang dihadiri wali dan dua saksi

dengan upaya disebarluaskan dalam bentuk (I’lan) maupun walimatul ursy. Nikah dalam konteks fiqh memang tidak mensyaratkan pencatatan, namun Nikah dalam konteks yuridis Indonesia mengharuskan adanya pencatatan. Hal itu dikarenakan pemaknaan nikah bawah tangan oleh UU Indonesia sebagai pernikahan yang dilakukan secara syar’i (konteks fiqh) dan diketahui orang banyak , hanya saja tidak

dicatatkan di kantor urusan agama. Sehingga yang membedakan nikah bawah tangan dan bukan adalah akta nikah sebagai bukti pernikahan.19

Adapun tentang nikah di bawah tangan yang dimaksud dalam fatwah MUI adalah pernikahan yang dipenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan oleh fikih (hukum Islam) namun tampa pencatatan resmi di instansi berwenang sebagai mana yang diatur dalam perundang- undangan yang berlaku. Perkawinan seperti itu dipandang tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang- undangan dan sering kali menimbulkan dampak negatif (madharat) terhadap istri dan anak- anak yang dilahirkannya terkait dengan hak- hak mereka seperti nafkah, hak waris dan lain sebagainya. Tuntutan pemenuhan hak- hak tersebut mana kala terjadi sengketa akan sulit dipenuhi akibat tidak adanya bukti catatan resmi perkawinan yang sah.

Oleh karena itu ulama sepakat bahwa pernikahan harus dicatatkan pada instansi berwenang, sebagai langkah preventif untuk menolak dampak negatif atau

almudharat. Pernikahan di bawah tangan hukumnya sah karena terpenuhinya syarat dan rukun nikah tetapi haram jika terdapat sesuatu yang mudhrat di dalamnya.20

Pencatatan perkawinan merupakan salah satu bentuk pembaruan hukum Islam di indonesia terutama yang berkaitan dengan hukum keluarga. Dan sejak diberlakukannya pada tahun 1974 melalui UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, prosedur legalisasi perkawinan masih disalah fahami oleh kebanyakan umat Islam Indonesia. Oleh karenanya terlihat sekali adanya dikotomi antar apa yang dipahami sebagai syarat sahnya perkawinan menurut masyarakat dan pemerintah. Adapun perkawinan di bawah tangan sendri merupakan perakwinan yang dilakukan menurut figh tanpa pencatatan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Dalam hal ini, pencatatan perkawinan merupakan kewajiban administratif bagi warga negara yang melansungkan perkawinan. Dalam suatu negara yang teratur, segalah hal yang berhubungan dengan penduduk harus dicatat, seperti kelahiran,kematian, demikian pula perkawinan (al-nikah).21 Pencatatan ini selanjutnya dinyatakan dalam surat-surat akte resmi yang dimuat dalam daftar pencatatan.

Pencatatan perkawinan sama halnya dengan pencatatan penting dalam kehidupan seseorang seperti adanya akte lahir sebagai tanda bukti kelahiran, kartu tanda penduduk sebagai bukti warga negara. Adapun perkawinan berkaitan dengan hak waris mewarisi dan keturunan (al-nasab), sehingga perkawinan harus dicatat

20Neng Djubaedddah, Perzinaan dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ditinjau dari Hukum Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 75.

21Neng Djubaedddah, Perzinaan dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ditinjau dari Hukum Islam, h. 75.

untuk menjaga agar jangan ada sampai konflik Hukum dikemudian hari.22 Dalam hal ini, sahnya suatu akad nikah harus memenuhi ketentuan Undang-undang perkawinan (UUP) pasal 2 ayat(1) mengenai tata cara agama, dan ayat (2) mengenai pencatatan nikahnya oleh Pegawai Pencatat Nikah ( PPN) secara simultan. Dengan demikian, ketentuan ayat (1) dan (2) merupakan syarat kumulatif, bukan syarat alternatif. Oleh karena itu menurut Undang-undang perkawinan, perkawinan yang dilakukan menurut fiqh Islam tanpa pencatatan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN), belum dianggap sebagai perkawinan yang sah. Dengan demikian bahwa, akta perkawinan (Nikah) tersebut merupakan hal yang sangat menentukan akan kebenaran suatu permasalahan apabila diperkarakan. Dan dalam lingkungan internasional akta catatan sipil mendapat pengakuan yang sah.

Dalam pasal 5 ayat (1) komplikasi hukum Islam juga menyebutkan bahwa

“agar terjamin ketertiban suatu perkawinan bagi masyarakat Islam maka setiap

perkawinan harus dicatat”. Dengan adanya tertib adminstrasi kenegaraan ini diharapkan peristiwa-peristiwa perkawinan di indonesia dapat dikontrol sehingga tidak ada pihak-pihak (terutama wanita) yang dirugikan. Dengan kata lain, peraturan perundang-undangan itu dibuat bukannya tampa tujuan. Seseorang akan mengalami kegagalan untuk mendapatkan kepastian hukum, hanya karena tidak dapat menunjukkan bukti yang otentik tentang identitas seseorang.23

Berdasarkan pemaparan di atas maka jelaslah bahwa aspek hukum dari pencatatan nikah adalah untuk memperoleh suatu kepastian hukum dalam hal

22Neng Djubaedddah, Perzinaan dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ditinjau dari Hukum Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 75.

23 Witanto, Hukum Keluarga Hak Dan kedudukan Anak Luar kawin (Jakarta: Prenada Media Group), h. 85.

perkawinan dan nasab anak.Segalah peristiwa itu dicatat, karena sebagai sumber adanya kepastian perkawinan di bawah tangan tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya pada saat terjadinya konflik dan pertengkaran yang berujung dengan perceraian walau perceraian tersebut itupun di bawah tangan pula.Adapun bagi mereka yang sudah melaksanakan pernikahan sebelum keluarnya undang-undang tentang perkawinan, maka didalam kompilasi Hukum Islam pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa dalam perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan akta nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke pengadilan agama”.

Oleh karenanya, dilegalkannya perkawinan di bawah tangan, alias nikah tanpa surat nikah oleh MUI tersebut, tentunya dapat menimbulkan fitnah dimana-mana jika seseorang berjalan dengan seorang wanita yang bukan muhrim-nya. Lebih tegasnya lagi adalah,akan muncul praktek prostitusi dengan alasan nikah siri atau nikah di bawah tangan ini. Untuk itu, yang terbaik dan sangat bijak dialkukan oleh MUI adalah dengan melihat perkembangan zaman yang begitu kompleks, sehingga hanya mengeluarkan satu putusan saja yang paling kuat dan tegas seperti pernikahan harus dicatatkan secara resmi pada instansi berwenang, sebagai langkah preventif untuk menolak dampak negatif atau al-mudhrat ( saddan li adz-dzar’ah),

tidak dengan jawaban yang mendua sehingga terlihat 24kembali dikotomi antara negara dan agama yang terus membingungkan umat.25

Berdasarkan uraian tersebut bahwa hukum Islam di Indonesia yang membahas tentang perkawinan di bawah tangan tertuang di dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dan

24Mohammad Asmawi. Nikah dalam perbincangan dan perbedaan (Yogyakarta: Darussalam,2004), h. 33.

dalam peraturan perkawinan tersebut dijelaskan bahwa tujuan utama dari adanya pencatatan perkawinan adalah untuk menciptakan ketertiban yang berkaitan dengan admistrasi kenegaraan yang diharapkan akan mengarah kepada terciptanya ketertiban sosial kemasyarakatan. Oleh karenanya, pernikahan di indonesia itu sah apabila telah terpenuhnya syarat dan rukun perkawinan, namun juga tetap harus dicatat oleh negara. Dengan adanya tertip adminstrasi kenegaraan ini diharapkan peristiwa-peristiwa perkawinan di Indonesia dapat dikontrol sehingga tidak ada pihak-pihak (terutama wanita) yang dirugikan. Karena jika kita lihat kondisi umat Islam Indonesia pada saat ini yang begitu konpleks bermasalah di dalamnya, termasuk dengan masalah kekerasaan terhadap wanita (istri), maka penjelasan tentang perkawinan yang tidak perlu dicatat dapat dipertimbangkan kembali keabsahannya sehingga akan terasa niai mashlahat didalamnya dengan lebih mengedepankan mashlahat yang umum. Kepastian hukum disebut juga dengan istilah principle of legal security dan rechtszekerheid. Kepastian hukum adalah perangkat hukum suatu negara yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara. Kepastian hukum (rechtszekerheid) juga diartikan dengan jaminan bagi anggota masyarakat bahwa semuanya akan diperlakukan oleh negara/penguasa berdasarkan peraturan hukum, tidak dengan sewenang-wenang.26

Sedangkan Itsbat nikah berasal dari bahasa Arab yang terdiri isbat dan nikah. Itsbat nikah sebenarnya sudah menjadi istilah dalam Bahasa Indonesia dengan sedikit revisi yaitu dengan sebutan isbat nikah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, isbat nikah adalah penetapan tentang kebenaran (keabsahan)

26Mohammad Asmawi. Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan. (Yogyakarta: Darussalam, 2004), h. 33.

nikah. Itsbat nikah adalah pengesahan atas perkawinan yang telah dilangsungkan menurut syariat agama Islam, akan tetapi tidak dicatat oleh KUA atau PPN yang berwenang (Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor KMA/032/SK/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan).27

Status perkawinan dalam hal ini diartikan dengan keadaan dan kedudukan perkawinan yang telah dilangsungkan. Dalam aspek ini sebenarnya undang-undang telah memberikan rumusan tentang perkawinan yang sah.28

Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam penjelasan Pasal 2 disebutkan bahwa Dengan perumusan pada Pasal 2 ayat (1) ini, tidak ada Perkawinan diluar hukum rnasing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945. Yang dimaksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam Undang-undang.29

Berdasarakan ketentuan Pasal 2 Ayat 1 UUP dan penjelasannya ini, dapat diketahui bahwa patokan untuk mengetahui suatu perkawinan sah adalah hukum masing-masing agama dan kepercayaan para pihak serta ketentuan perundang-undangan Pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

27Muhammad Mutaal Abdul Al-jabry, Perkawinan Campuran menurut pandangan Islam

(Jakarta PT Bulan Bintang,1995), h .14.

28Witanto, Hukum Keluarga Hak Dan kedudukan Anak Luar kawin (Jakarta: Prenada Media Group), h. 87.

Pencatatan perkawinan akan menimbulkan kemaslahatan umum karena dengan pencatatan ini akan memberikan kepastian hukum terkait dengan hak-hak suami/isteri, kemaslahatan anak maupun efek lain dari perkawinan itu sendiri. Perkawinan yang dilakukan di bawah pengawasan atau di hadapan Pegawai Pencatat Nikah/Kantor Urusan Agama akan mendapatkan Akta Nikah sebagai bukti telah dilangsungkannya sebuah perkawinanAkta Nikah merupakan akta autentik karena akta nikah tersebut dibuat oleh dan di hadapan pegawai pencatat nikah sebagai pejabat yang berwenang untuk melakukan pencatatan perkawinan, dibuat sesuai dengan bentuk yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan dibuat di tempat Pegawai Pencatat Nikah/Kantor urusan Agama tersebut melaksanakan tugasnya.30

Meskipun, Peraturan Perundang-Undangan sudah mengharuskan adanya Akta Nikah sebagai bukti perkawinan, namun tidak jarang terjadi suami istri yang telah menikah tidak mempunyai kutipan akta nikah. Kemungkinan yang jadi penyebab tidak adanya kutipan akta nikah disebabkan oleh beberapa faktor seperti:31

a. Kelalaian pihak suami isteri atau pihak keluarga yang melangsungkanUndang-Undang Perkawinan

b. Tidak terpenuhinya syarat-syarat untuk berpoligami terutama tidak adanya persetujuan dari isterisebelumnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 Ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Pasal 100 KUH PerdataUndang-Undang Perkawinan

30Witanto, Hukum Keluarga Hak Dan kedudukan Anak Luar kawin (Jakarta: Prenada Media Group), h. 89.

c. Tidak terpenuhinya syarat-syarat untuk berpoligami terutama tidak adanya persetujuan dari isteri sebelumnya.

Dalam KHI telah dinyatakan dengan jelas bahwa perkawinan di bawah tangan jelas tidak dapat dilaksanakan selain kedua calon suami isteri beragama Islam. Sehingga tidak ada peluang bagi orang-orang yang memeluk agama Islam untuk melaksanakan perkawinan di bawah tangan. Kenyataan yang terjadi dalam sistem hukum Indonesia, perkawinan di bawah tangan dapat terjadi. Hal ini disebabkan peraturan perundang-undangan tentang perkawinan memberikan peluang tersebut terjadi, karena dalam peraturan tersebut dapat memberikan beberapa penafsiran bila terjadi perkawinan di bawah tangan.32

Berdasarkan UU No. 1/1974 pasal 66, maka semua peraturan yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam UU No. 1/1974, dinyatakan tidak berlaku lagi yaitu perkawinan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW, Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan perkawinan campuran. Secara a contrario, dapat diartikan bahwa beberapa ketentuan tersebut masih berlaku sepanjang tidak diatur dalam UU No. 1/1974.33 Perubahan merupakan fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini. Perubahan kebudayaan adalah ketidaksesuaian diantara unsur-unsur budaya yang saling berbeda, sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya, perubahan kebudayaan ini misalnya karena tingkat pendidikan dari anggota masyarakat dan pengaruh media massa sehingga terjadi perubahan, apakah nanti perubahan yang mengarah kepada kebaikan atau akan melahirkan budaya baru yang sesuai dengan kondisi sosial. Lebih lanjut dijelaskan oleh para ahli antropologi terkenal seperti

Redfield LintHarkovits merumuskan bahwa akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai akibat adanya kontak secara langsung dan terus-menerus antar

32 M. Nasri Djamil, Anak Bukan Untuk Di Hukum, h. 22. 33 M. Nasri Djamil, Anak Bukan Untuk Di Hukum, h. 23.

kelompok-kelompok manusia yang mermpunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Sehingga menimbulkan adanya perubahan kebudayaan yang asli dari kedua masyarakat yang bersangkutan.34

Terjadinya perubahan suatu kebudayaan itu muncul karena keadaan masyarakat yang serba plural akan bertemu dan saling bahur-membahur dengan beberapa kelompok etnik lainnya yang berbeda-beda pola kebudayaannya. Di mana setiap anggotanya akan memainkan peranan sebagai pengungkapan akan kedudukannya sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi. Peran yang dilakukan itu terwujud pada tindakan dengan menggunakan strategi adaptif tertentu yang memiliki eksistensi baik sebagai individu maupun sebagai kelompok dan anggota masyarakat tertentu.35 Setelah adanya kedudukan anak dalam ketentuan hukum Islam kemudian akan timbulnya suatu pemberian hak atau melahirkan hak anak yang harus diakui/diyakini, dan diamankan sebagai implementasi amalan yang diterima oleh anak dari orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara. Setelah adanya hak anak dalam pandangan hukum Islam yang memiliki aspek secara universal terhadap kepentingan anak itu sendiri yaitu meletakkan hak anak dalam hukum Islam, memberikan sebuah gambaran bahwa tujuan dasar kehidupan umat Islam adalah membangun ummat manusia yang memegang teguh ajaran Islam dengan demikian, hak anak dalam pandangan hukum Islam meliputi aspek hukum dalam lingkungan hidup seseorang untuk Islam.

Di Indonesia perkawinan di bawah tangan dikategorikan dalam empat golongan tergantung pemicunya , yaitu :

34Abdullah Ahmad. BA. Kerajaan Bima dan Kebudayaan Bima (Diterbitkan oleh Kantor Kebudayaan Kabupaten Bima. 1992 ), h. 15.

35Mohammad Asmawi. Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan. (Yogyakarta: Darussalam, 2004), h. 33.

1. Berbenturan dengan aturan dalam hukum positif, yaitu pernikahan di bawah tangan yang dilakukan untuk menghindari prosedur yang berbelit-belit, pada umumnya menyangkut persyaratan administratif. Seperti masalah pernikahan dengan warga negara lain, faktor usia, faktor ingin menikah lagi, dan lain-lain.

2. Faktor psikologis, perkawinan di bawah tangan yang dilakukan karena faktor psikologis dalam artian faktor usia, telah memenuhi persyaratan untuk menikah. Dari segi ekonomi dan orang tua tidak ada masalah namun studi mereka belum selesai. Secara psikologis mereka belum benar-benar siap untuk mandiri. Dalam kasus ini biasanya mereka membuat perjanjian seperti tidak memilki anak terlebih dahulu.

3. Faktor ekonomi, faktor pemicu ini pada umumnya terjadi di kelompok-kelompok marjinal, orang-orang yang hidup ditempat terlarang atau tidak diakui keberadaannya (misal pinggiran sungai).

4. Faktor tradisi, sebagai sebuah tradisi yang berlangsung turun temurun, mereka menganggap nikah di bawah tangan sebagai suatu kelaziman, yang lumrah, praktis, dan ekonomis, sehingga mereka merasa tidak perlu dilegalkan. Umumnya perempuan didaerah pedesaan, daerah terpencil, ataupun kelompok marjinal menjalaninya sebagai sesuatu yang biasa, pernikahan dibawah tangan, dibawah umur adalah suatu kewajiban sosial. Yang terpenting adalah status sebagai istri.

Perkawinan merupakan ikatan lahir batin yang dalam kuat dan kekal antara dua insan. Suatu ikatan yang mencakup hubungan kekal antara keduanya, maka harus terdapat didalamnya kesatuan hati yang dipertemukan dalam suatu ikatan yang tidak mudah lepas. Untuk itu harus ada kesamaan dasar dan tujuan antara kedua mempelai. Dalam konteks ini, Kepercayaan agama merupakan suatu

landasan yang mengisi setiap jiwa, mempengaruhinya, menggambarkan perasaanya, membatasi semua pengaruh jiwa dan kehendaknya serta menentukan jalan kehidupan yang bakal ditempuhnya.36 Bab larangan perkawinan. Pada pasal 40 point C dinyatakan bahwa dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam. Kemudian dalam pasal 44 dinyatakan bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

36Muhammad Mutaal Abdul Al-jabry, Perkawinan Campuran menurut pandangan Islam

64

Berdasarkan berbagai penjelasan dan uraian bab perbab dari penelitian ini, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Di dalam undang-undang positif anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan. Hukum tidak mengatur bahwa anak yang lahir dari perkawinan dibawah tangan tidak memiliki hak hukum justru anak sangat dilindungi oleh Negara hal itu diatur dalam Dalam pasal 1 Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pada hakikatnya setiap anak yang lahir berasal dari sperma seorang laki-laki dan sejatinya harus menjadi ayahnya, namun hukum Islam memberikan ketentuan lain, seorang anak dapat dikatakan sah apabila memiliki hubungan nasab dengan ayahnya jika terlahir dari perkawinan yang sah. Sebaliknya anak yang lahir diluar perkawinan yang sah, tidak dapat disebut anak yang sah, biasa disebut dengan anak zina atau anak di luar perkawinan yang sah, dan ia hanya memiliki hubungan nasab dengan ibunya.

2. Konsekuensinya menurut Pasal 42 sampai dengan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Jo Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah, dan anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Kedudukan anak tersebut selanjutnya akan

diatur dalam Peraturan Pemerintah. Artinya si anak tidak mempunyai hubungan hukum terhadap ayahnya. Di dalam akta kelahirannya pun statusnya dianggap sebagai anak luar nikah, sehingga hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkannya. Keterangan berupa status anak luar nikah dan tidak tercantumnya nama si ayah akan berdampak sangat mendalam secara sosial dan psikologis bagi si anak. Ketidak jelasan status si anak di muka hukum, mengakibatkan hubungan antara ayah dan anak tidak kuat, sehingga bisa saja suatu waktu ayahnya menyangkal bahwa anak tersebut adalah bukan anak kandungnya. Hal ini sangat merugikan kepada si anak baik dalam kehidupan pribadinya ataupun dalam pergaulan si anak di dalam masyarakat sehingga berakibat si anak tersebut tidak berhak atas biaya kehidupan, pendidikan, dan harta warisan dari ayahnya.

3. Mengenai status anak yang lahir dari perkawinan dibawah tangan, maka menurut hukum Islam, anak mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. Sebab, anak yang lahir dari hubungan syibhah saja ditetapkan nasabnya kepada bapak, apalagi nikah dibawah tangan yang termasuk nikah yang diperselisihkan”boleh dan sahnya”oleh para ulama. Karena itu, nikah dibawah tangan itu dianggap cacat /fasad yang ringan. Sedangkan menurut pandangan hukum posiistif, anaknya hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Adapun status anak yang lahir dari nikah di bawah tangan (nikah yang hanya memenuhi pasal 2 ayat (1) saja dari UU Perkawinan), maka menurut hukum Islam, anaknya sah dan mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. Sedangkan menurut hukum posiitf, anaknya tidak sah, karena nikahnya tidak sah, sebab tidak memenuhi pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU Perkawinan. Karena itu,

si anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya (vide UU Perkawinan Pasal 43 dan Kompialsi Hukum Islam pasal 100).

Dokumen terkait