• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persamaan Regresi Linier Berganda

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

4.4 Analisis Verifikatif

4.4.1 Persamaan Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda digunakan peneliti dengan maksud untuk menganalisis hubungan linear antara variabel independen dengan variabel dependen. Dengan kata lain untuk mengetahui besarnya pengaruh kontrol diri dan diskon terhadap pembelian impulsif. Dalam perhitungannya, penulis menggunakan perhitungan komputerisasi yaitu dengan menggunakan media program komputer, yaitu SPSS 21 for windows.

Berikut merupakan perhitungan regresi linear berganda secara komputerisasi dengan SPSS 21 for windows sebagai berikut:

Tabel 4.23

Koefisien Regresi Linier Berganda

Berdasarkan output di atas, diperoleh nilai a sebesar 12.071 nilai b1 sebesar -0.72 dan b2 sebesar 0.425. Dengan demikian maka dapat dibentuk persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Nilai a, b1dan b2dalam persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai

berikut:

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized

Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 12.071 1.779 6.785 .000 X1 -.072 .037 -.124 -1.947 .054 X2 .425 .035 .763 12.011 .000 a. Dependent Variable: Y Y= 12.071- 0,72X1+ 0,425X2

Dari persamaan linier berganda diatas dapat dilihat besarnya konstanta adalah 12,071, artinya jika kontrol diri dan diskon bernilai 0, maka pembelian impulsif akan bernilai 12,071.

Tanda koefisien regresi variabel bebas menunjukkan arah hubungan dari variabel yang bersangkutan dengan variabel tak bebasnya. Koefisien regresi untuk variabel bebas X1 (Kontrol diri) bernilai Negatif, menunjukkan adanya hubungan

yang tidak searah antara Kontrol diri dan Pembelian Impulsif. Koefisien regresi variabel Kontrol diri sebesar -0,72 mengandung arti untuk setiap pertambahan Kontrol dirisebesar satu satuan akan menyebabkan bertambahnya Pembelian Impulsif

sebesar -0,72. Sehingga semakin konsumen terpengaruh oleh factor diluar dirinya maka kontrol diri konsumen tersebut rendah dan membuatnya semakin impulsif, dan apabila konsumen tersebut dapat menahan keinginannya dan dapat mengontrol dirinya maka konsumen tersebut dapat menahan untuk tidak berbelanja secara impulsif. Dapat di jelaskan Thompson, Locander & Pollio (dalam utami 2008:52) yang mengatakan bahwa pembeli mengalami kehilangan kontrol terhadap perilaku mereka sehingga kemudian menghasilkan pembelian impulsif yang berlebihan.

Koefisien regresi untuk variabel bebas X2 (Diskon) bernilai positif, menunjukkan adanya hubungan yang searah antara Diskon dan Pembelian Impulsif.

Koefisien regresi variabel Diskon sebesar 0,425 mengandung arti untuk setiap pertambahan Diskon sebesar satu satuan akan menyebabkan bertambahnya Pembelian Impulsif sebesar 0,425. Sehingga semakin tinggi diskon yang diberikan

perusahaan maka mendorong konsumen untuk melakukan pembelian impulsif, dan semakin tinggi diskon maka konsumen semakin impulsif. Berdasarkan pendapat Fandy Tjiptono (2008:229) Tujuan dari promosi penjualan sangat beragam. Melalui promosi penjualan, perusahaan dapat menarik pelanggan baru, mempengaruhi pelanggannya untuk mencoba produk baru, mendorong pelanggan membeli lebih banyak, menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying (pembelian tanpa rencana sebelumnya),

Dengan hasil yang telah didapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jika Kontrol diri dinaikan, maka pembelian impulsif akan menurun atau sebaliknya, dan jika diskon dinaikan maka pembelian impulsif juga ikut naik.

4.4.2 Uji Asumsi Klasik

Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat pada analisis regresi berganda maka dilakukan pengujian asumsi klasik agar hasil yang diperoleh merupakan persamaan regresi yang memiliki sifat Best Linier Unbiased Estimator (BLUE). Pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran asumsi-asumsi klasik merupakan dasar dalam model regresi linier berganda yang dilakukan sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Asumsi normalitas merupakan persyaratan yang sangat penting

pada pengujian kebermaknaan (signifikansi) koefisien regresi. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistic

Gambar 4.5

Grafik Asumsi Normalitas

Bila titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, berarti model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Multikolinieritas berarti adanya hubungan yang kuat di antara beberapa atau semua variabel bebas pada model regresi. Jika terdapat Multikolinieritas maka koefisien regresi menjadi tidak tentu, tingkat kesalahannya menjadi sangat besar dan biasanya ditandai dengan nilai koefisien determinasi yang sangat besar, tetapi pada pengujian parsial koefisien regresi, tidak ada ataupun kalau ada sangat sedikit sekali koefisien regresi yang signifikan. Pada penelitian ini digunakan nilai sig. correlations> alpha (tingkat ketelitian = 5%) sebagai indikator ada tidaknya multikolinieritas diantara variabel bebas.

1. Ho : Tidak terjadi adanya Multikolinear diantara data pengamatan (independent variable).

2. Hi : Terjadi adanya Multikolinear diantara data pengamatan (independent variable)

Jika nilai sig. correlations > alpha(tingkat ketelitian = 5%) maka Ho diterima atau tidak terdapat hubungan yang linear diantara variabel independen yang ada pada model, sehingga kekhawatiran akibat multikolinearitas dapat dihindari.

Berdasarkan pengolahan data menggunakan software SPSS 21 for windows

Tabel 4.24 Uji Multikolinieritas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Const ant) 12.071 1.779 6.785 .000 X1 -.072 .037 -.124 -1.947 .054 .946 1.057 X2 .425 .035 .763 12.011 .000 .946 1.057 a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan tabel 4.25, dapat dilihat bahwa Kontrol diri dan Diskon menunjukan nilai tolerance> 0,10 dan nilai VIF < 10, Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model regresi penelitian ini adalah terbebas dari multikolineritas atau dapat dipercaya dan obyektif.

c. Uji Heteroskedastisitas

Untuk mengetahui ada tidaknya gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan grafik heteroskedastisitas antara nilai prediksi variabel dependen dengan variabel indepeden. Dari Gambar Scatterplots dibawah ini terlihat titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 dan sumbu Y, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak untuk digunakan dalammelakukan pengujian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gamabar 4.6

Scatterplot Hasil Uji Heteroskedastitas

d. Uji Autokorelasi

Tabel 4.25 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change

1 .801a .641 .634 1.23537 .641 84.044 2 94 .000 1.758

a. Predictors: (Constant), X2, X1 b. Dependent Variable: Y

Dari hasil olahan data SPSS dapat dilihat bahwa hasil uji Durbin Watson

sebesar 1,758. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel, dengan menggunakan nilai signifikan 5 persen (0,05). Jumlah data (n) = 97 dan jumlah variabel bebas (k) = 2, maka dl = 1,623 du = 1,709. Jadi (4-du) = (4-1,709) = 2,291. Karena nilai DW sebesar 1,758 lebih besar dari batas du sebesar 1,709 dan kurang dari (4-du) yaitu 2,291 hal ini berarti tidak ada autokolerasi negatif atau dapat disimpulkan model regresi ini masih dapat dipergunakan untuk melakukan pengujian.

4.4.3 Analisis Korelasi

Untuk mengetahui keeratan hubungan antara Kontrol diri, Diskon dengan Pembelian impulsif maka dapat dicari dengan menggunakan pendekatan analisis korelasi Pearson (pearson product moment correlation). Korelasi ini digunakan karena teknik statistik ini paling sesuai dengan jenis skala penelitian yang digunakan yaitu rasio. Dengan menggunakan software SPSS 21, diperoleh hasil analisis korelasi

Pearson sebagai berikut:

a. Korelasi Secara Parsial antara Kontrol diri dengan Pembelian impulsif

Untuk menghitung korelasi secara parsial antara Kontrol diri dengan Pembelian impulsif, apabila Diskon dianggap konstan, digunakan perhitungan menggunakan SPSS 21 for windows yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.26

Koefisien Korelasi Kontrol diri Dengan Pembelian impulsif

Correlations X1 Y X1 Pearson Correlation 1 -.301** Sig. (2-tailed) .003 N 97 97 Y Pearson Correlation -.301** 1 Sig. (2-tailed) .003 N 97 97

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan hasil output dari pengolahan data menggunakan program SPSS 21 for windows tersebut maka didapat nilai korelasi untuk Kontrol diri dengan Pembelian impulsif adalah -0.301, artinya hubungan variabel Kontrol diri dengan Pembelian impulsif adalah Lemah (Berdasarkan tabel tingkat keeratan korelasi dapat dilihat pada tabel 3.8).

Korelasi antara Kontrol diri dan Pembelian impulsif bersifat Negatif, maksudnya jika semakin tinggi tingkat Kontrol diri maka Pembelian impulsif di prediksi akan menurun. Nilai signifikansi sebesar 0.002< 0.05(tingkat ketelitian) menunjukan bahwa hubungan Kontrol diri dan Pembelian impulsif signifikan, artinya nilai korelasi ini dapat dijadikan acuan atau bahan patokan dalam perilaku konsumen untuk peningkatan pembelian impulsif.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa kontrol diri dan mengacu pada perilaku konsumen terhadap proses pembelanjaannya, yang dimana konsumen memiliki banyak factor yang mendorongnya untuk berbelanja, dan selama kontol diri dapat menahan keinginan konsumen dan berbelanja sesuai kebutuhan. Menurut kartajaya dkk 2003 dalam Fika (2008 : 53), konsumen pun akan menyerah karena di dalam dirinya telah terjadi emotional connection dan emotional attachment dengan produk tersebut. Dari sinilah kontrol diri diperlukan untuk melawan kuatnya stimulus eksternal yang melingkari konsumen.

b. Korelasi Secara Parsial Antara Diskon Dengan Pembelian Impulsif

Untuk menghitung korelasi secara parsial antara Diskon dengan Pembelian impulsif, apabila Kontrol diri dianggap konstan, digunakan perhitungan menggunakan SPSS 21 for windows yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.27

Koefisien Korelasi Diskon dengan Pembelian Impulsif

Correlations X2 Y X2 Pearson Correlation 1 .792** Sig. (2-tailed) .000 N 97 97 Pearson Correlation .792** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 97 97

Berdasarkan hasil output dari pengolahan data menggunakan program SPSS 21for windows tersebut maka didapat nilai korelasi untuk Diskon dengan Pembelian Impulsif adalah 0,792, artinya hubungan variabel Diskon dengan Pembelian impulsifadalah cukup tinggi (Berdasarkan tabel tingkat keeratan korelasi dapat dilihat pada tabel 3.8).

Korelasi antara Diskon dan Pembelian impulsif bersifat positif, maksudnya jika semakin tinggi Diskon maka Pembelian impulsif di prediksi akan meningkat pula. Nilai signifikansi sebesar 0.002 < 0.05 (tingkat ketelitian) menunjukan bahwa hubungan Diskon dan Pembelian impulsif signifikan, artinya, nilai korelasi ini dapat dijadikan acuan atau bahan patokan dalam perilaku konsumen untuk peningkatan pembelian impulsif.

Hal ini dijelaskan bahwa diskon dapat mempengaruhi sejauh mana konsumen melakukan pembelian secara impulsif di Neps Clothing Bandung. Dikarenakan Neps Clothing dapat memanfaatkan factor diskon untuk menarik konsumen berbelanja. Seperti memaksimalkan program diskon dengan jangka panjang yang bisa mendorong konsumen untuk melakukan pembelian secara impulsif. Fandy Tjiptono (2008:229) Tujuan dari promosi penjualan sangat beragam. Melalui promosi penjualan, perusahaan dapat menarik pelanggan baru, mempengaruhi pelanggannya untuk mencoba produk baru, mendorong pelanggan membeli lebih banyak,

menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying (pembelian tanpa rencana sebelumnya),

Dokumen terkait