JALAN PANJANG MENUJU KESENIMANAN DALANG
C.1. Persembahan Tee Thiam Hauw untuk Radyo Harsono
Pasangan suami istri Tee Giok Koen dan Oei Tjian Nio mungkin tidak pernah menduga bahwa salah satu dari kesembilan anaknya akan memiliki kecintaan luar biasa terhadap wayang kulit, kesenian yang begitu digandrungi masyarakat Jawa. Bukan tanpa sebab, pertama tentu karena pekerjaan berdagang sangatlah identik dengan mereka, selain
29
tentunya ada profesi-profesi lain seperti dokter, dosen, bahkan olahragawan yang dipilih dan diminati para keturunan Tionghoa.6 Mereka tentunya tidak pernah membayangkan anak kedua mereka itu kelak akan memilih menjadi seorang seniman yang bergelut dengan wayang kulit.
Kedua, masyarakat Tionghoa bukanlah tanpa kesenian. Mereka memiliki beragam kesenian yang bentuk dan warnanya tak kalah estetis. Dalam hal ini ketika bicara tentang wayang, masyarakat Tionghoa peranakan memiliki wayang Potehi yang cukup memberikan gambaran bagaimana mereka memiliki rasa seni yang tak kalah dalam dan kaya makna. Namun demikian, Radyo Harsono kecil terpikat dan menambatkan hatinya pada wayang kulit. Inilah titik awal jejak perjalanan lahirnya seorang dalang wayang kulit dari keturunan Tionghoa.
Pasangan Tee Giok Koen atau Tejo Kuncoro dan istri tercintanya Oei Tjian Nio atau Widyaningsih tengah berbahagia karena kelahiran anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki. Bayi laki-laki yang terlahir di Muntilan, hari Selasa Pon 21 Juni 1960 itu kemudian mereka beri nama Tee Thiam Hauw yang kemudian menggunakan nama “Indonesia”, Radyo Harsono7. Kedua orang tua Radyo juga dilahirkan di Jawa. Tejo Kuncoro lahir di Pakem, Sleman, Yogyakarta, sedangkan Widyaningsih lahir di Semarang dan mendewasa di Mulo, Wonosari. Kelahiran Radyo Harsono, anak laki-laki pertama di keluarga itu disambut dengan kebahagian disertai harapan, kelak ia akan menjadi manusia yang mencintai Tuhan, mencintai sesama, dan mencintai negeri ini. Negeri yang tidak hanya tempat kelahiran, namun tempat jiwa dan raga mereka telah melebur, menyatu dengan bangga sebagai orang Indonesia.
6 Masyarakat Tionghoa sejak kedatangannya dahulu memang dikenal sebagai kaum perantau yang mencari nafkah lewat berdagang melalui pelayaran. Namun selain berdagang, untuk Tionghoa di nusantara datang pula mereka dengan profesi lain seperti pengrajin, tukang kayu, tukang batu, dan lain-lain (Daradjadi, dalam bukunya Geger Pacinan 1740-1743 Persekutuan Tionghoa Jawa Melawan VOC, 2013: 54-64, 144-153).
7 Waktu Orde Baru berkuasa muncul peraturan agar mereka keluarga keturunan Tionghoa menggunakan nama Indonesia. Maka berturut-turut mulai dari kedua orang tua, hingga anggota keluarga yang lain termasuk Tee Thiam Hauw yang beranjak memasuki usia sekolah menggunakan nama Indonesia, dengan Radyo Harsono (Wawancara Ki Radyo Harsono di Muntilan, 18 Mei 2019).
30
Seperti kebanyakan keluarga Tionghoa peranakan di Muntilan waktu itu, Tejo Kuncoro dan Widyaningsih mencari nafkah dengan mata pencaharian sebagai pedagang kelontong di pasar Muntilan. Mereka membuka sebuah toko yang menjual dan menyediakan bahan-bahan pokok dan makanan, seperti beras, gula, minyak, kacang tanah, dan lain-lain.
Muntilan sendiri merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang menduduki posisi penting, sebagai titik temu jalur perdagangan dan jasa yang menghubungkan kota Semarang, Magelang, dan Yogyakarta.8 Sejak awal sebelum peralihan kekuasaan atas Karesidenan Kedu dari Kesultanan Yogyakarta kepada pemerintah koloni Inggris pada tahun 1812, di Muntilan telah terdapat tempat pemukiman keluarga Tionghoa (http./wikipedia.com) [20 Mei 2019]. Maka tidak heran di Muntilan hingga sekarang tradisi seni budaya dan upacara keagamaan masyarakat Tionghoa masih berjalan. Di lingkungan inilah Radyo kecil tumbuh dan dibesarkan, membaur bersama kehidupan orang Jawa.
Sejak usia 5 tahun, Radyo Harsono mulai menyadari fakta bahwa masyarakat Tionghoa di sekitarnya memiliki apresiasi yang tinggi terhadap kesenian Jawa. Jauh sebelum ia lahir, di area klenteng Muntilan setiap tahunnya diadakan pentas wayang kulit. Bahkan pernah di suatu waktu, klenteng Hok An Kiong Muntilan yang berdekatan dengan kediaman keluarga Radyo menggelar pertunjukan wayang kulit hingga 3 panggung. Panggung depan klenteng, di bagian belakang, dan di sebelah timur klenteng. Pementasan wayang kulit biasanya dilaksanakan di hari ke-15 Cap Go Meh, atau acara ulang tahun (senjip), atau hari sembahyangan ageng. Jika waktunya bersamaan, siang hari akan diselingi pementasan wayang potehi. Pada saat itu warga Tionghoa peranakan di sana juga banyak yang belajar
8 Letak Muntilan tidak jauh dari Kota Mungkid yang menjadi pusat pemerintahan Magelang. Jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari kota Magelang dan 25 kilometer dari kota Yogyakarta. Pada zaman kolonial Muntilan juga berada di jalur kereta api tua yang menghubungkan stasiun Tugu Kota Yogyakarta, stasiun Mungkid, stasiun Kebonpolo kota Magelang, stasiun Ambarawa, dan stasiun Tambaksari kota Semarang.
Namun kini jalur itu sudah tidak beroperasi (http./wikipedia.com) [20 Mei 2019].
31
memainkan gamelan dan mempelajari tari-tarian Jawa. Tetapi sejak peristiwa 1965, kegiatan-kegiatan ini dibekukan. Hanya pementasan wayang kulit saja yang diperbolehkan digelar dan masih dilakukan hinggi kini, setiap setahun sekali.
Di masa itu ada sejumlah dalang yang cukup dikenal, yaitu Ki Sudar dari Remame, Jumoyo, Salam, Magelang dan Ki Joyo Kandar yang berasal dari daerah Borobudur. Radyo Harsono kecil masih sempat melihat beberapa pementasan wayang kulit oleh Ki Sudar.
Sedangkan untuk daerah Muntilan yang paling terkenal adalah Ki Joyo Kandar dan Ki Cermo Karsono atau juga disebut Mbah Sempon. Di antara beberapa dalang tersebut, Ki Joyo Kandar-lah yang paling sering pentas di klenteng Hok An Kiong (Wawancara Ki Radyo Harsono, 18 Mei 2019).
Sepeninggal Ki Joyo Kandar, terbilang Ki Hadi Sugito dari Toyan, Wates, Kulonprogo, serta Ki Timbul Hadi Prayitno dari Patalan, Bantul, Yogyakarta lah yang kemudian sering ditanggap di klenteng. Di masa-masa itu, Radyo kecil sudah menunjukkan ketertarikan pada pertunjukan wayang. Ia sering datang untuk menonton wayang yang digelar klenteng, bahkan hingga larut malam. Masa kecilnya kemudian menjadi sangat akrab dengan kesenian Jawa, terkhusus wayang dan karawitan. Ternyata kelak setelah masa itu telah jauh terlewat, si penonton kecil itu tumbuh dewasa sebagai dalang. Tidak pernah ada yang menyangka dan membayangkan. Ki Radyo Harsono menjadi dalang yang diperhitungkan dan diakui masyarakat. Ia menggantikan nama-nama dalang besar dan tersohor sebelumnya, menggelar lakon di klenteng Hok An Kiong tempat masa kecilnya dulu mengapresiasi wayang. Meskipun ia terlahir dari rumpun Tionghoa, alam dan karsa Tuhan menggiring
32
seorang Tee Thiam Hauw, menambatkan hati dan mendedikasikan kecintaannya terhadap wayang kulit Jawa.9