JALAN PANJANG MENUJU KESENIMANAN DALANG
C.5. Sebuah Mozaik
Radyo Harsono memulai belantara pembelajaran pakeliran. Tidak ada yang tidak punya makna. Semua unsur wayang menyiratkan pesan tentang sebab akibat. Seorang tokoh wayang lahir di mana, bagaimana, terkait dengan apa, bagaimana jalan hidup, sampai mati dengan bagaimana, semuanya tergambar gamblang di wayang. Semua ada alasan tertentu.
Semuanya mengajari kita, manusia, untuk selalu dalam keadaan eling lan waspodo. Semua unsur itu mulai diurai dipelajari satu-persatu oleh Radyo Harsono di SMKI. Namun begitu, seiring dengan bertambahnya kedewasaan, ia mulai memperhatikan kejadian-kejadian di kehidupan nyata. Radyo mulai menyimpulkan dan mempelajari kehidupan sebagai manusia.
Sangat sering ia simpulkan bahwa kejadian tertentu di kehidupan nyata pada prinsipnya sudah
43
disampaikan dalam bungkusan cerita wayang. Yang tak kalah penting, segala aspek yang mengiringinya berproses juga membangun sensitifitas dan empatinya, menjadikan ia manusia baru setiap hari, yang semakin dewasa.
Di semester pertamanya, bersama dengan siswa lain, Radyo Harsono belum diarahkan untuk mengambil jurusan tertentu. Jadi siswa jurusan tari, karawitan, dan pedalangan semua masih menjalani pelajaran yang sama. Meski baru ketinggalan 1 minggu, itu sudah membuat Radyo Harsono sempat merasakan kewalahan di awal-awal pembelajarannya. Terutama untuk mata pelajaran tari. Namun secara keseluruhan Radyo Harsono cukup baik menyerap ilmu yang diajarkan di SMKI.
Di tiga bulan awal ia belajar, Radyo Harsono pergi pulang dari Muntilan ke SMKI naik bus umum, tarifnya 50 rupiah, jumlah yang tentu sangat kecil dibandingkan masa sekarang. Bahkan tanpa bermaksud mengesampingkan nilai uang, orang sekarang akan malas menyimpan 50 rupiah. Orang cenderung abai dan tidak mau menghitungnya. Terminal utama kota Yogyakarta waktu itu masih di lokasi yang sekarang ini dikenal sebagai THR singkatan dari Taman Hiburan Rakyat. Saking kondangnya kata THR hingga seolah-olah nama THR adalah nama itu sendiri, bukan singkatan apapun. Orang bicara tentang THR dan akan saling paham itu apa dan dimana lokasinya tanpa mengetahui THR itu kepanjangannya apa. Dari THR, Radyo Harsono biasa naik becak kearah Yudonegaran alun-alun utara. Di pagi hari ia biasa sarapan di warung sederhana di lingkungan Notoprajan, menyantap menu nasi gulai seharga 15 rupiah. Itu sudah cukup memberinya energi menemaninya belajar seharian.
Begitupun dengan biaya sekolah.
Seringkali murahnya biaya sekolah yang harus dibayarkan Radyo Harsono menjadi bahan candaan orang tua dan kakaknya. Bagaimana tidak, SPP saat itu adalah sebesar 500
44
rupiah saja. Jumlah ini hanyalah sepertiga dari rata-rata nominal SPP di sekolah lain pada umumnya. Sungguh menggambarkan uang masih ada nilainya ketika itu. Dalam keseharian sekarang ini, seringkali umum orang mengatakan bahwa uang seperti tidak ada nilai signifikan. Uang ratus ribu dibawa belanja hanya akan membawa pulang 1 atau 2 potong pakaian saja, meskipun pada dasarnya besar nilai tentunya menyesuaikan dengan keadaan.
Tetapi mau bagaimanapun juga, SPP yang konon dinilai kecil itu nyatanya sudah bisa jadi sarana keberlangsungan proses pamulangan yang penuh dengan pengabdian terhadap bidang seni dan budaya.
Setelah kurang lebih 3 bulan itu, sempat kedua orang tuanya berniat membelikan sepeda motor untuk Radyo Harsono. Naluri sebagai orang tualah yang tidak sampai hati melihat putra mereka harus bangun awal menunggu bus. Potensi untuk terlambat datang ke sekolah bisa terjadi setiap hari karena mau tidak mau Radyo Harsono hanya bisa mengikuti jalur dan kecepatan bus, selain karena melelahkan tentunya. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya Radyo Harsono memang sudah membutuhkannya, iapun menolak tawaran itu dengan alasan ia masih menyesuaikan diri, dan kegiatan sekolah belum banyak. Hingga pada akhirnya setalah 2 bulan, setelah ia semakin berbaur akrab dengan teman-temannya, Radyo Harsono baru mengetahui bahwa ternyata ada asrama yang bisa ditinggali anak-anak SMKI.
Lokasi asrama ada di sebelah timur Sasana Hinggil keraton Yogyakarta, tepatnya di ndalem Ngadiwinatan. Berkat dorongan dari sahabat-sahabatnya, Radyo Harsono kemudian memutuskan untuk tinggal di asrama.
Semester pertama di SMKI berlalu, semua berjalan baik dan di jalan yang tepat.
Radyo Harsono dan kawan-kawannya di SMKI dibentuk dan membentuk diri mereka sendiri pada kesadaran bahwa sepatutnya mereka memiliki tanggung jawab untuk juga mengabdi ke
45
masyarakat. Hal yang sesungguhnya juga disadari oleh anak-anak pencari ilmu di sekolah-sekolah manapun. Rumah pendidikan bukanlah sebuah kotak tertutup, yang hanya bisa dilihat dari luar.
Setelah mendapat mata pelajaran karawitan di semester kedua, Radyo Harsono dan lainnya mulai bergaul ke luar membantu beragam pementasan di luar jam pengajaran SMKI.
Paling sering mereka ke Universitas Gadjah Mada, pentas karawitan di fakultas-fakultas. Di lingkungan Muntilan sendiri, orang-orang yang mulai mengetahui dirinya sekolah di sekolah seni, mulai memintanya tampil di klenteng. Malamnya Ki Joyo Kandar, sedangkan pentas wayang siang hari adalah Radyo Harsono. Hal semacam ini adalah bentuk sumbangsih ke luar yang secara pelan namun pasti, turut membentuk mentalitas positif para siswa, terutama pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Radyo Harsono mulai sibuk dan perlu efisiensi waktu. Ini mengingatkannya pada tawaran sepeda motor. Ia mulai membayangkan pergi ke sana-kemari naik sepeda motor bebek Honda keluaran tahun 1970-an, motor yang saat itu masih menjadi primadona. Jelas itu akan membantunya menghemat waktu sekaligus mengurangi tingkat kelelahan perjalanan.
Maka pada suatu hari ketika pulang ke Muntilan, Ia bicara pada pada orang tuanya. Menagih tawaran sepeda motor tempo hari. Gayungpun tiada bersambut. Uang sudah terlanjur digunakan oleh pak Tejo Kuncoro sebagai modal dagangan dibelikan tembakau. Hal ini bisa dimaklumi, karena profesi orang tuanya adalah berdagang. Secara naluriah mereka akan sulit membiarkan uang mengendap. Mereka cenderung memutarkan uang itu untuk kegiatan usaha.
Pak Tejo Kuncoro memintanya untuk datang kembali 2 bulan kemudian. Beliau memperkirakan tembakau sudah terjual dan mereka akan bisa membeli sebuah sepeda motor untuk Radyo Harsono. Radyo Harsono menerima penjelasan orang tuanya. Iapun kembali
46
dengan membawa sepeda jengki merek Phoenix, yang biasanya digunakan oleh kakak perempuannya. Radyo Harsono baru akhirnya benar-benar bisa memiliki sepeda motor pada 6 bulan terakhir menjelang kelulusannya dari SMKI, itupun motor DKW.
(Wawancara Ki Radyo Harsono, 18 Mei 2019)