• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

6. Persen kolonisasi mikoriza

Hasil analisis sidik ragam antara faktor komposisi media tumbuh komposisi media tumbuh dan pemberian mikoriza (Lampiran 3), menunjukkan bahwa interaksi antara faktor komposisi media tumbuh dan faktor pemberian mikoriza memberikan pengaruh tidak nyata terhadap persen kolonisasi mikoriza. Sama halnya untuk faktor komposisi media tumbuh dan faktor pemberian mikoriza. Rataan persen kolonisasi mikoriza tanaman gaharu disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan pengaruh komposisi media tumbuh kompos TKKS dan pemberian mikoriza terhadap persen kolonisasi mikoriza (%)

Perlakuan Komposisi Media Tanam

Mikoriza A B C D Rata-rata

M0 52.970 41.417 41.597 59.150 48.784

M1 28.577 51.727 46.297 28.437 38.760

Rata-rata 40.774 46.572 43.947 43.794 Rataan tertinggi pengaruh komposisi media tumbuh terhadap persen kolonisasi mikoriza terdapat pada komposisi B (46.572 %) dan terendah terdapat pada komposisi A (40.774 %). Rataan tertinggi untuk pengaruh pemberian mikoriza terhadap persen kolonisasi mikoriza adalah M0 (48.784 %) dan terendah M1 (38.760 %). Berikut grafik perbandingan persen kolonisasi mikoriza pada akar anakan gaharu berdasarkan komposisi media tumbuh dan pemberian mikoriza pada Gambar 7.

Gambar 7. Grafik pengaruh komposisi media tumbuh kompos TKKS dan pemberian mikoriza terhadap persen kolonisasi mikoriza

Pada Gambar 7 tampak bahwa persen kolonisasi mikoriza tertinggi terdapat pada perlakuan M0D sebesar 59.150 % dan terendah pada perlakuan

Struktur yang dibentuk oleh adanya infeksi mikoriza (CMA) pada jaringan akar tanaman ditandai dengan adanya hifa, vesikula atau arbuskula. Hasil penelitian berdasarkan pengamatan yang dilakukan, infeksi yang terjadi pada akar anakan gaharu ditandai dengan adanya hifa, vesikula dan arbuskula pada jaringan akar anakan gaharu. Berikut hifa dan vesikula pada jaringan akar anakan gaharu dapat ditampilkan pada Gambar 9, sementara arbuskula dapat ditampilkan pada gambar 10.

Gambar 8. Jaringan akar anakan gaharu yang tidak terinfeksi mikoriza (CMA)

Gambar 9. Hifa dan vesikula pada jaringan akar anakan gaharu oleh adanya infeksi mikoriza (CMA)

Gambar 10. Jaringan akar anakan gaharu yang terinfeksi oleh arbuskula Vesikula

Hifa

Pembahasan

Pengaruh komposisi media tumbuh

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3), menunjukkan bahwa komposisi media tumbuh memberikan pengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pertumbuhan pada anakan gaharu. Hal ini berkaitan dengan peran kompos TKKS yang belum maksimal terhadap pertumbuhan anakan gaharu. Pemberian kompos TKKS secara langsung seharusnya dapat menjadi sumber hara yang dapat diserap tanaman, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Selain itu sebagai campuran media tumbuh, seharusnya kompos TKKS juga dapat menciptakan kondisi media tumbuh yang baik untuk tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simamora dan Salundik (2006), bahwa kompos pada umumnya mengandung unsur hara kompleks (makro dan mikro) walaupun dalam jumlah sedikit, selain itu kompos mampu meningkatkan penyerapan dan daya simpan air (water holding capacity) serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap patogen.

Mengacu pada hasil analisis contoh kompos (Lampiran 4), kompos TKKS yang digunakan memiliki C-Organik yang termasuk dalam kriteria cukup tinggi. Selain itu kompos TKKS memiliki C/N sebesar 13,03 dimana C/N dari kompos mendekati C/N tanah. Seperti yang dinyatakan Murbandono (2007), bahwa semakin C/N kompos mendekati C/N tanah (≤ 20) maka proses dekomposisi akan

berjalan baik (cepat) atau menandakan bahwa kompos sudah matang. Kematangan kompos sangat mempengaruhi mudah atau tidaknya unsur hara di dalam kompos terurai dan dapat diserap tanaman. Kompos TKKS juga memiliki pH sebesar 7,02 dan P-tersedia sebesar 84,24 ppm, N-total sebesar 2,38 % dan KTK sebesar 52,13 me/100. Standar kualitas pupuk tergantung dari kandungan yang dimiliki kompos

itu sendiri mencukupi atau tidak. Menurut Simamora dan Salundik (2006), standard mutu kualitas kompos dapat dilihat dari sifat fisik, kimia, biologi dan kadar logam berat. Untuk sifat fisik dan kimianya seperti C-Organik ≥ 15 %, C/N

rasio 12-25 %, pH berkisar 4-8, P-tersedia ≥ 6 ppm, N-total > 1,2 % dan KTK berkisar > 50 me/100.

Hasil analisis contoh tanah (lampiran 4), juga menunjukkan bahwa tanah (topsoil) memiliki C-Organik sebesar 1,65 %, pH sebesar 6.10 dan P-tersedia sebesar 3.64 ppm. Menurut Hardjowigeno (2003), pH contoh tanah termasuk dalam kriteria netral, dimana kriteria netral agak masam berkisar pada 5 sampai 7 dan P-tersedia termasuk dalam kriteria sangat rendah, dimana kriteria P-tersedia tanah yang sangat rendah berkisar >10 ppm.

Kedua hasil analisis diatas seharusnya memperlihatkan bahwa pemanfaatan kompos TKKS dan topsoil sebagai campuran media tumbuh dapat mendukung pertumbuhan anakan gaharu dengan baik. Namun hasil pengamatan memberikan pengaruh yang tidak nyata. Diduga penyebab pertama adalah, waktu yang dibutuhkan oleh anakan gaharu untuk menyerap berbagai unsur hara pada media tanam kurang lama. Pengamatan selama 12 MST untuk parameter tinggi, diameter, jumlah daun, bobot kering dan kolonisasi mikoriza pengaruh komposisi media tumbuh terhadap pertumbuhan anakan gaharu menujukkan kencenderungan yang hampir sama, hal ini disebabkan bibit yang ditanam merupakan anakan gaharu yang berumur sangat muda (1 bulan). Menurut Salisbury dan Ross (1995), berdasarkan model pertumbuhan dan pertambahan ukuran tanaman, suatu pertumbuhan bertambah secara eksponensial yaitu sejalan dengan waktu yang berarti laju pertumbuhan lambat pada awalnya tapi kemudian meningkat terus,

sehingga semakain besar organisme semakin cepat pertumbuhanya. Selain itu dari faktor genetik, gaharu merupakan tanaman kehutanan yang pertumbuhannya tergolong slow growing artinya pertumbuhannya lambat (Sumarna, 2005).

Pada masa pemindahan anakan ke media tanam yang baru di dalam polibag, tanaman membutuhkan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi media tanam tersebut. Oleh sebab itu pada masa awal pengamatan anakan gaharu masih dalam masa penyesuaian terhadap media tumbuh dan belum sepenuhnya melakukan penyerapan unsur hara untuk pertumbuhan. Menurut Salisbury dan Ross (1995), selain faktor genetik, faktor lingkungan tanah (media tanam) dapat mempengaruhi pertumbuhan akar baik secara morfologis maupun anatomis.

Perbedaan pertumbuhan antara anakan pada media kontrol dan media campuran terletak pada komposisi medianya. Media tumbuh merupakan campuran tanah dan kompos dimana tanah tersebut merupakan tanah asal anakan gaharu dan kondisi tanah tersebut merupakan kondisi tempat tumbuh yang sebenarnya, sehingga pada perlakuan media tanam kontrol (100% tanah) menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik disemua parameter. Sebaliknya, untuk perlakuan komposisi media tumbuh dengan penambahan kompos TKKS pertumbuhan anakan gaharu belum menunjukkan tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Pengaruh pemberian mikoriza

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3), menunjukkan faktor pemberian mikoriza hanya berpengaruh nyata pada pertumbuhan jumlah daun. Rataan tertinggi diperoleh pada perlakuan M0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun media tanam tidak diaplikasikan mikoriza, namun pada pengamatan di laboratorium akar tanaman yang ditanam pada media tanpa pemberian mikoriza

ditemui adanya kolonisasi mikoriza. Terjadinya kolonisasi ini diduga karena pada media tanam yang digunakan telah terdapat mikoriza yang indegenuous (mikoriza lokal). Berdasarkan pendapat Setiadi (2001), mikoriza bersifat cosmopolitan artinya mikoriza tersebar dan dapat ditemukan pada sebagian tanah atau ekosistem dan kondisi iklim mulai dari padang pasir sampai antartika. Umumnya mikoriza tidak memiliki inang yang spesifik.

Pertumbuhan jumlah daun berhubungan dengan peran mikoriza yang mampu meningkatkan penyerapan unsur hara yang terkandung pada tanah. Setiadi (2001) menyatakan bahwa secara fisik mikoriza mampu membentuk hifa eksternal yang dapat memperluas serapan air dan unsur hara. Hifa-hifa yang terbentuk itu memiliki ukuran yang lebih halus dari bulu-bulu akar yang memungkinkan hifa bisa masuk kedalam pori-pori tanah dan menyerap air yang juga membawa unsur hara yang mudah larut. Menurut Fakuara (1988), hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur-unsur hara dalam tanah dan peningkatan transfer hara khususnya P ke tumbuhan. Hanafiah dkk. (2003) menyatakan bahwa salah satu peran mikoriza adalah membantu memperbaiki nutrisi tanaman dengan meningkatkan serapan hara terutama fosfor (P), dimana unsur P merupakan unsur hara yang penting dalam pertumbuhan daun tanaman, penyerapan unsur P yang baik juga dapat memperlambat proses penuaan daun.

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3), menunjukkan bahwa faktor pemberian mikoriza berpengaruh tidak nyata untuk parameter pertambahan tinggi, pertambahan diameter, rasio tajuk akar dan kolonisai mikoriza. Pemberian mikoriza pada perlakuan belum menunjukkan peningkatan pertumbuhan, diduga

pemberian mikoriza awalnya menyebabkan tanaman tertekan, sesuai dengan pendapat Hanafiah (2005) yang menyatakan bahwa pada awal perkembangan mikoriza bersifat parasit bagi tanaman dan jika kondisi tidak optimum, sering menyebabkan pertumbuhan tanaman tertekan. Hal ini dikarenakan mikoriza menyerap fotosintat dalam akar melalui arbuskula, yang merupakan area kontak antara tanaman dengan fungi. Russel (1963) juga menerangkan selain kondisi tanah yang mempengaruhi perkembangan mikoriza, pH tanah, drainase, ketersediaan bahan organik dan ketersediaan hara juga mempengaruhi perkembangan mikoriza.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan P-tersedia kompos TKKS sangat tinggi yaitu 84,24 ppm. Kondisi P-tersedia yang tinggi bisa menjadi penyebab pemberian mikoriza pada perlakuan belum menunjukkan peningkatan pertumbuhan sebab pada kondisi P tinggi dapat menurunkan infeksi CMA. Anas (1997) menyatakan peran mikoriza erat dengan penyedian P bagi tanaman hal ini menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P. Pada wilayah dengan suhu rata-rata tahunan dibawah 20°C – 25°C konsentrasi P yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. (1986) dalam Novriani dan Madjid (2009) yang mengemukakan bahwa perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Inokulasi bakteri pelarut fosfat dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P

oleh tanaman tomat dan tanaman gandum (Singh dan Kapoor, 1999 dalam Novriani dan Madjid, 2009).

Perlakuan pemberian mikoriza menunjukkan kecenderungan yang sama terhadap semua parameter hal ini dikarenakan mikoriza yang diinokulasi telah menginfeksi akar, namun belum mampu meningkatakan pertumbuhan anakan gaharu. Terinfeksinya tanaman oleh cendawan mikoriza indigenus bisa jadi lebih adaptif dan efektif sehingga menciptakan persaingan antara cendawan mikoriza indigenus dengan mikoriza yang diinokulasikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Delvian (2005), bahwa beberapa faktor dapat mempengaruhi infeksi akar seperti jenis cendawan (kerapatan inokulum) dan lingkungan (persaingan antar spesies cendawan). Selanjutnya dari segi waktu, dimana penelitian tergolong singkat yaitu 12 minggu. Waktu pengamatan yang kurang lama mengakibatkan efek pemberian mikoriza dan perlakuan pupuk kompos TKKS belum terlihat.

Dokumen terkait