Pada gambar di atas terlihat bahwa tren cakupan pemberian tablet besi (Fe-1 dan Fe- 3) dari tahun 2002 hingga 2004 menunjukkan peningkatan, namun tahun 2005 dan 2006 sedikit mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Provinsi dengan cakupan Fe-3 tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Selatan (99,75%), Jawa Barat (79%) dan Sumatera Selatan (77,86%) sedangkan provinsi dengan cakupan Fe-3 terendah yaitu Provinsi Kepulauan Riau (6,08%), Jawa Tengah (17,93%) dan Jambi (18,68%). Cakupan pemberian tablet besi (Fe-3) kepada ibu hamil menurut provinsi tahun 2006 dapat dilihat pada Gambar 4.43 di bawah ini dan Lampiran 4.24.
GAMBAR 4.43
CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe3) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006
Sumber: Dit.Gizi Masyarakat, Ditjen Binkesmas, Depkes
E. PELAY AN AN K ESEH AT AN DALAM SI T U ASI BEN CAN A
Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kecelakaan industri, tumpahan minyak di laut, sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktifitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi, gelombang tsunami, letusan gunung berapi, badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi.
1 . Be nc a na Lingk unga n H idup
Pada tahun 2006 bencana banjir terjadi di 20 provinsi, 44 kabupaten/kota dengan jumlah korban meninggal 108 orang, 34.036 orang luka ringan, 2.576 orang luka berat, hilang 79 orang dan 162.064 orang mengungsi. Upaya kesehatan yang dilakukan adalah evakuasi korban bencana banjir, membentuk pos kesehatan, kesehatan lingkungan, melakukan
surveilans terhadap penyakit potensi KLB, memberikan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit, melakukan droping obat-obatan ke lokasi kejadian dan lain-lain.
Bencana tanah longsor terjadi di 19 provinsi, 19 kabupaten/kota dengan korban meninggal 123 orang, 30 luka berat, 335 luka ringan dan 2.127 orang mengungsi. Upaya yang telah diberikan meliputi evakuasi korban, menyiagakan pos kesehatan 24 jam, melakukan pengamatan dengan surveilans epidemiologi untuk mengantisipasi KLB diare, dll. Rekapitulasi kejadian bencana tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 4.29.
2 . Be nc a na Ala m
Letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik serta berada di posisi Ring of fire
menjadikan Indonesia kerap kali diterpa bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sebelumnya gempa terjadi di Sumatra pada 28 Maret 2005 menewaskan 361 orang serta gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menewaskan 129.498 orang dan 37.606 lainnya hilang. Pada tahun 2006 bencana alam gempa bumi terjadi di 3 provinsi dengan korban meninggal 5.788 orang, luka berat 26.506 orang, luka ringan 167.748 orang, 82 orang hilang dan 2.179.156 orang mengungsi.
Gempa bumi Yogyakarta adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. Lokasi gempa menurut Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia terjadi di koordinat 8,007° LS dan 110,286° BT pada kedalaman 17,1 km. Sedangkan menurut BMG, posisi episenter gempa terletak di koordinat 110,31° LS dan 8,26° BT pada kedalaman 33 km. USGS memberikan koordinat 7,977° LS dan 110,318 BT pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda tersebut dikarenakan metode dan peralatan yang digunakan berbeda-beda. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami.
Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya. Korban tewas menurut laporan terakhir dari Departemen Sosial Republik Indonesia pada 1 Juni 2006 pukul 07:00 WIB, berjumlah 6.234 orang dengan rincian: Yogyakarta 165 jiwa, Kulon Progo 26 jiwa, Gunung Kidul 69 jiwa, Sleman 326 jiwa, Klaten 1.668 jiwa, Magelang 3 jiwa, Boyolali 3 jiwa, Purworejo 5 jiwa, Sukoharjo 1 jiwa dan korban terbanyak di Bantul 3.968 jiwa. Sementara korban luka berat sebanyak 33.231 jiwa dan 12.917 lainnya menderita luka ringan. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh.
Upaya yang dilakukan meliputi evakuasi korban, membuka pos kesehatan 24 jam di lokasi bencana, memberikan pelayanan kesehatan rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit pemerintah dan swasta; evakuasi 200 pasien yang harus dioperasi ke RS di Jawa Tengah dan Jawa Timur; bantuan transportasi hercules; di Bantul mendirikan rumah sakit lapangan untuk rawat inap (60 TT); memberikan bantuan air bersih dan pembuatan jamban; melakukan imunisasi campak, TT dan pemberian Vitamin A; dan lain-lain.
Demikian gambaran singkat mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2006.
Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan, yang dapat dilihat pada bab ini, adalah sebagai berikut :
A. SARAN A K ESEH AT AN
Pada bagian ini diuraikan tentang sarana kesehatan di antaranya Puskesmas, rumah sakit, sarana produksi dan distribusi farmasi dan alat kesehatan, sarana Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM), dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.
1 . Pusk e sm a s
Puskesmas dalam perkembangannya, dari tahun ke tahun diupayakan terus meningkat yang bertujuan agar pelayanan kesehatan dapat terjangkau oleh masyarakat dan merata sampai di daerah terpencil. Pada tahun 2006 jumlah puskesmas di seluruh Indonesia adalah 8.015. Jika dilihat dari tahun 2002 – 2006 terlihat adanya peningkatan. Peningkatan yang cukup besar (4,51%) pada tahun 2006, sedangkan pada tahun sebelumnya peningkatannya kecil ( tahun 2005 meningkat 1,57%, tahun 2004 meningkat 1,85%, tahun 2003 meningkat 1,42%).
Dalam periode tahun 2002-2006, rasio Puskesmas terhadap 100.000 penduduk meningkat dari 3,46 per 100.000 penduduk (tahun 2002) menjadi 3,61 per 100.000 penduduk (tahun 2006).Ini berarti bahwa pada periode tahun itu setiap 100.000 penduduk dilayani 3- 4 unit Puskesmas. Jumlah Puskesmas dan rasio Puskesmas terhadap 100.000 penduduk pada tahun 2002 – 2006 disajikan pada Gambar 5.1 dan 5.2.
Jumlah puskesmas per 100.000 penduduk pada tahun 2006 secara nasional adalah 3,61 dengan jumlah puskesmas per 100.000 penduduk terendah adalah provinsi Banten yaitu sebesar 1,92 dan yang paling tinggi adalah provinsi Maluku sebesar 9,83. Gambaran jumlah Puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi disajikan pada Gambar 5.3. Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.1 dan Lampiran 5.2.