• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesuai pendapat Pomeroy (1994) bahwa pengelolaan sumberdaya alam secara terintegrasi merupakan integrasi dari pengelolaan berbasis pada sumberdaya (resource based management),pengelolaan berbasis pada kemampuan masyarakat (community based management) dan pengelolaan berbasis pada kemampuan dalam memanfaatkan basis-basis kompetisi(marketing based management).

Untuik mengetahui kemampuan masyarakat tradisional dan masyarakat penyangga dalam pengelolaan TNBT maka dilakukan penelitian terhadap persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TNBT. Penelitian dilakukan terhadap masyarakat tradisional yang tinggal di kawasan TNBT dan masyarakat daerah penyangga yang bermukim di desa-desa penyangga TNBT. Penelitian difokuskan pada aspek pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan kawasan TNBT, pengetahuan masyarakat terhadap tujuan pengelolaan TNBT, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekowisata TNBT, dan harapan masyarakat terhadap pengelolaan ekowisata TNBT.

1. Persepsi dan Keterlibatan Masyarakat Tradisional

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat tradisional yang tinggal di kawasan TNBT didapatkan bahwa 100% responden menyatakan telah tinggal dikawasan TNBT sejak mereka dilahirkan, atau tidak ada seorangpun responden yang berasal dari luar kawasan TNBT. Berkaitan dengan pengetahuan masyarakat tradisional terhadap keberadaan kawasan TNBT, dari hasil penelitian didapatkan bahwa 70% responden mengetahui kalau mereka tinggal di kawasan TNBT, dan 30% menyatakan tidak mengetahui kalau tinggal di kawasan TNBT.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa masyarakat yang tinggal di kawasan TNBT adalah murni masyarakat tradisional yang telah tinggal di kawasan TNBT secara turun temurun. Namun demikian walaupun mereka telah tinggal di kawasan TNBT sejak lahir ada sebagian dari mereka yang belum mengetahui kalau mereka tinggal di kawasan taman nasional.

Berkaitan dengan persepsi masyarakat tradisional terhadap pengelolaan TNBT, dari hasil penelitian didapatkan bahwa sekitar 22% responden menyatakan

mengetahui tujuan pengelolaan taman nasional, dan sebagian besar lainnya (78%) belum mengetahui maksud dan tujuan pengelolaan taman nasional. Kondisi tersebut cukup memprihatinkan karena ternyata walaupun masyarakat tradisional telah tinggal di kawasan TNBT secara turun temurun, namun sebagian besar mereka masih belum mengetahui maksud / tujuan pengelolaan taman nasional.

Masyarakat tradisional yang mengetahui tujuan pengelolaan taman nasional menyatakan bahwa taman nasional dikelola dengan tujuan untuk mempertahankan keberadaan hutan, melindungi binatang buas, melindungi jernang, petai dan jenis tumbuhan lain yang bermanfaat, dan melindungi masyarakat Suku Talang Mamak. Tingkat pengetahuan responden terhadap tujuan pengelolaan taman nasional dapat dilihat pada Gambar 19.

Berkaitan dengan persepsi masyarakat tradisional terhadap adanya kegiatan yang dilarang dilakukan di kawasan taman nasional, dari hasil penelitian didapatkan bahwa 38% masyarakat tradisional mengetahui adanya kegiatan-kegiatan yang dilarang dilakukan di kawasan taman nasional, dan sisanya 62% menyatakan tidak mengetahui. Menurut masyarakat tradisional, kegiatan-kegiatan yang dilarang dilakukan di kawasan taman nasional adalah menebang pohon, merusak hutan, membuka hutan keramat, membunuh binatang buas, membakar lahan, meracun ikan, menebang pohon sialang, menangkap burung, dan mencari gaharu,

Walaupun sebagian besar masyarakat tradisional tidak mengetahui tentang kegiatan yang dilarang dilakukan di kawasan taman nasional namun budaya yang melekat dalam kehidupan mereka telah melarang melakukan kegiatan yang merusak alam. Pada umumnya masyarakat Suku Melayu dan Talang Mamak memiliki dasar dan konsep pengelolaan konservasi. Bahkan masyarakat tersebut

Keterangan :

Gambar 19. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Maksud / Tujuan Pengelolaan Taman Nasional.

22%

78%

Tahu Tidak tahu

telah memiliki konsep pengelolaan ruang / wilayah secara tradisional. Batas antara kampung dengan kampung lainnya diatur dengan baik. Dalam pembatasan wilayah mereka mengenal pepatah "Cucur Ayik Sinding Pematang" di mana batas antara batin atau kampung dibatasi oleh sungai dan aliran sungai ke induk sungai.

Selain itu mereka juga mengenal “puaka‘ yaitu hamparan hutan yang dikeramatkan dan dipercayai adanya roh-roh gaib dari leluhur yang bersemayam di daerah tersebut. Pada kampung juga terdapat banyak sialang (pohon yang dihinggapi lebah yang menghasilkan madu). Menebang pohon sialang merupakan kesalahan kedua setelah membunuh manusia. Jika pohon sialang tertebang maka masyarakat akan mengadakan upacara menebus kematian pohon kehidupan dengan memberi sepucuk kain putih. Kalau sialang tertebang akan dilakukan denda baik bagi masyarakat setempat ataupun pihak luar.

Sialang juga mempunyai fungsi sosial karena dalam pemanfaatan madu semua unsur dalam masyarakat mendapatkannya, dan fungsi ekonomi, karena satu pohon sialang bisa menghasilkan madu yang bernilai ekonomis. Dalam pengelolaan wilayah masyarakat Suku Melayu dan Talang Mamak memiliki pepatah "tindik dabu, lupak pendanauan, sialang pendulangan, cucur ayik sinding pematang" (sesuatunya didasarkan pada adat, sungai dilindungi untuk mendapatkan ikan, sialang untuk mendapatkan madu, batas desa dan kekuasaan didasarkan pada sungai yang mengalir pada sungai besar (DAS).

Berkaitan dengan keterlibatan masyarakat tradisional dalam kegiatan ekowisata di TNBT, dari hasil penelitian didapatkan bahwa 66 % masyarakat tradisional menyatakan terlibat dalam kegiatan ekowisata di TNBT, dan 34 % menyatakan tidak terlibat dalam kegiatan ekowisata TNBT. Adapun bentuk keterlibatan masyarakat tradisional dalam pengelolaan ekowisata di TNBT adalah sebagai pemandu, penyewaan sarana transportasi air (perahu), penjualan souvenir (tikar, sumpit), dan jasa pengobatan. Menurut masyarakat tradisional, disamping mendapatkan manfaat secara ekonomi, manfaat lain keterlibatan mereka dalam kegiatan ekowisata adalah menambah pengetahuan/ pengalaman dan memperbanyak kawan. Persentase responden berdasarkan keterlibatan dalam kegiatan ekowisata TNBT dapat dilihat pada Gambar 20.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pengelolaan ekowisata TNBT secara langsung telah memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat tradisional, namun mengingat masih berlum berkembangnya pengelolaan ekowisata TNBT maka jumlah masyarakat tradisional yang mendapatkan manfaat tersebut masih sangat terbatas. Berkenaan dengan hal tersebut masyarakat tradisional mengharapkan agar hutan TNBT dapat terus dijaga (tidak dirusak oleh orang luar) dan dimasa mendatang semakin banyak masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatan ekowisata.

2. Persepsi dan Keterlibatan Masyarakat Daerah Penyangga

Hasil penelitian mengenai tingkat pendidikan formal penduduk di daerah penyangga TNBT menunjukkan bahwa sebagian besar (46%) responden tidak sekolah/ tidak tamat SD, 9% tamat pendidikan SD, 12% tamat pendidikan SLTP, 33% tamat pendidikan SLTA, dan tidak ada seorang responden yang berpendidikan Diploma / Sarjana. Sebaran tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 21.

Rendahnya tingkat pendidikan penduduk di daerah penyangga TNBT disebabkan oleh kurangnya sarana pendidikan terutama sarana pendidikan tingkat lanjut, minimnya sarana transportasi untuk menjangkau daerah yang ada sarana

Keterangan :

. Gambar 20. Persentase Responden Berdasarkan Keterlibatannya dalam Kegiatan Ekowisata di TNBT.

Gambar 21. Tingkat Pendidikan Responden dari Masyarakat Daerah Penyangga 46% 9% 12% 33% Tidak tamat SD SD SLTP SMU 66% 34% Terlibat Tidak terlibat Keterangan :

pendidikan tingkat lanjut, kurangnya biaya sekolah, dan adanya keengganan dari para orang tua untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi setelah tamat sekolah dasar. Para orang tua cenderung memanfaatkan tenaga anaknya untuk membantu pekerjaan mereka dalam kegiatan sehari-hari.

Berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan TNBT, dari hasil penelitian didapatkan bahwa 90% responden mengetahui keberadaan TNBT dan 10 % menyatakan tidak mengetahui adanya TNBT. Responden yang mengetahui adanya TNBT menyatakan mendapatkan informasi tentang keberadaan kawasan TNBT dari petugas Balai TNBT. Responden yang menyatakan mengetahui maksud / tujuan pengelolaan taman nasional sebanyak 59% , dan 41% lainnya menyatakan tidak mengetahui maksud / tujuan pengelolaan taman nasional. Tingkat pengetahuan responden terhadap maksud / tujuan pengelolaan taman nasional seperti pada Gambar 22.

Masyarakat yang mengetahui tujuan pengelolaan taman nasional menyatakan bahwa taman nasional dikelola dengan tujuan untuk melindungi hutan TNBT, mencegah banjir dan erosi, melindungi tempat hidup satwa, sebagai sumber air bersih, sebagai tempat wisata, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Berkaitan dengan manfaat taman nasional bagi kehidupan masyarakat, dari hasil penelitian didapatkan bahwa 78% responden menyatakan mendapatkan manfaat dari kawasan TNBT dan 22% menyatakan tidak mendapatkan manfaat. Masyarakat yang mendapatkan manfaat menyatakan bahwa kawasan TNBT bermanfaat bagi kehidupan mereka dalam hal (diurut berdasarkan yang paling sering disebut): jasa lingkungan (air dan udara bersih), wisata alam, hasil hutan non kayu (buah, jernang, madu, rotan dll.), dan satwa liar

Keterangan :

Gambar 22. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Maksud / Tujuan Pengelolaan Taman Nasional.

59% 41%

Tahu Tidak tahu

Berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam kegiatan ekowisata di TNBT, dari hasil penelitian didapatkan bahwa hanya 13% responden yang menyatakan terlibat dalam kegiatan ekowisata di TNBT, dan 87% lainnya menyatakan tidak terlibat. Persentase responden berdasarkan keterlibatannya dalam kegiatan ekowisata di TNBT seperti pada Gambar 23. Adapun bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata di TNBT adalah sebagai pemandu dan penyedia jasa transportasi. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang berada desa-desa penyangga di jalur ekowisata TNBT yang terlibat dalam kegiatan ekowisata TNBT.

Harapan masyarakat daerah penyangga terhadap pengelolaan ekowisata di TNBT adalah perbaikan jalan dan sarana wisata, pengembangan obyek wisata baru yang menarik, meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekowisata, meningkatkan keamanan bagi wisatawan, dan dikembangkannya daerah penyangga TNBT sebagai daerah tujuan wisata.

Rendahnya tingkat keterlibatan masyarakat daerah penyangga dalam pengelolaan ekowisata TNBT tidak sejalan dengan prinsip ekowisata yang dikemukakan olehThe International Ecotourism Society (2005 ) dimana masyarakat dituntut untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan ekowisata.

Hasil penelitian terhadap persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TNBT, menjadi input / masukan dalam mengidentifikasi faktor-faktor strategis pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata pada Sub Bab V. D. dan membangun model dinamik pada Sub Bab V. E.

Keterangan :

Gambar 23. Persentase Responden Berdasarkan Keterlibatannya dalam Kegiatan Ekowisata di TNBT.

13%

87%

Terlibat Tidak terlibat

C. Potensi Pengembangan Pengelolaan TNBT Berbasis Ekowisata

Potensi pengembangan pengelolaan TNBT dikaji berdasarkan kondisi penawaran (supply)dan permintaan (demand) ekowisata sebagai berikut :

1. Kondisi Penawaran Ekowisata TNBT

Menurut Damanik & Weber (2006), elemen penawaran wisata sering disebut sebagai triple A’s yang terdiri dari atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Selain ketiga elemen tersebut juga dikaji kegiatan promosi dan pelayanan kepada ekowisatawan yang telah dilaksanakan oleh Balai TNBT.

a. Attraksi Ekowisata

Atraksi adalah objek ekowisata (baik yang bersifat tangible maupun intangible) yang memberikan kenikmatan kepada ekowisatawan yang terdiri dari alam, budaya, dan buatan. Unsur lain yang melekat dalam atraksi ini adalah hospitally /keramah-tamahan (Damanik & Weber, 2006).

1) Sumber daya alam dan budaya

Taman Nasional Bukit Tigapuluh mempunyai potensi sumberdaya alam dan budaya masyarakat tradisional yang sangat tinggi ditinjau dari aspek ekowisata. Saat ini terdapat sembilan obyek yang telah dikelola sebagai attraksi ekowisata TNBT dengan deskripsi masing-masing obyek sebagai berikut :

a) Panorama Alam Camp Granit

“Camp Granit” merupakan lokasi ekowisata TNBT yang mempunyai aksessibilitas paling mudah dikunjungi karena berada pada jarak hanya sekitar 13 km dari jalan Lintas Timur Sumatera, tepatnya di Desa Talang Lakat Kecamatan Batang Gangsal, Kab. Indragiri Hulu. Lokasi tersebut disebut Camp Granit, karena sebelum ditunjuk sebagai kawasan taman nasional, terdapat camp perusahaan pertambangan batu granit PT. Isatama Bumi Nusa. Sejak kawasan tersebut ditunjuk sebagai taman nasional, lokasi tersebut dikembangkan sebagai obyek ekowisata dan bekas camp tersebut difungsikan sebagai Pusat Pelatihan Pemadam Kebakaran Hutan sekaligus sebagai sarana pendukung ekowisata (visitor centre, information centre, dan akomodasi).

Kondisi bentuk lahan (land form) Camp Granit dengan topografi berat memberikan keuntungan tersendiri karena dikelilingi lembah dan bukit sehingga memungkinkan untuk melihat panorama alam perbukitan. Sambil menikmati indahnya panorama alam, ekowisatawan dapat mendengarkan suara berbagai jenis primata seperti owa (Hylobates agilis), siamang (Hylobatessyndactylus), dan lutung ( Presbytis cristata),serta dapat melihat beranekaragam jenis burung.

Panorama alam Camp Granit akan semakin menarik di pagi hari atau sore hari dimana aktifitas jenis-jenis primata dan burung tersebut meningkat, ditambah lagi oleh indahnya kabut tipis yang menutupi kawasan perbukitan.

Gambar 24. Panorama Alam di Camp Granit

b) Air Terjun Granit

Air terjun Granit dapat ditempuh dari Camp Granit dengan berjalan kaki selama

 20 menit dengan jarak tempuh  700 m. Untuk menuju air terjun juga dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Air terjun Granit merupakan air terjun yang jatuh dari puncak bukit batu granit dengan ketinggian sekitar 20 m. Air terjun tersebut terbentuk akibat proses penambangan batu granit yang memotong bukit tempat mengalirnya Sungai Akar yang kemudian menyisakan suatu tebing terjal dan air terjun yang jatuh dari puncak tebing tersebut. Di atas lokasi air terjun terdapat hamparan tanaman anggrek tanah (Spathoglotis plicata Blume) sehingga sering disebut dengan kebun anggrek. Pada waktu berbunga akan

terlihat satu hamparan kebun anggrek yang mempesona sehingga memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

c) Keanekaragaman Jenis Flora Bukit Lancang

Keanekaragaman jenis flora dapat ditemukan di jalur trecking Bukit Lancang. Pada jalur trecking sepanjang sekitar 3,4 km dengan waktu tempuh selama 2- 4 jam dari Pusat Informasi Camp Granit tersebut, ekowisatawan dapat menikimati keanekaragaman jenis flora hutan hujan dataran rendah khususnya dari suku Dipterocarpaceae misalnya jenis Meranti (Shorea sp.) diantaranya Shorea abovoidaedanShorea acuminate.Pada puncak Bukit Lancang ekowisatawan dapat melihat pohon mersawa dengan ukuran raksasa berdiameter lebih dari dua meter serta jenis flora langka lainnya seperti pasak bumi (Eurycoma longifolia). Selain dapat menikmati keanekaragaman jenis flora, dengan melalui jalur treckingtersebut ekowisatawan akan menikmati tantangan mendaki bukit ber-topografi curam dan licin.

d) Keanekaragaman Jenis Fauna Bukit Tengkorak

Keanekaragaman jenis fauna dapat ditemukan di jalur Trecking Bukit Tengkorak. Pada jalur trecking yang terletak di sebelah utara Camp Granit dengan panjang sekitar 3,5 km dan dengan waktu tempuh selama 2 – 3 jam tersebut ekowisatawan dapat mengamati berbagai jenis burung seperti Cucak kuricang (Pycnonotus atriceps), Layang-layang api (Hirundo rustica) dan Kirik-kirik biru (Merops viridis). Berdasarkan hasil pengamatan Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) jalur tersebut merupakan home range (daerah jelajah) dari harimau sumatera dan beruang madu.

e) Panorama Alam Anak Sungai Akar

Jalur trecking Anak Sungai Akar mempunyai panjang sekitar 3,3 km yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu 1,2 km perjalanan menembus hutan hujan tropis, 1,1 km menyusuri anak sungai akar, dan 1 km melalui jalan eks-pertambangan. Waktu tempuh perjalanan pada jalur ini sekitar 1,5 jam. Jalur trecking ini mempunyai panorama alam yang indah dan udara perbukitan yang segar. Disamping menikmati indahnya panorama alam, pada jalur tersebut ekowisatawan dapat menikmati

pengalaman berupa berjalan melalui batu-batu sungai yang besar dan berlapis-lapis. Beberapa jenis flora yang dapat ditemukan pada jalur tersebut antara lain anggrek, jernang, rotan, pinang dan liana. Sedangkan jenis fauna yang menambah keindahan panorama alam jalur tersebut adalah Rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan Serindit (Loriculus galgulus), serta beberapa jenis primata terutama dari familiHylobatidae.

f) Air Terjun Sutan Limbayang

Air terjun Sutan Limbayang berada di aliran Sungai Kuning yang bermuara ke Sungai Datai. Untuk mencapai lokasi tersebut dari Dusun Tua Datai ditempuh dengan jalan kaki selama sekitar 3 jam melewati hutan dan menyusuri Sungai Kuning. Nama Sutan Limbayang diambil dari nama pendahulu masyarakat Talang Mamak. Menurut kepercayaan masyarakat setempat konon air terjun ini merupakan tempat keramat dan kerap dijadikan sebagai tempat bersemedi.

Air terjun Sutan Limbayang memiliki tinggi sekitar 25 meter dan menurut informasi dari masyarakat airnya tidak pernah kering. Kondisi di sekitarnya masih sangat alami dengan dikelilingi rimbunnya vegetasi hutan hujan tropis yang masih asli, ada dua pohon besar jenis pulai dan jelutung yang kokoh berdiri tegak seakan- akan menjadi pengawal setia air terjun. Keunikan lain dari air terjun tersebut adalah tebing air terjun yang nampak seperti tersusun atas empat susunan batuan.

g) Sungai Batang Gangsal

Sungai Batang Gangsal merupakan sungai terbesar yang terdapat di kawasan TNBT. Sungai tersebut membelah kawasan TNBT dari arah selatan ke utara yang melewati beberapa dusun yang dihuni oleh masyarakat tradisional Suku Talang Mamak dan Melayu Tua, yaitu Dusun Tua Datai, Dusun Suwit, Sadan, Air Bomban, Nunusan, Dusun Air Tabo, dan Dusun Lemang. Perjalanan dari Dusun Tua Datai ke Dusun Lemang dapat ditempuh selama 2 hari. Menyusuri Sungai Batang Gangsal dengan menggunakan perahu atau rakit merupakan atraksi ekowisata yang sangat mengasikkan.

h) Air Terjun Papunawan

Air Terjun Papunawan merupakan air terjun bertingkat dengan ketinggian sekitar 15 m. Lokasi air terjun tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 2 jam dari lokasi pemukiman penduduk di Desa Rantau Langsat. Di sekitar air terjun terdapat areal untuk berkemah yang biasa digunakan ekowisatawan.

i) Budaya Suku Talang Mamak

Suku Talang Mamak dapat ditemui pada dusun-dusun yang berada di sepanjang Sungai Batang Gangsal. Suku tersebut memiliki budaya yang sangat menarik misalnya pelaksanaan upaca pernikahan, sunatan, kelahiran, pengobatan dan penghormatan roh yang telah meninggal. Selain itu ekowisatawan dapat melihat kehidupan sehari-hari Suku Talang Mamak yang sangat dekat dengan alam.

Peta lokasi obyek ekowisata yang berada di Camp Granit dan jalur Sungai Batang Gangsal disajikan pada Gambar 27. dan 28.

Camping ground

Gambar 28. Peta Lokasi Obyek Ekowisata di Sungai Batang Gangsal

2) Hospitality(keramah-tamahan)

Ekowisatawan TNBT akan dilayani oleh masyarakat penyedia jasa yang terkait dengan ekowisata (akomodasi, transportasi, pemandu, dll) dengan penuh keramah-tamahan sesuai budaya masyarakat Melayu. Sesampaikan di kawasan TNBT, masyarakat Suku Talang Mamak juga akan menyambut kedatangan ekowisatawan dengan akrab dan ramah sesuai dengan adat dan tradisi mereka. Terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas ekowisata Balai TNBT, 37,5 % ekowisatawan menyatakan petugas telah melayani dengan ramah, dan 62,5 % ekowisatawan menyatakan petugas telah melayani dengan cukup ramah.

b. Aksessibilitas

Aksesibilitas mencakup keseluruhan infrastruktur transportasi yang menghubungkan wisatawan dari, ke dan selama di daerah tujuan wisata (Inskeep 1994dalam Damanik & Weber 2006).

Untuk menuju ke Kantor Balai TNBT yang berlokasi di Rengat Barat, dari Kota Pekanbaru dapat ditempuh dengan jalan darat dengan jarak 180 Km dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Sedangkan dari kota Jambi dapat ditempuh dengan jalan darat sejauh 310 km dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Kondisi jalan dari Kota

Pekanbaru ke Rengat Barat lebih baik dibandingkan dengan kondisi jalan dari Kota Jambi. Demikian pula kondisi jalan dari Kota Jambi ke Rengat Barat disamping sangat jauh juga berbelolk-belok sehingga sering kurang menyenangkan bagi ekowisatawan.

Dari Kantor Balai TNBT ke lokasi TNBT ditempuh melalui Jalan Lintas Timur Sumatera dengan jarak sekitar 60 km dan waktu tempuh sekitar satu jam.

Dari jalan Lintas Timur Sumatera, terdapat tiga jalan masuk ke lokasi ekowisata TNBT, yakni : 1) Dari Simpang Pendowo Desa Keritang ke Simpang Datai (batas kawasan TNBT) sepanjang sekitar 20 Km, 2) Dari Simpang Granit Desa Talang Lakat ke lokasi ekowisata Camp Granit sepanjang 13 Km, dan 3) Dari Simpang Siberida Desa Siberida ke Desa Rantau Langsat sepanjang 15 Km. Jalur pertama merupakan jalan bekas HPH yang berupa jalan tanah dimana pada saat musim hujan kondisinya berlumpur dan hanya bisa dilalui kendaraan roda empat double gardan atau kendaraan roda dua. Jalur kedua merupakan jalan bekas perusahaan tambang batu Granit yang berupa jalan diperkeras. Karena kondisi topografi yang terjal dan kurangnya perawatan, sebagian besar jalan tersebut sudah rusak, namun masih bisa dilalui oleh semua jenis kendaraan roda empat dan roda dua. Kedua jalan tersebut melalui kawasan hutan produksi eks HPH yang sebagian telah dirambah oleh masyarakat untuk dijadikan kebun sawit. Sedangkan jalur ketiga merupakan jalan kabupaten yang kondisinya sebagian sudah diaspal dan sisanya baru diperkeras. Jalur tersebut melalui beberapa desa penyangga TNBT. Pada ketiga jalan masuk ke lokasi ekowisata TNBT tersebut belum tersedia sarana angkutan umum kecuali ojek.

Dengan kondisi aksessibilitas tersebut, 52,5% ekowisatawan menyatakan mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi ekowisata TNBT. Jenis kesulitan yang dihadapi oleh ekowisatawan untuk mencapai lokasi ekowisata TNBT adalah karena faktor jalan rusak (55,6%), medan berat (27,8 %), lokasi terpencil (11,1%) dan tidak adanya papan petunjuk arah (5,6%). Rusaknya jalan dan beratnya medan pada ketiga ruas jalan yang menghubungkan Jalan Lintas Timur Sumatera dengan lokasi ekowisata TNBT menyebabkan rendahnya tingkat aksesibilitas ke lokasi ekowisata TNBT.

c.Amenities

Amenitas adalah infrastruktur yang sebenarnya tidak langsung terkait dengan pariwisata tapi sering menjadi bagian dari kebutuhan wisatawan seperti Bank, money changer, sarana telekomonikasi, dan lain-lain. Semua jenis infrastruktur pendukung ekowisatawan tersebut telah tersedia di Kota Rengat, sehingga ekowisatawan dapat menyelesaikan segala kebutuhannya sebelum berangkat ke kawasan TNBT.

d. Promosi

Dalam rangka menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke TNBT, Balai TNBT telah melakukan beberapa bentuk kegiatan promosi dan publikasi. . Kegiatan promosi dan publikasi dilakukan dalam bentuk pembangunan pusat informasi pemasangan billboard, penerbitan media cetak seperti leaflet, booklet, poster dan kalender. Selain itu pada beberapa kesempatan Balai TNBT mengadakan/ mengikuti pameran baik di tingkat kabupaten maupun propinsi.

Berdasarkan hasil pengisian kuesioner didapatkan bahwa 36,1% ekowisatawan menyatakan mendapatkan informasi tentang ekowisata TNBT dari kegiatan sosialisasi/ kampanye/ pameran yang dilaksanakan oleh Balai TNBT, 26,2% mendapatkan informasi dari teman/ saudara, 22,9% mendapatkan informasi

Dokumen terkait