Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan suatu organisasi. Dengan demikian kegiatan perencanaan strategis harus melibatkan dan menganalisis faktor- faktor strategis suatu organisasi yang meliputi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (Rangkuti, 1998).
Faktor-faktor strategis Balai TNBT dalam mengembangkan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dirumuskan berdasarkan analisis SWOT. Berdasarkan faktor-faktor strategis tersebut dirumuskan strategi dan alternatif kebijakan dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata. Selanjutnya untuk menentukan prioritas kebijakan yang perlu dilakukan oleh Balai TNBT dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dilakukan analisis AWOT. Hasil analisis faktor-faktor strategis, perumusan strategi dan alternatif kebijakan, serta penentuan prioritas kebijakan dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata, sebagai berikut :
1. Faktor- Faktor yang Bersifat Strategis
Untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategis dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dilakukan analisis SWOT dalam forumFocus Group Discussion(FGD) dengan Balai TNBT dan mitra kerjanya. Sebagai bahan masukan dalam melakukan analisis tersebut adalah data-data hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya, yaitu data mengenai : 1) kondisi keintegrasian pengelolaan TNBT (Sub Bab V.A), 2) persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata TNBT (Sub Bab V.B), 3) potensi pengembangan ekowisata TNBT (Sub Bab V.C), dan 4) peta kondisi tutupan hutan TNBT, peta tata ruang daerah penyangga TNBT, dan laju kerusakan hutan TNBT (hasil analisis spasial).
Berdasarkan hasil analisis didapatkan faktor Internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang bersifat strategis, sebagai berikut :
a. Kekuatan
Nilai pengaruh dari faktor yang bersifat strategis sebagai komponen kekuatan (strength) dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 . Nilai Pengaruh dari Faktor yang Bersifat Strategis Sebagai
Komponen Kekuatan dalam Pengembangan Pengelolaan TNBT secara Terintegrasi Berbasis Ekowisata
FAKTOR BOBOT PERINGKAT
NILAI PENGARUH A. Hutan alam yang kondisinya masih baik 0,3 4 1,2 B. Kekhasan dan kelangkaan spesies flora /
fauna
0,3 3 0,9
C. Keunikan budaya masyarakat tradisional 0,2 4 0,8 D. Keindahan landscape (panorama alam) 0,1 2 0,2 E. Tersedianya sarana-prasarana ekowisata 0,1 2 0,2
Jumlah 1 - 3.30
Uraian masing-masing faktor yang bersifat strategis sebagai komponen kekuatan sebagai berikut :
1) Hutan alam yang kondisinya masih baik
Ekosistem Bukit Tigapuluh, yang meliputi kawasan TNBT (seluas 144.223 ha.) dan hutan alam di sekitarnya merupakan hutan hujan tropika dataran rendah yang didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae seperti jenis Meranti (Shorea sp.). Hutan alam tersebut kondisinya relatif masih baik dan sekarang keberadaannya di Pulau Sumatera sudah langka. Hutan alam TNBT memiliki keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang tinggi, baik pada tingkat genetik, spesies, dan ekosistem. Tidak kurang dari 1500 jenis (spesies) flora terdapat di kawasan tersebut (SBKSDA Riau, 1997). Sedangkan menurut Danielsen dan Heegaard (1993), di kawasan TNBT terdapat sekitar 59 jenis mamalia dan 193 jenis burung atau sepertiga dari jenis burung yang ada di Pulau Sumatera.
2) Kekhasan dan kelangkaan spesies flora / fauna
Keberadaan spesies flora dan fauna langka menjadi daya tarik tersendiri bagi ekowisatawan untuk berkunjung ke TNBT. Kawasan TNBT memiliki kekayaan flora
langka, seperti cendawan muka rimau (Rafflesia hasseltii), salo (Johannesteijsmannia altifrons), Jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonistylus bancanus), kemenyan (Styrax benzoin), dan pasak bumi (Eurycoma longifolia) (Wiriadinata et al., 1994). Sedangkan berdasarkan hasil suvey Danielsen dan Heegaard (1993), kawasan TNBT merupakan habitat yang ideal bagi beragam jenis satwa terutama jenis endemic Sumatera. Diantara jenis satwa liar tersebut terdapat jenis-jenis terancam punah dan status perlindungan khusus baik menurut undang-undang Indonesia, CITES, dan IUCN, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).
3) Keunikan budaya masyarakat tradisional
Keberadaan tiga suku masyarakat tradisional yang tinggal di kawasan TNBT dan daerah penyangganya, yaitu: Suku Anak Dalam (Suku Kubu atau Orang Rimba), Suku Talang Mamak, dan Suku Melayu Tua, merupakan salah satu daya tarik bagi ekowisatawan untuk berkunjung ke TNBT. Beberapa aspek budaya masyarakat tradisional di kawasan TNBT yang mampu menarik pengunjung adalah: kerajinan tangan, bahasa, tradisi, kesenian, sejarah, arsitektur, religius, dan
pakaian. Profil ketiga masyarakat tradisional yang terdapat di kawasan TNBT dapat dilihat pada Gambar 33.
Suku Anak Dalam Suku Talang Mamak Suku Melayu Tua
Gambar 33. Profil Masyarakat Tradisional di Kawasan TNBT 4) Keindahan lanskap (panorama alam)
TNBT merupakan kawasan perbukitan yang berada ditengah-tengah Pulau Sumatera yang memiliki lanskap yang sangat indah. Selain itu pada beberapa lokasi terdapat panorama alam antara lain : panorama hutan alam di Granit, air
terjun Batu Granit, air terjun Papunawan, air terjun Sutan Limbayang, , panorama Sungai Batang Gansal, dan lain-lain.
5) Tersedianya sarana-prasarana ekowisata
Walaupun jumlahnya relatif masih terbatas, kawasan TNBT telah dilengkapi dengan beberapa jenis sarana- prasarana ekowisata, seperti ; shelter (5 buah), pusat informasi (1 buah ), papan interpretasi (6 unit), camping ground (2 lokasi), rumah pohon (1 buah), jalan trail, MCK (2 unit), dan fasilitas akomodasi (9 kamar). Sebagian besar sarana-prasarana ekowisata tersebut berada di lokasi ekowisata Granit.
Gambar 34. Papan Interpretasi di Granit TNBT
b. Kelemahan
Nilai pengaruh dari faktor yang bersifat strategis sebagai komponen kelemahan (weakness) dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Nilai Pengaruh dari Faktor yang Bersifat Strategis Sebagai Komponen Kelemahan dalam Pengembangan Pengelolaan TNBT secara Terintegrasi Berbasis Ekowisata
FAKTOR BOBOT PERINGKAT
NILAI PENGARUH A. Rendahnya aksessibilitas ke lokasi obyek
ekowisata
0,3 4 1,2
B. Belum intensifnya pengembangan daya tarik obyek ekowisata
0,2 4 0,8
C. Belum intensifnya promosi dan publikasi ekowisata TNBT
0,2 4 0,8
D. Terjadinya kerusakan hutan akibat perla- dangan berpindah masyarakat tradisional
0,2 3 0,6
E. Terbatasnya alokasi anggaran dan SDM dibidang ekowisata
0,1 3 0,3
Jumlah 1 - 3.70
Uraian masing-masing faktor yang bersifat strategis sebagai komponen kelemahan sebagai berikut :
1) Rendahnya aksessibilitas ke lokasi obyek ekowisata.
Seperti yang diuraikan pada Sub Bab V C. untuk menuju lokasi ekowisata TNBT, dari Kantor Balai TNBT ditempuh melalui Jalan Lintas Timur Sumatera. Selanjutnya, dari jalan Lintas Timur Sumatera ekowisatawan dapat melalui tiga alternatif jalan masuk, yakni : 1) Dari Simpang Pendowo Desa Keritang ke Simpang Datai, 2) Dari Simpang Granit Desa Talang Lakat ke lokasi ekowisata Camp Granit, dan 3) Dari Simpang Siberida Desa Siberida ke Desa Rantau Langsat. Jalur pertama dan kedua merupakan jalan tanah diperkeras yang kondisinya sudah rusak. Sedangkan jalur ketiga merupakan jalan kabupaten yang kondisinya sebagian sudah diaspal dan sisanya baru diperkeras. Dengan kondisi jalan dan belum tersedia sarana angkutan umum kecuali ojek pada ketiga jalur tersebut menyebabkan rendahnya tingkat aksesibilitas ke lokasi ekowisata TNBT.
2) Belum intensifnya pengembangan daya tarik obyek ekowisata
Seperti yang diuraikan pada Sub Bab V C. jumlah maupun keragaman jenis obyek ekowisata TNBT masih terbatas. Saat ini ekowisatawan cenderung mengunjungi obyek ekowisata yang lokasinya mudah dijangkau dengan waktu dan
biaya yang minimal, seperti yang berada di lokasi ekowisata Camp Granit yang jaraknya hanya 13 km dari jalan lintas timur Sumatera. Di lokasi tersebut ekowisatawan hanya dapat menikmati panorama alam, air terjun, dan melakukan trecking. Mereka berharap atraksi ekowisata TNBT dapat dikembangkan secara lebih intensif sehingga menarik minat ekowisatawan untuk berkunjung ke TNBT. 3) Belum intensifnya promosi dan publikasi ekowisata TNBT
Balai TNBT telah melakukan beberapa bentuk kegiatan promosi dan publikasi, namun karena faktor keterbatasan anggaran, pelaksanaan promosi dan publikasi tersebut masih belum intensif. Kegiatan promosi dan publikasi yang telah dilakukan antara lain: membangun pusat informasi (2 unit), pemasangan billboard (2 buah), penerbitan leaflet (5000 eksemplar per-tahun), booklet (500 eksemplar per-tahun), poster (500 eksemplar per-tahun) dan kalender (500 eksemplar per-tahun), serta pembuatan media elektronik berupa film dokumenter ( 1 judul) dan website (1 situs), Selain itu pada beberapa kesempatan Balai TNBT mengadakan penyuluhan ke masyarakat dan sekolah-sekolah di sekitar kawasan TNBT serta mengikuti kegiatan pameran (2 kali per-tahun) baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. 4) Terjadinya kerusakan hutan akibat perladangan berpindah
Kegiatan perladangan berpindah yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di kawasan TNBT pada dasarnya merupakan budaya asli mereka yang telah berlangsung secara turun temurun. Mereka melaksanakan perladangan tersebut dengan norma-norma tertentu sehingga tidak merusak lingkungan, misalnya dilakukan dengan sistem rotasi, tidak dilakukan pada sempadan sungai dan areal yang mempunyai tingkat kelerengan tinggi. Namun sejalan dengan perkembangan keadaan, kini sebagian masyarakat tradisional melakukan perladangan dengan tidak mempertimbangkan kaidah tersebut, sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan keindahan panorama alam.
Gambar 35. Contoh Hutan yang Dibuka untuk Perladangan Berpindah
Berdasarkan Balai TNBT (2009) kawasan TNBT dapat dibagi menjadi enam kelas penggunaan lahan yaitu: lahan terbuka, belukar jarang, belukar sedang, belukar rapat, hutan sedang dan hutan lebat. Deskripsi masing-masing kelas penggunaan lahan tersebut disajikan pada Lampiran 3. Untuk mengetahui laju kerusakan hutan TNBT dibuat dua klasifikasi yaitu kawasan hutan yang terdiri dari hutan sedang dan hutan rapat, serta kawasan non hutan yang terdiri dari lahan terbuka, belukar jarang, belukar sedang, belukar rapat, hutan sedang.
Berdasarkan hasil analisis spasial dengan menggunakan citra landsat, didapatkan bahwa selama periode tahun 1996–2007 terjadi peningkatan luas kawasan non hutan di TNBT seperti disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Luas Hutan dan Non Hutan di Kawasan TNBT Tahun Hutan (Ha.) Non Hutan (Ha.) Keterangan
1996 141.976,19 2246,81 Luas kawasan TNBT 144.223 Ha.
2002 138.692,33 5530,67 2007 137.886,22 6336,78
Dari data tersebut dapat dihitung laju kerusakan hutan TNBT antara tahun 1996 sampai tahun 2007 yakni sebesar 371,8 ha per-tahun. Sebagian besar
kerusakan hutan tersebut disebabkan karena perladangan berpindah oleh masyarakat tradisional yang bermukim di dusun-dusun di sepanjang Sungai Batang Gangsal. Perubahan kondisi tutupan hutan TNBT pada tahun 1996, 2002, dan 2007 dapat dilihat pada Gambar 36.
Gambar 36. Perubahan Kondisi Tutupan Hutan TNBT 1996
2002
5) Terbatasnya alokasi anggaran dan SDM dibidang ekowisata
Berdasarkan Laporan Akuntabilitas Balai TNBT, alokasi penggunaan anggaran Balai TNBT periode 2005 – 2009 dapat dilihat pada Gambar 37.
Gambar 37. Alokasi Penggunaan Anggaran Balai TNBT
Dari Gambar 37. dapat dilihat bahwa program A meningkat secara signifikan dari tahun 2005 ke tahun 2009. Hal ini karena anggaran program tersebut berbanding lurus dengan jumlah pegawai dan kenaikan gaji pegawai, yang pada kenyataannya terus mengalami peningkatan. Semakin banyak jumlah pegawai dan semakin tinggi standar gaji pegawai maka anggaran untuk program tersebut akan semakin meningkat.
Jika dibandingkan dengan tahun 2005, total anggaran pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 129 %, sedangkan kenaikan anggaran untuk masing-masing program sebagai berikut: : program A naik 145 %, program B naik 171 %, program C naik 243 %, dan program D turun 17 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa semua program mengalami kenaikan anggaran lebih dari 100 %, kecuali program D yang mengalami penurunan 17 %. Rata-rata persentase
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun A lok as i A nggar an (dal am jut a rupi ah) Program A Program B Program C Program D
= Administrasi Umum dan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan = Pengamanan Kawasan TN dan Pengendalian Kebakaran Hutan = Pengelolaan Keanekaragaman Hayati
penggunaan anggaran Balai TNBT untuk masing-masing program periode tahun 2005 - 2009 dapat dilihat pada Gambar 38.
Gambar 38. Rata-rata Persentase Penggunaan Anggaran Balai TNBT untuk Masing -masing Program Periode tahun 2005 – 2009
Dari Gambar 38. dapat dilihat bahwa Program A mempunyai rata-rata alokasi anggaran terbesar, yakni mencapai 74 % , disusul oleh Program B sebesar 16 %, Program D sebesar 8 %, dan Program C hanya sebesar 2 %. Dari nilai rata-rata tersebut terlihat bahwa program A menyerap lebih dari separuh anggaran total, sedangkan program D hanya mendapatkan alokasi anggran yang sangat kecil, yakni hanya 8 %. Masih kecilnya alokasi anggaran untuk pengembangan ekowisata karena program tersebut belum menjadi prioritas pengelolaan TNBT.
Selain alokasi anggaran yang sangat kecil, jumlah SDM Balai TNBT yang menangani ekowisata juga masih sangat terbatas. Dari total sembilan puluh orang pegawai Balai TNBT hanya dua orang pegawai yang secara khusus menangani bidang ekowisata,
c. Peluang
Nilai pengaruh dari faktor yang bersifat strategis sebagai komponen peluang (opportunity) dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Nilai Pengaruh dari Faktor yang Bersifat Strategis Sebagai
Komponen Peluang dalam Pengembangan Pengelolaan TNBT secara Terintegrasi Berbasis Ekowisata
FAKTOR BOBOT PERINGKAT
NILAI PENGARUH A. Dukungan pemerintah daerah terhadap
pengembangan ekowisata TNBT
0,3 4 1,2
B. Meningkatnya minat masyarakat perkotaan terhadap ekowisata (back to nature)
0,2 4 0,8
C. Meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia 0,2 3 0,6 74% 16% 2% 8% Program A Program B Program C Program D
FAKTOR BOBOT PERINGKAT
NILAI PENGARUH D. Dukungan masyarakat lokal terhadap
ekowisata TNBT
0,2 2 0,4
E. Tersedianya sarana-prasarana pendukung (hotel, restoran,dll) di sekitar TNBT
0,1 4 0,4
Jumlah 1 - 3,4
Uraian masing-masing faktor yang bersifat strategis sebagai komponen peluang sebagai berikut :
1) Dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan ekowisata TNBT
Secara administrasi pemerintahan, sebagian besar obyek ekowisata TNBT berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Mengingat besarnya potensi ekowisata TNBT, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu memberikan dukungan terhadap pengembangan ekowisata TNBT. Hal ini tercermin dari strategi dan kebijakan pembangunan sektor pariwisata Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Strategi pembangunan sektor pariwisata Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, yaitu : a) Mendorong berkembangnya potensi obyek wisata, memanfaatkan dan mengembangkan faktor produksi serta mengembangkan kemitraan secara vertikal maupun horizontal atas dasar saling membutuhkan, saling mendukung dan saling menguntungkan, dan b) Menggali, mengembangkan dan melestarikan kebudayaan daerah sebagai pendukung terwujudnya suasana kehidupan masyarakat yang harmonis. Sedangkan kebijakan sektor pariwisata Kabupaten Indragiri Hulu adalah : a) Menggali dan mengembangkan potensi pariwisata melalui peningkatan sarana dan prasarana, dan b) Meningkatkan pengelolaan pariwisata yang profesional serta kegiatan dan promosi pariwisata yang dilakukan secara terarah, terencana, dan terpadu.
Dalam pelaksanaan strategi dan kebijakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu telah memberikan bantuan terhadap pengembangan ekowisata TNBT dalam bentuk ; pembangunan jembatan dan pengerasan jalan menuju lokasi obyek ekowisata Camp Granit sepanjang 13 km, promosi ekowisata TNBT melalui media yang diterbitkan Pemkab. Indragiri Hulu, dan pembangunan fasilitas pengunjung di obyek ekowisata Granit.
2) Meningkatnya minat masyarakat perkotaan terhadap ekowisata (back to nature) Suasana hidup di perkotaan kini terasa semakin tidak nyaman. Kondisi perkotaan yang bising, udara kotor akibat polusi, kemacetan, banjir pada musim penghujan, lingkungan kumuh, merupakan gambaran tentang suasana perkotaan yang semakin tidak bersahabat dengan kehidupan manusia. Selain itu, aktifitas masyarakat kota yang penuh dengan rutinitas, menyebabkan hidup seakan terus berpacu dengan waktu. Akibatnya waktu luang semakin sulit didapatkan kecuali pada hari-hari libur. Kondisi tersebut menyebabkan tumbuhnya kecenderungan masyarakat kota untuk menggunakan waktu luangnya untuk berekreasi di alam terbuka (back to nature). Kondisi tersebut juga terlihat dari semakin banyaknya minat masyarakat perkotaan di Propinsi Riau, misalnya masyarakat Kota Pekanbaru, Rengat, Pangkalan Kerinci dan Tembilahan, yang berkunjung ke lokasi ekowisata TNBT .
3) Meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara
Pada Gambar 39. dapat dilihat bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia terus mengalami peningkatan. Apabila dibandingklan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2008 (sebesar 6.429.027 orang) dengan pada duapuluh tahun sebelumnya yakni tahun 1989 (sebesar 1.625.965 orang), maka terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebesar 4.803.062 orang (295 %), atau rata-rata terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia sebesar 240.153 orang pada setiap tahunnya.
0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 Tahun J u m la h W is m a n ( o ra n g )
4) Dukungan masyarakat lokal terhadap ekowisata TNBT
Berdasarkan hasil penelitian terhadap persepsi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TNBT pada Sub Bab V.A., dapat dilihat bahwa responden dari kelompok masyarakat tradisional yang menyatakan mengetahui tujuan pengelolaan TNBT sebanyak 22 %, dan responden dari kelompok masyarakat penyangga yang menyatakan mengetahui tujuan pengelolaan TNBT sebanyak 59 %. Sedangkan dari segi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata TNBT, 66 % responden dari kelompok masyarakat tradisional menyatakan terlibat dan hanya 13 % responden dari kelompok masyarakat daerah penyangga yang menyatakan terlibat. Data tersebut mencerminkan bahwa walaupun persepsi masyarakat tradisional terhadap tujuan pengelolaan TNBT masih rendah, namun sebagian besar dari mereka terlibat dalam pengelolaan TNBT. Sebaliknya, walaupun persepsi masyarakat daerah penyangga terhadap tujuan pengelolaan TNBT cukup tinggi, namun sebagian besar dari mereka tidak terlibat dalam pengelolaan TNBT. Namun demikian kedua kelompok masyarakat tersebut berharap agar ekowisata TNBT dikembangkan sehingga dapat lebih memberi manfaat bagi kehidupan mereka. 5) Tersedianya sarana-prasarana pendukung
Sebagai sarana pendukung, terdapat beberapa hotel dan penginapan yang cukup representatif bagi ekowisatawan di sekitar lokasi kantor Balai TNBT di Rengat Barat. Beberapa hotel dan penginapan yang sering dikunjungi oleh ekowisatawan TNBT adalah Hotel Danau Raja (Rengat), Wisma Five Boys (Rengat Barat) Penginapan Ayu (Rengat Barat), Penginapan Putri Bungsu (Rengat Barat), Penginapan Irma Bunda (Rengat Barat), Penginapan Cendana (Rengat Barat), dan penginapan Miki Mutiara (Belilas). Selain hotel / penginapan, ekowisatawan TNBT juga sering mengunjungi restoran / rumah makan baik yang ada di sekitar Kota Rengat maupun di sekitar kawasan TNBT yang umumnya menyajikan masakan melayu dan padang. Sarana pendukung lainya adalah adanya beberapa biro / agen perjalanan yang melayani jasa transportasi antara Kota Pekanbaru - Rengat – Kawasan TNBT dan Kota Jambi.
Sedangkan di kawasan TNBT, kondisi sarana akomodasi hanya tersedia satu buah asrama pusat pelatihan pemadam kebakaran (8 kamar) dan satu buah barak
petugas (4 kamar) di lokasi Camp Granit yang juga difungsikan sebagai sarana akomodasi bagi ekowisatawan.
Gambar 40. Hotel Danau Raja di Rengat
d. Ancaman
Nilai pengaruh dari faktor yang bersifat strategis sebagai komponen ancaman (threats) dalam pengembangan pengelolaan TNBT secara terintegrasi berbasis ekowisata dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Nilai Pengaruh dari Faktor yang Bersifat Strategis Sebagai
Komponen Ancaman dalam Pengembangan Pengelolaan TNBT secara Terintegrasi Berbasis Ekowisata
FAKTOR BOBOT PERINGKAT
NILAI PENGARUH A. Terjadinya gangguan keamanan dan
kenyamanan pengunjung
0,3 4 1,2
B. Terjadinya gangguan hutan (illegal looging) oleh masyarakat sekitar
0,2 3 0,6
C. Terjadinya kebakaran hutan di kawasan TNBT dan daerah penyangga
0,3 2 0,6
D. Berubahnya tata ruang di sekitar kawasan TNBT
0,1 3 0,3
E. Degradasi tata nilai budaya asli masyarakat tradisional
0,1 3 0,3
Jumlah 1 - 3,00
1) Terjadinya gangguan keamanan dan kenyamanan pengunjung
Faktor keamanan dan kenyamanan merupakan faktor yang menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan dalam memilih lokasi yang akan dikunjungi. Wisawatan tidak akan tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat yang dinilainya tidak nyaman apalagi dapat mengancam keselamatannya, walaupun lokasi tersebut sangat menarik. Dengan lokasi obyek ekowisata yang relatif terisolir, wisatawan yang akan berkunjung ke TNBT perlu lebih serius mempertimbangkan faktor keamanannya selama dalam perjalanan, misalnya dengan berkunjung dalam kelompok atau dengan pemandu. Selain itu masalah asap yang terjadi hampir pada setiap musim kemarau di wilayah Propinsi Riau, merupakan faktor lain yang sangat mengganggu kenyamanan pengunjung TNBT.
2) Terjadinya gangguan hutan (illegal logging) oleh masyarakat sekitar
Masih sering terjadinya gangguan hutan, khususnya illegal logging, oleh masyarakat sekitar pada beberapa lokasi di kawasan TNBT dan daerah penyangganya dapat mengancam kelestarian hutan alam dan spesies flora-fauna langka, dan keindahan panorama alam yang menjadi potensi supply ekowisata TNBT. Walaupun pihak Balai TNBT telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengurangi tingkat gangguan tersebut, baik secara pre-emtif, pre- ventif maupun re-presif, namun rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat menjadi faktor pemicu tetap berlangsungnya kegiatan tersebut.
3) Terjadinya kebakaran hutan di kawasan TNBT dan daerah penyangga
Kebakaran hutan yang hampir terjadi pada setiap musim kemarau di Propinsi Riau dan sekitarnya, merupakan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi ekowisata TNBT. Terjadinya kebakaran hutan akan berpengaruh terhadap penerbangan dari dan ke bandara internasional Sultan Syarif Kasim II di Kota Pekanbaru, kenyamanan ekowisatawan, serta dapat mengancam musnahnya hutan beserta isinya. Walaupun sampai saat ini jumlah hotspot yang terpantau di kawasan TNBT sangat sedikit, namun banyaknya jumlah hotspot di daerah penyangga menjadi ancaman tersendiri bagi kelestarian hutan TNBT. Peta penyebaran hotspot di kawasan TNBT dan daerah sekitarnya dapat dilihat pada Gambar 41.
Gambar 41. Peta PenyebaranHotspotdi Kawasan TNBT dan
Daerah Sekitarnya Periode Tahun 2006, 2007, dan 2008
4) Berubahnya tata ruang di sekitar kawasan TNBT
Pengembangan ekowisata memerlukan adanya konsistensi dalam hal tata ruang wilayah. Perubahan tata ruang wilayah, khususnya pada daerah penyangga taman nasional, akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial- budaya masyarakat, yang merupakan elemen penting ekowisata. Sesuai hasil penelitian terhadap kondisi keintegrasian pengelolaan TNBT pada Sub Bab V.A, dapat dilihat bahwa penataan ruang di daerah penyangga TNBT masih sering menghadapi permasalahan, sehingga menimbulkan konflik di antara para pihak. Bentuk permasalahan yang menunjukkan lemahnya integrasi penataan ruang di daerah penyangga TNBT adalah tumpang tindih antar sektor dan konversi hutan penyangga untuk pertambangan dan kebun sawit, seperti dapat dilihat pada Gambar 42 dan Gambar 43.
Gambar 42. Konversi Hutan Penyangga TNBT Menjadi Tambang Batu Bara di Desa Sungai Akar Kec. Batang Gansal Kab. INHU
Gambar 43. Konversi Hutan Penyangga TNBT Menjadi Kebun Sawit di Desa Siambul Kec. Batang Gansal Kab. INHU
5) Degradasi tata nilai budaya asli masyarakat tradisional
Masyarakat tradisional yang tinggal di kawasan TNBT memiliki kearifan tradisional dalam tata nilai budayanya yang telah dipraktekkan secara turun temurun. Oleh sebab itu mereka dapat hidup secara harmonis dengan lingkungannya selama lebih dari seratus tahun yang lalu. Keunikan budaya asli
Sumber : Balai TNBT Sumber : Balai TNBT
masyarakat tradisional tersebut juga menjadi daya tarik bagi ekowisatawan. Namun demikian, adanya interaksi antara masyarakat tradisional dengan masyarakat luar misalnya ketika melakukan kegiatan jual beli hasil hutan seperti jernang dan petai ,