• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Dosen Tentang Konsep dan Praktek Pembelajaran Aktif (Active Learning)

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 30-39)

Persepsi merupakan proses mengimplikasikan aspek kognitif dan afektif pribadi saat melakukan pemilihan, pemahaman dan menginterpretasikan rangsangan-rangsangan menjadi penjelasan terhadap suatu objek tertentu (Utami, 2017). Persepsi seseorang dapat muncul seiring dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Persepsi dosen mengenai kegiatan pembelajaran menjadi hal yang penting karena dosen telah menjadi aktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Kegiatan belajar dan mengajar menjadi salah satu tugas dosen dalam rangka mempersiapkan mahasiswa calon guru untuk menjadi lulusan yang memiliki keilmuan memadai, sehingga pemilihan strategi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa menjadi cara untuk menumbuhkan keterlibatan belajar secara aktif.

Active learning sebagai salah satu pendekatan learned-center mampu memberikan pengaruh untuk melakukan pembelajaran yang bermakna dan dinamis (Akmal &

Nurmaliah, 2015).

Berdasarkan analisis hasil wawancara, satu dari enam dosen mendeskripsikan active learning sebagai suatu strategi berpusat pada mahasiswa atau student center:

“Pertama, saya bukan satu-satunya aktor di situ kan? Jelas pembelajaran itu milik mahasiswa, mulai dari eh … penggunaan medianya kemudian apa aktifitasnya? Seperti kalau dulu misalnya saat bikin paparan, mereka yang bikin media di PP nya di upload. Nanti assignment nya kemudian ya itu grup kelompok beberapa orang, yang seperti di google drive. Jadi intinya student center. Yah kalau misalnya ya ehh sebuah pencapaian yang bagus. Saya lebih banyak mendengar dibandingkan saya didengar”

(RAL4/W1/1-10)

Kondisi ini untuk menghindari mahasiswa dari sikap monoton, tidak efektif serta merasa adanya ketergantungan dengan dosen saat kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran berpusat pada mahasiswa memungkinkan mereka untuk mampu membangun pengetahuan baru dan meningkatkan pengetahuan lama karena keterlibatan mahasiswa yang lebih banyak dibandingkan dosen saat belajar commit to user

(Mathias, 2014), namun dosen tetap harus memberikan pengarahan kepada mahasiswa.

Lima dosen lainnya mengungkapkan bahwa active learning merupakan pembelajaran aktif dua arah yang tidak hanya didominasi oleh dosen. Hal ini senada dengan yang disampaikan Gleason et al (2011) bahwa strategi active learning yang digunakan oleh dosen dapat menumbuhkan komunikasi dua arah serta mempromosikan pemahaman siswa dan aplikasi pengetahuan yang bermakna. Berikut jawaban responden yang tertuang dalam hasil wawancara:

“Pembelajaran dikatakan aktif terjadi komunikasi dua arah, artinya siswa gak hanya diam mendengarkan, tetapi melakukan aktifitas yang ada dalam pembelajaran itu baik secara diskusi ataupun mereka ada komunikasi dengan dosen semacam tentang diskusi itu. Ya mungkin bisa dibilang debat. Aktif ya artinya mahasiswa ya gak diam saja, tapi terlihat aktif dalam mengerjakan prosesnya.” (RAL3/W1/1-7)

Penjelasan RAL3 didukung oleh RAL1 yang menjelaskan active learning termasuk pembelajaran multiarah :

“Sebab, manakala pembelajaran itu dikatakan aktif jika disitu manakala ada interaksi multi arah, ada interaksi dosen, mahasiswa-mahasiswa disitu terlibat aktif dalam pembelajaran, diskusi berjalan dalam multi arah itu tadi, intinya multi arah.” (RAL1/W1/1-4)

Active learning memberikan informasi dan kesempatan untuk mahasiswa (Allen & Tanner, 2005). Kondisi ini disebabkan karena active learning menganggap mahasiswa sebagai rekan kerja dalam proses belajar mengajar.

Pembelajaran yang didominasi dengan penyampaian informasi satu arah hanya dari dosen ke mahasiswa akan cenderung pasif. Komunikasi yang terjalin secara dua arah antara dosen dan mahasiswa dapat memberikan efek positif pada lingkungan belajar. Proses interaksi teman sebaya serta hubungan komunikasi dan umpan balik antar mahasiswa dan dosen dapat timbul karena mahasiswa memiliki kesempatan untuk berpartasipasi dalam mengembangkan pemkiran mereka (Suwondo & Wulandari, 2013).

Umpan balik adalah informasi spesifik tentang pengamatan kinerja mahasiswa yang terukur dengan suatu standar tertentu sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja mahasiswa (Van De Ridder, Stokking, McGaghie, & Ten commit to user

Cate, 2008). Umpan balik sebagai bagian proses pembelajaran menjadi cara dosen dalam memantau perkembangan belajar mahasiswa. Pada proses pembelajaran semua responden melakukan umpan balik, dan menggunakan jenis umpan balik yang sama, yaitu congruent feedback. Hal ini tertuang dalam petikan wawancara beberapa responden:

“Pertama langsung verbal. Konfirmasi-konfirmasi yang apa hasil analisis yang mereka sampaikan kurang lengkap ya langsung saya berikan, tapi tidak serta merta saya langsung kirim ini salah ini, tidak....saya berikan kesimpulan di akhir setelah diskusi kelompok, lebih kepada diskusi kelompok. Kebanyakan nonverbal berupa tugas.” (RAL4/W1/63-74)

“Sering saya mbak melakukan kegiatan yang verbal atau nonverbal. Tanya yang perlu dijawab, kemudian tanya lagi sambil ketemu maksudnya bakal begitu jadi pada satu konsep apa, gimana? Kadang saya tidak menjelaskan maksudnya A begini begini begini … Banyaknya ya saya verbal, tapi ya kadang tugas juga.

Tugas misalnya ini dicoba, ini dicoba dipetakonsepkan.” (RAL6/W1/70-75) Menurut Wening (2012) terdapat 4 jenis umpan balik dalam pembelajaran, diantaranya: 1) general and specific feedback yaitu umpan balik yang mendorong mahasiswa untuk terus mencoba dan umpan balik yang menyebabkan mahasiswa mengetahui apa yang dilakukan; 2) Congruent and incongruent feedback yaitu umpan balik yang fokus pada aktivitas belajar yang sedang dipelajari dan umpan balik yang bersifat proses atau tata cara dalam konsep yang diajarkan; 3) simple feedback yaitu umpan balik yang terfokus pada satu keterampilan dalam satu saat; 4) positive, neutral, and negative feedback, yaitu umpan balik yang mengacu pada cara bahasa, kata-kata, dan pujian penyampaian dosen

Kemampuan dosen dalam melaksanakan kegiatan umpan balik menjadi penting karena, feedback adalah proses untuk menumbuhkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa. Konsep yang diajarkan tidak selalu mudah dipahami mahasiswa sehingga membutuhkan penjelasan yang berdampak pada munculnya proses tanya jawab antara mahasiswa dan dosen. Pelaksanaan umpan balik secara teratur dapat memunculkan ketertarikan mahasiswa pada materi yang diajarkan, yang dapat dilihat dari respon positif mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran.

Interpretasi pembelajaran aktif menggambarkan belajar sebagai proses tempat pengetahuan terbentuk dari pengalaman dan keterlibatan aktif. Kata "aktif" commit to user

dapat diartikan sebagai learning by doing. Mahasiswa calon guru dari berbagai prodi pendidikan sains memerlukan pemahaman yang kuat mengenai teori dan keefektifan praktek dalam kegiatan pembelajaran, mengingat lulusan fakultas keguruan akan memegang peranan penting dalam pendidikan di masa depan. Oleh karena itu, kemampuan dosen dalam mengajarkan teori yang disisipkan dengan situasi-situasi nyata menjadi hal yang diperlukan. Seluruh responden mengatakan pada wawancara bahwa mereka melakukan kegiatan pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari yang merujuk pada situasi-situasi nyata dan telah memberikan dampak pada belajar mahasiswa. Berikut beberapa pernyataan responden:

“Tentu saja sangat membantu mahasiswa, ya itu jadi pembelajaran di kelas itu lebih mereka rasakan di kehidupan sehari-hari, akan lebih menguatkan konsep itu ketika mereka menghadapinya secara langsung, mereka mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari jadi terus akan lebih menguatkan. Tapi di fisika itu tidak semuanya terlihat dalam kehidupan nyata. Karena ada beberapa konsep tentunya yang abstrak dan harus kita bayangkan. Kalau di fisika ada thought exsperiment, eksperimen dalam pikiran aja gitu dan itu sudah dilakukan oleh beberapa ilmuwan yang seebelumnya-sebelumnya juga gitu. Nah jadi kalau memang dapat datanya langsung kita bisa praktek, kita bisa mengaplikasikannya langsung akan lebih kuat, lebih terasa.” (RAL 3/W1 /27-39)

“Ya dilakukan lah mbak. Yang dilakukan, dilihat ini lebih enak, lebih real dan gak abstrak. Itu jadi lebih cepat karena saya mengalaminy jadi gak perlu mikir atau membayangkan yang abstrak. Kalau saya yang mengenai abstrak ini, itu dari segi hokum, ramalan cuaca, kaya gitu. Sebetulnya yang lebih realnya banyak sih, jadi lebih banyak dilihat langsung dalam kehidupan sehari-hari.”(RAL 6/W1/ 30-35)

Situasi-situasi nyata dapat diterapkan saat mengajar pada konsep yang diajarkan. Situsi-situasi nyata menjadikan konsep mudah untuk dipahami (Wuolle, 2016), karena dalam pembelajaran sains sering ditemukan abstraksi konsep. Tugas diberikan dengan menghubungkan pada situasi-sitausi nyata dapat memberikan motivasi pada keterlibatan mahasiswa yang didukung melalui scaffolding dosen (Darling Hammond et al. 2020). Keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam mengaitkan pembelajaran dengan situasi-situasi nyata dapat membentuk efek positif dan pemahaman belajar yang lebih lama dan bermakna serta dampak pada

commit to user

pengetahuan dan keterampilan yang semakin meningkat. Kondisi ini dapat memberikan motivasi dan tujuan yang akan dilakukan mahasiswa.

Menurut (Commander et al. 2012) situasi-situasi nyata dapat didukung dengan penggunaan teknologi film dalam memaksimalkan pembelajaran mahasiswa. Teknologi merupakan salah satu bentuk dari media pembelajaran yang digunakan dosen dan mahasiswa. Media pembelajaran telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi dosen saat melakukan aktivitas mengajar. Hasil wawancara menunjukan satu dari enam responden mengatakan kadang-kadang memanfaatkan media pembelajaran yang disediakan kampus dan lima responden mengatakan telah memanfaatkannya. Responden memiliki cara dalam memanfaatkan media pembelajaran yang beragam dan pernyataan ini dituangkan dalam beberapa hasil wawancara responden sebagai berikut:

“Kalau saya lihat sikon aja sih mbak dan konten materi. Kalau pas diperlukan saya pake, kalau memang saat itu tidak dibutuhkan ya tidak. Kalau ada memang ada bisa saya manfaatkan dan ada manfaatnya untuk mahasiswa why not? Tapi kalau tidak dan tidak bisa dipakai buat apa saya paksakan” (RAL 2/W1/149-154)

“Kalau saya ya proyektor itu yah. Kalau biasanya media itu lebih banyak kita yang menyediakan. Jadi misalnya media pembelajaran kan gak cuma PPT, slide PPT, tapi kan ya itu kita membelajarkan konsep media gravitasi Newton dan Einstein ya. Saya bawa bola sendiri, kain sendiri, saya bawa apel bahkan, ya saya mendyediakan media sendiri. Kadang juga sudah dibuat mahasiswa angkatan sebelumnya saya bawa lagi. Tapi lebih ke aktifitasnya yang bervariasi. Kalau medianya ya itu-itu saja. Kalau pengelolaan lebih condong ke PPT slide PP”

(RAL3/W1/177-185)

“Saya memanfaatkan SPADA, pakai SPADA. Itu kan sangat memperkaya learning environment di kampus. Terus ya itu yang paling jelas SPADA aktif pembelajaran. Semua assignment SPADA, termasuk ada online 2 pertemuan itu full SPADA pada saat chat forum dsb, yang disediakan kampus kan itu.”

(RAL4/W1/87-91)

Media pembelajaran memiliki beragam bentuk yang dapat dipergunakan untuk menunjang kelancaran belajar. Responden menerangkan bahwa mereka menggunakan media pembelajaran bisa lebih dari satu, namun yang perlu diperhatikan pada konteks ini media yang umumnya digunakan untuk pembelajaran. Responden menjelaskan media pembelajaran yang umumnya commit to user

digunakan berupa teknologi internet, software, power point, whiteboard dan penggunaan jurnal. Hal ini termuat pada hasil wawancara sebagai berikut:

“Kalau media ya mungkin PP, penggunaan SPSS. Kita melakukan pengolahan data dengan SPSS. Tapi kalau ini yang baru SPADA itu ya. Eh kalau dulu belum ada manfaatnya ya untuk internet, paling itu tadi. Pengumpulan tugas, penyampaian tugas sebenernya kalau sudah ada SPADA enak ya mbak sudah ada semuanya di situ, maksudnya materinya sudah disitu, kuisnya sudah disitu, diskusinya juga disitu, ya mungkin kedepannya nanti supaya ini yah harus ada pemanfaatan ini. Mungkin kalau yang sebelum-sebelumnya saya hanya sebatas itu saja. Ya mungkin setelah ini dari IPA juga ya banyak ini ya sudah menggunakan SPADA, jadi masih bisa diperbaiki lagi.” (RAL5/W1/141-153)

“Media selain PP di Metopen eh .. media nya berupa jurnal-jurnal yang bisa mereka ambil sendiri, bisa mereka download, atau yang sudah saya siapkan sebagai bagian dari telaah jurnal. Kalau di evaluasi karena ada sebagian analisis butir soal jadi menggunakan software. Saya memang belum menggunakan seperti SPADA. Saya belum menggunakan sampe sana, apalagi pembelajaran seperti itu ya. Memang .. apa namanya … beberapa tugas yang saya berikan itu dalam bentuk kirim email gitu yah, tetapi saya tidak menggunakan seperti daring.

Karena saya merasa pertemuan dengan dosen itu menjadi sesuatu yang sangat penting dibandingkan hanya dengan pertemuan jarak jauh ya. Karena pertemuan dengan dosen, kita bisa melihat secara langsung interaksi. Karena begini, subjek belajar saya kan manusia ya … jadi ada hal yang tidak bisa didapatkan ketika menggunakan pembelajaran daring kalau saya seperti itu. Jadi ada sentuhan-sentuhan aspek non materi. Sentuhan-sentuhan-sentuhan di luar materi pembelajaran yaitu apa? Sentuhan hati kalau saya ketika proses pembelajaran di lakukan di dalam kelas dengan mahasiswa dan itu tidak bisa tergantikan dengan online atau apapun. Ketika kita berhadapan dengan mahasiswa, mahasiswa mengerjakan tugas dengan serius … dengan sungguh-sungguh … dengan antusias … dengan tatapan mata yang penuh semangat itu kan bisa terlihat. Tapi kalau dengan pembelajaran daring, dia mengerjakan dengan sungguh-sungguh atau tida,kita kan gak tahu. Nah jadi karena subjek nya manusia, jadi lebih memilih bertemu langsung dengan mahasiswa saja untuk memudahkan kita saja, untuk konsultasi.

Tetapi untuk pembelajaran inti tetap saya mengutamakan ketemu langsung dengan mahasiswa saya, karena ada faktor di luar materi yang ingin saya dapatkan dari pertemuan dengan mahasiswa.” (RAL1/W1/135-166)

“Saya juga menggunakan yang konvensional, whiteboard juga kan media. Saya juga kan pakai itu. Kemudian PowerPoint offline juga saya pakai. Kemudian aplikasi-aplikasi dalam google classroom, apa google slide. Ya kalau tugas saya pakai google doc. Jadi tinggal komen ke anak dan project basednya turun juga jadi media konkret.” (RAL4/W1/92-98)

commit to user

Menurut Muhson (2010), proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi, maka media yang digunakan pada pembelajaran disebut media pembelajaran. Media pembelajaran telah menjadi alat bantu untuk menyampaikan informasi saat mengajar. Dosen memiliki peran dalam menentukan jenis media pembelajaran yang sesuai dengan lingkup materi dan kondisi lingkungan belajar karena pada materi yang disampaikan memiliki tingkat kesukaran tersendiri, sehingga media pembelajaran dapat berkontribusi untuk memperjelas maksud dan tujuan dari konsep yang diajarkan.

Media pembelajaran dapat ditentukan dengan mempertimbangkan hal-hal seperti: media pembelajaran memiliki manfaat yang berbeda dalam mencapai tujuan pengajaran; ketersedian waktu; biaya yang digunakan; dan penggunaan media yang melaksanakan lebih dari satu fungsi (seperti video) (Rahma, 2019).

Dosen memahami akan kebutuhan media pembelajaran bagi mahasiswa yang dapat dilihat dari beragamnya jenis media pembelajaran dari satu dosen dengan lainnya.

Media pembelajaran dapat dikelompokan ditinjau dari jenisnya, yaitu : media audio (golongan tape recorder, telepon, dll); media visual diam (golongan foto, buku referensi, ilustrasi, dll); media visual gerak (film bisu); media audio visual diam (golongan televisi diam, slide); media audio visual gerak (golongan video, CD, televisi, gambar suara); media serba neka (papan tulis, majalah dinding, model, diorama, drama, bermain peran, demonstrasi, simulasi, kerja lapangan, studi wisata, dan komputer) (Muhson, 2010).

Berdasarkan hasil wawancara, media yang digunakan responden dapat dikelompokan pada media visual diam (jurnal); media serba neka (papan tulis, software), dan internet dapat dikelompokan pada media berbasis teknologi informasi. Media pembelajaran berbasis teknologi telah terlaksana di Pendidikan Sains UNS. Kondisi ini ditandai dengan penggunaan SPADA (kepanjangannya apa??) yang terintegrasi pada kegiatan pembelajaran walaupun belum sepenuhnya responden menggunakan SPADA dan diharapkan penggunaan secara rutin pada pembelajaran semester selanjutnya dapat diterapkan secara maksimal. SPADA merupakan salah satu bentuk tawaran produk berbasis internet yang digunakan commit to user

dosen saat mengajar, selain SPADA dosen telah memaksimalkan penggunaan google docs, google classroom dan sejenisnya sebelum SPADA diperkenalkan.

Kebutuhan atas penggunaan media pembelajaran sangat penting termasuk mengitegrasikan teknologi berbasis internet sebab pengajaran dan pembelajaran tidak hanya terjadi di kelas, namun memungkin di luar kelas yang mengakibatkan dosen dan mahasiswa secara fisik berjauhan (Ghavifekr & Rosdy 2015). Media pembelajaran dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengajaran dan konsep sehingga pembelajaran dapat lebih bermakna dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar.

Penilaian telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembelajaran, hal ini dimaksudkan agar para dosen dapat mengetahui dan melakukan penilaian untuk mengukur ketercapaian yang didapat mahasiswa. Penilaian formatif termasuk penilaian yang dilaksanakan selama proses pembelajaran, bukan pada akhir materi pembelajaran. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, seluruh responden menjawab mereka melakukan penilaian formatif saat belajar. Hal ini terangkum dalam petikan wawancara berikut:

“Kalau itu bentuknya situational mbak Essy, kalau ada yang ngantuk itu saya kasih kuis satu soal saja ya, itu buat latihan. Kalau kuis itu kadang-kadang ada juga yang bentuknya online atau offline juga ya, saya lhat kondisi saja. Kalau koneksi lancer, anak-anak bawa laptop, waktunya ada, saya online kan. Saya kasih waktunya berapa menit. Saya kasih waktu missal 30 menit, nanati kalau ada yang late kana da catatannya di google classroom. Jadi ini latihan sebelum pre or post test.” (RAL2/W1/103-110).

“Bentuknya kuis ya. Jadi kan kalau idealnya setiap tahap pembelajaran disesuaikan dengan silabus/RPS itu kan setiap kali tahap itu ada KD itu kan harus dites/ diuji apa mereka sudah tercapai KDnya gitu. Nah sebenernya saya sedang mencoba menerapkan itu sih. Jadi setiap tahap pembelajaran selesai saya kasih kuis, cuma kadang-kadang ketika hasil kuisnya tidak sesuai dengan harapan itu masih banyak nilainya mungkin gak terlalu bagus itu, gak saya masukan komponen nilai akhir. Jadi itu sebagai tolak ukur oh ternyata mereka masih ada kesulitan.”(RAL3/W1/94-103)

Responden merasakan adanya manfaat penilaian formatif selama kegiatan pembelajaran. Berikut beberapa kutipan wawancara responden:

commit to user

“Fungsi utamanya adalah untuk melacak kemajuan peserta didik, maka yang kita dapatkan adalah yaa itu tadi apakah konsep-konsep yang kita berikan bisa dikuasai oleh mahasiswa atau tidak. Jika dikuasai dengan baik, maka kita bisa lanjut. Tetapi jika tidakdikuasai dengan baik, mau tidak mau kita harus mencari bagian-bagian mana yang kurang bisa dipahami, dan itu harus dibenahi sebelum lanjut. Karena materi-materi kita adalah materi hierarkis, jadi kalau yang sebelumnya belum dikuasai, maka kita akan sulit untuk lanjut ke berikutnya. Bagi saya, fungsi formatif itu penting. Disini untuk melacak kemampuan peserta didik sehingga bagian yang kurang bisa ditambahkan, bagian yang lebih bisa kita berikan lagi pengayaan.” (RAL1/W1/92-103)

“Ya untuk menguji pemahaman konsep. Kalau untuk yang di praktek ada nilai psikomotoriknya sih. Kalau di praktek itu ada apa namanya … Kalau praktikum di bantu asisten,kita biasanya liat pengamatanya gimana? Siklusnya gimana?

Kalau di kelas ya berupa test, tugas-tugas gitu.” (RAL6/W1/65-68)

“Ya itu tadi untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran yang kemarin sudah tercapai atau belum. Jadi ya mungkin kemarin penilaian formatif tertulis bisa. Oh berarti mahasiswa belum paham dengan masalah seperti ini. Jadi mau tidak mau kita harus memantapkan itu dulu baru ke materi selanjutnya. Tapi misalnya kalau udah jalan kita bisa menindak lanjuti dengan seperti ini kok hampir semua siswa sudah bisa, berarti kita mungkin bisa hadapkan dengan masalah yang lain.

Mungkin seperti itu, jadi untuk evaluasi pembelajaran kira-kira ditindak lanjuti seperti apa? Harus mengulang atau diberi masalah-masalah yang lebih tinggi tingkatanya, gitu sih mbak bisa langsung dikonfirmasi kalau ada kesalahan, kekurangan. Kalau kemarin-kemarin kita metode ceramah saja nilainya seperti ini, metode diskusi segini, jadi bisa membandingkan kira-kira tidak semua metode cocok untuk kelas, mungkin kelas ini cocok nya ini.” (RAL5/W1/98-114) Penilaian formatif memiliki beragam bentuk yang umumnya digunakan seperti tugas, tes tertulis, kuis dan LKS (Dasri Rati & Suryanef 2019; Nurjannah 2017). Pada hasil wawancara, seluruh responden menggunakan kuis sebagai penilaian formatif selama pembelajaran di kelas. Materi kuis disusun berdasarkan konsep yang telah diajarkan dan merujuk pernyataan responden RAL3 tahapan materi kuis dibuat berdasarkan pada perencanaan silabus dan RPS.

Penilaian formatif mampu membantu mahasiswa untuk memperoleh pemahaman konsep dengan umpan balik (Sari, Mustikasari, & Pratiwi, 2019), sehingga dosen dapat melakukan peningkatan atau perbaikan ketika pembelajaran.

Para responden telah memahami akan manfaat dari penilaian formatif yang bila digabungkan termasuk ke dalam kemajuan belajar. Pada hasil wawancara mereka commit to user

menyatakan manfaatnya sebagai bentuk untuk melacak kemajuan peserta didik, konsep-konsep yang disamapaikan telah dipahami atau tidak, serta untuk mengetahui tercapainya poin inti pembelajaran. Pelaksanaan kuis pada penilaian formatif dapat berperan sebagai monitor kemajuan belajar. Hasil monitor dan umpan balik dapat menjadi dasar perbaikan pembelajaran mahasiswa. Keadaan ini dapat menjadi keuntungan bagi dosen untuk merancanakan langkah selanjutnya dalam upaya meningkatkan hasil belajar. Menurut Chang & Wimmers (2017) dengan melakukan penilaian formatif secara berkala mahasiswa dapat mengontrol dan menggunakan pembelajaran secara efektif, ini memungkinkan mahasiswa agar lebih siap dalam menghadapi penilaian sumatif yang memiliki keterkaitan dengan nilai akhir.

Konsep merupakan blok bangunan dalam teori dan abstraksi yang mewakili suatu objek atau fenomena tertentu (Grønhaug, 2007). Dalam bahasa Yunani

“konsep” berasal dari kata memahami, sehingga realitas yang ditangkap atau dipahami tergantung pada konsep yang digunakan.

“konsep” berasal dari kata memahami, sehingga realitas yang ditangkap atau dipahami tergantung pada konsep yang digunakan.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 30-39)

Dokumen terkait