BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.5. Persepsi Informan terhadap Nilai Syariat Islam
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa deskripsi persepsi responden terhadap nilai syariat Islam berdasarkan pertanyaan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.15. Distribusi Frekuensi Deskripsi Persepsi Responden terhadap Nilai Syariat Islam dan HIV/AIDS
No Pernyataan
Jawaban
SS S KS TS STS
f % f % f % f % f %
1 Penyakit HIV/AIDS
adalah penyakit yang dilarang dalam agama Islam
1 3,4 16 55,2 12 41,4 0 0 0 0
2 Penderita HIV/AIDS
akan mendapatkan dosa besar karena melanggar syariat Islam
3 10,3 15 51,7 11 37,9 0 0 0 0
3 Nilai Syariat Islam
mengajarkan
pemeluknya untuk selalu menjaga kesehatan dari penyakit
berbahaya
Tabel 4.15. (Lanjutan)
No Pernyataan
Jawaban
SS S KS TS STS
f % f % f % f % f %
4 Nilai Syariat Islam
mengajarkan untuk mencegah baru mengobati 1 3,4 20 69 8 27,6 0 0 0 0 5 Penderita HIV/AIDS akan mendapatkan sanksi moral 0 0 21 72,4 7 24,1 1 3,4 0 0 0
6 Taat pada Syariat Islam
merupakan cara untuk
terhindar dari HIV/AIDS
2 6,9 19 65,5 8 27,6 0 0 0 0
7 Larangan Syariat Islam
untuk tidak berzina merupakan cara Islam untuk menghindarkan dari HIV/AIDS
1 3,4 17 58,6 11 37,9 0 0 0 0
8 Larangan Syariat Islam
untuk tidak enggunakan narkoba termasuk jenis suntik merupakan cara
Islam untuk menghindarkan dari
HIV/AIDS
2 6,9 14 48,3 13 44,8 0 0 0 0
Selain persepsi terhadap penyakit, persepsi terhadap nilai syariat Islam juga menjadi bagian dari focus penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden diperoleh hasil seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 4.16. Distribusi Frekuensi Kategori Persepsi terhadap Nilai Syariat Islam
Kategori Persepsi Frekuensi Persentase (%)
Baik 18 62,1
Cukup 11 37,9
Buruk 0 0
Jumlah 29 100
Berdasarkan tabel didapatkan hasil bahwa responden yang memiliki persepsi yang baik terhadap nilai syariat Islam berjumlah 62,1% dan responden yang memiliki
persepsi yang cukup hanya 37,9%. Hasil menunjukkan bahwa responden memiliki perpsepsi yang baik dalam memandang Nilai Syariat Islam.
Nilai syariat Islam diyakini memberikan penguatan bagi responden untuk tidak terjangkit virus HIV/AIDS dengan segala faktor resikonya. Nilai syariat Islam memberikan aturan-aturan yang menjadi rel bagi pemeluknya untuk beraktivitas yang jauh dari resiko tertular penyakit HIV/AIDS.
Hasil wawancara tentang nilai syariat Islam dapat dilihat pada matriks berikut ini :
Tabel 4.17. Matriks Persepsi Informan tentang Nilai Syariat Islam
Informan Pernyataan
Informan ke-1 “ Nilai –nilai agama merupakan nilai yang dapat mencegah kita dari penyakit HIV/AIDS, kalau kita menjalankan syariat agama Islam pasti kita akan terhindar dari penyakit-penyakit termasuk HIV/AIDS.”
“Orang yang kena penyakit HIV/AIDS pasti jauh dari nilai-nilai agama makanya masyarakat mudah terkena penyakit HIV/AIDS” Informan ke-2 “ Agama Islam kalau dijalani secara benar pasti menghindarkan
kita dari hal-hal yang berbahaya, termasuklah penyakit HIV/AIDS,”
“Tadi saya sudah katakana bahwa, kita bisa terhindar dari penyakit HIV/AIDS bila kita taat terhadap ajaran agama Islam” Informan ke-3 “ Saya setuju kalau nilai agama Islam dapat menghindarkan kita
dari penyakit HIV/AIDS, menurut saya penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit yang sengaja diberikan Allah untuk hambanya yang gak mau ikut perintahnya, misalnya jangan berhubungan seks sembarangan, tapi tetap dilakukan, ujungnya jadi bisa kena penyakit AIDS:
Informan ke-4 “ Alqurankan sudah bilang kalau kamu melanggar perintah Allah pasti Allah akan memberi azab, jadi menurut saya penyakit AIDS itu adalah azab bagi orang yang melanggar apa yang di larang oleh Allah”
“kalau kita taat terhadap Allah pasti kita akan dilindungi Allah dan gak akan terkena penyakit AIDS”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, pemahaman dan pelaksanaan nilai Syariat Islam diyakini dapat menjauhkan umatnya dari penyakit HIV/AIDS. Nilai syariat Islam diyakini dapat menjadi faktor yang mencegah manusia dari penyakit HIV/AIDS, sehingga apabila ketaatan terhadap nilai syariat Islam dilakukan maka kita dapat terhindar dari penyakit HIV/AIDS.
Kondisi ini sejalan dengan persepsi responden terhadap nilai syariat Islam dan penyakit HIV/AIDS. Persepsi yang baik dalam memahami nilai syariat silam diyakini menghindarkan diri dari penyakit HIV/AIDS.
Kemudian bila melihat hubungan penerapan nilai syariat Islam dengan tindakan pencegahan HIV/AIDS dapat di lihat pada matriks berikut ini :
Tabel 4.18. Matriks Persepsi Informan tentang Nilai Syariat Islam dalam Pencegahan HIV/AIDS
Informan Pernyataan
Informan ke-1 “ Pada prinsipnya, Islam melarang kemungkaran terjadi pada manusia, dan kehidupan Islam haruslah senantiasa membuat umatnya selalu sehat. Jadi syariat Islam sudah mengajarkan aturan-aturan yang melarang menyebakan kemungkaran bagi manusia, misalnya berhubungan seks bukan dengan pasangan yang sah, menggunakan narkoba. Jadi sebenarnya Islam menghindarkan dari penyakit HIV/AIDS”
Informan ke-2 “Menurut saya, nilai syariat Islam dapat menjauhkan kita dari penyakit AIDS, Islam melarang berduaan dengan yang bukan muhrim apalagi melakukan hubungan seks, Islam melarang untuk mabuk-mabukkan, jadi pokoknya kalau Islam kita jalani secara benar kita bisa bebas dari AIDS.
Informan ke-3 “Tadi saya sudah bilang kalau agama Islam pasti bisa buat umatnya terhindar dari AIDS, karena Islam punya larangan- larangan yang menurut saya bisa menjauhkan kita dari penyakit ini”.
Tabel 4.18. (Lanjutan)
Informan Pernyataan
Informan ke-4 “ Penerapan syariat Islam di Langsa menurut saya dapat menjauhkan kita dari HIV/AIDS, karena syariat Islam yang dijalankan sesuai dengan aturan Islam. Jadi apa yang ada dalam aturan Islam pastilah menghindarkan umatnya dari penyakit HIV/AIDS. Misalnya saja kalau dihotel ditangkap pasangan bukan muhrim berada dalam satu kamar pasti akan ditangkap, inikan salah satu hal yang dapat mencegah terjadinya AIDS dengan tidak menyediakan tempat bagi orang yang bukan muhrim untuk berbuat zina”
Berdasarkan informasi pada matriks dapat disimpulkan, infoman memiliki persepsi bahwa nilai syariat Islam dengan segala aturannya menciptakan kemaslahatan bagi pemeluknya. Islam membuat aturan-aturan yang dapat mencegah individu dari aktivitas-aktivitas yang dapat beresiko untuk menularkan HIV/AIDS.
Persepsi responden yang baik terhadap nilai syariat Islam, menjauhkan informan dari aktivitas-aktivitas yang menjadi faktor penyebab terjangkitnya HIV/AIDS. Nilai Syariat Islam diyakini memiliki aturan-aturan khusus berkaitan dengan interaksi manusia yang menjaga manusia dari dampak yang berbahaya khususnya bagi kesehatan. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan lainnya :
Tabel 4.19. Matriks Persepsi Informan tentang Nilai Syariat Islam dalam Pencegahan HIV/AIDS
Informan Pernyataan
Informan ke-7 “ Sesungguhnya Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, karena dia rahmat pasti dapat menghindarkan manusia dari hal-hal yang mudhorat. Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang merupakan azab Allah yang menimbulkan kemudharotan bagi manusia”. Alquran secara tegas mengungkapkan dalam surat Al-Isra ayat 32 yang bunyinya
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” “Orang yang berhubungan seks dengan bukan muhrim termasuk Zina, sedangkan kita sama-sama tahu kalau kita berhubungan seks apalagi dengan bukan muhrim dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan salah satunya adalah penyakit AIDS, penyakit menular seksual lainnya”
“ Jadi sudah jelas bahwa ajaran Islam dapat menghindarkan kita dari HIV/AIDS. Syariat Islam yang diterapkan di Langsa yang ada di Qanun semuanya bersumber dari Alquran, karena itu bila Qanun itu dijalankan maka kita bisa terhindar dari hal-hal yang mudhorat”
Informan ke-8 “ Sesungguhnya Qanun yang diterapkan di Langsa ini sumber utamanya adalah nilai-nilai Alquran yang dijalankan umat Islam, Islam sangat tegas melarang umatnya untuk melakukan aktivitas yang mungkar, berzina, mabuk-mabukkan merupakan hal yang sangat dilarang oleh Allah, dan itukan jadi penyebab terjadinya HIV/AIDS”
“ Sejarah dalam Alquran tentang bangsa Sodom yang merupakan kaum nabi Luth merupakan contoh dari peradaban manusia yang melanggar sunatullah dan akhirnya di azab oleh Allah, semuanya itu tergambar di Alquran.
“ Sebenarnya Islam ini sudah sangat luar bisa mengatur umatnya baik skala individu maupun skala sosial, hanya saja semuanya sangat bergantung pada umatnya, Qanun yang dibuat merujuk pada Alquran bisa saja tidak dijalani, atau dijalani hanya sebatas karena ketakutan belaka bukan atas dasar keadaran oleh karena itu kesadaran manusia yang harus ditingkatkan caranya mulai dengan paksaan tapi juga harus sejalan dengan menanamkan kesadaran secara kontinyu.
Berdasarkan informasi informan di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Islam syarat dengan nilai-nilai yang mengajarkan umatnya untuk dapat terhindar dari penyakit HIV/AIDS. Nilai-nilai yang ada tersebut sudah tertuang dalam kitab suci dan diajarkan pada manusia. Hanya saja dalam pelaksanaanya tidak semua manusia dapat menjalankannya.
Nilai syariat Islam secara prinsip mengatur tentang hal-hal yang dapat mencegah terjadinya HIV/AIDS begitu juga dengan qanun yang dihasilkan yang mengacu pada Alquran. Akan tetapi tidak ada secara langsung dalam Qanun tertuang teknis-teknis yang sesuai dengan teknis kesehatan.Nilai syariat Islam yang ada dalam qanun masih bersifat prinsipil, belum mampu merumuskan pada hal yang lebih teknis dalam mendukung masyarakay untuk memanfaakan pelayanan VCT secara khusus.