• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi tentang Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi Sesuai pendapat Sarwono (1984), mengemukakan bahwa faktor faktor

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Persepsi dan Motivasi Tentang Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi

5.2.1. Persepsi tentang Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi Sesuai pendapat Sarwono (1984), mengemukakan bahwa faktor faktor

yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah kuat lemahnya rangsangan, cara kerja alat indera, kadar intensitas kebutuhan, pengalaman individu. Melihat pendapat ini tentunya persepsi peserta didik sebelum dan sesudah masuk dan bersekolah di tingkat SMA dan khususnya SMA N 1 Sunggal memiliki perbedaan yang cukup besar, ketika awal masuk sekolah pada saat kelas X tentunya murid kelas XII belum memahami dan belum memiliki persepsi mengenai bagaimana mereka setelah selesai menamatkan studi di SMA.

Setelah mendapat rangsangan kemudian kadar intensitas kebutuhan dan pengalaman peserta didik yang sudah menempuh pendidikan kurang lebih 2,5 tahun di SMA N 1 Sunggal, terdapat beberapa persepsi dari masing-masing peserta didik seperti hasil wawancara dengan Alfiyah berikut,

“…melanjutkan kuliah mungkin dulu belum terlalu paham dan tau bagaimana Pak, tapi ketika memang udah sering lihat alumni berdatangan terus Bapak Ibu Guru bahkan Kepala Sekolah ketika Upacara dulu selalu cerita bagaimana sekolah kita meluluskan alumni ke berbagai perguruan tinggi hal itu buat saya secara pribadi menjadi ingin dan memiliki perasaan supaya kami juga bisa kek abang dan kakak alumni yang kuliah di PTN bahkan di sekolah kedinasan, karena jika bisa melanjutkan kuliah Pak tentunya suatu saat nanti saya bisa seperti Abang dan kaka alumni danbisa datang kembali ke sekolah dengan bangga hehe…..”

Universitas Sumatera Utara

131 di masa depan lebih baik, walaupun saya sekarang ga masuk jadi siswa yang eligible tapi saya tetap mengurus jalur undangan polteknik Pak, karena saya ingin sekali melanjut pendidikan ke Kuliah dan bisa memiliki masa depan yang baik kelak Pak…..”

Persepsi Terhadap Pendidikan Tinggi adalah bagaimana cara peserta didik menyeleksi informasi yang didapatkan berdasarkan interpretasi atau kesimpulan serta tanggapan mereka khususnya tentang Pendidikan Tinggi. Persepsi dapat dipengaruhi informasi yang didapat dipengaruhi oleh emosi oleh setiap masing–

masing individu, apa yang dipelajari di dalamnya, fenomena apa yang terjadi, serta apa yang akan mereka dapatkan setelah menjalani pendidikan tinggi.

Melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi merupakan salah satu cita-cita yang ingin diraih oleh siswa SMA Negeri 1 Sunggal, dan mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam melihat hal ini. Adapun sebagian besar siswa mempersepsikan bahwa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri bisa membuat mereka menjadi pintar, sebab mereka akan berkesempatan untuk belajar dari dosen-dosen profesional yang berkompeten di bidangnya, dengan kualifikasi yang sudah diakui melalui proses sertifikasi yang tidak mudah, hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut dengan informan Dormaito berikut,

“…jika masuk ke perguruan tinggi negeri tentunya saya dapat meningkatkan keterampilan berupa skill yang akan berguna untuk dunia kerja kelas pak, karena kita tahu semakin hari persaingan

Universitas Sumatera Utara

132

semakin meningkat pak sehingga sangat perlu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kita pak, apalagi jika bisa bisa masuk ke perguruan tinggi negeri pastinya fasilitas disana lengkap kan Pak, sama kek pernah sekali ikut olimpiade di USU lihat gedungnya saja sudah ebsar dan mewah pastilah nanti bosa belajar dengan baik disana…..”

Hal yang tidak jauh berbeda juga didapatkan dari informan Mayang berikut ini,

“…di SMA ilmu yang sudah didapat sudah cukup banyak dari bapak dan Ibu guru pak, Cuma kalau di kuliah kan tentunya akan lebih banyak lagi, apalagi di agama juga kita diajarkan untuk menuntut ilmu karena sangat penting pak…..”

Selain itu, mereka juga berharap akan bertemu orang-orang dengan semangat yang sama, sehingga mereka akan semakin termotivasi untuk lebih maju dan berkembang, baik dalam prestasi akademik maupun kegiatan pembelajaran lain di luar kuliah seperti yang dikatakan oleh farida aini yang juga peraih juara Olimpade Koperasi tingkat deli serdang seperti kutipan berikut,

“…melanjut ke USU jurusan management kayaknya pasti enak pak, karena pasti dosen dan juga mashasiswa yang kuliah disana pintar pintar dan kita tahulah kek mana anak USU kan Pak, semua sudah pasti orang orang pilihan dan tentunya jika bisa menjadi salah satu bagian dari itu bisa menjadi kebanggan tersendiri Pak, apalagi saya selama ini sangat meminati pelajaran ekonomi bahkan kemarin pas ikut olimpiade koperasi rasanya kuliah dan melanjut pendidikan yang berbau ekonomi pasti akan sangat menyenangkan Pak…..”

Kemudian bagi sebagian siswa lainnya, meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dapat memicu peningkatan mobilitas sosial naik intergenerasi seperti yang disampaikan oleh informan Ratu berikut

Universitas Sumatera Utara

133

“…orangtua saya bukan keluarga yang berkecukupan pak, setelah mendengar penjelasan sekolah dan alumni yang berhasil kuliah mendapatkan beasiswa apalagi lihat alumni dekat rumah yang udah kuliah di USU dan dapat beasiswa bidikmisi membuat saya semakin ingin seperti abang tersebut pak, karena kemaren lihat abang itu juga udah bisa punya laptop dari uang bidikmisinya tentunya hal ini sangat ingin saya capaai pak karena tidak membebani orangtua kan pak…..”

Memiliki pendidikan yang tinggi menjadi penting, sebab terminologi tentang tingkat pendidikan seringkali menjadi ukuran strata sosial dalam masyarakat di lingkungan sosial mereka. Seseorang yang mengenyam pendidikan tinggi cenderung mendapatkan rasa hormat dari masyarakatnya, sementara mereka yang berpendidikan rendah seringkali tidak diperhitungkan terutama dalam proses pengambilan keputusan. Meskipun tidak diakui secara eksplisit, tetapi mereka yang memiliki seolah memiliki hak privilege untuk didengar. Hal ini juga sesuai dengan hasil wawancara yang didpat dari informan Alfiyah berikut ini,

“…saya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke PTN pak, karena Bapak saya juga sudah di PHK dan selama ini keluarga kami sering dibantu oleh keluarga dari pihak mamak, jadinya ya pengen sekali membanggakan bapak dan mamak nantinya pak, makanya syukur kali nanti kalau bias menang bidikmisi juga pak, mohon nanti ada infomasi dan hal yang ingin saya tanyakan ke bapak mengenai bidikmisi bisa dibantu sekolah ya pak…..”

Beberapa siswa memahami bahwa dengan mendapatkan strata sosial ekonomi yang baik dalam masyarakat, secara tidak langsung mereka akan mengangkat harkat martabat keluarganya. Terlebih orang tua pun memiliki harapan yang kuat agar anak-anaknya bisa hidup dengan lebih layak, dan karenanya mereka berupaya dengan keras agar anak-anaknya tidak merasakan semua kesulitan yang mereka rasakan.

Universitas Sumatera Utara

134

Di sisi lain, ada juga siswa yang menganggap bahwa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi memiliki gengsi (prestise) tersendiri, apalagi jika mereka lulus di perguruan tinggi negeri. Gagah sekali rasanya jika berjalan dengan mengenakan jaket almamater, sebab tidak semua orang berkesempatan untuk mengenakannya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang didapat dari informan Emi berikut,

“…pernah datang abang alumni dari berbagai kampus dan saya melihat abang itu pakai almamater hijau kan pak kalau Unimed?, dari situ kayaknya saya pengen sekali kalau udah lulus bias nanti dating ke sekolah dengan memakai almamter kek abang abang itu Pak…..”

Hal yang tidak jauh berbeda seperti yang disampaikan Emi, juga didapat dari informan Renika berikut,

“…kalau ditanyak kuliah dimana mungkin suara kita keras bilangnya anak USU pak heheh, puas dan bangga serta orangtua juga pasti akan bangga kan Pak…..”

Tahun 2020 misalkan, dari penerimaan di USU saja, hanya mampu menampung sebanyak 3138 kursi dari jalur SBMPTN, 2896 untuk jalur mandiri, serta 1165 untuk pendidikan Diploma. Jumlah ini belum termasuk mahasiswa yang lulus melalui jalur undangan, dan jumlah ini hanya mengakomodir sebesar 8,79% dari jumlah peminat yang mengikuti seleksi di tahun sebelumnya sebesar 35.719.

Lebih lanjut, hampir semua orang tahu bahwa untuk lulus saja ujiannya cukup berat, sehingga hanya orang-orang terpilih yang bisa diterima menjadi mahasiswa di USU. Bagi orang tua pun pencapaian ini bisa menjadi cerita yang membanggakan, hal ini sesuai dengan hasil wawancara laurensi kaban berikut,

Universitas Sumatera Utara

135

“…untuk bisa masuk ke daftar eligible aja susah pak, apalagi kalau sudah sampe menang dan lulus ke perguruan tinggi negeri Pak maka tentunya akan sangat luar biasa hebat pak, dan bisa buat orangtua bangga, kan kuliah di negeri…..”

Pendapat di atas juga sesuai dengan hasil wawancara dengan informan Josiya seperti dibawah ini :

“…lihat kakak kakak alumni yang datang ke sekolah sudah pakai almamater USU atau Unimed atau bahkan pakai almamter Perguruan tinggi lainnya serta pakai seragam dinas rasanya sangat ingin seperti kakak kakak tersebut pak pastilah orangtuanya bangga karena biasa yang ditanya itu kan anaknya Pak ini atau anak Buk ini jadi banggakan orangtua lah pak, sehingga kuat di dalam diri pak, supaya next aku yang akan kek gitu, tapi sekarang aku ga masuk eligible pak sama kek Timothy, inilah kami mau mengurus jalur undaggan yang Politeknik Pak doakan lah kami ya Pak…..”

Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh peserta didik dari kelas XII MIA yakni timothy seperti berikut,

“…sama kek josiya Pak aku pun ga bisa masuk sebagai peserta eligible tapi karena selama ini sudah disampaikan dan diajarkan di sekolah bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi merupakan hal yang bagus, ini makanya aku sma Josiya datang ke sekolah setelah melihat status buk SW dan pengumumuan di grup WA kelas bahwa ada jalur undangan untuk politeknik Pak, sebegitunya kami pengen kuliah pak walaupun ga universitas paling enggak kami bisa kuliah di politeknik yang negeri Pak, karena kualitas negeri tentunya ga usah diragukan lagi kan pak…..”

Persepsi pada setiap peserta didik tentunya dapat berbeda beda sesuai dengan pengalaman masing-masing peserta didik, namun dari beberapa hasil wawancara banyak ditemukan persepsi peserta didik di SMA N 1 Sunggal banyak yang ingin masuk dan melanjutkan ke pergruruan tinggi karena mereka

Universitas Sumatera Utara

136

menyatakan di dalam Perguruan tinggi tersebut tentunya tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih, kemudian terdapat persepsi yang akhirnya dibentuk setelah sekolah memberikan stimulus mengenai pegruruan tinggi sehingga menjadikan banyak peserta didik yang semakin yakin untuk dapat melanjttkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri dengan segala keunggulan baik dalam mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan tentunya untuk dapat sebagai saluran mobilitas social nantinya.

Jika melihat dari pemikiran Asrori bahwa persepsi adalah “proses individu dalam menginterprestasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan di mana individu itu berada yang merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman, maka dengan data-data yang telah ditunjukkan pada hasil wawancara di atas, terlihat bahwa peserta didik di SMA Negeri 1 Sunggal dalam proses nya sudah menginterpretasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan sekolah yakni SMA Negeri 1 Sunggal dimana tempat pesera didik melakukan proses belajar dan pengalaman belajar mereka selama kurang lebih 3 tahun.

Stimulus stimulus yang sudah diberikan oleh Institusi SMA Negeri 1 Sunggal telah memberi pengaruh, sehingga persepsi yang beraneka ragam pada setiap peserta didik awalnya, kini menjadi memiliki persepsi yakni setelah selesai melakukan pendidikan di tingkat SMA yakni melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan tinggi yakni melanjutkan kuliah.

Universitas Sumatera Utara

137

5.2.2. Bagan Persepsi Tentang Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan