HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Peran Sekolah dalam membangun habitus
5.1.4. SPAN-PTKIN
Jalur undangan berikutnya adalah dinamakan SPAN-PTKIN, Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, ditetapkan bahwa pola penerimaan mahasiswa baru pada UIN/IAIN/STAIN di Indonesia dilakukan secara nasional dan bentuk lain. Pola seleksi secara nasional pada UIN/IAIN/STAIN disebut Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) dan pola seleksi bentuk lain yang dilakukan secara bersama oleh UIN/IAIN/STAIN disebut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) yang kedua pola tersebut diikuti oleh calon mahasiswa dari seluruh Indonesia tanpa membedakan jenis kelamin, agama, ras, suku, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi.
Jalur undangan yang dinamakan SPAN-PTKIN merupakan pola seleksi yang dilaksanakan secara nasional oleh seluruh UIN/IAIN/STAIN dalam satu sistem yang terpadu dan diselenggarakan secara serentak oleh Panitia Pelaksana yang ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Biaya pelaksanaan SPAN-PTKIN ditanggung oleh pemerintah, sehingga peserta tidak dipungut biaya pendaftaran. Pelaksanaan SPAN-PTKIN secara nasional yang diikuti oleh
Universitas Sumatera Utara
113
seluruh PTKIN harus memenuhi prinsip adil, transparan, dan tidak diskriminatif dengan tetap memperhatikan potensi calon mahasiswa dan kekhususan PTKIN.
PTKIN sebagai penyelenggara pendidikan setelah SMA / SMK / MA / MAK / Pesantren adalah dapat menerima calon mahasiswa yang berprestasi akademik tinggi dan diprediksi akan berhasil menyelesaikan studi di PTKIN berdasarkan rekomendasi dari Kepala Sekolah/Madrasah. Siswa yang berprestasi tinggi dan secara konsisten menunjukkan prestasinya tersebut layak mendapatkan kesempatan untuk menjadi calon mahasiswa di UIN/IAIN/STAIN melalui SPAN-PTKIN.
5.1.5. Lingkungan Sekolah dan Pilihan Untuk Melanjutkan Pendidikan Lingkungan sosial pada dasarnya memiliki pengaruh yang relatif besar dalam membentuk persepsi dan minat peserta didik di SMA Negeri 1 Sunggal untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lingkungan mempengaruhi habitus sebagaimana batu yang ditetesi air secara terus-menerus, lama kelamaan akan merubah bentuknya sesuai pola tetesan air tersebut. Pada konteks ini, lingkungan sosial yang dimaksud meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan pertemanan (peer), dalam hal ini Lingkungan Sekolah yang akan lebih condong dibahas.
Sekolah secara tidak langsung membangun habitus baru kepada peserta didik yang ada di SMA negeri 1 Sunggal yakni setelah tamat dari sekolah ini tentunya dapat lulus dan melanjt ke pendidikan yang lebih tinggi yakni ke perguruan tinggi negeri yang ada Indonesia, Habitus adalah kebiasaan yang melekat pada seseorang sebagai anggota sebuah komunitas
Universitas Sumatera Utara
114
(Poespowardojo:2016). Kebiasaan peserta didik di SMA negeri 1 Sunggal yakni memiliki nilai nilai bahwa setelah tamat dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hal tersebut sebagai kebiasaan pada komunitas peserta didik yang sekolah di SMA negeri 1 Sunggal. Hal ini dapat kita lihat dalam hasil wawacara kepada Farida Aini sebagai berikut,
“…kami udah biasa lihat abang dan kakak kelas yang alumni kalau mereka itu banyak yang lulus ke perguruan tinggi negeri kek di USU,Unimed atau bahan kek Abang Supri yang berhasil di Unpad Pak, kalau lihat mereka kami juga punya harapan dan kemauan juga bahwa kami juga bisa kek mereka Pak demikian juga nanti kalau kami berhasil masuk juga harus berprstasi seperti abang dan kakak itu supaya junior kami juga bisa banyak lulus ke PTN seperti itulah terus pak…..”
Hal yang sama juga didapat dari hasil wawancara kepada Renika sebagai berikut,
“…kalau mendengar dari rapat dengan Cabdis dan Kepsek serta Bapak Ibu Guru kemaren, tentunya sekolah kita sudah dikenal memiliki prestasi yang sangat baik, terutama sudah dikenal di Sunggal bahwa sekolah kita selalu banyak dan berhasil alumninya lulus ke PTN tentunya hal tersebut juga membuat kami merasa bangga dan tetap ingin melanjutkan kebiasaan tersebut…..”
Tidak jauh berbeda seperti yang diungkapkan Arliana dalam hasil wawancara berikut ini, informasi mengenai SNMPTN dan jalur jalur lainnya, nah sekolah kita kayaknya memang lebih peduli dengan proses SNMPTN ini pak, karena ada kawan saya sekolah di tempat lain di Medan tidak sampek kek sekolah kita pak gregetnya hehe…..”
Universitas Sumatera Utara
115
Dalam lingkungan keluarga, sebagian siswa tidak mendapatkan dukungan yang baik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Keluarga cenderung lebih senang jika siswa langsung bekerja setelah tamat sekolah, sehingga mereka bisa lepas dari tanggungan orang tua dan bahkan dapat berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Kondisi ini dikarenakan latar belakang keluarga siswa yang berasal dari kalangan tidak mampu, sehingga keinginan untuk melanjutkan pendidikan seringkali berbenturan dengan kenyataan bahwa mereka hidup dalam situasi ekonomi yang sulit. Hal ini sesuai hasil wawancara dengan salah satu informan yakni Dormaito dibawah ini,
“…sebenarnya untuk tamat SMA aja udah syukur kali Pak, Orang Bapak sama Mamak udah bilah kek gitu hanya sampek SMA aja, kalau lanjut ke Kuliah agak berat karena aku masih punya adek adek yang masih sekolah juga Pak, inipun udah disarankan langusng carik kerja aja kek di Pabrik atau jadi pegawai Indomaret kaya tetangga dekat rumah Pak, Cuma karena pengen kali melanjut dan dengar dari sekolah ada Bidikmisi semogalah pak aku bias menang dan dapat Bidikmisi…..”
Mereka harus memilih, meringankan beban orang tua dengan cara bekerja setelah tamat sekolah, atau malah bersakit-sakit selama beberapa tahun untuk melanjutkan pendidikan guna meraih cita-cita yang lebih mulia. Menariknya, dukungan yang lebih besar justru datang dari pihak sekolah. Pihak sekolah melakukan rekayasa sosial untuk memotivasi siswa dengan cara memperkenalkan Perguruan Tinggi Negeri kepada siswa dan orang tuanya, memberikan les tambahan, hingga menyelenggarakan simulasi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Terbukti, dari tahun ke tahun ada saja siswa yang lulus di universitas negeri di seluruh Indonesia, baik melalui jalur undangan.
Universitas Sumatera Utara
116
Hal tersebut di atas bisa kita lihat dari hasil wawancara Arliana sebagai berikut,
“…kami yang ingin melanjut ke perguruan tinggi biasanya akan diundang oleh Sekolah untuk mengadakan rapat dan berdiskusi serta menentukan strategi strategi dalam memilih jurusan di berbagai perguruan tinggi negeri yang ada, sehingga dengan adanya rapat tersebut contohnya akan dijelasakan wakil kurikulum dan kepala sekolah serta tim SNMPTN misalanya kek kami di jurusan IPS jangan semua berebut memilih salah satu jurusan saja karena akan mengurangi persentase menang di jurusan tersebut sehingga biasanya kami akan memilih jurusan seuai ranking kami selama 5 semester dan kami akan memilih jurusan lain ketika sudah banyak ranking ranking ata yang memiliih salah satu jurusan, strategi ini sudah selalu disampaikan pihak sekolah sehingga peluang kami untuk lulus menjadi cukup besar…..”
Selain pendapat diatas, sekolah juga selalu mengundang pihak orangtua murid bahkan mulai dari kelas X ketika masuk ke SMA N 1 Sunggal sampai tentunya ketika peserta didik sudah menginjak kelas XII pihak sekolah selalu rutin membangun sinergi dengan Orangtua dan wali mengenai hal ini, seperti hasil wawancara Alfiyah dibawah ini,
“…biasanya kami akan diberi selebaran oleh pihak sekolah berupa surat undangan kepada orangtua dan wali untuk dapat menghadiri rapat bersama dengan pihak sekolah dan biasanya setelah kami para murid diundang rapat dengan pihak sekolah secara tersendiri, maka dihari yang lain orangtua dan wali juga turut diundang dan biasanya dijelasakan kepada oramgtua kami mengenai apa itu jalur Undangan dan SNMPTN serta apa itu Bidikmisi dan biasanya karena hal ini orangtua kami menjadi memiliki penegtahuan yang baru mengenai melanju ke perguruan tinggi serta yang paling menarik adalah seperti kami yang kurang mampu, adanya Bidikmisi yang dijelasakan pihak sekolah tentunya memberikan peluang yang besar untuk saya bisa lanjut ke perguruan tinggi negeri…..”
Dilain pihak peneliti juga melihat bahwa pihak sekolah selaku institusi juga sangat mendukung jika peserta didik dari sekolah ini mendapat prestasi jika
Universitas Sumatera Utara
117
berhasil masuk ke perguruan tinggi, kemudian dikarenakan hamper setiap tahun sekolah selalu memberikan bantuan dan motivasi karena sekolah juga merasakan bahwa prestasi peserta didik adalah juga prrestasi sekolah sebagai institusi yang berhasil, seperti didapat dari hasil wawncara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, Ibu Sri Wahyuni dibawah ini :
“…setiap tahun kita selalu memberi pendampingan serta bantuan kepada murid murid kita, mulai dari PDSS kita memasukkan nilai anak anak dari semester 1 sampai semester 5 dan itupun selalu kita kroscek dengan anak anak dengan fotocopy rapor mereka, kemudian untuk tahun lalu dan tahun ini ada sedikit perubahan yang memang pihak sekolah selalu akan belajar agar tidak merugikan murid, dan perubahan perubahan yang ada akan kita sosialisaikan kepada peserta didik melalui tentunya perpanjangan walikelas kelas XII sehingga misalnya kek hari ini ada saja anak anak yang punya maslaah misalanya belum isa buat akun karena tidak tahu mengedit foto, atau kasus yang barusan ada NISN yang salah dan lain sebagaianya, kita sekolah sudah disipakan tim untuk hal hal tersebut sehingga akhirnya semua anak anak tdak ada yang tertinggal dan bisa menyelesaikan akunnya, lalu nanti setelah itu dirankinglah dia dan ketahuan mana peserta didik yang eligible artinya yang memenuhi peringkat dan bisa memilih jurusan yang tepat nantinya, bahkan nanti sampai proses pendaftaran apalagi jurusan jurusan seperti olahraga, seni dan music biasanya akan buat portofolio pihak sekolah juga akan siap memberikan bimbingan seperti tahun tahun sebelumnya…..”
Peran sekolah di atas menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan sekolah ternyata cukup besar dalam membentuk habitus peserta didik dimana dimulai dari kelas X sampai kelas XII pihak sekolah selalu membangun sinergi dengan pihak orangtua dan murid mengenai sosialisasi bagaimana untuk dapat lulus dan masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Menyikapi hal di atas, sesuai yang dikatakan Bourdieu bahwa Persamaan habitus dalam suatu kelompok menjadi dasar perbedaan gaya hidup dalam suatu
Universitas Sumatera Utara
118
masyarakat. Gaya hidup dipahami sebagai selera, kepercayaan dan praktik sistematis yang menjadi opini suatu kelompok masyarakat. Didalamya termasuk opini politik, keyakinan filosofis, keyakinan moral, seni estetis, makanan, pakaian dan budaya (Bourdieu.1993).
Setelah peserta didik masuk dan bersekolah di SMA N 1 Sunggal, dimana mereka menjadi bagian dari kelompok SMA N 1 Sunggal, maka seperti yang disampaikan Bourdieu akan muncul persamaan habitus dalam kelompok peserta didik yang bersekolah di SMA N 1 Sunggal, terdapat gaya hidup dipahami sebagai suatu selera, kepercayaan dan praktik yang menjadi opini peserta didik di SMA negeri 1 Sunggal bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri merupakan hal yang wajar dan harus dapat dicapai jika menjadi peserta didik di SMA N 1 Sunggal, hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan Ratu berikut,
“…sekolah selalu memberikan contoh nyata seperti alumni juga yang dihadirkan bahkan memang kami melihat juga kaka dan abang alumni yang banyak lulus di perguruan tinggi negeri bahkan memilki prestasi yang hebat juga di kampus pak, hak ini membuat kami juga memiliki minat yang kuat bahwa memang kami juga akan dapat seperti abang dan kakak itu maka kami juga bias lulus di PTN favorit…..”
Hal yang tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh informan Emi berikut,
“…pada saat masuk ke SMA N 1 Sunggal sudah sering dengar bahwa sekolah ini mempunyai keunggulan bahwa banyak alumni yang lulus di Perguruan tinggi negeri, hal ini tentunya semakin membuat saya ingin masuk dan bersekolah disini Pak, dan benar saja selama sekolah disini nilai nilai mengenai bahwa kita harus dapat melanjut kuliah di PTN selalu banyak diberikan oleh pihak sekolah baik dari Guru, teman, alumni yang dating dan sampai sekolah juga membuat rapt bersama cabdis dan selalu memberi semangat dan motivasi kepada kami bahwa lulusan SMA N 1
Universitas Sumatera Utara
119
Sunggal harus membuat kuliah ke PTN seperti “naik kelas” dari SMA ke Kuliah…..”
Hal yang senada juga didapat dari hasil wawancara yang dilakukan kepada informan Roy sebagai alumni yang lulus di jurusan Kesos USU sebagai berikut,
“…masih ingat saya Pak kami diundang oleh sekolah dan di rapat tersebut Bapak dan Ibuk Guru serta Keapal sekolah emmberikan gambaran para alumni yang sukses walaupun kemaren saya gagal di jalur SNMPTN, namun dengan mendengar masukan dan pengalaman dari alumni yang diatas saya, saya pun tetap semangat untuk kuliah dan mencoba jalur SBMPTN namun dengan bantuan sekolah juga untuk mendapat akun bidikmisi sehingga waktu itu saya bias tidak bayar formulir pendafatran ke USU dan akhirnya saya lulus dengan Bidikmisi di Kesos USU…..”
Pembentukan habitus oleh Sekolah seperti diatas tentunya merupakan hal yang baik dipengaruhi oleh Lingkungan sekolah kepada individu di SMA N 1 Sunggal, Hal tersebut tidak terlepas dari yang dikatakan oleh Kepala SMA N 1 Sunggal seperti hasil kutipan wawancara berikut,
“…pada dasarnya memang semua hal tersebut adalah menjadi tanggung jawab siswa sendiri, tugas sekolah adalah sampai selesai memasukkan nilai ke dalam aplikasi PDSS dan sampai akun mereka terbit, namun kita sebagai sekolah kan ga mungkin juga tutup mata, karena memang masih banyak anak anak kita ini yang belum menguasai teknologi atau bahkan jika ada takut megerjakan karena takut salah dan lain sebagainya, tentunya selain kita memberikan pelayanan kepada murid, jika nantinya mereka lulus ke perguruan tinggi hal tersebut juga adalah sebuah prestasi yang membanggakaan bagi pihak sekolah, dan setiap tahun kita selalu memiliki prestasi tersebut dan anak anak yang sudah duduku di perguruan tinggi tersebut pun selalu memiliki prestasi yang baik sehingga tidak heran setiap tahun hal tersbut memberikan pengaruh yang baik untuk sekolah karena akan membuat peluang adik adik kelas mereka akan besar untuk masuk di tahun berikutnya, hal ini selalu kita tanamkan kepada semua peserta didik yang masuk di sekolah kita…..”
Universitas Sumatera Utara
120
Melihat hasil wawancara tersebut sikap memberi arahan dan motivasi yang diberikan pihak sekolah sesuai dengan semangat penerapan kurukulum 2013 seperti yang disampaikan oleh penelitian Hermansyah berikut ini, Profesi guru selain sebagai tenaga mengajar, juga memerankan profesi sebagai pengganti orang tua di sekolah. Penanaman sikap yang sekarang sedang diarahkan menjadi titik pusat pembelajaran pada Kurikulum 2013 terbukti bahwa materi yang diarahkan pada sikap mempunyai porsi yang lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan. Peran yang dimiliki oleh seorang guru adalah bukan semata-mata memberikan informasi, akan tetapi juga memberi dan mengarahkan. (Hermansyah,2020).
Sekolah memberikan arahan dan motivasi melalui Kepala Sekolah, Guru maupun Staff TU kepada para peserta didik, arahan yang diberikan akan menghasilkan sikap yang baik kepada peserta didik, hal tersebut tentunya menjadi salah satu hal yang dapat memunculkan motivasi kepada peserta didik SMA Negeri 1 Sunggal, untuk dapat terpacu dan semangat lulus ke perguruan tinggi negeri terbaik yang ada di Sumatera Utara bahkan Indonesia secara umum.
Ditemukan data dimana jumlah peserta didik yang lulus dari tahun 2014 sampai 2018, yakni sebanyak 74 orang pada tahun 2014, 96 orang pada tahun 2015, 87 orang pada tahun 2016, 95 orang pada tahun 2017 dan 78 orang pada tahun 2018 (Tata Usaha SMA N 1 Sunggal). Data ini menunjukkan bahwa siswa-siswi SMA Negeri 1 Sunggal yang lulus di universitas negeri di seluruh Indonesia jumlahnya relatif banyak. Meskipun jumlah tersebut cenderung fluktuatif, tetapi untuk ukuran sekolah negeri di tingkat kabupaten ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat baik. Jumlah ini mungkin saja menyamai atau
Universitas Sumatera Utara
121
bahkan melebihi sekolah-sekolah yang ada di Kota Medan, dan ini membuktikan bahwa sekolah memiliki peran mendukung siswa-siswinya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Hal ini terjadi karena sekolah menyadari bahwa sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang kurang mampu, dan cara yang efektif untuk mendorong mobilitas sosial naik adalah melalui pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan strata pendidikan yang lebih tinggi, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak.
Terlebih lagi saat ini sudah banyak beasiswa yang menjadikan keterbatasan ekonomi bukan lagi alasan utama untuk tidak melanjutkan pendidikan.
Rekayasa sosial yang dilakukan oleh sekolah secara tidak langsung menciptakan lingkungan pertemanan (peer) yang baik untuk menumbuhkan motivasi melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari hasil wawancara informan Laurensi Kaban berikut,
“…kadang kami sering diskusi juga dengan teman sekelas, dan biasanya jika ada hal yang memang kami tidak pahami maka kami janjian dating ke sekolah dan jumpai Buk SW ( Sri Wahyuni ) dan kami bertanya hal-halyang perlu kami tanyakan, misalnya kek kemaren ada NISN kami yang double pak, akhirnya kami tanyak smaa bUk SW dan kami diarahkan jumpai Pak Fauzan dan akhirya bisa diselesaikan dengan baik, kan kalau salah data kita Pak bisa bisa untuk pendafatarn akun kita bisa ga lolos pak…..”
Hal senada juga disampaikan oleh infoman Mayang sarungke seperti berikut,
“…kami dalam grup WA kelas Bu SW juga masuk Pak sehingga dapat memberikan segala informasi yang diperlukan mengenai jalur SNMPTN dan juga jalur lainnya, sehingga kami selalu dapat mendapatkan informasi yang valid dari Sekolah…..”
Universitas Sumatera Utara
122
Dalam prosesnya, Sekolah berperan aktif dan selalu memberi keterbukaan data bagi peserta didik, dalam proses pendaftaran peserta didik yang eligible, peserta didik diarahkan untuk melakukan proses pendaftaran di Lab computer sekolah yang sudah terkoneksi dengan internet sehingga dapat memfasialitasi peserta didik dengan baik, dan setiap peserta didik yang sudah melakukan pendaftaran akan menuliskan nama dan jurusan pilihan pada dokumen yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah, dan dimana semua proses ini selalu didampingi oleh Bu Sri Wahyuni dan tim yang sudah dipilih.
Langka yang dilakukan tersebut tentunya membuat persaingan bisa terlihat dan memberikan pesrta didik yang nilainya dibawah peserta didik yang lain dapat memilih jurusan yang lain yang sudah dipilih oleh peringkat atas, ini merupakan salah satu rekayasa yang disiapkan pihak sekolah kepada para peserta didik sehingga hal ini dapat memberikan peluang lulus bagi para peserta didik di SMA N 1 Sunggal, hal ini didapat sesuai dengan hasil wawancara berikut kepada Bu Sri Wahyuni,
“…dalam banyaknya tugas yang ada, kita tetap memantau dan mendampingi peserta didik yang mau mendaftar, kita lihat dan kita damping karena memang banyak anak anak yang belum paham prosesnya atau bahkan tadi ada yang udah paham tapi tetap mengaku deg deg an sehingga meminta didampingi oleh tim guru yang dipilih untuk dapat menyelasikan proses pendaftarannya, ya semua kita lakukan agar anak anak dapat hasil yang terbaik dan lulus…..”
Hal ini juga diakui oleh peserta didik yang memang melakukan proses pendaftaran di sekolah, Evinka kelas XII MIPA 2,
“…saya baru selesai pak, untung ada Buk SW yang mendampingi pak, karena emang takut dan deg degan pak takut salah, apalagi tadi pas harus upload sertifikat karena memang harus ada beberapa hal yang harus disesuaikan seperti format pdf dan
Universitas Sumatera Utara
123
ukuran fotonya, bantuan dari Buk SW sangat sangat membantu pak…..”
Selain membantu dalam proses pendaftaran, penulisan data jurusan yang dipilih oleh peserta didik membantu para setiap siswa untuk melihat ranking dan jurusan yang akan dipilih, seperti hasil wawancara dengan Agnes Yohaan Sitepu kelas XII MIPA 2 berikut,
“…sebelum mendaftar saya udah punya jurusan yang memang sudah saya siapkan pak terutama dengan sertifikat yang emmang sesuai dan sejalan dengan jurusan yang saya pilih, sama kek dibilang buk SW tadi coba cek dulu jurusan yang mau kamu ambil tadi udah ada ga diambil ranking yang diatasmu, maka saya melihat dan kebetulan jurusan yang saya ambil belum diambil oleh ranking yang diatas saya, dia ambil jrusan lain pak, syukurlah pak kalau udah diambil kian jadi bingung saya mau jursan apa lagi hehe…..”
Kerjasama pihak sekolah dengan beberapa perguruan tinggi juga dilakukan oleh Sekolah untuk tetap dapat mebangun habitus bagi peserta didik, slah satu contohnya adalah ketika perguruan tinggi negeri Polimedia Kreatif yang
Kerjasama pihak sekolah dengan beberapa perguruan tinggi juga dilakukan oleh Sekolah untuk tetap dapat mebangun habitus bagi peserta didik, slah satu contohnya adalah ketika perguruan tinggi negeri Polimedia Kreatif yang