• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Pemustaka terhadap Jumlah Buku yang dapat dipinjam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Persepsi Pemustaka terhadap Layanan Sirkulasi

4.2.7 Persepsi Pemustaka terhadap Jumlah Buku yang dapat dipinjam

4.2.7 Persepsi Pemustaka terhadap Jumlah Buku yang dapat dipinjam Persepsi pemustaka terhadap kesesuaian jumlah buku yang dapat dipinjam dengan kebutuhan pemustaka, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.12 Persepsi pemustaka terhadap jumlah buku yang dapat dipinjam No.

item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

12. Apakah jumlah buku yang

dipinjam sudah sesuai dengan kebutuhan Saudara/i? a. Sangat sesuai b.Sesuai c. Kurang sesuai d.Tidak sesuai 10 29 32 9 13% 36% 40% 11% Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kesesuaian jumlah buku yang dapat dipinjam dengan kebutuhan pemustaka adalah 10 (13%) responden menanggapi sangat sesuai, 29 (36%) responden menanggapi sesuai, 32 (40%) responden menanggapi kurang sesuai, dan 9 (11%) responden menanggapi tidak sesuai.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa hampir setengah, yakni 49% responden menanggapi jumlah buku yang dapat dipinjam sudah sesuai dengan kebutuhannya dan 51% responden menanggapi kurang/tidak sesuai. Menurut pengamatan peneliti, jumlah buku yang dapat dipinjam sebanyak 2 eksamplar sudah disesuaikan dengan anggaran yang ada, hal ini memperlihatkan bahwa penerapan aturan jumlah buku yang dapat dipinjam telah disesuaikan dengan perbandingan jumlah koleksi dengan jumlah anggota perpustakaan. Sementara hampir setengah responden yang menyatakan bahwa jumlah buku yang dipinjam kurang/tidak sesuai dengan kebutuhannya mengingat pemustaka mayoritas pelajar yang membutuhkan referensi dan sumber informasi sebagai pendukung kegiatan belajar di sekolah.

4.3Persepsi Pemustaka terhadap Layanan Referensi

4.3.1 Persepsi Pemustaka terhadap Kemampuan Petugas Perpustakaan dalam Menjawab Pertanyaan Pemustaka

Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas perpustakaan dalam menjawab pertanyaan pemustaka, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.13 Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas perpustakaan dalam menjawab pertanyaan pemustaka

No. item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

13. Bagaimana kemampuan

petugas perpustakaan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna perpustakaan (pemustaka)? a. Sangat mampu b.Mampu c. Kurang mampu d.Tidak mampu 1 65 10 4 1 % 81% 13% 5 % Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas perpustakaan menjawab pertanyaan-pertanyaan pemustaka adalah 1 (1%) responden menanggapi sangat mampu, 65 (81%) responden menanggapi mampu, 10 (13%) responden menanggapi kurang mampu, dan 4 (5%) responden menanggapi tidak mampu.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, yakni 82% responden menanggapi petugas perpustakaan mampu menjawab

pertanyaan-pertanyaan pemustaka, hal ini menunjukkan bahwa petugas

perpustakaan/pustakawan selalu berusaha memberikan jawaban atau petunjuk tentang informasi yang dibutuhkan pemustaka, kemampuan yang dimiliki petugas dibarengi dengan keahlian dan kualifikasi yang dimiliki oleh petugas perpustakaan yang dalam hal ini memiliki latar belakang pendidikan Ilmu Perpustakaan. Sementara 18% tanggapan responden yang menyatakan ketidakmampuan petugas perpustakaan menjawab pertanyaan dikarenakan minimnya jumlah dan waktu yang dimilki petugas untuk selalu siap melayani pemustakanya

Persepsi Pemustaka terhadap Kesesuaian Koleksi Referensi dengan Kebutuhan Pemustaka

Persepsi pemustaka terhadap kesesuaian koleksi referensi dengan kebutuhan pemustaka, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.14 Persepsi pemustaka terhadap koleksi referensi No.

item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

14. Apakah koleksi referensi Kantor

Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Dairi sudah sesuai dengan kebutuhan pemustaka? a. Sangat sesuai b. Sesuai c. Kurang sesuai d. Tidak sesuai 1 21 47 11 1% 26% 59% 14% Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kesesuaian koleksi referensi dengan kebutuhan pemustaka adalah 1 (1%) responden menanggapi sangat sesuai, 21 (26%) responden menanggapi sesuai, 47 (59%) responden menanggapi kurang sesuai, dan 11 (14%) responden menanggapi tidak sesuai.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa hampir setengah, yakni 27% responden menanggapi koleksi referensi pada Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Dairi sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan sebagian besar, yakni 73% menanggapi kurang/tidak sesuai. Menurut pengamatan peneliti, Perpustakaan memiliki koleksi referensi seperti kamus, ensiklopedi, majalah, sumber biografi, dan terbitan pemerintah. Namun koleksi tersebut masih

minim dilihat dari jumlah dan volume terbitannya, sehingga pemustaka kadang kecewa karena tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.

4.3.2 Persepsi Pemustaka terhadap Kemampuan Petugas memberikan Layanan Referensi

Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas referensi menangkap keinginan pemustaka, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.15 Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas memberikan layanan referensi

No. item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

15. Menurut Saudara/i, apakah

petugas mampu menangkap keinginan pemustaka pada saat memberikan layanan referensi?

a. Sangat mampu b. Mampu c. Kurang mampu d. Tidak mampu 8 49 20 3 10% 61% 25% 4% Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas memberikan layanan referensi adalah 8 (10%) responden menanggapi sangat mampu, 49 (61%) responden menanggapi mampu, 20 (25%) responden menanggapi kurang mampu, dan 3 (4%) responden menanggapi tidak mampu.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar, yakni 71% responden menanggapi petugas referens mampu menangkap keinginan

pemustaka dengan memberikan respon atas keluhan pemustaka atas informasi dan rujukan yang dibutuhkan. Adanya hampir setengah, yakni 29% tanggapan responden yang menyatakan ketidakmampuan petugas perpustakaan menangkap keinginan pemustaka layanan referensi dikarenakan keterbatasan tenaga dan waktu yang dimiliki petugas dalam memberikan layanan. Sementara dalam hal penelusuran informasi yang dibutuhkan masih manual yang menimbulkan layanan yang diberikan terkesan lambat.

4.4Persepsi Pemustaka terhadap Layanan Bimbingan Pemustaka

4.4.1 Persepsi Pemustaka terhadap Perlu adanya Petunjuk atau Rambu-rambu di Perpustakaan

Persepsi pemustaka terhadap perlu adanya petunjuk atau rambu-rambu di perpustakaan, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.16 Persepsi pemustaka terhadap petunjuk atau rambu-rambu perpustakaan

No. item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

16. Bagaimana menurut Saudara/i,

apakah perlu adanya petunjuk atau rambu-rambu di perpustakaan? a. Sangat perlu b. Perlu c. Kurang perlu d. Tidak perlu 49 29 0 2 61% 36% 0 % 3 % Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap perlu adanya petunjuk atau rambu-rambu di perpustakaan adalah 49 (61%) responden menanggapi sangat perlu, 29 (36%) responden menanggapi perlu, dan 2 (3%) responden menanggapi tidak perlu.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan pada umumnya, yakni 97% responden menanggapi bahwa perlu adanya petunjuk atau rambu-rambu di perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya petunjuk atau rambu-rambu tersebut, pemustaka akan merasa nyaman, mengetahui keberadaan informasi yang dibutuhkan, dan terbantu dalam pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang tersedia di perpustakaan.

4.4.2 Persepsi Pemustaka terhadap Kesesuaian Prosedur yang ada di Perpustakaan

Persepsi pemustaka terhadap kesesuaian prosedur yang ada di perpustakaan, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.17 Persepsi pemustaka terhadap prosedur perpustakaan No.

item

Pertanyaan Pilihan jawaban Frekuensi Persentase

17. Apakah prosedur yang ada di

perpustakaan sudah sesuai dengan peruntukannya? a. Sangat sesuai b.Sesuai c. Kurang sesuai d.Tidak sesuai 12 58 9 1 15% 73% 11% 1 % Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kesesuaian prosedur yang ada di perpustakaan adalah 12 (15%) responden menanggapi sangat sesuai, 58 (73%) responden menanggapi sesuai, 9 (11%) responden menanggapi kurang sesuai, dan 1 (1%) responden menanggapi tidak sesuai.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan pada umumnya, yakni 88% responden menanggapi prosedur yang ada di perpustakaan sudah sesuai dengan peruntukannya. Hal ini menunjukkan bahwa prosedur pendaftaran, pelayanan, peminjaman dan lainnya telah sesuai dengan Standart Operasional Pelayanan (SOP) yang tertera di perpustakaan. Prosedur-prosedur dimaksud telah tertera pada ruang layanan perpustakaan sehingga pemustaka dapat melihat proses yang diterapkan dan menyesuaikannya dengan pelaksanaannya.

4.4.3 Persepsi Pemustaka terhadap Kemampuan Petugas Perpustakaan dalam memberikan Bimbingan kepada Pemustaka

Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas perpustakaan dalam memberikan bimbingan kepada pemustaka, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.18 Persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas dalam memberikan bimbingan pemustaka

No. item

18. Menurut Saudara/i, bagaimana kemampuan petugas dalam memberikan bimbingan kepada pemustaka? a. Sangat mampu b. Mampu c. Kurang mampu d. Tidak mampu 5 51 21 3 6 % 64% 26% 4 % Total 80 100%

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap kemampuan petugas perpustakaan memberikan bimbingan dalam mencari informasi yang dibutuhkan adalah 5 (6%) responden menanggapi sangat mampu, 51 (64%) responden menanggapi mampu, 21 (26%) responden menanggapi kurang mampu, dan 3 (4%) responden menanggapi tidak mampu.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar, yakni 70% responden menanggapi petugas perpustakaan mampu memberikan bimbingan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya, dan 30% responden lainnya menanggapi kurang/tidak mampu. Menurut pengamatan peneliti, kemampuan petugas perpustakaan dalam memberikan bimbingan kepada pemustaka terlihat saat adanya pemustaka yang mendaftar menjadi anggota perpustakaan, secara mendetail petugas dapat menerangkan bagaimana prosedur yang ada, memberikan bantuan, arahan dan bimbingan bagaimana pemanfaatan semua bentuk sarana layanan perpustakaan secara mudah. Sementara adanya tanggapan pemustaka atas ketidakmampuan petugas dalam memberikan bimbingan dikarenakan minimnya petugas dan besarnya beban kerja sehingga

terkadang petugas kurang cepat menanggapi permintaan atau pertanyaan pemustaka.

Dari 18 pertanyaan yang diajukan peneliti kepada responden, persepsi pemustaka terhadap layanan perpustakaan pada Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Dairi adalah sebagai berikut: (1) sebesar 71% persepsi pemustaka terhadap susunan koleksi, prosedur peminjaman dan prosedur pengembalian koleksi yang menyatakan baik. (2) adanya persepsi pemustaka sebesar 80% yang menyatakan bahwa jangka waktu peminjaman dan prosedur yang ada sesuai sementara 37% persepsi pemustaka yang menyatakan bahwa koleksi, jumlah buku yang dapat dipinjam, dan koleksi referensi belum sesuai dengan kebutuhan pemustaka. (3) sebesar 74% persepsi pemustaka menyatakan bahwa petugas perpustakaan mampu menjawab pertanyaan, memberikan layanan referensi, dan memberikan bimbingan kepada pemustaka (4) sementara persepsi pemustaka terhadap keragaman koleksi, kelengkapan koleksi referensi, kemudahan sistem terbuka, sikap petugas layanan sirkulasi dan perlunya petunjuk atau rambu-rambu di perpustakaan sebesar 84%. (5) setengah persepsi pemustaka menyatakan bahwa koleksi yang dimiliki tidak up to date, hal ini dikarenakan saat penambahan koleksi sebagian besar judul buku sama dengan judul pengadaan tahun sebelumnya. Sementara 67% persepsi pemustaka terhadap transaksi peminjaman kurang cepat, dikarenakan minimnya jumlah petugas layanan serta belum terautomasinya sistem peminjaman.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan

Hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti tentang “Persepsi pemustaka terhadap layanan perpustakaan pada Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Dairi adalah sebagai berikut:

1. Persepsi pemustaka terhadap koleksi perpustakaan, bahwa koleksi

perpustakaan yang tersedia sudah tersusun dengan baik, beragam dan koleksi referensi (kamus) sudah cukup lengkap. Namun koleksi yang dimiliki belum up to date (terbaru), dan tidak sesuai dengan kebutuhan/keinginan pemustaka. 2. Persepsi pemustaka terhadap layanan sirkulasi, bahwa sistem layanan terbuka memudahkan dan cukup efektif bagi pemustaka, prosedur peminjaman dan pengembalian koleksi cukup baik, sikap petugas perpustakaan cukup komunikatif, transaksi dan jangka waktu peminjaman sudah baik. Sementara jumlah buku yang dapat dipinjam masih kurang sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

3. Persepsi pemustaka terhadap layanan referensi, bahwa kemampuan petugas referensi dalam menjawab pertanyaan pemustaka sudah baik, koleksi referensi sudah sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan petugas referens mampu menangkap keinginan pemustaka dengan memberikan respon atas keluhan pemustaka atas informasi dan rujukan yang dibutuhkan.

4. Persepsi pemustaka terhadap layanan bimbingan pemustaka, bahwa adanya petunjuk atau rambu-rambu memberi kenyamanan dan pemustaka merasa

terbantu dalam pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang tersedia di perpustakaan. Demikian juga halnya dengan layanan yang diberikan sudah sesuai dengan prosedur pada Standart Operasional Pelayanan (SOP) yang tertera di perpustakaan

5.2Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa layanan perpustakaan yang tersedia pada Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Dairi sudah baik, akan tetapi untuk lebih meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, peneliti menyampaikan saran-saran sebagai berikut:

1. Penambahan koleksi baru yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka perlu ditingkatkan, sehingga perpustakaan semakin diminati oleh masyarakat. Keragaman dan kelengkapan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dapat diketahui dengan memberikan kesempatan kepada pemustaka untuk menilai perpustakaan melalui kotak saran, angket, kuesioner dan metode lainnya.

2. Untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, perlu adanya tindakan peningkatan dan pengembangan skill, kepribadian dan kinerja petugas layanan perpustakaan.

3. Demi mewujudkan Perpustakaan Umum Kantor Perpustakaan, Arsip dan

Dokumentasi Kabupaten Dairi sebagai perpustakaannya masyarakat Dairi, diharapkan ke depan perpustakaan sudah mampu menerapkan sistem automasi perpustakaan, menyediaan fasilitas layanan anak, layanan internet, dan layanan fotocopy (jasa produksi).

BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1Perpustakaan Umum

Dalam Pasal 22 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 menyatakan:

1. Perpustakaan Umum diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah

provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan, dan desa, serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat.

2. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota

menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya daerah masing-masing dan menfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat.

3. Perpustakaan umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah,

pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan mengembangkan sistem layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

4. Masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan umum untuk

menfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. 5. Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan/atau kota,

melaksanakan layanan perpustakaan keliling bagi daerah yang belum terjangkau oleh layanan perpustakaan menetap.

2.1.1 Pengertian perpustakaan umum

Perpustakaan umum merupakan salah satu jenis perpustakaan yang menyediakan informasi yang beragam disesuaikan dengan keadaan lingkungan dan pengguna yang beragam pula. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 1 ayat 6 bahwa Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial-ekonomi.

Menurut Reitz (2004) yang dikutip oleh Hasugian (2009, 77) menyatakan bahwa “Perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan atau sistem perpustakaan yang menyediakan akses yang tidak terbatas kepada sumber daya perpustakaan dan layanan gratis kepada warga masyarakat di daerah atau wilayah tertentu, yang didukung penuh atau sebahagian dari dana masyarakat (pajak).”

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum menyatakan bahwa Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan di pemukiman penduduk (kota atau desa) diperuntukkan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat penduduk pemukiman tersebut untuk melayani kebutuhannya akan informasi dan bahan bacaan. (Perpustakaan Nasional R.I. 2000, 4)

Menurut Siregar (2011, 38) Perpustakaan umum didefinisikan sebagai suatu organisasi yang didirikan, didukung dan didanai oleh masyarakat baik melalui pemerintah lokal, regional maupun nasional atau melalui berbagai bentuk organisasi masyarakat.

Perpustakaan umum (public libraries) memainkan peranan yang unik di dalam masyarakat. Perpustakaan merupakan suatu lembaga netral yang menyediakan informasi dan perbedaan pandangan sekaligus disuatu tempat dimana warga masyarakat dapat memberitahu diri sendiri tanpa paksaan tentang isu-isu mutakhir. (Siregar 2004, 76)

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan umum merupakan suatu wadah/organisasi yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial-ekonomi.

2.1.2 Tujuan, Fungsi dan Tugas Perpustakaan Umum

Setiap lembaga didirikan mempunyai tujuan, fungsi dan tugas yang akan dicapai dalam penyelenggaraannya. Dalam mencapai tujuannya sebagai perpustakaannya masyarakat, perpustakaan umum harus tetap eksis dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya.

2.1.2.1 Tujuan perpustakaan umum

Menurut Hermawan dan Zen (2006, 31) tujuan perpustakaan umum antara lain untuk :

1. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan

bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupanny sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas

melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi;

4. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Gill (2001) yang dikutip oleh Siregar (2011, 39) menyatakan bahwa tujuan utama perpustakaan umum adalah memberikan sumber daya dan pelayanan dalam berbagai bentuk media kepada penduduk yang membutuhkan, baik untuk kebutuhan pendidikan, informasi, pengembangan individu dan rekreasi.

Dalam buku Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum (1992, 2) dinyatakan bahwa penyelenggaraan perpustakaan umum mempunyai tujuan :

1. Untuk pendidikan masyarakat (sebagai saranapendidikan non formal) dan

membudidaya kreasi, prakarsa dan swadaya masyarakat guna

meningkatkan kemajuan kehidupan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan berbagai kebutuhan untuk penerangan, informasi dan data sekunder serta pengetahuan ilmiah.

3. Memberi semangat dan hiburan yang sehat dan pemanfaatan hal-hal yang bersifat membangun dalam waktu senggang.

4. Mendorong, menggairahkan, memelihara dan membina semangat

membangun dan semangatbelajar masyarakat.

5. Membekali berbagai pengetahuan dan ilmu serta pedoman-pengalaman

kepada masyarakat diberbagai bidang.

Sedangkan menurut Sulistyo-Basuki (1993) yang dikutif oleh Hasugian (2009, 77) bahwa tujuan perpustakaan umum dalam Manifesto Unesco adalah :

1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka

yang dapat membantu meningkatkan mereka kea rah kehidupan yang lebih baik;

2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topic yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat;

3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang

dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermnfaat bagi

masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat

dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka;

4. Bertindak selaku agent cultural, artinya perpustakaan umum

merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

2.1.2.2 Fungsi perpustakaan umum

Menurut Siregar (2004, 76) fungsi utama dari perpustakaan umum adalah untuk membantu orang menjadi melek informasi. Dalam hal ini termasuk memberitahu bagaimana menelusuri informasi yang dibutuhkan, mengembangkan kebiasaan membaca, membantu belajar seumur hidup dan perubahan karir.

Sedangkan menurut Sulistyo-Basuki (1993) yang dikutip oleh Siregar (2011, 39) bahwa “fungsi perpustakaan umum dibagi dalam lima kategori yaitu :

1. Sebagai sarana simpan karya manusia; 2. Fungsi informasi;

3. Fungsi rekreasi;

4. Fungsi pendidikan, dan 5. Fungsi kultural.”

Dalam Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 6) dinyatakan bahwa fungsi perpustakaan umum antara lain sebagai berikut:

1. Pengkajian kebutuhan pemakai dalam hal informasi dan bahan bacaan.

2. Penyediaan bahan pustaka yang diperkirakan diperlukan, melalui pembelian, langganan, tukar-menukar, dan lain-lain.

3. Pengolahan dan penyiapan setiap bahan pustaka.

4. Penyimpanan dan pemeliharan koleksi.

5. Pendayagunaan koleksi.

6. Pemberian layanan kepada warga masyarakat baik yang datang

langsung di perpustakaan maupun yang menggunakan telepon, faximili dan lain-lain.

7. Pemasyarakatan perpustakaan.

8. Pengkajian dan pengembangan semua aspek kepustakawanan.

9. Pelaksanaan koordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah, tokoh-tokoh

masyarakat dan mitra kerja lainnya.

10.Menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain dalam rangka

pemanfatanan bersama koleksi dan sarana/prasarana. 11.Pengolahan dan ketata-usahaan perpustakaan.

Fungsi perpustakaan umum menurut Standar Nasional Perpustakaan (SNP 003: 2011, 8) meliputi :

1. Pengembangan koleksi.

2. Menghimpun dan merawat koleksi muatan lokal.

3. Mengorganisasi materi perpustakaan.

4. Mendayagunakan koleksi.

5. Menyelenggarakan pendidikan pengguna, menerapkan teknologi

informasi dan komunikasi.

6. Merawat materi perpustakaan.

7. Membantu peningkatan sumber daya perpustakaan di wilayahnya.

8. Mengkoordinasikan kampanye Gerakan Gemar Membaca di

wilayahnya.

2.1.2.3 Tugas perpustakaan umum

Tugas perpustakaan umum menurut Standar Nasional Perpustakaan (SNP 003: 2011, 8) adalah sebagai berikut :

1. Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini

2. Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup.

3. Menunjang sistem pendidikan formal, non formal dan informal.

4. Menyediakan sarana pengembangan kreativitas diri anggota

masyarakat.

5. Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat

sehingga aspirasi budaya lokal dapat terpelihara dan berkembang dengan baik.

6. Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi

perpustakaan lain serta berbagai situs web

7. Menyelenggarakan kerjasama dan membentuk jaringan informasi.

8. Menyediakan fasilitas belajar dan membaca.

9. Menfasilitasi pengembangan literasi informasi dan komputer.

10.Menyelenggarakan perluasan layanan perpustakaan proaktif antara lain melalui perpustakaan keliling.

11.Melakukan pengembangan dan pembinaan perpustakaan kecamatan

dan perpustakaan desa/kelurahan di wilayahnya.

12.Menghimpun dan melakukan pemuktahiran data perpustakaan di

wilayah dan menginformasikan ke sistem data nasional perpustakaan (c.q Perpustakaan Nasional RI).

Dalam Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 6) dinyatakan bahwa tugas pokok perpustakaan umum adalah menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan.

2.2Pustakawan

Agar dapat memberikan layanan yang baik sesuai dengan fungsinya, perpustakaan memerlukan tenaga yang memadai baik dari jumlah dan kualitas yang harus dimilikinya. Jumlah dan kualitas pustakawan yang ada di perpustakaan sangat tergantung dari jenis perpustakaan serta cakupan tugas yang harus dilaksanakannya.

Menurut Makmur (2015, 8), “Pustakawan adalah seorang yang memiliki

kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sedangkan tenaga teknis perpustakaan adalah tenaga nonpustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi perpustakaan, misalnya tenaga teknis komputer, audiovisual, katatausahaan.”

Dalam Undang-Undang R.I No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal

1 ayat 8 menjelaskan bahwa “pustakawan adalah seseorang yang memiliki

kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk

melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan”.

Pustakawan adalah Garda Pengetahuan (the guardian of nnowledge), bukan penjaga buku (the custodian of books). Melalui jerih payah pustakawanlah pengetahuan yang ada sekarang menjadi lestari dari masa ke masa, terkait dengan itu, setiap pustakawan senantiasa memahami dengan baik peran utama perpustakan bukan hanya sebagai penyimpan buku, tetapi juga sebagai penyebar informasi (disseminator of information). (Kamal, 2009)

Pustakawan bukan hanya bertugas mengumpulkan informasi melainkan juga fungsi sebagai tempat bertanya untuk memupuk keakraban dengan pemustakanya. Pengetahuan umum yang luas diperlukan sebagai bekal untuk menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan oleh pemustaka. Sedangkan kemampuan komunikasi sebagai penguasaan teknik bertanya yang akan membantu pemustaka merumuskan pertanyaan secara jelas dan juga keramahan serta kesediaan membimbing secara baik.

2.3Koleksi Perpustakaan

Koleksi bahan pustaka yang memadai, baik mengenai jumlah, jenis dan mutunya, yang tersusun rapi, dengan sistem pengolahan serta kemudahan akses/ temu kembali informasi, merupakan salah satu kunci keberhasilan perpustakaan. Oleh sebab itu perpustakaan perlu memiliki koleksi bahan pustaka yang lengkap sesuai dengan misi, visi, perencanaan strategi, kebijakan, dan tujuannya. Koleksi bahan pustaka yang baik adalah dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan

Dokumen terkait