• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Pengajar dan Siswa Mengenai Pendidikan Karakter

Dalam dokumen Putut Wisnu Kurniawan S 861102011 (Halaman 126-131)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A Hasil Penelitian

C. Pembahasan Hasil Penelitian 1 Pola Pendidikan Karakter

2. Persepsi Pengajar dan Siswa Mengenai Pendidikan Karakter

Guru merupakan salah faktor terpenting dalam proses penerapan pendidikan

karakter di sekolah. Guru mempunyai tugas sebagai seorang pendidik dan menjadi

pengganti orang tua di sekolah. Guru dapat dikatakan sebagai agen kebaikan atau

agen perubahan, karena dengan posisi yang strategis guru bisa mengarahkan dan

membentuk karakter siswa. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan guru harus

mempunyai persepsi yang baik tentang pendidikan karakter. Dengan persepsi atau

pandangan yang baik maka akan mudah dalam pelaksanaan pendidikan karakter di

kelas. Berikut adalah persepsi pengajar (guru) dan siswa SMA Taman Madya Ibu

commit to user

a. Persepsi Pengajar dan Siswa Mengenai Pendididikan Karakter di SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan

Upaya untuk melihat tingkat pemahaman atau persepsi pamong dan siswa

terhadap pendidikan karakter diharapkan untuk dapat mengetahui sejauh mana

pamong atau siswa memahami pendidikan karakter yang sudah berjalan di sekolah.

Beragam jawaban muncul dari para pamong dan siswa. Dalam keragaman itu ada

inti kesamaan pandangan mengenai hunungan pendidikan karakter dengan konsep

ajaran dari Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan karakter identik dan cukup relevan

dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara karena ajaran Ki Hadjar Dewantara sebagian

besar juga mengajarkan pada budi pekerti dan nilai-nilai hidup. Hal tersebut

menjadi nilai lebih dari sekolah di Tamansiswa khususnya di SMA Taman Madya

Ibu Pawiyatan.

Pada waktu wawancara dengan pamong maupun siswa di SMA Taman Madya

Ibu Pawiyatan sebagian cukup menguasai apa arti dan hakekat pendidikan karakter.

Sebagian besar dari pamong yang diwawancarai mampu menghubungkan antara

mata pelajaran yang diampu dengan pendidikan karakter. Mereka sadar bahwa

pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan di sekolah.

Sehubungan ada sebagian pamong yang telah baik menunjukkan komitmen dan

persepsinya mengenai profesinya, sejarah sekolah dan pemahaman mereka terhadap

pendidikan karakter.

Pemahaman siswa lebih ditekankan kepada kehidupan, keaktifan dan kegiatan

organisasi mempunyai pengetahuan yang cukup baik dari yang tidak aktif dalam

organisasi. Mereka hafal betul dengan konsep-konsep yang diajarkan Ki Hadjar

Dewantara. Bagi siswa, nilai-nilai karakter akan mudah dipahami ketika dalam

pelajaran ketamansiswaan dan budi pekerti serta kegiatan ekstrakurikuler berjalan

dengan baik.

Pelajaran ketamansiswaan dan budi pekerti memberikan mereka sebuah

wawasan nilai kehidupan melalui ajaran atau konsep-konsep Ki Hadjar Dewantara.

Dengan adanya pemahaman maka akan berpengaruh kuat dalam kehidupan sehari-

hari. Pengaruh yang lain adalah kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini akan

membentuk kepemimpinan dan jiwa-jiwa yang positif dikarenakan adanya potensi

karakter yang baik di setiap kegiatan ekstrakurikuler.

Persepsi atau pemahaman pamong dan siswa seharusnya sudah diperoleh di

lingkungan Tamansiswa. Tamansiswa sendiri mengajarkan nilai budi pekerti dengan

konsep Ki Hadjar Dewantara sehingga ketika muncul pendidikan karakter yang

dicanangkan pemerintah, semua komponen di Tamansiswa sudah siap dengan pola

pendidikan karakter. Dampaknya para pamong dan siswa sebagian besar

mempunyai persepsi yang cukup bagus. Dengan persepsi yang bagus sebagai modal

commit to user

b. Persepsi Pengajar dan Siswa Mengenai Pendidikan Karakter di Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak

Guru dalam Madrasah Aliyah Ali Maksum mempunyai persepsi yang cukup

kuat tentang pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dijelaskan sebagian dari

guru madrasah selalu dikaitkan dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan karakter erat

dengan akhlak yang baik. Akhlak yang baik merupakan salah satu ciri orang yang

mukmin (orang yang beriman). Hal tersebut merupakan tugas Madrasah Aliyah Ali

Maksum yang ingin membentuk manusia-manusia yang mempunyai keselarasan

antara akal dan spiritualitas. Dalam Islam tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari

etika Islam. Nilai-nilai agama tidak berhenti pada proses ritual saja, melainkan

proses aktualisasi di masyarakat luas. Dengan landasan dan keimanan yang kuat

maka akan menjadi pondasi yang kokoh untuk membentuk karakter.

Guru atau pengajar dalam MA Ali Maksum selain menguasai ilmu pendidikan

sesuai dengan pelajarannya juga sebagian besar menguasai ilmu Islam. Hal ini bisa

dilihat dari beberapa guru atau pengajar alumni dari Pondok Pesantren Krapyak dan

juga ada yang kuliah di Mesir. Persepsi dan pemahaman yang baik terhadap Islam

akan mempengaruhi cara berinteraksi dengan siswa di sekolah. Dengan latar

belakang tersebut maka persepsi guru terhadap pendidikan karakter selalu dikaitkan

dengan ajaran Islam.

Persepsi akan mempengaruhi cara dan penerapan dalam proses pembelajaran.

Sebagian besar guru di MA Ali Maksum mempunyai pemahaman yang baik dengan

karakter. Hal ini diakibatkan kurang adanya sosialisasi dan kesadaran pribadi untuk

memahami tentang pendidikan karakter yang dilaksanakan pemerintah atau instansi

terkait.

Budaya yang dikembangkan sekolah dapat mempengaruhi pola pikir siswa.

Dalam madrasah siswa akan terbiasa dengan suasana-suasana Islam, sehingga

pemahaman mereka tentang nilai-nilai Islam sangat baik. Hal tersebut menjadi

kelebihan tersendiri bagi siswa di MA Ali Maksum karena selain mereka dapat

memahami pelajaran umum, mereka juga baik dalam penguasaan dan pemahaman

keilmuan agama Islam.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan ketakwaan menjadi parameter untuk selalu

menjadi nilai lebih dalam sebuah lembaga pendidikan. Konsep pesantren

mengadopsi sistem pendidikan umum dan secara bersamaan dan mengarahkan

orientasi kepada peserta didik atau santri untuk dapat menguasai keilmuan umum

dan agama. Dari segi tersebut maka setiap pengajar di madrasah dituntut untuk

mengarahkan belajar peserta didik ke arah belajar untuk beriman dan bertakwa

kepada Allah.

Siswa juga akan senang apabila pelajaran dikaitkan dengan nilai-nilai religius

Islam. Hal tersebut terkadang dapat dijumpai pada pengajar yang dapat mengaitkan

tema pelajarannya dengan nilai-nilai Islam. Dalam hal itulah para pengajar juga

sering disebut ustad. Keberadaan inilah yang menjadikan pengajar atau guru di MA

commit to user

Menurut Thomas Lickona, untuk mendapatkan karakter baik maka perlu

adanya komponen moral knowing,moral feeling dan moral action. Moral knowing

yang dimaksud adalah pemahaman mengenai pendidikan karakter itu sendiri.

Apabila persepsi baik guru dan siswa mengenai pendidikan karakter baik, maka

akan mendukung proses implementasi atau penerapan pendidikan karakter yang

diharapkan. Nilai yang akan disalurkan juga tergantung sesuai dengan persepsi

masing-masing. Apabila semua komponen mempunyai visi dan misi dan didukung

oleh persepsi guru terhadap orientasi sekolah, maka siswa akan terbentuk sesuai

yang diharapkan.

3. Aktualisasi (Pengamalan) Nilai-Nilai Karakter Pada Siswa di SMA Taman

Dalam dokumen Putut Wisnu Kurniawan S 861102011 (Halaman 126-131)