Hasil wawancara mendalam mendapati bahwa terdapat keberagaman persepsi responden terhadap pengusaha pendatang yang berada di Desa Kotabatu. Namun sebagian besar dari responden menyatakan terganggu akan kehadiran pengusaha pendatang yang sama-sama membuka bengkel sepatu di rumah. Responden mengeluhkan mengenai sulitnya mendapatkan pekerja (tukang) di bengkel. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh salah satu responden sebagai berikut:
“Sekarang nyari tukang di bengkel susah. Mereka lebih memilih kerja di Cina sama Minang soalnya order di mereka lancar, jadi selalu ada kerjaan. Terus juga kerja di mereka mah dapet upahnya mungkin lebih gede, tapi kan sebenernya itu sama aja sama uang makan. Bedanya disini dikasih makan langsung, tapi di mereka mah uang makan. Kan anak muda sekarang mah lebih suka dapet duit mentah, soalnya kan buat nambah-nambah uang pulsa”. (AR, 25 tahun)
Selain itu sangat sulit bagi mereka untuk bersaing dengan para pengusaha pendatang. Mereka beranggapan bahwa pengusaha Tionghoa dan Minang lebih mudah dalam hal menjual hasil produksinya. Hal ini dikarenakan adanya jaringan usaha berdasarkan etnisitas. Pengusaha Tionghoa memiliki berbagai usaha lain seperti pengusaha toko bahan sepatu dan toko grosir sepatu. Hal ini membuat jalannya usaha para pengusaha sepatu pendatang akan lebih mudah sebab toko bahan merupakan jalur sebelum ke bengkel dan toko grosir adalah jalan setelah dari bengkel sepatu. Jalur usaha tersebut sebagian besar dikuasai oleh pengusaha Tionghoa sehingga mempermudah para pengusaha industri sepatu yang memiliki bengkel pula dalam mendapatkan bahan maupun dalam penjualan produk.
Perhitungan mengenai persepsi dilihat berdasarkan rata-rata jawaban responden yang berdasarkan pilihan jawaban yang dikali dengan bobot jawaban kemudia dibagi jumlah total responden yaitu 50. Pilihan jawaban terdiri dari empat dengan pilihan sangat setuju (bobot 4), setuju (bobot 3), tidak setuju (bobot 2), serta sangat tidak setuju (bobot 1). Nilai tengah rata-rata yang didapat adalah 2.5 sehingga dapat dilihat tiap-tiap skor yang memiliki nilai rata-rata lebih dari 2.5 adalah persepsi positif sedangkan untuk nilai rata-rata di bawah 2.5 termasuk persepsi negatif.
Persepsi mengenai Cara Berdagang
Cara berdagang pengusaha pendatang dipersepsikan secara tepat guna oleh responden. Responden menganggap bahwa cara berdagang pengusaha pendatang baik, maka dari itu tidak heran jika usaha mereka lebih maju. Pengusaha lokal
mempersepsikan bahwa pengusaha pendatang memiliki jiwa dagang yang strategis. Hal ini seperti yang dikatakan oleh HD (33 tahun) sebagai berikut:
“Pendatang disini mah ya memang sudah ada niat mau buka usaha. Jadi sudah pasti mereka tahu lebih banyak tentang usaha sepatu/sandal yang akan mereka jalankan. Lagipula, mereka tuh kuat di modal jadi pasti percaya diri waktu menjalankan usahanya.” (HD, 33 tahun)
Persepsi mengenai cara berdagang pengusaha pendatang cenderung baik. Responden menyetujui bahwa pengusaha pendatang mempunyai cara-cara berdagang yang seharusnya sudah ada di tiap-tiap pengusaha. Sebaran jawaban responden mengenai persepsinya terhadap cara berdagang pengusaha pendatang disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Sebaran jawaban responden berdasarkan pernyataan persepsi mengenai cara berdagang Pernyataan Pilihan jawaban Total Rata- rata skor SS S TS STS n % n % n % n % n % Pengusaha pendatang memiliki pengetahuan mengenai cara memperbesar usahanya 20 40.0 25 50.0 5 10.0 0 0.0 50 100.0 3.30 Pengusaha pendatang memberikan harga khusus pada setiap pembelian dengan jumlah tertentu 2 4.0 9 18.0 32 64.0 7 14.0 50 100.0 2.12 Pengusaha pendatang mengetahui berbagai mode terkini 4 8.0 44 88.0 2 4.0 0 0.0 50 100.0 3.04 Pengusaha pendatang
jeli melihat peluang bisnis di industri sepatu/sandal
15 30.0 35 70.0 0 0.0 0 0.0 50 100.0 3.30
Total 41 20.5 113 56.5 39 19.5 7 3.5 200 100.0 2.94
Tabel 7 dapat menunjukkan bahwa persepsi responden yang paling positif tentang cara berdagang pengusaha pendatang adalah mengenai pengetahuan pengusaha pendatang untuk memperbesar usahanya serta kejelian pengusaha pendatang dalam melihat peluang bisnis. Rata-rata skor jawaban responden adalah 3.3 yang berarti bahwa persepsi responden sangat baik mengenai pengetahuan serta kejelian pengusaha pendatang. Responden yang menjawab sangat setuju bahwa pengusaha pendatang memiliki pengetahuan memperbesar usahanya sebanyak 20 persen serta yang menjawab setuju sebanyak 50 persen responden. Kemudian pada pernyataan mengenai kejelian pengusaha pendatang, seluruh responden bahkan memiliki persepsi yang sangat positif.
Pengetahuan mengenai cara memperbesar usaha pengusaha pendatang dipersepsikan positif karena responden menganggap bahwa pengusaha pendatang lebih mengetahui seluk-beluk tentang industri sepatu. Pengusaha pendatang harus mengetahui banyak hal tentang industri sepatu yang berada di Desa Kotabatu karena mereka adalah pendatang sehingga semakin banyak mereka tahu maka akan semakin mudah mereka beradaptasi serta mengenal lingkungan. Responden menyatakan bahwa pengusaha pendatang tidak akan berani membuka usaha bila mereka tidak paham dengan benar mengenai usaha yang akan dijalankan. Seperti yang dikatakan salah satu responden sebagai berikut:
“Orang rantau yang buka usaha disini mah nggak akan berani membuka usaha kalau mereka belum paham benar tentang seluk-beluk usaha yang dijalankan. Jadi mereka harus sudah yakin bahwa usaha mereka akan sukses baru mereka yakin buka usaha.” (TT, 46 tahun)
Pengusaha pendatang dipersepsikan jeli dalam melihat peluang bisnis di industri sepatu. Responden menganggap bahwa pengusaha pendatang seperti memiliki insting dalam melihat peluang bisnis mana yang akan memberikan banyak keuntungan untuk mereka. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan II (28 tahun) sebagai berikut:
“Mereka tuh kaya punya insting yang kuat sesuatu akan menjadi berhasil kalau diolah dengan baik dan akan menghasilkan keuntungan.” (II, 28 tahun)
Responden menyatakan bahwa kejelian dalam berbisnis ini merupakan insting para pengusaha pendatang karena memang orang Tiongha dan Minang terkenal dengan etnis yang giat dalam membuka usaha mandiri. Responden memiliki pendapat bahwa memang kejelian terhadap peluang bisnis sudah berasal dari leluhur mereka, orang Sunda sulit menggali kemampuan tersebut. Kejelian ini merupakan salah satu cara berdagang atau strategi usaha dari pengusaha pendatang untuk terus bertahan dan bahkan lebih maju usahanya.
Tabel 7 menunjukkan juga bahwa responden mempersepsikan bahwa pengusaha pendatang tidak memberikan harga khusus pada setiap pembelian dengan jumlah tertentu. Rata-rata skor jawaban responden untuk pernyataan ini adalah 2.2 yang menunjukkan bahwa responden tidak setuju bahwa pengusaha pendatang memberikan harga khusus. Responden menyatakan bahwa pengusaha pendatang tidak memberikan diskon namun memanipulasi harga sehingga mereka mendapat keuntungan. Meskipun persepsi responden tidak baik namun responden menyatakan bahwa harga produk pengusaha pendatang dapat dikatakan tidak kaku serta dapat disesuaikan berdasarkan perhitungan-pehitungan tertentu. Seperti yang dikatakan SP (34 tahun) sebagai berikut:
“Kalau mau membandingkan harga, harga kita lebih murah dari mereka. Mereka tapi nggak tahu kenapa bisa memanipulasi harga hingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar
dari kita. Ya saya akui mereka pintar hitung-hitungan harga.” (SP, 34 tahun)
Responden memiliki persepsi positif mengenai cara berdagang pengusaha pendatang, baik berdasarkan pengetahuan usaha, kejelian pengusaha pendatang dalam melihat peluang bisnis, hingga pengetahuan akan mode terkini. Seluruh responden mempersepsikan positif mengenai cara berdagang yang dikatakan baik berdasarkan hal tersebut. Responden memiliki persepsi positif mengenai cara berdagang pengusaha pendatang karena responden menganggap bahwa cara berdagang pengusaha pendatang adalah kekuatan pengusaha pendatang untuk bertahan di industri kecil ini. Sehingga bila pengusaha pendatang lebih berhasil dari pengusaha lokal maka cara berdagang pengusaha pendatang lebih baik daripada pengusaha lokal.
Kesimpulan yang dapat diambil dari Tabel 7 adalah rata-rata persepsi responden mengenai cara berdagang sebesar 2.94. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki persepsi yang positif mengenai cara berdagang pengusaha pendatang. Responden menganggap bahwa cara berdagang pengusaha pendatang dianggap strategis. Hal ini terlihat dari rata-rata responden yang sangat menyetujui mengenai pengetahuan pengusaha pendatang mengenai cara memperbesar usahanya, mode terkini, serta kejelian pengusaha pendatang dalam melihat peluang bisnis. Responden pula menyetujui mengenai pengusaha pendatang yang memberikan harga khusus karena responden menganggap bahwa perhitungan harga memang menjadi salah satu strategi berdagang pengusaha pendatang. Cara berdagang pengusaha pendatang yang strategis memiliki ciri yaitu jeli dalam melihat peluang bisnis, memiliki pengetahuan mengenai usahanya serta mengetahui mode terkini.
Persepsi mengenai Kualitas Produk
Kualitas produk suatu usaha merupakan salah satu penentu kesuksesan usaha tersebut. Persepsi responden mengenai kualitas produk pengusaha pendatang cukup beragam. Keberagaman persepsi responden tersebut disebabkan perbedaan pengalaman bersama dengan pengusaha pendatang. Persepsi terhadap kualitas dapat dilihat berdasarkan minat konsumen, keseriusan dalam pembuatan produk, serta harga. Responden menyatakan bahwa secara keseluruhan kualitas produk pengusaha pendatang hampir sama dengan pengusaha lokal sehingga yang membedakan adalah bahan baku, harga, serta minat konsumen terhadap produk.
Sebaran jawaban responden berdasarkan pernyataan persepsi mengenai kualitas produk dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 8 menunjukkan bahwa responden memiliki keberagaman pendapat mengenai kualitas produk pengusaha pendatang. Hal ini terlihat dari persepsi responden mengenai tingginya kualitas pengusaha pendatang, responden yang memiliki persepsi negatif mengenai hal ini beranggapan bahwa kualitas produk baik pengusaha pendatang maupun pengusaha lokal sama baiknya. Hal ini dikarenakan pekerja di setiap pengusaha adalah warga Desa Kotabatu dan desa sekitarnya. Perihal yang membedakan kualitas produk adalah bahan baku dan lem sepatu/sandal yang digunakan. Terkait proses pembuatan serta model, baik pengusaha pendatang maupun pengusaha
lokal tidak terlampau jauh berbeda. Berikut merupakan penuturan salah satu responden mengenai perbandingan kualitas produk.
“Produk kita mah sama aja neng soalnya kan kualitas yang kerjanya juga sama, sama-sama orang sini. Kita tuh jarang dapet order sepatu bermerk, kalau orang Cina biasanya suka dapet orderan dari yang udah punya nama gede jadi mereka jadi pengusaha mitra perusahaan gede. Misalnya Yongki Komaladi, Fladeo, sama Ifa. Nah kalau buat produk-produk itu jelas kualitas produknya beda.” (EL, 42 tahun)
Kualitas produk pengusaha pendatang dipersepsikan oleh responden cukup baik. Tabel 8 menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata jawaban responden adalah 2.79 sehingga dapat dikatakan persepsi responden mengenai kualitas produk pengusaha pendatang termasuk positif. Hal ini karena responden menganggap bahwa kualitas produk miliki responden juga baik sedangkan kualitas produk antara responden dengan pengusaha pendatang pula dianggap tidak jauh berbeda.
Tabel 8 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan Persepsi mengenai Kualitas Produk Pernyataan Pilihan jawaban Total Rata- rata skor SS S TS STS n % n % n % n % n % Pengusaha pendatang memiliki produk yang berkualitas tinggi
3 6.0 25 50.0 22 44.0 0 0.0 50 100.0 2.62 Pengusaha pendatang
tidak membuat produk yang asal jadi
3 6.0 39 78.0 8 16.0 0 0.0 50 100.0 2.90 Sepatu/sandal yang
dibuat pengusaha pendatang lebih diminati konsumen
1 2.0 38 76.0 11 22.0 0 0.0 50 100.0 2.80 Produk pengusaha
pendatang memiliki harga murah dengan kualitas yang baik
3 6.0 35 70.0 12 24.0 0 0.0 50 100.0 2.82 Total 10 5.0 137 68.5 53 26.5 0 0.0 200 100.0 2.79
Tabel 8 memperlihatkan bahwa responden mempersepsikan bahwa pengusaha pendatang tidak membuat produk yang asal jadi. Responden mempersepsikan pengusaha pendatang serius dalam setiap pembuatan produknya. Rata-rata skor jawaban respoden mengenai pernyataan ini adalah 2.9 yang berarti bahwa persepsi terhadap pengusaha pendatang positif. Sebanyak 78 persen responden menyatakan setuju serta 6 persen lainnya menyatakan sangat setuju bahwa pengusaha pendatang tidak membuat produk yang asal jadi. Hal ini karena responden beranggapan bahwa tidak mungkin pengusaha pendatang dalam menjalankan usahanya tidak serius karena mereka terkenal gigih dalam berusaha.
Pengusaha pendatang terkenal tidak mudah puas terhadap sesuatu termasuk dalam membuat produk. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden mengenai kegigihan pengusaha pendatang sebagai berikut:
“Mereka nggak mungkin nggak serius kalau lagi kerja dan mereka nggak mungkin main-main. Soalnya setiap usaha yang mereka kerjakan kan membutuhkan biaya, ya mereka tidak mungkin menyiakan biaya itu buat hal yang tidak mereka seriusi.” (TK, 38 tahun)
Pembuatan produk pengusaha pendatang tidak mungkin asal jadi karena tiap-tiap pengusaha memiliki tanggung jawab atas kualitas produk yang dibuatnya kepada pemilik toko grosir. Hal ini membuktikan bahwa produk yang dihasilkan oleh pengusaha baik lokal maupun pendatang tidak asal jadi. Responden pula menyatakan bahwa kualitas produk biasanya adalah pesanan dari pemilik toko grosir apakah membutuhkan produk yang berkualitas tinggi atau hanya produk yang dijual hanya untuk kalangan menengah ke bawah. Seperti yang diungkapkan responden sebagai berikut:
“Karena mereka sering dapet order sepatu yang buat kalangan menengah ke atas jadi mereka punya tanggung jawab sama kualitas produk yang mereka haslkan. Sedangkan kami biasanya hanya menerima order sepatu untuk kalangan menengah kebawah yang biasanya dari grosir pasar anyar dibawa ke tanah abang. Mungkin neng tahu sendiri kalau barang dari tanah abang juga biasanya dibawa ke mana aja.” (US, 35 tahun)
Tabel 8 juga menunjukkan bahwa responden mempersepsikan kualitas produk pengusaha pendatang tidak tinggi. Responden menyatakan bahwa kualitas produk baik yang dihasilkan dari bahan baku yang baik pula. Responden yang setuju kualitas produk pengusaha pendatang baik menyatakan bahwa bila mereka juga memiliki modal cukup untuk membeli bahan baku yang lebih baik dan bermutu, pasti kualitas produk milik mereka akan sebaik pengusaha pendatang. Alasan ini pula keluar dari 44 persen responden yang menyatakan tidak setuju bila kualitas produk pengusaha pendatang lebih baik. Mereka berpendapat bahwa kualitas produk pengusaha pendatang tidak lebih baik dari kualitas produk responden, mereka bahkan menganggap bahwa pengusaha pendatang tidak memiliki pengetahuan dalam mengolah bahan mentah menjadi sepatu yang utuh bila tidak memiliki pekerja dari Desa Kotabatu. Hal ini yang menyebabkan 44 responden tidak menyetujui bahwa kualitas produk pengusaha pendatang tinggi. Responden mempersepsikan bahwa produk pengusaha pendatang tidak perlu memiliki kualitas yang baik untuk mendapatkan keuntungan karena seperti apapun produk yang dihasilkan akan tetap dibeli oleh pihak grosir yang memang sudah bermitra dengan pengusaha pendatang sehingga keuntungan pengusaha pendatang akan tetap tinggi. Angka rata-rata skor responden adalah 2.6 yang menunjukkan bahwa responden menyetujui bahwa pengusaha pendatang memiliki
produk yang berkualitas tinggi. Hasil tersebut diperkuat oleh pernyataan responden mengenai kualitas produk pengusaha pendatang sebagai berikut:
“Ini mah karena kita jarang dapet order sepatu yang skala besar aja. Kalau kita dapet order sepatu yang dari perusahaan besar kaya mereka kita juga bisa punya kualitas produk yang bagus. Kan tinggal diganti bahannya aja sama lem yang bagus.” (RH, 38 tahun)
Kesimpulan yang dapat diambil dari Tabel 8 adalah rata-rata responden mempersepsikan bahwa kualitas produk pengusaha pendatang bermutu dan bersaing. Hal ini menandakan bahwa responden mengetahui akan kualitas produk pengusaha pendatang yang baik serta tidak bisa memungkiri bahwa kualitas merupakan salah satu penentu suatu kesuksesan usaha. Responden pula tidak berusaha menjelek-jelekan produk pengusaha pendatang. Mereka mengatakan apa adanya, bila produk pengusaha pendatang menurut mereka baik mereka akan mengatakan baik. Sebaliknya bila dengan pandangan dan pengalaman mereka melihat bahwa produk pengusaha pendatang kualitasnya tidak baik, mereka akan mengatakan tidak baik pula. Kualitas yang baik dengan harga yang relatif murah merupakan salah satu kekuatan usaha pengusaha pendatang. Mereka pula mengatakan alasan terkait pendapat mengenai kualitas produk seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Baik atau buruknya kualitas produk usaha sepatu/sandal menurut responden ditentukan oleh bahan baku, lem, serta kualitas pekerja dari masing-masing bengkel sepatu. Pekerja di tiap-tiap bengkel baik di pengusaha lokal dan pengusaha pendatang adalah warga Desa Kotabatu, sehingga kualitas hasil kerja mereka tidak akan jauh berbeda. Responden mempersepsikan bahwa kualitas produk pengusaha pendatang dikatakan bermutu karena memiliki ciri produknya tidak asal jadi, memiliki harga murah dengan kualitas yang baik serta diminati konsumen.
Persepsi mengenai Budaya Kerja
Budaya kerja adalah falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok. Budaya kerja tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. Budaya kerja dapat terlihat dari sikap terhadap pekerjaan dan perilaku pada waktu bekerja. Pada penelitian ini, budaya kerja yang dilihat adalah budaya yang melekat pada etnis pengusaha pendatang. Sehingga responden mempersepsikan budaya kerja berdasarkan budaya kerja yang melekat pada etnis pengusaha pendatang. Hal ini dikarenakan budaya dapat dilihat dengan merefleksikan pengusaha pendatang pada suatu kelompok, kelompok yang direfleksikan adalah kelompok etnis.
Budaya kerja merupakan nilai yang ada pada tiap-tiap manusia. Budaya kerja yang dilihat pada penelitian ini adalah budaya kerja pengusaha pendatang berdasarkan etnis. Secara spesifik, etnis yang dilihat ada dua yaitu etnis Tionghoa dan etnis Minang. Berdasarkan etnisitas tersebut, budaya kerja yang dinilai oleh responden mengenai jiwa berdagang, kedisiplinan, hubungan mitra berdasarkan
etnis, keuletan, serta keterbukaan pengusaha pendatang dalam menjalankan usahanya. Budaya kerja dipersepsikan dengan kata kuat atau lemah. Budaya kerja kuat berarti pengusaha pendatang dipersepsikan memiliki budaya kerja yang baik sedangkan budaya kerja lemah adalah pengusaha pendatang tidak mencerminkan budaya kerja yang baik. Sebaran jawaban responden dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 menunjukkan bahwa rata-rata persepsi responden mengenai budaya kerja adalah baik. Nilai rata-rata skor jawaban responden adalah 2.94 yang berarti bahwa responden memiliki persepsi yang positif terhadap budaya kerja pengusaha pendatang. Hal ini menunjukkan bahwa responden mempersepsikan budaya kerja pengusaha pendatang termasuk disiplin, ulet, memiliki jiwa dagang, terbuka mengenai informasi, serta memiliki kemitraan berdasarkan etnis. Responden menyatakan bahwa budaya kerja yang dimiliki pengusaha pendatang cukup terlihat dan tercermin pada perilaku mereka.
Tabel 9 Sebaran jawaban responden berdasarkan pernyataan persepsi mengenai budaya kerja Pernyataan Pilihan jawaban Total Rata- rata skor SS S TS STS n % n % n % n % n % Pengusaha pendatang memiliki jiwa berdagang yang telah ditanamkan sejak kecil
9 18.0 41 82.0 0 0.0 0 0.0 50 100.0 3.18 Pengusaha pendatang mampu mengembangkan usahanya karena memiliki kedisiplinan yang tinggi 4 8.0 40 80.0 6 12.0 0 0.0 50 100.0 2.96 Pengusaha pendatang memiliki kekuatan kemitraan berdasarkan hubungan kesamaan etnis 28 56.0 22 44.0 0 0.0 0 0.0 50 100.0 3.56 Pengusaha pendatang memiliki keuletan dalam berusaha 4 8.0 31 62.0 15 30.0 0 0.0 50 100.0 2.78 Pengusaha pendatang terbuka menerima informasi serta masukan dari orang lain
2 4.0 14 28.0 26 52.0 8 16.0 50 100.0 2.20
Total 47 18.8 148 59.2 47 18.8 8 3.2 250 100.0 2.94
Tabel 9 menunjukkan bahwa responden paling banyak mempersepsikan bahwa kemitraan pengusaha pendatang berdasarkan hubungan etnsitas merupakan salah satu budaya kerja mereka. Rata-rata skor jawaban responden adalah 3.56 yang menunjukkan bahwa responden dapat melihat dengan jelas mengenai kekuatan kemitraan pengusaha pendatang karena terlihat pada keseharian mereka. Hubungan etnisitas yang kuat ini dimanfaatkan para pengusaha pendatang untuk membentuk suatu jaringan kerja atau usaha. Responden juga menyatakan bahwa
jaringan usaha sepatu/sandal dikuasai seutuhnya oleh pengusaha Tionghoa seperti berikut:
“Sekarang mau bikin usaha mandiri tuh susah soalnya dari yang punya toko bahan sampai yang punya toko grosir orang Cina. Ya kita pengusaha kecil adanya di tengah-tengah, mau beli bahan ke mereka mau jual juga ke mereka. Kalo yang punya bengkelnya orang Cina juga ya pasti lebih gampang, mereka pasti lebih milih beli di pemilik bengkelnya orang Cina juga. Pengusaha Cina juga kalau mau jual lebih gampang, pake asas kepercayaan sesamanya saja”. (AS, 65 tahun)
Tabel 9 juga menjabarkan bahwa seluruh responden memiliki persepsi positif mengenai jiwa berdagang pengusaha pendatang yang telah ditanamkan sejak kecil. Sebanyak 82 persen menyatakan setuju serta 18 persen lainnya menyatakan sangat setuju bahwa pengusaha pendatang sejak dari kecil telah ditanamkan jiwa berdagang. Jiwa berdagang ini yang belum bisa didapatkan di pengusaha lokal. Responden beranggapan bahwa jiwa berdagang yang tinggi akan menentukan keberhasilan seorang pengusaha. Pengusaha pendatang telah memiliki hal itu sehingga bukan suatu hal yang aneh bila pengusaha pendatang termasuk berhasil dalam menjalankan usahanya. Hal ini seperti yang dikatakan salah satu responden sebagai berikut:
“Ya orang Cina sama kaya orang Minang. Mereka kan sudah terkenal jago dagang. Jiwa dagang mereka yang pasti kuat, sudah dari kecil ditanamkan sama orang tuanya. Biasanya mereka diajarkan mau berdagang dan merantau buat mengembangkan usahanya.”. (SN, 44 tahun)
Responden paling sedikit mempersepsi positif mengenai budaya kerja pada aspek kedisiplinan namun tetap termasuk persepsi positif. Rata-rata skor responden adalah 2.96 pada pernyataan ini yang menunjukkan bahwa persepsi responden positif. Sebanyak 80 persen responden menyetujui bahwa pengusaha pendatang mampu mengembangkan usahanya karena memiliki kedisiplinan yang tinggi. Kedisiplinan ini merupakan salah satu ukuran keberhasilan suatu usaha dapat berjalan terus menerus atau tidak. Responden mempersepsikan bahwa pengusaha pendatang disiplin baik dalam mendapatkan keuntungan hingga mendidik anak-anaknya untuk memiliki jiwa berwirausaha yang giat. Delapan persen responden bahkan menyatakan sangat setuju bahwa pengusaha pendatang memiliki kedisiplinan yang tinggi. Hal ini dikarenakan responden tersebut pernah bekerja pada pengusaha pendatang menjadi pekerja di bengkel sepatu/sandal. Responden menyatakan bahwa pengusaha pendatang tidak memandang bulu dalam hal kedisiplinan ini, baik orang lain maupun keluarga sendiri bila tidak disiplin akan dikenakan hukuman.
Budaya kerja pengusaha pendatang secara rata-rata dipersepsikan positif. Hal ini menunjukkan bahwa responden mempersepsikan bahwa pengusaha pendatang memiliki budaya kerja yang baik. Pengusaha pendatang dipersepsikan memiliki sifat ulet yang berarti responden mempersepsikan pengusaha pendatang
gigih dalam berusaha serta tidak mudah puas. Keuletan tersebut mempengaruhi