Tingkat Penerimaan terhadap Pengusaha Pendatang
Penerimaan pengusaha lokal terhadap pengusaha pendatang dapat dilihat dari seberapa jauh pengusaha lokal berinteraksi dengan pengusaha pendatang. Interaksi tersebut dapat ditentukan berdasarkan skala jarak sosial antara responden dengan pengusaha pendatang. Pengukuran menggunakan skala Bogardus yang dapat mengukur bagaimana tingkat kedekatan atau jarak yang dirasakan responden dengan yang berbeda etnis. Jarak kedekatan tersebut dilihat dari sampai sejauh mana responden berinteraksi dan dalam konteks apa mereka berkomunikasi. Apakah hanya sebatas menyapa dan berbincang atau telah sampai tahap memiliki kegiatan bersama di dalam masyarakat. Berikut tabel yang menjelaskan jumlah responden yang berada di tingkat-tingkat penerimaan.
Tabel 12 Sebaran jawaban responden berdasarkan tingkat penerimaan terhadap pengusaha pendatang
Pertanyaan mengenai penerimaan berdasarkan tingkatan Jawaban Total Tidak pernah Pernah n % n % n %
Apakah bapak/ibu menyapa pengusaha
pendatang setiap kali berpapasan? 0 0.0 50 100.0 50 100.0 Apakah bapak/ibu berbincang dengan
pengusaha pendatang? 1 2.0 49 98.0 50 100.0
Apakah bapak/ibu membuka obrolan mengenai
usaha yang sedang dijalankan? 8 16.0 42 84.0 50 100.0 Apakah bapak/ibu membagikan informasi
mengenai pengelolaan industri ke pengusaha pendaang?
14 28.0 36 72.0 50 100.0 Apakah bapak/ibu memiliki kegiatan bersama
dalam masyarakat dengan pengusaha pendatang?
26 52.0 24 48.0 50 100.0
Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa seluruh responden pernah bertegur sapa dengan pengusaha pendatang dan tidak ada satupun responden yang tidak pernah menyapa pengusaha pendatang. Hal ini menunjukkan bahwa pengusaha lokal (responden) berusaha untuk menerima kehadiran pengusaha pendatang sehingga hubungan sesama tetangga akan terjalin lebih baik. Saling menyapa ketika berpapasan menunjukkan itikad baik dari kedua belah pihak untuk menghasilkan hubungan yang baik pula. Hal ini pula dapat membuka hubungan yang positif antara pengusaha lokal dengan pengusaha pendatang. Responden yang memiliki pengalaman pada tingkat satu menurut interaksinya ada satu orang. Responden tersebut memiliki interaksi yang sangat rendah dengan pengusaha pendatang.
Selain itu sebanyak 98 persen responden mengatakan bahwa mereka pernah berbincang dengan pengusaha pendatang. Hal yang dibicarakan adalah hal-hal
umum. Hanya 2 persen responden yang menyatakan bahwa tidak pernah berbincang dengan pengusaha pendatang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden intensitas komunikasi responden dengan pengusaha pendatang cukup tinggi karena bukan hanya bertegur sapa, tetapi sering berbincang dengan pengusaha pendatang. Sebanyak 42 persen dari responden pernah membuka obrolan dengan pengusaha pendatang, hal ini menandakan bahwa responden terbuka untuk mengobrol dengan pengusaha pendatang karena mencoba untuk mengakrabkan diri yaitu dengan berbincang.
Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa sebanyak 72 persen responden pernah membagikan informasi mengenai pengelolaan industri ke pengusaha pendatang. Responden mengakui bahwa urusan pengelolaan baik tentang order sepatu/sandal ataupun mengenai pekerja adalah rahasia. Hal yang dibagikan kepada pengusaha pendatang adalah mengenai informasi harga-harga bahan baku saja. Hampir seluruh responden yang sering berbagi informasi ini memiliki hubungan kerja sama dengan pengusaha pendatang. Sehingga minimal satu hari dalam seminggu responden bertukar pikiran atau hanya sekedar berkonsultasi mengenai usaha yang dijalankannya. Responden yang tidak pernah membagikan informasi menganggap bahwa pengusaha pendatang tidak penah memberikan informasi mengenai usaha mereka sehingga responden juga tidak perlu membagikan informasi kepada mereka. Responden menganggap bahwa usaha pengusaha pendatang lebih berjalan lancar dibanding usahanya sehingga tidak perlu lagi membagikan informasi apapun.
Tidak banyak pengusaha pedatang yang bermasyarakat. Kebanyakan dari mereka tinggal di Desa Kotabatu karena memang hanya ingin membuka usaha di desa tersebut. Sebanyak 52 persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah memiliki kegiatan bersama di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan para pengusaha baik pengusaha lokal maupun pengusaha pendatang jarang mengikuti kegiatan masyarakat seperti ronda, kerja bakti, pengajian, arisan, bahkan rapat warga sekalipun. Sebanyak 48 persen responden menyatakan bahwa mereka pernah memiliki kegiatan bersama dengan masyarakat. Hal ini menandakan bahwa terdapat pengusaha lokal dan pengusaha pendatang yang mengikuti kegiatan di masyarakat. Responden menyatakan bahwa mereka sering memiliki kegiatan bersama di dalam masyarakat dengan pengusaha pendatang. Responden yang sering memiliki kegiatan bersama di masyarakat adalah responden yang berdomosili di sekitar komplek perumahan Paspampres yang sebagian besar pengusaha pendatang bertempat tinggal di komplek tersebut.
Berdasarkan Tabel 12 dapat disimpulkan bahwa interaksi responden dengan pengusaha pendatang termasuk intens karena sebanyak 48 persen responden telah sampai tingkat memiliki kegiatan bersama dalam masyarakat. Seluruh responden telah melewati tingkat 1 penerimaan yaitu menyapa pengusaha pendatang setiap kali berpapasan. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk warga yang ramah serta berusaha menerima pendatang. Responden yang berada pada tingkat 2 penerimaan yaitu hanya sampai menyapa pengusaha pendatang sebanyak 1 orang. Di tingkat 3 penerimaan terdapat 7 responden yang sampai tingkat berbincang dengan pengusaha pendatang. Selanjutnya responden di tingkat 4 yaitu hanya sampai membuka obrolan mengenai usahanya sebanyak 6 orang. Responden yang berada di tingkat 5 yaitu membagikan informasi mengenai usahanya sebanyak 12 orang. Responden yang membagikan informasi tersebut mengaku hanya
memberikan informasi seperlunya saja. Kemudian sebanyak 24 responden menyatakan pernah memiliki kegiatan bersama masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan responden yang berada di tingkat 4 penerimaan paling banyak daripada responden yang berada di tingkat lain. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat keintiman dan keakraban yang tinggi dengan pengusaha pendatang.
Responden memiliki intensitas komunikasi yang tinggi terhadap pengusaha pendatang. Pengusaha pendatang yang dimaksud adalah semua pengusaha beretnis lain yang sama-sama mendirikan bengkel maupun yang memiliki usaha di bidang sepatu lain seperti pengusaha toko bahan sepatu dan toko grosir. Intensitas komunikasi responden dikatakan tinggi karena hampir seluruh jalur usaha sepatu ini dikuasai oleh etnis Tionghoa sehingga mau tidak mau mereka harus berhubungan langsung dengan pengusaha pendatang tersebut. Sebagian kecil responden yang memiliki intensitas komunikasi rendah. Hal ini dikarenakan hanya beberapa responden saja yang menyatakan sebisa mungkin tidak banyak bergantung pada pengusaha pendatang. Mereka lebih memilih untuk menjalankan usaha secara mandiri karena akan sulit berhubungan dengan pengusaha pendatang karena keuntungan yang didapat pun tidak seberapa besar.
Keterlibatan Pengusaha Lokal dalam Demonstrasi
Respons juga dilihat berdasarkan keterlibatan responden pada demonstrasi yang pernah terjadi. Demonstrasi penolakan adanya pengusaha pendatang dilakukan oleh beberapa pengusaha lokal untuk meyatakan keresahan mereka akibat keberadaan pengusaha pendatang yang semakin lama semakin banyak. Pada Gambar 3 disajikan jumlah responden berdasarkan keterlibatannya pada