• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Persepsi Siswa pada Kemampuan Profesional Guru

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Persepsi Siswa pada Kemampuan Profesional Guru

a. Pengertian

Persepsi itu merupakan proses pengorganisasian,

penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang intergrated dalam diri individu (Bimo Walgito, 2009 : 54). Pendapat lainnya dikemukakan oleh Alex Sobur (2009: 446) bahwa persepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada rangsangan pancaindra atau data. Berdasarkan kedua pendapat di atas maka dapat dikemukakan bahwa persepsi adalah proses dalam menerima, menilai, dan memberikan reaksi pada objek yang diterima oleh pancaindera.

b. Proses Persepsi

Persepsi sebagai kegiatan dalam diri manusia merupakan suatu proses yang terjadi sebagaimana gambar 1. Dari gambar 1 dapat dijelaskan bahwa persepsi yang terjadi pada diri seseorang akan berawal dari adanya rangsangan. Rangsangan akan menimbulkan persepsi dalam pikiran seseorang. Lebih lanjut, persepsi akan menimbulkan pengenalan yang

commit to user

dilakukan dengan penalaran dan perasaan. Setelah adanya penalaran dan perasaan, maka akan memunculkan tanggapan.

Sumber : Alex Sobur (2009 : 447)

Gambar 1. Proses Persepsi 1

Lebih lanjut dikemukakan oleh Alex Sobur (2009: 447) bahwa proses persepsi, di dalamnya terdapat tiga komponen utama yaitu seleksi, interpretasi, dan tingkah laku. Ketiga komponen tersebut saling berurutan. Pada komponen pertama yaitu seleksi, terjadi setelah seseorang menerima rangsangan. Rangsangan berupa objek tertentu yang kemudian akan diseleksi. Proses seleksi tentunya dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalamannya. Setelah adanya seleksi, barulah kemudian muncul interpretasi, yaitu berupa pendapat seseorang terhadap objek yang baru saja tertangkap oleh pancainderanya. Dari interpretasi tersebut kemudian muncul persepsi yang selanjutnya akan diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai sebuah reaksi.

Proses persepsi juga bersifat komplek. Apa yang terjadi di luar individu dapat saja menjadi terbalik dipersepsikan oleh individu tersebut. Hal ini karena dalam proses persepsi ada tiga komponen yang ada dalam proses persepsi. Dinyatakan oleh Alex Sobur (2009: 449) bahwa ketiga

Rangsangan Persepsi Pengenalan Tanggapan

Penalaran

commit to user

14

komponen yang merupakan tahapan persepsi tersebut tidak saling terpisah, namun bersifat kontinu, bercampur baur, dan bertumpang tindih satu sama lain”. Ketiganya digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Proses Persepsi 2

Dari gambar di atas jelas bahwa persepsi memiliki tahap-tahap yang terdiri dari 3 tahap yaitu dari adanya rangsangan dari alat indera yang berkaitan dengan sifat objek, kemudian rangsangan tersebut diatur sedemikian rupa dan selanjutnya dievaluasi dan ditafsirkan. Hasil penafsiran tersebutlah yang kemudian disebut dengan persepsi.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Persepsi yang timbul pada diri seseorang karena adanya rangsangan akan berbeda dengan persepsi yang timbul pada diri orang lain. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi. Disebutkan oleh Bimo Walgito (2008: 54) bahwa “apa yang ada dalam diri individu akan mempengaruhi dalam individu mengadakan proses persepsi, dan hal ini merupakan faktor internal. Selain faktor internal tersebut, ada faktor lain yang dapat mempengaruhi dalam proses persepsi, yaitu faktor stimulus itu sendiri dan faktor lingkungan dimana persepsi itu berlangsung, dan ini merupakan faktor eksternal”. Dari

Terjadinya stimulasi alat indra Stimulasi alat indra diatur Stimulasi alat indra dievaluasi - ditafsirkan

commit to user

pendapat tersebut dapat diketahui bahwa ada dua jenis faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Dijelaskan lebih mendalam lagi oleh Alex Sobur bahwa faktor yang mempengaruhi persepsi berasal dari internal dan eksternal. Dikemukakan oleh Alex Sobur (2009: 452) bahwa faktor internal yang mempengaruhi persepsi yaitu: “kebutuhan psikologis, latar belakang, pengalaman, kepribadian, sikap dan kepercayaan umum, serta penerimaan diri”.

Kebutuhan psikologis dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Terkadang ada semacam fatamorgana yang mengisi pikiran seseorang sehingga nampak “kelihatan”, padahal sebenarnya tidak ada. Adanya kebutuhan psikologis tertentu menjadikan seseorang seperti melihat sesuatu dan kemudian mempersepsinya.

Latar belakang juga mempengaruhi persepsi seseorang. Orang yang memiliki latar belakang tertentu, maka ia akan cenderung untuk mencari teman dari orang yang memiliki latar belakang setara, sejenis, atau yang hampir sama. Hal ini dikarenakan agar mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan lebih baik. Dan hal ini merupakan salah satu dari fungsi persepsi.

Pengalaman seseorang akan mengarahkan dirinya dalam perilakunya. Proses persepsi yang dapat mempengaruhi perilaku akan mengarahkan seseorang mencari orang-orang yang memiliki pengalaman yang sama. Dengan menemukan orang yang memiliki pengalaman sama

commit to user

16

secara otomatis akan dapat mengungkapkan pikirannya dan akan diperoleh respon yang positif.

Kepribadian juga mempengaruhi persepsi seseorang. Kepribadian seseorang mengarahkan pada perilaku orang tersebut untuk mencari teman atau kenalan dengan orang yang memiliki kepribadian sejenis. Mereka akan dapat bergabung dengan orang yang memiliki kepribadian sama atau hampir sama.

Sikap dan kepercayaan umum juga mengarahkan seseorang untuk memperhatikan hal-hal yang sekecil apapun dari orang yang menjadi pusat perhatiannya. Adanya sikap dan kepercayaan umum tersebut, maka orang akan menilai orang lain secara lebih mendetail. Dengan demikian akan muncul persepsi tertentu pada orang lain tersebut yang berkedudukan sebagai objek persepsi.

Penerimaan juga sifat penting yang mempengaruhi persepsi. Adanya penerimaan diri tersebut, maka seseorang akan mudah menerima sesuatu kenyataan. Kemudahan menerima kenyataan dapat mempengaruhi persepsi, namun lebih bersifat ke arah negatif, sehingga mengurangi kecermatan dalam mempersepsi objek tertentu.

d. Guru

Guru sebagai profesi telah diakui oleh National Education Association tahun 1948. Guru sebagai jabatan profesi dirumuskan bahwa jabatan profesi merupakan jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual,

commit to user

menekuni suatu batang tubuh ilmu tertentu, didahului dengan persiapan profesional yang lama, memerlukan pelatihan jabatan yang kontinyu, menjanjikan karier bagi anggota secara permanen, mengikuti standar baku mutu tersendiri, lebih mementingkan layanan kepada masyarakat dibanding dengan mencari keuntungan pribadi, dan memiliki organisasi profesional yang kuat dan dapat melakukan kontrol teradap anggota yang melakukan penyimpangan (Syaiful Sagala, 2009: 8). Dari pendapat tersebut jelas bahwa guru merupakan salah satu profesi yang telah diakui dunia karena memiliki alasan-alasan yang kuat sebagai sebuah profesi, terutama dari segi intelektual.

Sebagai profesi dalam bidang pendidikan, guru memiliki beberapa permasalahan dalam bidang pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Anwar dan Sagala (2006: 123) yaitu: 1) profesionalisme profesi keguruan, otoritas profesional guru, kebebasan akademik, dan tanggung jawab moral dan pertanggungjawaban jabatan”. Dari segi profesionalisme profesi keguruan bahwa pada dasarnya pengajaran merupakan bagian profesi yang memiliki ilmu maupun teoritikal, keterampilan, dan mengharapkan ideologi profesional tersendiri. Olah karena itu seseorang yang bekerja di lembaga pendidikan dengan tugas mengajar, jika dilihat dari teori dan praktek tentang suatu pengetahuan, maka guru juga merupakan sebuah profesi. Pada otoritas profesional guru, disiplin profesi guru memiliki hubungan dengan anak didik. Para guru melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dengan menggunakan metode yang bervariasi dalam

commit to user

18

mendidik siswa. Pendidik yang profesional akan memberikan bantuan sampai tuntas. Karena itu, guru yang profesional tidak hanya terkonsentrasi pada materi pelajaran, tetapi mereka juga memperhatikan situasi-situasi tertentu. Kebebasan akademik adalah suatu kebebasan yang memberi kebebasan berkreasi dalam suatu forum dalam lingkup kebenaran. Dalam hal ini, guru memiliki tanggung jawab keilmuan. Guru bekerja bukan atas tekanan kebutuhan belajar siswa, tetapi atas tuntutan profesional. Karena itu alasan apapun yang dikemukakan guru karena meninggalkan tugas mengajar adalah suatu hal yang melanggar etika profesi, kecuali alasan yang bersifat kemanusiaan. Selain itu, tanggung jawab moral maupun pertanggungjawaban jabatan merupakan salah satu hal yang menunjukkan bahwa guru merupakan jabatan profesional. Guru harus memiliki tanggung jawab secara moral terhadap anak didiknya. Selain itu guru juga harus mempertanggung jawabkan jabatannya atau dengan kata lain adalah mempertanggung jawabkan tugas-tugasnya secara profesional.

Guru sebagai sebuah profesi, maka jabatan guru memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Meskipun demikian, masih saja ada guru-guru di sekolah yang bukan berasal dari pendidikan guru. Hal ini tentunya perlu memperoleh perhatian yang serius jika ingin pendidikan bertambah maju. Jabatan profesional seorang guru menuntut berbagai kemampuan sebagaimana dikemukakan oleh Hamzah B. Uno (2008: 16)

commit to user

yaitu: 1) Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi, 2) Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, 3) Guru harus dapat membuat urutan dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik, 4) Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang diterimanya, 5) sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang sehingga tanggapan peserta didik menjadi jelas, 6) guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaran dan atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, 7) guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya, 8) guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun di luar kelas, 9) guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.

Selain kemampuan-kemampuan sebagaimana di atas, guru juga memiliki kompetensi profesional. Menurut Hamzah B. Uno (2009: 18)

commit to user

20

“kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru ada tiga yaitu kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional”. Kompetensi pribadi berkaitan dengan kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk Tuhan. Sebagai guru, ia wajib memiliki pengetahuan yang akan disampaikan kepada anak didiknya secara benar dan penuh tanggung jawab. Karena itu, guru harus memiliki pengetahuan penunjang tentang kondisi sosiologis, psikologis, dan pedagogis dari para peserta didik yang dihadapinya. Kompetensi pribadi seorang guru antara lain yaitu pengetahuan tentang materi pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya, pengetahuan tentang perkembangan peserta didik, dan kemampuan untuk memperlakukan mereka secara individual.

e. Persepsi siswa pada guru

Berdasarkan pengertian persepsi dan guru di atas, maka dapat dirumuskan pengertian persepsi siswa pada guru. Persepsi merupakan proses memberikan tanggapan pada sebuah objek. Salah satu yang dapat menjadi objek perhatian seseorang adalah guru. Guru dalam hal ini adalah tenaga profesional yang memberikan pembelajaran kepada siswa. Dalam proses pembelajaran, guru akan dipersepsi oleh siswa dengan persepsi yang berbeda-beda pula pada setiap siswa. Dari pengertian persepsi dan guru, maka persepsi siswa pada guru dapat dinyatakan sebagai proses persepsi yang dilakukan oleh siswa terhadap guru.

Persepsi siswa pada guru dapat dilakukan sebagaimana proses persepsi pada umumnya. Bagi siswa, guru merupakan obyek yang

commit to user

memberikan rangsangan kepada siswa. Karena memberikan rangsangan, maka guru akan dipersepsi oleh siswa sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan tingkah laku.

Untuk dapat mengetahui persepsi siswa pada guru, maka dapat dilihat dari proses persepsi yang meliputi menerima rangsangan, menyeleksi rangsangan, pengorganisasian, penafsiran, pengecekan, dan reaksi. Persepsi siswa pada guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah persepsi pada kemampuan guru dalam mengajar. Jadi yang menjadi perhatian utama dalam persepsi ini adalah kemampuan guru dalam mengajar.

Dokumen terkait