KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
3. Persiapan bahan tanam
Bahan tanam dalam budidaya tebu adalah bibit berupa bagal. Bibit yang ditanam di kebun PG Madukismo berasal dari P3GI (Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia) Pasuruan. Terdapat empat jenjang bibit yang disediakan oleh PG Mdukismo yaitu KBP (Kebun Bibit Pokok), KBN (Kebun Bibit Nenek), KBI (Kebun Bibit Induk) dan KBD (Kebun Bibit Datar). Bibit yang ditanam pada KTG ( Kebun Tebu Giling ) berasal dari KBD (Kebun Bibit Datar) yang dikelola oleh PG bagian Bina Sarana Tani (BST) atau dikelola oleh petani dengan membuat suatu perjanjian dengan pihak PG yang biasa disebut dengan KBD kerjasama.
Bibit yang diserahkan oleh P3GI kepada PG adalah kebun bibit pokok utama. Selanjutnya kebun bibit pokok akan ditebang dan ditanam kembali menjadi KBN (Kebun Bibit Nenek) dengan proporsi 1 : 7 artinya satu hektar bibit pokok dapat memenuhi kebutuhan bibit untuk tujuh hektar lahan kebun bibit nenek. Dari kebun bibit nenek akan memasuki jenjang berikutnya ke kebun bibit induk (KBI) dan selanjutnya ke kebun bibit datar (KBD).
Maksud dan tujuan penyelenggaraan kebun bibit adalah menyediakan bibit tebu yang memenuhi syarat-syarat diantaranya jumlah yang memadai dengan kebutuhan kebun tebu yang memerlukan bibit tersebut, tepat saat dibutuhkan, mutu yang baik dengan ciri-ciri bebas hama dan penyakit, mata yang sehat, kandungan air yang cukup dan ruas-ruas yang normal (tidak stagnasi) dan cocok untuk ditanam pada daerah yang bersangkutan .
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan kebun bibit yaitu Sapta Usaha Tani Pembibitan yang terdiri dari pengolahan tanah dan masa tanam yang tepat waktu, pemeliharaan tanam yang baik dan tertib, pemberian air yang cukup pada saat dibutuhkan, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit yang tertib, penebangan yang tepat dan tertib, pendistribusian dan pemakaian bibit yang tertib serta penetapan lokasi yang tepat.
Pabrik Gula Madukismo mempunyai standar mutu kebun bibit yaitu kemurnian varietas KBPU/KBP harus bebas dari campuran varietas lain serta kesehatan tanaman yang antara lain serangan penggerek pucuk kurang dari 5 %,
24
serangan penggerek batang kurang dari 2 %, serangan penyakit noda daun (karat daun, daun hangus, noda kuning) kurang dari 10 %.
Bibit yang siap tebang adalah bibit yang berumur 6 – 8 bulan. Proporsi kebutuhan bahan tanam dari KTG untuk KBD adalah 1 : 9 artinya satu hektar kebun bibit datar (KBD) dapat memenuhi kebutuhan bibit untuk sembilan hektar Kebun Tebu Giling (KTG). Pemeliharaan KBD pada dasarnya sama dengan pemeliharaan KTG namun pada KBD tidak dilakukan pengelentekan, hal ini bertujuan agar mata tunas terlindungi dan tidak rusak.
Pemupukan di kebun bibit datar dilakukan dua dua kali yaitu pemupukan pertama dengan mengaplikasikan 2.5 ku/ha ZA dan 2.5 ku/ha Phonska. Pemupukan pertama dilakukan sebelum tanaman berumur dua minggu dan pemupukan kedua dilakukan dua bulan setelah tanam (BST) dengan mengaplikasikan 2.5 ku/ha ZA dan 2.5 ku/ha Phonska. Sebelum melaksanakan pemupukan pertama, terlebih dahulu dilakukan pemupukan dasar yaitu pupuk madros yang terbuat dari blotong tebu dengan dosis 1.1 ton per hektar yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan penanaman tebu.
4. Penanaman
Penanaman adalah kegiatan menanam bibit tebu berupa bagal tebu yang ditanam di dalam juringan. Penanaman dilakukan 1 - 2 hari setelah kegiatan pengolahan tanah selesai. Dalam setiap juringan, tebu yang ditanam berjumlah sekitar 80 mata tunas. Dalam satu bagal terdiri dari 2 mata tunas sehingga rata-rata bagal yang ditanam per juring yaitu sekitar 40 bagal. Sistem penanaman yang digunakan adalah over lapping. Sistem penanaman over lapping yaitu menanam tebu dengan cara menyimpan bagal ke dalam juringan secara zigzag, bagian ujungnya ditambahkan lagi satu bibit sejajar dengan bibit yang sebelumnya (Bibit Sumpingan). Penggunaan sistem penanaman ini bertujuan untuk meminimalkan penyulaman.
(A) (B)
Gambar 2. Pola Tanam Bibit : A. Over Lapping; B. Bibit Sumpingan
Sebelum dilakukan kegiatan penanaman, perlu dilakukan pemilihan jenis atau varietas tebu yang memenuhi kriteria kesesuaian dengan lahan yang akan ditanami dan tahan terhadap serngan hama dan penyakit. Tipologi wilayah, varietas dan masa tanam dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kesesuaian Varietas Tebu terhadap Tipologi Wilayah
Tipologi Wilayah Pola Tanam Varietas
Jenis Tanah
Status Pengairan
Status
Drainase Musim Kemarau
(Pola I) Awal Musim Penghujan (Pola II) B P L PS 851; PS863; PS864; PS 921; PS951 - B P J PS 864; PS 921; PS951 - B H L - PS 864; PS 951 B H J - PS 864; PS 921 R P L PS 851; PS 862; BL - R P J PS 864; PS 921 - R H L - PS 851; PS 864
Sumber : Bina Sarana Tani PG Madukismo, Bantul (2012) Keterangan :
B (berat dengan kadar lempung tinggi)
R (ringan dengan kadar lempung rendah-sedang)
P (tersedia air cukup dari irigasi/pompa)
R (tadah hujan dan atau ada pengairan yang tidak memadai)
L (drainase lancar pada musim hujan), J (drainase kurang baik pada musim penghujan) Penanaman tebu terdiri dari tebang bibit, angkut bibit, pembersihan bibit, seleksi bibit dan klentek bibit, pemotongan bibit, pengeceran, penutupan bibit serta penyiraman.
26
a. Tebang bibit
Tebang bibit merupakan kegiatan menebang bibit pada kebun yang telah ditentukan dan memenuhi kriteria untuk ditebang yaitu umur sekitar 6-7 bulan. Tebang bibit dilakukan satu hari sebelum penanaman. Tebang bibit dilakukan dengan menggunakan golok tebang dengan cara menebang tebu sampai mepet tanah dan memotong tebu bagian pucuk pada titik tumbuh.
Gambar 3. Tebang bibit
b. Angkut bibit
Angkut bibit merupakan kegiatan membawa bibit dari kebun bibit ke kebun tanam. Bibit tebu diangkut dengan menggunakan truk berkapasitas sekitar 5-6 ton, pengangkutan bibit dilakukan sehari sebelum tanam.
Gambar 4. Angkut bibit
c. Pembersihan bibit
Pembersihan bibit merupakan kegiatan membersihkan bibit tebu yang telah tersedia di kebun tanam. Bibit tebu dibersihkan dari daun-daun (klaras).
Pembersihan bibit tebu dilakukan dengan menggunakan tangan (manual), hal ini bertujuan agar mata tunas pada tanaman tebu tidak rusak. Pembersihan dilakukan di lokasi penanaman dan setelah dibersihkan bibit tersebut langsung di tanam agar tunas tidak terlalu lama tersinari matahari.
Gambar 5. Pembersihan bibit
d. Seleksi bibit
Seleksi bibit dilakukan setelah batang tebu bersih dari daun-daunnya. Seleksi bibit dilakukan dengan tujuan memisahkan bibit yang layak tanam dengan yang tidak layak tanam. Seleksi bibit dilakukan dengan cara mengamati keadaan fisik batang tebu.
Gambar 6. Seleksi bibit
Bibit yang layak ditanam yaitu bibit yang segar (tidak mengkerut dan tidak kering), bermata tunas sehat (tidak cacat), tidak terserang hama dan penyakit dan tidak tercampur dengan varietas lain. Bibit yang tidak layak tanam dipisahkan dan dibakar. Untuk mendapatkan bibit yang baik, PG Madukismo
28
memiliki standar mutu kebun bibit yaitu KBPU/KBP harus bebas dari campuran varietas lain, serangan penggerek pucuk kurang dari 5 %, Serangan penggerek batang kurang dari 2 % dan seerangan penyakit noda daun (karat daun, daun hangus, noda kuning) kurang dari 10 %.
e. Pemotongan bibit
Pemotongan bibit tebu dilakukan dengan menggunakan golok atau pisau tajam. Adapun tujuan dari pemotongan bibit adalah untuk menyeragamkan perkecambahan tebu yang ditanam. Golok atau pisau yang digunakan untuk memotong bibit dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan air dengan campuran Lisol dengan takaran 300 ml lisol dicampur dengan 10 liter air. Penggunaan larutan Lisol ini bertujuan agar golok yang digunakan steril dan tidak menyebabkan bagal tebu terkontaminasi. Pada saat pemotongan bibit tebu, batang tebu diposisikan miring ke arah membelakangi mata tunas agar mata tunas tidak rusak sehingga bibit dapat tumbuh dengan baik. Panjang bibit bagal sekitar 30 – 35 cm dengan jumlah mata tunas sekitar 2 mata tunas.
Gambar 7. Pemotongan bibit
f. Pengeceran bibit
Pengeceran bibit merupakan kegiatan menyimpanan bibit ke dalam juringan. Jumlah mata tunas per meter adalah 8 mata tunas sehingga dalam satu juringan ditanam sekitar 80 mata tunas.
Gambar 8. Pengeceran bibit
g. Penutupan bibit
Penutupan bibit dilakukan setelah bagal tebu berada dalam juringan. Bagal tebu ditutup oleh tanah hingga bagal tertutup semua secara merata. Tujuan dari penutupan bibit adalah untuk menjaga kelembaban bibit dan mengurangi terjadinya penguapan.
Gambar 9. Penutupan bibit
h. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setelah bibit ditanam. Pada saat musim hujan, penyiraman dilakukan dengan mengandalkan air hujan sedangkan pada saat musim kemarau tanaman disiram air sungai yang diambil dengan menggunaan pompa dari sumber airnya. Kegiatan pengairan bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah, merangsang pertumbuhan, menyediakan kebutuhan air bagi tanaman sehingga tanaman tetap tumbuh dan tidak kekurangan air.
30