BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini melibatkan empat orang dewasa awal yang telah melewati masa kelahiran anak pertama mereka. Keempat orang tersebut selanjutnya akan disebut sebagai partisipan 1 (FJ, 22 tahun), partisipan 2 (AD, 22 tahun), partisipan 3 (FP, 29 tahun), serta partisipan 4 (SS, 22 tahun). Sebelum memulai pengambilan data, proses yang dilewati adalah mencari calon-calon partisipan yang memenuhi kriteria sebagai partisipan yang dibutuhkan di penelitian ini. Setelah calon partisipan diperoleh, peneliti meminta izin dan menjelaskan maksud serta tujuan peneliti melalui pesan WhatsApp. Setelah para partisipan mengizikan, peneliti melakukan seleksi kepada para calon partisipan untuk memastikan bahwa mereka memenuhi kriteria sebagai partisipan pada penelitian ini. Langkah selanjutnya, jika mereka memenuhi kriteria adalah peneliti meminta izin kembali dan menanyakan kesediaan mereka untuk terlibat dalam penelitian ini. Apabila mereka bersedia, peneliti melakukan pendekatan selama kurang lebih 1-2 bulan dengan tujuan lebih mengenal dan membangun kepercayaan antara partisipan dengan peneliti.
Proses pendekatan dengan partisipan banyak dilakukan secara daring. Hal ini disebabkan oleh 3 partisipan bertempat tinggal di kota yang
berbeda dengan peneliti (partisipan 1: FJ, 22 tahun; partisipan 3: FP, 29 tahun; dan partisipan 4: SS, 22 tahun), dan satu partisipan mengurangi aktivitas bepergian ataupun kunjungan ke rumah karena tinggal bersama lansia serta balita di masa pandemi ini (partisipan 2: AD, 22 tahun).
Mengetahui hal tersebut, maka media yang paling efektif digunakan untuk proses pendekatan adalah melalui pesan WhatsApp. Meskipun demikian, proses pendekatan juga dilakukan dengan saling merespon aktivitas di Instagram, melakukan video call, atau berkunjung ke rumah partisipan.
Berikut merupakan rangkuman proses pendekatan dengan para partisipan Tabel 3. Rangkuman Proses Pendekatan
Partisipan Durasi
Pesan WhatsApp Acak/tidak menentu, namun pasti terjadi
Video call 1x
P2 (AD) 2 bulan
Pesan WhatsApp Acak/tidak menentu namun pasti terjadi
Video call 1x
Instagram Belum tentu terjadi dalam seminggu
P3 (FP) 1 bulan
Pesan WhatsApp Acak/tidak menentu namun pasti terjadi
Berkunjung ke rumah
Belum tentu terjadi dalam seminggu
P4 (SS) 1 bulan
Pesan WhatsApp Acak/tidak menentu namun pasti terjadi
Video call 1x
Berkunjung ke rumah
Belum tentu terjadi dalam seminggu
Selama proses pendekatan tersebut berlangsung, keempat partisipan cukup terbuka menceritakan kehidupan sehari-hari mereka.
Kemudian memasuki waktu pengambilan data, peneliti memberikan informed consent yang perlu disetujui partisipan sehingga partisipan mengetahui konsekuensi-konsekuensi yang dapat dilakukan selama penelitian berlangsung.
2. Pelaksanaan Penelitian
Proses pengambilan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur. Setiap pertanyaan yang diajukan mengacu pada panduan wawancara yang telah disusun dan melakukan probing di beberapa pertanyaan yang dirasa memerlukan informasi lebih lanjut. Selama proses pengambilan data, peneliti sebelumnya telah meminta izin kepada partisipan untuk menggunakan alat perekam audio recorder berupa laptop.
Waktu pengambilan data dari ketiga partisipan berbeda-beda menyesuaikan kesepakatan bersama. Proses pengambilan data dilakukan secara daring melalui WhatsApp Video Call. Berikut merupakan waktu pelaksanaan pengambilan data:
Tabel 4. Pelaksanaan Pengambilan Data
Partisipan Hari/Tanggal Waktu Keterangan
P1 (FJ) Rabu, 21 Juli 2021 21.00-22.15 WIB Wawancara I Minggu, 25 Juli 2021 14.30-15.10 WIB Wawancara II
P2 (AD)
Kamis, 22 Juli 2021 10.00-11.30 WIB Wawancara I Kamis, 12 Agustus
2021
10.20 – 10.50 WIB Wawancara II
P3 (FP) Rabu, 4 Agustus 21.30-22.00 WIB Wawancara I
2021 P4 (SS) Sabtu, 14 Agustus
2021
22.00-23.00 WIB Wawancara I
Setelah proses wawancara dilakukan, peneliti mengolah data yang dimiliki serta menganalisisnya. Peneliti melakukan external auditor, dan member checking. Pada proses external auditor, peneliti memperoleh komentar dari dosen pembimbing terkait analisis penelitian agar peneliti dapat menemukan bentuk-bentuk dukungan yang menonjol dari setiap partisipan. Kemudian pada proses member checking, peneliti menyerahkan kembali hasil data yang telah diolah dan dianalisis kepada para partisipan untuk dipastikan kembali bahwa data yang telah peneliti olah dan analisis memang benar adanya. Berikut merupakan waktu pelaksanaan member checking:
Tabel 5. Pelaksanaan Member Checking
Partisipan Hari/Tanggal Keteragan Respon Partisipan P1 (FJ) Rabu, 20 Oktober
2021
Via WhatsApp Chat “Ok aku setuju kok, udah sesuai
semuanya”
P2 (AD) Rabu, 20 Oktober 2021
Via WhatsApp Chat “Iya V*n, udah cocok sama aku”
P3 (FP) Kamis, 21 Oktober 2021
Via WhatsApp Chat “Sipp banget. Udah gaperlu diganti-ganti
lagi kayanya”
P4 (SS) Rabu, 20 Oktober 2021
Via WhatsApp Chat “Udah pas kok”
B. Partisipan Penelitian 1. Demografi Partisipan
Tabel 6. Demografi Partisipan
No. Keterangan P1 P2 P3 P4
1. Inisial FJ AD FP SS
2. Pekerjaan Karyawan swasta
Mahasiswi Pegawai Bank Ibu rumah tangga 3. Pendidikan
terakhir
SMA SMA S1 SMA
4. Usia saat ini 22 tahun 22 tahun 29 tahun 22 tahun 5. Usia saat
menikah
20 tahun 21 tahun 26 tahun 20 tahun
6. Jumlah kelahiran yang pernah
dilalui
1x 1x 1x 1x
7. Usia saat melahirkan
anak
21 tahun 21 tahun 27 tahun 21 tahun
8. Jenis persalinan
Caesar Normal Caesar Normal
2. Latar Belakang Partisipan a. Partisipan 1 (FJ, 22 tahun)
FJ memutuskan untuk menikah di usia 20 tahun atas dasar keinginan pribadinya dengan pertimbangan waktu berpacaran yang sudah cukup lama yaitu 7 tahun dan perbedaan usia yang terpaut 10 tahun antara dirinya dengan pasangan. Keadaan orang tua FJ yang
sudah berpisah, membuat FJ memutuskan untuk tinggal bersama suami dan ayah kandungnya.
FJ melahirkan anak pertamanya saat berusia 21 tahun melalui persalinan caesar. Menurut penuturan FJ, hari-hari setelah melahirkan dianggap cukup berat baginya dan membuatnya merasa stres. Setelah melahirkan, FJ tidak menggunakan bantuan pengasuh dan memutuskan untuk merawat sang anak bersama suaminya. FJ menceritakan bahwa di tiga hari pertama setelah melahirkan, ia mengalami kesulitan dalam memberikan ASI untuk anaknya. Berkaitan dengan pemberian ASI, hal tersebut juga membuatnya harus terjaga di malam hari untuk memberikan ASI selama 2 jam sekali. Selain itu, FJ juga merasa sang anak belum terlalu lekat dengannya. Perubahan bentuk fisik dan bekas jahitan pasca operasi yang masih kerap terasa sakit, juga membuatnya kesulitan ketika melakukan pergerakan seperti duduk ataupun berjalan.
Hal lain yang membuatnya semakin merasa stres adalah ketika ia juga harus memikirkan pekerjaan rumah seperti kebersihan rumah dan pakaian kotor, sedangkan di sisi lain ia juga diharuskan menjaga pola makan dan minum untuk kestabilan ASInya.
FJ mengungkapkan bahwa perbedaan tradisi dari orang-orang terdekat mengenai pengasuhan bayi juga membuatnya cukup bingung untuk menentukan pola asuh yang tepat untuk anaknya. FJ merasakan juga, stres yang ia rasakan membuat emosinya menjadi cepat meningkat. Ia menjadi mudah marah dan mudah panik selepas
melahirkan. Menurut penuturannya, perasaan-perasaan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu bulan setelah ia melahirkan.
b. Partisipan 2 (AD, 22 tahun)
AD mengalami Married by Accident (MBA) sehingga ia memutuskan untuk menikah di usia 21 tahun. AD mengungkapkan keadaan finansialnya dengan suami yang belum mencukupi, membuatnya mengambil keputusan untuk tinggal bersama ayah dan ibu mertua, suami, serta adik iparnya sejak menikah hingga setelah melahirkan. AD dan suami masih sama-sama melanjutkan kuliah.
Meskipun demikian, suami AD juga tetap melakukan kewajibannya untuk bekerja.
AD melahirkan anak pertamanya saat usianya 21 tahun, melalui persalinan normal. Beberapa hari setelah melahirkan, AD mengungkapkan ia masih memperoleh bantuan dari asisten rumah tangga terkait pekerjaan rumah, sehingga ia hanya perlu berfokus pada dirinya dan sang anak. Meskipun demikian, di hari-hari selepas persalinan AD merasakan kesulitan dalam beraktivitas seperti duduk, berdiri ataupun berjalan. Selepas melahirkan, AD merasa dirinya menjadi lebih sensitif. AD menjadi mudah sedih, mudah kesal, hingga terkadang menangis. Menurut penuturan AD, ia akan lebih sensitif ketika orang-orang di sekitar AD memberikan komentar-komentar terkait pola asuh anak yang kurang sesuai dengan yang dilakukan AD.
AD terkadang merasa cemas dan khawatir dalam memberikan asuhan
yang baik untuk anaknya. AD juga kerap merasa bersalah kepada anaknya dan cenderung menyalahkan dirinya sendiri terkait pola asuh yang menurutnya belum bisa sempurna. AD mengungkapkan perasaan-perasaan yang ia alami tersebut berlangsung kurang lebih selama 1 bulan.
c. Partisipan 3 (FP, 29 tahun)
FP melahirkan anak pertamanya di usia 27 tahun melalui persalinan caesar. Keadaan orang tua FP yang sudah berpisah membuat FP memutuskan untuk tinggal bersama suami, ayah dan adik kandungnya sejak menikah hingga melahirkan. Setelah memiliki anak, FP merasa kehidupannya berubah. Kehidupannya tak sebebas sebelumnya dan memiliki tanggung jawab baru untuk mendidik anaknya.
Menurut FP hari-hari setelah melahirkan dirasa cukup melelahkan. Ia mengalami perubahan jam tidur. Pada malam hari ia harus terjaga untuk memberikan ASI, sedangkan di siang harinya belum tentu ia dapat beristirahat karena harus menemui para tamu yang datang ke rumah. Terlebih lagi, di 3 hari pertama setelah melahirkan, ASI FP belum keluar dan ia juga mengalami kesulitan dalam pemberian ASI. Menurut FP, kesulitannya dalam memberikan ASI membuatnya cukup stres dan panik. Selain itu, FP kerap merasakan cemas, takut, mudah sedih dan bahkan hingga menangis.
Terkadang FP merasa kurang nyaman karena keberadaan anaknya
yang dirasa sangat baru baginya. Ia juga memiliki kekhawatiran terhadap kemampuannya untuk merawat anaknya meskipun ia menyadari bahwa sebenarnya ia mampu. Keberadaan FP yang tidak tinggal bersama sang ibu juga membuatnya merasa bingung mengenai cara-cara mengasuh anak. Pada saat setelah melahirkan, FP merasa selalu ingin ditemani dan disemangati agar ia tidak merasa sendiri. FP mengungkapkan perasaan-perasaan tersebut berlangsung selama kurang lebih 1 bulan.
d. Partisipan 4 (SS, 22 tahun)
SS memutuskan menikah di usia 20 tahun. Ia melahirkan anak pertamanya di usia 21 tahun melalui persalinan normal. Setelah melahirkan SS memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga sang suami atas permintaan ibu mertuanya. Menurut SS hari-hari setelah melahirkan dirasa cukup melelahkan baginya dan membuatnya stres.
SS dihadapkan pada aktivitas baru yang membuatnya tidak dapat beraktivitas bebas seperti sebelum memiliki anak.
Berkaitan dengan keadaan fisik SS setelah melahirkan, ia menuturkan bahwa bekas jahitan yang cukup lebar membuatnya merasa sakit sehingga lebih banyak berbaring di tempat tidur. Selain karena hal tersebut, ia juga merasakan sakit atas payudaranya yang membengkak karena ASI yang penuh. Ia juga merasa waktu beristirahatnya kurang. Terlepas dari kondisi fisik SS yang belum pulih, ia merasakan keadaan rumah kurang kondusif. Rumah yang
begitu ramai oleh tamu dan ibu mertua yang jarang berada di rumah semakin membuatnya stres dan membuatnya kurang merasa nyaman tinggal di rumah keluarga sang suami. SS mengungkapkan saat itu ia sangat memerlukan dukungan baik dari orang tua mertua ataupun orang tua kandungnya..
Pada hari-hari setelah melahirkan, SS merasa dirinya sangat sensitif. Ia kerap marah bahkan hingga menangis terhadap sang suami.
SS mengakui terkadang ia mengusir keberadaan suaminya meskipun setelah itu ia membutuhkannya kembali. SS juga merasakan sedih terhadap sang anak karena merasa tidak menjadi ibu yang cukup siap memiliki anak. Selain itu, keberadaannya yang jauh dari keluarga kandung juga membuatnya semakin sedih.